Ms. Byun,
Terima kasih atas permohonan anda berkenaan dengan kehadiran Park Chanyeol beserta semua anggota team di rumah sakit anda. Organisasi kami telah menerima ribuan surat permohonan sejenis setiap tahunnya, dan sayangnya Mr. Park tidak bisa memenuhi setiap permohonan tersebut. Mohon maaf, saat ini beliau sedang sibuk.
Salam hormat,
Hwang Kihoon
Humas, Organisasi Football Seoul
Bagus.
Ini menjadikan penolakan kelima dari Park Chanyeol yang sukar didekati. Anak-anakku akan merasa kecewa lagi.
Kusingkirkan email itu dari layar ponselku dan melemparkan ponsel kedalam tas tanganku, menaiki mobil dan berkendara menuju Twin Burgers, tempat favoritku untuk memanjakan diriku dengan burger besar dan nikmat serta kentang goreng.
Aku berdiri di paling belakang pada antrian dan merenungkan surat penolakan terbaru dari tim football profesional. Aku adalah seorang perawat di Rumah Sakit Anak Seoul, dan para pasienku tak lebih dari hanya ingin bertemu dengan para pahlawan olahraga mereka. Kupikir selebritis memiliki jadwal sesi foto seperti ini. Yang kuminta hanya beberapa jam, mereka tidak perlu sampai bermalam demi Tuhan.
Aku melirik kearah kananku, dan duduk tepat di tengah restoran mungil tidak lain dan tidak bukan sahabat semasa kuliahku, Zitao, dan kakaknya, Park Bajingan Chanyeol.
Sialan!
Aku sangat menyukai Zitao. Dia, Luhan, dan aku adalah teman baik saat kuliah, jadi sudah pasti aku akan menyapanya. Aku hanya berharap selama proses itu berlangsung tidak perlu berbicara dengan kakaknya yang arogan luar biasa.
Aku memesan makananku kemudian berjalan mendekati temanku.
"Zitao?" tanyaku, tanganku berada di bahunya.
"Baekhyun!" Dia langsung terlonjak dan menarikku kedalam pelukan yang hangat. "Oh Tuhanku, aku tidak bertemu denganmu tahunan! Apa kabarmu?"
Aku melirik gugup pada Chanyeol. "Aku baik-baik saja, terima kasih. Senang bertemu denganmu." Dia terlihat mengagumkan, seperti biasa, namun matanya terlihat sedikit sedih. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi…
"Chanyeol, ini adalah Byun Baekhyun, teman kuliahku. Baekhyun, ini adalah kakakku, Chanyeol."
Chanyeol berdiri, sosok tingginya menjulang diatasku, dan dia mengulurkan tangannya. Sial, apakah aku harus menyentuhnya? Menggali cukup dalam, akhirnya aku menemukan tata kramaku dan menjabat tangannya dengan sopan.
"Aku tahu siapa Anda."
Dia hanya mengangguk dan duduk kembali.
"Apa yang kau kerjakan sekarang?" Zitao bertanya padaku.
"Aku perawat yang bertugas di Rumah Sakit Anak Seoul unit kanker." Aku menyeringai ke Zitao, amat peka terhadap tatapan mata Chanyeol padaku, menjalari tubuhku naik turun, pada blus putih longgarku yang dipadankan dengan ikat pinggang dan legging hitam serta sepatu kets merahku. Dia membuatku gugup.
"Itu hebat! Bagus buatmu, girl. Apakah kau masih menyanyi?" Zitao bertanya dengan sebuah senyuman.
"Uh, tidak." aku menggelengkan kepala dan merundukkan tatapanku ke meja. "Tidak sejak kuliah."
"Kau menyanyi?" Chanyeol bertanya, alis matanya naik.
"Dia memiliki suara yang fantastis," Zitao menjawab dengan bangga. Dia selalu sangat manis dan suportif.
"Terima kasih, tapi kau tahulah bagaimana," aku menjawab sambil mengendikkan bahu. "Kehidupan mengambil alih dan keadaan menjadi sibuk." Dan sahabat terbaik meninggalkanmu untuk memulai grup band sendiri.
Chanyeol dan Zitao bertukar pandangan, dan tiba-tiba Zitao menghantamku dengan, "Apakah kau sudah menikah?"
Aku meletuskan tawa kencang. "Tentu saja tidak."
"Bolehkah aku meminta nomor teleponmu?" Chanyeol bertanya blak-blakan. Bajingan arogan. Aku berani bertaruh wanita jatuh cinta padanya kemanapun dia pergi.
Kupicingkan mataku, tidak mampu menyembunyikan ketidaksukaanku pada pria ini. "Jangan harap."
Rahang Chanyeol terbuka dan dia menyeringai, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Maaf, apa?"
"Kupikir aku tidak gagap, jawabanku jelas" jawabku, lalu menaruh tanganku di bahu Zitao dan memaksakan sebuah senyuman untuk temanku. "Senang berjumpa denganmu. Jaga dirimu, girl."
"Kau juga, Baekhyun."
Saat aku berbalik dan melangkah menjauh kudengar Chanyeol bergumam, "Apakah maksud semuanya tadi?"
Dasar brengsek!
Kuambil kantung cokelat yang berisi burger dan kentang gorengku dan mengarah keluar restoran untuk pulang ke rumah serta menikmati satu-satunya malam liburku di minggu ini. Aku berdoa semoga aku tidak mendapat panggilan pekerjaan mendadak.
.
ooOoo
.
