~2~
"Don't give up, Claire!"
.
.
Di sana, aku selalu melihatnya. Ia yang membaca buku dengan mata serius. Kadang ekspresi wajahnya berubah-ubah saat membaca. Kadang ia mengerutkan alis. Kadang ia memegang dagu, berpikir. Kadang tersenyum tipis. Dan kadang ia menahan tawa.
Di perpustakaan sekolah yang tak begitu ramai itu, mataku selalu dengan mudah mengikutinya. Ah, tak hanya di perpustakan. Mataku mengikutinya di manapun memungkinkan untukku melihatnya.
Di kantin, di lapangan, di lorong sekolah, di jalan, di jendela kelas, di mana pun. Seolah ada alat pemancar yang menempel padanya, dan ada radar di kepalaku yang diprogram khusus untuk mendeteksi keberadaannya.
Yup. Seolah-olah...
"Everytime you hide away, I'll always gonna find you, you'll always be found." [Adhitia Sofyan – The Stalker]
Gray mengerutkan alisnya saat seorang gadis duduk di hadapannya di perpustakaan. Ia melihat kanan-kiri, depan-belakang, mencari keberadaan manusia lain selain gadis itu. Tak ada. Memang selalu tak ada sih. Toh pengunjung tetap perpustakaan ini hanyalah ia dan Dokter Trent.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Gray dingin. Ekspresinya jelas mengatakan 'pergi-kau-dari-hadapanku'.
Meski begitu, Claire, entah tak sadar atau memang tak peduli, hanya menjawab sambil tersenyum ceria seperti biasa. "Membaca buku!" katanya. Tentu. Ia duduk di hadapan Gray dengan membawa sebuah majalah berkebun, dan ia memang membaca. Membaca dengan riang, tepatnya. Sebab kakinya terus saja bergoyang dengan irama tertentu, kepalanya sesekali bergoyang, dan ia terus saja tersenyum.
"Yang benar saja," hardik Gray kesal. Gray bangkit dari duduknya lalu berjalan ke counter perpustakaan sambil membawa buku yang tadi dibacanya. Seorang gadis manis beracamata, berambut hitam panjang yang dikepang satu, sejak tadi tampak duduk di counter, menulis sesuatu. Gray berdeham untuk memecah konsentrasi gadis itu.
"Ehem. Mary, aku pinjam buku ini," kata Gray. Namun Mary tampaknya tak mendengarnya, sehingga Gray harus memanggil namanya sekali lagi. "Mary?"
"Eh, ah, ya! Maaf Gray, aku tak memperhatikan!" ucap gadis itu gugup. Ia segera menutup buku tulisnya dan mengambil buku yang dipinjam Gray. Karena masih gugup, ia nyaris menjatuhkan buku Gray. Beruntung Gray menangkap buku itu. "Oh, terimakasih..." ucapnya lagi. Kali ini dengan senyuman manisnya.
Senyuman yang ternyata memicu pria di depannya itu ikut tersenyum lembut. Dan tentu saja, dimana ada senyuman Gray, disitulah pandangan Claire tertuju.
"Hati-hati, Mary," pesan Gray sambil matanya mengawasi Mary yang sedang menunduk mengisi buku peminjaman. Selesai menulis judul buku dan nama Gray di daftarnya, ia mengangkat kepalanya dan tertawa lepas pada Gray.
"Ahaha! Maaf selalu ceroboh. Terimakasih lagi, Gray!"
Tawa yang bahkan bagi Claire sekalpun terdengar sangat merdu. Membuat otak gadis pirang itu bertanya-tanya.
Hey, kenapa wajah Gray merah? Kenapa senyuman Gray padanya sangat lembut?
Kenapa suara gadis itu terdengar sangat hangat?
Penampilannya kutu buku tapi ia manis.
Kenapa Gray ikut tertawa bersamanya dan memberikan senyuman satu juta joule nya?
Ah...
Jadi begitu...
"Kau suka Mary?"
"Eh?"
