Kita kapan?
Past
Winkdeep
November, 2016 {musim dingin}
"Bae Jinyoung?" tanya Jihoon heran dan terkejut. Bagaimana Jihoon tidak terkejut, jam 2 malam ̶ dimana semua orang seharusnya sudah terlelap di alam mimpi̶ tiba-tiba saja ada yang menekan bel apartementnya dan dengan brutalnya mengetuk pintu apartemennya keras-keras. Jihoon terbangun dengan tergesa-gesa karena ia pikir ia sedang diteror. Namun apa yang didapatinya adalah Bae Jinyoung dengan muka dinginnya sedang berdiri di depan pintu apartementnya dan berkata,
"Biarkan aku menginap di rumahmu,"
Jihoon terkejut. Hei! Siapa yang tak akan terkejut jika tiba-tiba saja pacarmu dicuaca sedingin ini datang malam-malam hanya untuk menginap di apartement kecil mu. Jihoon pun mulai berpikir yang tidak-tidak. Terakhir kali Jinyoung datang malam-malam sekali dan minta menginap adalah disaat mereka merayakan anniversary ke-5 mereka, dan malam itu mereka habiskan dengan bermain hingga pagi. Mengingat hal itu muka Jihoon pasti akan memanas.
Jihoon mencoba mengingat, apakah hari ini anniversary mereka atau hari ulang tahun Jihoon atau hari-hari besar lainnya? Bukan! Hari ini tak ada yang spesial, tetapi kenapa Jinyoung ada disini dijam segini?
"Park Jihoon, biarkan aku masuk. Aku kedinginan," kata Jinyoung dingin. Jihoon pun otomatis bergeser kesamping mempersilahkan Jinyoung masuk.
"Kenapa kau disini?" tanya Jihoon bingung.
"Bolehkah aku menginap disini sampai aku pikir aku bisa kembali ke rumah?" tanya Jinyoung menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah Jihoon.
"Apa ada masalah dirumah?" tanya Jihoon sambil menutup pintu ̶ oh ya, jangan lupakan ia yang sempat bengong hingga lupa untuk menutup pintu.
"Tanpa ada masalah pun rumah itu sudah bermasalah," jawab Jinyoung sambil memejamkan matanya.
"Kau tak apa?" tanya Jihoon mulai membaur menuju Jinyoung. Ia memerhatikan wajah Jinyoung yang tampak kelelahan dibawah lampu yang remang-remang.
"Aku ingin tidur," gumam Jinyoung.
"Tidurlah di dalam bersamaku, aku akan menyiapkan bantal untukmu," kata Jihoon hendak bergegas masuk menuju kamarnya namun tangannya dicegat oleh sebuah tangan yang jelas saja milik Jinyoung.
"Benarkah?!" seru Jinyoung dengan mata yang sepenuhnya terbuka dan berbinar-binar. Bahkan dalam cahaya yang remang-remang pun Jihoon bisa dengan jelas melihat mata Jinyoung yang berbinar-binar bagaikan bintang. Jihoon mendengus,' kemana perginya lelaki bermuka dingin di depan pintu tadi?' Ia terkekeh melihat Jinyoung yang kini over-excited karena barusan ia ajak 'tidur bersama'.
"Iya," kekeh Jihoon. "Bahkan tanpa aku tanyakan pun kau pada akhirnya akan tidur di kamarku juga," kata Jihoon sambil meremas pelan tangan Jinyoung yang ada di lengannya.
"Oke baiklah," Jinyoung meloncat tegak dari sofa secara tiba-tiba dan langsung merangkul Jihoon mesra, "Tak usah repot-repot untuk menyiapkan bantal karena aku pikir malam ini kita tak akan tidur," senyum Jinyoung nakal.
Jihoon pun ikut tersenyum nakal yang membuat libido Jinyoung semakin naik.
"Tuan Bae Jinyoung," panggil Jihoon dengan suara dibuat semenggoda mungkin. "Hari ini sepertinya anda kurang beruntung," ujar Jihoon.
