Basketball
.
Cast:
Kyuhyun, Donghae, Jungsoo, Sungmin, Kibum, Changmin, Siwon
.
Brothership Fanfiction
By:
Khy13
.
.
Jungsoo mengeluarkan mobilnya dari garasi rumah. Di depan rumah, ia menghentikan mobilnya, Kyuhyun dan Donghae lalu masuk. Donghae mengambil tempat di sampingnya dan Kyuhyun memilih dibelakang sendirian. Baru saja Jungsoo ingin menjalankan mobil, Hyerin –isteri baru ayahnya- mengetuk kaca mobil.
"Ada apa, Eomma?" tanyanya ketika kaca mobil dibuka.
Hyerin tersenyum dan menunjukan tiga tabung kecil berisi obat-obatan. "Kyuhyun-ie meninggalkan ini, dia harus meminumnya siang nanti, kan?"
Jungsoo mengangguk dan membukakan kaca mobil disisi kiri Kyuhyun. "Ambilah, Kyuhyun-ie.. kau melupakannya tadi," ujarnya sambil melihat Kyuhyun yang merengut kesal dari kaca spion di depannya.
Kyuhyun menyambar obat itu lalu memasukannya kedalam tas.
"Silahkan tutup lagi, Jungsoo-ya.. Kyuhyun akan kedinginan," kata Hyerin ramah. Jungsoo tersenyum sekilas sebelum menutup semua kaca mobil. "Hati-hati, Jungsoo-ya.."
"Ye, eomma..."
Mobil melaju, meninggalkan Hyerin yang tersenyum getir menatap kepergian mobil itu.
"Kyuhyun hanya butuh waktu, sayang.."
Younghwan memeluknya dari belakang. Hyerin tersenyum canggung lalu melepas pelukan itu, berbalik menghadap suaminya.
"Kita sudah terlalu tua untuk berpelukan di depan rumah seperti ini," ujarnya sambil terkekeh.
"Kau masih cantik!"
"Tidak secantik Hanna, kan?"
Younghwa tertegun, tidak menyangka Hyerin akan membawa Hanna –mendiang isterinya- dalam percakapan mereka.
"Kenapa kau menikahiku, yeobo? Hanna terlalu baik untuk kau khianati. Kyuhyun bahkan sangat menyayangi ibunya itu."
Younghwa kini tersenyum. Merangkul pundak isterinya lalu mengajaknya masuk ke rumah. "Kita belum sarapan, sayang. Kau belum tahu, kan, bagaimana kehebatan Sungmin di dapur? Anak keduaku itu koki yang hebat!"
Hyerin mendelik. "Kau mengalihkan pembicaraan!"
Younghwa tertawa. "Aku bosan dengan pertanyaanmu itu! Berapa kali harus ku bilang, aku tidak mengkhianati Hanna. Kau tahu tidak, Hanna akan sangat senang karena aku memilihmu setelah dia pergi. Karena kau— bisa menjaga Kyuhyun, menggantikannya."
"Hanya itu?"
"Aku mencintaimu.."
Hyerin menghela napas. "Ya, setelah sebagian besarnya untuk Hanna.."
Younghwa tak menjawab apapun, tangannya lebih erat merangkul pundak Hyerin.
Dua orang itu masuk ke dalam rumah, mereka tak tahu kalau Sungmin tengah duduk di bangku taman di halaman rumah dengan sebuah buku di pangkuannya.
Sungmin tersenyum mendengar percakapan orang tuanya.
"Kau beruntung, eomma.. Appa bahkan tak bisa melupakanmu walaupun wanita itu menjadi bagian hidupnya sekarang.."
.
.
Jungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan gedung sekolah Kyuhyun dan Donghae. Baru saja kyuhyun membuka pintu mobil, Changmin datang menyambut Kyuhyun dengan senyum lebarnya.
"Annyeong Kyuhyun-ah," sapanya ramah, kemudian beralih pada Donghae yang baru saja keluar. "Annyeong Donghae sunbae!"
Donghae tersenyum, mengangguk, lalu berlalu pergi. Changmin tampak muram dengan itu. "Kau diantar siapa, Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun mentap Jungsoo yang belum juga menjalankan mobilnya, kaca mobil di sampinya terbuka. Ia tahu, Jungsoo ingin ia mengenalkan Changmin. Ia menatap Changmin sekilas lalu kembali pada Jungsoo.
"Dia ini murid baru di kelasku, Hyung. Namanya—"
"Shim Changmin imnida, Annyeonghaseyo, Hyung!" potong Changmin penuh semangat.
"Annyeong Shim Changmin-ssi, kutitip Kyuhyun padamu, ya?" pesan Jungsoo sambil tertawa renyah.
Kyuhyun mendengus sebal, lalu melenggang pergi. Ia tak suka kalau Jungsoo sudah mulai overprotective seperti itu.
