Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
Cerita baru ini adalah story full of magic and imagination. Jika ada yang terlihat tidak masuk akal atau aneh, maklumi saja karena ini adalah cerita imajinasi dan ini adalah cerita saya. Karena bebera[a ff saya didominasi oleh angst dan fluff, saya ingin membuat sesuatu yang sedikit agak beda, dan njedul-lah, Vice.
The story line is absolutely mine, dengan beberapa inspirasi dari beberapa film menakjubkan dan beberapa ff lain yang juga tak kalah hebat. Karena saya lupa judul ff yang menginspirasi saya, jadi mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang terlihat mirip.
Selamat membaca Chapter 1 dari cerita ini dan selamat menunggu kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan review agar saya bisa tahu seberapa besar antusiasme kalian atas cerita ala-ala ini.
- KJ-
Sudah memasuki bulan kelima sejak Jongin dan Sehun berpisah dari orang tua mereka untuk hidup mandiri di distrik baru mereka, Trien. Dan seperti dugaan banyak middle triens dan peak, Jongin kini menjelma menjadi seorang triens muda yang sangat berbakat yang sangat diandalkan oleh distrik pengetahuan ini untuk ide-ide cemerlangnya yang kadang terdengar aneh dan kemampuan sihirnya yang luar biasa cepat berkembang. Sebagai seorang anak baru, Jongin mampu dengan cepat menyamai level seorang peak triens atau warga senior di distrik ini. Bahkan belakangan ada rumor ia akan dimasukkan ke dalam daftar calon ketua distrik untuk menggantikan Minho, seorang peak triens yang sudah lima tahun menjabat sebagai ketua distrik Trien. Yang aneh, Jongin tidak tertarik dengan tawaran menggembirakan itu.
"Aku tidak berminat menjadi ketua, Chan. Walau ayahku adalah seorang Vince, tak berarti aku bisa dan harus jadi penerusnya, kan?"
Chanyeol memijat pelipisnya pelan. Perdebatan tentang kesempatan emas ini sudah mereka lakukan sejak dua minggu terakhir dan selalu berakhir dengan kemenangan bagi Jongin karena Chanyeol menyerah menasehati kepala batu.
"Kau tahu? Aku mulai lelah memperdebatkan ini denganmu. Jika bukan permintaan dari Taemin, aku tak akan mau berdebat lagi denganmu, Jongin. Pertimbangkanlah, bahkan ini permintaan dari Taemin sendiri, istri Minho, ketua distrik kita. Jika dia memilihmu secara langsung, kau pasti punya kemampuan yang dia yakin bisa membantu distrik Trien untuk stabil." Terang Chanyeol seraya mencoba mengistirahatkan punggungnya karena sejak tiga jam tadi, ia dan Jongin tak berhenti berkutat di Laboratorium untuk mencoba eksperimen baru mereka.
Jongin mendesah pasrah lalu mendekati Chanyeol dengan membawa dua buah gelas berisi anggur hasil sulingan para Freat pagi ini.
"Kau kira aku tak lelah memberitahumu bahwa aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi Ketua Distrik?" jawabnya. "Apapun alasannya, Chan, aku belum dan mungkin tidak berminat sama sekali untuk menjadi Ketua Distrik," lanjutnya.
"Apa sih yang mendasari keras kepalamu tentang jabatan ini? Bukankah jadi Ketua Distrik itu dambaan banyak orang, ya?"
Jongin menatap Chanyeol geli lalu meneguk anggur terakhirnya sebelum menjawab pertanyaan pemuda bertubuh tinggi itu. "Aku tidak terlalu suka diperintah. Dan aku tidak yakin jika aku ada di posisi seorang pemimpin, aku bisa menjalankan tugasku dengan baik, karena demi Zeus yang punya segala cara untuk menurunkan petir menyeramkan itu, aku tidak siap jadi pemimpin, Chan."
Chanyeol tersenyum kecil pada Jongin dan melempar sebuah bantal yang ada di kursi Jongin ke arah belakang kepalanya saat pemuda itu sedang berjalan menuju dapur kecil di kamarnya dan mengakibatkan pemuda berkulit agak hitam itu mengaduh pelan.
