"Sexy, free, and single… I'm ready too, bingo!"

"CUT!" teriak sang sutradara sambil berdiri. Para personil Super Junior yang tadi sedang berdiri dengan pose mereka masing-masing, menghembus napas lega. Sesi syuting video klip terbaru mereka sudah selesai hari ini. Semua kru bertepuk tangan karena pekerjaan mereka selesai hari ini.

Shindong dengan handycam kebanggaannya, merekam aksi gila Leeteuk, Shindong, Hangeng, dan Donghae yang saling menari tidak jelas. Siwon geleng-geleng di samping manager mereka, begitu pula dengan Il Woo.

"Mereka itu seperti tidak pernah kehabisan tenaga," kata Il Woo. "Kau tidak ikut seperti mereka?" tanya Il Woo jahil.

Siwon tertawa. "Tidak. Pamorku bisa turun kalau ada yang melihatku begitu."

"Aku permisi sebentar," kata Il Woo saat mendapat telefon dari nomor tak dikenal. Dia berjalan menuju keluar studio, barulah mengangkat telefon. "Yeoboseyo? Il Woo imnida."

"Um…" Terdengar suara seorang perempuan yang terdengar kebingungan. Apa ini ELF lagi? Pikir Il Woo. Tidak jarang, ELF menelefon ke ponselnya hanya untuk menanyakan tentang salah satu dari delapan namja itu. Kebanyakan bertanya tentang Siwon dan Kyuhyun. "Apa saya bisa bicara dengan Lee Donghae?"

"Ini siapa?" tanya Il Woo semakin bingung.

"Saya Jae, dari Rumah Sakit Jiwa Seoul. Ada hal penting ingin saya bicarakan," kata Jae memperkenalkan diri. Setelah terdiam cukup lama, dan Il Woo tidak menjawab, Jae melanjutkan. "Bisakah saya bicara dengan Donghae?"

"Sebentar," jawab Il Woo tanpa bertanya macam-macam karena sepertinya hal yang ingin dibicarakan yeoja itu sangat private. Dia berjalan menuju Donghae yang masih dengan aksi gilanya. "Donghae, ada telefon untukmu."

Donghae menghentikan aksi gilanya. "Dari siapa? Apakah ELF, atau Fishy?" tanyanya sambil menerima ponsel Il Woo. "Yeoboseyo?"

"Ah, apa ini Lee Donghae? Saya Jae dari Rumah Sakit Jiwa Seoul." Mendengar nama rumah sakit yang disebutkan yeoja itu, wajah Donghae menegang, membuat tanda tanya dalam benak Il Woo semakin banyak. Donghae hanya mampu terpaku di tempatnya. "Lee Donghae-ssi?"

Namja itu tersadar. "Iya? Ada apa?"

"Ini mengenai Lee HyukJae."

.

.

.

.

Kazuma House Production

proudly present…

.

.

.

U

.

.

.

® 2012

.

.

.

"Kau mau ke mana, Hyung?" tanya Kyuhyun yang baru bangun dan mendapati Donghae telah rapi dengan jaket dan topinya sambil memakan roti. Si Evil Magnae melihat pada jam. Masih jam setelah tujuh pagi. Pikirkannya melayang ke hal yang tidak-tidak. "Aa… aku tahu! Kau pasti mau kencan, kan? Sudah katakan saja!"

Donghae menelan sisa roti yang ada di mulutnya. "Siapa yang mau kencan? Aku ada urusan." Namja itu berjalan menuju sebuah lemari, tempat semua sepatu member Super Junior yang sangat banyak ditaruh. Dia hanya mengambil sepasang sepatu kets dan memakainya.

"Kencan itu termasuk dalam hal 'urusan', Hyung," kata Kyuhyun yang berdiri di belakang Donghae. "Jangan lupa, jam sembilan kita tampil. Lalu jam sepuluh nanti kita ada latihan vokal. Kau tidak mau dimarahi Park Seosangnim, kan?" katanya sambil bersidekap meningat guru vokal mereka ketika marah. Seakan ada asap yang keluar dari hidungnya.

"Aku tidak akan lupa. Paling pulangnya sekitar jam delapan," kata Donghae sebelum keluar dari apartemen mereka.

Dia menyetop taksi yang melintas di depan halte. "Ke Rumah Sakit Jiwa Seoul," kata Donghae tanpa basa-basi. Sang supir hanya mengangguk patuh sambil sesekali milik namja yang sedang melempar pandang ke luar jendela melalui kaca spion.

Namja itu tentu saja tidak mau membangunkan Yunho seperti yang sudah-sudah. Dia juga masih memiliki sisi manusiawi karena Yunho baru pulang dari bandara jam satu dini hari tadi. Bisa-bisa anggota DBSK itu bisa ngamuk padanya.

Donghae turun begitu taksi berhenti di depan Rumah Sakit yang sering dikunjunginya. Selain rumah sakit ini, jangan berharap ia akan memasuki rumah sakit lain kalau bukannya benar-benar urgent. Dia benci rumah sakit dan baunya yang aneh.

