Assassination Classroom © Matsui Yuusei. Universe yang dipakai dalam fanfiksi ini diambil dari drama Keizoku 2: SPEC (2010) yang disutradarai oleh Tsutsumi Yukihiko, Imai Natsuki, dan Kaneko Fuminori serta ditulis oleh Nishiogi Yumie. Tidak ada keuntungan material atau profit yang didapat dari penulisan fanfiksi ini.
WARNING: Crossover-AU (Fusion), slight gore and violence, character death, headcanon based, OOC may ensues, and slow update.
"Kenapa kau bertindak seenaknya tanpa memberitahuku?"
Suara derap langkah yang beradu cepat bergema di koridor sempit menuju basement. Nakamura menampilkan raut wajah panik bercampur dengan kekesalan, sementara Gakushuu setengah meter di depannya berjalan cepat, berusaha tidak mendengar omelan-omelan yang sudah didengarnya sejak bertemu Nakamura di lobi tadi. Sambil berdecak keras, Gakushuu memasuki lift-kerangkeng dan menekan tombol, nyaris meninggalkan Nakamura yang berlari panik mengejarnya begitu melihat Gakushuu menekan tombol dan mesin lift mulai berderu. Gakushuu memutar matanya begitu Nakamura berdiri menyebelahinya dan mulai mengomel lagi.
"Kau sama sekali tidak berbicara apa-apa padaku soal ini! Kautahu, aku paling benci ketika polisi sembarangan menahan orang tanpa bukti yang kuat—"
"Kecuali dia memang seorang penipu dan pemeras," potong Gakushuu tanpa ampun. Nakamura mengeluh.
"Memangnya kau punya bukti?"
"Dengar, nenek-nenek yang sedang menyeberang di jalan raya saja tahu kalau hal yang peramal itu lakukan adalah modus pemerasan dan penipuan, kau akan menyadarinya jika saja kau menggunakan common sense!" semprot Gakushuu, membuat Nakamura berjengit, mempertanyakan kekreatifan Gakushuu dalam hati karena tidak bisa membuat analogi lain selain nenek-nenek yang sedang menyeberang. "Kau sebenarnya polisi atau bukan, sih? Percaya saja terhadap hal-hal supranatural bullshit seperti itu."
"Oh, karena aku percaya, makanya aku ditempatkan di unit ini, jadi menurutmu siapa di sini yang tidak punya common sense hah?" Nakamura membalikkan serangan Gakushuu dengan satu kalimat. "Lagipula, ramalan yang diberikan Hazama Kirara padaku seratus persen akurat dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk percaya bahwa ia bukan penipu dan atau pemeras."
Gakushuu mengernyit. "Ha. Kau yakin isinya bukan kata-kata ambigu yang tidak ada maknanya?"
"Memangnya isi ramalanmu sendiri tentang apa?" Nakamura memasang wajah tak suka sambil membalikkan pertanyaan.
"Tidak kubaca. Kubuang."
"Kau ini—grrrrh!" Geraman tersebut menggema di dalam ruangan kantor yang sepi, hanya ada Koro-sensei di mejanya, menikmati waktu santai dengan sekotak donat cokelat, kemudian otomatis menutup telinga mendengar geraman tersebut menggema bersamaan dengan deru mesin lift. Disusul dengan kebingungannya melihat Gakushuu dan Nakamura yang keluar dari lift, masing-masing menebarkan aura perkelahian terhadap satu sama lain.
"Koro-sensei, lihat bawahanmu yang satu itu, bertingkah seenaknya saja, bahkan mencuri stempel dan surat keterangan dari laci mejamu!" Suara tak-tak sepatu hak tinggi Nakamura yang beradu kencang dengan lantai semakin menambah polusi suara di telinga Koro-sensei yang bingung. "Ia menahan seseorang tanpa bukti, mencuri surat keterangan dan stempel dari lacimu, apa semua anak bos seperti ini kerjaannya? Berbuat seenaknya saja? Kautahu, Sen—KORO-SENSEI, APA-APAAN DONAT COKELAT ITU! Kukira kita sudah bicara tentang kadar gula maksimal yang kaubisa terima dalam sehari!?"
Sementara Nakamura terdistraksi oleh donat cokelat dan Koro-sensei yang berusaha memberikan sejuta alasan soal donat tersebut (dan mengatakan bahwa donat-donat tersebut pemberian dari Touka-chan), Gakushuu dengan cepat membuka laptopnya, menyunting beberapa dokumen dan mencetak dokumen tersebut. Nakamura dan Koro-sensei masih berdebat soal gula darah dan diabetes ketika Gakushuu dengan santainya berlalu menuju lift—sayangnya Nakamura menyadari hal tersebut dan buru-buru mencegat. "Mau ke mana? Urusan kita belum selesai! Kau masih harus bertanggung jawab atas penangkapan tanpa bukti itu—"
Gakushuu menepis tangan Nakamura yang berusaha menghalanginya dengan dokumen yang dipegangnya. "Kau sendiri tidak punya bukti kuat tentang ramalan Hazama Kirara. Hal yang seharusnya seorang polisi lakukan sudah kulakukan, yaitu menahan peramal palsu tersangka pemerasan dan penipuan. Dan sekarang aku akan melakukan hal lain yang seharusnya polisi lakukan, yakni menginisiasi pengamanan khusus untuk pesta ulang tahun Yukimura Akari, karena bukannya tidak mungkin Hazama Kirara memiliki kaki tangan yang sudah disiapkan untuk membunuh Yukimura Akari."
Mata Nakamura membulat. "Maksudmu?"
"Aku akan mengajukan permintaan untuk memanggil pasukan pengamanan khusus untuk mengamankan pesta ulang tahun Yukimura Akari." Dengan senyum jumawa Gakushuu menunjukkan dokumen surat permintaan yang sudah dibubuhi stempel dari kepala divisi—ternyata Gakushuu masih belum mengembalikan stempel itu. "Sesuatu yang akan dilakukan oleh polisi sesungguhnya."
Nakamura berjengit tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi untuk melawan Gakushuu. Dibiarkannya saja Gakushuu berlalu, kemudian tanpa sadar kuku ibu jari tangan kanannya menjadi korban untuk digigiti, untuk meluapkan emosi dan frustrasi.
Pesta ulang tahun Yukimura berlangsung di sebuah ballroom hotel mewah yang sudah dipesankan oleh Sugino sejak jauh-jauh hari.
Setelah beberapa hari dibuat pusing oleh birokrasi yang berbelit-belit ("Di SIS dulu tidak pernah merasakan hal ini ya? Kasihan," begitu cara Nakamura meledeknya) akhirnya permohonan untuk pasukan pengamanan diterima, meskipun personil yang datang bukanlah personil yang memiliki jam terbang tinggi. Beberapa dari personil tersebut akan berbaur bersama pengunjung pesta agar keberadaan polisi dengan seragam tidak merusak suasana pesta yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan. Gakushuu sudah memastikan mengenai keamanan dari pihak hotel, dan kabarnya mereka akan memberikan enam orang personil tambahan.
"Lebih dari cukup, terima kasih," ujar Gakushu sambil mengangguk, mengakhiri pembicaraannya dengan kepala keamanan hotel. Sekitar satu meter dari sana Nakamura memandanginya sambil bersandar di tembok dan kedua tangan disilangkan di depan dada, alis tertekuk tajam ke bawah lengkap dengan cemberut yang begitu kentara. Yang dipandangi hanya bisa mendecih begitu menyadari bahwa Nakamura sedari tadi memandangnya seolah ingin menantangnya bertarung satu lawan satu sekarang juga.