"Ish!" Changmin merenggut, membungkuk ke arah Jungsoo lalu berlari mengejar Kyuhyun.
Ketika tiba di sambing Kyuhyun, anak itu meninju bahu Kyuhyun pelan membuat Kyuhyun mendelik.
"Kau tidak suka kalau aku berkenalan dengan Hyung-mu, ya?"
Kyuhyun menggelengkan kepala. "Silahkan saja kalian berkenalan sepuasnya, aku hanya takut terlambat."
"Dia terlihat sangat sayang padamu." Changmin menghela napas sesaat sambil mengeratkan jaket yang dipakainya. "Dia menitipkanmu padaku, tadi. Apa itu berarti aku harus terus disampingmu?" tanyanya penuh antusias.
Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli. "Dia menitipkanku pada semua orang," ketusnya. "Dia pikir aku anak kecil."
Tawa Changmin meledak. "Kau anak bungsu, ya?"
"Kau tahu?" Kyuhyun tampak kaget.
"Hm, biasanya anak bungsu diperlakukan seperti itu."
"Benarkan?" Kyuhyun menghentikan langkah. Manatp Changmin yang masih berusaha menghentikan tawanya.
Changmin menganggukan kepala. "Aku anak tunggal, orang tuaku memanjakanku setiap hari."
"Itu kan anak tunggal, bukan anak bungsu!"
Kyuhyun berbelok ke arah tangga, Changmin yang sudah tanggung berjalan lurus menuju lift jadi harus putar arah untuk mengejar Kyuhyun. Terakhir bertemu Kyuhuun. Ia lihat anak itu selalu menggunakan lift jika akan naik. Jadi Changmin kira Kyuhyun tak suka lewat tangga, tapi ternyata tidak seperti itu.
Ia berjalan santai di samping Kyuhun, menginjak satu per satu anak tangga hingga mereka tiba di lantai tiga. Kali ini ada kelas olah raga, tapi guru olahraga mereka selalu mengumpulakan muridnya di aula mini di lantai tiga terlebih dahulu untuk menagih tugas mingguan mereka, sebelum memulai olah raga di lapangan atau di gedung olah raga.
"Kyuhyun, kukira anak bungsu atau anak tunggal kasusnya tak jauh beda." Changmin mengampiri Kyuhyun yang duduk di sudut ruangan, ia membuka jaketnya, takut-takut seonsaeng akan memarahinya lagi.
"Begitu?"
Changmin mengangguk. "Kurasa begitu."
Kyuhyun tampak senang setelahnya, apa yang Changmin katakan membuat hatinya sedikit tenang. Kalau memang anak bungsu selalu di manjakan, itu berarti Sungmin dan Jungsoo bersikap seperti itu padanya bukan karena sakitnya?
Ini pertama kalinya Kyuhyun senang setelah mengobrol dengan Changmin.
Guru olah raga masuk.
Guru muda yang dipanggil Kim seonsaeng itu membuka pelajaran dengan acara marah-marah dan ceramah yang sangat panjang guna mengingatkan siswa yang terlambat datang.
Changmin mendengus tak suka dengan sikap guru itu. Ia pikir seharusnya semua guru memaklumi jika ada siswa yang terlambat, musim gugur tahun ini sangat dingin, jadi pasti semua orang sangat berat untuk meninggalkan tempat tidurnya di pagi hari.
Setelah ceramah dengan tema 'terlambat'-nya selesai. Guru itu menagih tugas mingguannya lalu setelah ini ia akan memberi 'sedikit' hukuman untuk siswa yang melupakan tugasnya.
Sekitar enam siswa tidak mengerjakan tugas, termasuk Kyuhyun dan Changmin. Mereka di bariskan di depan aula menghadap ke arah teman-temannya.
"Kukira kau anak teladan, Kyuhyun-ah?" bisik Changmin yang kebetulan berdiri di samping Kyuhyun.
Kyuhyun tak menjawab, ia tak ingin menambah kemarahan seonsaeng.
"Seperti biasa, tugas kalian akan berlipat ganda untuk minggu depan dan hukumannya untuk hari ini adalah kalian harus berlari sampai ke gedung olah raga, tanpa menggunakan lift!" Seonsaeng mulai memberikan aba-aba. "Satu.. dua.. tiga!"
Semua berlari, tak ingin mendapat kemarahan berlebih dari guru mereka. Kecuali Kyuhyun. Kim Seonsaeng menahan tangan Kyuhyun yang hendak berlari.
"Kita akan ke gedung olah raga bersama-sama, Kyuhyun-ssi," ujarnya sambil melepas tautan tangan mereka.
Kyuhyun menghela napas beratnya. Ia benci keadaan seperti ini. Keadaan dimana ia harus diperlakukan berbeda dengan yang lainnya.
Surat pendaftarannya kesekolah selalu dilengkapi dengan surat dokter yang menyatakan apa-apa saja yang boleh atau tidak boleh ia lakukan. Semua guru yang mengajar kelas Kyuhyun wajib tahu itu, dan tentu saja Kim seonsaeng ini juga tahu.
