Our Bolt
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Vinara 28
Rate: M
Genre: Family, Romance, Drama.
Warning: OOC, Mainstream, Abal, Typo, No EYD, No Tanda baca, DWWL (Dan warning-warning lainnya)
Karena sebotol minuman keras, karena diolok-olok tidak pernah berpacaran, karena orang yang disukainya hanya diam dan tak bersuara. Semuanya berubah ...
"Lihat? Berapa usiamu? Kau sudah sembilan belas tahun, apa kau tidak tertarik dengan pria?"
"Cobalah untuk membuka diri, rubah sifatmu yang malu-malu itu."
'Berisik, apa yang kau tahu dariku? Kau tidak tahu, kan, kalau aku sudah mencintai seseorang sejak SMP?' Gadis itu mencoba membela diri, namun yang ia ucapkan hanya tertahan di dalam hati.
Tangan putih itu terus-terusan meneguk sake dari gelas kecil yang tak dibiarkan kosong. Terus diisi hingga rasa dahaganya menghilang. Rasa dahaga yang entah berasal dari mana. Saat ia menyadari gelas itu tak terisi kembali saat itu pula ia baru tahu bahwa ada seorang pria yang menahan tangannya.
"Hentikan, Hinata!"
Kata terakhir yang didengar Hinata sebelum gadis itu kehilangan kesadarannya. Kalimat cukup indah sebagai penutup malam panjangnya yang menyebalkan, kalimat yang akan ia ingat dalam tidurnya hingga melupakan candaan dari teman-temannya yang menyebalkan. Ia tersenyum dalam tidur.
Hinata tidak akan melupakan malam itu ... Malam ketika pria yang ia cintai menghawatirkan dirinya.
Sebelum kelopak mata itu terbuka, indra pendengaran Hinata lebih dulu menangkap sebuah suara. Suara yang tak asing baginya, suara gemericik air dari kamar mandi. Suara itu membuatnya nyaman, seperti sebuah lagu yang menghipnotisnya untuk kembali terlelap dalam tidur.
Buaian selimut yang nyaman memeluk seluruh tubuhnya yang terasa dingin. Aroma maskulin yang melekat pada tubuhnya menghantarkannya pada sensasi yang tak pernah ia rasakan. Aroma ini seperti aroma seorang pria.
Pria yang sangat ia kenal ...
Hinata tersentak, ia membuka matanya lebar-lebar. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna orange, warna berbeda yang biasa ia lihat. Indra pendengarnya semakin tajam mendengar suara gemericik air yang berasal dari ruangan sebelah, tak jauh dari tempat tidur yang tengah ia tempati. Matanya menatap pintu sumber suara—berbeda. Warna pintu dan letaknya berbeda dari kamar mandi apartmentnya.
Selang berapa detik, indra penciumannya menangkap aroma shampo yang berbeda dari biasa yang ia pakai. Ini bukan bau shamponya.
Semuanya tampak asing. Warna, aroma, dan penataannya. Kini ia benar-benar baru tersadar bahwa dirinya berada di tempat asing.
"A-a-aku di mana?" suara Hinata tertahan lantaran suara gemericik dari kamar mandi tak lagi ia dengar, kini berganti dengan suara langkah kaki yang semakin membuatnya tercengang.
'Si-siapa dia?' Hinata bertanya-tanya. Ia kembali menutup mata sambil mengeratkan selimutnya. Bingung apa yang harus ia katakan dan ia lakukan saat melihat sosok itu.
Namun, hal yang semakin membuat Hinata shock adalah keadaan tubuhnya yang baru ia sadari. Terasa dingin dan ringan. Tangan Hinata meraba, ia menemukan tubuhnya tak terbungkus apapun kecuali selimut yang kini menutupinya.
'Apa yang terjadi?' Hinata semakin takut. Ia mengeratkan matanya. Ia belum siap untuk hal ini, terlebih ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada sosok yang kini semakin dekat dengannya. Harus berteriak, kah? Atau harus menangis?