"Aku tahu dulu kau adalah mantan kepala skuad paling bergengsi di Jepang, bahkan sampai disebut-sebut investigator muda jenius." Nakamura menyengajakan tekanan berlebihan pada kata mantan dan semakin menuju akhir, nada kalimatnya semakin nyinyir. "Mengetahui hal-hal tersebut, kukira kau belajar untuk, kautahu, bekerjasama?"
"Sepertinya aku mendengar ada yang berbicara, hm, apakah tembok ini berbicara padaku?"
Siku Nakamura mendarat dengan keras di lengan Gakushuu. Yang disikut mengeluh pelan sambil menampakkan ekspresi kesal.
"Kautahu, aku tidak yakin dengan melibatkanmu, pekerjaan kita akan berjalan dengan sempurna." Gakushuu mengangkat bahunya arogan. "Kau melihat saja dari belakang. Jangan ganggu aku."
Nakamura mendengus, bersiap untuk melayangkan sikutan yang selanjutnya atau kata-kata sinis lainnya, namun keinginan itu harus dipendamnya untuk sementara karena salah satu personil tim keamanan yang akan bertugas di pesta ulang tahun Yukimura nanti, Kanzaki Yukiko, berlari-lari kecil menghampiri mereka dan tampaknya ingin menanyakan sesuatu pada Gakushuu.
"Ano, Asano-san," ujarnya dengan nada suara lembut seperti biasa—nada suara yang membuat Nakamura (dan Gakushuu) sering tidak percaya bahwa Kanzaki adalah seorang polisi. "Saya belum mendapatkan kopian lay-out pesta. Boleh saya minta satu?"
"Kopian lay-out? Oh, saya tidak memegangnya—ah, kaubisa minta ke Sugino-san, yang di sana itu."
"Terima kasih, Asano-san!"
Nakamura memerhatikan bagaimana Kanzaki berlari kecil ke arah Sugino yang berdiri tidak jauh dari mereka, dan telinganya menangkap suara Kanzaki yang tampak terkejut lalu memanggil Sugino dengan sufiks yang terdengar akrab—Sugino-kun. Perhatian Nakamura terfokus sepenuhnya pada kedua orang tersebut ketika Sugino, dengan nada terkejut, menyahut dengan menyebutkan nama Kanzaki-san.
"Ini mengejutkan sekali, aku tidak menyangka aku bisa bertemu denganmu di sini." Kanzaki sudah menanggalkan keformalan yang tadi digunakannya ketika berbicara dengan Gakushuu barusan. "Bagaimana kabarmu, Sugino-kun?"
"Aku juga tidak menyangka … seperti yang bisa kaulihat, Kanzaki-san, aku baik-baik saja." Sugino menggaruk bagian belakang kepalanya, tampak gugup seperti sedang berbicara dengan gadis idamannya—atau memang iya? "Sejujurnya aku tidak pernah menyangka Kanzaki-san akan menjadi seorang polisi, lho. Kanzaki-san betah di kepolisian?"
"Um, begitulah. Sudah lama ya kita tidak bertemu, kapan ya terakhir kali aku bertemu dengan Sugino-kun? Ah, kalau tidak salah sewaktu menonton pertandinganmu di Koushien saat SMA, ya?"
"Begitu, kurasa? Sudah lama sekali ya …."
Gakushuu bukannya tidak memperhatikan apa yang sedang Nakamura perhatikan saat ini. Mendecih, ia menyikut balik lengan sang gadis, membuat fokus Nakamura buyar dan mendelik ke arah Gakushuu.
"Jangan bengong."
"Siapa yang bengong!"
"Daripada bengong, lebih baik kauberikan ini pada kepala koki hotel. Ini surat pengantar untuk menggunakan alat gas kromatografi untuk mendeteksi racun pada makanan." Tanpa kata tolong atau nada yang memperhalus, Gakushuu mengacungkan sebuah surat tepat ke arah wajah Nakamura yang membelalakkan matanya sebagai respon. "Aku masih harus mengatur jalur koordinasi keamanan di sini."
Dengan raut wajah tidak suka, Nakamura menyambar surat tersebut—dan hal itu tidak begitu mengganggu Gakushuu, toh akhirnya gadis itu melaksanakan apa yang dimintanya. Pandangan Gakushuu mengikuti punggung Nakamura sampai gadis itu menghilang di balik pintu, sebelum menyandarkan punggung ke dinding dan mengembuskan napas.
"Ah."
Yukimura Akari tengah berdiri di depan pintu ballroom sendirian ketika Nakamura kembali dari kantor kepala koki. Dari caranya berhenti bersandar pada dinding dan menatap lurus ke arah Nakamura ketika ia menyadari kedatangan gadis itu, Nakamura menyimpulkan bahwa Yukimura mungkin sedang menunggu kedatangan dirinya.
Aktris itu terlihat cantik seperti biasa namun kini dengan gurat ketegangan yang begitu jelas tertera pada ekspresinya. Matanya terlihat awas, kepalan tangannya diposisikan di sekitar dagu dan bibirnya bergerak-gerak halus, mencerminkan kegugupan dan insekuritas. Reaksi yang cukup wajar ditampilkan oleh seseorang yang baru saja menerima vonis bahwa ia akan mati dibunuh. Nakamura mempercepat langkahnya.
"Yukimura-san?"
Begitu sapanya ketika jarak di antara mereka sudah mulai berkurang.
"Ada apa? Apakah masih ada yang kurang dengan pengamanan di sini?"
Yukimura menggeleng.
"Anu … uh, itu …"
"Aku Nakamura, Yukimura-san."
"Nakamura-san," gumam Yukimura gugup. "Aku … aku ingin menyampaikan satu hal padamu."
Sebelah alis Nakamura terangkat. "Sesuatu?"
"1289-7890-5731." Yukimura menyebutkan angka-angka itu dalam satu kali tarikan napas. "Tolong ingat apa yang kusebutkan barusan, dan jangan pernah lupakan, tapi tolong jangan dicatat."
"Hah?"
"Tolong diingat." Yukimura mengulang. "Dan jangan dicatat."
Ada nada keseriusan yang kentara dalam intonasi dan pancaran mata Yukimura, membuat Nakamura akhirnya mengangguk patuh. Dengan nada bicara seperti itu dan bagaimana Yukimura tampaknya menunggu waktu privat untuk membicarakan hal ini dengan Nakamura, tidak ada alasan bagi Nakamura untuk menganggap hal ini sepele. Diulangnya keduabelas nomor itu dalam kepala sebelum menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan jangka panjang.
"Uwoooh! Gaku-chan, itu idol yang sedang terkenal, kan? Apakah kaupikir akan ada artis dari Johnny's yang hadir di pesta ini?"
"Lihat, lihat! Kuenya besar sekali!"
"Arah jam dua belas, Gaku-chan! Itu model gravure favorit Koro-sensei!"
Jika telinga Gakushuu tidak disumpal oleh earpiece dari walkie-talkie, Gakushuu pasti sudah menyumpal mulut Nakamura dengan kaus kakinya dan mengurungnya di kamar mandi. Tamu-tamu pesta baru saja berdatangan dan Yukimura bahkan belum memberikan sambutan, namun komentar yang diberikan Nakamura sudah lebih panjang dari rel kereta peluru. Ditambah lagi sembilan puluh sembilan persen dari isi komentar tersebut terlalu norak bagi Gakushuu—yang hidupnya dikelilingi oleh barisan orang penting di Jepang dari mulai aktor sampai politisi—sehingga cukup untuk membuat pemuda dua puluh empat tahun itu muak. Hanya saja ia tidak boleh kehilangan fokus sekarang. Setiap tamu yang datang otomatis mengundang kecurigaan—siapapun itu, bahkan dari kalangan keluarga Yukimura sekalipun. Gakushuu harus tetap waspada.