Jinyoung menatap Jihoon bingung. Jihoon pun mendekatkan bibirnya ke telinga Jinyoung dan berbisik mesra,
"Hari ini aku sedang 'dapat', maaf"
Sudah terhitung seminggu Jinyoung menginap di apartementnya Jihoon. Yah, walaupun mereka pada akhirnya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bermesra-mesraan berdua ̶ yang tentu saja Jihoon senang ̶ namun Jihoon tetap khawatir akan Jinyoung yang tak kunjung ingin pulang ke rumahnya.
Ia ingin bertanya, tapi mungkin ini belum waktu yang tepat untuk bertanya ada masalah apa di rumah, karena yah, Jihoon tau betul kalau Jinyoung dan keluarganya sudah bermasalah sejak dahulu, namun Jinyoung tak pernah sekali pun kabur dari rumah. Oke, mungkin dia pernah menginap beberapa hari di apartement Jihoon karena bertengkar dengan ayahnya, tapi tak sampai seminggu lamanya. Dan sekarang ia sangat cemas karena ia takut Jinyoung sudah tak dianggap anak lagi atau diusir dari rumah atau dihapus dari KK. Pikiran buruk itu seakan menghantui Jihoon, karena ia takut posisi pewaris takhta Jinyoung akan terancam. Dan ia tak ingin hal yang sudah Jinyoung impikan dan perjuangkan sejak dahulu jatuh ke tangan paman-pamannya yang bahkan lebih kejam daripada piranha.
Baiklah, mungkin kalian bisa bilang kalau Jihoon seorang wanita mata duitan yang hanya ingin berhubungan dengan orang kaya pewaris takhta seperti Jinyoung. Namun Jihoon memulai hubungan dengan Jinyoung tanpa tau dari keluarga mana Jinyoung berasal, dan ketika ia tau ia benar-benar terkejut, rasanya seperti mendapatkan jackpot sebongkah berlian di pinggir jalan! Hei, wanita mana yang tak senang ketika mengetahui pacarnya ̶ yang jujur saja tampak ingin sekali menikahinya ̶ adalah seorang pewaris takhta perusahan besar? Jihoon termasuk salah satu wanita tersebut.
"Bae Jin," panggil Jihoon manja.
"Eung,"
"Besok aku akan pergi ke Osaka, aku ditugaskan disana selama 3 hari,"
"Oh begitu? Baiklah, aku akan menginap di rumah Daniel hyung,"
"Kau tak ingin pulang ke rumah saja?" kata Jihoon sambil bergelayut manja di pundak Jinyoung, ia berusaha bersikap manja supaya suasana tidak terlalu serius.
Jinyoung mendengus. "Nanti saja, aku sedang malas." Jawab Jinyoung singkat.
Jihoon mengerucutkan bibirnya, "Ada apa?" tanya Jihoon.
"Eung?"
"Ada masalah apa di rumah? Kembalilah, aku benar-benar cemas sekarang," ujar Jihoon.
"Terima kasih telah mencemaskanku,"
"Bae Jinyoung, bukan begitu! Aku serius. Dari pada kau pendam masalah tersebut, lebih baik kau bicarakan bersama keluargamu, itu lebih baik, oke," ujar Jihoon.
Jinyoung tersenyum kepada Jihoon. "Entahlah aku tak mengerti dengan cara pikir kedua orangtuaku. Tapi masalah ini lebih sensitif daripada masalah-masalah yang pernah terjadi antara aku dan orangtuaku," ujar Jinyoung.
Baiklah, Jihoon menyerah untuk membujuk Jinyoung pulang ke rumah. Bae Jinyoung emang keras kepala, sih.
Jihoon pun tersenyum. "Jangan menginap di rumah Daniel, aku tau apa yang akan kalian lakukan disana," kata Jihoon mengubah topik. "Aku tau 'hal' itu sangat baik untuk kaum kalian, tapi bagiku itu sedikit nggg… menjijikkan. Masih banyak hal baik yang bisa kalian lakukan," tawa Jihoon.
