Matahari memancarkan sinar lembutnya. Suasana begitu tenang memenuhi komplek itu, hanya diisi oleh suara cicitan pelan burung-burung.
Pagi itu kediaman Cho, dengan suasana yang tidak seribut biasanya. Rumah dengan halaman hijau dipenuhi tumbuhan itu tak menampakkan tanda-tanda kehidupan dari luar. Ini aneh. Pada dasarnya kediaman itu memang jarang sekali dalam keadaan begini. Pasti ada saja sesuatu hal yang diributkan oleh keluarga kecil yang hanya beranggotakan tiga orang itu. Tetangga sebelah sepertinya sudah sangat bosan mendengar suara benda pecah atau terbanting dari dalam sana. Setiap pagi.
Suasananya sangat tenang. Setiadaknya sebel―
"THEHUN GAK MAU PAKE ITUUUUUUUUUUU!"
"SEHUUUUUUUUUN!"
"GAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK!"
JDERR
TIIIIIIIIIINNNNNNNNN
DUAK!
UHUK!
GUK GUK GUK!
Burung-burung yang hinggap di pohon depan rumah dan atap-atap bertebrangan. Mobil yang sedang melaju di depan rumah itu tiba-tiba berhenti mendadak sambil membunyikan klakson. Seorang pria yang sedang berjoging jatuh. Nenek tua di halaman samping rumah itu, tersedak dengan tehnya. Begitupun anjing mereka yang tiba-tiba bangun dan menggonggong karena terlalu terkejut.
"THEHUN GAK MAU PAKE ITU, MAMAAAAAAAAA!"
Ya 'kan? Baru saja dibilang. Pagi ini… memang tenang sekali.
.
-o0o-
MASKER
By BluePrice14
Rated:
T
Warning:
Alternative Universe, Out of Character, Slight!BL―Crack pair, Chibi!Sehun-Chanyeol-Kai
.
ENJOY
-o0o-
Nyonya muda Cho mengurut pelan hidung atasnya yang berdenyut. Pagi ini jadi terasa lebih bising dari pagi-pagi sebelumnya dan membuatnya cukup stress. Bagaimana tidak stress? Lihat keadaan rumahnya yang mengenaskan ini. Bagaimana ia bisa membereskan ini semua?
'Akan aku bunuh kau setelah ini, Cho Kyuhyun,' janjinya dalam hati.
Ia tadi hanya menyuruh suaminya itu untuk melakukan hal kecil saat ia sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Dan siapa yang menyangka itu akan berakhir dengan hancurnya salah satu ruangan saat ia kembali.
"Sehun, kemari, kau harus memakai ini dan pergi sekolah!"
"Thehun gak mau, Pa!"
"Sehun!" Nyonya muda Cho itu terentak kaget karena anak tunggalnya yang masing berumur lima tahun itu naik ke sofa dan meloncat dari sana sebelum berlari lagi. Sementara suaminya berusaha mengejarnya dari belakang dan ikut meloncat, membuat sofa itu bergeser jauh dari tempatnya semula. Bantal-bantal yang berada di sofa jatuh, terinjak-injak oleh keduanya yang kembali kejar-kejaran.
"Kyuhyun!" jeritnya histeris.
Vas bunga yang terpajang di pojok ruangan itu tersenggol dan hampir saja jatuh jika Kyuhyun tidak menangkapnya . "Nyaris saja… Maaf sayang!" teriaknya. Ia menaruh vas bunga itu ditempatnya sebelum kembali mengejar Sehun.
Nyonya muda Cho itu mengelus dadanya lega karena vas kesayangannya tidak jadi hancur. Kepalanya berdenyut lagi, ia hanya berharap dalam hati agar tidak mati muda karena jantungan. Ini bencana. Bencana yang harus segera dihentikkan, pikirnya. Sekali lagi nyonya muda Cho itu menghela nafas dan―
HAP.
Dengan cepat ia menangkap Sehun yang melewatinya. Matanya terarah pada sang suami, memberikan death glare. "Aku hanya menyuruhmu memakaikan Sehun masker, Kyuhyun. Demi Tuhan…" keluhnya kesal.
Kyuhyun cemberut dan mendekat dengan lemas. Setelan rapinya dan rambutnya sudah benar-benar berantakan. Ia sudah mengejar anaknya itu selama hampir setengah jam dan membujuknya untuk memakai masker, seperti perintah istrinya. Dan kini dia malah dimarahi. "Aku sudah berusaha, sayang," ujarnya membela diri.
