Chandelier
Chap 2. Apa hati bisa berpaling?
Sub bag 1. Pelukan Teletubis ala HoMin
(Time : Now, not flashback)
Dari sebuah pelukan akan tumbuh rasa ingin mencium
Dari satu kecupan kecil berakar menjadi lumatan penuh keharusan.
Dari yang tak berdasar berubah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditolak
Dan dari satu bibit keisengan, berbunga rasa cinta yang membuatmu tak dapat berpaling.
Tangannya yang digenggam dan kehangatan yang mengayomi hatinya membuat Changmin tersenyum. Cinta itu memang tak pernah selalu indah, tapi cinta menawarkan kepastian akan kehangatannya.
"Sekarang, kau mau ke kantorkan?" pertanyaan itu dijawab anggukannya.
Changmin memang bekerja di kantor. Namun ia bukan seorang pengusaha, bukan juga seorang sekretaris atau apapun itu dibenak kalian. Ia haya seorang komikus dan fotografer bebas. Ke kantor hanya untuk menyerahkan karya komiknya ke sang editor.
"Mau ku antar?" Changmin menatap penuh keisengan lelaki yang menawarkan perhatian kepadanya. Membuat Yunho terkekeh dan menggaruk pelipisnya.
"Bukankah arah taman kanak-kanak berlawanan dengan kantor penerbitku hyung?"
Kalian tak salah dengar, di kehidupan kali ini Changmin dan Yunho memang tak memiliki keistimewaan dalam pekerjaan mereka. Penuh kesederhanaan namun sarat akan banyak makna.
Changmin bukan seorang artis ataupun sutradara, ia hanya seorang komikus berhobi layaknya fotografer. Dan Yunho bukanlah Dancer ataupun Pengusaha, ia hanya seorang pemilik Taman kanak-kanak sekaligus kepala sekolah disana. Sangat simple bukan?
"Tidak apa-apa, kau tahu Babe sudah merindukanmu~"
Changmin sweatdrop seketika. Siapa itu babe? Babe hanyalah motor matic layaknya vespa yang selalu dibawa kemana-mana dan menemani Yunho melebihi dia.
"Hyung, aku pikir akan sangat memalukan jika aku dibonceng dengan motormu itu. Apa kau yakin babe bisa menahan bobotku dan dirimu yang seperti..." sebenarnya nada Changmin penuh sarkasme, tapi memang dasar Yunho yang sudah kebal atau tak peka hingga membalasnya dengan senyum lebar.
"Babe tentu saja sekuat pemiliknya! Iya kan? Bukankah aku selalu memuaskanmu di..."
"Ok hyung, ayo kita berangkat. Ini sudah siang."
Changmin yang memotong kalimatnya membuat Yunho tak tahan untuk tertawa. Membuat si bambi mendengus kecil dengan senyum tertahannya yang membuat pipinya semakin menonjol.
Semakin lama mereka hidup bersama, Changmin menyadari jika sebenarnya Yunho tak sekaku bayangannya dulu. Lelaki itu sebenarnya sosok humoris walau terkadang lebih terkesan konyol.
Sibuk akan pemikirannya membuat Changmin tak menyadari jika mereka telah sampai di basement. Yunho yang menghidupkan mesin Babe membuat Changmin tersadar dan segera memerhatikan intens si motor.
"Hyung, kapan kau akan memasukan babe ke rumah sakit?" pertanyaan yang kembali bernada sarkasme itu membuat kening Yunho yang telah tertutupi helm mengernyit.
"Hah? Kau ini lucu sekali Changmin-ah. Babe sehat begini, kenapa harus di servis? Lebih baik kau saja yang ku service di ranjang hehe." Yun... pliss!
"Ish hyung! Kenapa kau mesum sekali? Kenapa sekarang sudah berani menggodaku?" Changmin jadi ingat, dulu sewaktu mereka baru bersama Yunho tak semesum dan segenit ini.
"Hanya padamu dan Babe~" tuhkan! Sekarang konyolnya keluar.
"Aih kenapa jadi membicarakan itu! Pokoknya aku mau si Babemu ini masuk rumah sakit! Kalau perlu dipensiunkan sekalian! Suaranya menyakiti telinga dan penampilannya menyakiti mataku hyuuung!" mungkin Changmin tak sadar, jika semakin lama ia semakin suka merengek dan bermanja pada Yunho.
Nada yang penuh rajukan sebal itu membuat Yunho berkedip polos. Memang apa yang salah dengan si babe? Bersih dan mengkilat kok walau kuno.
"Jadi... aku juga menyakiti matamu Changmin-ah?" nada yang dipakai Yunho, dibuat sesedih mungkin.
