A/N : Oke! Kembali lagi! Mari langsung saja balas review! Jadi terharu review-nya cepat datang. Apalagi dari yang sering review di fic-ku sebelumnya. Ahh senangnya diriku~ *lebay*
-erikfinnvladimir
Blossom : Hore! Ada erik-san lagi! *unyel- ditendang*
Scarlet : Haha, aku malahan heran kenapa gak ada fanfic soal mas vantat bebek-ekh keceplosan. Uwaa!
Takatora : *bekuin Scarlet* Hentikan panggilan menjijikkan itu.
Suzu : Takatora-sama ah, maksudku...Tōdō-dono, tenanglah!
Yoshitsugu : Oh, terima kasih atas pujiannya. Aku memang menakutkan. Buktinya aku bisa mengutukmu dengan-
Suzu : Ōtani-dono juga jangan mengancam orang!
Blossom : Haduh nak, kamu mulai PMS. Haha, aku malah ngira Takatora lumayan terkenal tapi waktu cek di fanfic malah hampir gak ada fanfic-nya. Yosh! Terima kasih buanyak sudah mereview! Ciyus eike terharu cyin~ *kena virus banci dari fandom sebelah- ditendang lagi*
Suzu : *sweatdrop* Terima kasih banyak!
-RosyMiranto18
Blossom : Yay! Met datang! Senangnya di-review oleh pembaca setiaku~ *nangis gaje*
Scarlet : Hoooh, dulu aku malah demem main Basara tapi gak pernah kepikiran bikin OC wkwkwk. *lirik Keiji versi Basara* Btw, nak Suzu... ingat tuh ya nasehatnya. Dendam tak ada gunanya. But wait... *lirik Takatora*
Suzu : Ada apa?
Takatora : Apa yang kau lihat?
Scarlet : Yang punya dendam sekarang elu ya mz. Ekh malah kasih spoiler buat chapter ini. Biarlah, lagian mau dibaca. *plak*
Takatora : ...terserah. Baiklah, terima kasih telah memberi review.
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. 'Kami to Hito to' by yu-yu belongs to the composer(?).
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, penulisan gaya bahasa dan diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game dan sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 2
Stay Alive
-XxX-
-Tōdō Takatora's Perspective
Sebesar dan sehebat apapun suatu hal, suatu saat pasti akan hancur. Tak ada satu hal pun yang bisa bertahan selamanya. Itu juga berlaku untuk Istana Odani yang telah runtuh ini.
Tapi, aku tak bisa memaafkan Oda. Terlebih lagi, Hideyoshi.
Orang itu, meskipun ia berniat untuk menyelamatkan Tuan Nagamasa dan Nona Oichi. Dia tetap saja menuruti perintah Nobunaga, ia malah membuang tekadnya yang kini telah membusuk. Klan Azai benar-benar telah musnah, penerusnya pun telah tiada.
Bahkan perang yang baru saja terjadi beberapa minggu yang lalu, telah membuat nyawa seorang gadis kecil yang tak bersalah melayang.
Aku semakin tak bisa memaafkannya. Rasa dendam mulai tumbuh sehingga hatiku mulai terasa membeku.
-XxX-
"Kenapa kau tidak bermain?"
Gadis kecil itu memandang anak-anak yang tengah asyik bermain. Kerudung hitam yang menutupi kepalanya membuatku tak dapat melihat raut wajahnya. Bahkan ia belum mau menatapku. Biasanya aku sering melihat gadis kecil berkerudung hitam itu bermain dengan anak-anak yang seumuran dengannya. Sampai akhirnya sekarang dia berhenti mendekati mereka.
"Apa Tuan tahu tentang dongeng 'Inaba no Shirousagi'?"
Aku menaikkan kedua alisku. "Ya. Seingatku itu menceritakan tentang seekor kelinci putih yang ingin bertemu dengan seorang tuan putri. Si kelinci menipu beberapa ekor hiu agar ia bisa mencapai pantai, tapi pada akhirnya hiu itu menguliti si kelinci..."
Ia menurunkan kepalanya. "...apa aku benar-benar terlihat seperti kelinci putih itu, Tuan?" Gadis kecil itu membalikkan badannya dan menatapku.
Pertanyaan itu membuatku sadar bahwa ia dijauhi oleh teman-temannya hanya karena sosoknya seperti 'Inaba no Shirousagi'. Selama ini aku tak pernah melihat warna mata merah seperti miliknya, bahkan rambut perak murni itu. Mereka tak ingin menjadi hiu yang ditipu oleh si kelinci. Tapi mereka salah, gadis kecil ini tak pernah ingin menjadi kelinci tersebut.
"Boleh aku tahu namamu?"
Gadis itu mengedipkan mata kebingungan. "...Shiraishi Suzu. Kalau tidak salah Tuan adalah Tōdō Takatora-dono, benar?"
Dia sudah tahu tentangku?
Aku berlutut di depannya lalu membelai kepala gadis kecil bermarga Shiraishi tersebut. "Dengar, Shiraishi. Jangan pikirkan hal buruk yang sudah mereka katakan padamu. Kau adalah kau. Mereka tidak tahu apapun mengenai dirimu yang sebenarnya."
"...padahal aku tidak pernah berniat untuk menipu mereka."
"Ya, aku sudah tahu."
Gadis itu memiringkan kepalanya dan memandangku bingung. "'Sudah tahu'?"
