We're back readers! setelah seabad gak mengupdate fic akhirnya diapdet juga chap 2 yang nista bin abal ini.
Kami terharu banget baca ripiunya, hikshikshiks *lebay*
Reply for readers:
Merai Alixya Kudo: Makasih udah ripiu! ^^ Kalo kamu baca sampe ending nanti kamu bakal ngerti kok knapa SasuHina muncul di ending.
Rinzu15 'The 4th Espada: Makasih udah nunggun ini fic! #Rinzu: narsis!# ficnya dipost ulang karna penggunaan bahasanya sih.
Wi3nter: Ini dia chap 2, ntar ada sedikit lemonnya. Tapi maaf kalo mengecewakan, mungkin lemonnya kurang seru.
NaRa 'UzWa': Penggunaan bahasanya yang biasa aja ya? thanx y! Btw ShikaIno dibikin jadian di fic ini. Ntar kapan-kapan dibanyakin kok! ^^
Ridho Uciha: Makasih ripiunya! ini dia chap 2 semi rate M. Ntar ada NS lemonan tapi mungkin kurang seru.
Night's in here: Night nungguin proses NS nya? okokok, prosesnya lumayan panjang kok! ^^')
Amai: Hi Ama, lebih nyantai baca yang kemaren ya? tapi banyak readers yang protes, gomennn... m_"_m
Elven lady18: Ok, ini dia apdetannya! sudah diusahakan pake bahasa baku kok.
NaruSaku Uzuharu438: Di fave? #Tema n Fidy muter-muter gaje# thanx y!
Hanachi Mya-chan: Gyaa~ di fave lagi! thanx y! #Fidy + Tema melayang-layang sampe menara Tokyo# ini dia apdetannya! ^^
Ren Nakuhiko ShieKaru: Makin bagus? di fave lagi? hikshikshiks, we are really happy! *sok Inggris* #saking lebaynya nagis Indonesia tenggelam karna banjir airmata 2 author ini#
Mohon maaf buat yang ripiu sebelum fic ini di post ulang, gak sempet reply. Ada beberapa readers yang login udah di PM sama Tema tapi ada yang belum di PM sama yang nonlogin juga belum di reply. So, maap bageeddd... m_ _m *bungkuk-bungkuk* *dgampar masal sama ripiuwer*
Akhirnya lagi-lagi Shion muncul di fic NS ini *walau perannya bukan antagonis sih* tapi perannya masih tetap ancur hahaha...
Shion: Kami-sama, apa salahku! Kenapa peranku selalu begini? atau gara-gara 2 author nista itu? *nunjuk-nunjuk Tema n Fidy*
Tema n Fidy: *CCDT+ngacir duluan gak mau tau*
Shion: Heyyy! tungguu!
Tema n Fidy: Siapa yang mau nunggu!
Fidy: Ya sudah readers, kami cabut dulu. Happy readinggg! ^^
Summary: Sakura Haruno, seorang malaikat cupid yang ditugaskan turun ke bumi bersama teman-temannya, Ino dan Hinata untuk menyatukan pasangan. Suatu hari, ia tersesat di bumi dan ditolong seorang manusia bumi, lalu perlahan Sakura menyukainya. Namun, seorang malaikat tidak boleh jatuh cinta pada manusia karena peraturan di negri khayangan yang membuatnya menderita.
Story by: Fidy Dsc & Tema Fanz
Genre: Campuran Romance, Hurt/comfort, Fantasy
Disclaimer: Om Masashi Kishimoto *MK: emangnya sudah om-om apa?*
Inspired by: Komunitas Bumi Surga
Pairing: NaruSaku, ShikaIno, SuiKarin, KibaHina slight SasuHina (SasuHina hanya muncul di ending)
Warning: Ancur, gak lepas dari TYPO, AU, OOC abis, dan disarankan anak baek gak usah baca ya~
Rating: T semi M *karna itu yang merasa anak baek gak usah baca*
Heaven and Earth Story Chapter 2: When Love Start to Grow
x0x0x0x
Sore hari angin berhembus di Negri Khayangan Kumo. Seperti biasa tempat itu sejuk dan nyaman.
Sakura masih duduk termenung diatas permukaan awan sambil memejamkan matanya lalu menghembuskan nafas pelan-pelan. Nafas yang kini dirasakannya sangat berat dan selalu bergantung pada tenaganya.
Ino dan Hinata hanya berdiri sambil terbengong melihat sahabatnya itu tidak jauh di hadapannya. Mereka mau bicara, namun kata apa yang akan mereka lontarkan.
Seulas senyum tiba-tiba menyungging dari bibir mungil Sakura. Kedua sahabatnya malah semakin bingung melihat Sakura yang bertingkah semakin aneh.
Apa jangan-jangan Sakura sudah gila? Ah, pikiran mereka memang suka aneh-aneh.
"Sakura? Hey hey, Hello? Sakura kamu kenapa?" Ino mengguncang-guncangkan tubuh Sakura, berusaha untuk menyadarkannya.
"I-Ino-san, se-sebaiknya jangan diguncangkan seperti itu. Biarkan Sakura-san mengenang masa-masa bersama pemuda bumi itu." Suara lembut Hinata akhirnya keluar. Ternyata gadis ini sudah tahu sedari tadi yang tengah Sakura pikirkan. Walaupun ia pendiam tapi dia banyak tahu juga.
"Hem lagi nostalgia ya, cieeee..." goda Ino lagi. Ino memang suka menggoda orang, apa lagi menggoda sahabatnya. Kalau digoda dia malah tidak mau.
"I-no-san sendiri tidak kangen de-dengan pemuda nanas itu?"