"Hal yang kami lakukan? Apa?" tanya Jinyoung bingung.
"Menonton film dewasa," Jihoon tertawa lepas.
Jinyoung hanya tersenyum miring, dan menyeringai seram kearah Jihoon.
"Kau sudah selesai kan?"
"Selesai apa? Bekerja?"
"Haid," jawab Jinyoung sambil menatap manik mata Jihoon.
Jihoon terdiam.
"Diam artinya 'iya'. Baiklah, pemberhentian selanjutnya adalah kamar!" kata Jinyoung tiba-tiba saja menggendong tubuh Jihoon ala bridal style.
Jihoon terkejut kemudian merengek manja, "Ahh~~ Jinyoung-ah~~,"
"Aish, Bae Jinyoung please," geram Jihoon rendah. Ia memejamkan matanya dan mulai memaki-maki dengan nada sangat rendah.
"Disaat seperti ini kau dengan seenaknya saja mempermainkanku, Bae Jinyoung kejam!" umpat Jihoon.
"Apakah ini beneran musim dingin? Kenapa gerah sekali disini?" gumam Jihoon rendah.
Ia membuka coach-nya dan seperdetik kemudian ia memasangkannya kembali.
"Ini terlalu dingin," ujarnya.
Huh! Jihoon sekarang sedang sangat kesal. Ia sekarang ada di pusat oleh-oleh daerah Osaka ̶ yang ia sendiri tak tau apa nama tempatnya̶ di cuaca sedingin ini. Satu-satunya alasan ia ada disini adalah Bae Jinyoung. Ia ingin membelikan oleh-oleh titipan Jinyoung, namun sampai sekarang Jinyoung tak bisa dihubungi. Ia terus saja memaki-maki Jinyoung.
'kenapa ia tak bisa dihubungi ketika aku sangat membutuhkannya. Aku kan tak tau barang apa saja yang ingin dibeli,' ujar Jihoon dalam hati. Ia berulang kali mencoba untuk menelpon Jinyoung, namun hasilnya tetap saja nihil. Sudah hampir terhitung lebih dari 1000 kali Jihoon meng-sms Jinyoung, dan hasilnya tetap saja sama, nihil. Jinyoung seperti hilang ditelan bumi.
"Baiklah!" seru Jihoon menyerah. "Jangan salahkan aku jika aku tak bisa membawakan oleh-oleh titipan mu, padahal besok aku sudah harus pulang," monolog Jihoon sambil menatap ponselnya sadis.
"Aku takkan menelponmu lagi!" kata Jihoon keras-keras sambil meng-offkan ponselnya dan mencengkram ponselnya kuat-kuat.
Kemudian ia terdiam. Ia menatap sekitarnya. Dan yep! Jihoon lupa kalau sekarang ia sedang ada di pusat oleh-oleh ̶ yang tentu saja ramai orang ̶ dan sekarang orang-orang sedang menatap Jihoon aneh karena ia dari tadi ia memaki-maki dengan penuh emosi, untung saja mereka tak mengerti apa yang Jihoon bilang.
Jihoon tersenyum canggung dan kemudian membungkuk berulang kali sambil menggumamkan kata 'semimasen' . Dan kemudian ia berlari kecil menjauh dari pusat oleh-oleh tersebut.
Ia berjalan menyusuri trotoar sambil mengutak-atik ponselnya yang barusan ia hidupkan. Ia mencoba untuk mengecek keberadaan Jinyoung dengan mengakses seluruh media sosialnya, menelponnya berjuta-juta kali, hingga mengspam chat kepada Jinyoung. Dan tak lupa juga ia menelpon beberapa teman Jinyoung seperti Daniel, Sungwoo, Youngmin, juga Donghyun, dan jawaban mereka tetap saja tak berguna, yang membuat Jihoon sedikit menyesal menelpon mereka.
Dan sampai malampun Jinyoung tetap tak ada kabar.
