BIAS
Chapter 2
YoonMin; Min Yoongi x Park Jimin. Dom!Yoon, Sub!Min. Slight!VKook.
Warn; alur ngebut. bxb. Indonesia!AU
Kodokmeriang, 2017.
Mampus.
Ngebayanginnya aja, Jimin udah keringet dingin. Ngebayangin kalau dia bakal diolok-olok di kampus besok karena ketahuan menjadi seorang fanboy dari JTS. Sebenernya, itu bukan hal yang memalukan. Tapi, kan, suka gitu ... mahasiswa yang merangkap sebagai teman Jimin di kampus itu suka berlebihan. Mulutnya enggak bisa dijaga. Dan, kalau udah dapet olokan yang 'bagus', bakal awet sampe berbulan-bulan kedepan.
Doa aja yang banyak, ya, Chim.
.
.
.
"Jimin, bangun, Nak. Kamu ngampus, kan, hari ini?"
Jimin menggeliat sedikit saat tangan Bunda bergerak untuk mengelus rambutnya. Jimin sebenernya udah bangun dari tadi-bukan, dia enggak bisa tidur karena memikirkan hari esok yang mungkin akan menyeramkan. Maka dari itu, Jimin berusaha mencari alasan untuk enggak ngampus.
"Eum, gak tahu, nih, Bun. Kepala Chim sakit, kayaknya demam, deh." Jimin berkelit sambil memegangi kepalanya.
"Kamu ..." Bunda Jimin mendelik, "... enggak bohong sama Bunda lagi, kan?"
"Enggak, kok, Bun. Chim enggak boong!" kata Jimin, "Ini beneran!"
"Ya udah, kalau kamu beneran sakit, Bunda ambil jarum suntik dulu," celetuk Bunda sambil beranjak dari duduknya di ranjang Jimin. Ini jurus Bunda yang paling ampuh. Enggak percaya?
"EEEEH! JANGAN BUN! ENCHIM GAK SAKIT LAGI, KOK! SEHAT BADAN JIMIN, SETIAP HARI MAKAN BAYAM JADI KUAT!" Refleks, Jimin langsung loncat-secara literal-dari ranjangnya dan lari kelabakan ke kamar mandi. Bunda hanya senyum tipis, setipis tempe mendoan.
"Bunda tinggal kebawah, ya, Chim."
"Iya, Buuun," seru Jimin dari dalam kamar mandi.
Terkadang, Jimin bisa bodoh total. Udah tau bundanya mantan dokter, masih sering bohong kalau dirinya sakit.
Hmm, untung cakep, ya, kan.
.
.
.
Yah, dengan terpaksa, Jimin harus mendatangi sebuah gedung horor yang bernama kampus. Tempat setan-setan bernama dosen berkeliaran, tempat iblis-iblis alias mahasiswa-mahasiswi berkumpul. Bukan gitu juga, sih, perumpamaannya. Mulai hari ini, entah kenapa, kampus dan ngampus terasa sangat horor bagi Jimin.
Lebay dia mah.
Enggak ada angin, enggak ada hujan, telinga Jimin tiba-tiba panas seperti terbakar api neraka-yang membuat Jimin yakin kalau kampus benar-benar neraka-Jimin menangkap getaran-getaran ultrasonik (gak, bercanda) yang membuatnya gregetan, kesal, jengah, muak, dan para antek-anteknya.
"Eh, si Betina lagi disini neh,"
"Betina apa?"
"Ituu, Betina, temennya si jantan,"
"BAHAHAHAHA."
Kan, kan, gini, kan, batin Jimin, udah nyebar aja aib Enchim. Tunggu aja pembalasan Enchim! Dasar makhluk astral.
Sepanjang Jimin berjalan, omongan yang enggak bagus dan enggak enak terus-terusan disampaikan kepadanya. Hih. Mau ngelawan, tapi kata bunda, musti sabar. Sabar, sabar, orang sabar kuburannya pake AC.
"ENCHIIIIIM!"
"JIMIN, YA AMPUN, LO FANBOY JTS?!"
"BIAS KAMU SIAPA, CHIM?!"
Jimin kaget. Kenapa mereka tiba-tiba-oh. Rupanya, fangirl-fangirl ini juga found out kalo Jimin itu fanboy dari Jantan Sonyeondan. "E-eheh, i-iya. B-Bias Chim ... Hoseok, e-he."