"Untuk Yifan dan Zitao," Oh Sehun mengangkat gelas berisi sampanye miliknya ke atas dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain tetap berada di tubuh istrinya yang cantik, Luhan. Semua orang mengikutinya, bersulang untuk pasangan yang sedang berbahagia itu. "Semoga cinta kalian bisa terus tumbuh. Kami tidak mengharapkan apapun selain kebahagiaan kalian berdua di dunia."
"Untuk Yifan dan Zitao!" Para tamu sepakat untuk meneriakkan kata-kata tersebut dan kemudian menyesap minuman mereka untuk merayakan waktu yang indah ini. Park Yifan yang bertubuh tinggi dan memiliki rambut berwarna gelap, sekarang sedang membungkus tunangannya yang berambut pirang dan luar biasa mempesona itu dengan kedua lengannya dan kemudian menciumnya dengan sangat intens, tanpa memperdulikan kami semua yang berada di sekitarnya, dan tindakannya itu mendapatkan siulan serta tepuk tangan dari kami semua. Park Chanyeol, salah satu saudara laki-laki Zitao, berteriak, "Carilah ruangan yang kosong!"
Aku menyesap sampanye manis milikku yang berwarna pink dan memperhatikan sekitarku. Aku berada di dalam ruangan Olympic, salah satu ruangan yang sangat luar biasa, yang dimiliki oleh hotel Edgewater. Untuk ke seratus kalinya, aku menanyakan hal ini pada diriku sendiri, apa yang kulakukan di sini. Aku sempat terkejut saat menerima undangan untuk datang ke acara pesta pertunangan Zitao. Zitao, Luhan dan aku dulu sering berjalan bersama-sama pada saat kami bertiga berada di kampus, dan aku sangat senang karena bisa bertemu dengan mereka lagi beberapa bulan yang lalu, tapi aku sama sekali tidak mengharapkan sebuah undangan untuk berkumpul dengan keluarga dan teman dekat mereka.
Sialan, dan aku sekarang berada di ruangan yang sama dengan Oh Sehun. Bintang film itu.
Ruangan ini didekorasi dengan warna biru tiffany yang dipadukan dengan warna putih. Ditambah buket-buket bunga warna putih yang berada di atas tiap-tiap meja, dengan taplak meja berwarna putih yang terbuat dari kain linen serta serbet yang berwarna biru tiffany. Ditambah sentuhan disana sini. Sehingga membuat ruangan ini tampak luar biasa indah.
Benar-benar cocok dengan kepribadian Zitao.
Ini adalah salah satu malam di musim panas yang akan segera berakhir, dan di luar masih belum terlalu gelap, jadi kami bisa melihat pemandangan kolam renang yang luar biasa dari sini, langit baru saja berubah warnanya menjadi pink dan oranye, dan warna itu tercermin di atas permukaan air yang ada. Pintu ruangan yang terbuat dari kaca dibiarkan terbuka lebar sehingga para tamu bisa bebas keluar masuk sesuai keinginan mereka, untuk menikmati pemandangan musim panas yang akan segera berakhir ini dari beranda, atau tetap berada di dalam ruangan untuk berdansa.
"Baekhyun, aku sangat senang karena kau bisa datang." Luhan menepuk pundakku dan menarikku ke dalam sebuah pelukan akrab. "Aku sangat merindukanmu, girl."
"Aku juga," Aku memberikan respon. Sambil menahan dia agar tetap berada di depanku, aku sedikit menarik tubuhku ke belakang untuk mengagumi wanita cantik yang ada di depanku ini. "Kau benar-benar fantastis. Menikah dan menjadi seorang ibu sangat cocok untuk dirimu, teman."
Dan itu memang benar. Mata bulat Luhan bersinar karena kebahagiaan dan rasa puas, rambut berwarna coklat-kemerahan gelap miliknya sekarang ditarik ke belakang dan sedikit bergelombang, dan dia mengenakan sebuah gaun tanpa lengan berwarna hitam yang fantastis.
"Terima kasih. Aku suka gaunmu. Gayamu sama sekali tidak pernah berubah." Dia memberikan respon dengan sebuah senyuman. Aku melihat ke bawah, ke arah gaun warna perak pucat dengan model handkerchief hemline dan tanpa tali bahu yang sedang kukenakan saat ini, kemudian beralih ke sandal bertali warna perak yang kukenakan pada kakiku.
"Tidak ada banyak perubahan," Aku merespon kata-katanya sambil mengangkat bahu.
"Kecuali rambutmu, seperti biasanya," Luhan tertawa, menunjuk ke arah rambutku yang berwarna merah-kecoklatan yang diberi corak pada beberapa bagian rambut dengan warna pirang, dan kami berdua tetawa kecil bersama-sama.
"Rambutku selalu berubah, dan menurutku ini sedikit membosankan. Tapi anak-anak menyukainya, dan well, kau tahu... sekali menjadi gadis rocker, maka selamanya kita akan menjadi gadis rocker."
"Kau tahu," Luhan tersenyum puas. "Aku masih punya foto-foto dirimu yang bersama dengan gitarmu saja, tanpa busana dan hiasan yang lain, yang pernah kita lakukan dulu."
"Ya Tuhan," Aku tertawa karena mengingat memori beberapa tahun yang lalu itu, saat aku bermain-main di studio kecil milik Luhan pada saat kami masih kuliah. "Kau mungkin ingin membakar foto-foto itu."
"Tidak, aku hanya berpikir kalau kita sebaiknya mengambil foto seperti itu sekali lagi. Dulu kau tidak memiliki itu," dia menunjuk ke sisi bagian dalam lenganku dan aku mengikuti pandangannya ke arah tato yang ada di bagian dalam sisi lenganku sebelah atas.
"Mungkin suatu saat nanti."