"Kau sendiri yang bertanya padaku. 'Apa aku benar-benar terlihat seperti kelinci putih itu?' Bahkan kau terdengar tidak menyukai dongeng itu."
Ia mengedipkan matanya berkali-kali lalu tersenyum malu sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk. "Begitu ya?"
"Yah, tapi kalau diperhatikan kau memang terlihat mirip kelinci putih." Ia langsung menutup kepalanya dan tak mau menatapku. "Hei, jangan salah sangka. Aku tidak memihak teman-temanmu itu."
"Mereka bukan temanku." Jawabnya langsung.
Baru kali ini kudengar seorang anak berani mengakui bahwa mereka bukan temannya. "Dengar, maksudku itu adalah..." Aku meraih rambut peraknya. "Rambutmu, matamu..."
"Seperti 'Inaba no Shirousagi'?"
"Ya, tapi kau bukan 'Inaba no Shirousagi'."
Ia menggembungkan kedua pipinya. "Aku tidak mengerti..."
Aku mendengus pelan. "Tak apa kalau kau tidak mengerti. Yang penting pegang ucapanku..."
"'Aku adalah aku'?"
"Benar..."
Gadis itu melipat tangannya seraya menutup mata, ia sedang berpikir. Lalu membuka sebelah matanya untuk melirik kearahku. Lalu kembali menutupnya dan terus berpikir.
"Kau tidak percaya padaku?"
Gadis itu menggeleng. "B-Bukan kok. Aku hanya bingung maksud perkataan Tuan tadi."
"Tidak perlu terburu-buru mencaritahu maksud perkataanku. Cepat atau lambat kau pasti akan mengerti."
"Benarkah? Ah, sebenarnya aku bukan bingung tentang hal itu."
"Lalu apa?"
"Cerita dongeng tentang 'Inaba no Shirousagi' tadi."
"Kau masih memikirkannya?" Keluhku seraya menghela napas.
"Bukan! Bukan itu maksudku!" Ia menggoyangkan kedua tangannya.
"Jadi?"
"Maksudku akhir dari ceritanya tadi! Si kelinci putih tidak mati setelah dikuliti oleh hiu-hiu 'kan?" Tanya anak perempuan itu dengan wajah penasaran.
Aku mengurut dagu seraya mengingat dongengnya. "Hm, seingatku Okuninushi memulihkan kulit kelinci itu dengan-"
"Itu dia!" Gadis itu menepuk kedua tangannya.
Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan anak ini. "Apanya?"
"Tōdō-dono adalah Okuninushi! Dan aku adalah Inaba no Shirousagi!" Ucapnya tersenyum lebar.
Aku tertawa pelan. "...bukankah kau sendiri bilang kalau kau tidak mau seperti si kelinci penipu itu?"
"Ah, benar juga! Uh, maksudku bukan seperti itu! Bagaimana menjelaskannya ya..." gerutunya sambil memegang kepalanya histeris. "Oh, aku mengerti!" Gadis itu kembali menatapku dengan senyuman lebar terulas pada wajahnya. "Anggap saja kelinci itu berniat baik! Dia bukan menipu!"
"Lalu?"
"Tōdō-dono adalah Okuninushi yang menolongku! Seperti sekarang!" Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Aku bisa mengerti apa yang ingin gadis kecil itu katakan. Hiu-hiu pada cerita dongeng itu adalah (bukan) temannya. Mereka mengira bahwa Shiraishi berteman hanya untuk memanfaatkan mereka seperti Inaba no Shirousagi lakukan. Tapi ia tak pernah berniat demikian. Si kelinci putih yang dijauhi ditemukan oleh Okuninushi, aku yang mendapat peran itu secara kebetulan.
Kebetulan 'kah? Entahlah, aku tidak tahu apa itu hanya sekadar kebetulan atau tidak. Tapi gadis ini terlihat begitu mengharapkanku.
Menurut pandanganku, dia hanyalah kelinci putih yang kesepian.
Aku mendengus lalu mengusap kepalanya. "Mengubah sedikit saja cerita dongeng itu tidak patut dilakukan."
"Aku memang tidak bermaksud begitu kok! Itu hanya perumpamaan!"
"Begitu." Tanganku berhenti membelai kepalanya.
"Tuan!" Ia menahan tanganku dengan kedua tangannya yang mungil. "Kumohon temani aku bermain!"
Aku menaikkan sebelah alisku. "Bermain?"
"Obaa-sama tadi menyuruhku untuk bersenang-senang. Tapi kalau aku pulang sekarang, aku tidak akan bisa menceritakan padanya apa yang sudah kulakukan."
Aku menghela napas. "Baiklah, aku akan menemanimu bermain..."
Gadis kecil itu tersenyum lebar. "Terima kasih, Tōdō-dono!"
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau sudah tahu namaku? Kapan kita pernah bertemu?"
Kedua alisnya menyempit. "Masa' tidak ingat? Waktu itu aku yang memanggil Tōdō-dono dan Ōtani-dono untuk menghadap ke Nagamasa-sama. Waktu itu Nagamasa-sama memberikan penghargaan pada Tuan 'kan? Ah, dan juga omamori!"
"Omamori? Ah, aku ingat. Ternyata kau yang memberiku omamori."
