"Vloek and Liefde"
.
.
By : Gynna yuhi
.
.
DLDR!
Pendahuluan
Suara derap kaki seseorang memecahkan keheningan malam di sebuah gang kecil pinggiran kota. Gudang-gudang tak terpakai menjulang tinggi tak berpenghuni. Satu-satunya lampu penerangan di jalan itu berkedip-kedip lemah memancarkan cahaya redup. Waktu menunjukan pukul dua dini hari ketika seorang wanita muda berjalan sempoyongan, memegangi perut bagian bawahnya menyandar didinginnya tembok sebuah gedung bekas penyimpanan beras. Aroma menyengat minuman keras menguar dari mulutnya.
Pipinya bersemu. Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ia secara refleks memegangi bibirnya yang membengkak. Ia terkikik geli, kembali berjalan dengan terseok berjuang keras agar dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
Si wanita menoleh sesaat, menatap sekeliling. "Kemana perginya semua orang?" Suaranya pelan bagai bergumam dan kembali terkekeh.
"Dimana Anko yang biasa mengangkangi seseorang disini─" telunjuknya berputar mengarah ke arah tumpukan kardus yang terdapat banyak bercak putih kumal mengering di sana-sininya "─wanita jalang. Fufufufu."
Sepekan ke belakang memang banyak rumor yang mengatakan bahwa Tokyo kembali tak aman. Tingkat tindak kriminal meningkat tajam dalam kurun waktu beberapa bulan. Polisi belum bisa memastikan kedok di balik kasus pembunuhan ini. Pihak kepolisian di buat kewalahan, semua kasus mengalami kebuntuan.
Masyarakat Tokyo mengeluhkan sikap pemerintah dan aparat keamanan yang di nilai lamban dalam mengusut masalah ini. Masyarakat resah akan bertambahnya jumlah korban dalam waktu dekat. Untuk sementara pemerintah sendiri hanya dapat menarik kesimpulan bahwa si pelaku membunuh secara acak, dan selalu melancarkan aksinya pada malam hari. Pemerintah telah menghimbau warganya agar tak keluar rumah lebih dari jam sepuluh malam untuk berjaga-jaga. Kasus demi kasus memenuhi meja mereka setiap pagi. Belakangan baru diketahui bahwa semua korban adalah kriminal-kriminal kecil yang luput dari penglihatan para polisi.
Langkahnya semakin menggema saat si wanita muda berbelok pada celah sempit dekat tumpukan kardus kumal. Matanya membelalak ketika ia menangkap sekelebat bayangan misterius melintas dihadapannya. Entah kenapa bulu kuduknya meremang dan perasaannya mulai tak enak. Ia menatap sekeliling, meyakinkan diri bahwa tak ada orang lain disana selain dirinya sendiri.
Suasana mulai mencekam. Ia merasa diperhatikan seseorang, dengan tergesa ia mulai mempercepat langkah kakinya. Suara benda jatuh mengagetkan si wanita hingga ia jatuh tersungkur.
"Su-su-suara apa itu?" suara wanita itu bergetar ketakutan, firasatnya berkata bahwa hal tidak menyenangkan akan terjadi. Khawatir dengan apa yang ia pikirkan, ia segera bangkit dan berlari secepat yang kakinya bisa.
Srek! Srek!
Suara benda di gesek menggema di sepanjang lorong tempat si wanita itu berlari. Ia menoleh mencari sumber dari suara gesekan tersebut dengan perasaan takut bercampur gelisah.
Crang!
"Kyaaaaaaaa" teriak si wanita. Ia kembali jatuh tersungkur, tubuhnya bergetar dengan degup jantung yang semakin menggelepar. Perasaannya semakin tidak enak. Ia ingin berlari tapi tubuhnya kaku, kakinya terasa mati rasa. Ia sudah tak sanggup lagi untuk berlari.
Keadaan semakin mencekam saat satu-satunya penerangan di tempat itu pecah seiring dengan suara tembakan yang memekakkan telinga.
SRET!
Sebuah tali melilit leher si wanita secara misterius, menariknya menjauhi permukaan tanah. Wanita itu meronta-ronta mencoba melepaskan tali yang membuatnya kesulitan bernapas.
"TO-TOLONG!" Jeritannya terus menggema namun tak akan ada seorangpun yang akan mendengar. Matanya terbelalak lebar. Napasnya tercekat dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia terus meronta menggapai-gapai tali yang mencekiknya berharap tali itu mau terlepas, tapi naas bukannya terlepas tali itu malah semakin erat mencekiknya tanpa ampun.
