Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama, Family, Humor
Pairing : SasuFemNaru slight other
Rate : M
Warning : Gender Switch, AU, Mengandung unsur GL dan BL,OOC, OC, Tipo's, alur kecepatan, cerita pasaran, EYD ancur, alur mudah ditebak, bikin bad mood, dan segala kekurangan lainnya.
.
Red Chain
Chapter 2 : To Be a Friend?
Story By : Uchy Nayuki
.
.
DON'T LIKE
DON'T READ
.
Deidara menatap dalam pantulan dirinya di cermin. Sebelum kemudian dia melepas ikatan rambutnya kasar. Memandangi pita rambutnya sesaat, lalu meletakkannya diatas meja rias.
"Mana yang harus ku pilih?" dia bergumam pada dirinya sendiri seraya menatap deretan pita rambut yang berjejer rapi di atas meja rias. Memilih-milih sesaat, sebelum pilihannya jatuh kembali pada pita rambut kuning yang di letakkannya tadi.
"Aku suka kuning. Tapi, ini warna yang sama seperti yang kupakai tadi" dia bergumam lagi, kali ini dengan sedikit frustasi. Dan kembali meletakkan pita rambut itu di tempatnya, kasar.
Wanita cantik berumur 27 tahun ini kembali memerhatikan pantulan dirinya di cermin. Lalu mengangkat sedikit poni rambutnya sehingga memperlihatkan manik dengan iris biru pucat miliknya. Dia terdiam dengan posisi seperti itu hingga beberapa detik kedepan, kemudian kembali bergumam.
"Apa aku gerai rambutku saja, ya?"
Setelahnya dia menggeleng kuat. Lalu melotot pada pantulan dirinya. "Rambut tergerai? Yang benar saja! Itu bukan gayamu, Deidara!" dia berujar keras. Kemudian menatap kembali deretan pita rambutnya. "Hm, merah atau biru?"
Dia mencubit kecil dagunya, berpikir. Lalu menggeleng pelan. "Tidak, itu warna kesukaan Kaa-san dan Naruto" gumamnya lagi. Sebelum tatapan matanya jatuh pada pita rambut berwarna hitam.
Dia mengambil pita rambut itu, memerhatikannya sesaat. "Hitam? Tidak sering kupakai. Tapi tak apa" dia mengangguk kecil. Lalu mengikat rambutnya dengan pita tersebut.
Selesai dengan itu, dia kembali memperhatikan pantulan dirinya. "Sepertinya ada yang kurang" dahinya berkerut kecil. Sebelum matanya beralih menatap peralatan Make-Upnya. Tangan putih itu bergerak menggapai lipgloss.
"Hm, aku dandan atau tidak?" dia terdiam sesaat. Lalu seperti baru menyadari sesuatu, matanya melotot secara dramatis. Dan dengan tergesa, dia meletakkan kembali lipgloss itu di tempatnya.
"Berdandan? Untuk apa? Kau pikir ingin pergi arisan?!" dia berteriak histeris. Kemudian melipat tangannya di depan dada, mata masih menatap tajam pantulan dirinya. "Kau hanya ingin berkunjung ke flat sebelah. Jaraknya bahkan tak lebih dari sepuluh kaki? Apa yang kau pikirkan Deidara?"
Dan secara tiba-tiba, bayangan sosok tetangga barunya melintas di kepalanya begitu saja. Otomatis, wajah dengan kulit putih bersih itu memerah padam sampai telinga. Dia menangkup pipinya sendiri, cepat. Lalu menatap tak percaya pantulan dirinya.
"A-apa itu tadi?" gumamnya tergagap. "Kenapa… kenapa aku sampai membayangkan wajahnya yang keriputan itu?" dia memerhatikan pantulan wajahnya yang memerah di cermin. Lalu menggeleng kuat.
"Tidak! Aku tidak mungkin…"
Matanya melotot semakin parah.
"Tidak mungkin!"
.
.
.
Naruto dengan napas memburu melangkah cepat mendekati tempat duduk Sasuke. Lantas dengan wajah kesal dia mendengus, kemudian menatap pemuda itu tajam.
"Naruto? Sedang apa kau disini?"