Gadis itu mengangguk kencang. "Benar! Tōdō-dono sangat hebat, seperti cerita dongeng tentang ksatria hebat yang pernah Obaa-sama ceritakan padaku! Saat di Anegawa dan Kanegasaki, Tuan benar-benar hebat sampai aku hampir lupa dengan-"
Mataku terbelalak terkejut. Mengapa anak kecil sepertinya berada di medan perang? "Tunggu, kenapa kau ada di sana?"
"Kenapa? Tentu saja untuk menolong Nagamasa-sama."
"Bukan itu. Seharusnya kau..."
"Kau tahu, Tōdō-dono? Obaa-sama adalah pengawal pribadi Oichi-sama lho. Dia mengajariku tentang banyak hal. Sangat banyak." gumamnya sambil menyentuh sebuah bel kecil berwarna emas yang dikalungkan di lehernya. "Oichi-sama sangat mempercayai Obaa-sama. Bahkan Nagamasa-sama pernah bilang bahwa beliau menganggapku seperti anaknya sendiri. Karena itu, aku ingin mengikuti Nagamasa-sama mencapai mimpinya."
Lantunan nada suaranya penuh dengan harapan, namun tetap saja itu membuatku sedikit terganggu. "Apa kau tidak takut?
Gadis itu terdiam sejenak, ia menjauhi kontak mata denganku. "Takut..."
"Lalu kenapa kau..."
"Aku ingin menguasai rasa takutku, jadi aku tidak akan melarikan diri. Demi Nagamasa-sama dan Oichi-sama, aku ingin melihat mereka berdua menjadi pasangan yang sangat bahagia. Mungkin, inilah jalan hidupku." Ia tersenyum kecil. "Tōdō-dono juga 'kan?"
Aku mengedipkan mataku. Ia menyembunyikan lengannya di belakang punggung. "Obaa-sama pernah mengatakan padaku kalau ksatria adalah orang mengayunkan pedangnya untuk melindungi orang lain. Karena itu, aku selalu berpikir ksatria itu orang yang sangat hebat!"
"..." Aku tersenyum tipis. "Begitukah. Nah, Shiraishi, kita akan pergi kemana?"
Senyuman gadis itu lebar. "Kemana saja asalkan tidak bosan! Tōdō-dono tidak keberatan 'kan bermain bersamaku?"
"Tidak sama sekali."
"Kenapa?"
Aku menaikkan alisku. "Bukankah kau sendiri yang memintaku?"
"Tapi kenapa Tuan tidak menolak? Bukankah aneh kalau ksatria hebat seperti Tuan bermain dengan anak kecil sepertiku?"
Aku tidak pernah diberi pertanyaan seperti itu oleh seorang anak-anak. "...entahlah. Mungkin karena aku ingin?"
"Eh?"
Aku menghela napas. "Sudahlah, jangan bertanya yang aneh lagi. Kau ingin kemana?"
"Hm..." Gadis itu menggeram lirih seraya berpikir. "Ah, aku tahu! Di dalam Istana Odani ada pohon besar! Ada banyak sekali dedaunan merah berjatuhan disana."
"Benarkah? Nah, kalau begitu ayo."
"Ya!" Gadis itu menarikku ke dalam Istana Odani. Setiap kali ia melangkah, telingaku menangkap dering bel yang pelan. Suaranya terus bergema di dalam kepalaku.
Tidak, aku sama sekali tidak merasa terganggu.
-XxX-
Sesampainya di taman istana, raut wajahnya yang awalnya riang berubah. "...aku tidak menyukai ini," gumamnya sembari melepas tanganku lalu berjalan menghampiri pohon momiji.
"Apanya?"
"Pohon momiji ini, aku tidak menyukainya." Jawab gadis itu membalikkan badannya. "Padahal daunnya sangat cantik, tapi pohon ini melepasnya satu persatu."
"Meskipun begitu, disanalah daya tarik dari pohon momiji."
Dia menatapku sekilas lalu berpindah ke pohon itu lagi. "Persis seperti Obaa-sama katakan, semuanya menginginkan kebahagiaan. Tapi selalu ada pengorbananan pada setiap perjuangan demi kebahagiaan itu. Sama seperti pohon ini. Ternyata, tidak ada jalan selain harus mengorbankan sesuatu ya?"
Angin berhembus membuat kerudung hitamnya turun dan melambai-lambaikan helai demi helai rambut peraknya itu. Anak kecil sepertinya sudah mengerti dengan keadaan dunia ini. Seolah-olah ia diseret dengan paksa untuk mengetahui keburukan negeri ini. Mengapa?
"Ah, Takatora. Apa yang kau lakukan disini?" Seorang wanita bersurai coklat menghampiriku dengan wajah ramah khasnya.
"Oichi-sama." Aku membungkukkan badan. "Tidak, aku hanya menemani Shiraishi."
Nona Oichi mengarahkan pandangannya ke gadis kecil yang tengah mengumpulkan daun yang jatuh. Matanya berubah menjadi sendu. "Suzu, ia tidak menyukai pohon momiji..."
"Ya. Dia juga berkata seperti itu padaku."
Nona Oichi terdiam sejenak, masih menatap Shiraishi dari kejauhan. "Anak itu, sudah sangat menderita..."
"Apa maksudmu, Oichi-sama?"
Nona Oichi menjalin kedua tangannya. "Kedua orang tuanya menjadi korban perang." Kemudian beliau menengadahkan kepalanya untuk memandang pohon momiji. "Bibinya yang saat itu datang menyelamatkan kampung halamannya berhasil menemukan Suzu. Ia menemukan Suzu dalam kondisi tangan dan wajahnya berlumuran darah, ia membunuh prajurit yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sejak itu, ia sudah terbiasa melihat orang mati dihadapannya."