SRING!
Suara tebasan pedang terdengar nyaring seiring dengan erangan tertahan dari mulut si wanita. Darah mulai menyembur dari kedua kaki si wanita bagai air kran yang di buka. Darah segar itu terus mengalir bagai anak sungai tanpa permisi dari si empunya.
CRESH!
Perut wanita itu di tusuk dengan brutal oleh sebilah pedang yang tadi si penebas gunakan untuk menebas kaki si wanita hingga menembus punggungnya.
SRET! KRAK!
Pedang yang telah menancap di perut si wanita kemudian di tarik paksa, entah tangan siapa atau mahluk apa yang tanpa ba-bi-bu lagi langsung menekan perut si wanita yang menganga lebar itu berlainan arah, menyobeknya dengan keras lalu mengeluarkan isi perutnya.
"TO-TOLONG!" suara tersedak si wanita terdengar sayup-sayup ketika darah menyembur keluar dari mulutnya. Dalam keadaan setengah sadar wanita muda tersebut menggapai tangan si penebas yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
SRING!
Naas, maksud hati ingin menghentikan aksi si pelaku namun ia kembali kehilangan bagian tubuhnya yang lain. Ya, jari tangan wanita itu di tebas habis tak tersisa oleh si pelaku.
"Akhiri penderitaannya sekarang!" Suara dingin seseorang menghentikan aksi si pelaku. Dengusan keluar dari sela bibir si pelaku yang sedikit tertarik membentuk seringaian.
CRESH!
Dengan sekali hentakan pedang itu sudah menembus jantung si wanita. Darah sudah membasahi tempat kejadian namun tak ada seorangpun dari mereka yang peduli. Mengapa mereka? Ya, karena bukan hanya satu orang saja yang berada di sana.
"Cih masih belum mati saja. Benih itu sudah mulai tumbuh rupanya." Dengus seseorang yang tadi berbicara dengan si penebas.
Samar-samar sebelum kesadaran wanita itu hilang, ia melihat sosok dari si penebas. Seorang pemuda berambut coklat kehitaman dengan segitiga kemerahan terbalik di kedua pipinya dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Bu-bu-bu argggh bunuh saja aku. CEPAT! Arrggh jangan siksa aku... lagi, Kumohon!" ucap wanita itu memohon sambil menggerang kesakitan.
Kebas melanda seluruh tubuhnya, namun mengapa ia tak mati padahal jantungnya telah hancur?
Sosok dihadapannya menyeringai tipis kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi mengarahkannya ke mata hazel si wanita.
CROT!
Darah merah pekat menyembur dari rongga mata si wanita hingga mengotori jubah si penebas. Suara erangan kesakitan dari si wanita semakin menjadi, terlebih saat tali yang mencekiknya tadi melonggar kemudian terlepas begitu saja membuat tubuhnya jatuh tersungkur.
"Berhentilah main-main, Kiba! Cepat selesaikan sekarang!" Ujar seseorang dibelakangnya.
"Cih mengganggu kesenangan orang saja." Kiba merengut. Ia segera merogoh saku celananya, mengambil sebuah pematik kuno berwarna perak dengan ukiran rumit yang membentuk tulisan "CAMBION EXORCIST" yang rapi.
KLIK!
Kiba mendekati tubuh si wanita yang tergolek tak berdaya di atas tanah itu kemudian membakarnya. Teriakan dan erangan kesakitan tak sedikitpun membuat mereka merasa iba. Teriakan dan erangan yang terdengar nyaring itu sudah mereka anggap biasa saking seringnya mereka membereskan sisa perbuatan temannya. Beda halnya dengan Kiba, ia lebih menganggapnya sebagai nyanyian kematian yang merdu, hingga membuatnya gatal ingin menari, sebuah tarian kematian.
Wanita itu berteriak, menjerit, mengerang kesakitan merasakan sakit, dan panas di seluruh tubuhnya. Tubuhnya terus menggeliat-geliat di dalam kobaran api. Api terus membesar melahap tubuhnya tanpa ampun, membuat tubuhnya gosong hingga perlahan-lahan berubah menjadi abu.
"Tugas kita selesai. Ayo pergi!" ujar Kiba kepada sosok pemuda berambut merah menyala dibelakangnya yang tengah menyeringai puas.
"Naruto bersihkan sisanya!"
Tbc