"Haah, tentu saja kangen! kalau tidak untuk apa aku membohongi ayah Sakura? Kamu sendiri juga mikirin Kiba?"
"Hah, eng.. gak kok, ta-ppi a-aku." seru Hinata terbata-bata, sepertinya Hinata paling tidak bisa jika dirinya yang disinggung. Bisa dilihat di kedua pipinya yang merona merah seperti buah tomat segar yang baru saja dipetik. Manis sekali.
Sakura tidak mempedulikan kedua sahabatnya itu, ia masih membiarkan kedua sahabatnya saling melempar perkataan. Lagi pula kalau dia ikut bicara memangnya mau bicara apa?
Dan pikirannya masih bergelut dengan masa lalu yang tidak terlalu lama itu, yang membuatnya selalu berputar dalam otaknya.
Flashback on
.
.
.
Sekitar sore hari menjelang malam, dimana lampu-lampu sudah dihidupkan dan penerangan dari sang surya sudah dipadamkan.
Seorang pemuda berambut blondie menuntun jalan Sakura ke tempat kosnya. Uzumaki Naruto tepatnya. Mereka berjalan di pinggiran jalan beraspal putih yang kelihatannya baru di perbaikki. Di samping kanan-kiri mereka terdapat rumah-rumah penduduk jepang yang kebanyakkan tipe jaman dulu sebelum modern. Namun ini lah yang menjadi bagian khas dari blok sekitar sini.
Lumayan sepi di sana. Suara TV dari penduduk sekitar dapat terdenga walau tidak terlalu jelas. Suara dari mesin mobil dan kendaraan lainnya dari jalan besar di belakang mereka masih bisa terdengar walaupun mereka terus melangkah menjauh.
Ditengah jalan tiba-tiba Naruto menggandeng tangan Sakura. Sakura sempat terkejut dan merasa aneh.
Blush.
Namun tidak dapat dipungkiri. Lagi-lagi wajah Sakura memerah seperti tomat. bagaimana tidak blushing coba, seorang pemuda yang tidak dikenalnya tiba-tiba menggandeng tangannya.
Apalagi sekarang waktunya sudah petang dan mereka hanya berdua saja. tapi entah kenapa tangannya berasa begitu hangat. Atau… tangan Sakura yang lagi dingin?
Telapak tangan Sakura basah akibat keringat yang keluar dari pori-porinya.
Sakura bisa saja menonjok dan menendang pria ini. Namun niatnya terurungkan. Mungkin saja dia bisa melindungi dan menolong dirinya. Yah, hanya itu yang ada dipikirannya sekarang.
Beberapa langkah dan Beberapa menit kemudian mereka berdua tiba di sebuah rumah kos tua. Tempatnya elit memang, tapi untuk jaman dulu.
Bangunannya berwarna gelap dan terkesan tidak terawat. Gentengnya berwarna gelap dan menyeramkan. Belum lagi dengan pohon beringin besar yang akarnya menjalar kemana-mana—kesekitar perkarangannya.
Rumput-rumput di perkarangannya juga tidak rata. Ada yang tinggi dan pendek. Mungkin sewaktu mengguntingnya memakai gunting yang tidak tajam.
Di sana juga terdapat ayunan. Ayunan yang hanya terdapat satu kursinya. Ayunan yang besinya Sakura yakin sudah karat. Dia agak bergoyang mungkin tertiup angin, sehingga menimbulkan suara berdecit sedikit merusak pendengaran.
Dalam benak Sakura terbayang rumah kos itu dihuni banyak hantu yang akan menghantuinya kapan saja. Hantu yang menyeramkan dengan pisau berlumuran darah yang tertancap di dadanya, lalu matanya tidak ada pupilnya, rambutnya panjang terurai sampai tanah, suara kikikkannya memekakkan pendengaran dan menebarkan jantung. Sungguh terlihat angker baginya.
"Kita sudah sampai Sakura-chan!" seru pemuda itu sambil nyengir sedangkan yang diajak bicara masih setengah bergelut dengan pikiran konyolnya. "Ohya, boleh aku memanggilmu begitu?"
Sakura agak lama meresponnya, "Tidak apa-apa Naruto. Kau yakin ini rumah kosnya?" Sakura betul-betul takut melihat rumah kos itu. Rasanya ia ingin langsung meninggalkan pemuda itu di tempat ini.
"Benar kok, hehehe kalau kau takut hantu nanti biar kuusir hantunya." Seolah-olah dia bisa menebak pikirannya dan berbicara begitu. Sakura langsung merasa tidak enak meninggalkan Naruto di tempat ini apalagi dia sudah berbaik hati membiayai tempat tinggalnya sementara.
"A... aku tidak takut hantu Naruto! Aku tidak percaya hantu!"
"Aku cuma bercanda, ayo kita masuk." Naruto menggandeng Sakura masuk ke rumah kos yang terlihat angker itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Sakura dari belakang dengan begitu lembut sampai ujung kakinya juga merasakannya.
KYAAAAAAA...
Refleks Sakura memeluk si pirang yang berada di sampingnya. "Si... siapa itu?" Sakura memberanikan dirinya menoleh ke belakang.
"Ohayou Naruto-kun!" Seorang gadis berambut blondie dan bermata ungu menyapa mereka berdua.
"Shion? Ah bikin kaget! kamu sedang apa disini?"
"Hehehe, aku baru pulang dari toko." Shion menunjuk kantong putih belanja yang dibawanya. "Omong-omong siapa yang dibelakangmu itu Naruto-kun? pacarmu bukan?" Shion menunjuk-nunjuk Sakura.
"Ahh bukannn... di-dia teman kuliahku, namanya Sakura." Mereka berdua langsung blushing. "Sakura-chan, ini Shion. Dia tante-tante tukang gosip pemilik rumah kos ini."
