Title : Look At Me!
Main Cast :- Cho Kyuhyun (pastinya)
Kim Heechul
Summary : orang dewasa itu merepotkan/"kenapa kita tidak punya banyak kesempatan?"/keluarga yang dingin itu adalah keluargaku/"Kyuhyunnie, maafkan appa dan eomma, ne?"/Heechul-Kyuhyun/family
Desclaimer : Mereka semua pastinya adalah ciptaan Allah SWT,milik orang tua mereka, dan diri mereka sendiri, diasuh di bawah naungan SM. (sebenernya saya pengen ngaku jadi calon istrinya Kyuhyun, tapi saya kasian sama SparKyu yang lain, kekekeke)
Genre : drama/family
Rated : T
Warning : ini adalah ff bikinan saya yang masih amatir, jadi harap maklum kalo banyaaaaak banget typo-nya dan banyak kekurangan-kekurangan lainnya.
Happy Reading!
Chapter 1
Kyuhyun POV;
Kriiiiinngggg!
Aish, jam weker sialan, mengganggu orang sedang nikmat tidur saja. Kubanting jam malang itu entah kemana, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya, kulanjutkan tidur damaiku yang sempat rusak. Tiba-tiba…
"KIM KYUHYUUUN!"
Ngiiiing, telingaku berdenging mendengar panggilan yang merusak pendengaran itu. Aish aku rasa setelah ini aku harus ke dokter THT.
"KIM KYUHYUN!"
Lagi-lagi suara laknat itu terdengar lagi. Maafkan aku eomma, tapi suaramu itu benar-beanr mengerikan.
"NDEEE!" kujawab dengan sedikit (?) emosi.
"CEPAT MANDII!" lagi-lagi eomma berteriak. "JANGAN MALAS!"
"EOMMA, JANGAN BERTERIAK, NANTI TETANGGA PADA DATANG!" Kim Heechul, hyungku, menyaingi. Hyung tidak sadarkah kalau kau juga bisa membuat para tetangga datang dengan suaramu yang sama menggelegarnya dengan eomma?
"Aish, Kim Heechul, diam saja kau." Samar-samar kudengar suara eomma menyahut.
Mereka benar-benar anak dan ibu yang aneh, benar kan?
Aku turun ke lantai bawah dimana kedua orang tuaku pasti sudah menungguku. Dengan semangat kelalui setiap anak tangga dengan hati riang, tahu kenapa? Karena hari ini hari ulang tahunku. Aku tidak banyak berharap dari mereka berbagai kado siih, karena mereka pun menurutku tidak akan tahu apa yang kuinginkan, apalagi eooma yang notabene-nya pelit, mana mungkin akan mengeluarkan uang untuk sekedar memberiku hadiah. Dan appa yang tidak punya selera barang-barang bagus mana mungkin mau bersusah payah mencarikan barang bagus untukku, sekalipun ia sebenarnya bisa menyuruh oran lain. Dan hyung-ku, tidak ada harapan bahkan untuk sebuah kado murahan sekalipun, pada intinya mereka semua memang pelit dan suka perhitungan, aish sial benar nasibku. Tapi setidaknya bisakah mereka mengingat hari ulang tahunku dan mengucapkan selamat ulang tahun yang gratis itu?
Haah, lupakan saja.
"Kyuhyunnie, cepat makan sarapanmu dan berangkat sekolah." Kata eomma sambil memberikan dua lembar roti dengan selai kacang untukku. Aish apa eomma tidak tahu aku tidak suka selai kacang? Bahkan kita sudah bersama-sama selama 17 tahun eomma. Akhirnya kusingkirkan roti itu dan hanya meminum susuku.
"Kyuhyunnie, kenapa rotinya tidak dimakan? Kau harus sarapan agar nanti… bla..bla..bla.." tidak kudengarkan rutinitas eomma setiap pagi itu, mengoceh.
"Eomma, aku tidak suka se-"
"Kyuhyun-ah, tidak usah membantah, makan saja apa yang ada di depanmu. Tidak baik memilih-milih makanan. Kau ini tidak bisa jadi anak yang penurut ya? Memangnya kau pikir gampang mencari uang untuk sekedar makan? Kau ini belum bekerja tapi sudah banyak tuntutan, kalau mau makan yang sesuai seleramu, carilah sendiri."
Aku speechless. Apa-apaan appa, kenapa jadi ikut-ikutan mengoceh seperti eomma? Apa appa beubah gender menjadi perempuan? Bahkan aku tidak dizinkan untuk sekedar menyelesaikan kalimatku.