Lagi-lagi Gray dibuat kaget oleh Claire. Gray baru saja keluar dari perpustakaan dengan hati yang berbunga-bunga, dan tiba-tiba Claire muncul di depannya, menanyakan hal yang sangat to the point.
Biasanya Gray sulit jujur saat ada orang yang bertanya soal ini. Namun kasus kali ini berbeda. Dengan Claire tahu bahwa ia suka Mary... mungkin Claire akan menyerah.
Gray menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengatasi wajah merahnya serta detak jantungnya yang tak beraturan. "Itu benar. Aku suka Mary. Karena itu... kau menyerahlah."
Disuruh menyerah oleh Gray, Claire tak sedikitpun menunjukkan wajah sedih. Ia memandang mata Gray dengan yakin, lalu tersenyum. "Aku tak akan menyerah. Kau bahkan belum pernah menyatakan perasaanmu padanya kan? Bagaimana jika kau ditolak? Bukankah itu berarti aku masih punya kesempatan?" tanya Claire. Sebuah pertanyaan retoris mungkin, karena ia hanya memiliki satu jawaban untuk pertanyaan itu. Dan itu membuat wajah Gray memerah karena kesal.
"Bukankah kau berlebihan? Bahkan sekalipun Mary menolakku, bukan berarti aku akan jadi menyukaimu. Aku bisa saja bersikap persisten sepertimu dan terus mengejarnya..."
Kata-kata Gray ini rupanya dipotong oleh sangkalan pendek Claire, "Tidak."
"Ha?"
"Kau tak akan bisa se-persisten aku."
"...?"
"Karena cintaku padamu sangat, sangat, sangat besar sampai-sampai aku bisa terus menyukaimu selama sembilan tahun!" ujar Claire gigih.
Gray menaikkan alisnya saat mendengar alasan gadis itu. Entah itu yang keberapa kalinya Gray mendengar kata suka dan cinta dari Claire. Sungguh, semudah itukah ia menyatakan kata-kata yang ditahannya selama setahun terakhir ini?
Semudah itu?
"Hah!" Gray mendengus sambil tersenyum sinis. "Hey, kau yakin perasaanmu itu cinta? Bukankah kau hanya terobsesi?"
Pertanyaan Gray membuat Claire terdiam. Dan Gray melihat itu sebagai kesempatan untuk menyerangnya lebih lanjut, "Seperti anak kecil yang menginginkan boneka beruang tapi tak kesampaian... ia akan terus mencarinya bahkan hingga ia dewasa. Meski sebenarnya ia tak begitu menginginkannya. Jadi berhentilah menyukaiku."
.
.
.
Claire masih terduduk diam di bangku dekat supermarket, beberapa meter dari perpustakaan tempat Gray meninggalkannya. Langit yang tadinya biru kini sudah mulai kemerahan, dan beberapa warga desa telah melewatinya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Sejak tadi ia memikirkan kata-kata Gray tentang perasaannya. Apakah ia benar hanya terobsesi pada Gray? Dan ini bukan cinta?
"Apa bedanya?" Claire tanpa sadar mengucapkan pikirannya. Dan secara kebetulan, Mary yang saat itu lewat di depannya mendengarnya.
"Ya?" Mary mendekatkan wajahnya pada Claire karena menyangka Claire sedang bicara padanya.
Sementara Claire yang sejak tadi melamun jadi bingung karena tiba-tiba rival cintanya itu ada tepat di depan wajahnya, "Eh?"
"Kau bertanya padaku 'apa bedanya'?" tanya Mary.
Wajah Claire memerah saat menyadari bahwa ia telah menyuarakan pikirannya. "Uhm... tidak. Maaf, aku ngomong sendiri."
Claire menduga Mary akan mentertawakan atau mengejeknya. Tapi tidak. Ia hanya tersenyum, lalu duduk di samping Claire.
"Kau suka desa ini?" sebuah pertanyaan yang sangat ramah dari Mary kepada pendatang baru seperti Claire.