"..." Begitu rupanya, karena itulah ia berada disini.
Beliau kembali menatapku. "Nagamasa-sama pasti akan menguasai seluruh Jepang. Dimana semua orang berdamai dan bahagia. Itu juga berlaku untukmu Takatora, juga Suzu."
Aku menghadap kearah Nona Oichi lalu membungkukka badan. "Aku akan selalu setia mengikuti Nagamasa-sama sampai kapanpun. Aku akan berusaha membuat mimpi beliau menjadi kenyataan."
Nona Oichi tersenyum ramah. "Terima kasih, Takatora." Lalu ia mengarahkan pandangannya pada Shiraishi. "Suzu!" Seru Nona Oichi memanggilnya.
Gadis kecil bersurai perak itu menoleh. "Ah, Oichi-sama!" Ia langsung berlari menghampiri kami, senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Kenapa Suzu mengumpulkan daun-daun ini?" Nona Oichi membelai rambutnya.
"Aku ingin mengembalikannya ke tempat asalnya. Tapi bagaimana caranya?" Tanya gadis itu meratapi daun-daun merah yang ia kumpulkan. "Aku tidak mau daunnya mengering..."
Nona Oichi terdiam sejenak, kedua alisnya menyempit. Tangannya meraih wajah gadis kecil itu. "Suzu, daun yang sudah terlepas dari ranting tak akan pernah bisa kembali. Meski kau menyimpannya, daun itu tetap akan mengering."
"Apakah itu sama halnya dengan kedua orang tuaku, Oichi-sama?" Kelopak mata Nona Oichi melebar, lalu tatapannya kembali berubah sendu. "Apa benar tidak ada cara lain untuk mengembalikannya?"
"Shiraishi..." gumamku.
Ia melepas genggaman Nona Oichi, lalu memanjati pohon itu. "Suzu? Apa yang kau lakukan?" Tanya Nona Oichi kebingungan.
Gadis itu tersenyum lalu menebarkan semua daun-daun itu. Satu persatu daun itu perlahan jatuh. Lalu Shiraishi turun dari pohon, ia merentangkan kedua tangannya lalu berputar seraya menengadahkan kepala diringi dengan tawa. Shiraishi membuka kedua telapak tangannya seraya meratapi daun merah itu berjatuhan di atas kepalanya."Oichi-sama, apa pohonnya terlihat semakin indah?"
"Suzu..." lirih Nona Oichi.
Melihat senyuman yang terulas pada wajah anak perempuan itu, aku merasa bahwa ia menerima segalanya. Kedua orang tuanya, takdirnya, jalan kehidupannya dan segalanya. . Ia mengatakan bahwa semua itu jalan yang tapaki itu tidaklah salah. Meskipun berat, ia mulai menerima semua itu dengan hati tulus.
"Kurasa aku... tidak membenci pohon momiji." Gumamnya.
Ia berjalan menghampiri Nona Oichi, lalu menggenggam tangan kanannya. Aku tak berniat memindahkan arah pandanganku ke manik merahnya yang berkilauan. "Aku akan terus melangkah maju. Aku pasti akan membantu Oichi-sama agar bisa selalu bersama dengan Nagamasa-sama!"
Nona Oichi berlutut di depannya kemudian memeluknya. "Suzu, terima kasih." Gadis itu tertawa kecil sambil membalas pelukan.
-XxX-
Matahari telah terbenam, bulan mulai memancarkan cahaya pucat keperakannya. Hari ini aku mendapat giliran untuk berpatroli di dalam istana. Tidak sedikit yang menjaga saat itu. Wajar saja, Tuan Nagamasa tak bisa mempercayai Nobunaga, maka dari itu beliau bergabung dengan Koalisi Anti-Nobunaga. Tapi sampai sekarang tak ada yang tahu kapan Nobunaga akan menyerang klan Azai. Atau mungkin saja Nobunaga membiarkan Tuan Nagamasa...
"Hm?" Aku mendengar suara bel yang pelan. Dari ujung tepi mataku, penglihatanku menangkap sosok gadis berseragam miko dengan kerudung hitam ia pasang berjalan keluar istana. "Shiraishi, kau mau pergi kemana?"
"Ah, Tōdō-dono." Ia berhenti berjalan lalu membungkukkan badan kearahku. "Aku harus pergi untuk mencari tahu apa yang dilakukan Nobunaga-sama."
"Nobunaga?"
"Ya, Tōdō-dono sudah tahu, bukan? Nagamasa-sama pernah mengatakan kalau Nobunaga-sama tidak pantas menjadi penguasa Jepang. Karena itu, Nagamasa-sama mengkhianatinya. Jadi aku harus mencari tahu apa rencana Nobunaga-sama. Aku ingin menjadi lebih berguna untuk Nagamasa-sama."
"Kau pergi sendirian?"
"Eh? Biasanya aku memang pergi sendirian kok."
Mataku terbelalak ketika mendengar ucapan jujurnya. "Apa katamu? Itu terlalu berbahaya!"
"Tapi, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan Nobunaga-sama pada Nagamasa-sama. Aku juga sudah tahu yang kulakukan ini berbahaya." Ucapnya seraya membuka kerudungnya, lalu tersenyum kecil. "Tapi tak perlu khawatir, Tuan! Aku sudah sering melakukan hal seperti ini. Dan aku tidak pernah berniat... untuk mati sekarang."