"Apa? Tante-tante tukang gosip katamu?"
BLETAKKK
Sebuah pukulan mendarat dengan mulus tepat di kepala duren Naruto. "Auww, kau pikir kepalaku ini batu apa? Kepalaku ini bisa bocor kalau dipukul begitu! Kalau bocor bisa-bisa aku gegar otak plus dibawa ke UGD tau!" ujar Naruto lebay.
"Kalau kepalamu pecah itu urusanmu!" kini mata ungunya menatap Sakura, lantas ia pun mengulurkan tangannya, "Ohya, aku Shion."
Mau tak mau Sakura menggerakkan tangannya untuk membalas jabatan tangan itu.
Masih mengusap-usap kepala durennya, Naruto angkat bicara lagi. "Shion, apa masih ada kamar yang kosong di rumah kos ini? Mulai hari ini Sakura-chan akan menginap disini."
"Uhmm, aku lihat sebentar. Lebih baik kalian masuk dulu, kalau diluar malam-malam begini nanti Akatsuki akan mengincar kalian." Setelah itu Shion melangkahkan kakinya masuk ke rumah kos tua itu.
Shion gadis yang baru beranjak berumur 30 tahun. Gadis keturunan Inggris-Jepang ini memang kerap kali suka dipanggil 'tante' oleh Naruto, dia gadis manis yang memiliki bangunan tua ini. Sebenarnya bangunan ini punya kedua orang tuanya. Karena dia anak satu-satunya maka rumah ini jadi miliknya setelah kedua orang tuanya meninggal.
Selain itu Shion juga wanita karier. Dia tipe gadis yang suka melakukan tantangan dan selalu ingin mencoba hal yang baru. Dalam usianya yang terbilang dewasa dia masih belum menikah.
"A... Akatsuki?"
"Kamu tidak tahu Akatsuki? Akatsuki itu nama kelompok preman kelas kakap yang sering mengacau di Taman Konoha. Sebaiknya kamu tinggal di rumah kos ini dulu karena mereka suka mengacau malam hari. Akatsuki biasanya mengincar anak-anak dan wanita. Bisa-bisa kamu jadi sasarannya kalau tinggal sendirian di taman seperti tadi."
Sakura mengangguk pelan. "Arigatou Naruto, aku tidak tahu ada preman seperti mereka di taman ini. Apalagi aku sudah diizankan menginap disini, apa tidak merepotkan?"
Naruto nyengir lagi. "Tidak masalah Sakura-chan."
Mereka segera masuk ke rumah kos dan menutup pintu depan rumah itu. Setelah melihat-lihat ternyata bagian dalam rumah kos itu tidak seperti luarnya.
Dalam tempat kos ini ternyata sangat luas. Dari arah depan dapat dilihat dua tangga yang saling menghubung dan berhadapan yang menghubungkan lantai satu dan dua. Lampu hias besar tergantung di langit-langit tepat di tengahnnya. Perabotannya tertata rapi walau kelihatan sudah lama. Penerangannya tidak remang-remang seperti di luar.
Lantainya terbuat dari kayu yang berwarna kecoklatan tua. Ruang depannya dihiasi ornamen-ornamen kuno dan beberapa alat music jaman dulu. Bahkan ada air mancur kecil di dalam ruangan tepat di bawah lampu hias. Dan intinya rumah itu penuh dengan seni.
Sakura sempat kagum dengan rumah buatan yang di tata oleh manusia ini. Ternyata dalam dan luar itu memang selalu berbeda. Dan perbedaan itu selalu ada di mana-mana. Seperti halnya manusia.
"Bagian dalamnya beda dengan luarnya kan Sakura-chan?" Naruto tersenyum sambil memandangi sekitarnya.
"Aku tidak menyangka dalamnya sebagus ini." Sakura masih menatap sekeliling tak percaya.
Tak lama kemudian Shion datang dari arah samping mereka, sepertinya tadi Shion sempat ganti baju dulu, karena baju yang dipakainya tadi beda lagi sekarang. "Maaf Naruto-kun, tidak ada lagi kamar yang tersisa."
"Hah? Bagaimana dengan yang disebelah kamarku?"
"Kamar itu memang kosong, tapi sudah dipesan seseorang kemarin malam."
"Bagaimana ini Sakura-chan?" Naruto menoleh kearah Sakura.
"Kalau memang ingin menginap dia bisa tinggal di kamarmu kan Naruto-kun?" potong Shion sambil nyengir seolah-olah ingin mengerjai mereka.
"APAAAA?" mereka berdua berteriak bersamaan. Wajar kalau mereka kaget karena tidak mungkin mereka tidur sekamar. Lagipula Sakura tidak pernah berdekatan dengan lelaki mana pun selama ini.
"Sudah tidak ada kamar lagi. Kalau tidak mau ya sudah, Cari saja tempat kos lain." Shion kembali nyengir sambil melirik mereka berdua.
Naruto mengangkat alis bingung. Dia tidak habis pikir kenapa tante yang di depannya ini begitu anehnya.
"Ta... tapi... apa harus satu ranjang juga?" mendadak pertanyaan Sakura membuat Naruto blushing berat. Pikirannya mulai aneh-aneh. Otak lemot Naruto kali ini bekerja.
"Yah, mungkin saja." Shion masih tersenyum jahil. "Ku cek stok ranjang dulu, kalau tidak ada berarti—"
"Ah sudahlah, langsung cek saja!" Naruto langsung mendorong punggung Shion ke gudang. Namun sepertinya jawaban pertanyaan Sakura tadi adalah ya. Shion sudah kehabisan Stok ranjang dan terpaksa mereka tidur satu ranjang malam ini.