"Yeah, aku suka," jawab Claire datar. Sebenarnya ia hanya tidak yakin harus bersikap seperti apa terhadap rival cintanya ini. Gadis ini tampak polos, clueless, dan... manis dari segala sisi. Lihat saja, meskipun Claire menjawab pertanyaan Mary dengan datar, senyuman di wajah gadis itu tetap merekah, lengkap dengan ucapan 'syukurlah' yang tulus. Bagaimana bisa Claire membenci rival yang seperti ini?
"Mary, apa ada orang yang kau sukai?"
"Eh?" pipi Mary memerah seketika Claire menanyakan pertanyaan kramat itu. "U-uhm... itu... mungkin ada,"
Hati Claire terasa sedikit sesak saat mendengar pengakuan Mary.
"Hehe, tapi maaf, aku tak bisa memberitahumu orangnya. Karena aku sendiri masih belum yakin pada perasaanku," lanjut Mary. Tangannya yang saling bertumpuk di pangkuannya tampak bergerak-gerak. Salah tingkah mungkin.
"Hu-um," Claire bergumam sambil berpikir. Mary tak yakin dengan perasaannya sendiri, dan orang yang disukainya itu mungkin saja Gray. "Kau tahu? Aku selalu yakin dengan perasaanku. Mungkin karena aku tipe orang yang spontan," kata Claire membuka pembicaraan. "Tapi sekarang aku tak tahu lagi... suka, cinta, obsesi... apa aku sudah salah definisi?" Claire bertanya sambil melihat wajah Mary dengan ekspresi minta tolong. Dan ekspresi itu rupanya membuat tawa kecil Mary pecah.
"Ahaha... Jadi itu yang sedang kau lamunkan," Mary merujuk pada pertanyaan Claire yang tak sengaja didengarnya tadi. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Claire. "Kupikir perasaan seperti itu tak perlu didefinisikan. Kenapa harus membedakan semuanya? Uhm... bagaimana kalau begini: Cintai apa yang suka, sampai kau terobsesi dengannya," cetus Mary, mengirimkan panah kesadaran ke otak Claire. Kini suka, cinta dan obsesi tak nampak berbeda di pikiran Claire. Semuanya sejalan. Hanya tingkatannya yang berbeda.
"Kau benar. Aku terobsesi pada orang yang kucintai. Tapi bukan berarti aku tak mencintainya, ya kan?"
Mary tersenyum. "Aku yakin begitu. Namun ada satu perbedaan terpenting," ia mengambil jeda untuk membetulkan letak kacamatanya. Lalu melanjutkan, "Cinta bisa melepaskan orang yang dicintainya untuk bahagia dengan yang lain. Sedangkan obsesi tidak."
Kali ini Claire hanya terdiam, berusaha menyerap kata-kata gadis perpustakaan itu baik-baik. Sedikit terpaku. Sedikit tertohok. Seolah ia sedang diingatkan bahwa ia bukanlah orang yang bisa membuat Gray bahagia.
Claire terkekeh, "hehe, kau memang rival ku."
"Ya?"
"Tidak..." katanya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum. Asalkan ia bisa membuat Gray bahagia, maka itu cukup. Ia tak perlu menyerahkan Gray pada Mary. "Entah kenapa aku menyukaimu dan tidak menyukaimu di saat yang sama," terang Claire.
Wajah Mary merah, lagi-lagi ia salting. "Eh? Kau membenciku? Maaf, apa aku..."
"Aku tidak membencimu, haha! Mungkin karena aku cemburu padamu," potong Claire.
"Cemburu?"
"Kau manis, baik dan pintar. Kuharap aku bisa sepertimu,"
"Eh?" wajah Mary semakin merona. Ia segera menggeleng keras-keras. "Tidak! Aku malah ingin sepertimu. Kau cantik, energik, pekerja keras, dan cepat akrab dengan siapa saja. Terimakasih karena selalu menyapaku dan datang ke perpustakaan!"