Naruto mengulum senyum menawan pada gadis yang duduk di samping Sasuke, menghiraukan nada suara sang gadis yang seperti tak menyukai kedatangannya. "Tidak ada Ino-chan. Aku hanya punya sedikit urusan dengan laki-laki ini" jawabnya.
"Urusan? Kau kenal Uchiha-kun?" tanya Ino kemudian, matanya menatap bergantian Naruto dan Sasuke.
Naruto gelagapan. Dia mengggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Umm, itu…"
"Ada urusan apa kau denganku?"
Naruto menoleh keasal suara. Seketika matanya menyipit, menatap tak suka. "Kau!" tunjuknya kearah Sasuke. "Ikut aku!" perintahnya kemudian seraya menuntun pemuda itu untuk mengikutinya.
Sasuke hanya mengangkat bahu tak acuh. Berdiri dari duduknya dan mulai mengikuti si blonde. Tapi siapa sangka, dalam batinnya dia menyeringai lebar akan hal ini. Ah, ternyata tak butuh usaha lebih untuk mendekati Naruto.
Tak lama, mereka sampai di taman sepi yang tak jauh dari kantin. Naruto yang masih dilanda kesal langsung berbalik dan memberikan deathglear percuma pada Sasuke. Dia melipat tangannya di depan dada, memberikan gesture angkuh.
"Kau sebaiknya jauh-jauh dari Ino-chan. Dia adalah wanita incaranku!" tanpa basa-basi gadis itu langsung memulai percakapan. "Tapi akan jauh lebih baik jika kau menjauhi semua wanita di Kampus ini. Melihat mereka dekat denganmu membuat mataku iritasi" umbarnya jujur, nada suaranya terdengar mengintimidasi.
Sasuke diam. Dia hanya mendengar seraya memperhatikan si blonde di depannya kini. Hm, suaranya terlalu cempreng untuk ukuran seorang laki-laki. Itu pikirannya dalam hati.
Pikiran Sasuke benar-benar melenceng jauh dari percakapan.
"Hei, kau dengar tidak?!" Naruto geram sendiri. Laki-laki dihadapannya terlihat sangat menyebalkan dengan tampang datar itu. Membuat kuku jarinya memanas. "Sebaiknya kau lakukan apa yang aku katakan. Jauhi Ino Yamanaka!" tandasnya mutlak, sebelum kemudian dia memutar balik tubuhnya, berniat melangkah pergi dari sana.
Namun segera terhenti saat Sasuke dengan gerakan cepat menahan pergelangan tangannya.
"Aku tidak terbiasa melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan diriku sendiri" akhirnya Sasuke buka suara, matanya terlihat menyorot tatapan serius. "Jika aku melakukan apa yang kau inginkan. Apa yang akan aku dapatkan?" tanyanya kemudian, masih mempertahankan tampang datarnya.
Naruto berbalik. Dia menepis kasar genggaman Sasuke. "Apa maumu?" matanya menyipit, menatap Sasuke tajam.
Sasuke menyeringai kecil. Tak lama, dia mulai terkekeh pelan tanpa sebab. "Menurutmu kau bisa memberikan apa yang aku inginkan?" ada nada jenaka yang terselip dalam kalimat itu, dan entah kenapa bulu kuduk Naruto meremang karenanya.
Dan dengan perlahan, Sasuke mendekat. Dia menghimpit Naruto diantara pohon dan dirinya. Tangannya terletak dikedua sisi kepala Naruto, memenjarakan gadis itu dalam kurungannya.
Sasuke mencondongkan kepala kedepan, membuat kedua wajah yang memiliki warna kulit berbeda itu berdekatan. Dekat, bahkan sangat dekat, sampai-sampai Naruto bisa merasakan napas hangat Sasuke menerpa kulit wajahnya yang saat ini memucat.
"A-apa yang kau lakukan? Menjauh dariku!" Naruto panik. Dia mencoba mendorong Sasuke dari hadapannya. Tapi sia-sia, tenaga pemuda itu lebih besar darinya.
Sasuke menangkap tangan Naruto. Menggenggam pergelangan tangan itu kuat, lalu meletakkannya di atas kepala sang gadis. "Bukankah aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan jika aku setuju untuk menjauhi gadis incaranmu itu?" tanya Sasuke kemudian, matanya menatap tajam manik safir Naruto.