Apapun itu, hal yang membuat Hinata sangat takut ketika ia membuka mata adalah; ia akan tersadar dengan apa yang terjadi padanya. Di dalam kamar bersama seseorang tanpa memakai baju. Hinata tidak ingin tahu hal apa saja yang terjadi pada mereka semalam.
Terus dan terus saja menutup mata, meski merasakan ada sosok yang naik di atas ranjang dan meletakkan kepala di bantal sebelahnya. Hinata tetap tak bergerak. Hinata yakin bahwa sosok itu tengah memperhatikannya.
Bagaimana ini? Apa dia tahu kalau aku hanya pura-pura menutup mata?
Hal yang mengganggu Hinata bukan hanya itu. Aroma yang masuk ke indra penciumannya, sangat ia kenal. Seolah sudah menandai wangi tersebut sebagai aroma khusus dari seseorang. Wangi yang mampu membuatnya tenang saat di sampingnya, meski tak sepatah pun keluar dari mulutnya.
'Ini bau Naruto ...'
Perlahan tangan Hinata mengeratkan genggaman pada selimut dan mulai memberanikan diri untuk membuka mata.
Hinata tercengang ketika menatap mata yang ikut melebar ketika mata mereka bertemu, diikuti seburat merah yang menghias keduanya. Hanya saling bertatapan dan diam.
Hinata semakin bingung, tindakan apa yang harus ia perbuat? Berteriak dan memukuli Naruto atau mendorong pemuda itu hinga terjatuh lalu menanyakan apa yang terjadi? Hinata tidak tahu harus memilih yang mana. Pikirannya kosong.
Tapi anehnya, ada satu perasaan yang meluap dalam hatinya ketika melihat sosok di sampingnya adalah Naruto. Perasaan senang dan bahagia. Aneh ... Hinata merasa dirinya menjadi orang aneh. Seharusnya Hinata sedih atau marah, tapi ini berbeda, Hinata bahagia karena pria itu adalah Naruto.
Pria itu adalah Naruto, itu sudah cukup bagi Hinata. Ia merasa bahagia.
"Hi-Hinata ... se-semalam kau mabuk da-dan a-a-aku ..."
Ingin tersenyum rasanya ketika melihat wajah merah Naruto yang tengah terbata-bata. Dada Naruto tak tertutup apapun, ia hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Tiba-tiba Hinata merasa malu, ia meringkuk dan mengeratkan selimutnya.
"Ma-ma-maaf!" Naruto semakin panik. Ia bangkit dan mulai ketakutan. Dalam kepalanya hanya ada kata, 'Apa yang harus aku lakukan?'
Naruto menunggu Hinata bereaksi, ia akan menerima apapun perlakuan Hinata padanya nanti, termasuk rela jika diseret ke penjara. Apapun itu Naruto akan menerimanya.
"Hi-Hinata, ma-maafkan aku."
Hingga berjam-jam berlalu, Hinata tetap meringkuk dalam selimutnya. Naruto yang sudah berpakaian lengkap sedari tadi duduk bersimpu meminta maaf dan menunggu hukuman dari Hinata.
"Na-naruto-kun ..."
Naruto tersentak. Suara Hinata yang lembut bagaikan suara alarm tanda bahaya yang harus segera ia tanggapi, meski nada suara Hinata tak terdengar marah.
"Ha'i?"
"Ke-ke-kembalikan pakaianku," gumam Hinata dengan kepala yang ia sembunyikan di balik selimut seolah tidak mengijinkan Naruto untuk melihat raut wajahnya saat ini.
Naruto terlihat kebingungan, namun dengan cekatan dia memunguti pakaian Hinata yang berserakan di lantai lalu ia letakkan di atas ranjang, tepat di samping Hinata.
Hinata mengintip dari balik selimut lalu pandangannya ia arahkan ke Naruto. Tatapan kosong tanpa amarah, hanya rasa malu dan takut yang menyelimuti. Naruto dapat melihat itu, pancaran mata Hinata yang selalu meneduhkan hatinya.