"Yang benar saja, masa tidak ada stok lagi?" Naruto masuk ke gudang untuk melihatnya sendiri. Memang kelihatannya Shion tidak bisa dipercaya tapi kali ini ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Gudang tersebut kosong. Walau begitu debunya tidak kosong.
"Fufufu, selamat ya." Shion melirik dua orang didepannya dengan seringai. "Tapi ingat! jangan melakukan hal yang tidak-ti—"
"Sudah ah, Shion!" pipi dengan goresan itu semakin merah. "Ohya, barang-barangmu mana Sakura-chan?" seru Naruto kepada Sakura yang sedari tadi menuntutinya.
"Ya ampun mana ada barang. Baju juga tak ada." gumam Sakura dalam hati.
"Sakura-chan?" Naruto mengibas-ibaskan tangannya didepan muka Sakura yang masih terbengong sesaat.
"Ah itu... barang-barangku terbawa saudariku, bagaimana ini?"
"Pinjam punya Naruto saja..." celetuk Shion.
"Are you kidding? Pinjam? Masa pinjam bajuku juga?"
"Just kidding, Hahaha... nanti kupinjamkan bajuku." Shion beranjak pergi menaiki tangga. Dia akan mengambil beberapa bajunya yang akan ia pinjamkan pada Sakura.
Sementara itu Naruto mengajak Sakura mengekorinya ke kamar. Dan lagi-lagi Sakura mau tak mau membuntutinya.
...
KRIEEETTT
Suara pintu kamar Naruto yang terbuka. Keduanya memasuki ruangan itu. Lalu Naruto pun menghidupkan lampu kamarnya. Sehingga seluruh ruangan tersinari oleh cahaya lampu atom dengan jelas.
Mata emerald Sakura terbelalak melihat kamar Naruto yang berantakan dan kotor bukan main itu. Sampah bekas makanan berserakan, baju-baju bertebaran di lantai dan tempat tidurnya yang cukup, seprei birunya benar-benar kusut. Bantal dan guling malah berada di meja belajar kecilnya.
Terlihat seperti kamar yang tidak dibereskan selama sebulan. Belum lagi dengan bau aneh yang menyerang penciuman Sakura. Sakura tidak bisa membayangkan ia akan tidur disana. Apalagi ia akan seranjang dengan pemuda ini.
"Na-ruto, ka-kamarmu ini..." mendadak ia tergagap seperti Hinata. Teman malaikat yang dicarinya itu.
"Hehe... gomen Sakura-chan, kamarnya 'agak' berantakan ya?"
"Apanya yang agak berantakan haah? Kamarmu seperti tidak pernah dibereskan selama sebulan!"
"Memang benar kok."
"HAAAHH? bagaimana mungkin kau merasa nyaman berada di kamar seperti ini? ckckck, kalau kau punya pacar aku tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakannya padamu."
"Tapi aku belum punya Sakura-chan."
"Yah, wajar saja. Gadis mana yang mau dengan orang sepertimu."
Naruto hanya melempar cengiran tanpa dosa. "Yah, suatu saat nanti kau akan jadi milikku Sakura-chan." Gumamnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Iiiih, senyum-senyum sendiri. Aku tidak mau tidur di kamar seperti ini, sekarang bantu aku membereskannya Naruto-kun!" seru Sakura.
"Kau ini seperti ibuku saja Sakura-chan! Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Aku tidur di sofa saja." Sakura akan berjalan meninggalkan kamar itu.
Merasa tidak tega Naruto menarik pergelangan tangannya. "Tunggu Sakura-chan, jangan ngambek dong! Kubereskan kamar ini, tapi bantu aku ya!" Naruto memasang kitty eyes.
Menghela napas pasrah Sakura berkata seraya tersenyum kearahnya. "Baiklah." Sebenarnya Sakura paling malas menarik senyumnya.
Senyum seorang malaikat sepertinya membuat balok es di hati Naruto seolah mencair, bukan bagi Naruto saja, mungkin berlaku pada semua Adam. "Haha.. ba-baiklah, a-ayo.." Naruto tergagap. Ia baru menyadari posisinya yang memegang pergelangan tangan Sakura, perlahan ia pun segera melepasnya.
.
.
.
BRUKKK
"Aku benar-benar capek Sakura-chaaann..." rasanya pinggang Naruto akan patah saat itu juga. Ia terbaring di atas ranjangnya yang baru dibereskan setelah dua jam beres-beres.
Padahal Sakura yang lebih banyak beres-beres. Tapi kelihatannya Naruto yang paling capek.
Lumayan lama untuk membereskan kamarnya yang hanya berukuran sedang ini. Apa lagi kalau ternyata kamarnya penuh dengan debu dan sampah. Kalau mau di bandingkan sekarang dengan dua jam yang lalu jauhnya beda sekali.
Soal baju kotor yang berserakkan tadi Sakura tidak mau membereskannya. Itu bagian Naruto. Dia hanya menyapu dan menyemprotkan pewangi ruangan di sana. Walau Sakura tidak terlalu pendai bersih-bersih tapi akhirnya ruangannya tertata rapi.
Mungkin dia akan mencoba membersihkan kamarnya sendiri jika sudah pulang kerumah nanti. Rasanya memang berbeda sekali jika membersihkan kamar dengan tangan sendiri.
Sakura tersenyum puas atas kerjanya, ternyata dia pandai juga walau masih ada bagian yang kotor, "Hihihi, salahmu sendiri tidak pernah membersihkan kamar." Senyuman Sakura seperti obat penyembuh rasa capeknya. "Boleh aku tidur duluan?"
"Tentu saja, aku juga ngantuk."
