i (b).
Sisi lain namun tak jauh berbeda, atmosfer ditemani orkestra musik haluan membuat Jaehyun terpana.
Raut pemuda temurun Tiongkok itu terlihat sangat― benar-benar, sungguh bahagia. Kesannya berlebihan, mungkin.
Namun memang, Jaehyun saja terpana melihatnya.
Meski kenyataan yang menampar adalah, Jaehyun bukanlah faktor utama senyum Sicheng tercipta.
"Terima kasih telah mengajarkanku bahasa Korea!"
Tanpa sadar kepala Sicheng mengangguk otomatis tanpa makna, namun terlihat lucu bagi Jaehyun, sehingga pemuda jangkung itu mengusak surai yang satunya pelan.
Baru saja Jaehyun ingin menjawab, Sicheng melanjutkan terlebih dahulu.
"Akhirnya aku bisa mengatakan bahwa aku menyukai Yuta!"
Ah, tentu saja, sama-sama.
Lidah Jaehyun bersifat egois, kini benda lunak itu terasa kelu dan tidak mengeluarkan kata apapun, melainkan hanya mengangguk kecil dan tersenyum mengerti.
Sampai akhirnya Jaehyun bisa kembali berucap.
(Tak lupa rasa sakit dan rasa emergensi agar cepat kabur dari situasi ini)
"Selamat untukmu," katanya, dalam hati terjebak pilu, "aku ikut senang mendengarnya,"
Pelukan Sicheng mengakhiri konversasi antara dua pemuda itu di ruang kelas kosong yang bisu.