Seolah mengerti apa yang diinginkan Hinata, Naruto bergegas keluar dari kamar dan menunggu Hinata di ruang tamu. Perasaannya semakin resah, kesalahan yang tidak mungkin dimaafkan, ia sudah menodai Hinata. Apa yang harus dia lakukan?
"Su-sumimasen ..." suara Hinata lagi-lagi mengagetkan Naruto. Gadis berambut indigo itu sudah berpakaian dengan rapi, ia berdiri dengan tenang kemudian berojigi, "Maaf, seharusnya aku tidak minum banyak semalam. Semua itu salahku." Kata-kata yang keluar dari mulut Hinata bagaikan belati yang menghujani jantung Naruto.
'Kenapa dia yang meminta maaf? Kenapa dia yang merasa bersalah? Kenapa dia tidak marah?' Naruto tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Ia terdiam tanpa menghiraukan tatapan Hinata.
Keadaan seperti ini membuat aura ketegangan semakin kental. Hinata memilih untuk segera pergi dan keluar dari apartement Naruto.
Apartment Hinata memang bersebelahan dengan Naruto. Itulah kenapa Hinata memaklumi kalau Hinata pulang dan tidur di kamar Naruto. Ingatan Hinata mengenai kejadian semalam memang belum kembali, yang ia ingat hanya bagaimana wajah khawatir Naruto saat melarangnya untuk kembali meminum sake.
Hinata kembali membuka pakaiannya di depan cermin besar di kamar mandi miliknya. Ia menatap tubuh polosnya yang sedikit berkeringat dan bau. Tangan mungilnya meraba leher dada dan perut. Terdapat bercak merah di bagian-bagian itu.
"Naruto-kun, menyentuhku?" pertanyaan polos yang tak perlu jawaban karena kini Hinata tengah melihat bukti-bukti tersebut.
Hinata tersenyum namun dengan air mata yang mengalir. Entah harus sedih atau bahagia. Hal yang membuat Hinata merasa benar-benar sedih adalah; kenapa dirinya tidak bisa mengingat hal itu? Hal yang seharusnya menjadi moment berharga baginya... menghilang dari ingatannya ...
Lalu, bagaimana ia akan bersikap di depan Naruto esok?
"O-ohayou?"
"O-ohayou, Hinata!"
Sapaan pagi ketika keluar dari apartment masing-masing seperti biasanya. Namun ada yang berbeda, kali ini mereka tidak saling bertatapan. Perasaan canggung masih menyelimuti.
Meski berjalan bersebelahan, keduanya tak berani sedikit pun untuk memulai percakapan atau pun membahas kejadian kemarin.
Semuanya menguap tersapu angin.
Meski tak ada yang menanyakan atau membahasnya. Kejadian itu masih tersimpan sepenuhnya dalam memori, terlebih dalam ingatan Naruto—satu-satunya orang yang mengingat kejadian itu seluruhnya.
~oOo~
Hari ini Hinata sudah berkali-kali ke kamar mandi. Perasaan mual tak dapat ia tahan. Tak ada sedikit pun makanan yang keluar, hanya lendir bening yang terus-terusan membasahi mulut karena harus terdorong keluar.
Hinata tampak depresi, ia mencengkram pony lalu mulai mengacak-ngacak rambutnya. Irisnya terus-terusan memperhatikan benda kecil panjang yang terdapat pada tutup botol kecil.
Sakura menyarankannya untuk memeriksakan diri. Setidaknya hasilnya lebih akurat dari pada hanya menebak-nebak saja. Namun yang dilakukan Hinata sekarang hanya memastikannya melalui tespek.