KRUYUUUKK
Bunyi perut Sakura terdengar keras yang saat itu sedang sepi-sepinya.
Naruto sempat terdiam sebentar, dia terkikik geli, ternyata perut orang lain bisa seperti perutnya juga, "Haha, kau lapar?"
Sakura hanya mengangguk sambil blushing. Dia lumayan malu dengan perbuatan yang tidak dilakukannya itu. Kenapa perutnya harus berdering disaat yang tidak pas. Yah, malaikat juga bisa lapar ternyata.
Naruto bengkit dari tidurnya, ia meraih tasnya yang tergeletak di atas meja belajar tepat di sampingnya. Dibukannya resleting tas itu, tangannya merogoh mengambil bungkusan mi ramen dari dalam tasnya—yang seingatnya dibelinya kemarin sewaktu dia ke supermarket,
"Ramen? Apa tidak ada makanan lain?"
Naruto hanya menggeleng. "Tidak ada yang lain Sakura-chan, habis ramen itu makanan favoritku!"
"Bisa-bisa kau jadi bodoh kalau makan ramen terus." Sepertinya tepat sasaran, perkataan Sakura sukses membuat pipi Naruto memerah. Shion juga sering memanggilnya baka atau bodoh setiap kali ia makan ramen. Tapi memang ada benarnya juga, banyak-banyak makan ramen akan bodoh!
"Sakura-chan, mau makan tidak? nanti kuhabiskan loo..."
Sakura jadi diam sebentar dan dia berpikir sesaat,"Ah iya." Terpaksa kali ini ia makan ramen. Makanan cepat saji seperti itu membuatnya malas makan tapi apa boleh buat, tidak ada makanan lain. Biasanya seorang malaikat sepertinya memakan buah dari pohon yang tumbuh di negri khayangan. Rasanya jelas beda dengan buah yang ada di bumi.
Dan untungnya Sakura adalah orang yang tidak banyak makan.
.
.
Setelah Sakura menyelesaikan makan malamnya, ia akan berniat untuk tidur. Tapi sebelum itu dia ke kamar kecil yang berada di dalam kamar Naruto itu sendiri.
Mata emeraldnya memandang sosok tubuhnya sendiri. ia sekarang sudah mengenakkan baju pinjaman dari nona Shion. Baju tidur biasa berwarna ungu yang Sakura kira sangat lucu.
Dia baru tahu kalau di sini ada pakaian seperti ini, bukan pakaian malaikat yang biasa ia kenakkan.
"Apa aku berdosa?" tanyanya pada pantulan bayangannya sendiri dalam kaca itu.
Ia merasa sangat berdosa sudah berani dekat-dekat dengan lawan jenis walaupun nyatanya itu manusia. Setahunya wanita dan pria itu tidak boleh berdekatan dan terus bersama apalagi dia seorang malaikat yang seharusnya tanpa dosa.
Sakura menyudahi lamunannya dengan mencuci mukanya sekali, lalu ia berjalan kearah keluar dan memandang pemuda blondie yang masih menyantap ramennya.
Menghela napas pasrah akhirnya Sakura sudah memutuskan ia akan tidur. Sakura mengambil satu bantal yang menganggur di ranjang. Satu bantal sudah cukup untuknya. Kemudian gadis ini merebahkan bantal dan badannya. Mata emeraldnya terpejam seketika. Tidak butuh waktu lama karena ia capek ia sudah terlelap tidur dan mulai memasukki alam mimpinya.
.
.
.
Sinar matahari yang berkilauan menembus masuk melalui jendela. Bisa didengar kicauan burung gereja yang selalu hadir di setiap pagi.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Suara langkah kaki Shion terdengar dari luar kamar Naruto dan bunyinya semakin mendekat. Shion membuka pintu dan melangkah memasuki kamar untuk membangunkan Naruto yang biasa telat bangun itu.
"Naruto-kun, cepat ba.." Shion mendadak menghentikan kalimatnya. Mulutnya menganga lebar melihat sesuatu yang sedang terjadi di kamar Naruto. Tiba-tiba ia tersenyum jahil sambil berlari-lari ke ruang depan melewati koridor.
Beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa kamera. "Say cheese!"
JEPRETTT
Shion bergegas keluar kamar sambil tersenyum sendiri. "Fufu saatnya bergosip!"
Sakura's POV
Aku terbangun dari alam mimpiku. Kubuka perlahan kelopak mataku menampakkan bola mata emeraldku. Sebetulnya aku masih ngantuk tapi aku tidak boleh tidur lama-lama. Aku ingin bangkit dari tempat tidur namun tubuhku terasa berat. Seperti ada seseorang yang memelukku dari belakang.
"Na... Naruto ugh..." Ternyata pemuda pirang itu memelukku dari belakang. Aku tidak menyangka dia berani melakukan macam-macam padahal aku yakin dia bukan orang seperti itu. Namun rasanya pelukannya begitu hangat dan tiba-tiba jantungku berdebar-debar entah kenapa.
Baru kusadari posisi kami sekarang. Pemuda itu bukan hanya memelukku dari belakang tapi tangannya menyentuh dadaku dan mencengkramnya erat.
KYAAAAAAA~ AKU BARU SADAR! OH DADA KU!
Refleks kubungkam mulutku dengan kedua tanganku. Tanpa sadar aku telah berteriak dan membangunkan Naruto serta beberapa orang di kamar sebelah.
End of Sakura's POV
Naruto's POV
Kudengar suara teriakan dari seseorang yang tidur disebelahku. Aku terbangun dan mendapati posisi kami berdua. Kami-sama, apa yang kulakukan semalam? Aku sama sekali tidak menyadari menyentuhnya semalam. Apalagi terasa ada sesuatu yang lembut sedang kugenggam. Kuremas perlahan dan akhirnya aku sadar benda apa itu.