Hingga pagi ketika Jihoon akan kembali ke Korea Jinyoung tetap tak ada kabar.
Jihoon bersumpah, ia akan memarahi Jinyoung habis-habisan ketika ia sudah kembali dari Jepang. Padahal 2 hari sebelumnya Jinyoung masih bisa dihubungi. Mereka vidcall, bercengkrama berbasa-basi sebentar, hingga pillow talk.
Namun kini Jinyoung menghilang.
Menghilang bagaikan ditelan bumi.
Jihoon kini sudah sampai di apartementnya. Ia menghempaskan badannya ke sofa di ruang tengah. Ia melihat sekeliling. Tak ada tanda-tanda keberadaan Jinyoung. Ia mendesah pelan. Ia tau dari Daniel bahwa Jinyoung tak menginap di rumahnya. Jinyoung pun tak menginap di rumah Sungwoo, Youngmin, ataupun Donghyun. Ia berpikir Jinyoung ada di rumahnya, namun prasangkanya salah, sepertinya Jinyoung sudah kembali ke rumahnya. Jihoon jadi agak sedikit lega.
Tapi masalahnya sekarang, kenapa Jinyoung belum menelponnya sama sekali. Apakah ponselnya rusak atau tidak dia sakit? Memikirkan hal itu membuat Jihoon tiba-tiba saja sakit kepala. Ia memutuskan pergi ke kamarnya untuk tidur.
Kini ia sudah terbaring dengan anggunnya bersiap menuju ke alam mimpi. Namun, sebelum ia jatuh terlalu dalam kepada mimpinya, ia teringat sesuatu; Kim Samuel.
Yap! Kim Samuel, sekretaris kepercayaan keluarga Bae. Meski muda tapi ia sudah menjadi tangan kanan dari Tuan Bae. Dan tentu saja ia dekat sekali dengan Jinyoung dan pasti tau bagaimana keadaan Jinyoung di rumah.
Ia meraih ponselnya dan kemudian mencari nama 'Kim Samuel' di daftar kontaknya.
Oh tidak! Ia lupa kalau ia tak memiliki kontak Samuel. Ia kini pasrah, toh nanti Jinyoung juga bakalan menghubungi dia, kok.
Ia kemudian lanjut berbaring untuk jatuh ke alam mimpi. Namun, tiba-tiba saja sebuah nama terselip di pikirannya. Oppa-nya, Park Woojin. Woojin dekat dengan Samuel dan pasti mempunyai kontaknya Samuel. Ia menelpon Woojin.
"Oppa,"
"Eung, Jihoon-ah," sambut suara diujung sana.
"Kirimkan kepadaku kontak Kim Samuel,"
"Untuk apa?"
"Tak ada, hanya ingin memastikan keadaan Jinyoung,"
"Apa kalian ada masalah?"
"Tidak, cuman Bae Jinyoung sekarang sedang susah dihubungi, aku cuma penasaran,"
"Oh begitu. Baiklah, akan ku kirimkan, nanti aku sms,"
"Terima kasih, Oppa,"
"Sama-sama,"
Kemudian Jihoon berbaring lagi sambil menunggu dengan tak sabaran sms dari Woojin.
Tak lama kemudian SMS itu pun masuk. Dengan cekatan Jihoon membuka SMS tersebut dan langsung menghubungi kontak Samuel.
"Halo, apakah ini dengan Kim Samuel?" tanya Jihoon membuka percakapan.
"Iya dengan saya sendiri. Ini siapa ya?" tanya Samuel dengan suara sehalus mungkin.
"Ini saya Park Jihoon, saya ingin bertanya tentang keadaan Bae Jinyoung,"
"Park Jihoon siapa?"
Jihoon terdiam sebentar. Ia lupa kalau Samuel belum mengenalinya.