Hanya memastikan melalui alat kecil itu, sudah membuat Hinata depresi dan kacau. Mentalnya terguncang. Sedari tadi ia terus berjalan mondar-mandir di depan alat itu. Menunggu selama lima menit terasa berjam-jam bagi Hinata.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. 'Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Apa yang harus aku katakan pada Naruto-kun? Apa aku berhak untuk meminta tanggung jawabnya? Ini kecelakan! Aku akan jadi orang jahat jika aku meminta tanggung jawab Naruto-kun. Bagaimana reaksinya nanti? Apa dia akan senang? atau dia sedih dan tertekan? Bagaimana jika Naruto memintaku untuk menggugurkannya? Jika nanti Naruto-kun menikahiku, aku benar-benar menjadi wanita jahat karena membuatnya menikahi wanita yang tidak ia cintai. Aku merusak masa depannya. Bagaimana ini?'
Tanpa terasa air matanya bercucuran. Dibanding perasaan senang karena mengandung anak dari pria yang ia cintai, Hinata lebih merasa bersalah pada Naruto. Ia merasa benar-benar menjadi wanita jahat.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Hinata terperosok dengan bertumpu pada dinding kamar mandi setelah melihat hasil dari alat kecil itu. Dua garis berwarna merah membuat ketakutannya semakin menjadi.
Kehidupannya berubah ...
"Apa yang harus aku lakukan?"
Kini keresahannya semakin menjadi ketika membayangkan bagaimana reaksi dari ayahnya—Hiashi. Hinata tidak tahu harus berkata apa pada Hiashi nantinya. "Anak ini, anak Naruto-kun. Apa yang harus aku katakan pada Tou-san?"
Hinata benar-benar merasa sendiri di dunia yang gelap dan dingin ini. Tidak ada yang bisa diminta pendapat dan bantuan. Semua ini salahnya, seharusnya Hinata tidak tersulut emosi dan berakhir mabuk berat.
Sekarang Hinata tidak mempunyai keberanian untuk menghadapi hidup. Dia benar-benar sendiri ... "Apa yang harus aku lakukan?" Hinata takut.
Hinata kembali merasa mual, ia menyentuh perutnya yang rata. Kini ia yakin bahwa di dalam tubuhnya terdapat kehidupan. Tak dapat menahan tangis, kini Hinata terisak begitu keras hingga menggema memenuhi kamar mandi yang begitu dingin dan lembab.
"Aku tidak sendiri," isaknya sembari mengusap perut. "Aku akan menjadi seorang ibu." Sekeras apa pun Hinata mencoba untuk tersenyum, nyatanya air matanya tak surut. "Maafkan Kaa-san, nak. Apa Kaa-san terlihat lemah?"
Demi satu nyawa yang belum utuh, demi sosok yang belum ia lihat, Hinata mencoba untuk tegar dan menghadapi semuanya. Hinata senang ... ya, dia senang mendapat bayi. Hinata akan menjadikan bayinya sebagai penyemangat dan penguat diri. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan membesarkannya.
'Naruto berhak tahu bahwa kau mengandung anaknya.' Kata-kata dari Sakura kembali terngiang dalam otaknya.
"Uhm, aku akan mengatakannya." Hinata menunduk memandangi perutnya, "Ayahmu harus mengetahui keberadaanmu." Meski rasanya takut, Hinata mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya pada Naruto.
~oOo~
Hinata berdiri di depan pintu apartmentnya. Kakinya sulit digerakkan karena perasaan takut. Ia hanya memandangi pintu apartment Naruto yang berada tepat di samping pintunya. Kedua tangannya mengepal di depan dada sambil terus-terusan menghela napas, berharap dengan melakukan itu bisa membuat Hinata merasa tenang.
Namun tubuhnya kembali menegang ketika matanya melihat pintu apartment Naruto terbuka dan sosok yang dinantikannya keluar dari sana dengan pakaian seperti biasa.
"Yo, Hinata?" Sapa Naruto riang tak lupa cengiran lebar ia perlihatkan. Naruto menghampiri Hinata yang masih terpatung.
Iris Naruto memperhatikan ekspresi Hinata yang tak seperti biasa. Wajah Hinata tampak pucat, membuat pria penyuka ramen itu bertanya-tanya, apa yang terjadi?