"Permisi, bisa saya bertemu dengan Jea?" tanya Donghae pada suster yang menjaga di bagian administrasi. Dia menurunkan topinya saat sang suster berusaha melihat wajahnya. Walaupun di rumah sakit, dia juga harus tetap menjaga keselamatan dirinya, bukan?

"Siapa nama Anda?" tanyanya.

Awanya, Donghae akan menyebutkan "Donghae" sebagai jawabannya, tapi ia urungkan niatnya. "Lee," hanya nama marganya yang ia sebutkan.

Sang suster tidak banyak bertanya lagi. "Tunggu sebentar." Suster itu pergi, lalu kembali dengan seorang suster lain yang berjalan di belakangnya. "Ini Jea, orang yang ingin menemuimu."

Suster itu meninggalkan Jea dan Donghae berduaan di luar ruang administrasi. Jea, gadis yang dicari Donghae, diam sambil menunduk dengan wajah yang memerah padam. Dia tidak menyangka, dia yang notabenenya seorang Fishy, akan menemui idolanya di depan matanya sendiri.

"Kau yang menelefonku?" tanya Donghae.

Mungkin kalau bukannya di rumah sakit, dia akan teriak histeris seperti orang gila. Demi profesionalitas, dia menarik napas dalam-dalam dan menetralkan detak jantungnya yang seperti ditarik kuda. "I-iya. Kau yang waktu itu menemui Lee HyukJae, kan?" Sebuah anggukkan sudah cukup untuk menjadi jawaban bagi Jea. "Aku sudah merekomendasikan pada dokter yang menangani Nona HyukJae supaya latihan berinteraksi dengan namja."

"Sebentar!" sela Donghae sebelum gadis dihadapannya ini berceloteh lebih jauh. "Apa maksdunya latihan 'berinteraksi dengan namja'?" Dia membentuk tanda kutip dengan jarinya.

"Nona HyukJae… semenjak kejadiaan naas itu, dia tidak bisa berinteraksi dengan namja. Dia akan ketakutan setengah mati." Jea mengingat-ingat. "Tapi waktu kau datang menemuinya, dia terlihat ingin menemuimu, bukannya menjauhimu, padahal kau namja. Dan itu yang membuatku merekomendasikannya pada dokter. Dan dia menyetujuinya."

Donghae mendengus menahan tawa. Rasanya mendengar kata "rekomendasi" dari mulut gadis itu terasa aneh. Rekomendasi. Seperti barang saja.

"Lee Donghae-ssi?" panggil Jea membuat namja itu kembali ke alam sadarnya.

"Ne?" tanya Donghae.

"Kita bisa ke ruangan Nona HyukJae. Kebetulan, Dokter Kim sedang melakukan check up rutin pada nona. Silahkan," ajak Jea. Donghae hanya mengikuti gadis di depannya melangkah menuju bagian belakang rumah sakit yang berhadapan dengan taman.

Mereka tidak langsung masuk ke kamar Eunhyuk, tapi melihatnya dulu dari jendela. Eunhyuk tengah menjalani tes tekanan darah oleh seorang dokter perempuan paruh baya. Eunhyuk menunjukkan senyum termanisnya. Senyum yang membuat Donghae tidak pernah bosan untuk memandanginya.

Tiba-tiba Eunhyuk menatap jendela, tempat Donghae mengintipnya. Dia bergeming di tempat. Tidak ada amukan marah, teriak ketakutan, atau pegangan erat pada benda lain. Gadis itu hanya diam, memandang mata Donghae dengan mulut sedikit terbuka.

Donghae sudah akan meninggalkan tempat itu, kalau saja Jea tidak menyuruhnya untuk tetap diam, memperhatikan reaksi Eunhyuk. Mungkin ini bagian dari terapi itu, pikir Donghae.

Sang dokter juga melihat reaksi yang ditampilkan HyukJae. Berbeda dengan namja lain yang ia jadikan sebagai bahan percobaan, ketika Donghae datang, reaksinya sama sekali berbeda. Senyum tipis terukir di wajah cantik dokter yang tak lagi muda itu.

"Nona HyukJae…" panggilnya pada gadis berambut hitam panjang ini. "Kau mengenalinya?"

"Donghae…" jawab HyukJae lirih. Benar-benar lirih sampai sang dokter memintanya untuk mengulangi perkataannya. "Donghae…"

"Kau mau menemuinya?" tanya sang dokter lagi. Tidak ada jawaban yang diberikan Eunhyuk. Gadis itu diam dengan tangan memegangi bonekanya.

Berpikir tidak akan ada perkembangan bila hanya begini saja, Sang Dokter berjalan keluar menemui Donghae. "Kau yang bernama Lee Donghae?"

Sempat terlintas dalam pikiran Donghae, apa dokter ini tidak pernah mengikuti berita infotainment sampai tidak mengenalinya. "Iya," jawabnya menepis pikiran yang masih saja sempat melintas dalam benaknya ketika keadaan sekarang bisa dikatakan… rumit.

"Apa Jea telah menjelaskan semuanya padamu?" Donghae mengangguk. "Sepertinya hari ini sudah ada perkembangan. Coba kau masuk. Bila dia bergerak menjauh, teriak, atau berpegangan erat pada sesuatu, segeralah keluar," perintah sang dokter.