Claire tersenyum. Ah, bagaimana bisa Mary berkata begitu? Padahal ia hanya ke perpustakaan untuk melihat Gray. Dan bekerja keras demi Gray. Dunianya hanya berputar di sekeliling Gray, tanpa Gray peduli padanya. Sedangkan Mary... dia bisa mendapatkan Gray dengan mudahnya.
Selanjutnya mereka mengobrol cukup banyak. Tentang Mary yang sedang menulis novel, tentang Gray yang bilang ingin membaca novelnya jika sudah rampung, tentang buku-buku berkebun, tentang Harvest Goddess, tentang padang bunga di Mother's Hill, tentang Mary yang sesekali berpapasan dengan Gray di Mother's Hill.
Gray. Gray. Gray. Kenapa sering sekali namanya keluar dalam kegiatan Mary?
Ah, tentu...
Perasaan keduanya saling berbalas.
~000~
Siang yang biasa di Saibara's Blacksmith. Suara ketukan palu memantul dari dinding ruang kerja yang terletak di belakang counter toko, tanpa pemisah, sehingga orang yang masuk dapat langsung melihat proses kerja mereka. Gray mencelupkan sabit yang sudah jadi di sebuah bak berisi air, membuat suara mendesis akibat persentuhan panas besi dengan dinginnya air. Dengan itu maka berakhirlah pekerjaan Gray hari ini. Ia mengusap peluh dengan lengan kanannya ketika melihat kakeknya mendekat dengan membawa sebuah kapak. Pose yang menakutkan, sebenarnya. Dengan wajah sangarnya itu Saibara terlihat seolah hendak membunuh orang.
"Gray, antarkan ini pada petani baru fans mu itu. Siapa namanya? Uhm..."
"Claire. Kakek tak ingat? Dan apa maksudmu dia fans ku?" keluh Gray sambil meraih kapak itu. Ia merasa sudah cukup melihat Claire, mendengar nama Claire, dan ia benar-benar tak ingin mengucapkan nama Claire.
"Bukankah setiap hari dia datang hanya untuk melihatmu?" tanya Saibara sambil mengelus jenggot lebatnya.
"Dia juga menyapamu, kek," elak Gray. Ia lalu melepas baju kerja penuh keringatnya dan menggantinya dengan kaos oblong putihnya.
"Tidak semesra dia menyapamu: selamat pagi, senpaai! 3," Saibara menirukan cara Claire membuat bentuk hati dengan sepasang jari telunjuk dan ibu jari, dan meletakkannya di depan dadanya. Menurut Gray pose Saibara yang seperti itu jauh lebih mengerikan dari posenya sebelumnya - memegang kapak dengan gaya pembunuh.
Siapapun yang melihat pose Claire itu pasti tahu maksudnya. Untungnya Claire hanya melakukan itu di depan ia dan kakeknya. Gerakan yang berarti ia menyukai Gray.
"Hentikan Kek, gerakan itu sangat memalukan. Lagipula aku sudah menolaknya," ujar Gray jujur dengan kerutan di dahinya.
Berbeda dengan Gray, Saibara malah tertawa sambil mendengus. Sungguh hal yang jarang dilakukan orang tua sangar dan keras kepala itu. "Hahah! Anak itu luar biasa. Bisakah kau melakukan itu eh Gray? Super nekad."
"Mana bisa, memangnya aku bodoh?" Gray tak mau menggubris omongan kakeknya lebih lama dan melangkah menuju pintu dengan kapak di tangannya.
~000~
Krak!
Claire terkejut saat gagang palu yang digunakannya untuk menghancurkan bebatuan di kebunnya tiba-tiba patah. Di tengah perasaannya yang sedang patah, kejadian ini membuat otaknya panas. Rasa frustasi tiba-tiba menyergapnya. Claire menjatuhkan palunya, lalu berjongkok di tempatnya berdiri tadi. Membenamkan wajahnya pada kedua lututnya, berusaha mengubur pikiran-pikiran negatifnya.