Memegang kendali sebagai koordinator keamanan—posisi yang ia ambil sendiri—Gakushuu berjaga di sudut ruangan ditemani Nakamura, berusaha tidak lebih menarik perhatian dibanding stan minuman di sebelahnya. Ia mengenakan setelan formal yang tidak terlalu mewah ("Jas Gucci tidak mewah, kaubilang?" begitu komentar Nakamura sambil melotot ketika ia tidak sengaja melihat logo merek di kerah jas Gakushuu) sementara sang partner mengenakan blazer navy dan rok A-line sepanjang lutut yang berbau bawang ("Demi Tuhan tidak bisakah kautahan dirimu untuk tidak makan gyoza sebelum bertugas?" Gakushuu sempat memprotes).
Menurut catatan dari Sugino, akan ada sekitar seratus lima puluh orang yang hadir. Secepat kilat Gakushuu menghitung jumlah orang yang ada di dalam ballroom kecuali dirinya dan Nakamura—pekerjaan enteng, tentu saja, untuk mantan kepala SIS—dan tidak lama kemudian perhitungannya berhenti di angka 149. Satu orang lagi yang akan datang. Gakushuu mengalihkan perhatiannya pada daftar tamu yang sudah ia corat-coret berdasarkan informasi yang ia dapat dari petugas penjaga meja penerimaan tamu. Satu nama yang belum ia coret adalah—Sakakibara Ren.
Oh Tuhan, kenapa harus orang ini.
Gakushuu ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding, menyesali kecerobohannya tidak memeriksa nama tamu terlebih dahulu. Bertemu dengan mantan anak buah di sini adalah hal terakhir yang ingin Gakushuu lakukan hari ini, dan—kenapa coba harus Ren? Apa pula hubungan mantan anak buahnya ini dengan Yukimura Akari? Gakushuu berharap dinding yang tengah disandarinya sekarang tidak terlalu keras untuk bisa memberinya gegar otak.
"Kenapa wajahmu, tiba-tiba horor begitu?"
Pertanyaan Nakamura barusan membuat Gakushuu terkesiap. Apa yang ia pikirkan barusan pasti tertulis dengan jelas di wajahnya, eh? Gakushuu berdeham. "Tidak apa-apa."
Nakamura mendengus. "Kau terlihat seperti sedang ingin membenturkan kepalamu ke dinding."
"Yang benar saja."
"Huh," gumam Nakamura. "Ah, Yukimura-san sudah siap untuk memberikan sambutan, tuh. Ayo kita maju sedikit."
Suara tepuk tangan menggema saat Yukimura melangkah menuju panggung, mendekati mikrofon yang didekorasi dengan bunga-bunga, senada dengan dekorasi lainnya yang tersebar di seluruh ballroom ini. Aktris muda itu terlihat cantik dengan gaun strapless hijau muda sepanjang mata kaki dan rambut yang digelung rapi. Aura kepercayaan dirinya membuatnya berkilau di bawah sorotan lampu. Tentu saja, ia tidak bisa memperlihatkan bahwa ia mungkin sedang gugup dan ketakutan pada suasana bahagia seperti ini.
"Selamat malam, semuanya." Ia memulai. Gema suaranya terdengar di antara ruangan yang sudah hening. "Pertama-tama, kuucapkan terima kasih karena sudah datang ke pesta ulang tahunku malam ini. Ini memang hanyalah pesta sederhana yang kuadakan sebagai rasa terima kasih karena tanpa kalian semua yang ada di sini, aku, Yukimura Akari, bukanlah apa-apa."
Hadirin tampak mengangguk-angguk dan tersenyum simpul mendengar pernyataan dari Yukimura barusan.
"Oleh karena itu, mari kita membuat malam ini menjadi malam yang penuh dengan kebahagiaan dan tidak terlupakan." Yukimura tersenyum lebar. "Mohon bantuannya untuk ke depannya."
Diakhiri dengan bungkukan singkat, sambutan dari Yukimura mengundang tepuk tangan untuk memenuhi ruangan. Tepat setelah Yukimura selesai membungkuk, Sugino datang menghampirinya, lalu membisikkan sesuatu.
"Oh, tampaknya tamu istimewa sudah datang." Yukimura kembali bicara pada mikrofon, tersenyum lebar. "Izinkan aku untuk menyambut tamu istimewa ini. Sahabatku, rekan yang paling spesial sepanjang mata, anggota dari skuad investigator paling bergengsi se-Jepang, Sakakibara Ren."
Gakushuu tersedak.
Dari pintu ballroom masuklah seorang pemuda dengan model rambut yang begitu dahsyat. Bersamaan dengan itu, masuk transmisi audio di walkie-talkie Gakushuu.
"Asano-san? Asano-san? Kanzaki kepada Asano-san?"
"Ya, ya Kanzaki, ada apa?" Gakushuu menjawab transmisi dari personil yang ditugasinya untuk menjaga penerimaan tamu tersebut.
"Tamu terakhir sudah masuk, dan ia membawa oleh-oleh yang tidak terduga," ujar sang gadis Kanzaki dengan nada sedikit panik. "Sakakibara-san menolak permintaan kami untuk memeriksa oleh-olehnya terlebih dahulu."
"Oleh-oleh, katamu?"
"Iya, sebuah kotak besar merah berpita emas—"
Transmisi tiba-tiba terputus.
"Aka-chan, bayi tersayangku!" Bahkan tanpa mengenakan mikrofon, suara Sakakibara menggelegar di dalam ballroom. Yukimura menyambutnya dengan pelukan sekilas. "Bidadari yang dua puluh tiga tahun yang lalu turun dari langit kini sudah menjelma menjadi ratu bidadari, eh?"
"Dia mantan anak buahmu?" Nakamura berbisik. Gakushuu mengangguk.
"Seperti biasa kata-katanya selalu membuatku mual."
"Terima kasih, Ren." Yukimura berkata sopan. "Dan apa kotak besar yang kaubawa ini, hm? Kau tidak membawa jack-in-the-box tahun ini, kan? Sudah basi."
"Tentu saja tidak, bayiku tersayang." Sakakibara menaruh kotak merah itu di atas panggung, kemudian membukanya dengan gerakan dramatis. "Ta-raa~! Mochi bulan dari kampung halaman nenekku, kubawakan untuk bayiku yang bersinar seperti bulan purnama, juga untuk tamu-tamunya yang istimewa!"
Mendengar kalimat Sakakibara barusan, Gakushuu dan Nakamura otomatis bertatapan.
"Mochi katanya?" gumam keduanya dalam waktu yang nyaris bersamaan.
"Silakan, Tuan Putri, untuk mencicipi mochi-nya terlebih dahulu sebelum Tuan Putri membagi-bagikannya pada tamu-tamumu yang terhormat." Sakakibara menyodorkan piring kecil dan garpu yang entah ia dapat dari mana.
"TUNGGU!"
Semua mata kini tertuju pada Gakushuu dan Nakamura yang berjuang untuk menembus kerumunan orang demi mencapai panggung. Mata Sakakibara otomatis membulat melihat mantan kaptennya ada di ruangan ini—untuk apa?