"Hukumanmu hanyalah tugas yang berlipat ganda, Kyuhyun-ssi. jangan kau lupakan lagi tugasku atau tugasmu akan lebih banyak dari itu." Kim seonsaeng kembali menghadap siswanya yang masih berbaris rapi disana. "Silahkan kalian ke gedung olah raga, hari ini kita akan test basket!"
Seperti biasa, semuanya menatap Kyuhyun tak suka. Selalu saja seperti ini, Gurunya yang memberi keringanan dan Kyuhyun yang akan kena imbasnya. Semua temannya menganggap Kyuhyun itu selalu menjadi spesial. Kyuhyun tahu, teman-temannya tak suka dengan itu.
"Kau boleh tinggal kalau tak mau ikut test ini, Kyuhyun-ssi."
Suara Kim seonsaeng menyadarkan Kyuhyun yang melamun. Kyuhyun menatapnya dingin lalu berjalan melewati Kim seonsaeng begitu saja.
.
.
Sampai di gedung olah raga, Changmin dengan napas terengah menghampiri Kyuhyun yang baru saja datang bersama Kim seonsaeng di belakangnya. Tadi saat berlari, Changmin kira Kyuhyun berlari dibelakangnya, tapi ketika sampai di lapangan ia tak menemukan Kyuhyun dimanapun.
"Dia tidak berlari, Kim seonsaengnim!" adu Changmin, Kyuhyun tampak tak pedulia dan lebih memilih berjalan ke sudut ruangan, duduk di bangku penonton sambil melihat teman-temannya yang tengah melakukan pemanasan.
"Minggu lalu Kyuhyun-ssi tidak masuk, tadi aku membebaskannya dari hukuman berlari." Kim seonsaeng menjawab dengan tatapan penuh selidik. "Kau siswa baru?" tanyanya.
Changmin menganggukan kepala dengan semangat lalu kemudian memperkenalkan diri. Kim seonsaeng sampai tertawa melihat Changmin yang begitu bersemangat.
"Seharusnya kau tadi menjelaskan padaku bahwa kau siswa baru. Mungkin tadi kau tidak usah berlari, sama seperti Kyuhyun. Kau kan tidak tahu kalau aku sudah memberikan tugas."
"Tak apa, seonsaengnim, aku senang berlari." Changmin tertawa renyah. Padahal dalam hatinya, ia mengumpat habis-habisan.
Kang seonsaeng menepuk bahu Changmin singkat lalu berjalan ke tengah lapangan basket. Mengumpulakan semua siswa di tengah lapangan untuk melakukan pemanasan bersama-sama.
Kyuhyun berdiri tepat di depan Changmin, di depannya ada siwon yang selalu bersemangat jika olah raga mereka adalah basket. Anak itu maniak basket, sama seperti Kyuhyun, dulu.
Seusai pemanasan, mereka memulai test dengan Dribling lalu dilanjutkan dengan melakukan Shooting. Mereka semua melakukan dengan baik, walaupun beberapa siswa melakukan dengan tuntunan Kim seonsaeng.
Kyuhyun tampak menikmati kegiatan olah raga kali ini, sudah lama sekali semenjak ia memegang bola basket. Tadi ia melakukan shooting dengan baik, tentu saja, Kyuhyun bahkan bisa melakukan long shoot dengan baik.
Setelah semuanya melakukan apa yang Kang seonsaeng minta, mereka diperbolehkan untuk bermain basket sampai jam pelajaran ini berakhir.
Dengan tergesa, Changmin menghampiri Kyuhyun yang tengah meneguk air dari botolnya.
"Ayo main, Kyuhyun-ah. Tim Siwon kekurangan satu pemain!"
Kyuhyun menutup kembali botolnya lalu menatap Changmin. "Aku tak bisa, Changmin-ah."
"Kau bohong! Siwon bilang kau pernah menjadi kapten tim? Tadi long shoot-mu itu bagus sekali!"
Pandangan Kyuhyun beralih pada siwon yang tampak santai sambil mendrible bola. Kyuhyun mengumpat dalam hati, dasar mulut besar!
"Kau percaya pada siwon?"
Changmin menganggukan kepala.
"Kau tak percaya padaku?"
"Aku—"
"Kau tak percaya padaku," potong Kyuhyun dingin sambil berlalu. Changmin segera menghadangnya.
"Bukan berarti aku tak percaya padamu, Kyuhyun. Tapi tadi lemparanmu benar-benar keren. Main sekali saja, ya? Ya?" pinta Changmin dengan memasang wajah memelas andalannya. Changmin tak tahu, Kyuhyun tak akan kalah dengan tampang seperti itu. Kyuhyun tetap pergi, tapi kemudian...
Dug!
Bola basket yang sejak tadi dimainkan siwon mendarat begitu cantik di kepala Kyuhyun, membuatnya geram dan melayangkan pandangan membunuhnya pada Siwon.