"Shiraishi..."
"Tōdō-dono, boleh aku meminta sesuatu padamu, sebelum aku pergi?" Ia menjalin kedua tangannya lalu berjalan menghampiriku.
"...apa?"
"Bisakah Tuan mengusap kepalaku?" Pintanya dengan mata berbinar.
Mendengar permintaannya membuatku tersenyum. Dia memang masih anak kecil, namun ia sudah mengerti bagaimana kekacauan dunia ini. Aku yakin dia akan menjadi perempuan yang hebat saat ia dewasa nanti. Kubelai rambut perak gadis tersebut, kehalusan rambutnya yang hampir menandingi sutera begitu nyaman disentuh. Senyuman masih terulas pada bibirnya, ia tertawa kecil. Setelah puas, lalu ia melepas tanganku dari kepalanya dengan pelan.
"Terima kasih banyak, Tōdō-dono! Nah, kalau begitu aku pergi."
"Ya, hati-hati."
Ia mundur tiga langkah lalu pergi sembari menutup kepalanya dengan kerudung hitamnya. Setiap ia melangkah, suara lonceng kecil selalu bergema di telingaku. Melihat kepergian gadis itu entah mengapa aku masih mencemaskannya.
"Ada apa, Takatora? Tak biasanya kau memasang raut wajah seperti itu." Yoshitsugu datang meghampiriku.
"Kau rupanya. Kau mengenal anak perempuan yang bersurai perak yang sering berada di istana?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku kearah dimana sosoknya telah menghilang di mataku ditelan kegelapan malam.
"Hm? Maksudmu Shiraishi Suzu? Ya, aku tahu. Ia bukan gadis kecil biasa," sahut Yoshitsugu.
"Aku juga berpikir begitu," ucapku setelah tertawa pelan.
-XxX-
Aku tak bisa berhenti mencemaskan dirinya saat itu. Anak-anak seperti dirinya tak patut untuk mengetahui keburukan dunia ini. Seharusnya ia berada di tempat yang aman. Namun, tempat dimana ia berasal telah tiada, baginya semua kebahagiaannya direbut. Hanya kedua orang tuanya dimana ia bisa hidup dengan tenang dan damai. Dunia memang kejam.
Dia, meskipun demikian, ia berusaha bertahan dan percaya bahwa dunia dimana ia hidup sekarang masih memiliki banyak keindahan. Selama ini aku tak tahu bahwa ada anak yang memiliki kepribadian tidak seperti anak-anak pada umumnya, sampai akhirnya aku mengenal anak perempuan itu.
Namun, takdir berkata lain. Ia tidak dibiarkan hidup, karena aku gagal menyelamatkannya.
Aku mengeluarkan sebuah benda bulat kecil yang berwarna emas dari kantong mantelku. Sebuah bel, benda yang selalu gadis itu bawa kemana pun ia pergi.
Andai aku bisa menyelamatkannya, aku akan membawanya ke tempat dimana ia bisa tenang. Apabila takdir tidak membiarkanku melakukannya, aku tidak akan melepas tangannya. Namun sekarang tak ada yang bisa kulakukan padanya. Gadis itu telah mati.
-XxX-
Seperti yang kukira, Nobunaga akan menyerang Azai. Ia memerintah Hideyoshi untuk segera memusnahkan Azai agar ia dapat mengejar ambisinya tanpa adanya halangan. Istana Odani telah dibakar, hampir seluruh pengikut Tuan Nagamasa terkepung oleh pasukan musuh. Beliau juga sudah memerintahku dan Yoshitsugu untuk membawa Nona Oichi ke tempat yang aman sedangkan Tuan Nagamasa mencari pengikutnya yang masih bertahan hidup.
"Kita tidak bisa meninggalkan Nagamasa-sama sendirian. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan beliau serta pengikutnya." Ryouko, pengawal pribadi Nona Oichi yang juga merupakan bibi dari Shiraishi, berlutut di depan keponakannya. Ia meraih wajah anak perempuan itu. "Suzu-chan, maaf ya. Bibi harus menyelamatkan pasukan yang lain agar mereka bisa melarikan diri dari sini. Karena itu, kau harus ikuti Oichi-sama, ya."
"Tapi... aku ingin ikut denganmu, Obaa-sama!"
Wanita paruh baya itu tertawa pelan. "Aku senang Suzu-chan ingin pergi bersamaku. Tapi kali ini kamu harus mematuhi perkataanku. Istana sudah terbakar, kalau kamu berada disini terlalu lama, Suzu-chan pasti akan sesak napas, bukan? Kalau itu terjadi, siapa yang akan melindungi Oichi-sama?"
"Eh... itu... Tōdō-dono dan Ōtani-dono ada bersama Oichi-sama."
"Memang benar. Tapi Suzu-chan, apapun yang terjadi kau harus tetap bersama Oichi-sama ya. Dan ingatlah, tetaplah bertahan hidup, itu yang terpenting."
Terlihat jelas raut wajahnya berubah menjadi kecewa. Ia meraih kedua tangan Bibinya yang sedikit berkeriput. "Harus ya. Bibi harus kembali! Harus, harus!"