"Asano!" Sakakibara berseru. "Apa yang kaulakukan di pesta ulang tahun Aka-chan—"
"Mochi ini." Gakushuu tidak mengindahkan pertanyaan Sakakibara barusan. Napasnya tersengal setelah berlari menembus kerumunan. "Belum diperiksa. Betul kan?"
Sakakibara terdiam sejenak, lalu menjawab. "Memang begitu, tapi untuk apa diperiksa?"
"Kami harus memastikan dulu apakah mochi ini tidak mengandung racun."
"HAH? Jangan bercanda, Asano!" seru Sakakibara, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Masa iya aku memberikan mochi beracun pada Aka-chan, sahabatku sejak kecil, Tuan Putri, bidadari?"
Gakushuu berjengit sejenak. "Ini peraturan. Nakamura, bawa mochi-mochi ini ke ruang gas kromatografi."
"Kalau kau berani, kenapa kau tidak mencobanya langsung di sini saja tanpa harus mengetesnya dengan gas kromatografi?" tantang Sakakibara yang raut wajahnya campuran malu dan marah. "Lebih cepat dan lebih akurat!"
"Kau gila," desis Gakushuu. "Mochi ini tetap harus kami periksa—"
"B-biar saya yang mencoba mochi ini!"
Kalimat tersebut datang dari mulut Sugino. Manajer berambut hitam pendek itu melangkah mendekat, lalu mengambil piring dan garpu dari Sakakibara.
"Sugino-kun—" Yukimura berusaha mencegah, namun Sugino menghalanginya. Ia tersenyum mantap.
"Ini tugasku."
"Tapi—"
"Kau memalukan sekali, Asano, kupikir kau polisi? Tugas polisi itu melindungi masyarakat, dan sekarang kaumalah diam dan membiarkan seorang penduduk sipil mempertaruhkan nyawanya seperti ini?" Sakakibara kembali menantang. "Kalau kau benar-benar polisi, seharusnya kau berani melindungi masyarakat meskipun nyawamu taruhannya!"
Kau juga polisi. Kenapa tidak kau saja. Kata-kata itu tertahan di tenggorokan Gakushuu tanpa bisa ia ucapkan—oh, Gakushuu tidak ingin memperpanjang perdebatan. Sambil mendecih pelan pada Sakakibara—yang menyeringai puas—Gakushuu mengambil piring dan garpu dari Sugino dan tanpa basa-basi lagi ia mengambil mochi dari kotak tersebut.
"Gaku-chan—"
Ia bisa mendengar kekhawatiran dalam nada suara Nakamura, namun tentu saja ia tidak bisa mundur sekarang. Dimasukkannya satu potongan besar mochi ke dalam mulutnya, kemudian mengunyahnya perlahan. Semua mata kini tertuju pada detail ekspresi wajahnya saat mengunyah mochi tersebut. Tidak ada yang bersuara kecuali desis sound system dan pengharum ruangan. Atmosfir ruangan dalam seketika menjadi tegang.
Glek.
Para hadirin, tanpa disadari, sudah merapat. Jarak mereka dengan panggung semakin dekat.
"…"
"Gaku-chan ….?"
"… Enak."
"Tuh kan, apa kataku!" seru Sakakibara penuh kemenangan. "Dengar semuanya, mochi dariku seratus persen aman, tanpa racun atau apapun yang orang ini bilang. Aku persilakan kalian semua untuk menikmati mochi ini bersama-sama!"
Gakushuu berjalan cepat ke tempatnya semula, tampak terbebani oleh rasa malu, diikuti oleh Nakamura yang mengekor dengan raut wajah lega.
"Ekspresimu berkata seolah-olah kau ingin menyatu dengan dinding."
"… Berisik."
Lampu ballroom diredupkan. Lampu panggung dinyalakan. Alunan musik pop keluar dari sound system, membuat ruangan riuh rendah. Penampilan dari idol group yang merupakan sahabat dekat dari Yukimura adalah agenda selanjutnya. Nakamura, yang mengaku bahwa ia adalah fans nomor satu idol group ini, membaur dengan hadirin yang lain (baca: menerobos kerumunan untuk bisa berdiri di barisan paling depan) untuk menikmati musik dan penampilan bersama-sama. Lumayan, konser gratis, begitu yang ia katakan. Ingatkan Gakushuu untuk setidaknya menoyor kepala gadis itu besok atau lusa.
Pertunjukan berjalan dengan lancar. Satu lagu dari tiga lagu yang direncanakan ditampilkan dengan sangat baik. Musik berganti, menuju intro lagu kedua, dan saat itulah suasana pesta langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Dimulai dari Yukimura yang tiba-tiba berlutut di tempatnya sambil memegang dada, seolah kesakitan. Sakakibara ikut berlutut untuk menanyakan keadaannya, apakah gadis itu butuh istirahat dan lain sebagainya, namun aliran keringat dingin yang membasahi tubuh gadis itu seolah tidak putus-putus. Di saat itulah kepanikan mulai muncul di wajah sang polisi muda.
"Aka-chan? Kau butuh sesuatu? Aka-chan?"
"… Kh … akh … sakit …."
"Apanya? Apanya yang sakit—"
"Nh—akh—aaaaaaakh!"
"Aka-chan? Oi, oi, Aka-chan!"
Nakamura, yang berada tidak jauh dari situ, menyaksikan bagaimana sang aktris kehilangan seluruh napasnya, membawa ramalan Hazama Kirara menjadi nyata. Ada jeda waktu beberapa detik sebelum akhirnya, ballroom ini dipenuhi oleh jeritan para hadirin setelah menyaksikan betapa setelah beberapa menit bertarung dengan kesakitan, Yukimura tidak kembali bergerak.
"Kenapa aku juga harus diperiksa!?"
Protes dari Sakakibara adalah hal yang pertama kali Gakushuu dengar kala tiba giliran mantan anak buahnya itu untuk pemeriksaan. Dengan reluktan Sakakibara melepas jasnya dan membiarkan Gakushuu merogoh semua sakunya, sementara Nakamura di sebelah Gakushuu sibuk memeriksa barang bawaan tamu perempuan.
Para tamu dilarang meninggalkan tempat sebelum diperintahkan oleh polisi, serta wajib menjalani pemeriksaan terlebih dahulu. Beberapa orang personil tim forensik tampak sibuk menandai tempat kejadian perkara, dan beberapa lagi tampak sedang memeriksa tempat tersebut untuk menemukan petunjuk seperti sidik jari dan zat-zat kimia tertentu. Berkat Sakakibara, mereka bisa memanggil lebih banyak personil untuk memeriksa tempat kejadian perkara dan hal ini membuat Gakushuu gemas setengah mati.
"Semua orang harus diperiksa, ini kewajiban," jawab Gakushuu dingin sambil merogoh kantung dalam jas Sakakibara.
"Tapi aku tidak mungkin bisa melakukan sesuatu yang membahayakan pada Aka-chan!" lolong Sakakibara, membangun pertahanan untuk dirinya sendiri. "Aka-chan adalah sahabatku, sahabatku yang paling kusayangi seperti adik sendiri. Kaupikir untuk apa aku menyakitinya sampai seperti ini?"
"Sudah cukup mengeluhnya. Menurut saja."
"Kaupikir aku bisa berhenti mengeluh? Aku baru saja kehilangan sahabatku sedari kecil, Asano!"
"BISAKAH KAU DIAM?"