"IH GUE GAK NYANGKA LOH."
"Chim, udah liat belom photoshoot JTS buat majalah Bobo?!"
Wahai kolegaku, sesungguhnya ada dua tipe manusia di dunia ini.
Tipe satu, mencaci. Tipe dua, mendukung.
Jimin tersenyum tipis. Setelah kejadian 'lupa-di-hide' itu, para fangirl yang ada di kelas Jimin memberi banyak support. Jimin awalnya enggak nyangka, dia pikir para fangirl ini bakal ngehujatnya juga. Bisa jadi mereka jijik karena mindset 'masa cowok ngidolain cowok?' yang dianut hampir setengah populasi manusia di dunia.
Kata mereka, sesama fandom harus mendukung. Mereka juga ikut nyinyirin para mahasiswa yang sering mencibir Jimin gara-gara pekerjaan sampingannya sebagai fanboy.
Jadinya, Jimin enggak sedih-sedih amat.
Dan justru, para fangirl itu malah bangga memiliki suatu individu bernama fanboy di 'ekosistem' kelas mereka. Kata mereka, populasi fanboy itu bagaikan populasi orangutan di Indonesia. Sama-sama langka, dan sama-sama diburu.
Juga sama-sama butuh dikembangbiakkan.
Wah.
Jimin merasa spesial.
.
.
.
Tapi tetep aja, lah, ya. Namanya omongan orang, kadang suka enggak dipikir dulu, apalagi dijaga. Jimin harus tahan dengan ejekan yang ditujukan orang padanya, namun mengatasnamakan JTS. Duh, tambah sedih.
Eh tapi, diejek kayak gimana? Gini, contohnya;
"Enchim bahenol banget anj*beep*. JTS doyan, kali, ya, kalo fans-nya setipe Jimin."
"Halo Betinaaa, Jantannya kemana, nih?"
"Ah, paling entar dia yang menang di projek itu. JTS demennya sama yang aduhai cem Jimin."
Yang terakhir, Jimin enggak tau, itu pujian atau makian halus.
Ih, kurang sabar apalagi hati Jimin. Dan, yang kena semprotan itu cuma Jimin. Jungkook enggak. Otak Jungkook masih selevel lebih tinggi di atas otak Jimin. Walaupun cuma selevel lebih tinggi, tapi Jungkook terlalu pintar untuk lupa nge-hide post-annya. Jimin itu apa-apa ceroboh. Jimin juga terlalu excited sampai lupa dengan hal-hal kecil begitu.
Namun, Jimin yakin seratus persen kalau namanya keluar sebagai pemenang. Karena kata Pak Bambang, guru bahasa Indonesianya di SMP dulu,
'Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian'.
Dan menurut Jimin, itu sama aja bermaksud,
'Dibully-bully dahulu, dikawinin bias kemudian'.
Khukhukhu. Liat aja tanggal 22 Mei nanti, ya, para makhluk astral.
Udah seminggu Jimin menunggu datangnya tanggal 22. Dan, udah seminggu pula Jimin bertahan dengan segala cobaan di kampus. Ea.
Tapi, serius, deh. Ini udah tanggal 22 Mei, jam setengah delapan pagi, tapi salah satu member JTS belum ada yang nge-tweet siapa pemenang projek ini. Biasanya, kan, JTS kalo ada apa-apa jam 00.00 udah diumumin, kayak mau comeback. Tapi kali ini, JTS ngaret banget ngasih tau pemenangnya.
"Mungkin nanti, ya," gumam Jimin kepada Jungkook. Mereka berdua sedang nongkrong di bawah tenda angkringan es kelapa Mang Jackson.
"Udah, Chim, kita doa aja. Saingan kita, kan, dari seluruh dunia. Peluang dapetnya juga dikit. Kalo pun kita enggak menang, at least kita udah nunjukkin betapa besarnya cinta kita sama JTS."
#JungkookWise #JungkookForPresident
"JTS? Jantan Sonyeondan? Yang ngadain projek itu? Ih, anak Mamang juga ikut," timpal Mang Jackson yang lagi ngebungkusin es kelapa, "Anak Mamang, tuh, ya, sampe jungkir balik minta dibeliin paketan sama karton buat ikutan projek itu. Padahal deket, sama-sama di Pantura. Emang bener-bener, ya."