"Ayahmu adalah seorang Vince, Jongin. Dan kau tahu pasti bahwa keturunan seorang Vince pasti punya darah dan sifat pemimpin. Apalagi Vince seperti ayahmu! Aku mengaguminya dari kecil, kau tahu. Dia pria yang hebat!" celoteh Chanyeol.
"Ya, ayahku memang pria hebat. Tapi belum tentu aku juga begitu, Chan." Ujar Jongin merendah lagi.
"Kau yang menciptakan mesin pemindai kebohongan bagi para triens yang sedang dalam ujian. Kau menciptakan banyak ide baru yang membantu Trien berkembang lebih baik." Sahut Chanyeol. "Dan oh, hampir lupa. Kau adalah pemegang peringkat pertama di young triens selama lima bulan tanpa pernah tergeser! Masih menyangkal kau juga hebat?" lanjut Chanyeol gemas.
Jongin tertawa keras lalu melempar Chanyeol dengan bantal yang ia bawa. "Itu hanya kebetulan."
"Aku tidak peduli itu kebetulan atau apapun. Yang jelas, kau dan Sehun jika kalian bertahan dalam posisi teratas sampai tiga tahun ke depan, kalian akan dan harus move ke distrik yang lain untuk belajar tentang sihir yang mereka kuasai. Dan aku, tidak mau mendengar penolakan atas itu. Kau tahu, aku masih seniormu dan aku punya kuasa penuh atas itu," ancam Chanyeol gemas.
Chanyeol tidak marah, ia hanya gemas kenapa pemuda di hadapannya ini punya sifat keras kepala yang sepertinya sudah sangat menempel di otaknya dan tidak bisa diluluhkan barang sedetik pun oleh siapapun. Jabatan ketua distrik adalah harapan hampir seluruh triens, termasuk dirinya sendiri. Tapi apa daya? Ketua distrik baru hanya akan dipilih langsung oleh Ketua distrik yang lama setelah ada paling tidak dua kandidat yang dipilih berdasarkan prestasi mereka selama mereka ada di distrik mereka.
Ketua distrik punya banyak sekali kemudahan-kemudahan yang tidak dipunyai masyarakat biasa, walau itu berbanding lurus dengan semua kewajiban moral dan non-moral yang harus ia tanggung. Seperti menjaga distriknya tetap bebas dari sihir hitam, menjaga distriknya tetap aman dan tetap berkembang dengan baik seiring waktu dan tidak terhambat oleh apapun, menjaga warga distriknya tetap sejahtera, dan yang terakhir adalah memastikan seluruh warganya adalah Vicens murni.
"Aku tahu tentang itu dan aku tidak akan menentangnya. Aku suka menjelajah, walau konsekuensinya adalah aku harus dan akan menjadi seorang Lock jika aku berhasil melewati semuanya." Balas Jongin santai.
"Bukan jika, Bodoh." Geram Chanyeol sambil sekali lagi melempar bantal di tangannya pada Jongin. "Kau harus menjadi Lock. Aku tidak mau melihatmu dibuang di Nash. Vice akan sangat kehilangan salah satu anak muda dengan talenta luar biasanya jika itu terjadi," tutupnya.
Jongin tersenyum kecil pada Chanyeol dan melempar balik bantalnya dengan pelan. "Aku berjanji padamu bahwa jika aku dibuang, aku akan tetap baik-baik saja dan akan tetap menghubungimu dengan berbagai cara."
Chanyeol menganggap Jongin seperti adik kandungnya sendiri, begitu juga Sehun. Diantara young triens lain, hanya dua pemuda ini yang tidak canggung bersendau-gurau dengannya kapan pun dan dimana pun, seperti tidak terikat pada aturan apa pun. Walau cukup banyak resiko yang ia pertaruhkan dengan tetap berteman dengan mereka, Chanyeol tahu bahwa dua pemuda ini punya sesuatu yang akan membuat masa depan Vice lebih baik dibanding sebelumnya.
"Sepertinya aku sudah dilupakan," ujar Sehun datar sesaat setelah ia membuka pintu kamar Jongin dan menemukan sahabatnya sedang berpelukan erat dengan Chanyeol.