"Aku tidak pernah menyetujuinya, Keparat!" Naruto meraung marah. Tubuhnya memberontak keras dengan kakinya yang menendang kesegala arah. "Menjauh dariku atau aku akan membunuhmu!" ancamnya penuh emosi.
"Tenanglah… Umm, siapa namamu? Ah ya, bagaimana bisa aku melupakannya? Naruto, bukan?" Sasuke mengulum seringaian tipis, sebelah tangannya bergerak mengelus pipi Naruto yang bergaris. "Kau mempunyai kulit wajah yang lembut, aku terkesan"
Napas Naruto memburu. Dia menatap tajam Sasuke tepat di mata. "Singkirkan tanganmu, Sialan!" ujarnya berdesis. Dia tidak pernah suka kulit wajahnya di sentuh seperti ini, terlebih oleh laki-laki brengsek di hadapannya.
Sasuke mengabaikan itu. Jemarinya bahkan semakin lancang mengelus bibir bawah Naruto. "Bibirmu merah. Kau tahu? Bagian ini adalah salah satu favorite-ku" nada suara itu dalam. Mata setajam elangnya menatap bibir Naruto penuh nafsu.
"Singkirkan. Tanganmu!"
Tangan Sasuke bergerak ke pundak. Mencengkram bahu kecil itu pelan, sebelum kembali turun dan berhenti tepat di dada. Dia meraba dada yang di sangkanya itu datar, kemudian meremasnya pelan. Namun entah kenapa mendadak jari jemarinya kaku, dan gerakannya berhenti seketika.
Mata yang semula penuh kabut itu membola sempurna. Dia menatap telapak tangannya tak percaya, setelah itu menoleh pada si pirang. Dia meneguk ludahnya yang terasa seperti bongkahan batu.
"K-ka-kau…"
Lidahnya kelu, dia tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Dia menatap telapak tangannya kembali, masih dengan tampang shok.
Sementara Naruto yang melihatnya mengerutkan dahi bingung. Dia bahkan berhenti berontak dan berdiri temangu di tempat. Seakan melupakan kejadian yang berlangsung beberapa detik lalu, dia memperhatikan si reven dengan mata yang sesekali berkedip lucu.
"Kau kenapa?" pertanyaan itu melucur dengan polosnya.
Dan Sasuke mengabaikan itu, masih hanyut dengan pemikirannya sendiri. Berbagai presepsi muncul untuk mencoba menyangkal hal yang baru saja terjadi. Tapi semua itu tak bisa mengalahkan opini terbesarnya.
Mata obsidian hitam itu bergulir perlahan menatap dada manusia di hadapannya. Dan dengan perlahan pula, dia melirik bagian bawah manusia tersebut.
Oh My, tidak ada tonjolan.
"KAU WANITA!" sembur Sasuke keras. Dia melangkah mundur dengan tergesa. Wajahnya memasang tampang horor, sementara matanya masih melotot lebar seakan menambah kesan dramatis.
Di lain pihak, Naruto mengerutkan dahinya, memasang tampang bingung. "Kau ini sebenarnya kenapa? Dan ya, tentu saja aku wanita. Kau pikir apa?" lagi, pertanyaan polos keluar dari mulutnya.
Sasuke berdiri temangu, matanya menatap kosong gadis di hadapannya. "Ini tak pernah terjadi sebelumnya" gumaman pelan di tunjukkan kepada diri sendiri. "Aku selalu bisa membedakannya. Tak pernah keliru sebelumnya"
"Kau ini sebenarnya kenapa?!" pertanyaan yang sama kembali meluncur dari bibir mungil Naruto, kali ini naik satu oktav. Entah kenapa Sasuke yang seperti ini terlihat lebih menyeramkan, lebih suram, lebih mengerikan.
Sasuke menggeleng pelan. "Tidak, tidak ada apa-apa" tukasnya kemudian. Dia mundur beberapa langkah untuk bersandar pada batang pohon. Sekarang wajahnya kembali normal, datar dan dingin. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya.