"Berusaha menghancurkan rumah, maksudmu?" sinis sang nyonya muda, mengambil masker di tangan suaminya dan beralih menatap Sehun. Yang rupanya masih meronta-ronta ingin lepas. "Sehun kau harus memakai ini dan segera pergi sekolah sayang," bujuknya pelan.
"Thehun gak mau, Mama~ gak mau~" rajuknya sambil berusaha pergi. Ia menggerakkan tubuhnya terus menerus hingga dirinya bebas dan kembali berlari menjauhi kedua orangtuanya. Tapi Sehun tiba-tiba saja berhenti saat hidungnya terasa gatal. Ia menggosok hidungnya yang memerah dengan tangan. Dan "Hatchim―!" terbersin.
Nyonya Cho memandang anaknya itu khawatir lalu berjalan mendekat, berjongkok menyamakan tingginya. "Lihat 'kan? Kau sedang flu sayang. Makanya kau harus pakai masker," katanya.
Sehun mendongak memandang mamanya yang sedang mengelus rambutnya sayang. Hidungnya memerah dan ekspresi cemberutnya malah membuatnya semakin menggemaskan. "Thehun gak mau Mama~" rengeknya lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Mathker itu buat wajah tampan Thehun jadi gak keliatan, Mama!"
Tuing!
"Hahahahaha…"
Sang nyonya Cho tersenyum kecut mendengar alasan yang sangat tidak logis itu, sementara Kyuhyun malah asik tertawa sambil memegangi perutnya. Ia mendekat dan mengelus rambut Sehun juga sambil berjongkok. "Dia benar-benar anakmu," komentar sang nyonya Cho dengan sedikit tak rela. Kyuhyun tersenyum lebar pada istrinya. Sepertinya Sehun memang benar-benar anaknya.
"Sehun harus pake master, oke? Memangnya Sehun mau gara-gara Sehun gak pake masker semua teman Sehun nanti tertular dan jadi sakit? Terus mati?―Adaw! Kenapa kau memukulku, sayang?" protes Kyuhyun saat sang istri memukul bahunya keras. Apa salahnya? Kyuhyun mengabaikan istrinya dan memandang Sehun lagi yang kini matanya sudah berkaca-kaca saja. Tiba-tiba saja tersenyum. "Orang yang wajahnya gakeliatan itu keren loh, son."
Sehun memandang papanya heran.
"Sehun tahu Spiderman 'kan? Batman? Power Ranger?"
Sehun mengangguk.
"Sehun suka mereka?"
"Huum," Sehun mengangguk polos. Tiba-tiba tersenyum lebar. "Mereka pahlawan thuper, Pa!" Dan setelahnya bocah itu terbersin lagi. Cuaca akhir-akhir memang dingin sekali, pikir nyonya Cho yang kini merapatkan syal di leher Sehun.
Kyuhyun tersenyum, "Wajah mereka 'kan gakeliatan, son. Meski begitu mereka tetep keren." Kyuhyun memandang istrinya yang menatapnya memelas. Seakan berkata 'jangan lagi' pada suaminya. Tapi Kyuhyun malah mengambil masker di tangan istrinya itu sambil menatapnya dengan tatapan 'serahkan padaku'. Kyuhyun memaikan masker itu pada Sehun yang diam saja. "Lihat, kau terlihat keren, son."
Wajah Sehun terangkat, "Benarkah?"
Kyuhyun mengangguk.
Dan Sehun kali ini tidak menolak lagi, melainkan menatap sang papa dengan mata berbinar sambil menariknya. "Ayo pergi sekolah, Pa!"
-o0o-
"Sudah sampai," ujar Kyuhyun begitu mobil hitam itu berhenti di depan sebuah TK. Kyuhyun turun dari mobil dan membukakan pintu di sisi lain, membantu Sehun melepaskan sabuk pengamannya lalu mengendongnya turun. "Perlu papa antar ke dalam?" tawar Kyuhyun sambil mengusak rambut anaknya.
Sehun menggeleng,
"Baiklah," Kyuhyun tersenyum dan mencium pucuk rambut anaknya itu gemas. "Belajar yang benar, Sehun."
Sehun mengangguk semangat, mengalungkan ponsel miliknya di leher. Lalu melambai sebelum masuk ke dalam. "Dadah, Pap," pamitnya.