Ia kemudian mengangkat wajahnya dan melihat kebunnya yang sebentar lagi memasuki masa panen. Pandangannya sedikit kabur. Mungkin karena sinar matahari siang ini sangat terik. Sudah dua minggu sejak Claire tiba di kota ini, dan kebunnya sudah dua kali panen. Sejauh ini bisa dibilang ia cukup berhasil dengan pekerjaan barunya sebagai petani. Awalnya memang tak mudah. Ia telah membeli banyak buku bercocok tanam, tapi kenyataannya bertani tak sekedar hanya mengikuti cara-cara yang ada di buku. Ia harus bertanya pada beberapa penduduk, terutama Rick, tentang keadaan tanah di sini dan cara menanganinya. Dan ia terus bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan uang dari lahan terbengkalai ini. Tapi rasanya tetap saja kosong. Dan tempatnya berpijak saat ini terasa mengambang...
"Claire?"
Hm?
Pandangannya sekarang benar-benar kabur. Dan di tengah kesadarannya yang tersisa, Claire melihat wajah khawatir pria yang selalu mengisi hatinya itu. Pria itu tampak menjatuhkan kapak ke tanah. Oh ya, kapak yang ia pesan ke Saibara beberapa hari lalu.
Gray.
Gray.
Gray...
"Kau tak apa?" tanya Gray sambil membantu Claire berdiri. Ketika menyentuh kulit Claire, ia bisa merasakan panas tubuh Claire.
"Senpai..." bisik Claire saat Gray meletakkan telapak tangannya di dahi Claire.
"Kau demam," kata Gray. Ia lalu memapah Claire masuk ke rumah kecil di pinggir lahan pertanian itu. Rumah yang Gray tahu dulunya penuh dengan sarang laba-laba, debu, dan perabot rusak, kini tampak rapi dan bersih. Barang-barang di rumah ini hanyalah sebuah rak buku, kalender, tempat tidur kecil, meja pendek bundar, dan peti kayu. Tak ada benda yang menandakan bahwa kamar ini adalah kamar cewek. Hal yang sulit dipercaya jika melihat kepribadian Claire yang ceria dan berisik. Rumah ini kecil dan sepi, hampir seperti kamar single milik kakeknya.
Gray membaringkan Claire di tempat tidur. Gadis itu langsung meringkuk dan menutup wajahnya dengan menggunakan lengan kirinya.
"Terimakasih..." ucap Claire tanpa melihat Gray. Gray dapat melihat rona merah di kedua pipi Claire yang terhalangi lengannya. Mungkin rona merah itu akibat demam... atau keberadaan Gray di sisinya.
"Perlu kuantar ke dokter?" Gray menawarkan bantuan karena tak tega melihat gadis itu.
Claire menggeleng. "Tidak usah... kau pergilah," usir Claire, membuat kedua alis Gray bertaut. Sulit dipercaya ia baru saja mendengar gadis yang selalu mengikutinya itu menyuruhnya pergi.
"Hah?"
Claire memposisikan tidurnya berbaring memunggungi Gray sehingga Gray tak dapat melihat wajahnya sama sekali. "Jantungku rasanya mau meledak kalau kau di sini..." kata Claire. Itu benar, ia sejak tadi menahan diri untuk tak melihat wajah Gray. Bagaimanapun, Gray baru saja menyentuhnya. Jika senyuman Gray mampu membuat jantung Claire berdetak cepat, apalagi sentuhannya?
Gray yang mendengar pengakuan Claire itu hanya bisa diam dengan wajah sedikit memerah. Bukannya pergi, ia malah duduk di lantai, bertopang dagu sambil menumpukan kedua sikunya pada meja makan bulat pendek di tengah ruangan itu.
"Hey, apa kau sebegitunya menyukaiku?" tanya Gray. Matanya memperhatikan kuping Claire yang terlihat merah dari belakang. Dan Claire, yang wajahnya saat ini super merah, hanya bisa merengek kesal. Pertanyaan macam apa itu? Bukankah sudah jelas?
"Pergilah... daripada demam, sekarang hatiku benar-benar sakit, tahu," kata Claire.
"Karena aku?" tanya Gray sok lugu.