"Ngg… aku ngg… pacarnya Jinyoung. Bisa dibilang seperti itu sih, tapi sekarang aku ingin tau kabar Jinyoung karena beberapa hari ini ia tak bisa dihubungi,"
"Kau pacarnya Jinyoung?" tanya Samuel dengan nada terkejut. Namun tiba-tiba saja ia menghela napas kasar. "Bisakah kita bertemu sebentar? Aku akan menunggumu di café di dekat kediaman keluarga Bae. Aku harap kau tau dimana letaknya kediaman keluarga Bae,"
"Aku tau," jawab Jihoon cepat. Tiba-tiba saja letihnya pergi seketika.
"Baiklah aku akan menuju kesana. Nanti kalau sudah sampai telepon aku,"
"Baiklah, terimakasih,"
"Sama-sama,"
Dan telepon pun terputus. Jihoon sangat penasaran apa yang telah terjadi karena tiba-tiba saja Samuel memintanya untuk bertemu. Heol! Mereka bahkan belum pernah bertemu, pasti ada sesuatu yang besar telah terjadi.
Ia bergegas merapikan rambutnya, pakainnya dan langsung berlari keluar dari apartementnya menuju trotoar.
Letihnya telah hilang, menguap entah kemana. Pikirannya hanya satu sekarang
'Ada apa dengan Jinyoung?'
Jihoon sudah ada di depan café di dekat kediaman keluarga Bae. Huh! Daripada ia harus bertemu di café ̶ yang bahkan letaknya pas di depan kediaman keluarga Bae̶ kenapa Samuel tidak langsung saja menyuruhnya untuk masuk ke rumah Jinyoung dan bertemu dengannya. Jihoon walaupun sudah berpacaran sangat lama dengan Jinyoung, namun ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya ke dalam rumah Jinyoung. Jinyoung bilang belum saatnya Jihoon masuk terlalu jauh kedalam keluarganya, padahal Jihoon ingin sekali mencoba untuk mengajak ibu ekhem, mertuanya jalan-jalan seperti didrama-drama, Jihoon pikir itu keren.
Namun sebelum ia berpikir jauh tentang 'berjalan-jalan bersama calon ibu mertuanya' sebuah suara telah menginterupsinya duluan.
"Park Jihoon? Tanya seorang pria kepada Jihoon. Lelaki itu bertubuh agak tinggi dengan muka blasteran.
"Samuel-sshi?" tanya Jihoon menerka.
"Iya, mari masuk," kata Samuel sambil mempersilahkan Jihoon masuk ke dalam café. Kemudian mereka duduk di meja dekat pintu.
"Jadi ada apa dengan Jinyoung hingga kau ingin bertemu denganku, Samuel-sshi?" tanya Jihoon membuka pembicaraan.
"Baiklah, aku akan langsung to the point saja. Kumohon kau mengerti," Samuel menghela napas. Kemudian membuka mulutnya untuk melanjutkan kata-katanya tadi. "Jangan temui Jinyoung lagi. Itu perintah Tuan besar Bae," ujar Samuel.
Jihoon terdiam mencerna maksud perkataan Samuel. Ia kemudian mengerti.
"Apakah Bae Jinyoung mengerjaiku? Dimana kameranya? Heol! Aku tak percaya Bae Jinyoung melakukan hal semacam ini," kata Jihoon percaya diri sambil tertawa geli.
Samuel mendengus, "Aku tau ini tiba-tiba, tapi aku akan menjelaskannya secara perlahan. Sekarang sudah waktunya untuk Bae Jinyoung menjadi CEO mengingat kesehatan tuan Bae kian menurun. Dan tentu saja tuan Bae yang tau kalau Jinyoung mempunyai pacar yang ngg… 'hanya orang biasa' memutuskan memberi perintah kepada Jinyoung agar ia memutuskan pacarnya untuk mengamankan posisinya. Aku harap kau mengerti," jelas Samuel.
Jihoon terdiam. Kini ia mulai benar-benar mengerti maksud Samuel.
Ia dan Jinyoung tak sebanding. Mereka berbeda. Bae Jinyoung sang pangeran dan Park Jihoon si rakyat jelata. Kini ia sadar, Cinderella benar-benar tak ada di dunia nyata.