Naruto menelengkan kepalanya ke satu sisi. "Oh, begitu" dia mengangguk pelan, tidak lagi memusingkan apa yang baru saja terjadi kepada sang Uchiha. Naruto terdiam seperti itu untuk beberapa lama, sebelum sebuah memori laknat berputar di kepalanya kemudian.
"BAGAIMANA BISA AKU MELUPAKANNYA?!" teriakan membahana membuat Sasuke terpaksa menutup telinga. "KAU! APA YANG TADI KAU LAKUKAN? APA MAKSUDNYA ITU? JELASKAN PADAKU!" Naruto memasang tampang mengerikan. Dia menunjuk Sasuke dengan beringas, urat nadi terlihat menjalar ke pelipisnya.
Sasuke menghela napas pelan, lantas menatap gadis di hadapannya datar. "Yang tadi itu, kau lupakan saja" ujarnya seraya mengalihkan pandangan.
"MELUPAKANNYA KATAMU?!" Naruto naik pitam. Dia mendekat pada Sasuke dan menarik mantel bagian depan yang dikenakan pemuda itu. "Kau melakukan tindakan tidak senonoh seperti itu padaku dan kau ingin aku melupakannya? Apa kau gila?!" dia berdesis. Matanya berkilat penuh permusuhan.
Sasuke menghela napas berat. Dia menatap Naruto tanpa rasa takut. "Ya, dan aku akan melanjutkan itu seandainya kau laki-laki" katanya dengan tenang. "Dan soal wanita incaranmu itu, tenang saja. Aku sama sekali tidak tertarik padanya" tambahnya lagi seraya melepas cengkraman Naruto.
Naruto diam, otaknya masih memproses penjelasan yang baru saja Sasuke utarakan. "Apa maksudmu dengan mengatakan kau akan melanjutkan itu jika aku laki-laki?" Naruto mundur selangkah, dia menatap Sasuke penuh tanya. "Tunggu dulu!" dan sekarang mulutnya terbuka, merasa tidak percaya dengan pemikiran yang melintasi kepalanya. "Kau… Kau gay?!" dia berteriak keras, telunjuknya mengarah tepat ke hidung Sasuke.
"Ya" Sasuke menjawab pertanyaan itu tanpa beban. "Aku gay. Aku laki-laki yang menyukai laki-laki" tambahnya memperjelas. Tak lama kemudian, dia mencondongkan kepalanya, menatap intens Naruto yang masih terdiam. "Dan kau… lesbi?" dia mengangkat sebelah alisnya tertarik.
Naruto tersadar dari lamunannya. Dia dengan cepat menatap balik Sasuke. "Aku masih tidak percaya kalau kau…" matanya berkedip. Dia kembali terdiam, masih dengan menatap Sasuke dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"OH TUHAN, AKU MENYAYANGIMU!" tiba-tiba gadis pirang itu berteriak. Dia menengadah dengan telapak tangan yang terkatup, matanya terlihat berbinar bahagia. "Setelah ini aku akan ke kuil. Aku akan sujud sepuluh kali, seratus kali kalau perlu. Terima kasih Tuhan! Terima kasih!" dia mengatakan itu dengan penuh suka cita.
Kemudian, dia beralih menatap Sasuke yang balik menatapnya sinis, merasa gadis di depannya adalah gadis teraneh yang pernah di temuinya. "Kau! Ah, soal yang tadi tidak apa, aku akan melupakannya. Memang tidak sedikit orang yang mengira jika aku ini laki-laki" Naruto memasang senyum manis. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Aku tidak akan berteriak padamu jika tahu kau seorang gay" dia menggenggam tangan Sasuke, matanya menatap pemuda itu penuh pengertian.
"Hn" Sasuke hanya bergumam. Dia melepas genggaman Naruto kasar, merasa terganggu.
"Aish, kau ini" Naruto menggeleng pelan. Tidak mempermasalahkan tindakan Sasuke yang tidak bersahabat. "Ah, kita belum berkenalan" dan dengan songongnya dia kembali menggapai tangan Sasuke. "Namaku Naruto, Naruto Namikaze. Kau bisa memanggilku Naruto karena sekarang kita adalah teman" bibirnya membentuk senyuman lebar.