"Jadi..." dia hendak memulai pembicaraan saat suaminya memotong kalimatnya. "Oh, Baekhyun, ini suamiku, Sehun. Sehun, aku akan memperkenalkanmu pada teman lamaku dan Zitao, Byun Baekhyun."
"Halo, Baekhyun, senang bertemu denganmu." Dia menawarkan tangan kanannya dan aku merasa pipiku sedikit merona sebelum aku bisa merespon, meletakkan tanganku pada tangannya untuk bersalaman. Namun ternyata dia mengangkat tanganku dan mencium punggung tanganku.
"Um, senang berjumpa denganmu, Sehun."
Dia memberiku sebuah senyuman bintang filmnya, senyum yang biasanya terpampang di cover majalah yang terbit di negara ini, dan kemudian dia berpamitan pada kami saat Yunho, salah satu kakak laki-laki Zitao, memanggilnya.
"Um, Luhan?"
"Ya," Dia memjawabku dengan desahan puas.
"Kau menikah dengan Oh Sehun."
Dia tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Sialan, bagaimana itu bisa terjadi?"
"Cerita yang panjang. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu dengan ditemani anggur suatu saat nanti."
"Aku menunggu saat itu terjadi."
"Disana kau rupanya!" Zitao berteriak dan merangkulku dengan salah satu lengannya dan lengannya satu lagi merangkul Luhan dan membentuk sebuah pelukan kelompok.
"Baekhyun, aku senang kau datang kemari!"
"Aku tidak akan melewatkan ini. Meskipun aku terkejut saat mendapatkan undangan itu."
"Kau adalah temanku. Aku ingin kau berada disini." Zitao tersenyum dan mencari-cari sesuatu di dalam ruangan, dan akhirnya dia berhenti mencari setelah matanya menemukan prianya.
"Dia sangat tampan, Zitao. Dan benar-benar jatuh cinta padamu." Aku berbisik saat mengikuti pandangan matanya.
"Ya. Begitu pula diriku."
"Aku ikut berbahagia akan dirimu." Aku menyesap sampanye manis milikku sedikit lebih banyak.
"Terima kasih." Senyumnya terlihat lebar dan begitu bahagia, dan itu benar, aku berbahagia karena dia dapat menemukan prianya. Mereka berdua tampak sangat serasi.
"Kapan kita akan makan?" Chanyeol bertanya dari meja yang tidak terlalu jauh dari kami. Sejak tadi aku mencoba sekuat tenaga untuk mengabaikan kehadiran Park Chanyeol, yang dikenal sebagai seorang quarterback football, dan dikenal juga sebagai si brengsek yang arogan. Aku berusaha untuk menjauh dari dirinya dan menghindari percakapan dengannya, tapi aku merasa kalau matanya terus memandangiku malam ini, dan aku tidak mengerti. Aku yakin bahwa diriku bukanlah tipe wanita yang dia sukai, dan bukan rahasia lagi kalau aku juga tidak tertarik pada dirinya.
"Makanan sudah siap untuk disajikan, nona." Seorang wanita berambut pirang keriting yang cantik berjalan menuju ke arah Zitao dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. "Makan malam sudah siap kapanpun kau menginginkannya."
"Sempurna, terima kasih, Jess. Pastikan kau dan asistenmu juga makan."
"Oh, akan kami lakukan." Jessica tertawa dan berjalan menjauh, memeriksa sesuatu di dalam iPad miliknya.
"Ya Tuhan, aku sangat suka pada wanita itu." Zitao mengambil nafas dan meluruskan tangannya ke bawah sejajar dengan gaun tanpa tali bahu yang berwarna merah dan terbuat dari kain sutra tipis yang sedikit mengembang di bagian bawahnya.
"Dia memang luar biasa." Luhan menyetujuinya.
"Siapa dia?" Aku bertanya.
"Perencana pesta," Zitao menjawab pertanyaanku. "Aku menemukan dia saat aku menjadi tuan rumah dalam acara baby shower Luhan beberapa bulan yang lalu. Dia juga orang yang mengurus pernikahan. Benar-benar seorang wanita yang jenius."
"Sialan, dia adalah pahlawanku." Chanyeol mengomentari dan mengikuti kemana Jessica berjalan. "Aku benar-benar kelaparan."
"Kau memang selalu kelaparan!" Zitao berteriak di belakangnya dan tertawa.
.
ooOoo
.
Bagaimana mungkin akhirnya aku berada di meja Chanyeol dan ini merupakan sebuah misteri bagi diriku. Faktanya sekarang adalah, aku duduk dengan semua kakak laki-laki Zitao yang luar biasa tampan, seorang wanita manis yang bernama Jaejong, dan saudara ipar Zitao, Kyungsoo, yang juga sangat menarik dan sedang hamil tua. Benar-benar tua sehingga bisa melahirkan kapan saja.
Semua orang tertawa, bercanda satu sama lain, dan mereka semua tampak luar biasa.
Kenapa aku tidak membawa pasangan pada saat datang kemari?
Menyedihkan.
"Jadi, Baekhyun, apa pekerjaanmu saat ini?" Kakak Zitao yang bernama Jongdae bertanya padaku.
"Aku adalah perawat yang bertugas di Rumah Sakit Anak Seoul."
"Di departemen apa?" Dia bertanya lagi sambil memotong steak yang ada di piringnya.
"Aku bertanggung jawab untuk merawat para remaja yang menderita kanker." Aku menggigit kentang panggang dan kemudian menyesap anggurku. Aku mungkin memerlukan lebih banyak anggur untuk saat ini.
"Berapa lama kau bekerja disana?" dia bertanya lagi dan aku sempat melihat bahwa raut wajah Chanyeol menjadi muram. Apa yang terjadi pada dirinya?