"Eh! Maksudku si Babe bukan dirimu hyung!"
"Tapi aku yang menggunakan babe Min."
"Hish! Terserah hyung deh!"
Dengan muka tertekuk Changmin pun naik ke motor butut Yunho. Mukanya asem abis! Membuat Yunho tertawa.
Tangan yang melipat angkuh di depan perut si bambi segera ditarik tangan Yunho untuk melingkari perutnya sekaligus memeluknya dari belakang.
"Ish! Hyung memalukan sekali."
"Tidak apa-apa hehe."
"Eh tapi ngomong-ngomong helm buatku mana hyung?"
"Hah? Oh iya lupa Min."
Cengiran Yunho membuat hati Changmin semakin ngedumel. Dasar pelupa!
MyMy
Mereka memang pasangan konyol. Setiap hari diwarnai pertengkaran kecil. Setiap hari Changmin akan ngedumel dan merajuk penuh sarkasme. Dan setiap hari Yunho akan menanggapinya dengan unik dan tidak ada duanya.
Kebersamaan mereka tak pernah membosankan, apalagi membuat kesepian. Namun disaat mereka tak bersama, hal itulah yang sangat memberatkan. Dan takdir yang memainkan tak pernah tanggung mencari cela dimana komitmen mereka paling lemah.
Changmin melangkah menelusuri koridor kantor penerbitnya. Beberapa staff dan orang yang berlalu lalang tampak memperhatikannya penuh keterpesonaan.
Changmin memang terkenal tampan sekaligus manis dengan wajah kekanakannya. Tubuh menjulang tinggi dengan proporsional tubuh ramping yang enak dilihat. Waw! Siapa yang tak terpesona dan ingin memilikinya?
Senyum profersionalnya yang semakin mempertampan dirinya membuat Changmin dalam sekejap menjadi idola para perempuan di kantor itu. Dan lelaki yang paling di incar!
"Apa Editor Han ada?" pertanyaan Changmin pada salah satu staf resepsionis membuat banyak orang mengagumi suaranya.
"A-ada!" saking gugupnya membuat resepsionis itu tanpa sadar menjawab dengan membentak membuat Changmin mundur beberapa langkah.
"Ok." Dan membuat Changmin dengan segera berbalik pergi menuju ruang editornya dilantai 3. Kadang Changmin tak habis pikir, kenapa orang-orang dikantor ini terlihat tidak suka padanya?
Langkah panjang Changmin dengan kakinya yang dibalut skinny jeans terhenti saat suara seseorang mengintrupsinya lewat panggilan.
"Changmin-ssi!" Changmin berbalik, dan segera dihadapkan pada gadis cantik yang menghampirinya dengan penuh senyum. Song Eun Soo, kepala bagian penerbit sekaligus orang yang mengajaknya bergabung ke kantor miliknya ini.
"Ingin menyerahkan data ke Editor Han ya?"
"Ne, Eun-ssi." Tatapan berbinar gadis itu membuat Changmin tak nyaman dan segera mengalihkan pandangan. Pada sosok gadis ini, ia seolah melihat refleksi dirinya dulu saat menanti cinta Yunho.
"Ayo bersama! Aku juga punya urusan dengannya." Genggaman tangan gadis itu dan tarikannya menuju lift membuat Changmin menunduk menatap tangannya yang digenggam.
Rasanya tidak benar. Changmin terlalu biasa digenggam tangan berjari kuat Yunho yang sedikit lebih besar dari jemari kurusnya. Ia terlalu biasa pada tangan yang telah menyentuh seluruh tubuhnya itu.
Changmin yang kemudian melepaskan genggaman tangan Eun Soo membuat langkah mereka terhenti, dan gadis itu segera berbalik menatap bingung ke arahnya.
"Maaf, tapi aku tak biasa disentuh." – selain dengan Yunho.
Changmin tahu, ada sorotan terluka dimata gadis berambut panjang itu. Tapi bukankah ini hal yang benar?
MyMy
Yunho menghentikan babe di parkiran sekolah taman kanak-kanak miiliknya. Helm yang dilepas dengan begitu maskuin dan berkarisma membuat ibu-ibu yang berlalu-lalang mengantarkan anak-anaknya melompong tak berdaya. So damn hot and sekseh!
Mata musangnya bersorot tajam namun ramah. Wajahnya tampan penuh karisma. Dan dipagi hari dengan bias-bias mentari yang menyinari tubuh, Yunho terlihat sangat awesome.
Tubuh yang semakin berisi dan motor bututnya seolah tak terlihat sama sekali! Tertutupi seluruh kelebihannya!—tapi kelebihan berat berat badannya tak dimasukkan ya.