Sakakibara langsung membungkam mulutnya begitu Nakamura meneriakkan kalimat barusan dengan tegas. Tamu perempuan yang berdiri tepat di depan gadis itu mundur setengah langkah sementara Nakamura memandanginya dengan tajam. Sakakibara menelan ludah, di depannya Gakushuu terbelalak. Ia belum pernah melihat Nakamura seperti ini sebelumnya—dingin, muak, dan penuh amarah. Seperti bukan Nakamura yang ia kenal meskipun sebetulnya mereka baru bertemu dalam hitungan minggu.
"Bersikaplah profesional. Kau polisi, kan?"
Jujur saja, bagaimana Nakamura membalikkan pernyataan Sakakibara saat menantang Gakushuu untuk makan mochi waktu itu membuat Gakushuu cukup puas.
"… Eh … uh …."
Nakamura baru berhenti memandanginya setelah akhirnya gadis itu memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya memeriksa barang tamu perempuan yang ada di hadapannya. Gakushuu berani sumpah, tatapan Nakamura barusan terasa seperti pecahan es yang tajam; dingin dan mengiris. Ia tak tahu apakah di kemudian hari ia ingin melihat tatapan Nakamura yang begitu lagi.
"Partner barumu seram."
"Ini jasmu, terima kasih atas kerjasamanya."
Pemeriksaan berlangsung cukup lama, nyaris satu setengah jam mereka habiskan untuk memeriksa para tamu yang datang. Tidak ada yang mencurigakan dari hasil pemeriksaan dan laporan sementara tim forensik, mereka juga tidak menemukan petunjuk yang relevan. Satu-satunya petunjuk yang mungkin bisa mereka dapat adalah dari hasil pemeriksaan tubuh Yukimura yang mungkin masih akan memakan waktu lama. Mereka menemui jalan buntu.
"Malam, anak-anak."
Sapaan barusan dilontarkan oleh seseorang yang tentu saja begitu familiar di mata Gakushuu dan Nakamura. Kedua polisi muda yang sedang berpikir keras sambil duduk di pinggir panggung itu menyambut kedatangan Koro-sensei dengan lirikan seadanya, disusul dengan helaan napas yang tersinkronisasi.
"Koro-sensei, kautahu, seandainya orang ini percaya dengan ramalan Hazama Kirara …." Telunjuk Nakamura menuding Gakushuu tanpa ampun. "Mungkin kematian Yukimura-san bisa dihindari."
Gakushuu menepis tudingan Nakamura kasar. "Berisik."
"Tebak apa yang sudah kudapatkan." Koro-sensei berusaha membangkitkan semangat Gakushuu dan Nakamura dengan pertanyaan dengan nada penuh canda barusan.
"Kenaikan kandungan gula darah." Nakamura menjawab asal.
"… Kau benar, tapi tidak benar! Aku sudah mendapatkan informasi soal penyebab kematian Yukimura-san." Kalimat terakhir berhasil membuat Nakamura dan Gakushuu melihat ke arah Koro-sensei dengan mata membulat. "Tidak ditemukan racun atau apapun dalam tubuhnya. Penyebab kematiannya … serangan jantung."
"Hah?"
"Begitu," desah Sugino pelan setelah polisi memberitahunya soal penyebab kematian Yukimura. "Apa boleh buat … seharusnya aku lebih mengontrol gaya hidupnya. Tidak ada yang mengira Yukimura-san akan meninggal seperti ini. Terima kasih banyak atas informasinya. Untuk sekarang, biar aku saja yang mengurus sisanya."
"Kau yakin tidak akan apa-apa jika kami tinggalkan?" tanya Koro-sensei sebagai respon akan ucapan Sugino barusan.
"Tidak apa-apa. Kurasa Yukimura-san akan lebih senang kalau tidak membuat orang lain kerepotan dan ketakutan pada hari ulang tahunnya … ini." Sugino terdengar sangat sedih mengucapkan kalimat barusan. "Kautahu, Yukimura-san tinggal sendirian setelah kakaknya meninggal, kurasa ia senang sekali karena ia berpulang dengan dikelilingi orang-orang yang berarti baginya. Aku ingin menyempurnakan kebahagiaan itu dengan mengurus sampai habis segala sesuatu yang berkaitan dengan kematiannya ini."
Koro-sensei mengangguk-angguk. "Kau orang yang sangat baik, Sugino-san."
"Berarti, bagaimana kau menginterpretasikan situasi ini? Apakah Hazama Kirara akurat atau tidak?"
Yang bisa membawa pembicaraan tentang Hazama Kirara dalam situasi seperti ini tentunya hanya Nakamura. Sambil menyangga dagunya dengan tangan kanan, ia menatap lurus-lurus ke arah Sugino. "Yukimura-san tetap meninggal, namun … bukan dengan dibunuh?"
"Dia hanyalah seorang peramal penipu," sela Gakushuu tidak sabar. "Aku sudah mengatakannya padamu ribuan kali."
Nakamura tidak mendengar.
"Menurutmu bagaimana, Sugino-san?"
"Eh? Meskipun ramalan Hazama yang sebelumnya banyak yang akurat, untuk kali ini tentu saja ia salah. Maksudku, Hazama bilang Yukimura-san akan dibunuh, bukan? Pada kenyataannya Yukimura-san meninggal bukan karena pembunuhan." Sugino mengernyitkan alisnya.
Suara sepatu yang diadukan berkali-kali ke lantai terdengar. Ada ekspresi ketidakpuasan di wajah Nakamura.
Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural kembali ke kantor mereka setelah meninggalkan ballroom hotel tempat pesta ulang tahun Yukimura Akari dilaksanakan.
Nakamura tidak bicara apa-apa selama perjalanan, tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu sampai di kantor, yang pertama kali dilakukannya adalah berlari ke arah ruang tatami, menarik kertas-kertas yang tidak terpakai dari laci, kemudian mengeluarkan tinta dan kuas. Gakushuu memerhatikannya dengan dahi berkerut, seolah mempertanyakan apa yang ingin gadis itu perbuat dengan kaligrafi di malam seperti ini.
Kuas bertinta digoreskannya di atas kertas, membentuk kata-kata.
Masa depan.
Pembunuhan.
200 juta yen.
Serangan jantung.
Ramalan.
"Apa yang sedang kaulakukan?" tanya Gakushuu setengah mengeluh. "Kalau kau masih berpikir soal kemampuan Hazama Kirara, lebih baik kau segera melupakannya."
"Aku meyakini apa yang aku yakini." gerutu Nakamura. "Lagipula, serangan jantung? Yukimura-san lebih muda satu tahun dariku."
"Oh ayolah, kau tidak pernah tahu gaya hidupnya, kan? Sekarang anak muda pun bisa terkena penyakit-penyakit seperti itu. Dan bahkan kau tidak tahu catatan kesehatannya, siapa tahu jantungnya memang lemah?"
Nakamura tidak menggubris. Ia menggoreskan kata lain di atas kertas.
Mochi bulan.
"Nakamura-kun, apakah kau melihat jarum suntik insulinku?" Koro-sensei yang sedang sibuk menggeratak laci tampak kebingungan. "Seingatku aku menaruhnya di sekitar sini."
"Iya, aku lihat. Kutaruh di—"
Hening. Nakamura menghentikan kalimatnya.
"Nakamura-kun?"
Gakushuu dikejutkan oleh Nakamura yang tiba-tiba melesat ke arah mejanya, dan membongkar laci meja tersebut. Dengan tergesa-gesa, dikeluarkannya sebuah kotak berisi jarum suntik dan diangkatnya jarum suntik tersebut sampai ke depan wajahnya.