"Mianhae Kyuhyun-ah, lost ball!" teriak Siwon sambil meringis geli. Kyuhyun tahu anak itu sengaja.
Kyuhyun mengambil bola yang jatuh ke kakinya lalu ketika ia hendak melemparkan kembali bola itu pada Siwon, Changmin merangkul pundaknya dan membawanya sampai ke tengah lapangan.
"Sekali saja Kyuhyun-ah, sebelum jam olah raga ini habis."
Kyuhyun mendelik menatap Changmin yang lebih tinggi darinya itu. Ia lalu mengalihkan pandangan pada semua teman-temannya yang telah berkumpul dilapangan. Semuanya ternyemum padanya, ia jadi berubah pikiran.
Setelah tiba di tengah lapangan, dengan ragu Kyuhyun menatap Changmin dan Siwon bergantian, lalu tersenyum manis. "Ayo! Sebentar saja, ya!"
Tentu saja semua yang ada di sana terlihat bahagia, kapan lagi mereka bisa bermain bersama Kyuhyun. Sangat jarang anak itu akan berolah raga lagi setelah Kim seonsaeng pergi.
Sebentar yang dijanjikan Kyuhyun ternyata tidak benar-benar sebentar. Kyuhyun dan Siwon berada dalam satu tim, sedangkan Changmin menjadi lawan mereka. Setelah mengalahkan tim Changmin habis-habisan di pertandingan pertama, Changmin pantang menyerah dan mengajak mereka bermain satu pertandingan lagi. Tak ada yang menolak, pertandingan itu sangat seru, bahkan para yeoja yang biasanya memilih pergi ke kantin setelah berganti pakaian kini berjejer rapi di bangku penonton untuk melihat pertandingan seru itu. Kebetulan sekali setelah jam olah raga ini berakhir adalah jam istirahat, jadi mereka tak perlu terburu-buru untuk pergi ke kelas.
Di pertengahan permainan ke dua, Kyuhyun sudah mulai kelelahan. Ia menatap Changmin yang masih bersemangat mendrible bola hingga tiba di dekat ring kemudian melemparkan bola ke arah ring. Tidak masuk!
Kyuhyun masih berdiri di tempatnya, tak melakukan apapun padahal ia yang berada di posisi center seharusnya melakukan rebound. Terlebih, bola yang gagal di masukan kedalam ring oleh Changmnin, memantul kearahnya dan akan sangat menguntungkan jika Kyuhyun mengambil alih bola itu. Nafasnya mulai tak beraturan, jantungnya berdetak tak normal. Kyuhyun tahu, ini adalah saatnya untuk berhenti.
Siwon menghampirinya dengan cemas, Kyuhyun hanya tersenyum dan belalu pergi ke sisi lapangan dengan Siwon yang mengikutinya dari belakang.
"Kelasku selanjutnya matematika, Siwon. Aku harus berhenti bermain, ada tugas yang lupa ku kerjakan," ujar Kyuhyun singkat lalu pergi.
Siwon menatap Kyuhyun dengan heran. Lupa mengerjakan tugas? Sejak kapan Kyuhyun melupakan tugasnya? apalagi dalam mata pelajaran matematika!
"Yak! Kenapa kalian meninggalkan lapangan begitu saja?!" teriak Changmin sambil menghampiri Siwon. Melihat wajah siwon yang murung, Changmin menatap punggung Kyuhyun yang kian menjauh. "Kalian bertengkar?" tanyanya bingung.
Siwon menggelengkan kepalanya, "Dia katanya harus mengerjakan tugas metematika."
"Mwo?" mata Changmin terbelalak. "Astaga! Aku juga lupa, Siwon-ah!"
Kemudian pertandingan itu selesai begitu saja. Beberapa orang menggerutu sebal karena Siwon, Changmin, dan Kyuhyun begitu seenaknya meninggalkan pertandingan.
.
.
Kyuhyun tiba di depan lokernya, membukanya lalu mengambil seragamnya dan memasukan beberapa buku pelajaran ke dalam tas punggungnya.
"Kau bermain cukup bagus setelah lama break."
Kibum menyandarkan punggungnya pada loker Changmin yang tepat berada di samping loker milik Kyuhyun.
Kyuhyun tampak tak peduli, tetap melakukan kegiatannya sampai selesai lalu menutup dan mengunci kembali lokernya.
Ketika hendak pergi, Kibum menahannya. Menatap Kyuhyun dengan serius. "Kau mau kan bergabung dengan klub basket lagi?"
Kyuhyun menghela napas berat, ia melepaskan tangan Kibum perlahan, lalu balas menatap Kibum. "Aku harus segera ganti baju, Kibum Hyung."
"Kau sakit?" pertanyaan lain dari Kibum ketika melihat wajah Kyuhyun yang pucat pasi.