Ia kembali tertawa pelan sebelum mengecup dahi keponakannya. "Iya." Wanita itu berdiri, pandangannya berpindah kearahku. "Tolong jaga keponakanku juga ya,Tōdō-san, Ōtani-san." Ucapnya tersenyum tipis kemudian bergegas pergi.
Kami pun segera melewati jalan bawah tanah, Shiraishi yang tak bisa berhenti mencemaskan bibinya selalu melihat ke belakang. Sepasang alisnya menyempit, matanya sedikit berair, bibirnya menggigil. Ketakutan dan kecemasan mempermainkan perasaannya.
"Obaa-sama dan Nagamasa-sama masih belum kembali." Gumamnya. "Aku mau mencari mereka!"
"Suzu. Jangan, kau harus tetap bersamaku. Disana berbahaya."
"Aku sudah tahu itu, Oichi-sama! Dari awal... aku sudah tahu..." sahutnya. Suaranya yang awalnya keras berubah pelan. "Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Jadi, Oichi-sama... maafkan aku. Aku harus mencari Obaa-sama!" Ia langsung berlari masuk ke dalam Istana Odani yang masih dalam keadaan terbakar.
"Suzu!" Seru Nona Oichi.
"Oichi-sama, mohon tunggu disini. Aku akan mengejarnya." Aku mengarahkan mataku pada Yoshitsugu, memberinya isyarat untuk membawa Nona Oichi. Yoshitsugu mengangguk.
Aku pun menyusul anak perempuan itu. Meski seisi istana sudah terbakar, ia berlari sangat cepat sehingga aku sulit mengejarnya. "Shiraishi! Berhenti!"
Ia mengabaikanku dan terus berlari. Kedua matanya menelusuri setiap sudut ruangan. "Obaa-sama! Obaa-sama dimana!?" Serunya. Setelah berlari cukup jauh, tiba-tiba dia berhenti. Kelopak matanya melebar ketika menangkap sosok wanita paruh baya terkena serangan prajurit musuh. "Obaa-sama... Obaa-sama..." Anak perempuan itu bergegas mendekati bibinya.
"Shiraishi!" Aku menariknya dengan sekuat tenaga, kemudian menutup matanya dengan telapak tanganku. Tubuh wanita paruh baya itu banyak menumpahkan darah. Teriakannya pun telah berhenti.
"Tidak... tidak... Obaa-sama..." Kedua tangannya berusaha untuk melepas tanganku dari matanya. "... terjadi lagi... Aku terlalu lemah..."
"Shiraishi. Kita harus pergi dari sini sekarang juga-"
Anak itu berteriak sangat keras, ia dengan paksa melepasku. Tanpa berpikir panjang ia menghabisi para prajurit dihadapannya. Sama sekali tak ada rasa belas kasihan pada sorotan mata merahnya itu, hanya tersisa rasa dendam yang menyelimuti hatinya. Wajahnya terkena percikan darah dan tangannya mulai berlumuran darah. Ia menarik pedang musuh dan terus menyerang dengan membabi buta. Menusuk, menebas, memotong, sampai tak ada habisnya.
Kemudian ia mulai menebas mangsanya yang sudah mati. "Shiraishi! Sudah cukup!" Bentakku seraya menahan lengannya.
"Tidak! Lepaskan aku! Mereka semua sudah merebut Obaa-sama! Karena itu aku harus membalasnya!" Balasnya sambil terus meronta.
"Dasar bodoh! Membalas mereka lalu apa!? Kau pikir ada gunanya membunuh musuhmu yang sudah mati!?"
"Aku tidak peduli! Aku harus membalas mereka! Mereka sudah-"
"Kau pikir setelah membalasnya bibimu akan kembali!?" Bentakku lagi.
Kedua matanya terbelalak melebar. Pedang yang berada di kedua tangannya terlepas. Melihat ia sudah mulai tenang, kuregangkan genggaman tanganku dari lengannya.
"Obaa-sama tidak akan pernah kembali? Sama seperti ayah dan ibu?" Mata merahnya terkunci pada mataku. Melihat raut wajah keputusasaannya membuatku ingin mengatakan sesuatu agar ia mau mendengarku. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutku.
"Shiraishi..."
"Kenapa mereka selalu saja... direbut dariku? Apa tidak ada yang bisa kulakukan?"
Aku harus menjawabnya. Tapi apa yang harus kujawab? Aku mengutuk diriku di dalam kepalaku. Kenapa aku tidak bisa? "...Shiraishi. Tenanglah, kita harus keluar dari sini. Jika tidak, kita tidak akan selamat.."
Ia tidak menjawabku. Aku kembali mengutuk diriku. Aku meraih tangannya kemudian menariknya dengan pelan. "Ayo."
Diluar harapanku, ia tidak melangkahkan kakinya sedikit pun. Aku tak bisa melihat iris merahnya karena poninya hampir menutup kedua matanya. "Tidak..." gumamnya.
"Apa?"
"Tidak... aku tidak mau. Aku tidak mau lagi!" Ia dengan paksa melepas tanganku kemudian berlari jauh dariku.
"Shiraishi! Kembali!" Tiba-tiba aku merasakan guncangan. Satu persatu tiang kayu yang terbakar berjatuhan menghalangi jalanku. Kemudian aku mendengar suara pekikan dari orang yang tidak aku harapkan terjadi sesuatu yang bisa terancam nyawanya. "Shiraishi!"