Kulirik Heechul hyung yang masih dengan damainya makan. Seolah tak ada yang terjadi di sekitarnya.
"Apa lihat-lihat?" Heechul hyung menatapku sadis. Aish, apa dia tidak punya tatapan selain sadis dan dingin? Apa ia tidak punya simpanan senyum sedikit saja, dan mau membaginya denganku? Ah, dia punya, tapi senyum licik dan jahat.
"Heechul-ah, nanti kau berangkatlah dengan adikmu, appa buru-buru."
Heechul hyung melenguh keras. "Appa, ini tidak adil. Aku tidak mau capek-capek ke sekolahnya, sekolahnya kan jauh dari sekolahku."
"Kau lupa ya, hyung? kita kan satu sekolah." Kataku menatapnya bingung.
Seketika Heechul hyung langsung melayangkan evil glare-nya. Hyung, aku rasa kau tidak perlu melakukan ini padaku, apalagi di waktu dan kondisi yang tidak tepat seperti ini.
"Itu benar, kau pikir bisa membohongi kami? Heechul-ah, kau ini hyung-nya, seharusnya kau menjaga dan melindunginya…bla…bla..bla.." benar kan kataku, hyung. eomma mengoceh lagi. Aku rasa aku tidak akan punya waktu dan kesempatan bahkan hanya untuk mengingatkan mereka tentang apa yang spesial dari hari ini.
Ini benar-benar akan berlangsung lama. Heechul hyung dan aku sudah melorot dari kursi kami, eomma sudah mengoceh hampir lima belas menit, tapi belum ada tanda-tanda ia akan mengakhiri pidatonya.
"Eomma kita akan ter-"
"Kyuhyun-ah, jangan menyela ketika orang tua sedang menasehati kalian. Kau ini mulai nakal ya? Siapa yang mengajarimu jadi anak pembantah seperti itu...bla…bla…bla" aku langsung menyesali ucapanku. Bukannya membuat eomma berhenti malah semakin memperpanjang ceramahnya. Aish aku bisa gila, ini benar-beanr sudah siang dan aku bisa terlambat.
"Ya ampun, ini sudah siang. Cepat berangkat, kalian ini tidak tahu waktu sekali sih? Kalau begini kan eomma juga akan terlambat."
Aku tidak mau komentar soal apa yang dikatakan eomma. Lebih baik aku merayu Heechul hyung agar mau menampungku di motornya yang hanya bisa di isi satu bokong saja. Aish, lalu dimana aku akan menumpang?
"Heechul hyung, aku ikut yah," kataku sambil memasang wajah paling manis yang aku punya walaupun aku tidak yakin itu akan mempan untuk Heechul hyung yang sadis.
"Kau mau duduk dimana? Di roda?" Heechul hyung langsung melesatkan motornya begitu menyelesaikan kalimatnya.
Astaga, aku berani taruhan pagi ini aku akan berolahraga mengelilingi lapangan. Mana mungkin aku akan sampai disana dalam waktu lima menit? Lima belas menit saja aku tidak yakin.
Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku menuju halte. Lain kali aku berjanji tidak akan sarapan kalau ada eomma dan appa.
Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya bus yang akan membawaku ke sekolah datang. Kuharap bus ini punya semacam jet pada mesinnya agar aku tidak perlu berlari-lari keliling lapangan.
Harapanku tentu saja tidak terkabul karena sekarang aku harus berhadapan dengan guru killer nan kejam yang sedang menatapku dengan tatapan sadis seperti yang selalu dilakukan keluargaku, aish hidupku dikelilingi orang-orang yang suka melotot.
"Lari keliling lapangan tujuh kali." Katanya dingin sambil tidak mau melepaskan pandangannya dariku.
Buru-buru segera kulakukan apa yang dikatakannya sebelum dia berubah jadi Hulk dan menelanku hidup-hidup,. Apa Hulk makan manusia?
Aish, anak berprestasi sepertiku tidak seharusnya melakukan ini. Hanya orang-orang bodoh dan malas saja yang seharusnya melakukannya. Ada sekitar tujuh atau delapan orang yang bernasib sama sepertiku. Kenapa aku harus terjebak dengan orang-orang tolol dan malas itu sih?