"Aku sudah menjadi perawat sekitar enam tahun, dan dua tahun dalam posisiku saat ini."
Kakak sulung Tao, Joonmyeon mengisi gelas anggurku dan memberikan senyuman manis pada diriku, yang membuatku membalas senyumannya.
"Kau masih muda tapi sudah memiliki pekerjaan yang begitu penting." Chanyeol berkomentar, tapi aku memutar kedua bola mataku dan mengabaikannya, yang menghasilkan sebuah pandangan tajam dari dirinya sekali lagi.
"Jadi, kalau Kyungsoo tiba-tiba saja harus melahirkan, kau akan menyelamatkan kami semua." adik termuda Tao mengatakan itu dan kami semua tertawa bersama-sama.
"Tidak, aku bukan seorang perawat yang bisa mengangani persalinan. Tapi aku bisa menelpon ambulans." Aku memberikan respon.
Kyungsoo menyentuh perutnya dan kemudian tersenyum. "Tidak masalah, guys, kita masih punya waktu satu bulan sebelum aku benar-benar akan melahirkan."
Jongin mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi istrinya dan membisikkan sesuatu di telinganya, membuat Kyungsoo tersenyum.
Para pria ini benar-benar mempesona. Zitao dan keluarganya adalah kolam genetika yang hebat.
Joonmyeon menuangkan segelas anggur untukku sekali lagi dan aku segera menyesapnya, mendorong piringku ke arah samping. Lagipula aku sekarang terlalu gugup untuk bisa makan.
Di tengah-tengah percakapanku dengan Kyungsoo, aku menyadari bahwa kepalaku mulai sedikit pusing, jadi aku minta ijin untuk meninggalkan mereka sebentar, untuk pergi ke kamar mandi dan meletakkan kain dingin di dahiku serta memperbaiki lip glossku.
"Baekhyun, tunggu sebentar."
Sial.
Aku mencoba untuk mendahului dia masuk ke dalam kamar mandi wanita, tapi Chanyeol mengikutiku masuk ke dalam dan mengunci pintunya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Aku bertanya padanya dengan alis mata terangkat.
"Kelihatannya kau sama sekali tidak menyukai diriku. Iya kan?" Dia menyandarkan tubuhnya yang tinggi, sekitar dua meter, ke arah pintu kamar mandi dan menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya. Dia sudah melepaskan jaketnya sejak tadi, dan sekarang dia hanya mengenakan kemeja warna pink - pink? - yang ternyata membuatnya tampak seksi, tidak mengenakan dasi, serta celana panjang dari kain yang berwarna hitam. Lengan kemejanya digulung ke atas, menunjukkan otot-otot lengannya yang indah. Rambutnya yang berwarna pirang gelap sudah terlalu panjang dan sedikit berantakan, dan matanya itu menjelajahi tubuhku dari atas ke bawah, sebelum akhirnya berhenti untuk menatap mataku.
"Aku tidak mengenalmu dengan cukup baik untuk bisa mengatakan bahwa aku menyukaimu atau tidak."
"Aku rasa itu omong kosong." Dia mengatakannya dengan tenang.
"Bukan masalah untukku." Aku mengangkat bahu dan memutar tubuhku menghadap wastafel untuk mencuci tangan dan memperbaiki lip glossku, sedangkan mata Chanyeol tidak pernah beralih dari diriku.
"Apa?" Aku bertanya dan memutar tubuhku.
"Kenapa tidak kau katakan padaku apa yang membuatmu begitu marah padaku sehingga kau bisa menyukaiku?"
Aku tertawa terbahak-bahak, membuat dia memandangku dengan tatapan muram, dan itu semakin membuatku tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar-benar si brengsek yang luar biasa arogan ya?"
"Tidak, aku tidak seperti itu." Dia benar-benar serius, tidak merasa bahwa situasi ini adalah situasi yang menggelikan.
"Ya, kau memang seperti itu. Dan aku tidak ingin membuat kau menyukaiku."
Dia mengangkat bahu seakan-akan apa yang kuinginkan ini tidak akan berakibat apapun padanya. "Aku bukan orang yang brengsek, Baekhyun. Apa yang kulakukan sehingga membuatmu tidak menyukai aku sama sekali?"
Aku berhenti tertawa dan membersihkan tenggorokanku, mengambil sedikit waktu untuk diam dan hanya memandang pada dirinya. Dia kelihatan benar-benar tulus.
Tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan wajah-wajah kecewa para pasienku saat itu.
"Itu tidak masalah." Aku mengulanginya.
Chanyeol mendorong dirinya dari tempat bersandarnya dan berjalan ke arahku, mengurungku, aku berada di antara kedua lengannya dan meja kamar mandi, hidungnya hanya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter dari hidungku.
"Itu tidak masalah." Dia berbisik.
"Kenapa?" Jantungku mulai berdegup lebih cepat dan oh, Tuhan, aromanya benar-benar nikmat. Aku menyalahkan kepalaku yang sedang pusing karena berlebihan minum anggur dan hanya sedikit mengkonsumsi makanan.
"Aku perlu kau mengatakan padaku apa yang telah kulakukan sehingga kau begitu marah pada diriku, sehingga aku bisa minta maaf padamu." Dia bergerak sedikit menjauh, dan matanya menjelajahi tubuhku. Aku bisa merasakan panas yang terpancar dari matanya dan aku merasa kulitku menjadi hangat karena tatapan matanya itu. Pandangannya kembali ke wajahku dan dia membuatku membeku dengan matanya itu. "Kau kelihatan hebat dengan gaun kecil ini dan sepatu hak tinggi itu. Dan rambutmu yang berwarna merah-kecoklatan itu bergelombang dan tampak sedikit acak-acakan di wajahmu yang manis."