Para anak-anak yang melihat kehadiran guru tampan merekapun dengan berbondong-bondong menghampirinya.
"Saenim~" dan gerombolan teletubis mungil itupun memeluk tungkai kaki Yunho dengan saling bertumpukan bin berdempetan. Membuat Yunho tertawa lepas, dan para ibu-ibu semakin terpesona. Guru-guru muda taman kanak-kanak yang tak sengaja berada dilokasi pun tak kalah terpesona.
Yunho dengan segala karismanya adalah racun dunia! Changmin-ah kau harus melihat tingkah suamimu di Taman kanak-kanaknya ini!
Eh apa kalian kaget? Yunho dan Changmin memang telah menikah dan berikrar suci. Baik secara langsung maupun tak langsung. Secara tak langsung lewat pertukaran darah garis takdir mereka, dan secara langsung setelah beberapa puluh tahun kebersamaan mereka.
Sebuah Cinta yang tak lekang oleh waktu.
"Ayo masuk ke kelas anak-anak manis, Ibu Guru kalian sudah menunggu loh!" Suara halus yang mengintrupsipun membuat gerombolan teletubis itu melepaskan diri dari sang Appa. Dengan semangat mereka menjawab—
"Aye Eomma!"
"Bye Appa!"
Yunho tertawa lepas, berada di sekitar anak-anak memang selalu membuat perasaannya lapang. Kadang ia suka berpikir, apa jika ia memiliki anak, anaknya akan seaktif anak-anak Tknya? Selucu dan semenggemaskan mereka?
Tapi Yunho segera menepis pemikirannya. Sampai kapanpun Changmin tak akan pernah memberikannya anak. Dan Yunho tak perlu menyesali keputusannya terdahulu, sampai sekarang ia masih hidup bahagia tanpa kehadiran buah hati bukan?
"Yunho-ssi!" suara halus itu menyentak Yunho dari lamunannya. Ditatapnya ramah wanita yang berdiri didepannya itu.
Tubuh ramping yang dibalut kemeja putih dan rok hitam selutut, itu Song Hyemi—wakilnya sekaligus salah satu guru yang bekerja padanya.
"Hyemi-ssi maaf." Mendengar ujaran maafnya, wanita berambut pendek seleher itu tertawa kecil.
"Tak perlu meminta maaf Yunho-ssi, ayo ke kantormu! Ada beberapa perkembangan anak bimbingan kita yang ingin ku sampaikan!" genggaman Hyemi pada tangannya membuat Yunho menatap tangan asing itu lama.
"Hyemi-ssi ku harap, bercandaan anak-anak yang memanggil aneh-aneh jangan kau pikirkan."
"Tentu saja Yunho-ssi, aku tidak pernah mempermasalahkan panggilan itu. Aku justru menyukainya." Tarikan tangan kecil itu membuat Yunho mengikuti langkah wakilnya menuju ruangannya.
"Syukurlah."
Tingkah anak-anak bimbingannya yang aneh-aneh terkadang membuat Yunho menggelengkan kepala. Dengan seenaknya hanya karena ia kepala sekolah dan Hyemi satu-satunya wakilnya, otak polos malaikat-malaikat kecil itu menyimpulkan jika Yunho dan Hyemi dalam hubungan seperti orangtua mereka.
Yunho tak bisa membayangkan, jika Changmin mengetahui ini akan diapakan dia nanti.
"Yunho-ssi, kenapa kita tidak mengabulkan permintaan anak-anak?" ucapan Hyemi segera membuat langkah Yunho terhenti. Tarikan di tangannya tak terhiraukan.
"Apa maksud Hyemi-ssi?"
Hyemi segera berbalik, dan dengan bergantian menunjuk dirinya dan Yunho.
"Appa Eomma."
Yunho tertawa kecil. Lucu sekali candaan ini.
"Aku sudah menikah Hyemi-ssi. Dan aku sangat mencintai pasangan hidupku."
Wajah cerah Hyemi memudar, namun senyum terbentuk penuh kepalsuan di bibirnya
"Sesekali ajaklah Istrimu itu kemari Yunho-ssi." 'agar dia sadar, siapa sebenarnya yang pantas berada disisimu'
"Tentu! Jika ia sudah tidak sibuk, aku akan mengajaknya kemari dan mengenalkannya padamu." Yunho tersenyum lebar, ia jadi tak sabar mengajak Changmin. Ia yakin, bambinya itu pasti akan senang karena melihat banyak anak kecil yang imut dan manis disini.