"Kau tidur seperti tupai yang hibernasi, Hun. Dan kau tidak pernah bisa dibangunkan dengan mudah. Lain kali akan kuciptakan alarm yang bisa membisingkan gendang telingamu agar kau bisa bangun lebih cepat." Sahut Jongin kesal. "Gara-gara kau dan hobi tidurmu itu, aku dan Chanyeol harus bekerja di Laboratorium hingga sore!"
Sehun meringis tanpa dosa seraya menatap kedua sahabatnya dengan tatapan puppy eyesnya. "Maaf, okay? Kemarin aku harus menyelesaikan susunan rumus mesin baru seperti yang ditugaskan Tuan Choi sampai jam tujuh pagi tadi." Jawabnya. "Aku tidak secerdas Jongin yang menciptakan sebuah mesin pemindai kebohongan hanya dalam waktu empat jam dan mendapat ganjaran bebas tugas selama satu tahun, okay?"
Dan tidak ada alasan lain bagi Jongin serta Chanyeol untuk menahan tawa mereka. Dua sahabat ini tidak berhenti tertawa meski Sehun sudah melempari mereka dengan bantal-bantal dan akhirnya memutuskan mendiamkan mereka dengan memilih untuk mensabotase dapur kecil Jongin yang penuh makanan.
"Maaf, Hun. Kau tadi lucu sekali, tahu. Kenapa kau tidak meminta bantuan Jongin mengajarimu?"
Sehun mendesah geram. "Karena Tuan Choi melarangku mencontek, Chanyeol!"
Chanyeol terlihat berfikir sejenak lalu kembali bersuara. "Tapi itu tidak mencontek, kan? Kau hanya meminta Jongin mengajarimu, bukan meminta Jongin memberikan jawaban tugasnya padamu."
Dan Sehun tiba-tiba tertegun sejenak lalu berbalik menatap kedua sahabatnya dengan cengiran bodohnya seraya menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Benar juga, ya? Kan ini bukan ujian,"
Dan muka datar adalah ekspresi tercepat yang diberikan oleh Chanyeol serta Jongin sesaat setelah Sehun tertawa terpingkal-pingkal karena menyadari kebodohannya sendiri.
"Okay, aku memang tidak cerdas. Jadi maklumi saja jika aku bodoh dalam beberapa hal," ujarnya. "Ngomong-ngomong, tadi aku dengar pembicaraan Taehyung dan Sunny tentang Vicerity. Apa itu? Semacam prosesi apalagi?"
Dan Chanyeol seperti tiba-tiba mengingat sesuatu. "AH! AKHIRNYA AKU INGAT!" pekiknya.
"Kau harus mengontrol tingkat volume suaramu, Chan. Telingaku bisa tuli dengan cepat jika kau terus-terusan berteriak tiba-tiba," protes Jongin.
"Maafkan aku. Ini reflek," sahutnya. "Aku sejak tadi itu berusaha mengingat-ingat apa sebenarnya tujuanku mengikutimu ke kamar, Jongin. Karena tujuan utamaku bukanlah tentang debat masalah jabatan," jelas Chanyeol.
"Jadi apa tujuanmu datang ke kamar Jongin, Yeol?"
Chanyeol membenarkan posisi duduknya dan menerima uluran segelas anggur suling yang diambil Sehun dari lemari pendingin di dapur kecil Jongin.
"Ya tentang Vicerity itu." Balasnya singkat.
"Terlalu banyak kegiatan yang tidak aku mengerti yang diselenggarakan di town hall. Bisakah kau dengan cepat tapi jelas menjelaskan padaku apa itu Vicerity, Park Chanyeol?" paksa Jongin gemas pada Chanyeol yang kini tertawa kecil itu.
"Vicerity adalah pesta bagi para Vicens yang dilaksanakan tiap tujuh bulan sekali. Yang hadir disana bukan sembarang orang. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa hadir disana, dan yang memilihnya adalah Ketua Distrik." Jelas Chanyeol.
Sehun mengerutkan dahinya. "Apa acara itu menarik?"
Chanyeol mengangguk. "Sangat. Aku baru sekali ada disana saat tahun lalu aku berhasil masuk kandidat dan disana aku bisa bertemu dengan para Vicens dari distrik lain! Dan disana jugalah, aku menemukan seorang gadis yang hingga saat ini aku tidak tahu namanya siapa tapi dia berhasil mencuri sebagian perhatianku," terang Chanyeol lagi.