"Aku hanya lapar, dan sekarang aku harus ganti baju lalu makan."
Kibum menganggukan kepala. "Baiklah, dengarkan aku sebentar saja." Kibum menghela napas lalu mulai mengajukan keinginannya agar Kyuhyun mau bergabung kembali dalam tim basket sekolah untuk turnamen se-Seoul yang akan segera berlangsung.
Kyuhyun diam mendengarkan permintaan Kibum. Ia tak bisa menjawab apapun sampai Donghae datang dan membantunya menjawab.
"Kyuhyun sudah bosan main basket, Kibum-ah. Sudahlah, jangan dipaksa seperti itu," ujar Donghae pasti sambil merangkul Kibum untuk mengajaknya pergi.
Kyuhyuhyun mengangguk saja ketika Kibum menatapnya untuk menemukan sebuah jawaban. Entahlah, Kyuhyun tak tahu pasti apakah jawaban dari Donghae benar-benar membantunya atau tidak. Yang pasti, sekarang Kibum telah pergi dari hadapannya, meninggalkannya yang kembali memikirkan permintaan Kibum. Pasti akan sangat menyenangkan kalau ia bisa bermain lagi, terlebih ini adalah turnamen yang cukup baik untuk reputasi sekolahnya dalam basket. Kyuhyun ingin sekali ikut andil dalam kejuaraan itu. Sekolahnya yang terkenal juara dalam bidang akademik ini juga harus juara dalam bidang olah raga, termasuk basket!
"Kau meninggalkan lapangan lalu memilih untuk melamun sendirian disini, Kyuhyun-ah?"
Lamunan Kyuhyun buyar begitu saja, ia melihat Changmin yang sedang membuka lokernya.
"Aku hanya sedang memikirkan tugas," jawabnya santai lalu pergi untuk berganti pakaian.
"Anak itu aneh sekali," gumam Changmin yang masih berdiri di depan lokernya.
.
.
Ruang kesehatan itu tampak sepi, beberapa tempat tidur yang berjajar tak terisi sama sekali. Kyuhyun memilih tempat tidur yang terletak paling ujung, ia menutup tirai yang melingkupi tempat tidur itu, menyimpan tasnya di meja, lalu merebahkan dirinya di ats tempat tidur dengan nyaman. Baru saja beberapa menit memejamkan mata, bunyi tirai yang dibuka membuatnya terperanjat.
"Kenapa kau bandel sekali, Kyuhyun-ah? Awas saja! Kulaporkan pada Jungsoo hyung dan Sungmin hyung!"
Kyuhyun mengangkat tubuhnya untuk duduk, menatap Donghae yang berdiri di samping tempat tidur dengan tatapan tak suka.
"Hyung hanya harus diam, ok!"
"Ish kau ini!" Donghae duduk di samping tempat tidur, mendorong pelan bahu Kyuhyun agar anak itu tidur lagi. "Kalau kau sakit, aku yang kena marah, tahu!"
"Mianhaeyo, Hyung.." lirih Kyuhyun sambil memejamkan matanya ketika rasa tak nyaman di dadanya kembali datang. Dadanya terasa seperti di tekan dan napasnya terasa sangat sesak.
Donghae berdecak, lalu mengambil tas Kyuhyun yang tergeletak di meja dengan agak kasar, mengambil satu tabung obat kecil di dalamnya dan menyeluarkan satu butir pil kecil dari dalam tabung itu.
"Buka mulutmu!" titahnya. Kyuhyun membuka mulut dengan ragu, mengangkat lidahnya, lalu Donghae menyimpan obat itu di bawah lidah Kyuhyun.
Kyuhyun kembali menutup mulut dan menyesap obat itu. Perlahan, rasa tak nyaman di dadanya menghilang seiring dengan habisnya obat itu dalam mulunya.
"Lain kali, satu pertandingan saja cukup, kan? Kau sok sekali main dua kali!" gerutu Donghae sambil membereskan kembali isi tas Kyuhyun. "Tidurlah, urusan dengan Han seonsaeng serahkan padaku."
Donghae pergi, Kyuhyun menatapnya dengan senyum. Urusan dengan Han seonsaeng apa? Apa Donghae lupa, semua guru juga tahu kalau Kyuhyun sakit. Han seonsaeng juga tak akan mempermasalahkan bolosnya Kyuhyun kali ini.
Kyuhyun tersenyum miring. Kau menggali kuburanmu sendiri, Hae Hyung...
.
.
"Han seonsaengnim, Kyuhyun tidak bisa mengikuti kelasmu hari ini."
Donghae menghalangi langkah Han seonsaeng yang hendak masuk ke dalam kelas. Guru matematika itu mengernyit bingung, lalu sedetik kemudian menatap Donghae penuh selidik.
"Aku tahu, aku melihatnya masuk ruang kesehatan tadi."
"Ah begitu." Donghae mengusap tengkuknya. "Jadi, apakah dia bebas tugas hukuman karena tidak masuk?"