Jarum suntik tersebut memiliki jarum yang setipis rambut, namun kuat sehingga bisa menembus fabrik. Tidak menimbulkan iritasi, hanya tanda merah kecil di bagian tubuh yang dikenai suntik. Koro-sensei menggunakan jarum ini untuk menyuntikkan insulin ke dalam tubuhnya.
"Gotcha."
Nakamura menggumam dan tanpa memberikan jarum tersebut pada Koro-sensei, ia kembali melesat seperti pesawat jet menuju ruang tatami, menghadapi kembali kertas, kuas dan tinta di meja. Dengan bersemangat ditulisnya jarum suntik di atas kertas, kemudian menyusun kertas-kertas yang sudah ditulisinya di atas meja. Ia menarik napas panjang, matanya berbinar selagi memindai huruf-huruf yang sudah dituliskannya.
"Aku mengerti sekarang," gumamnya. "Koro-sensei, bisa kaupanggilkan Nagisa untukku?"
Kontras dengan beberapa jam yang lalu, ballroom ini sekarang hening.
Sampai seseorang membuka pintu dan membiarkan suara alas sepatunya bergesekan dengan karpet. Tangan kanan orang tersebut menggenggam bola baseball yang tampak mulus, seolah baru saja diambil dari tempatnya. Ia melangkah semakin jauh ke dalam ruangan sampai tiba-tiba sebuah suara mengejutkan menghentikan langkahnya.
"Yo, selamat malam, Sugino-san!"
Di sela-sela kunyahan gyoza, Nakamura menyapanya dari salah satu sudut panggung. Sugino terpaku di tempatnya, kaget melihat polisi yang seharusnya sudah pulang itu masih ada di ballroom ini.
"Nakamura-san?" tanya Sugino bingung. "Bukankah seharusnya kau sudah—"
"Oh, oh, tidak, tidak." Buru-buru Nakamura menutup bungkusan styrofoam tempat gyoza yang tengah dinikmatinya, kemudian meninggalkan makanan itu di tempatnya sementara dirinya berjalan mendekati Sugino. "Aku datang ke sini untuk menangkap seorang kriminal—hup!"
Pandangan heran Sugino tidak sedetikpun meninggalkan Nakamura yang baru saja melompat dari panggung dengan mudah.
"Kriminal?"
"Yep." Nakamura menyapu blazer-nya dengan tangan kanan. "Kriminal yang telah membunuh Yukimura Akari."
"Hah?" Sugino menaikkan alisnya. "Bukankah Yukimura-san meninggal karena serangan jantung?"
Nakamura menggeleng.
"Sugino-san, kautahu tentang potasium?"
"Potasium?"
"Tubuh manusia memproduksi potasium secara alami, namun ketika konsentrasinya dalam tubuh melebihi batas maksimum," Nakamura sengaja memberikan jeda sejenak untuk memberikan kesan dramatis. "Akan menyebabkan serangan jantung."
Sugino terdiam sejenak.
"… Lalu?"
"Aku sudah mengecek catatan kesehatan Yukimura-san, dan tidak ada masalah berarti yang bisa ditemukan pada jantungnya. Karena potasium juga diproduksi oleh tubuh, maka hal tersebut tidak diklasifikasikan sebagai racun, kan?" Nakamura mengedikkan bahu. "Hanya saja, jika aku meminta dokter untuk mengecek kandungan potasium dalam tubuhnya, kurasa kita akan terkejut."
"Jadi intinya, Yukimura-san keracunan potasium?" Sugino terdengar panik. "Siapa yang melakukannya—"
"Tentu saja orang yang datang kemari untuk menghancurkan barang bukti. Bukan begitu, Sugino-san?"
Sugino membelalak sejenak mendengar kalimat Nakamura barusan, lalu tertawa geli.
"Maksudmu aku, begitu? Aku datang kemari untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal."
"Hee, begitukah? Bukan untuk menghancurkan barang bukti?"
Ada ketajaman yang kentara meskipun kalimat tersebut diucapkan Nakamura dengan nada malas.
"Barang bukti apa?" Sugino berteriak, setengah tertawa. "Yukimura-san sama sekali tidak mengonsumsi apapun dengan kadar potasium tinggi—bukankah pemeriksaan kalian sudah membuktikannya?"
"Oh, itu mudah sekali." Nakamura mengeluarkan sesuatu dari saku blazer-nya; jarum suntik insulin milik Koro-sensei. Dengan jarum yang tipis seperti rambut namun kuat. "Kau menggunakan jarum suntik seperti ini, kan?"
Sugino semakin terlihat heran.
"Jarum suntik?"
"Betul. Jarum suntik ini sangat tipis, namun kuat sehingga bisa menembus kain. Gaun yang dipakai Yukimura-san tadi terbuat dari kain velvet, dan aku bisa jamin bahwa jarum ini bisa menembus kain velvet. Nyaris tidak terasa apa-apa, dan hanya meninggalkan bintik merah kecil."
"Konyol sekali. Meskipun jarum suntik itu tipis seperti katamu, tidak mungkin aku menggunakan jarum itu tanpa mengundang perhatian." Menatap Nakamura dengan tatapan penuh tantangan, Sugino melipat tangannya di depan dada. "Lagipula, Yukimura-san selalu bersama dengan Sakakibara-san, jika aku melakukan sesuatu padanya Sakakibara-san pasti akan menyadarinya, kan? Sakakibara-san adalah polisi, sama sepertimu, aku yakin instingnya juga tidak kalah tajam."
"Nah. Maka dari itu kau menggunakannya saat perhatian semua orang tertuju pada suatu titik yang lain." Tangan Nakamura menggoyang-goyangkan jarum suntik itu, seolah berusaha untuk menarik perhatian Sugino dengan gerakannya. "Alias, ketika Gaku-chan tengah mencoba mochi dari Sakakibara. Kau menyuntiknya dengan potasium pada saat itu. Aku sudah mendapatkan konfirmasi dari dokter otopsi bahwa ada bintik merah kecil di daerah punggung Yukimura-san."
"Ha!" teriak Sugino muak. "Lalu, jika memang benar begitu, bagaimana kau menjelaskan soal jarum suntik itu, hm? Kalian para polisi yang memeriksaku dan bukankah kalian tidak menemukan jarum suntik sama sekali? Bahkan bukan hanya padaku, di seluruh ruangan ini tidak ada jarum suntik!"
"Mudah saja. Kau menyembunyikannya di tempat yang tidak bisa kami periksa pada saat itu."
"Polisi sudah menyisir setiap inci dari tempat ini dan tetap saja—"
"—Kami belum memeriksa langit-langit."
Sugino terperangah. Nakamura menunjuk langit-langit dengan ekspresi bosan. Mendengar jawaban dari Nakamura barusan, Sugino tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Langit-langit, katamu? Jangan bercanda," kikik Sugino. "Bagaimana caranya aku bisa menyembunyikan jarum suntik di langit-langit yang setinggi itu? Aku bukan ninja."
Nakamura mengangguk-angguk. "Benar juga, tidak akan ada yang bisa menyembunyikan jarum suntik di langit-langit setinggi empat meter dengan mudah, kecuali kau memiliki kemampuan khusus untuk itu."
Sang polisi pirang menyadari adanya tremor pada kepalan tangan Sugino yang menggenggam bola baseball. Sebuah senyuman langsung terbit di wajahnya pada saat itu.