"Teman?" Sasuke membeo, dia mengangkat sebelah alisnya skeptis. Dan tak lama dengusan keluar dari hidungnya. "Belum semenit yang lalu kau berteriak padaku, dan sekarang kau mengatakan jika kita adalah teman? Kusarankan sebaiknya kau periksa kepalamu pada ahli medis" katanya sinis penuh sindiran.
Naruto memasang tampang kesal, namun senyuman kembali tercetak pada wajahnya tak beberapa lama kemudian. "Ah, sudahlah. Lupakan saja yang lalu-lalu" katanya riang. Dia mulai berbalik, melangkah menjauh dari sana seraya menyeret Sasuke bersamanya. "Saat sampai di kantin nanti, bergabunglah bersama denganku dan teman-temanku. Bagaimana?"
Sasuke mengerutkan dahi, agak sedikit terganggu dengan jemari Naruto yang menggenggam erat pergelangan tangannya. "Tidak, aku lebih suka sendiri" ujarnya datar.
"Mana boleh seperti itu?" Naruto menoleh padanya dengan bibir mengerucut. "Sekarang kita adalah teman. Dan itu artinya, teman-temanku adalah temanmu juga" ujarnya panjang lebar. Namun saat mendapati Sasuke yang hanya menatapnya datar tanpa memberikan tanggapan, dia memutar isi kepalanya keras, mencari cara agar Sasuke mau menerima ajakannya. "Ah, aku tahu! Kau bergabunglah bersama kami dan kita akan membicarakan calon Uke yang cocok untukmu. Aku kenal cukup banyak laki-laki manis di Kampus ini, asal kau tahu saja" dia akhir perkataannya, gadis itu mengukis seringaian lebar.
Sasuke menarik sebelah alisnya tertarik. "Begitukah?" dan Naruto mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaan itu. Sasuke terdiam, sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, kurasa tidak ada ruginya"
Naruto memasang senyum lebar, senang dengan keputusan Sasuke. Namun saat masih dalam perjalanan, mendadak langkahnya terhenti. Si pirang menoleh kebelakang dengan dahi berkerut, bertanya-tanya kenapa Sasuke menghentikan langkah mereka.
Alis sang Uchiha menukik, matanya menatap Naruto penuh curiga. "Katakan kenapa kau bersikap baik padaku seperti ini? Apa ada hal yang kau sembunyikan?"
Naruto terdiam lama, sebelum seringaian dengan perlahan terukir indah pada wajahnya. "Oh, kau sadar terlalu cepat rupanya" dia terkekeh pelan, membuat Sasuke semakin meningkatkan kadar kewaspadaannya. "Um, itu, sebenarnya aku hanya berpikir, jika aku bisa membantumu untuk mendapatkan pacar lebih cepat, bukankah para wanita tidak akan punya kesempatan mendekatimu?" matanya mengerling jenaka, penuh dengan tipu muslihat.
Oh, Sasuke, sepertinya teman pertamamu ini akan sangat merepotkan.
.
.
.
Deidara terduduk diam seraya memperhatikan sekelilingnya. Ruang tamu Itachi sudah tertata rapi, padahal Deidara ingat kalau pria itu baru saja pindah kesini beberapa jam yang lalu. Ah, sepertinya Itachi sama sekali tidak beristirahat dan malah memilih untuk menata flatnya lebih dulu. Jika mereka bertukar tempat, mungkin sekarang Deidara sudah tepar karena kelelahan.
"Maaf tidak bisa menjamumu dengan layak. Aku belum sempat berbelanja"
Deidara segera mengalihkan pandangannya pada Itachi yang baru saja kembali dari dapur. Dalam genggaman pria itu terlihat dua kotak jus tomat, minuman untuk mereka berdua. Melihat Itachi yang malah terepotkan dengan kunjungannya membuat Deidara merasa tak enak.
"Ah, tidak perlu repot untuk menjamu" Deidara mengibaskan tangannya di depan wajah, bibirnya mengukir senyum kikuk. "Aku jadi merasa tak enak kalau begini"
Itachi tersenyum tipis, lantas segera mendudukkan dirinya pada sofa yang berhadapan dengan Deidara. "Hanya ini yang kupunya" ujarnya singkat seraya meletakkan kotak jus tomat tersebut di atas meja. "Kau suka tomat?"