Jongin mengangguk seolah paham. "Jadi itu semacam pesta penyambutan?"
Chanyeol menjentikkan jarinya tepat di depan Jongin. "Kau memang cerdas, Jong." Pujinya. "Itu memang pesta penyambutan, tapi karena pemerintah tidak mau membuang banyak dana dengan percuma, maka yang hadir disana tidak semua orang."
Sehun mengangguk pelan. "Jadi yang ada disana hanya young vicens?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Tidak juga. Middle vicens juga bisa saja ada disana, tergantung bagaimana keputusan tiap ketua distrik. Yang jelas, peak vicens tidak akan ada disana."
"Kenapa peak tidak ada disana?" tanya Jongin penasaran.
"Jong, tidak ada yang suka berpesta ketika ada sekumpulan orangtua bawel yang juga hadir di pesta," balas Chanyeol yang diangguki Sehun.
"Jadi hanya middle dan young." Ulang Jongin lirih sambil mengangguk penuh arti. "Lalu apa ada hal yang harus dilakukan untuk menarik perhatian Ketua Distrik agar dia memilih kita?"
Dan Chanyeol menanggapi pertanyaan Jongin dengan tawa yang cukup telak hingga pemuda itu terpaksa mengeluarkan air matanya.
"Aku tak tahu kau bisa bodoh juga, Jongin." ucap Chanyeol cepat. "Ketua distrik akan selalu memilih kandidat berdasarkan peringkat mereka di papan. Baik itu middle atau young, peringkatmu di papan akan selalu jadi acuan utama Ketua Distrik untuk memilihmu pada setiap event di Vice. Jadi kau tak perlu susah payah mencari perhatian Ketua Distrik, Jong. Karena mereka bahkan tak pernah mengalihkan perhatiannya dari para pemegang peringkat sepuluh besar barang sedikit pun,"
"Kalau begitu kau harus mengajariku banyak hal, Jongin! Aku ingin ada di daftar kandidat untuk Vicerity, dan karena kau dibebaskan dari tugas-tugas menyebalkan itu selama satu tahun ini, kau harus membantuku!" paksa Sehun tiba-tiba.
"Aku tak tahu kau tertarik event macam itu juga, Hun. Kukira hal menarik di matamu hanyalah hibernasi," Balas Jongin datar.
Dan sebuah jitakan cukup menyakitkan mampir di dahi Jongin. "Aku tidak mau terus sendiri sampai aku jadi seorang peak, Jong. Siapa tahu disana aku akan menemukan gadis yang membuat perhatianku teralihkan. Kau tahu kan, gadis-gadis triens tak banyak yang menarik,"
Dan serentak, Chanyeol, Jongin juga Sehun larut dalam tawa yang mereka lepas sebagai pengalih beban pikiran mereka akan seluruh kewajiban mereka untuk terus berpikir demi membuat sebuah mesin atau sebuah ide baru tiap minggunya untuk kemajuan distrik level satu ini.
Sementara itu di distrik level satu yang lain yakni Weathor, sedang terjadi sedikit perdebatan tentang jadwal jaga yang baru saja diganti oleh Ketua Distrik mereka, Ryeowook. Peak tidak dirugikan karena memang dari sekitar 30 peak weast, tidak ada satu pun dari mereka yang punya kewajiban untuk menjaga distrik lain dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun para middle weast yang hanya berjumlah lima belas orang inilah yang sangat dipusingkan dengan berubahnya jadwal jaga distrik ini. Pasalnya, pada jadwal jaga mereka yang lama, tiap distrik di Vice akan dijaga oleh empat middle weast dimana salah satunya adalah seorang peak. Dan saat ini, dengan jadwal jaga baru, mereka akan menjaga distrik-distrik lain tanpa bantuan seorang peak. Dengan anggota tiap posko di tiap distrik adalah hanya tiga orang dan pengalaman para middle weast yang belum terlalu banyak, mereka berpikir ini adalah usaha bunuh diri karena jika mereka tak berhasil mengobati Vicens, konsekuensinya adalah peringatan sebanyak dua kali, dihukum di ruang isolasi selama satu minggu penuh dan juga bisa saja mereka dibuang ke Nash.