"Hinata, apa kau sakit?" tanya Naruto sambil menyentuh kening Hinata.
Hinata segera menunduk saat tangan Naruto menyentuh keningnya. "Na-Naruto-kun, a-ada yang mau a-aku bicarakan pa-padamu," ucap Hinata tergagap. Keringat dingin mengucur dari keningnya, ketakutan kembali mengguncangnya karena harus menemukan kata-kata yang tepat untuk Naruto.
Hinata menuntun Naruto masuk ke dalam apartmentnya. Mereka berdua duduk di sofa dengan suasana yang begitu canggung. Tapi sepertinya Naruto tidak merasakan ketegangan itu, karena sedari tadi ia tersenyum sambil menunggu hal apa yang akan dibicarakan Hinata.
"Eto ..." iris Hinata sedari tadi melirik ke segala arah, mencoba untuk tidak melihat Naruto, pasalnya sedari tadi Naruto memandanginya lekat-lekat, ia benar-benar gugup ditatap seperti itu. Hinata tidak ingin pandangan mereka bertemu dan berakhir dengan hancurnya keberanian untuk mengatakan fakta mengenai dirinya pada Naruto.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto karena tidak sabar menunggu.
Hinata menarik napas dalam-dalam. "Na-Naruto-kun.." Hinata menutup matanya rapat-rapat, 'Bagaimana aku memulainya? Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.' Hinata mulai depresi.
"A-a-aku—"
Hinata memotong ucapannya karena suara handphone Naruto yang tiba-tiba berbunyi. Bahkan Hinata belum memulai apapun, ia harus bersabar karena Naruto tidak bisa membiarkan handphone itu terus berbunyi.
Hinata menatap Naruto yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponsel.
Naruto berbicara sambil berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum Naruto membuka pintu itu, ia menoleh ke arah Hinata, "Maaf Hinata, aku harus pergi," ucap Naruto lalu kembali melanjutkan percakapan dengan seseorang. Namun, ia kembali lagi meski hanya kepala yang mengintip dari pintu, "Aku janji, aku akan kembali lagi dan mendengarkan apa yang akan kau katakan."
Hinata mengagguk dan tersenyum. Ia membiarkan Naruto pergi dan kembali mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Naruto nanti.
~oOo~
Naruto memutuskan sambungan telponnya lalu berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tapatnya ke sebuah pintu yang baru saja ia masuki. Pandangannya menerawang.
"Hinata ..." Naruto menunduk. Ia masih merasa bersalah saat melihat Hinata. Hinata belum tahu fakta yang disembunyikan Naruto selama dua bulan ini, hal yang mengusik tidurnya, ia tidak akan lega sebelum mengatakan hal itu pada Hinata.
Hinata harus tahu kejadian malam itu, namun Naruto tak punya keberanian untuk mengatakannya.
Naruto menghela napas dan kembali menutup matanya, ia bergegas pergi dari gedung yang sangat besar itu.
Tak ada yang bisa meringankan bebannya, yang bisa ia lakukan hanya bercerita pada sahabatnya, meski sahabatnya hanya diam tak menanggapi cerita Naruto.
"Aku menelponmu bukan untuk mendengarkan cerita asmaramu, Dobe," tukasnya dingin.
Naruto melirik Sasuke tajam, ia merengut. Padahal Naruto belum bercerita apa pun, maksudnya Naruto belum menceritakan masalah yang tengah ia alami, sedari tadi Naruto hanya bercerita tentang Hinata, Hinata, Hinata dan Hinata tapi tak sekali pun mengatakan bahwa dia sudah menodai Hinata. Naruto tampak bingung ...
"Cerita kali ini berbeda dari sebelumnya, Teme. Aku bingung, aku sudah menahanya selama dua bulan. Tapi aku tidak sanggup untuk mengatakannya." Naruto meremas surainya. Merasa bahwa dirinya benar-benar lelaki brengsek.