Ketika aku baru melangkah kaki, aku menginjak sebuah benda kecil. Aku mengenal suara dering itu. Kuarahkan mataku pada kakiku. Penglihatanku menangkap sebuah bel kecil berwarna keemasan. Bel milik Shiraishi. Aku langsung mengambilnya, menggenggam benda itu dengan erat.
"Shiraishi. Tunggulah, aku akan menyelamatkanmu sekarang juga."
Namun berulang kali kupanggil namanya, berulang kali aku mencari jalan dan berpikir untuk menyelamatkannya . Aku tidak menemukannya. Takdir tak bisa diubah, aku telah gagal. Aku tidak akan diberi kesempatan. Anak perempuan itu telah menghilang dari dunia ini.
-XxX-
Andai saja sepatah kata muncul dalam kepalaku agar aku bisa menariknya dari sana. Dia pasti masih hidup sekarang. Aku benar-benar masih lemah dan tidak berguna. Mengingat wajah keputusasaannya saat itu sudah membuat dadaku sesak. Aku menyesal, sungguh menyesal.
Aku terdiam meratapi bel yang berada di genggamanku. Hanya benda ini yang tersisa, bel yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Aku menggoyangkan tanganku agar suara dering bel itu berbunyi dengan pelan.
"Shiraishi..." gumamku seraya menatap bel kecil itu.
Aku kembali menyimpan bel itu kemudian berjalan menuju puing-puing istana. Kulihat pohon besar yang sudah rontok dan beberapa dedaunan momiji mengering berserakan di sekitar pohon itu.
Kami-sama mou sukoshi dake nukumori kanjitai
Kore ga sadameda to uketomeru made
Suara itu...
Apa aku sedang berhalusinasi? Suaranya begitu lembut. Aku sangat mengenal suara itu. Tapi tidak mungkin jika itu suaranya 'kan?
Aku berjalan menghampiri pohon itu, aku melihat gadis kecil bersandar dengan kepalanya tertutup dengan kerudung hitam.
Inochi no hi ga hakanaku kuchite iku
Yume ha owari tsugete
Setelah berhenti bernyanyi, gadis itu menyadari keberadaanku. Ia mendongak agar dapat melihatku, kelopak matanya terbelalak melebar, iris merahnya terkunci dengan mataku dan mulutnya sedikit terbuka.
"Tōdō-dono...!" Ia bergegas berdiri. Raut wajahnya berubah bahagia.
"Shiraishi... kau-" Belum sempat bertanya, gadis itu langsung memelukku dengan sangat erat. "Shiraishi?"
Ia terdiam sejenak lalu melepasku. "M-Maaf Tuan, aku kelepasan." Ucapnya tersipu. "Um, seperti yang Tuan pikirkan, aku masih... hidup."
Aku ingin bertanya bagaimana bisa ia selamat namun aku langsung membuang pertanyaan itu. Aku mengurut dahi dan menghela napas panjang. "Aku benar-benar tidak menyangka, tapi syukurlah kau selamat." Aku tertawa pelan saking tidak percaya bahwa dia ada di depanku.
Ya, dia masih hidup.
"Sepertinya hanya aku yang selamat dari kebakaran Istana Odani, ya...?" Gumamnya seraya meratapi puing-puing. "Andai saja aku bisa lebih cepat menemukan Obaa-sama lalu bisa menyelamatkan Nagamasa-sama..."
"Shiraishi..."
Ia menggeleng kemudian menepuk kedua pipinya sendiri. "Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Obaa-sama sudah mengatakan padaku kalau aku harus bertahan hidup bagaimana pun caranya."
Kemudian ia terdiam, aku tak dapat melihat mata merahnya karena hampir tertutup oleh poninya. Ia mulai menatapku, memberikan senyuman sendu. Kedua manik merah seolah-olah ingin mengeluarkan air mata namun ia menahannya. Juga menahan isakan tangisnya, gemetar pada tubuhnya, begitu pula dengan kesedihan dan penderitaannya. Ia ingin menahan semua itu namun tidak bisa. Kedua tangannya menutup wajahnya yang mulai sedikit basah oleh air matanya, isakan tangisnya pun terdengar cukup keras oleh telingaku.
Akhirnya ia melepas segala yang telah memberatkan hatinya. Ia membalikkan badan, tak ingin memperlihatkan wajah tangisnya. "Sebenarnya aku masih tidak menerimanya. Semua yang ingin kucapai selalu saja semakin jauh bahkan menghilang. Aku masih... terlalu lemah." Ia menjalin kedua tangannya di depan dada dan membiarkan air matanya jatuh.
Apa yang bisa kulakukan untuknya? Berdiri di depannya dan mendengar keluh kesahnya masih belum cukup. Meskipun sedikit, aku ingin membantu meringankan penderitaannya.
"Ternyata dunia ini masih jauh dari kebahagiaan ya? Masih seperti neraka..."
Perlahan aku menaruh tanganku di pundaknya. "Kau benar. Masih banyak lagi orang yang menderita selain kita. Tapi, itu juga salah, Shiraishi." Ia menoleh kearahku. "Kau masih hidup, kau masih punya kesempatan untuk meraih yang kau inginkan."
"...yang aku inginkan?"
"Ya. Apa kau sudah tahu apa yang kau inginkan?"
Ia menghadap kearahku lalu menyeka air matanya. "Aku... ingin hidup bersama Nene-sama dan yang lain. Mereka sudah menyelamatkanku. Mereka juga sangat baik padaku, karena itu aku ingin membantu mereka."