"Ah bagaimana ini?!" pekik seorang pemuda bertubuh rata-rata dengan kedua obsidian yang cukup sipit itu. "Bagaimana mungkin kita bisa baik-baik saja? Para peak saja kadang bisa salah diagnosa!" tambahnya.
"Tenanglah, Jongdae. Kita pikirkan jalan keluar dari masalah ini bersama-sama dengan kepala tenang," ujar seorang gadis cantik dengan sweater birunya dan juga dimple di pipinya yang membuatnya terlihat makin cantik ketika ia tersenyum.
"Yixing benar, Jongdae. Kau jangan panik begitu, pasti ada jalan keluar masuk akal."
Jongdae, pemuda dengan surai coklat gelapnya itu duduk di samping Yixing dan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
"Bagaimana jika satu dari tiga orang yang akan berjaga di tiap distrik kita sediakan alat komunikasi? Kita bisa membelinya di distrik Trien, ya walau harganya cukup lumayan tapi kita bisa minta bantuan pada peak, kan? Kukira 2000 thom; mata uang yang digunakan di Vice, tidak terlalu memberatkan mereka jika kita membeli untuk tiap perwakilan distrik,"
Yixing menatap sang pemberi ide dengan senyuman cantiknya. "Kau memang cerdas, Baekhyun! Kau ikut dengan Baek ke Trien, ya Lu. Dan, Myungsoo, tolong kawal mereka." Pinta Yixing dengan nada lembutnya.
Yixing memang seorang middle weast yang cukup disegani oleh teman-temannya, selain karena gadis cantik ini hampir tidak pernah marah, ia juga cerdas dan sangat ramah. Banyak sekali pemuda middle weast maupun young weast yang sempat jatuh cinta padanya. Tapi ketika mereka tahu bahwa dokter cantik itu sudah punya teman dekat seorang Lock, mereka menutup seluruh perasaan mereka dan membuangnya jauh-jauh.
"Alat komunikasi? Dan kau menyetujuinya secepat itu, Xingie? Lalu untuk apa kita belajar teleportasi? Bukankah alat komunikasi hanya akan menambah biaya tidak penting?" tanya Jongdae.
Yixing menatap Jongdae dan menepuk lengan pemuda itu pelan. "Apa kau lupa teleportasi tidak akan berfungsi jika tujuan kita adalah luar distrik?"
Dan Jongdae merasa bodoh saat itu. "Aku melupakan hal itu. Well, sebagai middle weast awal, dia cukup pintar juga."
Yixing tertawa kecil mendengar jawaban Jongdae tentang Baekhyun. "Itu kenapa dia bisa jadi middle lebih cepat, bukan?"
"Yi, lalu setelah alat komunikasi itu kita dapatkan, bagaimana selanjutnya?"
Yixing menoleh ke samping dan mendapati salah seorang rekan kerjanya, yakni Mark sedang memberinya pertanyaan cukup bagus yang membuatnya kembali berpikir.
"Seperti yang Baekhyun tadi bilang, peak pasti hanya akan mengijinkan alat komunikasi itu dimiliki oleh tiap perwakilan jaga distrik. Jadi untuk itu, kita harus benar-benar kompak untuk saling komunikasi jika ada sesuatu yang sekiranya diluar kemampuan kita. Peak punya insting yang kuat tentang kesulitan-kesulitan yang kita alami, aku yakin tanpa kita hubungi mereka saat ada kesulitan pun, mereka akan datang membantu." Jelas Yixing.
Mark mengangguk dan tersenyum kecil pada Yixing. "Sekarang aku benar-benar yakin kau akan dipilih Ryeowook sebagai penerusnya, Yi,"
Jongdae mengangguk setuju dengan Mark dan ikut tertawa bersama rekan-rekannya yang lain, berharap tawa mereka ini bisa menenangkan batin mereka yang ketakutan karena ini adalah kali pertama mereka bekerja tanpa bantuan para peak.
"Kami dataaaaang~"
Dan suara merdu Baekhyun pun menguar di ruang pertemuan para middle weast itu.
"Kami hanya mendapat lima buah screaker. Peak bilang mereka tidak mau membuang banyak dana dengan membelikan masing-masing dari kita sebuah screaker," terang Myungsoo.