"Kalau begitu katakan saja padanya kalau kau menyukainya," jawab Sasuke datar. Ia hanya menjawab sekenanya saja, padahal sedari tadi Sasuke tidak mendengarkan apa yang dikatakan Naruto.
"Jika kejadian malam itu tidak terjadi, mungkin aku masih mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Tapi sekarang? Aku benar-benar tidak bisa ..."
Sasuke merasa janggal dengan perkataan Naruto, "Kejadian malam itu?" ulang Sasuke mencoba untuk meminta penjelasan.
Naruto terduduk, mau tidak mau ia harus mengatakan pada Sasuke, setidaknya sahabatnya itu bisa memberi solusi yang terbaik untuknya.
"A-a-aku ... memperkosanya ..." Naruto menutup matanya rapat-rapat, tubuhnya bergetar dengan hebat. Ia benar-benar bersalah, ia benar-benar brengsek. Laki-laki seperti apa yang memperkosa wanita yang dicintainya dalam keadaan mabuk?
"Lalu?" Sasuke menaikan sebelah alisnya.
"A-aku tidak bisa mengatakan kebenarannya. Setiap kali melihatnya aku benar-benar merasa bersalah, aku pria brengsek ... aku takut dia akan membenciku jika aku mengatakan padanya—"
"Tunggu! Jadi Hinata-san tidak tahu kau sudah memperkosanya?" Sasuke memotong ucapan Naruto. Suara Naruto tampak kebingungan, pantas saja selama dua bulan ini Naruto lebih banyak diam dan melamun, namun kenapa baru sekarang Naruto berani mengatakannya?
Naruto terdiam. Sulit mengatakan kejadian sebenarnya. "Saat itu dia sedang mabuk." Ia meneguk ludah yang tersangkut di tenggorokannya, rasanya seperti duri yang menahannya untuk berbicara, "Dan tadi pagi dia ingin berbicara padaku. Aku takut jika dia mengingat semuanya ... jika Hinata mengingatnya, Hinata pasti akan membenciku."
Sasuke mengusap pelipisnya. Sasuke merasa sahabatnya saat ini sedang dilanda ketakutan yang tak mendasar, Naruto hanya takut pada hal-hal yang ada pada pikirannya, padahal belum tentu Hinata akan membencinya.
"Pulanglah dan katakan yang sebenarnya pada Hinata-san," datar Sasuke mengusir Naruto.
"Ta-ta-tapi..."
"Apa kau mau dihantui rasa bersalah seumur hidup?" Sasuke tampak geram, ia menendang Naruto lalu dengan cepat ia menutup pintu rumahnya.
"Dia benar-benar tidak bisa dimintai solusi," Naruto mendengus kesal. Wajahnya kembali tertunduk ketika menyusuri jalan menuju gedung besar tempat tinggal dirinya dan Hinata.
Gedung apartment itu memang sangat besar, Naruto tidak menyangka saat pertama pindah ke sana, ia akan bertetangga dengan Hinata. Padahal saat masih kecil, Naruto tidak berani menyapa Hinata karena larangan orangtuanya.
Masih melekat dalam benak Naruto saat ayahnya marah ketika mengetahui dirinya berteman dengan Hinata. Naruto tidak bisa membayangkan akan semarah apa Minato nanti saat mengetahui bahwa putranya mencintai gadis dari musuhnya.
Karena itulah Naruto merahasiakan dari orangtuanya bahwa dia bertetangga dengan Hinata, ia juga menahan perasaanya pada Hinata karena tidak ingin memperburuk hubungan keluarga Namikaze dan Hyuuga.
Lalu bagaimana sekarang?
—Aku menodai gadis yang kucintai ... Seorang putri dari musuh ayahku ... Masih pantaskah aku muncul di hadapannya saat ini?
Naruto benar-benar depresi. Di tengah jalan Naruto terlihat seperti orang ling-lung. Berjalan tanpa arah dengan tatapan mata kosong. Hingga tanpa disadari tubuhnya menabrak seseorang.
"Huh?"
