A/N: Well~ Karena saya tidak ingin memenuhi situs ini dengan cerita saya yang pendek-pendek dan terkesan mubazir bila dipisah-pisah, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti salah satu judul cerita saya dan membuatnya menjadi kumpulan drabble! Walaupun jujur saja, tulisan saya sama sekali tak bagus, hahaha... OTL

Warning: Sedikit shonen ai. Homo. Percintaan antar lelaki atau apalah kata kalian. Apabila anda anti itu, sebaiknya cepat tekan tombol back dan cari bacaan lain yang lebih sesuai dengan anda. Saya tidak mau menerima protes atas hal ini karena anda sudah saya peringatkan.

Disclaimer: Atlus

xXxXxXx

Aku Takut

(Yosuke's PoV)

Aku tidak pernah mengatakannya, tetapi sesungguhnya aku takut.

Di markas kami ini, di tempat kami membicarakan tujuan Tim Investigasi selanjutnya, aku ketakutan. Aku memasang senyuman seperti biasanya, melontarkan berbagai lelucon (dan hinaan) kepada yang lainnya, berusaha terlihat bersemangat seperti biasanya. Akan tetapi, sesungguhnya aku takut.

Setiap rencana yang kami rencanakan membuatku berpikir yang tidak-tidak. Aku menjadi teringat kejadian Saki-senpai. Aku berpikir bagaimana kalau aku gagal – kami gagal dan harus ada korban di pihak kami. Aku berpikir bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kami, di dunia antah berantah itu, dan tidak ada jalan keluarnya. Aku takut kalau yang kami lakukan selama ini adalah hal yang sia-sia dan kami yang harus menerima dampaknya.

Sungguh, aku takut.

Mungkin mereka akan tertawa bila mendengar Yosuke Hanamura ketakutan seperti ini. Atau mungkin sudah biasa? Heh, apakah aku sepengecut itu?

Aku melihat sekeliling. Mereka semua terlihat tenang – setidaknya berusaha berpikir tenang. Dan di antara mereka semua, Souji Seta-lah yang terlihat paling tenang. Memang, ia adalah sosok seorang pemimpin yang ideal, dapat mengerti keadaan rekan-rekannya. Souji, mengapa kamu bisa bersikap seperti itu? Tahukah kau? Aku takut.

Pandanganku terarah ke gelas minuman di hadapanku. Aku dapat mendengar mereka semua berbicang-bincang mengenai rencana mereka. Hei, kalian, tahukah kalau aku takut?

Aku memejamkan mataku sejenak, berharap aku bisa tenang dan menghilangkan ketakutanku. Dan aku merasakan seseorang menggenggam tanganku.

Ketika aku membuka mataku, aku terkejut menangkap sosok yang menggenggam tenganku – Souji Seta yang memang duduk di sebelahku. Ia tidak mengatakan sepatah katapun mengenai itu, masih terus menanggapi pembicaraan yang lain. Ia bertingkah seakan ia tak menggenggam tanganku. Akan tetapi, ia melakukannya. Dan aku tahu itu.

Aku tak tahu atas dasar apa ia melakukannya. Mungkinkah ia mengetahuinya? Tahu kalau aku takut? Aku tahu ia pemimpin yang dapat mengerti anak buahnya, tetapi aku tidak tahu kalau ia dapat membaca pikiran orang!

Ia masih bertingkah biasa saja, tangannya yang bebas digerak-gerakan ketika ia berpikir atau menanggapi ucapan yang lain. Ia tidak melihat ke arahku, satu kali pun, tetapi aku merasa kalau genggamannya semakin erat.

Aku mengikuti permainannya, bertingkah biasa saja. Aku mendengarkan ocehan yang lain, menanggapi mereka dengan gayaku sedangkan tanganku masih digenggamnya. Mungkin ia merasa kalau hal itu dapat membuatku kehilangan ketakutan – dan itu benar. Sedikit memang, setidaknya lebih baik daripada yang tadi. Mungkin kalau ada yang melihat ke bawah meja akan ada yang mencemooh kami. Namun, aku tak peduli.

Waktu berlalu dan kami terus berdiskusi. Aneh, tadinya aku merasa tersiksa dan ketakutan sekali, tetapi rasa itu perlahan-lahan menghilang. Aku berharap ia terus menggenggam tanganku, tak ingin waktu cepat berlalu.

Dan aku baru menyadari kalau sejak tadi tangannya gemetaran.