"Kanzaki-san menyebutkan bahwa kau pernah bertanding di Koushien, kan? Aku mengambil kesimpulan bahwa kau adalah pemain baseball," ujar Nakamura. "Kupikir, setidaknya kau pernah mencoba pitching. Tangan yang terlatih untuk itu tentu saja akan membantu untuk melemparkan jarum suntik ke langit-langit sampai ia tertancap di plafonnya, tapi nenek-nenek yang sedang menyeberang jalan juga tahu kalau pitcher biasa tidak akan bisa melakukannya. Lain halnya dengan pitcher yang memiliki SPEC."
Senyum puas terbersit di wajah Nakamura ketika keheningan menyeruak. Bulir keringat menghiasi wajah Sugino, meskipun pendingin ruangan masih bekerja.
"Dan kau bahkan berniat untuk menggunakan kemampuan pitching itu untuk menghancurkan barang bukti, kan?" Nakamura menunjuk bola yang dipegang Sugino dengan dagunya. "Kau tidak pernah menggunakan sarung tangan selama pesta berlangsung, sidik jarimu pasti masih tertinggal di jarum suntik itu."
Tangan Sugino bergetar hebat. Di wajahnya muncul seringaian lebar.
"Jadi kautahu tentang SPEC, huh?"
Dengan gerakan cepat Sugino berlari ke satu titik dalam ruangan itu, kemudian melemparkan bola yang dipegangnya tegak lurus ke atas. Tidak lama kemudian, terdengar suara pecahan dan kepingan-kepingan yang tersisa dari jarum suntik di langit-langit pun jatuh ke atas karpet ballroom yang tebal.
"Sudah hancur sekarang," gumam Sugino penuh kemenangan. "Kalian tidak punya bukti untuk menahanku."
"Sayangnya kami punya."
Barang yang dikeluarkan Nakamura dari saku jasnya membuat Sugino tercengang. Sebuah jarum suntik—yang sangat ia kenali—terbungkus dalam plastik pengaman.
"Ini jarum yang asli. Kalau yang tadi itu hanya jebakan. Jarum suntik yang memiliki sidik jarimu ada di sini."
Sugino terdiam sambil menggertakkan giginya. Ia menatap Nakamura dengan emosi yang siap meledak.
"Oh, dan kalaupun kau berniat untuk menghancurkan ini, kami masih punya bukti lain kok." Nakamura mengedikkan kepalanya. "Gaku-chan!"
Dari balik stan minuman yang belum sempat dibereskan, Gakushuu keluar dengan handycam di tangan kanannya. Wajahnya dipenuhi ekspresi horor dicampur tidak percaya, terlihat dari bagaimana pupilnya melebar dan alisnya tertekuk tajam ke atas. Apa yang telah disaksikannya di balik lensa masih belum bisa ia percaya sepenuhnya. Perlahan ditaruhnya handycam di atas meja, kemudian berjalan maju ke arah panggung dengan sedikit gentar. Tangannya sudah siap di balik jas, tempatnya menyimpan pistol.
"Kami punya rekaman video sejak kau masuk ke sini." Gakushuu berkata dengan artikulasi yang bergetar. "Ini sudah cukup untuk menjadi bukti yang kuat."
"Ck!"
"Satu hal yang ingin kutanyakan." Nada suara Nakamura mendingin. "Motif pembunuhanmu."
Ketiganya tidak mengeluarkan kata apapun selama setengah menit. Nakamura mengeluh tidak sabar.
"Kau," tuding Nakamura pada Sugino. "Bergerak di bawah komando Shinigami, kan?"
Tawa keras meledak. Nakamura menepuk-nepuk telinganya sementara Gakushuu mengokang pistol. Selesai dengan tawanya, Sugino menyambar bolanya yang sedari tadi tergeletak di lantai dan melemparnya, dengan kencang—ralat, dengan sangat kencang, dibantu kekuatan misterius dari dalam dirinya—ke arah Nakamura, namun Gakushuu berhasil mendorong gadis pirang itu ke sisi berlainan meskipun bahunya jadi korban.
"Gaku-chan!"
Nakamura menyerbu Gakushuu yang terkapar kesakitan. Tangan kirinya memegangi bahu kanannya erat-erat.
"… Sial, ini sakit sekali …" desis Gakushuu. "Mungkin patah."
Tangan Gakushuu tidak bisa lagi memegang pistol dengan baik. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sugino, yang berlari melesat untuk mengambil pistol yang sudah terkokang itu dan mengacungkannya ke arah dua polisi tersebut. Nakamura terkesiap—ia tidak membawa pistol cadangan untuk kali ini. Terima kasih Gakushuu yang keras kepala berpendapat bahwa untuk penahanan kali ini hanya butuh satu pistol.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia!"
Peluru melesat keluar.
Kejadiannya berlangsung lebih cepat dibanding kedipan mata.
Yang Gakushuu ingat, peluru keluar dari pistolnya yang dipegang Sugino.
Lalu, mengapa adegan selanjutnya yang ia lihat adalah Sugino yang terbaring bersimbah darah di tempatnya berada?
Ia melirik Nakamura. Tampaknya gadis itu juga tidak dapat mengerti.
"Tersangkanya …." Perlahan Nakamura berjalan, mendekati tubuh Sugino yang tergeletak di atas kolam darah. Nakamura menyadari ada luka akibat serangan peluru bersarang di tubuh itu. "… Sudah tidak bernyawa."
Gakushuu terbangun di sebuah kamar bernuansa putih, berbau obat, dan seorang gadis tertidur di pinggir ranjangnya.
Bahunya masih terasa sakit meskipun ia tahu dokter sudah memberinya painkiller dan kepalanya terasa pusing mengingat adegan-adegan tidak masuk akal yang sialnya harus ia lihat dengan mata kepala sendiri semalam. Diliriknya Nakamura yang tertidur di sisinya. Gadis itu bersikeras menemani Gakushuu bahkan sejak pertama kali pemuda itu dibawa ke rumah sakit kepolisian. Mungkin ia merasa bersalah karena bahu Gakushuu bisa patah begitu karena melindunginya. Mungkin. Mungkin ia benar-benar peduli pada Gakushuu sebagai partnernya. Mungkin.
"Mmmhh—"
"Nakamura, jangan ngiler di selimutku. Nanti bau gyoza."
"Siapa yang ngiler!" Tanpa diduga, membangunkan gadis itu cukup dengan satu kata saja. "Oh, kau sudah bangun! Selamat pagi, Gaku-chan!"
"Ya, ya, ya, selamat pagi. Meskipun tampaknya ini sudah siang. Sana sekarang pergi ke kantor."
"Aku baru bangun dan kau langsung mengusirku?"
Suara ceklek tiba-tiba terdengar dan pintu terbuka. Dari balik pintu berwarna putih itu muncul dua sosok yang sangat, sangat Gakushuu kenali, sampai-sampai refleks Gakushuu untuk mendecih langsung teraktivasi.
"Selamat siang, Asano-kun, Nakamura-kun."
Asano Gakuhou dan asistennya, Irina Jelavic.
"O-oh." Dengan pikiran yang masih mengawang, Nakamura memberikan hormat yang segera dibalas oleh kedua orang tersebut, sementara Gakushuu memalingkan muka. "Se-selamat siang, Kepala Polisi Asano, Jelavic-san."
"Selamat pagi. Kalian baru saja berhadapan dengan kasus yang cukup berbahaya, hm?"
"Cukup berbahaya … Pak," angguk Nakamura.
