Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. Fanfic ini iseng ditulis oleh seseorang yang kekurangan asupan fangirling; tidak ada keuntungan apapun selain hiburan semata dari penulisan fanfic ini.
Warning: BL AU. Tiga serangkai—er, threeshot maksudnya. Bisa disebut juga 'Dengarkan Curhatku!' ~ Obito ver. /plak Sequel dari Laundry Day, entri #6 dari seri TsunDeidara in Action. Big pukpuk lagi buat Itachi. Enjoy?
oOo
#2| Hopelessly Heartbroken
oOo
Obito Uchiha; satu nama yang dikenali Itachi sebagai salah seorang saudara sepupunya. Juga teman akrab Kakashi Hatake, seorang guru yang mengajar di sekolah tempat Sasuke belajar. Di mata Itachi, Obito adalah anomali. Sampai sekarang, hanya Obito seorang Uchiha yang bisa berceloteh dengan kecepatan cahaya soalnya. Itachi merasa ia seperti tuli sejenak kalau sepupunya ini mula mengoceh.
Sama seperti yang sedang kejadian saat ini.
Hanya untuk melanjutkan sesi 'curhatan' pagi tadi, si Uchiha yang kini tinggal di kota sebelah itu rela kembali ke Konoha dan menginap di rumah Kakashi. Mereka janjian pukul sepuluh; Itachi sampai pukul sepuluh tepat, Obito sampai satu jam lebih dulu daripada Itachi. Untung saja dia tidak ditendang keluar. Itachi tahu betul Nagato tidak suka melihat seseorang berhawa-hawa suram mengganggu kenyamanan pelanggan tokonya.
Setelah bertukar sapa dengan pegawai Akatsuki Café and Bakery lain dan memesan sarapan-menuju-makan siang ("Teh hijau dan tiga porsi pancake sirup maple, tolong," pinta Itachi yang masih tersengal-sengal saat memesan. Berlari dari gedung fakultas untuk konsultasi dengan dosen pembimbing untuk sampai ke tempat kerja paruh waktunya ternyata melelahkan. Konan mendengus geli melihat penampilannya), Itachi duduk di hadapan Obito—yang masih bermuram durja di kursi paling pojokan. Untunglah makhluk satu ini sensitif dengan lingkungan sekitar dan memilih tidak duduk dekat pintu masuk. Selamat, selamat.
"Jadi, udah baikan belum?"
Gelengan lemas. Obito kelihatan tidak berdaya. Mau tak mau, kesal tak kesal, Itachi mengasihaninya dari lubuk terdalam.
"Pesanan untuk Itachi!"
Suara Yahiko barusan membuat fokus Itachi teralih. Alisnya bertautan. Seharusnya Yahiko tidak ada shift pada Senin pagi. "Gantiin siapa, Yahiko?" tanya Itachi heran sambil menerima teh hijau dan pancake porsi ekstra pesanannya. Garpu dan pisau disiapkan untuk menyantap tumpukan pancake yang terlihat menggiurkan. Mengesampingkan penampilan si pembuat, pancake berselimut sirup maple ini memang banyak digemari mereka yang telat sarapan.
"Yah, si penggemar daun tua—ehem, maksudku Deidara," jawab Yahiko kaku, merasa ada seseorang yang melemparkan pandangan tajam ke arah punggungnya. Nagato, mungkin saja. Deidara sedang tidak ada di tempat soalnya. Selesai menelan satu irisan besar pancake, Itachi lanjut bertanya kemana si pirang itu pergi.
Tanpa menyadari Obito yang mulai terlihat mengalami serangan jantung di depannya.
Yahiko yang pertama sadar. Jelas saja ia panik, langsung menyadarkan Itachi kalau tamunya terlihat seperti harus dibawa ke ICU terdekat. Itachi sudah bersiap untuk memanggil ambulans ketika Obito angkat tangan, mencegah tindakan tersebut, dan terlihat lebih baik daripada beberapa menit yang lalu. Namun tetap saja, wajahnya pucat dan keringatnya mengucur deras.
Predikatnya Obito sebenarnya sepupu, paman, atau malah kakek, itu masih jadi misteri tersendiri bagi Itachi.
"Er, yakin enggak apa-apa?" tanya Yahiko, masih belum yakin akan kebenaran ucapan Obito kalau ia tidak apa-apa sekarang. Obito mengangguk pasti. Yahiko masih garuk leher, belum sepenuhnya yakin. Melihat isyarat Itachi untuk meninggalkan mereka, si empunya rambut oranye itu angkat bahu dan melangkah pergi. Khawatir sih khawatir, tetapi kalau sudah menyangkut kehidupan keluarga orang lain begini…
.
"Bisa kasih tau kenapa tadi mendadak kayak kena serangan jantung begitu?" Itachi memulai interogasi, setelah menghabiskan sarapan-setengah-makan-siangnya dan tengah menikmati teh hijau buatan Kisame (iya, dia yang berperan membuat aneka roti, kue, dan minuman yang ada di sini. Tidak percaya? Silakan mampir ke dapur. Usahakan jangan berteriak melihat penampilannya, ya).
Obito menghela napas panjang. Itachi menyipitkan mata. Apa itu rona merah super tipis yang kini menghiasi pipinya?
"Karena tadi temanmu nyebutin nama itu…"
Itachi menunggu kelanjutannya.
"…nama 'Deidara', si pirang yang dari kemarin enggak mau minggat dari pikiranku."
Dan bersyukur sedang tidak meminum tehnya. Ucapan Obito barusan berpotensi membuat Sasuke—adiknya yang alergi ke-lebay-an—gatal-gatal di tempat dan Itachi merinding disko.
Ada apa sebenarnya dengan Deidara dan mereka yang sudah bisa dianggap sebagai oyaji akhir-akhir ini?
Batuk-batuk kecil dulu, baru, "Jadi, kemarin yang narik perhatianmu itu—" Jeda, biarkan Itachi menyiapkan mental menghadapi kenyataan lumayan pahit ini, "—Deidara?"
Anggukan lemah.
Bahu Itachi jatuh, kepalanya tertunduk lemas.
Pupus sudah harapannya menyelamatkan Obito dari jurang patah hati untuk kedua kalinya.
Hanya karena yang disukai Obito selalu sudah jatuh hati terlebih dahulu pada orang lain, pembaca sekalian. Harus bagaimana kiranya menyampaikan kabar duka ini agar yang bersangkutan tidak kembali bermuram durja dan berakhir menjadi hikikomori selama beberapa bulan ke depan…
.
.
[to be continued]
Pojok Bacotan Arwah Gentayangan:
Dua kata: ini pendek. Anti-klimaks pula. Lanjut ke chapter berikutnya aja, minna-san. /kuburdiri
DAN MAKASIH YANG UDAH REVIEW KILAT ASDFGHJKL /terlalubahagia
