Author: runaway-dobe

A/N: Mencoba membuat fict yang nggak fluffy (nangis bombay), yah, baca aja ya! :)

Oya, THX A LOT 4 da reviews! Saya benar2 senang. :3 (hug everyone)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Summary: Reuni SMA, satu hal yang tak akan pernah Naruto lupakan seumur hidupnya. Naruto, alumni Konoha Lab School, tidak menyangka bahwa ia akan bertemu kembali dengan mantannya, yang dulu terpaksa berpisah dengan Naruto, karena berbeda universitas. Tapi sayangnya, Naruto sudah mempunyai orang lain.

Naruto, dkk : 27 tahun.

Hinata: 24 tahun.

Warning: Rated M+ for some "reason". Lime ahead. Shounen-Ai. Slight OOC. No OC. Don't like don't read.

Enjoy!

vVv

Waiting For Nothing

vVv

"Omoku no shikakaru genjitsu ga

ima no boku o semetateteru

kantan ni wa ikanai na

sonna koto kurai chouchi shiteru yo…"

vVv

(Reality leans heavy on me,

And it's torturing me.

Nothing comes easy,

I know that well enough…)

vVv


"Sa… Sasuke?" tanyanya terkaget-kaget. Saputangannya terlepas dari pegangannya. Noda dari cola yang tersiram ke kemeja hitam Sasuke terlihat jelas. Tetesannya jatuh hingga ke celana jeans abu-abu Sasuke yang robek lututnya.

'Ke… Kenapa Sasuke ada disini… bukannya seharusnya dia… Ukh, kalau tahu begini jadinya aku tidak akan menghadiri acara ini!'

Sasuke tersenyum sinis, "Apa kabarmu, dobe?" tanyanya tidak memperdulikan noda cola itu.

Naruto buru-buru memalingkan wajahnya dari Sasuke, "A… Aku baik-baik saja!"

Sasuke meneguk minumannya sampai habis, meremas gelas kertas itu, kemudian tatapan matanya yang tajam tertuju pada Hinata yang sedang tertawa bersama teman-teman Naruto sekarang, "Karena dia?"


Naruto terkejut, matanya membulat, ditelannya ludah, kemudian ia memberanikan dirinya, "Ya! tentu saja karena… dia…" omongan Naruto agak tertahan. Tapi Sasuke terlanjur mencerna omongannya itu.

"Oh." Sasuke menatap Naruto dengan tatapan yang tidak dapat diterjemahkan artinya, "Baguslah."

Entah mengapa, Naruto sama sekali tidak senang mendapat tanggapan seperti itu.

Ia tertawa. Dari matanya yang penuh arti, terpancar ketidakpuasan yang ia sendiri bingung karena apa, "Yah…" Naruto memandang Sasuke, kemudian tersenyum paksa, "Terimakasih."

"Hn." Sasuke mendengus, ia meraih satu gelas minuman itu lagi, dan menenggaknya.

"…Aku senang memiliki istri seperti dia." Tambah Naruto tak lama. Untuk memecah kesunyian yang terasa janggal di antara mereka, atau sebenarnya ia berusaha untuk…

Sasuke hampir tersedak, 'Naruto sudah… menikah?' Matanya yang tajam membesar sekejap karena keterkejutannya. Tapi tak lama, mata itu telah kembali pada ukurannya yang semula, "….. Selamat. Atas pernikahanmu." Katanya datar.

Naruto menunduk, lagi-lagi tanggapan yang tidak ia harapkan. Dari wajahnya tergurat kesedihan. Namun lekas-lekas ia tutupi dengan cengirannya. Ia mengambil minuman yang sama dengan Sasuke, meminumnya seteguk, "Begitukah? Haha. Uhh… Terimakasih." Balasnya ragu.

Sasuke mengarahkan matanya yang bekilat-kilat pada Naruto, tangannya yang cekatan meraih pinggang lelaki pirang itu dan menariknya cepat ke kelas kosong, yang terdapat di belakang tempat mengambil minum. Dengan gerakan yang cepat, Sasuke mengunci pintu ruang kelas yang kosong dan gelap itu.

vVv

Naruto's POV

vVv

Aku terkejut, rasanya ingin meronta tapi Sasuke terlalu kuat.

Sasuke merengkuhku, terasa sekali kalau dia sedang menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. Tak lama, ia menundukkan kepalanya, membuat keningnya bergesek pelan dengan pundakku. Sasuke menghela nafasnya, "Dobe…" bisiknya perlahan.

Aku sedikit bergetar mendegar bisikan itu. Aku… merindukan rengkuhan seperti ini… Tapi…

"Le… lepaskan aku!!" teriakku. Sasuke bergeming. Tangannya yang dingin mulai meraba wajahku, jemarinya yang panjang terasa menggelitik, "Kau…" Matanya yang begitu hitam menatapku dalam, "Kenapa…" Lirihnya perlahan, nyaris tidak terdengar.

"Te… teme. Apa maksudmu kenapa??" Tanyaku tak mengerti. Kenapa? Apanya yang kenapa?