Deidara membalas dengan senyuman kecil. "Tidak masalah, ini pun sudah cukup" katanya seraya menggapai minuman tersebut dan menggenggamnya dalam pangkuan. "Um, apa ada orang lain yang akan tinggal bersamamu di sini?" tanyanya seraya menatap tumpukan kardus di pojokan ruangan yang masih belum di benahi.
"Ya, seperti itulah" Itachi mengangkat sebelah bahunya ringan. "Aku tidak akan mau repot membenahi barang-barang milik Sasuke" katanya seraya menyeruput minumannya pelan.
Deidara menelengkan kepalanya ke satu sisi. "Siapa Sasuke?" tanyanya bingung.
"My little Otouto" jawab Itachi cepat. Pada bibirnya terlukis seulas senyuman kecil. "Dia sedang tidak di sini karena lebih memilih untuk masuk ke kampus barunya" tambahnya menjelaskan.
"Oh, begitu" Deidara mengangguk paham seraya menyeruput pelan jus tomat dalam genggamannya. Namun saat sebuah pemikiran melintas dalam kepala kuning wanita itu, dia terdiam dengan kilatan mata yang terlihat antusias. "Apa adikmu laki-laki?"
Itachi mengangkat sebelah alisnya bingung. Dengan ragu-ragu dia pun menjawab. "… ya"
"Dia sudah kuliah, bukan?"
"Begitulah"
"Dimana?"
"… Konoha University"
"Semester berapa?"
"Tunggu dulu!" Itachi mengangkat kedua tangannya ke udara. Matanya menatap Deidara tajam. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau terlihat antusias dengan adikku?"
Deidara terdiam lama. Ah, sepertinya pria di hadapannya ini mengidap penyakit brother complex. "Maaf, bukan maksudku seperti itu" Deidara mengibaskan telapak tangannya di depan wajah, entah kenapa mendadak ruangan ini terasa panas. Dia pun berdehem pelan, menetralisir detak jantungnya yang berdebum. "Aku hanya berpikir, mungkin adikmu itu akan cocok dengan… adikku" suaranya mencicit saat mengucapkan kata terakhir.
"Huh?" Itachi mengangkat sebelah alisnya skeptis. "Perempuan?" ada nada sinis yang terselip dalam pertanyaan itu.
Deidara mengerutkan dahi bingung. "Maksudmu gender adikku? Ya, dia memang perempuan"
Itachi terdiam. Dia menatap Deidara lama sebelum kemudian menggeleng lemah. "Maaf saja jika aku menghancurkan harapanmu" katanya dengan nada putus asa. Dia menghela napas lelah yang panjang, lalu kembali menatap Deidara.
"Tapi sayang sekali, adikku itu… gay"
W-what?!
.
.
.
"Naruto, apa hari ini kau sakit?"
"Tidak"
"Atau mungkin, kepalamu terbentur?"
"Sama sekali tidak"
"Opiniku, dia terserang penyakit amnesia mendadak!"
"Tidak ada yang seperti itu, Kiba"
"Lalu…"
"Hm?"
"KENAPA BISA KAU MENYERET MANUSIA KUTUB INI KE SINI?!"
Seisi kantin mendadak heboh. Seluruh mata hanya tertuju pada satu meja yang diisi oleh empat pemuda dengan sesosok manusia pirang yang diragukan gender aslinya. Tiga dari mereka berdiri dari duduknya seraya menunjuk sesosok pemuda reven yang terdiam membisu, seakan tak peduli. Sedangkan gadis pirang yang mendapat pertanyaan bernada tinggi tersebut hanya bisa melebarkan cengirannya mencapai batas maksimal.
"Umm, itu… aku bisa jelaskan" Naruto menatap ketiga temannya dengan tatapan memohon.
Gaara yang berada tepat di samping gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengontrol dirinya, lalu memilih duduk di tempatnya semula. "Kalau begitu jelaskan!" perintahnya mutlak.