Naruto terkejut saat mendapati Sakura berdiri di depannya dengan tatapan mata kaget dan telunjuk yang menunjuk dirinya.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Naruto.
Melihat air muka Sakura saat ini membuatnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Sakura seperti tengah melihat hantu, meski saat ini wajahnya tidak begitu pucat, namun aneh rasanya jika Sakura menunjukan wajah kaget saat berpapasan dengan Naruto.
"Kau di sini?"
Naruto mengernyit. Memangnya kenapa kalau Naruto ada di sini? Apa itu hal yang salah.
"Kau tidak bersama Hinata?" lanjut Sakura sebelum Naruto menjawab pertanyaan sebelumnya.
Jelas-jelas Sakura menerima pesan dari Hinata bahwa Hinata akan berbicara dengan Naruto. Bertemu di jalan seperti ini tentu aneh bagi Sakura, apa lagi raut wajah Naruto yang tampak biasa-biasa saja. Sakura sangat yakin kalau sahabatnya itu belum mengatakan apa pun pada Naruto.
"Hinata? me-memangnya kenapa aku harus bersama dengannya?" Naruto berusaha menekan kegugupannya. Naruto merahasiakan tentang perasaanya pada Hinata, dan hanya Sasuke yang tahu, mana mungkin Naruto mengatakan hal yang akan membuat Sakura curiga. Setidaknya Naruto harus memilih jawaban selayaknya teman seperti biasa.
Sakura menyipitkan matanya, ia tampak marah atas sikap acuh Naruto. Benar-benar sudah diambang batas kesabarannya. Sakura menendang kaki Naruto hingga pria berkulit tan itu berteriak kesakitan.
"BAKA!" umpat Sakura emosi.
"Ittai, apa yang kau lakukan, Sakura-chan? Apa kau sudah gila—"
Naruto terdiam, mulutnya menganga menatap sesuatu yang ditunjukan Sakura padanya. Sebuah gambar dari handphone milik gadis musim semi itu. "A-apa itu?" Naruto tidak mengerti arti dari foto tersebut.
"Aku yakin kau sudah mengetahui alat apa ini dan berfungsi untuk apa, kan?"
Benar, Naruto memang sudah mengetahuinya. Alat kecil panjang dengan dua garis merah di tengah-tengah, menunjukan bahwa alat itu sudah digunakan dan hasilnya adalah positif. Namun Naruto tidak tahu kenapa Sakura menunjukan foto itu.
Sakura menutup matanya sejenak sambil menghela napas. "Itu milik Hinata."
Jantung Naruto terasa tertusuk tombak yang amat besar. Tubuhnya membeku. Ia tidak salah dengar, kan?
"Dia mengirimiku pesan ini dan mengatakan bahwa dia positif hamil..." Sakura menajamkan matanya, "Dia mengandung anakmu, kan?"
Naruto benar-benar membeku, pikirannya kosong. Tanpa terasa matanya memanas, menciptakan air mata yang langsung terjun dari pipi tan.
"Hi-Hinata ..."
Sakura diam memperhatikan Naruto yang berubah menjadi kebingungan dan linglung. Ia menggenggam erat handphone miliknya, sekarang dia ragu, apakah yang dilakukan saat ini benar atau salah? Seharusnya Hinata yang memberitahu Naruto, tapi Sakura sudah tidak bisa menahan kesabaran, hingga akhirnya dia memberitahu kenyataan itu.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian para pejalan kaki, terlebih Naruto. Pria berkulit tan itu mengucurkan air mata begitu deras.
Tanpa membuang-buang waktu, Naruto berlari menuju apartment Hinata tentunya dengan meninggalkan Sakura yang masih berharap-harap cemas agar hubungan Naruto dan Hinata berjalan baik.
Naruto berlari tanpa peduli seperti apa raut mukanya, bahkan ia tidak peduli jika saat ini matanya sembab dan merah, benar-benar tidak memikirkan bagaimana reaksi Hinata saat melihat wajahnya nanti. Yang ada dalam pikiran Naruto hanya ingin bertemu dengan wanita yang dicintainya, wanita yang sudah mencuri hatinya, dan wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.