Lima putaran cukup membuat nafasku tersengal-sengal. Ini tidak baik, aku harus memperlambat lariku, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Aku tidak mau penyakit kutukan itu muncul disaat yang tidak tepat seperti sekarang, atau ia harusnya tidak pernah muncul selamanya saja.
"Gwaenchana?"
Kualihkan pandanganku ke arah suara yang mengintruspi kegiatanku memegang lutut. Seorang anak bertubuh tinggi kerempeng tengah menatapku sambil nyengir tolol. Apa yang ada di pikirannya sekarang? Aku ingin tahu.
"Gwaenchanayo." Kataku berusaha sesopan mungkin. Bagaimanapun aku tidak boleh mencela orang yang baru kukenal.
"Kim Kyuhyun, kan?"
Astaga lihat, aku begitu terkenal. Aku tersenyum bangga sambil terus berusaha menormalkan nafasku.
"Ne, kau anak kelas berapa?" aku mulai bisa menormalkan nafasku walau masih tidak bagus.
"Ya ampun, kelas kita kan sebelahan, masa kau tidak tahu aku?" katanya sambil menunjuk wajahnya dan memasang tampang melas.
"Memangnya kau siapa? Murid populer?" tanyaku sarkatis.
"Aku Shim Changmin, nurid kelas 2B." jawabnya tanpa terganggu dengan ucapanku.
"Hey kalian kenapa malah mengobrol? Cepat lanjutkan!" Shindong songsangnim tiba-tiba sudah berdiri di bekalang kami sambil menatap kami horror.
Tanpa mau ambil resiko lebih besar kemi segera lari meninggakannya yang mungkin kini tengah bertransformasi siap menjadi Hulk.
"JANGAN LARI SEPERTI PEREMPUAN! AYO LARI LEBIH KENCANG LAGI!" teriaknya menggunakan toa yang entah didapatnya darimana.
Bersabarlah Kim Kyuhyun, tinggal satu putaran lagi. Aku terus meyakinkan diriku, nafasku kembali sesak dan parahnya sekarang kepalaku juga berdenyut.
Setelah menyelesaikan hukuman terkutuk itu, aku segera menyingkir ke pinggir lapangan, meminum air sebanyak yang aku mampu lalu mengelap keringatku yang sudah mencapai dagu. Aku tidak bisa ke kelas dengan keadaan seperti ini, bisa-bisa aku diasingkan di UKS mengerikan itu.
Shim Changmin kembali muncul dan memamerkan lagi cengiran konyolnya. Apa lagi maunya kali ini?
"Aku minta minumnya ya?"
Nyaris saja aku memuncratkan air ke wajahnya." Tidak boleh." Aku mengamankan botol minumku ke dalam pelukanku. "Ini hanya untukku saja, kenapa tidak beli sendiri saja sana!" kataku sambil melakukan gerakan tangan mengusir.
Changmin memasang wajah kecewanya.
"Mau temani aku beli minum? Aku haus sekali." Lalu wajah memelas.
Astaga sial benar aku hari ini. Akhirnya dengan setengah hati kuberikan botol minumku yang tinggal setengah padanya. Lalu secepat mungkin menyingkir dari hadapannya, dari pada nanti dia bertingkah lebih parah dari ini.
Teeett Teettt!
Pelajaran hari ini berjalan mulus seperti biasa. Bagiku tidak ada pelajaran yang menyulitkan atau mematikan seperti racun matematika misalnya. Kukemasi barang-barang ku dan tidak lupa PSP kesayanganku juga kumasukkan.
Ketika benda persegi itu nyaris sempurna masuk ke dalam tasku sebuah suara mengintrupsiku.
"Kim Kyuhyun bisa ikut aku ke kantor?" Kim Jong Woon, wali kelasku tiba-tiba menepuk bahuku.
Aku sempat melonjak kaget. Apa ia tahu aku bawa PSP ke sekolah dan berniat merampas kekasihku ini? Ya ampun, aku akan mengulanginya lagi, aku benar-benar sial! Lebih baik aku segera kabur saja. Bisa-bisa telingaku kelebihan muatan mendengar giliran songsaeng itu ceramah.
" Ikut aku Kim Kyuhyun." Ulangnya membuat jantungku nyaris loncat saking kagetnya.
"Nde." Akhirnya aku pasrah. Kalau saja ini menjadi hari terakhirku bertemu kekasihku, aku akan minta pesta perpisahan pada songsaengnim.
Aku menyeret langkahku mengikuti Jong woon songsaengniim menuju tempat eksekusi itu—bagiku.