"Um..." Apa pertanyaannya tadi?
"Katakan padaku." Dia bersikeras.
"Katakan padamu soal apa?" Aku berbisik padanya.
Dia tersenyum dan membalasku dengan suara berbisik. "Apa yang telah membuatmu begitu marah padaku, Baekhyun."
"Aku berulang kali mengirim pesan pada orang-orang di bagian hubungan masyarakat selama dua tahun terakhir ini untuk memintamu dan anggota tim yang lain datang dan menemui anak-anakku. Setiap permintaanku selalu ditolak, mengatakan bahwa dirimu tidak tertarik untuk melakukannya."
Dia mengerutkan dahinya dan perlahan menggoyangkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak pernah menerima permintaan untuk mengunjungi anak-anakmu itu dari bagian hubungan masyarakat."
"Ya, benar." Aku memberikan respon sarkastik dan mencoba menarik diri sehingga aku tidak bisa mencium aroma tubuhnya. Aromanya itu benar-benar mengakibatkan sesuatu pada diriku.
Aku ingin menjilati lehernya.
"Aku tidak berbohong. Mereka yang menyaring semua permintaan yang masuk untukku. Dan permintaanmu itu tidak pernah sampai pada diriku."
Oh.
Well, sialan.
"Kenapa kau tidak meminta Zitao mengatakan hal tersebut pada diriku? Atau kau bisa meminta nomor teleponku darinya?"
"Ya, benar." Aku mendengus. "Pertama, dia adalah temanku dan aku tidak ingin menggunakan dia untuk hal-hal seperti ini, dan kedua, kenapa aku menelponmu? Aku bahkan tidak mengenalmu."
Chanyeol tersenyum lembut dan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahku, menyentuh dahiku dengan ujung jari telunjuknya, membuatku melihat ke dalam matanya. Dia begitu tinggi, menjulang tinggi di depanku, tapi tubuhnya sekarang sedikit membungkuk ke arahku. Matanya yang berwarna hitam kecoklatan itu memperhatikan aku yang sedang menjilati bibirku, kemudian saat aku mulai menggigit bibir bawahku, dia menarik nafas dengan cepat dan memaku mata gelapku dengan pandangannya.
Tangannya dengan ringan bergerak untuk menyentuh rahangku, sedang tangan yang lain bergerak untuk mengembalikan rambutku ke belakang bahuku, dan aku tersesat dalam matanya. Aku tidak bisa bergerak. Seharusnya aku mendorongnya menjauh. Aku tidak melakukan hal seperti ini. Aku tidak pernah membiarkan orang asing menyentuhku di kamar mandi umum pada saat semua anggota keluarganya berada diluar, duduk dan berbincang-bincang, tertawa dan makan bersama-sama.
Tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari matanya.
Dia menurunkan wajahnya sejajar dengan wajahku, menyentuh bibirku dengan sangat lembut, tersenyum pada diriku dengan cara khas miliknya yang sudah sangat terkenal itu, kemudian dia tenggelam di dalamku, mengubur tangannya di dalam rambutku, menahan wajahku, sehingga dia bisa menggerakkan mulutnya untuk menikmati mulutku.
Sialan, dia sangat hebat dalam hal berciuman. Bibirnya begitu lembut, namun kuat, kombinasi yang memberikan rasa sempurna untuk diriku. Bibir itu bergerak dengan presisi dan mengerti tujuannya, melintasi bibirku dan kemudian kembali lagi. Aku mengerang dan membungkuskan lenganku di sekitar pinggangnya, bersandar pada dirinya, dan Chanyeol menggeram padaku dan tiba-tiba saja ciuman itu berubah dari yang tadinya menginginkan, sekarang menjadi memerlukan. Lidahnya masuk ke dalam mulutku, berputar-putar dan berdansa dengan lidahku. Aku meraih ke atas, mengalungkan kedua lenganku di lehernya dan menggenggam rambutnya yang luar biasa itu dan secara naluri, aku bergelantung pada dirinya, berusaha memanjat agar wajahku semakin dekat dengannya.
Akhirnya, dia membantuku dengan menangkup kedua pantatku dan mengangkatku. Kedua kakiku melingkari pinggangnya, dan sebelum aku menyadarinya, punggungku sudah berada di dinding, tubuh Chanyeol condong ke arahku, membuat aku berada dalam posisi yang nyaman, namun mulutnya tetap berada di dalam mulutku.
Pria ini benar-benar bisa berciuman. Sialan.
"Ya Tuhan, kau begitu manis," dia berbisik. Sambil terus menggigit dan mencium, mulutnya bergerak ke daerah rahangku, perlahan bergerak ke daun telingaku dan turun ke arah leherku. "Kita berdua akan bersenang-senang, baby."
Baby? Dan ketika itu juga aku seperti disiram air dingin satu ember penuh, aku kembali ke akal sehatku. Aku benar-benar akan melakukannya di dalam kamar mandi umum -ew!- dengan Park Chanyeol.
Tidak!
"Hentikan," Suaraku terdengar kuat dan meminta.
.
ooOoo
.
"Kau tidak ingin aku berhenti."
Ia mendorong panggulnya pada bagian tengah tubuhku dan aku menggigit bibirku untuk menghentikan eranganku yang akan keluar dari tenggorokanku.
"Kubilang berhenti, Chanyeol."