Yixing tersenyum dan memeluk Baekhyun juga Luhan dengan erat sebagai ucapan terima kasih. "Itu sudah sangat cukup L. Terima kasih sudah memastikan dua gadis ini baik-baik saja,"
Myungsoo tersenyum kecil pada Yixing. "Sudah tugasku, Yi."
"Naaaah, jadi bagaimana selanjutnya, Yi?" tanya Luhan, seorang gadis cantik dengan surat sebahu warna coklat gelap yang membuatnya terlihat makin menggemaskan saat ia tertawa.
"Kita tetap pada jadwal, dan jika ada sesuatu yang diluar kemampuan kita, maka kita akan berkomunikasi lewat screaker." Jawab Mark singkat.
"Kau memang pendengar yang baik, Mark. Yang kutanya siapa, yang menjawab siapa," sahut Luhan dengan nada setengah mengejek.
"Dasar rusa, aku kan hanya menyampaikan apa yang Yixing tadi bilang padaku." Balas Mark dengan nada kesalnya.
Yixing kembali tersenyum melihat pertengkaran keccil kedua rekan kerjanya ini. "Kalian memang tidak pernah akur, ya? Sudahlah, lagipula apa yang Mark bilang memang benar, Lu. Aku tadi sudah mengatakannya pada Mark sebelum kalian datang. Karena dia bertanya hal yang sama denganmu," jelas Yixing bijak.
"Dengar? Dasar rusa bawel. Nah, kalau begitu ayo kita segera ke distrik jaga. Sebelum peak tahu bahwa kita belum juga berangkat padahal ini sudah jam malam," ingat Mark.
Dan Luhan reflek mengecek alat penunjuk waktu yang ada di dinding ruangan ini. "Secepat itu ya hari ini selesai," ucapnya sedih.
"Oke, jadi semua sudah tahu kan jadwal terbaru kita? Baekhyun, Luhan dan Myungsoo akan menjaga distrik Trien. Aku, Mark dan Jaebum akan menjaga Vicerty. Jongdae, Key dan Kangin akan menjaga Freat. Lalu Krystal, Jaeseop dan Jongup akan menjaga Psycher. Dan Jimin, Yoona, juga Eli akan menjaga Lite. Jadwal ini berlaku selama satu minggu ke depan, setelahnya kita akan bertukar tempat. Freat to Vicerty, Trien to Psycher, Vicerty to Trien, Lite to Freat, Trien to Psycher and Psycher to Lite." Jelas Yixing sembari menatap wajah rekan-rekannya satu persatu untuk memastikan mereka menyimpan ingatan tentang jadwal itu baik-baik.
"Selamat bekerja, Dokter!" pekik Jongdae semangat yang diikuti high-five dari seluruh rekan kerjanya.
Luhan merangkul Baekhyun dan menariknya lalu menghilang bersama Myungsoo dan muncul dengan cepat tepat di pintu gerbang distrik Weathor. Sebagai seorang weast yang berada pada level satu, mereka memang bisa menghilang dan berpindah tempat kapan pun tanpa kesulitan selama tujuan mereka ada pada satu distrik yang sama dengan tempat mereka berdiri sebelum mereka menghilang.
"Aku tidak sabar ada di Trien. Kelihatannya para Triens cukup menarik, Baek. Mereka ilmuwan, kan?" tanya Luhan antusias.
"Dasar. Apa kau se-desperate itu sampai sebegitu bersemangatnya untuk bisa bertemu para Triens? Statusmu yang sendirian itu pasti sudah membuat otakmu sedikit koyak, ya Lu." Canda Myungsoo yang dihadiahi Luhan sebuah kesakitan luar biasa di pucuk kepalanya akibat sebuah bongkahan es berdiameter sepuluh centi yang baru saja jatuh di atas kepalanya.
"Itu akibatnya karena kau mengejek seorang gadis yang sedang dalam usahanya mencari tambatan hati, Myungie." Sindir Baekhyun yang kemudian berhigh-five dengan Luhan.
"Hah, kenapa Nyonya Ryeowook memasukkanku ke dalam tim kalian, sih? Nerakaaaaa~" protes Myungsoo lemah yang dibalas tawa keras oleh Baekhyun dan Luhan.