Sasuke semakin memojokkanku ke dinding, nafasnya yang panas begitu terasa di tengkukku, sangat kontras dengan suhu tangannya, "Kenapa…" Omongan Sasuke tertahan, "Kau…" suara Sasuke terlalu pelan, aku tak dapat mendengarnya.

Aku tercekat, "A… Apa? Le… lepaskan aku!!" teriakku sambil meronta sekuat tenaga.

Tanpa sempat kucerna gerak-geriknya, tiba-tiba ia menarik daguku lalu menciumku. Mataku membelalak. Sasuke? Apa yang dia lakukan padaku?? Aku ingin melepaskan genggaman Sasuke yang begitu erat, tapi… aku sudah tidak berdaya.

Tangan Sasuke meraba tengkukku, membuatku merinding oleh sensasi dingin yang di oleskan Sasuke disana. Tangannya yang lain mengusap rambut pirangku dengan lembut dan perlahan. Sasuke kemudian melepaskan ciumannya dan mulai mengecup tengkukku dengan lembut sambil mengangkatku ke sebuah meja kelas dan mendudukkanku disana. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku pun sekarang terasa sama tingginya denganku, karena aku sudah terduduk di meja itu sekarang. Ia kembali memelukku erat, kemudian menciumi wajahku, lalu leherku. Aku melenguh pelan, "Sa… Sasuke..."

Aku semakin menegang sekarang. Kecupan demi kecupan lembut diberikan oleh Sasuke seraya tangannya terus merengkuh tubuh mungilku. Kecupan-kecupan lembut itu lambat laun berubah menjadi hisapan, ia menjilat leherku perlahan seakan bagaian tubuhku itu adalah sebatang es krim, aku harus segera menghentikannya, "Sa… Sasuke… Stop! AHH!"

Ia menghisapku sehingga meninggalkan bekas disana. Seolah tidak puas menyusuri tengkukku, Sasuke kembali mencium bibirku, membuatku semakin tenggelam dalam ciuman itu, merasakan diriku telah meleleh. Hanyut terbawa suasana yang panas yang terlarang. Entah kenapa otakku tidak sejalan dengan naluriku. Dengan gerakan perlahan, kubuka mulutku untuk memberikan koneksi pada Sasuke. Memberikan izin untuknya untuk mengeksplor mulutku.

….Tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Sasuke melepaskan ciumannya, melepaskan genggamannya.

"S… Sasuke?"

Sasuke menengadah, kemudian menatapku lekat-lekat, "Aku… bukan siapa-siapa bagimu sekarang. Tidak sepantasnya aku melakukan hal ini." Katanya tiba-tiba, "Pergilah… Kembali bersamanya."

"Tapi…!"

Sasuke mendelik, "Apa? Kau kira barusan aku serius? Hmph. Kau terlalu polos, Naruto."

"!! Kau!"

Sasuke tidak menggubris pertanyaanku, dengan langkahnya yang panjang, ia mulai meninggalkanku di ruangan kelas yang gelap itu sendirian. Membuka kunci pintu, kemudian melesat pergi tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.

vVv

Segera setelah Sasuke pergi, aku menundukkan wajahku sedalam-dalam yang aku bisa, berusaha menyembunyikannya yang sudah mengeluarkan cairan hangat yang tak dapat kutahan lagi.

Untuk apa aku menangisinya?

"Ukh… uhh… uhh." Tapi rasanya sulit. Mengingat Sasuke yang memang dari awal tidak pernah peduli… padaku. Ingin rasanya aku berteriak lalu meninjunya. Tapi lihat, apa yang kulakukan sekarang? Aku hanya bisa menangis.

Menyakiti…

Disakiti…

-

"Naruto?"

Aku terkejut. Tapi aku tak berani mengangkat wajahku.

Orang itu menghampiriku, "Hei… kau kenapa?" ia menunduk, rambutnya yang panjang terasa menggelitik tengkukku. "Naruto?"

"Uhh…"

"Kau… menangis?"

Aku mengeleng dan tetap meringkuk. Bertahan di posisiku.

"Ayolah, Naruto…" orang itu mengangkat wajahku, "Ceritakan padaku."

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku menengadah padanya, "Iruka-sensei…"

"Hmm?" Iruka membelai lembut rambutku, mantan muridnya, "Kenapa kau menangis? Seharusnya kau senang kan? Bertemu kembali dengan teman-temanmu?" tanyanya.

"…Iruka-sensei tidak mengerti…"

"Kalau begitu, ceritakan padaku agar aku mengerti."

Sekali lagi aku menggeleng, hal itu tidak bisa kuceritakan pada siapapun, termasuk guru kesayanganku ini, "Maaf, Iruka-sensei… Tapi aku tak bisa…"

Iruka menepuk pelan kepalaku, "Hmm. Baiklah kalau kau tak bisa…. Aku tidak memaksa. Tapi kalau kau sudah siap menceritakkannya padaku, ceritakan saja ya?" tawarnya deselingi dengan tawa yang lembut. Ia mengangkat tubuhku hingga aku berdiri tegak, kemudian menepuk pundaknya, "Jangan menangis lagi! Ayo bersenag-senang dengan temanmu!" katanya mengibur, "Ayo ayo! Bangun! Bangun…! Basuh mukamu!"