Ia menjauhkan tubuhnya dan menatap langsung ke mataku, terengah, matanya menyipit. Ia menggelengkan kepalanya seakan sedang menjernihkannya dan perlahan menurunkan tubuhku ke lantai. Lututku hampir menyerah di bawahku, dan ia menyeimbangkanku, tangannya berada di bahuku.
"Ada apa?" tanya Chanyeol.
"Aku tidak akan pernah melakukan ini denganmu. Selamanya."
Dia melangkah mundur, menjalarkan tangannya yang luar bisa melalui rambutnya, menarik napas panjang dan memejamkan mata. "Baiklah." Chanyeol menelan dengan susah payah. "Aku minta maaf. Tadi kukira kau tertarik."
"Biar kuluruskan sekarang juga. Aku bukan salah satu penggemar olahraga tolol yang mati-matian ingin masuk ke dalam celanamu dan aku bukan baby-mu." Oh Tuhan, aku benci dipanggil seperti itu.
"Aku mohon maaf sekali lagi, atas kesalahapahaman yang diakibatkan oleh staff humasku, dan hal ini." Suaranya kini menjadi mantap, napasnya terkendali dan dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Wow, dia tampan.
Kujilat bibirku, masih merasakan dirinya pada bibirku.
"Jika kau berkenan bergeser, aku akan meninggalkanmu sendirian." Tiba-tiba aku membenci kesopanan yang dingin ini. Aku berharap dia memelukku lagi dan menciumku, dan aku sedikit membenci diriku sendirikarenanya.
Mungkin dia tidak seburuk yang kupikirkan, namun dia bukan untukku.
Dengan cepat aku menyingkir dari jalannya, dan dia membuka kunci kamar mandi. Sebelum dia membukanya, dia menoleh ke belakang padaku dan melayangkan senyum setengah hati, mengedipkan matanya, dan pergi meninggalkanku.
Mataku menatap refleksinya sendiri di cermin. Keduanya nampak berkaca-kaca akibat terlalu banyak minum anggur dan gairah. Rambutku sedikit lebih berantakan, namun karena pada awalnya aku menatanya seperti demikian jadi tidak masalah. Selain lip glossku yang telah luntur karena ciuman, aku terlihat sama seperti saat aku melangkah masuk kesini.
Jadi mengapa aku merasa seperti semuanya akan berubah?
.
ooOoo
.
"Oke, kita akan bersulang untuk apakah kali ini?" tanyaku dan menatap sekeliling meja pada teman-temanku dan para pria mereka. Para orang tua telah meninggalkan pesta, dan semua yang tersisa adalah Zitao dan Yifan, Luhan dan Sehun, Kyungsoo dan Jongin, Jaejong, Jongdae, Yunho dan Chanyeol. Seluruh tamu yang lain juga telah pulang, meninggalkan kami bersebelas minum, tertawa dan mengejar ketertinggalan.
Aku tidak pernah bersenang-senang lagi seperti ini untuk waktu yang cukup lama.
Jika aku minum pada sloki ini, aku mungkin akan melupakan petualangan gila di kamar mandi bersama Chanyeol.
Mungkin.
Mungkin tidak.
Ngomong-ngomong soal Chanyeol, dia terus mengawasiku, menyesap bir, membisu. Tapi, aku mengacuhkannya dan mengangkat sloki tequilla berikutnya ke udara. Sejauh ini, kami telah bersulang untuk bayi, rock and roll, tato, belanja, dan belanja lagi.
"Ini untuk orgasme, dan sebanyak tiga kali yang akan kudapatkan malam ini!" Luhan berseru, mendapatkan cekikikan dari kami para wanita sementara para lelaki - kecuali Sehun - menggerutu.
"Untuk orgasme!" kami semua bersulang dan menenggak minuman.
Aku telah berhenti menggunakan bantuan dari jeruk nipis dan garam tiga sloki yang lalu.
Aku melirik kembali Chanyeol, yang sekarang sedang terlibat dalam pembicaraan serius dengan saudaranya, dan meskipun aku memang sedang mabuk, pahaku menegang hanya dengan pemandangan dirinya. Astaga. Bahunya lebar dan berotot dan matanya, dan rambut pirang tuanya yang berantakan akibat jarinya dan jariku, dan aku ingin memberikannya renggutan yang hebat.
Aku seharusnya bersetubuh dengannya di kamar mandi.
Hentikan! Itu hanya Baekhyun si pemabuk dan terangsang yang sedang berbicara.
"Jadi, Baekhyun," Zitao berkata dengan tidak jelas saat dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menyampirkan lengannya di sekeliling bahuku. "Kenapa kau masih sendiri, temanku yang cantik?"
"Karena pekerjaanku adalah hubungan percintaanku, temanku yang sama cantiknya."
"Itu menyebalkan."
"Tak masalah." Aku tak menghiraukannya dan menyesap margarita kelimaku. Sial, seharusnya aku makan lebih banyak saat makan malam tadi.
"Apakah pekerjaanmu memberikanmu orgasme?" Luhan bertanya sambil merayap naik ke pangkuan Sehun.
"Tidak," aku terkekeh.
"Jadi, itu adalah masalah," tukasnya puas.
Tidak, itu memang masalah, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus mengganti pokok pembicaraan.
"Kau harus menyanyikan sesuatu," Zitao menepukkan tangannya dan melonjak-lonjak pada kursinya.
"Kalian semua mulai membunuh suasana menyenangkan yang sedang kualami ini."
"Nyanyi!" perintah Zitao.
"Aku hampir tidak bisa berbicara. Tidak ada nyanyian. Aku sudah tidak pernah menyanyi lagi untuk waktu yang sangat lama."