Naruto berdehem sekali, kemudian menatap Sasuke. Dan saat dia tidak mendapatkan respon berarti dari manusia es itu, dia mengambil kesimpulan jika Sasuke memberikan izin padanya untuk membongkar rahasia sang Uchiha. "Jadi sebenarnya-…" Naruto menatap Gaara dalam-dalam. "-aku telah memutuskan untuk menjadikan Sasuke sebagai teman"
"Kenapa?" sosok Kiba bertanya cepat. Banyak hal diantara Naruto dan Sasuke yang membuat kepalanya serasa meledak. Bukankah Naruto membenci Sasuke? Lalu kenapa sekarang dia memutuskan untuk menjadikan pemuda itu temannya? Pertanyaan seputar hal-hal tersebut memenuhi kepalanya yang memang memiliki volume tidak seberapa.
Naruto menoleh pada Kiba. "Itu karena aku harus membantu Sasuke!" ujarnya mantap dengan anggukan kuat.
"Huh?" ketiga sahabatnya mengangkat sebelah alis tidak mengerti.
Gadis itu sekarang mengalihkan pandangan kepada sosok Sasuke yang duduk di samping kanannya. "Sasuke itu-…" perlahan seringaian Naruto mengembang lebar seakan-akan merobek mulutnya sendiri.
"…-Gay!"
Dan Kiba, Shikamaru, beserta Gaara, tidak tahu hal apa lagi yang bisa membuat mereka lebih terkejut dari ini.
.
.
.
"O-oh"
Deidara termenung dengan wajah pucat. Matanya menyorot tatapan kosong, bahkan Deidara sendiri hanya bisa melihat banyangan buram dari sana. Sementara Itachi yang mendapati reaksi Deidara yang berlebihan, memilih diam karena dia sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa.
"Aku, ugh…" wanita itu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Itachi. Mata sewarna safir pucatnya terlihat berkaca-kaca. "Kau pasti sangat menderita" ujarnya diselingi isakan kecil.
"H-hah?" Itachi mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.
Isakan kecil kembali keluar dari belahan bibir Deidara. "Aku sangat mengerti bagaimana tersiksanya berada dalam posisimu, Itachi" dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celana jeans-nya, kemudian mengelap ingusnya secara dramatis. "Ugh, aku tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang bernasib sama denganku" ujarnya lagi penuh penghayatan.
Itachi yang dilanda kebingungan memilih buka suara. "Sebenarnya maksudmu apa, Deidara? Maaf sebelumnya, tapi aku sungguh tidak mengerti"
Deidara mengangkat wajahnya yang memerah. "Sekarang kau tidak perlu khawatir, Itachi. Karena mulai hari ini, aku akan dengan setia mendengarkan semua keluh kesahmu" ujarnya seraya menatap Itachi penuh pengertian.
Bulu kuduk Itachi meremang seketika!
"Maaf, Deidara. Kurasa itu tidak perlu" Itachi berdehem sekali untuk memperbaiki nada suaranya yang bergetar. "Tapi, jika boleh ku tahu, apa maksud perkataanmu tadi?" matanya menatap Deidara dengan dahi berlipat.
Sosok yang ditanya terdiam untuk waktu lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dia menatap Itachi dengan mata berkaca-kaca, seakan hendak menangis kembali. "Ini tentang penderitaanku" ujarnya dengan ujung bibir menukik kebawah. "Aku benar-benar tersiksa, Itachi"
Itachi diam, menunggu Deidara menyelesaikan penjelasannya.
"Semua ini karena Adikku" matanya berkilat putus asa. "Dia-…"
"…"
"…-Lesbi"
Itachi sadar jika matanya hanya pernah melebar seperti ini sekali saat mendengar pengakuan Sasuke sebagai Gay, dulu.
.
.
.
Shikamaru hanya tahu jika mulutnya bisa terbuka lebar untuk menguap. Maka dari itu, dia tidak pernah tahu jika mulutnya bisa menganga selebar ini hanya karena terkejut. Oh, Tuhan sudah menunjukkan kepadanya kegunaan lain dari mulut selain menguap dan mengucapkan 'Mendokusai'.
Sementara di lain sisi, Gaara ingat jika dirinya adalah pemuda dengan ekspresi minim untuk banyak hal. Dan karena itulah, dia merasa takut untuk bercermin saat ini dan melihat wajahnya dari sana. Gaara tidak bisa memastikan jika kakinya masih berdiri kokoh untuk menopang tubuhnya jika hal itu sampai terjadi.
Kiba?