MyMy
Yunho melangkah penuh kecapaian di lorong gedung apartemennya. Hari ini sial sekali, babe mendadak mogok membuat Yunho terpaksa mendorongnya ke bengkel terdekat.
Langkahnya yang terseok dan terlihat sangat lemas akhirnya mengantarkan Yunho di depan pintu apartemennya. Mungkin ucapan Changmin untuk merawat babe di rumah sakit dan mempensiunkannya dapat dipertimbangkan.
Saat memasukan kode ke keypad pengaman pintunya, suara yang sangat familiar mengintrupsi.
"Yunho Hyuuuung..." rengekan itu membuat Yunho berbalik dan sukses tertawa melihat wajah serta penampilan kucel bambinya. Tak ada sehari mereka berpisah, tetapi penampilan Changmin sudah berubah seperti jomblo frustasi yang lagi ngebet kawin.
"Jangan tertawa ish!" pukulan Changmin berikutnya didadanya membuat Yunho meringis nyeri, ini benar-benar sakit.
"Apa editor Han menyusahkanmu Min?" Changmin mendengus mengingat editornya yang menyebalkan. Bibirnya maju tanpa disadarinya, membuat Yunho tersenyum gemas menatapnya.
"Sebenarnya tidak ada yang salah sih hyung, proyek yang aku selesaikan sudah sempurna. Cuma tadi editor Han memintaku membimbing anak baru, dan itu membuatku frustasi." Yunho hanya mengangguk sok tahu, yang jelas Changmin memang memiliki batas toleransi yang sangat kecil pada hal yang menurut si bambi harusnya dapat diselesaikan dengan mudah.
"Changminie, bagaimana kalau malam ini kita main? Aku jamin moodmu akan membaik!" Changmin menatap lama Yunho, hingga akhirnya tersenyum tertahan yang sangat imut nan kekanakan.
"Game atau Gundam hyung?" wajah cerah Yunho berganti datar. Dengan helaan nafas dipeluknya gemas tubuh Changmin.
"Main Pelukan Teletubis saja Min! Anti biasa!"
"Kekeke Oke." Persetujuan Changmin membuat Yunho sangat sweatdrop, kadang ia tak habis pikir pada sifat dan tingkah Changmin.
Tapi itulah uniknya hubungan mereka. Changmin yang tak biasa, diimbangi oleh Yunho yang dapat memposisikan dirinya disegala situasi. Hubungan mereka tak membosankan, walau ada lubang besar yang tak sanggup ditutupi.
Karaguan, pemikiran tentang masa lalu, memang selalu menghampiri pikiran Yunho disaat ia sendiri. Rasa bersalah memang membayangi hidupnya hingga sekarang. Tapi Changmin adalah penerangnya, memberinya sebuah arti bagi hidupnya. Memberinya kekuatan disaat terburuk itu menghantuinya. Changmin menjelma menjadi sosok yang lebih dari kata penting di hidup Yunho.
Jika Changmin mati, Yunhopun secara suka rela menyusulnya.
Dua tubuh itu saling berpelukan erat. Tangan Changmin memeluk erat punggung lelaki yang dicintainya. Sedangkan Yunho mendekap penuh tuntutan pinggul Changmin hingga benda mereka saling bergesekan.
"Ssssshht Hyung, apa yang kau lakukan?"
"Bukan apa-apa Min, hanya main pelukan teletubis!"
"Errr... okey," apa kalian berpikir mereka sangat konyol? Bagi author lebih dari itu!
Yunho menendang keras pintu hingga akhirnya terjerembab terbuka. Dengan tubuh yang masih berpelukan mereka memasuki apartemen. Dengan susah payah karena Yunho tak mau lepas memeluknya, akhirnya Changmin berhasil menutup pintu malang itu.
"Sssssh hyu-hyung!" gesekan itu tak berhenti, membuat Changmin merasa geram.
"Katanya main teletubis! Kenapa main gesek! Dan kenapa ITUMU KERAS!"
"Hehe kan Main pelukan teletubis ala Homin, Changminie~" rasanya Changmin ingin koprol saat itu juga.
"Tidak mau hyung! Aku capek! Ughhhhhsssst h-hyung?!"
"Enak ya?"
"Jangan bercanda! Brengsek! #$%$^&*##$$% !$#$!"
Kemarahan Changmin dengan suara oktaf paling tingginya sungguh membuat Yunho pening dan bersandar lemas di shofa, ia merasa rohnya hilang sebagian.
Sedangkan si bambi—tersangka penyiksaan, tampak asik bersandar di bahu Yunho sambil memakan snack. Matanya tampak menyorot antusiast pada berita game terbaru yang akan segera diluncurkan.