"Kalau begitu, Nakamura-kun, kami tunggu kehadiranmu di ruanganku sore nanti untuk memberikan kesaksian lengkap soal kasus semalam." Gakuhou tersenyum pada Nakamura, membuat gadis itu mengangguk tegas. "Asano-kun, jika kuberi waktu satu minggu untukmu sampai kau bisa memberikan kesaksian, apakah itu cukup."
"Mmm," jawab Gakushuu tak jelas.
"Ya atau tidak?"
"Yaaaa."
"Bersikaplah dewasa, kukira kau sudah dua puluh empat dan bukan lagi empat belas," ujar Gakuhou, membuat Gakushuu mendengus keras. "Oke, kurasa hanya itu yang ingin kusampaikan pada kalian untuk kali ini. Selamat siang, Asano-kun, Nakamura-kun."
Gakuhou dan Irina sudah berbalik dan melangkah menuju pintu ketika tiba-tiba Nakamura menyela.
"Tunggu, Asano-san!" serunya.
"Hm?" Gakuhou menyahut tanpa berbalik.
"Tidakkah kau merasa seharusnya kau mengatakan sesuatu pada Gakushuu-kun?" tanya Nakamura tanpa rasa segan sedikitpun. "Ia cedera cukup parah. Bukan sebagai atasan, tapi … sebagai ayah?"
"Nakamura." Gakushuu berdesis.
Ada jeda yang cukup menyesakkan selama setengah menit sebelum akhirnya Gakuhou berkata, "Tolong jaga Asano-kun baik-baik, Nakamura-kun," dan menghilang di balik pintu. Nakamura melongo, mengernyitkan alis dengan mulut setengah terbuka seolah tidak menyangka bahwa yang akan dilakukan Gakuhou hanya itu. Gakushuu mendengus lagi, lebih pelan daripada sebelumnya.
"Apa sih yang kauharapkan dari Pak Tua itu," gerutunya.
"Ayahmu itu kenapa sih?" Tanpa diduga, Nakamura menggerutu kesal seolah ialah anak yang diabaikan oleh sang ayah. "Oh—maafkan aku, aku memang begini. Aku paling benci orang-orang yang menyia-nyiakan keluarganya."
Gakushuu menatap Nakamura heran. Dalam sosok Nakamura yang seperti ini ia tidak pernah menyangka bahwa ada sifat penyayang keluarga tertanam dalam dirinya.
"Benarkah?"
"Kenapa aku harus berbohong?"
"Ada sesuatu yang terjadi dengan keluargamu?"
Nakamura mengembuskan napas. "Meninggal. Ayah dan ibuku. Kecelakaan pesawat. Tujuh tahun yang lalu."
"Oh." Untuk kali ini Gakushuu merasa bersalah. "Maaf kalau begitu."
"Tidak masalah."
Keheningan menyeruak. Lama-kelamaan Gakushuu merasa tidak nyaman dibuatnya.
"Nakamura … tentang SPEC—"
"Hm, ada apa?"
"Kautahu, aku sepertinya belum bisa percaya sepenuhnya bahwa Sugino … membunuh dengan metode seperti itu?" Gakushuu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dan—apa yang terjadi saat ia menembakkan pistolnya ke arah kita, maksudku—kenapa malah dia yang mati? Seolah pelurunya berbalik arah …."
Nakamura terdiam, maka Gakushuu melanjutkan.
"… Menurutmu apa yang terjadi?"
"Peluru yang berbalik arah," sahut Nakamura, sambil menggerak-gerakkan jarinya menggambar abstrak di udara kosong. "Selain kejadian semalam, di mana lagi kau pernah mendengar hal itu?"
"Hah?"
"Kautahu, tepat sebelum kepindahanmu, kami menerima draf kasus peluru yang berbalik arah. Keterangannya menandakan bahwa SIS-lah yang pertama kali ditunjuk untuk menyelesaikan kasus ini, kemudian dilempar ke divisi kami."
Mata Gakushuu terbelalak. Bagaimana ia bisa melupakannya? Kasus yang membuatnya berdebat panjang lebar dengan ayahnya dan berakhir dengan surat mutasi. Saat itu Gakushuu bersikeras bahwa SIS bisa menyelesaikan kasus itu, sementara sang kepala polisi sudah berniat untuk melempar kasus tersebut ke Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural. Nakamura menatapnya penuh penilaian sebelum meneruskan.
"Kurasa, kecuali kautahu tentang SPEC, kau tidak akan bisa menyelesaikan kasus itu meskipun kau jadi botak sekalipun," ujar Nakamura. "Peluru yang berbalik arah bukan kasus baru di kalangan para pemilik SPEC."
"Bukan … kasus baru?"
Nakamura menarik napas panjang.
"Di antara semua pemilik SPEC yang aku tahu, ada seseorang yang sangat kuat. Kekuatannya sangat memungkinkan untuk membalikkan gerakan peluru." Nakamura menggoyangkan jari telunjuknya, masih menggambar abstrak. "Kami menyebutnya dengan Shinigami. Dewa Kematian. Terlibat dalam berbagai kasus pembunuhan tidak terpecahkan. Makanya, jika kaupikir perkataanku tentang pemilik SPEC bisa menjadi sangat menyeramkan itu hanya candaan, kau tampaknya harus mulai belajar untuk percaya."
Gakushuu menelan ludah.
"… Jangan mengada-ngada."
"Demi tangan kiriku yang Shinigami potong enam bulan yang lalu, untuk apa aku mengada-ngada?"
"Apakah ia akan baik-baik saja?"
"Siapa yang kaumaksud, Irina?"
Asano Gakuhou membalikkan pertanyaan. Saat itu mereka tengah berjalan di tengah koridor sepi berbau obat yang hanya menggemakan suara langkah kaki mereka. Irina Jelavic tampak khawatir, sementara Asano Gakuhou mempertahankan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
"Tentu saja Gakushuu-kun. Kau telah mendorongnya ke kolam sementara ia belum bisa berenang."
"Sebetulnya aku mendorongnya ke kolam agar ia bisa berenang, Irina," ralat Gakuhou. "Ia sudah cukup dewasa untuk pelan-pelan mengetahui kebenaran."
"Tapi …." Irina memotong dengan ragu. "Bukankah beliau memintamu agar tidak melibatkan Gakushuu-kun dan tetap membiarkannya tidak tahu apa-apa?"
Gakuhou tersenyum.
"Dia ibunya. Ia tahu siapa yang ia lahirkan," jawab Gakuhou. "Rasanya tidak mungkin ia tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa anaknya akan jadi kepala batu dan memutuskan untuk terjun ke dunia yang sama dengan ayahnya."
"Tapi apakah dengan membiarkan Gakushuu-kun tahu siapa yang harus dihadapinya adalah keputusan yang baik?"
Gakuhou terkikik geli. "Kenapa kau membicarakan Gakushuu seolah ia adalah anak kelas 3 SMP, Irina? Dia mantan kepala skuad investigasi paling bergengsi di Jepang. Lagipula, kau sendiri yang sering bilang bahwa seseorang harus membentuk masa depannya sendiri, hm?"
Irina mengembuskan napas.
"Kau benar, tapi tetap saja …."
"Jangan terlalu dipikirkan, Irina. Percayalah pada Gakushuu."
.
.
.
.
tbc
a/n: saya nulis saihate dengan lempeng tapi kenapa nulis charadeath di sini bikin baper banget ….?
btw jangan tanya saya mochi bulan apaan itu ngarang sumpah #dilaso
[edit 3/8] guys ive edited some plotholes regarding the case, hope it will make sense more ...? www