Kyuhyun balas melambai dan baru masuk ke mobilnya saat Sehun sudah hilang dari jarak pandangnya. Ia baru saja akan melaju meninggalkan kawasan itu saat ponselnya bordering. Sebuah pesan masuk dari Istrinya.
Jika hal aneh lagi terjadi maka aku akan membunuhmu, Cho.
Dan Kyuhyun terbahak, istrinya memang terlalu paranoid. Kyuhyun mengurungkan niat untuk kembali menyalakan mesin, ia tersenyum lebar dan mengetikkan sebuah pesan singkat sebagai bahasan.
Aku juga mencintaimu, sayang.
-o0o-
Sehun selalu merasa bersalah kepada mamanya. Mamanya selalu berkata jika perasaan benci itu sama sekali tidak baik. Tapi tetap saja Sehun selalu mempunyai banyak hal yang ia benci. Misalnya saja―flu. Sehun kecil sama sekali tidak suka saat merasa hidungnya merah karena flu. Baginya ia terlihat seperti badut. Sehun juga tidak suka saat dirinya tidak henti-hentinya bersin karena hidungnya gatal. Selain itu flu juga membuat hidungnya berair dan membuatnya jadi susah bicara.
Tapi setidaknya dari semuanya hal yang ia benci saat flu, ada satu yang ia sukai mulai sekarang. Masker.
"Sehun-Sehun-Sehun!" Chanyeol seperti biasa meneriakkan namanya lebih dari sekali saat dia melihatnya. Sehun bisa melihat jika Chanyeol juga memakai syal saat mendekat, tapi dia tidak terlihat seperti sedang terserang flu. Curang sekali…
"Thelamat pagi, Yeol," sapa Sehun begitu duduk. Sehun membenci suaranya yang menjadi terdengar aneh saat mengatakannya.
"Sehun, kau sakit?" Chanyeol memandangnya khawatir dan mulai menempelkan tangannya di dahi Sehun. Setidaknya itulah yang ia contoh dari perilaku sang kakak jika dirinya sedang sakit. Menyimpan tangan di dahi, meski Chanyeol tidak tahu untuk apa sih. Chanyeol tersentak saat merasakan dahi Sehun hangat. Lalu berteriak heboh, "IBU GURU SEHUN HANGAT!"
Sang ibu guru yang sedang bersiap di depan tersentak karena teriakan itu. sementara teman-teman TK Sehun menatap Sehun dan Chanyeol.
Sehun yang risih menyingkirkan tangan teman bersemangatnya itu lalu terbersin. "Hatchim―! Aku hanya flu, Yeol," katanya.
Meski begitu Chanyeol masih menatapnya khawatir, "Tapi kau hangat…"
Ibu guru datang memeriksa suhu badan Sehun. Lalu tersenyum, "Sehun tidak apa-apa, Chanyeol."
"Tapi-tapi… dia hangat,"
Sang ibu guru meraih sebelah tangan kecil Chanyeol dan menaruhnya di dahi milik anak itu sendiri, "Bagaimana?"
Chanyeol mengerjap, "Hangat…."
"Hangat itu normal. Orang sakit itu akan 'panas' atau 'dingin'. Mengerti, Chanyeol?"
Chanyeol mengangguk dan ibu guru berlalu setelah menepuk kepalanya.
"Jadi… kau tidak apa-apa, Sehun?"
Sehun menggeleng, "Aku flu. Makanya memakai masker." Sehun mengalihkan pandangannya ke depan dan tersenyum di balik maskernya, "Kata papa orang yang pake masker itu keren. Seperti spiderman, batman, dan power ranger."
"Benarkah?"
Sehun mengangguk.
Chanyeol membuka mulutnya membentuk o. Ia menatap Sehun dari samping lama. "Kalau begitu aku mau pake masker juga!"
Sehun mengerut dan menggeleng, "Kau tidak boleh. Kau tidak thakit."
"Tapi aku mau pakai~" rengek Chanyeol dengan mata berkaca-kaca.
"Hanya orang thakit yang memakai masker, Yeol."
Tapi Chanyeol tak menyerah dan malah menarik-narik tangan Sehun untuk mau meminjamkan maskernya, meski Sehun tetap tidak mau. Chanyeol cemberut dan tersenyum kemudian seperti mendapatkan ide. "Kalau begitu aku mau sakit!" ujarnya yakin dengan antusias berlebih, khasnya. Ia tersenyum sangat lebar. "Supaya aku bisa memakai masker seperti Sehun!"