Han seonsaeng tertawa. "Bagaimana kalau kau yang menggantikannya, hm? Ujian harianmu selalu buruk, Donghae-ssi. Aku tidak akan memberikan Kyuhyun-ssi tugas tambahan, dan sebagai gantinya kuberikan kau tugas persiapan ujian agar ujian akhirmu nanti tidak seburuk ujiak harianmu, eottokahe?"
Donghae mengumpat habis-habisan dalam hatinya. Han seonsaeng sudah tahu Kyuhyun sakit! Seharusnya ia tak menemui guru keji ini hanya untuk memberitahu keadaan Kyuhyun. Lihat sekarang, hasilnya adalah guru ini malah mengerjainya!
Kyuhyun-ah.. kau mengerjaiku, eoh?!
.
.
Sungmin berjalan tergesa ke luar rumah untuk membukakan gerbang rumah. Tadi, ketika ia sedang mengerjakan tugasnya di balkon kamarnya yang menghadap ke depan rumah, ia melihat Kyuhyun yang keluar dari dalam taksi dengan dipapah oleh Donghae. Ia menjadi panik dan segera menghamiri kedua diknya itu.
"Ada apa denganmu, Kyuhyun-ie?" Sungmin menggantikan posisi Donghae untuk membantu Kyuhyun yang tampak lemas.
Setelah tidur di ruang kesehatan tadi, Kyuhyun tak merasakan tubuhnya membaik. Ia malah merasa sangat lemas dan tidak mampu bergerak banyak. Perutnya terasa mual, seluruh tubuhnya sakit terutama di bagian dada dan ulu hati, selain itu juga pundak dan tangannya terasa kebas. Ketika jam pulang sekolah tiba, Donghae kembali datang ke ruang kesehatan dan malah mengumpat panjang lebar kepada Kyuhyun karena tidak mengingatkan Donghae mengenai para guru yang sudah tahu keadaan kesehatan Kyuhyun.
"Setelah jam olah raga tadi, dia masuk ruang kesehatan dan sampai sekarang keadaannya tidak membaik, Hyung," adu Donghae sambil melebarkan pintu rumah yang terbuka.
"Kau ikut olah raga?" tanya sungmin dengan menatap Kyuhyun tajam.
Kyuhyun memejamkan matanya sambil mengangguk. "Biasanya juga tak apa, Hyung. Aku juga butuh olah raga supaya lebih sehat."
"Olah raga yang seperti apa dulu, Kyuhyun-ie? Kau memang harus berolah raga tapi tidak sampai kelelahan, tahu!"
"Aku tahu, Sungmin-Hyung.." Kyuhyun menatap Donghae dengan was-was, ia takut Donghae akan membocorkan kejadian yang sebenarnya pada sungmin.
"Pemanasan saja dia sudah lelah, Hyung, seharusnya dia tak ikut jam olah raga saja!" teriak Donghae sambil berjalan ke dapur.
Sungmin membaringkan Kyuhyun di sofa ruang keluarga, lalu duduk di kursi lain di dekatnya. "Apa benar seperti tu?" tanyanya tak percaya.
Kyuhyun menganggukan kepala, lalu memejamkan matanya. Ia tak ingin Sungmin menanyakan hal lainnya lagi.
Donghae datang sambil membawa sebotol air dingin yang ia ambil dari dalam kulkas. Ia duduk di sebelah Sungmin sambil meneguk isi botol. Donghae menatap sungmin heran, Sungmin sama sekali tak menghiraukan kedatangannya, matanya lurus menatap wajah Kyuhyun yang tampak pucat dan berkeringat. Sungmin terlihat sangat khawatir.
Donghae menyimpan botol airnya di meja, ketika itu Sungmin baru melirik kearahnya dan tersenyum. Sungmin baru menyadari kehadirannya. Donghae menghela napas, keadaan Kyuhyun memang selalu yang terpenting untuk mereka. Donghae-pun begitu, ia juga akan sangat mengkhawatirkan Kyuhyun. Tapi kenapa donghae selalu merasa tak nyaman jika Sungmin ataupun Jungsoo yang mengutamakan Kyuhyun sedangkan dirinya terkadang seperti tak dianggap.
"Bisa kau hubungi Jung uisa, Donghae-ya?" sungmin menatapnya penuh harap. Donghae benci keadaan seperti ini. Keadaan dimana ia menjadi seseorang yang jahat. Hatinya seperti tak rela melihat Sungmin yang begitu mengkhawatirkan Kyuhyun. Tapi disisi lain ia juga merasa khawatir dengan Kyuhyun.
"Donghae-ya.. kau mendengar Hyung tidak?"
Donghae mengerjap, ia mengangguk pelan lalu mengambil ponselnya dari saku seragamnya. Menghubungi Jung uisa –Dokter yang telah lama menangani Kyuhyun- memintanya untuk datang memeriksa Kyuhyun.