Kesal, Claire akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. "Siapa lagi?" geram Claire sambil melotot pada Gray. Tapi dasar Claire, matanya bahkan tak kuat melihat wajah Gray lama-lama. Dalam tiga detik air matanya sudah menetes. Ia langsung kembali meringkuk ke tempat tidurnya, tak membiarkan air matanya terlihat lama oleh Gray.
"Tinggalkan aku. Aku sedang ingin merenung," pinta Claire dengan suara serak, jelas menahan tangis. Pria di sebelahnya hanya menghela napas lalu berjalan ke luar rumah. Mendengar pintu rumahnya tertutup kembali, air mata Claire menetes lagi. "Ya ampun, kenapa sekarang aku cengeng sekali sih..." bisik Claire pada dirinya sendiri.
Dulu ia tak begini. Dulu ia bahkan sulit mengeluarkan air mata meski hatinya sudah terlalu sesak. Tapi sekarang, begitu Gray ada di hadapannya, kelenjar air matanya seperti kehilangan katup. Mudah sekali bocor.
Namun Gray tak tahu apapun.
Makanya dia mengatakan hal seperti kemarin.
Ini juga bukan salahnya aku seperti ini.
Aku saja yang berlebihan mencintainya.
"Tentu saja... aku pun akan kabur kalau tiba-tiba ada cowok yang menyatakan cinta di hari pertama kita bertemu," gumam Claire. Ia menangis cukup lama, hingga ia merasa lelah dan memutuskan untuk mencuci wajahnya yang berantakan dengan air sungai. Begitu ia membuka pintu ia kaget karena melihat Gray sedang berlari kecil ke arahnya.
"Ini, minumlah," kata Gray sambil menyerahkan sebotol turbojolt. Karena Claire diam saja dan hanya terpaku, Gray menarik tangan Claire dan meletakkan botol itu di tangan Claire dengan paksa. "Kau tinggal sendirian, jadi jaga kesehatanmu."
Masih terpaku, Claire hanya bisa mengucapkan terimakasih dengan datar, "Trims..."
"Sama-sama. Aku pergi dulu," pamit Gray sambil melangkah pergi.
"Senpai, tunggu!"
Seperti saat pertemuan pertama mereka di Mineral Town, Claire menghentikan langkah Gray. Dan seperti saat itu juga, Gray berbalik dengan dahinya yang berkerut.
"Perasaanku padamu... itu benar cinta. Mungkin aku memang terobsesi, berlebihan dan menyusahkanmu, jadi maafkan aku!" ucap Claire sambil membungkukkan badannya 45 derajat. Ia lalu kembali mengangkat kepalanya dan menatap Gray dengan matanya yang masih merah karena menangis. "Tapi bolehkah aku terus menyukaimu? Karena kau... adalah energi kehidupanku!" seru Claire.
Wajah Gray memerah lagi. Dan ia menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya.
"Terserah," jawab Gray. Ia tak percaya betapa mudahnya gadis ini mengatakan hal-hal memalukan seperti itu. Dan seperti yang kakeknya bilang, tak mungkin itu mudah. Butuh keberanian dan kenekatan untuk bisa seperti itu.
Mungkin aku harus sedikit memujinya untuk itu...
"Yeay! Lalu perlahan-lahan aku akan merebutmu dari Mary!" Claire melanjutkan ultimatumnya dengan semangat. Tapi karena kepalanya masih sakit, ia segera oleng dan bersandar pada kusen pintu.
... tidak.
Ya, tidak. Gadis ini terlalu hectic untukku.
~000~
Bersambung...
A/N:
Terimakasih atas review dan favorit nya :3
Ainagihara: Wah, syukurlaah Claire dibilang fantastis hehe. Pasti dilanjut kok :3
Monica: Kyah, terimakasih! Semangat!
Maaf karena updatenya sangat lama. Akhir2 ini RL membuatku tak seaktif beberapa bulan lalu dalam menulis. But don't worry... I'll keep writing ;)
See ya!