"Narutoooo lepaskan akuuuu..." gadis yang tidur disampingku berteriak.
"Go... gomen Sakura-chan, a... aku tidak sengaja, sungguh!" Aku segera melepas pelukanku dengan muka memerah.
"Na..ruto hiks hiks... apa yang kau lakukan semalam hiks..."
Sial, aku sudah membuatnya menangis! Aku tahu aku salah sudah mengajaknya tidur satu ranjang tapi aku tidak menyangka aku akan melakukan hal yang tidak-tidak. Apalagi aku sudah menyentuh dada Sakura-chan, dia pasti membenciku.
"Berhenti menangis Sakura-chan, maaf aku tadi tidak sengaja." Kuhapus airmatanya perlahan.
Ia berhenti menangis dan mulai berani menatapku. "Tidak apa-apa Naruto-kun, aku tahu kau tidak sengaja."
Kubelai rambut pinknya, wajar kalau ia tampak terkejut. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku.
BRAKKKK
"Naruto-kun... hah?"
"Shion?" Tante blondie itu melihat kami berdua yang sedang berdekatan di ranjang. Sesaat ia tersenyum.
"CIEEEEE... pagi-pagi sudah berduaan. Kalian jadian semalam ya?"
"HAAAAHH?" Apa-apan dia? jangan-jangan dia melihat posisi kami tadi.
Penghuni kamar sebelah mendengar sorakan Shion yang lebay. Seorang pemuda berambot cokelat dengan tatto taring warna merah di pipinya mengintip dari balik pintu. Namanya Kiba, teman kuliahku yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku.
"Heyhey, ternyata kau punya pacar juga Naruto. Kenalkan padaku dong!" Ia langsung masuk ke kamarku begitu saja.
"Ki... Kiba, bu... bukan, dia..."
"Aku punya fotonya, tadi kulihat mereka saat tidur berduaan!" tante Shion menunjukkan kamera kecilnya dengan wajah riang.
"HEEIII TANTE SHIOOONN, TUNGGU DULU!" Acara kejar-kejaran gaje terjadi. Shion dan Kiba berlari ke ruang tengah. Aku mengikuti mereka sambil meningalkan Sakura-chan yang swetdrop ditempat melihat acara gaje tersebut.
End of Naruto's POV
Normal POV
Naruto yang kelelahan setelah kejar-kejaran dengan Shion terbaring di kasur. Sementara itu dua orang yang dikejarnya senyum-senyum sendiri melihat hasil potretan Shion. Sesekali terdengar sorakan dari mereka berdua namun tidak dipedulikan oleh Naruto.
"Dasaarr! mereka itu memang suka iseng Sakura-chan!"
"Hahaha biarkan saja, tidak apa-apa kok." Sakura terkikik geli. Mendadak ia teringat, ia harus segera mencari kedua temannya itu. "Err Naruto-kun."
"Ya."
"Aku harus mencari saudariku, boleh tidak?"
Naruto mengangguk. "Boleh aku ikut denganmu Sakura-chan?"
"Tidak usah, aku sudah banyak merepotkanmu."
"Aku hanya ingin menemanimu, tidak apa-apa kan?"
"Yasudah, tapi aku buru-buru. Lagipula aku bukan siapa-siapa, tidak usah repot-repot."
"Aku tetap ingin membantumu." Ujarnya mantap.
"Terimakasih." Naruto nyengir kemudian mengajak Sakura ke taman tempat mereka bertemu kemarin.
.
.
.
Setelah 2 jam mereka berkeliling, mereka masih belum menemukan Ino dan Hinata. Mereka berdua terduduk di bangku taman karena lelah.
"Apa mereka sudah kembali ke Kumo?" tanya Sakura dalam hati. Tersirat dalam wajahnya adalah kekecewaan.
"Sakura-chan, kita belum sarapan kan? Kau tidak lapar?" Naruto bertanya yang duduk di samping Sakura.
"Tidak masalah belum sarapan, aku harus menemukan mereka secepatnya."
"Aku juga haus Sakura-chan, ayolah istirahat sebentar."
"Makanya aku tidak ingin mengajakmu, kau sendiri jadi repot."
Naruto tersenyum. "Kita ini teman Sakura-chan, aku harus menolongmu."
Sakura membalas senyumannya. "Aku juga haus. Tidak ada salahnya istirahat sebentar."
Mereka masih berdua duduk di bangku taman menikmati angin sepoi-sepoi. Angin musim semi sekarang terasa panas membelai kulit mereka.
Seorang tukang es krim lewat di depan mereka. Tukang es krim itu bisa dibilang aneh, memakai topeng lolipop dan tampak seperti anak-anak, serta mengenakkan jubah hitam kebesaran yang mungkin dipinjamnya dari orang lain.
"Haaaaiiii, mau beli es krim?" Sapa si tukang es krim sambil melambai-lambaikan tangannya persis seperti anak autis dengan lincah.
"Es krim? Sakura-chan mau?"
Sakura terbengong sesaat. Maklum, ia seorang malaikat yang belum pernah melihat es krim apalagi memakannya. "Mungkin saja enak." Pikirnya.
"Sakura-chan?" Naruto menyadarkannya.
"Eh i... iya, aku mau."
"Kalian mau rasa apa?" si tukang es krim membuka box es krimnya.
"Hm, aku rasa pisang. Sakura-chan mau rasa apa?"
"Pilihkan saja yang enak untukku."
Naruto memandang rambut pinky Sakura. "Rasa stroberi saja, persis warna rambutmu hehehe..."