"Bisakah aku bertemu dengan Jinyoung sebentar saja? Hanya berdua," tanya Jihoon sambil menatap kebawah. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa sekarang, kepalanya pusing dan badannya kini juga lemas bagaikan jelly. Ia seperti ingin muntah sekarang.
"Aku tak tau apakah kalian bisa bertemu atau tidak. Tapi hari ini, nggg…" Samuel membuka ponselnya dan mengecek sesuatu disana. "Jam 7 nanti ia ada waktu luang sebanyak 20 menit, aku akan usahakan kalian bisa bertemu,"
"Baiklah," jawab Jihoon pelan.
"Apakah kau bisa pulang sendiri?" tanya Samuel cemas melihat keadaan Jihoon yang sangat terguncang.
"Tak apa, aku akan menunggu disini," jawab Jihoon lemah.
"Menunggu disini? Apakah kau sanggup? Sekarang saja baru jam 5," kata Samuel cemas.
"Tak apa, jangan cemaskan aku. Pergilah sekarang, aku tau kau sibuk," jawab Jihoon sambil menggigit bibir bawahnya menahan suara isakan.
"Iya sih aku sibuk," ujar Samuel sambil menghembuskan nafasnya kasar, "Tak apa nih kalau aku tinggal?" tanya Samuel sambil bersiap-siap untuk pergi.
Jihoon mengangguk.
Samuel pun tersenyum tulus ke Jihoon. "Aku pergi dulu, bye!" kata Samuel sambil tersenyum ke Jihoon.
Jihoon hanya balas senyuman canggung.
Kemudian setelah Samuel pergi, ia mulai menangis dalam diam. Mengabaikan dunia yang sedang berjalan di depannya.
Jam 7. Jihoon masih disana, di tempat yang sama. Yang berbeda hanyalah air matanya yang kini telah mengering berganti dengan wajah dingin. Kini ia harus pasrah menerima apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba suara keras menyapa telinganya. Pintu café yang terbuka dengan keras menyatakan sang pembuka sedang dalam keadaan panik atau terburu-buru. Dan sang pembuka pintu tersebut adalah seorang lelaki dengan celana jins, baju kaos, sepatu sneakers, dan jaket jins dengan muka panik berlari menuju kearah Jihoon. Oh, rupanya dia adalah Bae Jinyoung.
"Jihoon-ah," panggil Jinyoung dengan nafas tersengal-sengal.
"Oh Jinyoung-ah," sambut Jihoon sambil memasang senyum semanis mungkin.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Jinyoung cemas.
"Tidak juga, kau ingin minum?" tanya Jihoon santai.
"Park Jihoon ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu," kata Jinyoung serius.
"Aku sudah tau," sahut Jihoon. "Turuti perkataan orangtuamu. Aku tak ingin apa yang telah kau impikan sejak dahulu lenyap hilang hanya karena aku. Turuti saja mereka," kata Jihoon sambil tersenyum simpul.
Jinyoung terperanjat. Ia tak mengharapkan jawaban seperti itu dari Jihoon.
"Jihoon-ah, tapi.."
"Bae Jinyoung," potong Jihoon. "Kau percaya aku kan? Aku sangat mempercayaimu. Walaupun kita berakhir seperti ini aku merasa tak keberatan, karena pada akhirnya mimpimu adalah mimpiku juga," lanjut Jihoon dengan ekspresi tenang.
Jinyoung terdiam."Maafkan aku Jihoon-ah," katanya.
"Tak usah minta maaf, aku mengerti," kata Jihoon sambil mengenggam tangan Jinyoung. "Maafkan aku karena tak membawakan oleh-oleh titipanmu, aku tak tau namanya apa," ujar Jihoon sambil tertawa pelan.
Jinyoung ikut tersenyum. "Kau disini sudah lebih dari cukup,"
"Ish, jangan menggombal!" kekeh Jihoon.