"Iruka-sensei…"

"Hm?"

"Aku bukan anak kecil lagi…"

Iruka tertawa salah tingkah, "Haha, yah… bagaimana menjelaskannya ya? Tapi wajahmu tidak banyak berubah Naruto… masih tetap seperti anak kecil seperti dulu."

Aku hanya tersenyum kecil. Meskipun sebenarnya aku luar biasa tersinggung akan hal itu.

Iruka membalas senyumanku dengan senyuman penuh arti, seolah ia dapat membaca pikiranku. "Ayo, Naruto. Aku yakin temanmu tak suka melihatmu dalam keadaan seperti ini."

"Baiklah, sensei…" Aku mengerang malas kemudian melangkah gontai ke kamar mandi, "Ohya sensei, aku minta plester."

vVv

Normal POV

vVv

Konoha's Free Souls Disco…11.47 p.m.

Lagu-lagu yang penuh dengan dentuman-dentuman yang menggoda setiap pendengarnya untuk menggoyangkan tubuhnya memenuhi ruangan itu. Funitur-funitur bernuansa techno menghiasi setiap sudut ruangan. Aroma alkohol yang lumayan pekat bercampur dengan asap rokok menguar di udara. Lampu yang berkelap-kelip tidak teratur membuat suasana tempat itu sungguh meriah. Sekaligus memusingkan.

Setidaknya untuk Hinata.

Naruto menenggak gelas berisi Jack Daniels-nya yang ke lima, kalau Hinata tidak salah hitung. Sakura menari-nari lincah ditemani oleh Ino di lantai dansa. Sai duduk di sebelah Naruto sekarang, menghisap rokoknya, matanya tak pernah lepas dari Ino. Kiba? Yah… Kiba DJ disini. Makanya mereka jadi kesini semua. Yap… semuanya karena ajakan (sekaligus ajang pamer) Kiba.

vVv

Flashback…

Naruto mengusap wajahnya dengan saputangan handuk yang dipinjamkan oleh Iruka. Matanya sudah tidak begitu sembab lagi karena ia mengompresnya dengan es -yang lagi2 diberikan oleh gurunya itu-

"Naruto! Kau kemana saja??" Tanya Sakura khawatir.

Ino mencolek pundak Naruto, "Hinata mencari-carimu, lho…" Sai mengangguk, menyetujui perkataan tunangannya.

"Kalau kau menyia-nyiakannya, lebih baik dia buatku saja..." goda Kiba sambil terkekeh.

Naruto melemparkan sebuah senyuman kecil. Lebih tepatnya, sebuah senyuman yang tidak niat.

"Hei hei… kau kenapa??" Tanya Kiba sambil mengucek-ngucek rambut temannya, "Kelihatannya tidak bersemangat sekali…"

"Naruto-kun… apa Naruto-kun baik-baik saja?" Tanya Hinata kemudian sambil mengusap lembut punggung Naruto, "Kenapa di lehermu ada plester?"

Naruto tersenyum kepada istrinya, "Aku tidak apa-apa Hinata-chan. Ini hanya bekas digigit serangga tadi, karena membengkak ya ku plester saja." Kilah Naruto, berbohong, "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Sakura juga, Ino juga, Sai juga. Kecuali kau, Kiba."

"UAPAAA?? Padahal aku tadi mengkhawatirkanmu, bodoh!"

Naruto terkikik geli, "Bercanda."

"Nah… gitu dong! Ceria!" kata Kiba sambil menarik bibirnya kesamping dengan jarinya, "Oh ya, ngomong-ngomong soal ceria, bagaimana kalau kita bersenang-senang sekarang??"

"Maksudmu?"

"Yah, karena acaranya sudah tidak menarik lagi disini… bagaimana kalau kita ke tempat kerjaku yang baru sekarang!"

vVv

Dan berakhirlah mereka semua disini.

Naruto masih terlarut dalam pikirannya sendiri. 'Kenapa… Untuk apa dia..' batinnya ragu, kemudian meraih botol Jack Danielsnya untuk mengisi gelasnya yang telah kosong. Naruto memutar-mutar gelas berisi alkohol dan es batu itu kemudian menatapnya dengan tatapan menerawang entah kemana. Tidak menyadari pandangan penuh kekhawatiran dilemparkan oleh seseorang padanya sedari tadi.

Naruto mengusap plester di lehernya, 'Sasuke… Aku… harus segera melupakannya.'

vVv

TBC…

A/N: Wakh, I'm pervert!Huhuhuhu… kayaknya ceritanya aneh deh (bukan kayaknya lagi, tapi emang aneh) maap… huhuhuhu… stress euy… ULUM sial… oyah, untuk para reviewers yang baik hati… saia berikan tamagochi yang isinya karakter Naruto fav. Anda! Mau pelihara Naruto? Bisa! Sasuke? Bisa! Itachi, Gaara, Kakashi… dll, jg bisaaa… (membagikan tamagochi ke reviewer) jangan lupa di kasih makan plus dirawat baik2 ya! Teeheehee.

See ya :3