"Karena Tobi anak baik jadi Tobi beri setengah harga, silakan menikmati!" Tukang es krim yang sepertinya bernama Tobi itu menyodorkan 2 tangkai es krim pisang dan stroberi dengan wafel berwarna coklat, manis sekali.
"Terimakasih, paman memang baik. Kalau harganya murah begini mungkin sebaiknya aku membelikan Shion dan Kiba juga." Pikir Naruto.
"Horeee Tobi anak baik, Tobi anak baik!" si tukang es krim melompat-lompat girang kemudian meninggalkan mereka. Naruto dan Sakura sweetdrop sampai mereka kira tukang es yang satu ini benar-benar autis.
Keduanya masih duduk di bangku taman sambil menikmati es krimnya. Naruto sesekali tertawa melihat wajah Sakura yang belepotan penuh es krim. Gadis ini sudah besar namun cara makannya menggemaskan sekali.
Sebuah saputangan terulur pada Sakura.
"Ini, bersihkan wajahmu. Hahaha... mulutmu penuh es krim tuh!"
"Hehehe... es krimnya enak sekali." Sakura mengelap mulutnya.
Mereka berdua saling tertawa. "Kau memang manis kalau tertawa Sakura-chan."
Dapat dilihat rona merah muncul di kedua pipi Sakura, "A... apa maksudmu?" bagus! Dalam keadaan seperti ini dia menjadi gagap ala Hinata, ah, Hinata kalian dimana?
"Be-benar kok Sakura-chan, kau itu manis sekali." Kali ini Naruto mulai salah tingkah.
"Begitu? Sebenarnya sejak kecil orang-orang bilang aku ini aneh. Kata mereka aku ini setan jidat lebar. Mereka juga tidak suka rambutku."
"Jangan pedulikan orang yang iri padamu Sakura-chan. Kau itu lebih cantik dari bunga Sakura yang mekar." Ujar Naruto. Walau terkesan gombal namun ia berkata jujur tentang gadis yang ada didepannya ini. Sebenarnya Naruto juga tidak tahu arti dari ucapannya. Wah, dari mana Naruto dapat kata-kata itu, butuh bertahun-tahun ia mengucapkannya mungkin.
Sakura tersenyum tipis. "Kau orang pertama yang bilang begitu Naruto."
"Begitu..." Naruto menggaruk-garuk kepalanya.
Tanpa mereka sadari ada dua orang yang memperhatikan mereka dari tadi. Dua orang itu mengintip dibalik semak-semak.
"Kau lihat gadis cantik berambut pink itu?" Sahut seseorang yang pertama.
"Ya, sebaiknya kita beritahu bos." Sahut orang yang kedua.
"Bos pasti senang kalau kita membawanya ke markas!" mereka berdua saling berpandangan kemudian berlari menemui bos mereka yang tidak jauh dari sana.
"Booosss, ada target baru!"
"Benarkah? Khukhukhu..." bos mereka tersenyum licik. "Kita tunggu malam hari, kemudian kita tangkap."
.
.
.
"Sakura-chaaaann... kita pulang saja, sudah mulai gelap! Tadi pagi kita sudah mencari selama dua jam kan, masa kita harus mencari sampai malam?" Naruto bangkit dari posisi duduknya.
"Pokoknya aku harus menemukan mereka!" Sakura masih duduk dan bersikeras untuk tinggal di sana.
"Sudahlah Sakura-chan, kau tidak lelah? Keringatmu sampai bercucuran. Ayolah, pulang saja dulu."
"Haah... baiklah, tapi besok kita cari la..." Sakura akan berdiri dari duduknya, namun tiba-tiba matanya meredup, badannya melemas dan merosot ke bawah.
BRUUKKK
"Sakura-chan?" untung saja Naruto refleks memapah tubuh Sakura yang belum mencium tanah itu. Kemudian gadis itu di naikkan dan ditidurkan di atas bangku taman.
Mungkin Sakura pingsan karena kelelahan. Naruto menempelkan tangannya di dahi Sakura dan ternyata suhu tubuhnya tinggi. "Bagaimana ini? Aku harus cepat membawanya ke rumah kos!" Naruto menjadi panik. Ia lumayan mikir lama untuk melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan Sakura. Kalau dia tahu sih sudah syukur. Sayangnya otak lemot Naruto-kun masih dalam loading.
Akhirnya Naruto menggendongnya ala bridal style sambil beranjak pergi meninggalkan taman. Agak kesusahan Naruto mengangkat badannya, karena Sakura lumayan berat, belum lagi sekarang dia juga kelelahan dan butuh istirahat.
Sementara ketiga orang misterius tadi masih mengintai mereka dari balik semak-semak.
"Ikuti mereka!" Seru bos pada kedua orang itu.
.
.
.
Sakura's POV
Entah mengapa seluruh badanku menjadi kaku dan sulit digerakkan. Kepalaku begitu sakit dan berat. Rasanya sekarang aku sulit bernapas. Kubuka mataku perlahan. Cahaya lampu kamar membuat mataku menyipit silau. Pandanganku sedikit kabur sebentar, kemudian tampak sosok pemuda jabrik berambut blondie di hadapanku. "Di mana aku sekarang?"
"Sakura-chan? Syukurlah kau sudah sadar! Tenanglah, aku membawamu ke rumah kos."
"Na...ru..to..." kata-kataku terpotong saat Naruto tiba-tiba memelukku, tubuhku menegang karena terkejut. Karena marah. Itulah yan ingin aku percayai. Otot-otot Naruto seolah mendekap tubuhku penuh dengan kehangatan.
"Aku benar-benar cemas Sakura-chan, sudah enam jam kau pingsan."