Jinyoung mengenggam tangan Jihoon lebih erat daripada genggaman Jihoon terhadapnya. "Aku akan kembali, Jihoon-ah. Tunggulah,"
Jihoon meremas tangan Jinyoung pelan. "Akan ku tunggu,"
Februari 2017,
Jihoon kini sedang menyeruput kopi hangatnya di balkon kamarnya. Setelah rentetan drama di acara pernikahan Minhyun tadi, ia memutuskan untuk pulang ke apartement dan menenangkan diri.
Ia tersenyum menatap kearah pemandangan kota Seoul. Tiba-tiba saja kenangannya bersama Jinyoung lewat begitu saja tanpa permisi membuat ia hanya bisa tersenyum miring sambil bergumam,
"Kau kapan kembalinya, Jinyoung-ah,"
hai hai hai, finally aku ngupdate juga hahahahahahaha
ini nulisnya dalam keadaan mepet banget, dan ini baru selesai jam 2 pagi ini, jadi maaf kalau ceritanya agak kurang bagus, ceritanya di buat diwaktu yg tak tepat untuk fokus menulis, sih.
disini aku paparin masa lalunya winkdeep. si sammy muncul. tapi character yg lain belum aku munculin (seperti guanlin, genknya jihoon) next chapt aku muncullin kok, hahahahaha.
btw aku tau sih alur ceritanya mudah ketebak banget, tapi seriusan aku suka aja ngebuat cerita cowoknya tuh ceo anak orang kaya ceweknya orang biasa, kek di the heirs(yg jujur saja nih cerita inspirasi dari sana, chapt 1 nya inspirasi cerita rl sih tbh). walaupun alurnya mudah ketebak, tapi aku ngarap banget nih cerita bisa ngefeel pas sama pembaca. yah karena bagi aku yang buat suatu cerita/kisah itu menarik bukan saja alurnya tapi cara pembawaannya juga. jadi aku ngarap2 pasrah cara pembawaan aku, tata bahasa aku cocok ke pembaca, hiks.
oh ya semalam aku ultah pas-mnet-post-individu-picts-wannaone. AKU MENANGIS. jinyoung bangsat kok ganteng anju abang. guanlin imam masa depan saia juga anju sekali. semuanya bikin saia lupa daratan. lupa kalau sekarang tuh masih lebaran, kagak boleh ngomong yg tidak2.
trus pengen banget beli inisfree. tapi males anjir, lebih baik ngumpulin duit buat beli upcoming debut albumnya abang2 dakuh. sekalian kalau bisa collect pc juga hahahahahahaha
kemudian abang seonho bakalan ikutan variety yah kalau ga salah, barusan lihat di twt tadi. DAKUH SENANG! KESAYANGAN DAKUH NONGOL DI TIPI LAGI! TERHURA ASTAGHFIR.
ohya, SEONHO RAMBUT BARU! GANTENG? TENTU SAJA! SEPERTI UDAH SIAP DEBUT SI ABANG... udah ah anju seonho debutnya nanti, au ah nanti baper.
trus haknyeon tambah tamvan saja yah:"3. pas pd masih main aku pada heran kenapa org bilang haknyeon tuh tampan blah blah blah padahal menurut aku dia biasa saja. tapi setelah pd habis aku akhirnya sadar dari lamunanku selama ini, kalau haknyeon tuh nauzubillah tamvannya. bang seonho kadang jadi ilang timbul gitu dihati aku gegara haknyeon hahahahaha, eh donghyun sama big woojin sering ngehancurin bias list aku juga kok:"3
ohya semalam haknyeon vlive-an sama dakuh. dia ngegendong dakuh yg lagi tidur-tiduran di pelukannya. btw dakuh waktu itu pake baju pink (yg nonton vlivenya haknyeon bakalan ngerti kok)
trus, disini aku jadiin si Woojin jadi abangnya Jihoon. au ah yg penting jadi ceritanya.:v
last but not least, review juseyo~~