"Ah, kita sudah sampai!" pekik Myungsoo lagi. Perjalanan dari Weathor menuju Trien memang tidak sejauh menuju distrik lain. Karena selain dua distrik ini ada dalam level yang sama, dua distrik ini juga hanya terpisahkan oleh sebuah jembatan dengan panjang satu kilometer.
Setelah dipersilahkan masuk oleh penjaga pintu gerbang di distrik Trien, ketiga middle weast itu melanjutkan perjalanan mereka menuju posko kesehatan dipandu oleh seorang penjaga gerbang.
"Ini posko kalian. Selamat datang di Trien dan selamat bekerja," salam sang penjaga ramah.
Ketiga weast itu hanya bisa menjawab dengan senyuman lalu mulai masuk ke posko mereka yang ternyata diluar dugaan mereka sangat apik, rapi dan tertata, juga bersih. Mereka pikir, pekerjaan ilmuwan tak akan jauh-jauh dari lantai yang dipenuhi tumpahan cairan kimia dan berbagai barang yang mereka tidak paham sama sekali itu.
"Selamat datang di Trien, Weast." Sapa seorang pemuda dengan tingginya yang melebihi rata-rata itu dari pintu masuk posko yang baru saja dilewati oleh para middle weast.
"Eum, terima kasih. Kau..." gantung Baekhyun.
"Ah, maaf. Aku Chanyeol, ketua young triens tahun ini." Sahut Chanyeol memperkenalkan dirinya.
"Hai Chanyeol, aku Luhan, middle weast."
"Kau bisa memanggilku Myungsoo, aku juga middle weast."
Dan bukannya memperkenalkan diri, Baekhyun malah masih tidak berhenti menatap Chanyeol dengan kagum sejak tadi sampai-sampai Luhan harus menyenggol lengan gadis cantik itu untuk mengembalikan jiwanya ke dunianya sekarang.
"A-ah, maaf. A-aku Baekhyun, middle weast awal."
Chanyeol tersenyum kecil lalu sedetik kemudian dahinya berkerut. "Awal? Apa ada perbedaan di tingkat middle pada distrik kalian?"
Luhan tersenyum menanggapi pertanyaan Chanyeol. "Sebenarnya tidak ada. Tapi karena anak ini adalah satu-satunya young weast yang mendapat promosi langsung dari Ketua Distrik berkat kecerdasannya, jadi kami para middle weast yang lain sering memberi akhiran awal padanya." Jelas Luhan.
Chanyeol mengangguk mengerti. "Aku mengerti. Kalau begitu, selamat beristirahat, dan besok pagi pukul tujuh, kalian akan ditunggu oleh Ketua Distrik juga beberapa triens lain di ruang makan khusus milik Ketua Distrik. Jadi, kuharap kalian sudah bangun dan bersiap sebelum pukul tujuh tiba." Terang Chanyeol.
Luhan mengangguk paham dan begitu juga Myungsoo. Namun lagi-lagi Baekhyun menampilkan sisi bodohnya malam ini. "A-apakah kau juga akan hadir disana?"
Chanyeol tersenyum kecil lalu mengangguk pelan menanggapi Baekhyun. "Aku akan ada disana, menunggumu dan juga teman-temanmu untuk makan pagi bersama para triens yang terpilih. Kalau begitu, selamat malam?"
Chanyeol menundukkan kepalanya seperti mengangguk untuk memberi salam pada para middle weast yang jadi tamu Triens selama satu minggu ke depan ini. Dan setelah berbalik dan berjalan menjauh dari posko, Chanyeol pun terdengar bergumam pelan sambil tanpa henti tersenyum bahagia.
"I found you, little one."
.
.
.
tbc
*This story is inspired by these films: Vice, Divergent, The Maze Runner, Push, Dracula Untold, little bit HP
dan mungkin ada yang lain tapi saya lupa judunya ^_^" maaf ya,*
So, melihat respon pembaca yang lumayan dan reviewers yang dikit, cukup bikin sedih sih. Tapi ya gak masalah, namanya cerita abal-abal dari penulis abal-abal ya wajar aja.
Dan untuk Chapter 1: Trien and Weathor ini, apakah ada hal-hal yang hendak ditanyakan?
Monggo bisa ditanyakan lewat review, ya ;).
Jongsoo tunggu review kalian,
Salam,
KJ-27