Kini songsaengnim siap melahapku dengan kalimat finalnya dengan memisahkanku dari PSP ku. Kepalaku semakin berdenyut dan peluhku sudah menetes sejak tadi, ini benar-benar saat-saat paling menegangkan dalam hidupku. Bukan hanya akan kehilangan benda itu, tapi juga semua gelar master yang sudah kuusahakan mati-matian selama ini akan hancur juga. Eomma sudah pasti tidak akan mau membelikanku PSP baru, aku tahu itu. Dan itu artinya program berhemat yang menyiksa akan segera kujalani.
"Kim Kyuhyun, ini soal kau dan…" seperti slow motion kata-kata yang akan diucapkan songsaengnim benar-benar sangat lambat dan menegangkan. PSP, PSP, PSP. Sambungku dalam hati.
"…ini soal kau dan penampilanmu minggu depan di acara festival sekolah."
Kalimat songsaengnim seperti air yang langsung memadamkan api yang hampir membakar habis hatiku, segar, lega sekali. Baiklah aku rasa aku memang berlebihan sebelumnya.
"Dan orangtuamu harus hadir, Kyuhyun-ssi. Ini tiketnya. Aku berikan secara gratis, siapa tahu mereka tidak mampu membayar." Songsaengnim sudah memberikan final-nya lalu meninggalkanku di ruangan sepi itu.
Apa yang kudengar barusan bukanlah hal yang saat ini ingin kudengar. Kemarau kembali menghampiri hatiku setelah sebelumnya songsaengnim membuatnya menjadi musim semi.
Kupandangi tiket di depanku nanar. Aku ingat sebelumnya beralasan soal ketidak hadiran kedua orangtuaku. Mereka bukan tidak punya uang, songsaengnim. Mereka tidak punya waktu.
Sudah pernah kukatakan kalau mereka sibuk dan tidak bisa datang, tapi kurasa alasan itu hanya berlaku sekali itu hangus.
Otakku benar-benar buntu sekarang. Aku tidak tahu begaimana membuat orangtuaku datang ke acara yang bagi mereka sama sekali tidak penting untuk sekedar menonton kegiatan tidak penting seperti menyanyi misalnya. Aku lelah, simpulannya, hari ini adalah hari yang sangat buruk, sangat-sangat buruk.
Author pov;
"Heechul-ah, chukkae, kau menang!" Minho menepuk Heechul sambil tersenyum cerah. Heechul hanya membalasnya dengan senyum kecut.
"Hei ayolah, kau harus senang. Ini lomba judo tingkat nasional dan kau juara satunya. Kalau aku tidak memaksamu pasti kau tidak akan semembanggakan ini." Minho terus tersenyum senang. Ia tidak sensitive terhadap perasaan orang lain.
"Gwaenchana?" kali ini Enhyuk, teman minho, yang bertanya.
"Gwaenchana." Heechul mendorong Enhyuk agar menjauh darinya.
Tidak ada yang tahu kegusaran hati Heechul saat ini. Tidak juga teman-temannya. Suasana hatinya yang sedang kacau pagi tadi masih harus ditambah soal acara penerimaan piala dan penghargaan minggu depan. Seminggu memang bukan waktu yang sebentar untuk mengundang orang datang ke acara itu, tapi akan lain ceritanya kalau yang diajak adalah orangtuanya. Tapi apa yang namanya berharap akan hal-hal yang baik berdosa? Heechul sangat mengharapkannya.
Festival sekolah seminggu lagi. Acara yang akan diisi berbagai kegiatan seperti pentas seni, musical, tari-tarian dan lain-lain itu juga akan diisi dengan penghargaan kepada murid-murid berprestasi. Heechul memnag tidak mempunyai banyak prestasi di bidang akedemis, tapi kemampuan judonya bahkan yang terbaik di Korea.
Ia sudah menghadiri acara penghargaannya di Seoul sendirian kemarin. Banyak orang bertanya 'dimana orangtuamu?' ia sudah bosan mendengar kata itu waktu itu dan kali ini ia tak ingin lagi mendengarnya, sudah cukup baginya. Tapi masalahnya sekarang ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menyeret orangtuanya datang ke sekolahnya. Teman-temannnya akan bertanya, guru-gurunya akan bertanya dan orang-orang akan bertanya. Memikirkannya saja sudah membuat Heechul ngeri.
Tapi tidak ada pilihan lain, Heechul harus membawa mereka bagaimanapun caranya.
TBC