Dan Sehun hanya mengeleng menganggap Chanyeol adalah teman yang aneh. Dia senang karena sekolah tidak libur dan sekarang malah ingin sakit flu. Sehun bahkan rela memberikan semua mainannya dan mobil-mobilan miliknya agar bisa sembuh dari flunya dan temannya itu malah sebaliknya.
"Sehunnie sakit?"
Sehun menoleh dan melihat Jongin tiba-tiba saja meninggalkan kursi dan berjalan ke arahnya. Sehun mengangguk, "Um, aku thakit flu," katanya. Ia senang karena Jongin mengajaknya bicara. Dan tiba-tiba saja teringat kata-kata papanya beberapa waktu lalu. Ia berbalik arah dan menunjuk wajahnya. "Apa aku keren, Jongie?" tanyanya sambil tersenyum di balik maskernya.
Jongin menatapnya dengan wajahh berkerut tak mengerti.
Sehun kembali menunjuk wajahnya dengan kedua tangan menggunakan telunjuk. "Apa aku keren?" tanyanya lagi.
Jongin berkedip beberapa kali dan menatap Sehun lama. Hingga pandangannya jatuh pada masker Sehun. Anak kecil berkulit tan itu tersenyum lebar dan mengangguk antusias karena merasa mengerti apa yang ditunjuk dan ditanyakan temannya itu, lalu dia berseru, "Iya! Sangat kelen, Sehunnie!" Dan bocah itu kembali ke tempat duduknya setelah melambai dan berkata, "Cepat sembuh Sehunnie~"
Sehun tersenyum semakin lebar saat mendengar jawaban itu. 'Jongie baru saja mengatakan aku―uhuk!―keren―uhuk!,' batinnya.
Tanpa sadar jika yang disebut keren oleh anak berkulit tan itu bukanlah dirinya yang memakai masker. Melainkan gambar yang ada di masker yang dipakainya.
…pororo.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-o0o-
Rumah kediaman Park.
"CHANYEOL! KENAPA KAU BERENANG MALAM-MALAM BEGINI?!"
"Chanyeol ingin sakit, noona~ Chanyeol ingin sakit~"
"APA MAKSUDMU?! KAU BISA KENA FLU!"
"Benarkah, noona?" Chanyeol berseru antusias. "Benar aku bisa flu, noo―Hatchim." Mata Chanyeol berbinar menyadari hidungnya mulai gatal. Ia terbersin lagi.
"Aku flu noona! YE~ Aku flu―Hatchim~!"
Sang noona terbengong menatap adiknya yang malah terlonjak-lonjak senang sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-o0o-
Rumah kediaman Cho.
Sang nyonya muda Cho kembali mengurut atas hidungnya dengan tangan. Ini terasa dejavu. Melihat ruangan ini yang sudah seperti kapal pecah yang terkena badai, bahkan lebih parah lagi. Ia sudah mengira akan berakhir seperti ini pada akhirnya. Karena setiap Kyuhyun mulai memberikan petuahnya, maka pasti akan terjadi sesuatu yang lebih aneh lagi. Benar 'kan?
"SEHUN! AYO LEPAS MASKERMU, SON! KAU HARUS MAKAN!"
"SEHUN GAK MAU, PAPA!"
Bzzzz.
'Akan benar-benar kubunuh kau setelah ini, Cho Kyuhyun,' janjinya sang nyonya Cho dalam hati.
.
.
.
.
FIN~
Siapa nyonya muda Cho yang jadi mamanya Sehun? Gak tahu. Kalo aku bayangin di chap kemarin itu Donghae dan di chap sekarang itu Victoria #Apa? Tapi anggap aja sesuka kalian. Lol. Ini aku bikin apaan ya? Sorry garing. Cerita lain―jika ada yang nunggu―menyusul, 'key?
Yaudah. Seperti biasa. Thanks to:
Keepbeef Chiken Chubu; Guest; askasufa; Sexy sexy kai; maia. vieer; Deushiikyungie; Guest; thiefhanie. fhaa; Kyuminjoong; Penghulu kaisoo; ye0ja; jameela; Imeelia; monggu kai; NAP217; wasastudent; choHunHan; ferina. refina; cha yoori; younlaycious88; uthienz. keykimkibum; GaemGyu92; SnowJiHye; Liana D. S; Lalala Kkamjong; etinprawati; Rassiumins; oreodo; chuapExo31; dumbsekai; Jung Ha Ki; LM90.