Jangan tanyakan, pemuda itu sudah memekik heboh saking terkejutnya.
Naruto menatap bergantian para sahabatnya yang saat ini masih dilanda keterkejutan. Sebelum tatapannya beralih pada Sasuke yang memasang ekspresi datar seraya menyeruput jus tomatnya santai. Ah, Naruto bingung harus bereaksi seperti apa untuk semua ini.
Kembali lagi pada sosok Kiba, Shikamaru, dan Gaara. Mereka yang masih memasang ekspresi terkejut dengan perlahan menoleh kearah Sasuke, menatap pemuda itu dalam diam. Sampai akhirnya, Kiba, orang yang berisiknya setara dengan Naruto, berdiri kembali dari duduknya kemudian menunjuk pemuda itu dengan tangan gemetar diringi tatapan mata yang melotot ngeri.
"Kau-…"
Seisi kantin menatap Kiba dengan tatapan bertanya.
"AKU SUDAH PUNYA SHIKAMARU. JADI TOLONG JANGAN JADIKAN AKU TARGETMUU!"
Rahang Shikamaru turun menyentuh lantai.
.
.
.
"Jadi seperti itu"
Deidara mengangguk lemah untuk menanggapi pernyataan Itachi.
Pemuda itu terdiam untuk waktu lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Benar-benar sebuah kebetulan yang mengejutkan" komentarnya dengan senyuman tipis. "Kita para Kakak yang terepotkan karena mengurus Adik yang menyusahkan"
Deidara mengangguk kembali. "Kau benar! Aku sudah berusaha untuk menjadikannya normal kembali. Tapi rasanya itu mustahil" ujarnya dengan nada putus asa.
"Sasuke juga tidak mungkin kembali menyukai wanita. Ayah dan Ibuku bahkan sudah menyerah untuk hal itu"
Deidara menatap Itachi seraya mengulum senyum miris. "Kita punya nasib yang sejalan, sepertinya"
Mereka berdua tertawa kecil merespon perkataan Deidara.
Namun ketika mata mereka tidak sengaja bertemu tatap. Tawa mereka mereda dengan perlahan. Deidara menelengkan kepalanya ke satu sisi, memandang manik kelam Itachi dengan kilat yang tidak bisa diartikan.
"Perasaanku saja, atau kita memang mempunyai pemikiran yang sama?" wanita itu mencetak seringaian tipis pada bibirnya yang mungil.
Sementara Itachi hanya bisa melempar senyuman menawan untuk menanggapi pertanyaan wanita itu. "Kurasa tidak ada salahnya jika aku mencoba sekali lagi" ujarnya dengan nada suara menyenangkan.
.
TBC
.
A/N : Hai, semua! #lambai2. Semoga kalian baik saja, ne…
Nah, di bawah ini adalah beberapa pertanyaan yang akan saya jawab.
Fict ini mengandung unsur Yaoi? Yuri? Normal? : Yap, ketiga hal itu memang akan dicampur aduk jadi satu. Tapi karena saya kurang suka Yuri, unsur yang satu ini tidak akan terlalu mencolok.
Style rambut Naruto? : Jabrik, sama kayak diManga-nya.
Apa ada alasan SasuNaru pada belok? Kalau ada, alasannya apa? : Alasannya memang ada. But, itu rahasia…^^. Tunggu aja chap2 kedepannya, ya.
Menambahkan genre Humor? : Saya sempat kepikiran, tapi, takut ceritanya malah garing. Maklum, selera humor saya rendah T.T
Big Thanks to :
Kris hanhun | Nita suci devgan | Dwi341 | Double BobB(titik)I | Arina Marioka | Lady Spain | Jasmine DaisynoYuki | Rey kuro-chan | oka | Indah605 | IfUchiha | Kazuki Uchiha |hanazawa kay | Esya(titik)27(titik)BC | Hyull | rei diazee | choikim1310 | uknowken | minyak tanah | andika yoga | Kakuraishi deli-chan | Ahari | mao-tachi | saphire always for onyx | zadita uchiha | D'angel | Aiko Vallery | langit(titik)cerah(titik)184 | veira sadewa | Namikaze Eiji
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama…
#WeDoCareAboutSfN
Review?