"Ia akan datang malam nanti, Hyung. Ia harus meminpin operasi sebentar lagi."
Sungmin mengangguk mengiyakan. Tapi ia tampak sangat khawatir, keadaan Kyuhyun sekarang seperti tak bisa menunggu Jung uisa hingga malam nanti.
"Kyuhyun-ie.. pindah ke kamar, ya. Kau harus ganti baju supaya lebih nyaman."
Kyuhyun membuka matanya perlahan dan mengangguk. Sungmin bergegas membantunya berdiri lalu memapahnya sampai ke kamarnya di lantai dua.
Donghae memerhatikannya dalam diam. Begitu iba melihat Kyuhyun, sekaligus begitu benci melihat Kyuhyun. Terkadang pikiran gilanya datang dan bertanya-tanya mengapa Kyuhyun yang sakit? Apakah memang benar Tuhan lebih menyayangi Kyuhyun dan membuatnya menderita sakit yang sama seperti eomma?
Wajah Kyuhyun yang lebih mirip eomma, sakit Kyuhyun yang seperti eomma, dan Kyuhyun yang ramah dan sangat pintar seperti eomma.
Kenapa bukan Donghae saja yang seperti eomma? Kenapa harus Kyuhyunhyun?
.
.
Bunyi bantingan pintu menggema di rumah itu. Kyuhyun membuka matnya dan mendapati Hyerin bersama Younghwan yang masuk kedalam kamarnya dengan wajah cemas luar biasa. Ia memejamkan matanya kembali, tak ingin mendapat ceramah geratis dari ayahnya.
Dokter Jung tidak bisa datang cepat, Kyuhyun tahu pasti apa yang akan dilakukan isteri baru ayahnya itu sekarang.
Sungmin bilang, akan memanggil Dokter lain untuk memeriksa Kyuhyun. Dan.. disinilah Dokter itu sekarang. Isteri baru ayahnya.
Dengan tergesa Hyerin mengeluarkan peralatan medisnya dari dalam tas khusus lalu mulai memeriksa Kyuhyun. Berbagai macam pertanyaan ia ajukan pada Kyuhyun mengenai kegiatannya hari ini, dan anak itu menjawab dengan sangat singkat.
Hyerin mengerti, keberadaannya memang tak diharapkan oleh Kyuhyun. Tapi ini tugasnya, tugasnya sebagai dokter dan juga tugasnya sebagai pengganti Hanna untuk menjaga Kyuhyun menggantikan wanita yang telah tiada itu.
"Ke rumah sakit, mau tidak?"
Dengan pasti, Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
Hyerin mengangguk maklum, ini sudah diperkirakannya sejak dalam perjalanan tadi. Seharusnya Kyuhyun ditangani di rumah sakit saja, katup koronernya hanrus dipasangi ring supaya tidak mengempit lagi. Tapi kalau Kyuhyun sudah tidak mau, tak ada yang berani memaksa. Hyerin lalu mengambil peralatan infus dari dalam tas khususnya dan mulai memsangkannya pada lengan Kyuhyun.
"Apa sangat parah samapi harus di infus?" Younghwan terlihat cemas.
Hyerin tersenyum menenangkan. "Ini hanya proses pemasukan obat. Tidak apa-apa, sampai cairan infusannya habis, kurasa Kyuhyun akan merasa lebih sehat."
Younghwan mengangguk dan pergi dari kamar Kyuhyun untuk mengambil tiang infus di kamar lain. Kamar yang dulu ia tempati bersama isterinya itu sekarang kosong. Disana masih ada beberapa alat medis yang sudah tak terpakai, termasuk tiang infus yang sekarang dibawanya ke kamar Kyuhyun.
"Kau benar-benar mirip dengan eomma-mu, Kyuhyun-ie.. tapi jangan kau tiru semuanya. Kau harus lebih sehat dari eomma-mu, arrachi?" Hyerin mengusap kepala Kyuhyun setelah menggantungkan tabung infus pada tiang yang dibawa oleh suaminya.
Kyuhyun menatap Hyerin dengan sendu kemudian memejamkan matanya.
.
.
Suasana gedung olah raga yang tadi digunakan untuk belorah raga itu sekarang sepi tak berpenghuni. Changmin duduk bersila di sisi lapangan sambil memainkan bola basket di tangannya. Ia sangat bosan, Kyuhyun menghilang sejak kelas matematika sampai semua pelajaran dilalui, anak itu tak kunjung datang. Jadi, rencananya untuk mengajak Kyuhyun ikut seleksi masuk klub basket sekolah kali ini gagal total.
Setelah mendaftarkan diri langsung pada Kibum tempo hari, Changmin disuruh Kibum untuk datang hari ini sepulang sekolah ke gedung olah raga untuk diseleksi apakah bisa bergabung dengan klub basket sekolah atau tidak. Tapi ini sudah hampir setengah jam Changmin menunggu dan tak ada satupun senior dari klub basket yang datang untuk melihat kebolehannya memainkan bola basket ini.