Aku terdiam sejenak. "Begitu rupanya." gumamku. Ternyata, aku tidak bisa membawanya bersamaku. Namun aku tidak berhak menentang jalan kehidupannya. Meski Shiraishi masih hidup, namun perasaan dendam masih belum tercabut. Bagaimanapun juga, Oda telah menghancurkan tekad Tuan Nagamasa. Terutama Hideyoshi, niatnya untuk meminta Nobunaga memaafkan Tuan Nagamasa telah hangus. Bahkan, Shiraishi telah menjadi bagian dari mereka. Tapi aku hanya berharap mereka tidak memanfaatkan Shiraishi dengan buruk. Seperti memaksa Shiraishi untuk membalas budi mereka karena nyawanya telah terselamatkan.
Meski begitu...
"Dari tujuanmu itu, kau pasti bisa menemukan kebahagiaan disana."
Ia mengedipkan kedua matanya, lalu tersenyum. "Tuan benar." Kedua matanya terpejam. "Obaa-sama bilang, dunia ini tidak hanya lautan kesedihan. Masih banyak hal yang tidak kuketahui. Tetapi aku yakin, aku pasti bisa menemukannya."
"Ya." Aku membelai kepalanya dengan pelan, gadis kecil bersurai perak itu tertawa kecil.
"Tōdō-dono sendiri bagaimana?"
Aku kembali terdiam sejenak seraya melepas belaian pada rambutnya. "Shiraishi, kita memiliki arah pandangan yang berbeda. Aku tidak berniat untuk melayani Oda. Karena itu, aku akan pergi berkelana sampai aku menemukan orang yang tepat untuk kulayani."
Kedua alisnya menyempit. "Aah, sayang sekali ya. Ōtani-dono juga berkata seperti itu padaku. Kurasa aku akan ikut denganmu."
"Apa?"
Shiraishi tertawa kecil. "Aku bercanda. Apa kita bisa bertemu lagi, Tōdō-dono?"
"Tentu saja." Ucapku seraya mengeluarkan sebuah bel kecil dari kantong mantelku. "Aku hampir lupa, belmu selama ini ada bersamaku." Aku memberikan bel kecil tersebut padanya.
Kedua matanya melebar. "'Suzu'..." Ia tersenyum penuh syukur. Tangan kanannya meraih benda itu, namun berhenti, senyumannya berubah. Diluar dugaanku, ia menutup telapak tanganku, tidak mengambil belnya.
"Shiraishi?"
"Untuk sementara, bolehkah aku meminta pada Tuan untuk menjaganya sampai kita bertemu lagi?"
Aku mengurung niatku ingin bertanya mengapa ia memintaku untuk menyimpan belnya. "Apa aku harus berjanji padamu?" Senyuman yang menghiasi wajahnya perlahan melebar.
Kedua tangannya terjalin, ia mendongak kepalanya melihat reruntuhan Istana Odani. "Sejujurnya aku tidak tahu. Karena terkadang aku takut, jikalau aku atau Tōdō-dono tidak bisa menepati janji itu. Tuan tahu 'kan, dunia ini terkadang kejam tapi juga sangat indah. Tapi..." Gadis kecil bersurai perak itu menatapku. "Tuan jangan sampai pergi mendahuluiku, ya?"
"Aku tidak pernah berniat mati secepat itu, bodoh." Dengusku sambil menyentil dahinya.
"Aduh!" Telapak tangannya langsung menyentuh dahinya.
"Aku akan terus bertahan hidup demi membawa mimpi mereka yang telah mati menjadi kenyataan." Suzu terpaku menatapku, mulutnya sedikit terbuka. "Itu juga berlaku untukmu, Shiraishi. Jika kau menyerah, aku tidak akan memaafkanmu." Ucapku sembari membelai kepalanya.
Ia mengedipkan matanya, lalu tersenyum tipis. "Ya." Gadis itu menurunkan tangannya. "Um, Ta-Takatora-san!"
"...?" Aku mengedipkan mataku. Kali ini dia memanggil nama depanku. "Apa?" Aku menurunkan tanganku dari kepalanya.
"...A-Apa boleh kalau aku memanggil Tuan dengan 'Takatora-san'?" Ucapnya dengan kepalanya menunduk. Ia terlihat tersipu ketika menyebut namaku.
"Tidak masalah, Suzu." Dia terlihat kaget ketika aku menyebut namanya. Wajahnya semakin memerah. "Oi, kau tak apa? Wajahmu memerah."
"E-Eh!?" Ia langsung menepuk kedua pipinya. "A-Ah, tidak apa kok!" Suzu menggoyangkan kedua tangannya sambil tertawa paksa. "Terima kasih, Takatora-san!" Ucapnya dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Kenapa ia berterima kasih padaku? Dasar, aku tidak mengerti bagaimana cara pemikiran perempuan. "...ya."
Tapi, bagaimana pun juga aku bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk hidup. Mungkin aku beruntung bisa datang ke sini dan bisa menemuinya lagi. Kuakui rasanya akan sedikit sepi, karena dia tidak akan datang mengejarku lagi seperti dulu. Tapi aku yakin, di saat yang tepat kami akan bertemu lagi.
-XxX-
-XxX-
A/N : Oke! Seperti biasa, terima kasih sudah membaca. Mohon berikan review-nya di kolom review, pretty please!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