Donghae mengangguk. Dia berjalan menuju pintu kamar yang tertutup dan menarik kenop pintunya hingga terbuka. Masih tidak ada reaksi dari Eunhyuk gadis itu hanya memandangi Donghae. Namun, ketika Donghae berjalan dua langkah mendekati Eunhyuk, gadis itu bergerak mundur di ranjangnya mendekati sebuah bell yang dipasang untuk memanggil suster. Namja itu segera keluar seperti yang diperintahkan dokter tadi.

Mungkin memang baru bisa sebatas ini, batin sang dokter. "Terapinya cukup berhasil. Tapi saat ini kita tidak bisa terus-terusan memaksakan Nona HyukJae untuk bertemu namja. Jadi… kuharap kau tidak keberatan untuk datang beberapa menit ke sini supaya Nona HyukJae menjalankan terapi."

"Aku akan mengusahakan untuk datang ke sini setiap hari," janji Donghae.

.

.

.

.

.

Il Woo menghela napas lega melihat kedatangan Donghae dari pintu masuk. "Cepat ke ruang makeup! Lima menit lagi kalian tampil!" kata Il Woo sambil menggiring Donghae menuju ruang makeup. "Kau ke mana saja? Pagi-pagi sudah menghilang."

"Ada hal penting yang harus kukerjakan," jawab Donghae. Dia memejamkan matanya saat dipakaikan BB Cream ke seluruh wajahnya. "Sepertinya tiap hari aku akan pergi, Hyung."

"Untuk?" tanya Il Woo ingin tahu. "Asal kau tidak membuat jadwal Super Junior kacau, aku mengijinkan."

"Gomawo…" jawab Donghae sambil berjalan keluar untuk berkumpul dengan member Super Junior lainnya.

Memang jadwal mereka pagi ini adalah menjadi acara pembuka bagi satu acara musik, sekaligus untuk mempromosikan album terbaru mereka. Seharusnya Donghae dan semua member lainnya tidak boleh telat dalam acara sepenting ini. Seharusnya. Tapi, seperti kata orang, cinta itu mengalahkan segalanya.

Donghae akan mengorbankan segalanya demi Eunhyuk. Apapun itu, termasuk karir-nya yang sedang menanjak tajam. Demi Eunhyuk…

"Oh, ya." Leeteuk teringat. "Nanti malam kita ada konfrensi pers untuk Album 6JIB." Leeteuk memandangi Donghae lama. "Jangan kabur lagi," pesannya. Leader Super Junior itu tidak marah pada salah satu namdongsaeng-nya ini. Hanya saja, tiba-tiba kabur dalam keadaan penting seperti ini cukup membuatnya panik tidak terkira. Dia hanya tidak ingin masalah ini terulang lagi.

"Iya, Hyung," jawab Donghae mengerti maksud hyung-nya.

.

.

.

.

.

Pandangan mata Eunhyuk kembali kosong setelah sesi terapi itu. Dia terus memandang pintu masuk, berharap Donghae kembali datang. Pegangannnya pada boneka berungan putih itu semakin erat. Ia menunduk, memandang cincin yang melingkar manis di jari manisnya. Meski tidak semenkilap dulu, Eunhyuk tidak mau melepaskannya. Bahkan saat Jea, yang cukup dekat dengannya, ingin melepaskan cincin itu karena jarinya iritasi, Eunhyuk tidak mau melepaskannya.

"Nona HyukJae, ayo makan," ajak Jea. Dia mengikuti arah pandang Eunhyuk menuju pintu. "Kau menunggunya?"

"Iya…" jawab Eunhyuk. Baru pertama kali ini Jea mendengar Eunhyuk berbicara seperti orang normal lainnya. Dugaannya semakin kuat bahwa Donghae dan Eunhyuk memiliki hubungan di masa lalu. Kalau tidak, gadis itu tidak akan seperti ini. "Apa dia akan ke mari lagi?"

"Dia akan datang lagi besok," jawab Jea dengan senyuman. Sebagai suster di rumah sakit jiwa, sudah sepantasnya dia senang bila melihat pasiennya perlahan sembuh. "Sekarang kau makan dulu."

Eunhyuk mengangguk sebagai jawaban dan mulai memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.

To Be Continue…

1.660 words

Yang di daerah Jakarta, udah nyobolos gubernur DKI belom? Hahaha… #abaikan

Tentang Paparazzi yang selesainya ngegantung itu… saya no coment aja dah.

Terima kasih untuk: Kim Soo Hyun, epthy. , MrsVampie, Anchovy, haehae, kyukyu, nikyumin, nahanakyu, Vivinetaria, Eunfaloverz yeFawook, Anonymouss, myfishychovy, Rearea, evilMinMin, Kim Jung Min, kyunny. Dan semua yang telah membaca, fave, dan alert.

Finished at:

Wednesday, July 11, 2012

00.06 P.M.

Published at:

Wednesday, July 11, 2012

00.35 P.M.

U © Kazuma House Productin ® 2012