"Siapa, Mang?" tanya Jungkook sambil ngaduk-ngaduk es kelapanya.
"Anak Mamang."
"Yang nanya."
Mang Jackson diem, tapi Jimin yakin, dia lagi misuh-misuh dalam hati.
Drrrt ... drrt ...
Twitter notification from JantanTWT!
"CHIIIM! CHIIM, CHIMCHIM! ADA TWEET DARI JTS, CHIM!" Jungkook heboh, tangannya gemeteran, dan kakinya terus-terusan dihentakkan ke tanah.
"BUKA KUK, BUKAAA BURUAN!"
Mereka berdua panik. Jungkook sampe salah masukkin password hapenya berkali-kali. Grogi yha.
.
.
.
JantanTWT
Congratulations to Jinnie from South Korea. I hope we can meet tonight, see you! #RAPMONSTER
JantanTWT
Hello Allana from UK! I'm so excited for our meet up tonight, love ya -Your Hope
Mereka berdua diem, sambil berusaha mengontrol napas. Menunggu tweet dari Suga. Dua biji udah keluar nih, satu lagi mana? Hm, yaa, walaupun hati Jimin dan Jungkook poteq karena bias mereka udah keduluan sama orang lain.
Gak papa, lah, ya. Masih ada kesempatan.
"Tinggal tunggu tweet dari Suga, nih, Chim," kata Jungkook sambil terus me-refresh timeline Twitter JTS.
Satu jam ...
Dua jam ...
Tiga jam ...
Drrt ... drrt ...
"KUK BUKA KUK! SIAPA TAU DARI TWITTER!" Jimin memecahkan suasana. Sesuai dengan instruksi Jimin, Jungkook langsung mengetik pin password-nya.
.
.
.
Kuota internet Anda akan habis. Selanjutnya akan dikenakan tarif normal. Untuk tarif lebih hemat, beli paket Flash melalui *363# atau tsel . me / ur
.
.
.
"Yaaah Kuki, enggak asyik banget ih," Jimin misuh-misuh. Jungkook langsung mencibir.
"Yeu, dasar! Lu kira mantengin Twitter tiga jam enggak makan kuota?" tanya Jungkook, "udah ini mah, udah. Palingan kita enggak menang, Chim." sambung Jungkook putus asa.
"Iya, kali, ya. Dua-duanya aja dari luar negeri. Kita mah apa atuh, padahal deket, sama-sama di Pantura," sahut Jimin lesu.
"Semangat Chiiim, jangan lesu begitu, dong."
"Makasih, Kuk. Eh tapi, kalaupun Chim menang, Chim juga enggak sudi barengan sama Suga," celetuk Jimin.
Iseng, Jungkook pun ngegodain Jimin, "Ah, seriusaaan?"
"Dua rius," mantap pula Jimin menjawabnya.
"Inget aja, sih, Chim. Dunia itu berputar, loh," ujar Jungkook.
"Heh, siapa bilang dunia gelinding?"
"Chim, lu kapan pinter?"
Sementara itu, di sisi lain ...
"Ya elah, kuota gue abis, lagi! Gimana mau update Twitter, coba?!" celetuk seorang pemuda berkulit pucat sambil merutuki ponselnya. "Mana pulsa tinggal 140 perak ..."
Pemuda itu meninggalkan ponsel tersebut di kasurnya, beralih menemui kawan satu grupnya yang sedang duduk santai di sofa di depan televisi. Atensinya tidak terlepas dari ponsel pintar yang ia pegang. "Joon, pinjem hape, dong. Gue mau update Twitter, nih. Paketan gue abis."
"Isi dulu, gih! Gue lagi chatting-an sama Jinnie, nih."
"Cih, dia malah asik sama buddy-nya. Hmm ... ya udah, deh, gue pinjem sama Hoseok aja."
"Hoseok lagi make buat nelepon Allana, by the way," jawab pria bernama Namjoon tersebut.
"Bujug, dah. Gue musti gimana, dong? Gue, kan, juga mau interaksi sama buddy gue ..." gumamnya, misuh-misuh dengan volume suara yang kecil.
"Buddy lu siapa, sih? Kemaren lu yang ngundi, kan?"
"Hoh, buddy gue? Namanya ..."
Bersambung, tebeceh!
- kodokmeriang
