BAB 1
Mungkin ini adalah waktu terindah dalam beberapa tahun belakangan ini. Setelah sekian lama Rumah keluarga Park berduka karena keluarga itu kehilangan penghuni termuda mereka yang merupakan putri bungsu keluarga Park bernama Park Daehyun, pada akhirnya mereka menemukan penggantinya.
Park Chanyeol menemukan kembali istrinya yang sudah meninggalkannya dalam diri seorang gadis bernama Byun Baekhyun yang sejak malam ini sudah menjadi Park Baekhyun. Gadis itu benar-benar mirip dengan Daehyun, segala yang ada pada dirinya benar-benar membuat Baekhyun seolah-olah dilahirkan untuk menggantikan Daehyun di rumah tersebut.
Tapi walau bagaimanapun bagi Kim Jongin, Daehyun tetaplah sahabat yang tidak bisa digantikan. Daehyun memperlakukan Jongin yang hanya seorang pelayan sebagai saudara kandungnya sendiri.
Karena itulah Jongin sangat bersedih. Mungkin hanya dirinyalah satu-satunya orang yang bersedih dalam pesta pernikahan yang membuat rumah Park begitu semarak seperti saat ini.
Ruang tengah rumah Park mendadak disulap sebagai lantai dansa dengan banyak lampu yang membuat suasana berbeda dengan biasanya. Lampu-lampu itu juga memenuhi kebun karena rumah saja sama sekali tidak cukup untuk pesta sebesar ini. Bunyi dentuman kembang api diangkasa semakin membuat suasana menjadi ramai dan untuk itu, Jongin hanya termenung melihatnya.
Saat ini, perpustakaan rumah yang sepi jauh lebih menarik baginya bila dibandingkan dengan keramaian di luar sana. Pendaran cahaya kembang api yang timbul dan menghilang tiba-tiba saja digantikan oleh cahaya yang terang benderang. Jongin menatap ke arah lampu perpustakaan yang menyala tiba-tiba lalu beralih kepada seseorang yang menyalakan lampunya.
Gadis itu, Baekhyun mendekatinya dengan senyum mengembang sambil mendorong troli berisi dua buah gelas Kristal dan sebotol Sampanye dingin. Baekhyun mendaratkan pinggulnya di lantai, tepat di sebelah Jongin dan ikut memandangi Jendela yang memperlihatkan kembang api. Jongin memandanginya sebentar dan kecewa, Baekhyun memakai gaun pernikahan Daehyun saat menikah dengan Chanyeol sebelum akhirnya nyawa Daehyun direnggut oleh penyakitnya.
"Nyonya, sedang apa disini?"
Jongin berujar dengan sopan. Ia sedikit kikuk menghadapi orang yang berwajah mirip dengan sahabatnya tapi sebagai orang asing. Baekhyun benar-benar mirip dengan Daehyun, hanya saja Baekhyun terlihat lebih dewasa.
"Kenapa kau memanggilku nyonya? Panggil aku Baekhyun saja meskipun aku lebih suka dipanggil Baekki seperti Suamiku memanggilku!"
Kau tidak merasa kecewa karena di samakan dengan orang yang sudah tidak ada? Bukankah itu artinya mereka menganggapmu sebagai seseorang yang bukan dirimu?
"Memangnya kenapa? Kau keberatan?"
"Tidak, aku hanya heran dengan sikapmu!"
Baekhyun tersenyum ringkas.
"Kalau kau tidak bersedia memanggilku dengan nama itu, kau boleh memanggilku dengan apa saja selain dengan sebutan terhormat manapun!"
"Mana boleh aku bersikap tidak sopan dengan memanggilmu sesuka ku!"
"Bukankah kau sahabat Daehyun? Berarti kau juga sahabatku. Kau tidak keberatan menjadisahabatku, kan? Setelah ini mungkin aku akan sering menghubungimu untuk bertukar cerita!"
Jongin memaksakan sebuah senyum. Baekhyun sudah menunjukkan sikap yang sangat persis dengan yang Daehyun miliki.
"Kau seharusnya berbaur dengan banyak orang diluar sana!"
"Dan membiarkanmu sendirian disini? Aku rasa, disini bersamamu lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan berada di keramaian itu. Kau mau Sampanye? Aku membawakannya untukmu."
"Tapi aku tidak bisa minum-minuman keras!"
"Benarkah? Kau terlihat seperti seseorang yang berpengalaman!"
Jongin tersenyum lagi. Ia memang selalu mengesankan kepada banyak orang kalau dirinya adalah orang yang berpengalaman. Tapi pada kenyataannya Jongin tidak tau apa-apa. Sejak kecil ia dibesarkan di rumah ini, mendapat pendidikan khusus dari keluarga Park tentang ilmu pengetahuan, cara bersikap dan tata karma.Ia bahkan bukan orang yang tau dengan dunia luar. Aktingnya sudah menipu banyak orang termasuk Daehyun semasa hidupnya.
"Kau sedang memikirkan apa sendirian disini? Pacarmu?"
Baekhyun menyapanya lagi dengan sebuah pertanyaan telak, Pacar? Jongin tidak pernah memiliki pacar seumur hidupnya. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki kekasih jika di rumah ini jumlah laki-laki sangat sedikit? Semua laki-laki di rumah ini, usianya jauh di atas Jongin, hanya Minho yang merupakan majikannya yang memiliki usia terdekat dengan Jongin. Tapi ia tidak mungkin berpacaran dengan Minho. Mereka sudah seperti keluarga.
"Aku hanya merindukan Daehyun. Maaf kalau menyinggungmu!"
Baekhyun menggeleng cepat.
"Tidak, bukan masalah. Kau sahabatnya, tentu saja boleh merindukannya kapanpun yang kau suka."
"Terimakasih."