"Hyung, besok belikan aku game itu yaa?"
"Tidak punya uang Min." – bohong!
"Ya sudah, kemarin ada ahjussi yang bersedia membelikanku game itu kalau aku mau menemaninya makan di restoran~"
Yunho segera menoleh menatap Changmin, matanya terbelalak tak percaya.
"Ehh! Aku akan membelikannya. Jangan temui orang tak dikenal. Belum tentu mereka bermaksud baikkan?" Changmin menatap Yunho dengan senyum lebar, Yunho tak pernah berubah. Dari dulu selalu mengatakan itu padanya.
"Tentu saja hyung! Yang baikkan Cuma kau hehe. Jadi besok malam gamenya harus sudah ditanganku ne hyung?" Yunho mengangguk lemas, sepertinya Changmin hanya menipunya agar dibelikan game.
Dengan senyum tipisnya, Yunho mengusap rambut Changmin. Di kecupnya puncak kepala sang terkasih dengan penuh rasa cintanya.
"Bagaimana kalau besok sekalian ikut aku ke TK Min? Ada yang ingin kukenalkan padamu."
"Tidak bisa hyung, aku sibuk."
"Hah baiklah, mungkin lain kali."
Yunho tak sadar, di balik bungkus snack besar yang menutupi sebagian wajah Changmin, bibir tipis berbentuk penuh dengan tonjolan ditengahnya itu tersenyum tipis. Senyum yang menunjukan, ia tak kalah mencintai sosok Yunho.
'Besok, aku akan memberimu kejutan hyung.'
Bersambung.
Hallo Readers! Meet me again :D harusnya aku masih hiatus, tapi entries sepi, aku gak tahan, jadi post story deh :') padahal demi tuhan INI BARU SEMINGGU! Ucapkan terima kasih pada orang2 yang dengan indahnya membangkitkan jiwa shipperku terdalam :" mana homin moment makin kagaak nahan lgi :'
Gaya nulisku sedikit berubah, tapi gak papalah :p tapi hiatusku masih berlaku loh ya... aku gak tahu nih, mungkin jdi semi hiatus. aku lagi fokus berbagi info tentang TVXQ ke page : ) biar pagenya rame hehe
Bagi yang berniat mampir ke page, silahkan ke 'TVXQ and HMS indonesia' page yang khusus buat kita :') wiye berusaha semampuny disana~ yang mau berteman secara pribadi, ke twitter wiye aja Gratiawiye user name Wiye Gratia, jangan lupa mention biar wiye kenal kalian dan follback : ) di akun pribadi wiye, nanti kalian juga bakal mengenal Homin Shipper lain yang ga kalah mesumnya dari wiye *cengengesan*
Sekarang balas Review dari Chap1~
Guest077—aduh nak, aja aja ada Dx ga mungkin wiye buat panjaaaaang ampe ratusan chapter. Bisa mabok nanti :v halo hominoids~ seneng deh ketemu HMS yang lain :D wiye tetep hiatus, ga bisa serajin kemaren2 : ( tapi kita lihat aja deh entar. Makasih setia nunggu ^^
XXX—jangan bakar Yunho pliis :' eh walo hiatus, aku tetep ngawasi entries. Kalo emang sepi bgt, ya jelas aku ngepost dong :D
Minnie—pukpuk buat kmu :v :v
Aishi Jung—ok, diksi emang susah, di chap ini ku harap sudah lebih baik ^^
Ia Tania—ugh maap :' wiye sekarang udah tenang sih, tapi masih pengen hiatus *dibakar* kamu kasih wiye nama twittermu aja di review, nanti wiye yg nyari :D
Melqbunny—mel, kamu kok gak sedih sih huwee :' jiah mel, si saeng itu mah gak bunuh diri TwT naon teh kumaha atuh si eneng, :" ayah ibu Changmin ya gumiholah mel, Cuma si ayah meninggal duluan dan ibunya jatuh cinta lagiii. Sekarang, masalah kelamaan hidup kali ya :P tuhkan, bener-bener kamu minta ditampol :3
Ran Hime—Yup, atas saran kamu, aku buat sequel~ ^^ tenang... tenang... belum mati kok si Yun *plaaak* Ran, wiye ga buat mereka terpish huweeee TwT *getok ran* wiye ga buat mereka reinkarnasi kok huhuhu. Aku serasa pengen koprol bareng changmin jadinya :""'"""
Last, Thankks buat semuanya yang udah baca dan meninggalkan jejak ^^
RnR plisss~ nanti hiatusnya wiye tambah lama loh! Kalo gak review :v :v :v