Changmin berdiri, membanting bola basket ke tengah lapangan lalu berlari mengambilnya. Ia akan mati bosan jika tetap duduk diam seperti tadi.
Pintu tiba-tiba terbuka. Kibum berjalan kearahnya dengan santai. Seniornya itu sudah menggunakan kostum basket. Changmin menatap dirinya sendiri, ia masih mengenakan seragamnya, lengkap dengan blazer dan dasi yang masih terlihat rapi. Sungguh berbanding terbalik!
"Mianhae, Sunbae-nim, aku belum berganti pakaian!"
Kibum menatap Changmin dari atas hingga bawah lalu menggelengkan kepala. "Tidak usah, sebentar lagi ada latihan. Tidak akan cukup waktunya jika harus menunggumu!"
Menungguku apa! Bukankah Kibum sunbae yang datang terlambat?. Changmin merutuk dalam hati.
"Baiklah, Changmin-ssi, lakukan teknik-teknik dasar saja. Tidak ada kesalahan, dan jangan bilang kau tidak tahu apa saja teknik dasar basket."
"Arraseoyo, sunbae-nim!" seru Changmin penu semangat.
Dengan mengenakan seragam yang masih lengkap itu, Changmin melakukan passing and catching, dribbling, shooting, pivot, jump stop, dan rebound dengan baik. Dibantu oleh Kibum pada beberapa teknik yang membutuhkan lawan.
Kibum tampak biasa saja setelah Changmin selesai melakukan apa yang diperintahkannya. Tak ada tatapan merendahkan, tak ada tatapan kagum, Changmin tak bisa memprediksi apakah ia akan diterima atau tidak.
"Kau teman Kyuhyun?"
Changmin cukup terhenyak dengan pertanyaan Kibum. Apa urusannya teman Kyuhyun dan seleksi masuk klub basket ini?
"Ye, sunbae-nim."
Kibum mendekati Changmin dan duduk di sampingnya. "Kau diterima, Chamin-ssi."
Hati Changmin bersorak gembira. Dia diterima! Menyenagkan sekali, bukan?
"Tapi.." ekspresi Changmin berubah sendu. "Apakah aku diterima karena aku adalah temannya Kyuhyun?"
Kibum menatap Changmin tak suka. "Kau kira aku orang yang seperti itu?"
"Ah, mianhae. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Permainanmu cukup baik untuk bisa diterima. Aku tidak mempermasalahkan kau teman siapa, bahakan jika kau tak punya teman-pun aku tak peduli."
Ish! Changmin mulai kesal. Kenapa Kibum ini mirip sekali dengan Kyuhyun. Cuek, ketus! Changmin heran, kenapa ada orang yang bertahan menjadi temannya dengan sikap sedingin itu.
Pertemuan hari itu selesai sampai disana. Changmin pulang dengan perasaan gembira walaupun sedikit kesal dengan tingkah Kibum. Tapi ia melupakannya, toh Kibum tidak membuatnya sakit hati dengan sikap seperti itu.
Sedangkan Kibum, duduk diam di tempatnya tadi dan memandang Changmin dengan senyum tipis. Ia berharap, dengan masuknya Changmin, bisa menarik perhatian Kyuhyun untuk kembali melirik klub basket yang satu tahun ini telah ditinggalkannya. Kibum harus bisa membujuk Kyuhyun. Harus!
.
TBC
.
Thanks to:
Puput, rarangcn, vietakyu33, Keys13th, Desviana407, kyume801, mifta cinya, Rahma94, MinGyuTae00, gnagyu, meimeimayra, cuttiekyu, Awaelfkyu13, jihyunelf, sofyanayunita1, nopiefa, elf, Seli Kim, Special bubble, Shin Ririn1013, fenfen woe, dewiangel, Sparkyubum, kim min soo, DahsyatNyaff, nurulsaputri26, kyuu324, iloyalty1, Nitha Gaemgyu, poppokyu, michhazz, kyuphoenix, hm, xyz, Retnoelf, ratna dewi, Guest, Hekkyu, Choding, kyurielf, Wonhaesung Love, chocosnow, vha chandra, kyuli99, mengkyuwind, lerian, Fishy Lover, dewi, Haekyu, erka, septi, kYU kum, sitihalimatussadiah124, FiWonKyu0201, sparkyumihenecia, ayratari, hyunnie02, imaniasafitri, gaemgyulah, nesaevilmagnae
.
Karena di ff ini aku bongkar habis-habisan konfliknya di awal Chapter, jadi gak ada sesi balas review.. silahkan tebak sendiri atau tunggu saja bagaimana kelanjutannya ^_^
Buat kalian para sparkyu yang seneng banget Kyuhyun menderita di FF, aku laporin ke Kyu loh, biar dipecat jadi isteri-isteri-an nya Kyu! xp