"Oke, kalau begitu mari kita berdansa." Zitao berdiri, dan kemudian terhuyung-huyung. Yifan menarik Zitao ke pangkuannya, menertawakannya.
"Kupikir sudah saatnya membawamu naik ke kamar, baby." Dengan tangannya Zitao menangkup wajah Yifan dan tersenyum padanya.
"Oke. Bolehkan aku mendapatkan beberapa orgasme?"
"Kurasa aku bisa mewujudkannya," Yifan menjawab dengan seringaian.
"Tidak adil!" teriak Luhan. "Aku mau orgasme!"
Ya Tuhanku, apakah semasa kuliah kami selalu membicarakan mengenai orgasme ketika kami mabuk?
"Kalau begitu ayo naik ke kamar kita juga, akan kuberikan padamu orgasme itu." Sehun mencium pipi Luhan lalu berdiri dengan Luhan terbopong pada lengannya.
Ya Tuhan, Oh Sehun berada dalam ruangan yang sama denganku, membicarakan orgasme.
Ini gila.
"Aku undur diri juga." Kutenggak sloki terakhir, menyambar tas tanganku dan berdiri. Ruangannya sedikit berputar, namun kutopangkan diriku sendiri pada belakang kursi dan menarik napas panjang.
"Kau tidak akan mengemudi, kan?" Yifan bertanya.
"Aku akan memanggil taksi."
"Aku akan mengantarmu pulang." Chanyeol berdiri dan tiba-tiba telah berada di sampingku, mencengkeram sikuku.
"Kau mabuk juga," aku mengingatkannya.
"Aku hanya minum satu bir. Aku tidak apa-apa."
Oh.
"Sungguh?"
"Aku sedang dalam pertengahan musim, Baekhyun, aku tidak bisa minum terlalu banyak."
"Musim macam apa?" tanyaku ketika ruangan di sekelilingku berputar pelan. Samar-samar aku menyadari suara cekikikan yang terjadi di sekitarku namun aku terlalu mabuk untuk menendang bokong siapapun.
"Football," ujarnya lembut dan mengusap rambut di belakang telingaku.
"Kau ingin bermain football?" Aku merasa amat bingung. "Aku terlalu mabuk untuk bermain football."
Chanyeol tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Bukan, sweetheart. Aku akan bermain football pada hari Minggu. Bersama timku. Ingat?"
"Oh, yeah. Kau adalah bintang football." Kuacuhkan dia dan berputar menghadap teman-temanku. "Dia adalah superstar sepakbola yang amat sibuk. Tahukah kalian?"
Luhan terkikik padaku. "Baekhyun, kau kocak. Aku senang kau bergaul bersama kami lagi."
"Bung, kau akan mengantarnya?" tanya Jongin.
"Yeah, aku akan mengantarnya," Chanyeol menegaskan.
"Siapa yang kau antar?" tanyaku.
"Kau, gadis mabuk. Mari jalan." Dia berbalik untuk menuntunku menuju pintu keluar, dan aku mulai mengikutinya, tapi entah mengapa kakiku tidak berfungsi secara benar.
"Um, Chanyeol?"
"Yeah?"
"Aku kehilangan kakiku."
"Apa?" dia terbahak dan mencubiti tulang hidungnya.
"Aku tidak bisa menemukan kakiku."
Kenapa semua orang menertawakanku? Ini serius!
"Oke, aku memegangmu." Dia mengangkatku dengan mudah ke atas lengannya dan membopongku pada dadanya.
"Kau tak perlu menggendongku."
"Jika aku ingin memasukkanmu ke dalam mobil dan mengantarmu pulang, sepertinya hal itu harus kulakukan."
"Aku kira kau ingin bermain football." Aku menguap dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Hmm... aromanya masih sangat wangi.
"Tidak malam ini."
"Kurasa aku sedang mabuk."
"Menurutmu apa petunjuk pertamanya?" dia tergelak.
"Jangan sampai aku menyakitimu, player."
"Yeah, kau membuatku takut."
.
ooOoo
.
"Mobil jenis apakah ini?" tanyaku.
"Ini adalah Shelby,"
"Apakah Shelby kekasihmu?" tanyaku, merasa malu. Sial! Aku bercumbu dengan pria yang sudah memiliki kekasih!
"Bukan, mobil ini adalah Mustang Shelby, Baekhyun."
"Oh. Lalu siapakah kekasihmu?"
"Aku tidak memiliki kekasih."
"Kenapa tidak?"
"Tidak ada waktu." Dia mengendikkan bahunya. "Tidak ada seorang pun yang membuatku tertarik, sampai baru-baru ini." Dia bergumam pada bagian akhir itu, dan sebelum aku dapat bertanya apa maksudnya, dia menepi di rumah kecilku.
"Terima kasih atas tumpangannya."
"Sama-sama. Tetap disini."
Aku kira aku tidak akan mampu keluar dari mobil ini jika aku menginginkannya. Kursinya amat rendah hingga hampir menyentuh tanah, namun sangat bagus. Tempat duduknya nyaman.
Mendadak pintu penumpang di sisiku terbuka dan Chanyeol mencondongkan tubuhnya ke dalam, menarikku keluar dari mobil. Dia membantuku berdiri, lalu mengangkatku lagi.
"Mungkin sekarang aku sudah bisa berjalan."
"Aku meragukannya. Hanya jangan memuntahiku, kumohon."
Well, aku tidak merasa seperti akan muntah hingga dia menyinggungnya. Sekarang perutku berputar dan aku merasakan perasaan menggelitik pada bagian belakang tenggorokanku.
Sial!
"Dimanakah kuncimu?" tanya Chanyeol.
"Tas tangan."
"Apakah kau ingin aku mengambilkannya?"