"Enam jam?" kulirik jam dinding di kamar Naruto. Sekarang pukul dua belas malam. "Terimakasih sudah menjagaku. Maaf, aku sudah banyak merepotkanmu." Ujarku terharu.
Pemuda ini betul-betul baik. Padahal aku baru mengenalnya kemarin tapi dia sudah banyak membantuku. Aku juga sudah merepotkannya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya aku berterimakasih padanya.
Kemudian ia melepas pelukkannya. Aku menarik badanku kembali yang agak condong tadi.
"Sama-sama, kalau untuk orang yang kucintai tidak masalah. Ups..." Ia langsung menutup mulutnya.
Deg
Tiba-tiba jantungku berdetak saat aku mendengar kata-kata yang melesat cepat dari mulut pria blonde ini. Ia tersenyum canggung di depanku, apa mungkin dia menjadi malu? Dan sepertinya dia menjadi salah tingkah.
Deg
Kami-sama… ada apa denganku? Kenapa jantungku semakin tak karuan saat aku melihat senyum lucunya itu, perlahan dia menatap mataku tajam, membuatku semakin tertarik dalam dunianya, Kami… shappire itu benar-benar mengikatku, tubuhku seolah tak terkendali saat dia terus menatap mataku, perlahan tapi pasti, dia mulai mendekatkan wajahnya padaku, sejenak aku terdiam tanpa sadar mataku tertutup seolah menanti hujan kenikmatan yang akan tertuju deras kepadaku.
"Sakura…" desahnya dengan deruan napas hangat.
Kami… nafasnya begitu dekat dengan ku, aku bisa mencium aroma segar dari bibirnya yang sebentar lagi akan mendarat dibibirku.
Deg
Bibirnya menempel tepat dibibirku, lembut dan hangat, sungguh… aku benar-benar terbuai dalam biusan sang matahari yang masuk dari jendela melalui celah ventilasi kamar ini. Bibir yang saling menempel itu kini saling bertautan, tanpa perintah dari sang pemilik tangan yang kekar itu mulai menyentuh leherku, seolah tahu ada tombol bahaya yang apabila ditekan akan refleks membuatku terdiam lebih dari ini, benar sekali…
Efek rangsangan itu menjalar cepat ke otakku, membuatku lebih terbuai lagi. Pelan tapi pasti, Naruto memasukkan lidahnya kedalam mulutku, terus hingga lidahnya menyentuh langit-langit mulutku, sedetik kemudian dia melepaskannya, hanya untuk menarik oksigen demi paru-paru kami.
Laki-laki blonde itu melanjutkan kegiatannya, tangan nya merapat seolah akan mencengkram kuat dileherku, kemudian dia jalankan bibirnya kearah lapang dileherku, tak ku pungkiri, kenikmatan akan candu nafsu itu mulai menggerogoti pikiranku, meracuni aliran darahku, hingga membuat pori-poriku terbuka lebar untuk mengeluarkan uap air dari mendidihnya darahku.
"Naruto." Aku menyerukan namanya tanpa sadar.
Pria blonde itu menjilat pelan dileherku, mengecup tombol rangsangan kuat yang berada tepat di urat nadi jantung leherku, posisi ini membuatku ingin hal yang lebih dari sekedar ciuman, kecupan, dan sentuhan. Aku merindukan sentuhan nikmat yang lebih dari ini, sentuhan yang membuatku lebih mendidih lagi. Tapi sayang kehangatan itu harus habis saat dia menghentikan semuanya, aku membuka mata, penuh keingintahuanku tentang apa yang terjadi sekarang? Kenapa pria blonde itu berhenti ditengah-tengah seperti ini?
Saat aku membuka mata, ku tangkap lagi tatapan lembut dari mata shappire-nya, tak khayal tatapan itu menjadi serius, lalu menghembuskan rona merah dipipiku. Dia tersenyum padaku.
"I Love You Saku-chan." Pria blonde itu mengatakan suatu kata sambil berbisik, tapi terdengar jelas di telingaku. Kami-sama… jantungku seolah tak berdetak lagi. Dan sekarang tubuhku masih panas. Ada apa ini?
Aku menunduk malu dan menyembunyikan rona merah, tidak ku pungkiri aku mau dan aku ingin melanjutkannya, dan aku butuh. Baru kali ini ku rasakan perasaan seperti itu. Kenapa? Kenapa begini?
Dan keheningan datang menyelimuti kami.
.
.
TBC
.
.
.
Fidy: Hehhehe, gaje, aduh hampir tuh kebablasan, aduh pikiran gue kemana nih XD. Maunya sih ku bablasi langsung tancep. Gara-gara lagi gak enak badan sampai sini aja ya. heheh
Tema: Kekekek, stress gua gara-gara nih cerita.
Fidy: Sama #tosss# buat chap depan ternyata masih flashback. Shika sudah muncul duluan di chap depan. Trus Sasu, Jira n Tsuna bakal muncul sekitar 2 chap lagi.
Saku: Gila! Gua kok terkesan jadi wanita gampangan?
Naru: Gapapa ya Saku sama aku juga.
Saku: Oh tidak =,=
Shion: Apaan sich, masa gua dipanggil tante?
Tema: Hahaha, gomenn... idenya dadakan sih. Naru n Shion OOC banget gak tuh? lemonnya juga mungkin kurang seru.
Fidy: kekekke, ya udahlah yang penting rifyu deh. Udah dibaca juga seneng banget. Apa lagi dirifyu. Lagi gak mood bikin lemon =,= ntar jadinya bikin ngakak aja lemonnya. *unyu
Tema: Yep, mohon rifyuuu~ yang panjang ya ^^vv
Readers: Gak mau!
Tema n Fidy: *Kitty eyes* #readers muntah# please rifyu!