Perasaan Naruto bercampur jadi satu, namun yang mendominasi saat ini adalah perasaan sedih dan bersalah. Kenapa? Kenapa ia melakukan itu? Naruto merasa sudah merusak masa depan Hinata. Gadis yang seharusnya memfokuskan diri untuk belajar dan bergaul dengan teman sebaya, saat ini sudah berubah menjadi gadis yang tidak mempunyai masa depan. Tentu berat bagi Naruto jika mengingat hal itu.
Hari-hari bahagia yang biasa Hinata jalani, esok akan berubah menjadi apa?
Berbagai macam ekspresi wajah Hinata muncul di kepalanya. Semua itu membuatnya sakit, rasanya perih di dada ... wajah Hinata yang selalu tersenyum, selalu bahagia, apa nanti akan berubah menjadi mendung?
Sakit ...
Naruto-lah tersangka dari semua ini.
Hinata membuka pintu, matanya melebar, terperangah saat mendapati Naruto berdiri di sana. Mata mereka bertemu, bertatapan cukup lama. Hinata bingung kenapa Naruto menangis.
Tidak ada satu patah pun kata yang keluar dari keduanya, hanya sunyi menghias pertemuan kedua mata itu. Hingga akhirnya Hinata memilih mengalihkan pandangannya dan berjalan mundur, mempersilakan Naruto untuk masuk.
'Dia, wanita yang aku cintai. Dia, sedang mengandung anakku. Sendirian menyimpan luka itu, apa dia mengetahui bahwa masa depannya akan hancur? Aku ... akulah yang sudah menghancurkan kehidupannya.'
Naruto tak kuasa menahan diri. Ia menubruk Hinata, memeluknya erat. Isaknya makin menjadi saat ia merengkuh tubuh mungil Hinata, terasa lebih kurus dari yang ia rasakan dulu.
Wajah Hinata memucat. Ia takut, sangat takut. Bagaimana menanyakan kenapa Naruto menangis? Mulut Hinata membisu, pikirannya terbang menuju topik yang ingin dibicarakan pagi tadi. Apa Naruto menangis karena itu? Tidak mungkin! Hinata belum mengatakannya. Namun tangis yang Naruto tumpahkan semakin meyakinkan bahwa Naruto mengetahui fakta tentang Hinata.
Naruto merosok ke bawah, kali ini yang ia peluk adalah perut Hinata. Wajahnya ia tenggelamkan di sana, membiarkan air mata merembes pada baju Hinata. "Maaf ..."
Kata maaf dari Naruto telah menghancurkan pertahanan hati Hinata. Tanpa terasa Hinata ikut menangis. Liquid bening itu menetes tepat di atas surai blonde Naruto.
Kembali tak bersuara, hanya tangis yang mendominasi keduanya. Tak ada kata yang mampu mewakili perasaan mereka saat ini, hanya tangis satu-satunya komunikasi yang bisa menggambarkan perasaan keduanya.
Tak tahu mau dibawa kemana hubungan mereka ...
Hubungan yang didasari dengan rasa bersalah, hingga mengubur perasaan cinta yang menggebu, tak terjamah dan tak terusik. Apa mereka mampu menggapai perasaan suci yang tersembunyi itu?
—TBC—
A/N: Prolog kemarin sudah pernah Vinara post di FB, jadi kalau ada yang sudah baca, maaf kalau harus baca ulang. Chapter 2 atau isi cerita langsung nyusul sehari setelah prolog. Tapi chapter berikutnya jangan berharap bakal post kilat. Hahaha... Vinara gak bisa kalau nulis ngebut. Cerita ini mungkin agak sedikit rumit, tapi sedikit bocoran, Vinara tidak akan menambahkan orang ke-tiga sebagai intrik masalah. Jadi jangan khawatir ada pihak yang tersakiti.
Terima Kasih yang sudah baca dan Review.