"Ya." Bernapaslah. Bernapas yang benar dan kau tidak akan muntah.
"Baiklah. Aku akan menurunkanmu di dekat pintu. Bersandarlah ke dinding sebentar saja."
Apakah dia berbicara menggunakan bahasa Perancis? Aku tidak mengerti perkataannya, yang dapat kulakukan hanya berkonsentrasi agar diriku tidak muntah. Dia merogoh tasku dan menemukan kunciku.
"Yang ini." Aku menunjuk pada kunci pintu depan rumahku dan dia membuka pintunya lalu mengangkatku lagi, menggendongku masuk.
"Kau tidak memiliki sistem alarm?" tanyanya sambil cemberut.
"Tidak."
"Kenapa tidak?" desaknya.
"Terlalu mahal. Sial, turunkan aku."
Dia menurunkanku ke lantai dan sesaat setelah kakiku menyentuh tanah, secepat kilat aku berlari ke kamar mandi, dan menumpahkan sekitar dua botol tequilla ke dalam kloset.
Tidak pernah terasa nikmat ketika minuman itu keluar daripada saat masuk.
Oh, Tuhanku, buatlah berhenti. Perutku menegang dan bergetar, dan kurasakan keringat mulai membasahi kulitku.
Tiba-tiba rambutku terangkat dari wajahku dan lap basah dingin menekan bagian belakang leherku.
Sial, aku lupa bahwa dia masih disini. Betapa memalukannya.
"Kau bisa pergi," kataku lirih dan meletakkan keningku pada lenganku, masih menopang pada kloset.
"Aku akan tinggal" Suaranya tegas dan bahkan mungkin sedikit seram.
"Aku baik-baik saja, Chanyeol."
"Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, jadi menyerah sajalah." Dengan lembut dia mengangkat kepalaku dan menekankan lap basah dingin lainnya pada keningku, membuatku mengerang karena nyaman.
"Itu terasa enak."
"Aku tahu. Apa kau sudah selesai muntahnya?"
"Kurasa begitu."
"Oke, mari kita siapkan dirimu untuk tidur."
"Hey!" Kepalaku tersentak menengadah dan kupaku dirinya dengan tatapan bengis. "Kau tidak akan membawaku ke tempat tidur."
"Yeah, tentu saja. Jangan khawatir, sweetheart, aku tidak akan berbuat macam-macam." Dia menyeringai dan aku menggeram saat perasaan mual lain muncul lagi. Tiba-tiba aku merasa luar biasa kelelahan.
"Oke." Aku bangkit berdiri dan dengan canggung dia membungkus lengannya disekeliling pinggangku. Dia terlalu tinggi untuk kebaikannya sendiri. "Aku baik-baik saja, Chanyeol. Yang terburuk telah berlalu. Kau bisa pergi."
Dia menatap ke bawah padaku dan menyeka wajahku menggunakan lap basah dingin. "Aku akan memastikan kau tertidur sebelum aku pergi."
"Kenapa? Aku belum pernah bersikap baik padamu."
"Karena aku bukan seorang bajingan, dan semakin cepat kau menyadarinya, semakin baik."
Aku merengut padanya, tidak mengerti maksudnya sama sekali. Dia membuka laci di lemari pakaianku, mengaduk-aduk isinya melalui pakaian dan kaus kaki, lalu dia berbalik menghadapku dengan wajah muram.
"Di mana piyamamu."
"Aku tidak memakai piyama."
"Jadi apa yang kau kenakan saat tidur?" dia bertanya sambil berkacak pinggang.
"Tidak ada."
Dia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya kuat-kuat, kemudian mencari di dalam laciku lagi, hingga dia menemukan sehelai t-shirt lama dan dilemparkannya padaku. "Ini, pakailah."
"Kenapa?"
"Karena aku akan naik ke tempat tidur itu bersamamu, dan kau tidak boleh telanjang atau aku akan menjadi seorang bajingan." Dia nampak hampir murka.
"Berbaliklah," gumamku. Ketika dia menghadap arah yang lain, dengan cepat kubuka ritsleting dan melangkah keluar dari gaunku lalu mengenakan t-shirt itu lewat kepalaku. Aku tidak memakai celana dalam namun t-shirt tersebut cukup panjang sehingga kau tidak bisa melihatnya jadi aku tidak peduli. "Aku pikir aku tidak bisa melepaskan sandalku tanpa terjatuh."
Chanyeol berbalik kearahku lagi dan sorot matanya melembut. "Sekarang kau terlihat sangat muda."
"Aku yakin aku terlihat kacau berantakan, tapi oke. Tolong sandalnya?"
"Duduk." Dia berlutut di hadapanku dan melepaskan alas kakiku dan kemudian menyelimutiku di tempat tidur. Dia melepaskan kancing kemejanya, dibiarkannya jatuh melalui bahunya dan disampirkan pada kursiku. Ya ampun, tubuhnya luar biasa seperti Batman.
"Rumahmu nyaman," ujar Chanyeol pelan.
"Hmm." Kututup mataku untuk menghalangi gambaran lezat dari Chanyeol yang hampir-telanjang, kudengar ritsleting celananya turun dan gemerisik saat dia melangkah keluar dari celananya, lalu tempat tidur menurun saat dia merangkak naik ke sampingku. Dia membalikkan tubuhku membelakanginya, dan menarik punggungku menempel pada tubuh bagian depannya.
"Tidurlah."
"Mengapa kau masih disini?" tanyaku dengan nada mengantuk. Seharusnya aku memintanya pergi, tapi sial betapa ini sangat menyenangkan.
"Aku tidak tahu," bisiknya.