"Kenapa kau tidak keluar?"
"Aku rasa lebih baik disini. Aku tidak cocok dengan pesta. Seharusnya aku melayani tamu, tapi tuan Park Jung Soo melarangku melakukan itu."
"Tentu saja, Chanyeol bilang kau sudah seperti keluarga di rumah ini."
Baekhyun lalu meraih dua gelas sampanye-nya dan menuangkan cairan berwarna keemasan itu ke dalamnya. Selang beberapa saat, Baekhyun sudah menyodorkan salah satu dari kedua gelasnya kepada Jongin. Semula Jongin merasa ragu, namun dengan berat hati ia meneguk isinya dengan perlahan. Lalu menjadi lebih intens sehingga tanpa disadarinya, ia hampir menghabiskan sebotol Sampanye seorang diri. Ia kembali menghabiskanisi gelasnya yang terakhir dan tersenyum kepada Baekhyun.
"Ternyata minuman mahal sangat enak!"
Kata-katanya itu spontan membuat Baekhyun tertawa nyaring.
"Kau masih mau? Kalau begitu kita keluar saja. Ikutlah berpesta. Kau sudah mengenakan gaun yang sangat indah. Tidak adil kalau kau menyembunyikan keindahannya disini."
"Tapi aku tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang penting di luar sana!"
"Kenapa kau terlihat sangat putus asa sekali?Kau tidak seperti yang orang-orang ceritakan kepadaku. Kau cukup terus berada di sampingku sampai kau terbiasa.
Itu jauh lebih baik daripada mengurung diri di dalam sini sendirian. Ayolah!"
Jongin terkikik. Ia dan Baekhyun tidak henti-hentinya tertawa karena cerita-cerita gadis itu tentang daerah asalnya di Jeju. Juga tentang cerita lucu seluruh keluarganya. Baekhyun bahkan memperkenalkan Jongin kepada ibu dan kakaknya sebagai sahabatnya. Gadis itu sudah berhasil mengobati kehilangan Jongin akan Daehyun dan sekarang ia mengerti mengapa Chanyeol memilih Baekhyun untuk menggantikan Daehyun. Mereka bukan hanya mirip secara fisik tapi juga sikap. Tapi Baekhyun tidak semanja Daehyun. Ia lebih dewasa.
"Kakakku akan kembali ke Seoul besok pagi. Aku memesan banyak barang untuk dikirimkan kemari. Kau mau? Aku akan memintanya mengirimkan apapun yang kau mau!"
Jongin tertawa senang lalu menenggak gelas sampanye yang ke sekiankalinya sampai habis. Kepalanya sudah mulai pusing, tapi ia tidak bisa berhenti. Jongin menyesal tidak terjun kepesta sejak awal. Tidak, semua ini berkat Baekhyun. Jika tidak ada gadis itu, ia tidak yakin akan bisa menikmati pestanya sebaik kali ini.
"Aku ingin banyak hal!"
Kalau begitu katakanlah, aku akan memintanya mencarikan apapun yang kau inginkan."
"Kau terlalu memanjakanku, Baekhyun!"
"Demi sahabatku, apapunakan kuberikan."
Jongin terkikik lalu sesuatu mendesak. Ia memuntahkan kembali minumannya dengan tiba-tiba. Beruntung Jongin tidak mengganggu seorangpun. Baekhyun mengurut punggungnya perlahan dan itu membuat Jongin merasa lebih baik.
"Terimakasih."
"Kau mau kuantarkan ke kamar?"
"Tidak, aku akan kembali sendirian lewat halaman belakang. Kau pergilah bersama suamimu. Dia pasti sangat ingin bersamamu!"
Jongin bergumam lemah sambil mendorong tubuh Baekhyun untuk menjauh darinya.
"Pergilah!"
"Kau yakin kalau dirimu tidak apa-apa? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian..."
"Pergilah. Aku sangat hapal dengan rumah ini, bahkan di saat aku tidur.Jadi kau tidak perlu merasa khawatir."
"Kau yakin?"
"Ya, sana pergilah..."
"Baiklah, aku akan pergi.Jika terjadi sesuatu berteriaklah. Buat keributan dan aku akan tau kalau itu darimu!"
Baekhyun terkikik lalu beranjak setelah melambaikan tangan kembali masuk ke keramaian pesta menyusul Chanyeol, suaminya. Jongin memegangi kepalanya sejenak. Ia merasa sangat pusing dan mengantuk. Dengan tergopoh-gopoh Jongin bangkit dari tempat duduknya dan tenggelamdi ketemaraman halamanbelakang. Gegap gempitapesta masih saja terdengar nyaring seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Mungkin semua orang akan berpesta sampai pagi.
Jongin menghembuskan sebuah senyum dan merasakan kepalanya sakit lagi. Ia mengusahakan langkahnya untuk melangkah lebih cepat agar bisa segera berbaring di atas tempat tidurnya. Hingga tiba-tiba ia menabrak seseorang. Sayangnya pandangan Jongin begitu kabur sehingga tidak bisa menangkap seperti apa wajah orang yang berada di hadapanya.
Ia menundukkan wajahnya sambil menggumamkan permintaan maaf. Tapi sebuah ciuman panas mengejutkannya.Tubuh Jongin bergetar hebat, ia memang mabuk,tapi dirinya sangat bisa merasakan setiap getaran yang sampai di sekujur tubuhnya. Orang itu menciumnya, entah siapa. Dan Jongin sangat menikmatinya. Ini adalah ciuman pertamanya.
Ia tidak bisa mendengarkan gegap gempita lagi. Yangdiketahuinya, tubuhnya bersandar ke tembok dan tersembunyi apik oleh tanaman rambat yang menyusuri tembok rumah Keluarga Park.
LANJUT?
Novel by PHOEBE
