Asal Usul Burung Kedasih

Discalimer: Anime/manga milik Sorachi Hideaki

Genre: Parody, family, hurt/comfort, drama (mungkin), angst (mungkin), tragedy (mungkin),

Warning: semi-AU, semi-AT, folklore story (dengan sedikit pengembangan), OOC, dll,

Morning, 08.00 a.m...

Di sebuah tempat pemakaman umum, terlihat beberapa orang berpakaian hitam sedang berdiri mengerumuni sebuah makam. Ya, itu adalah Tae, Kagura, dan beberapa tetangga yang masih setia mendampingi mereka.

"Kondou, kenapa kau meninggalkan kami begitu cepat…?" kata Tae lirih sambil menatap makam di depannya dengan tatapan sendu.

"Kau berjanji kita akan terus bersama selamanya, bersama putri kita, kan?"

"Tae..." Ayame hanya bisa menatap Tae dengan raut wajah sedih sembari mengelus bahu Tae untuk menghiburnya.

"Kondou..."

"Ibu..." Kagura segera memeluk ibunya sementara Tae tidak bergeming, terus menatap makam Kondou dengan tatapan kosong.

"Lebih baik kita pulang. Kau harus istirahat, Tae. Sedari malam kau tidak tidur," sahut Ayame. Tae menatap Ayane dengan sendu dan mereka bertiga pulang meninggalkan pemakaman diiringi oleh beberapa tetangga lainnya.

Setelah beberapa hari pasca kematian Kondou, akhirnya Tae dan Kagura bisa menerima kepergian Kondou dengan ikhlas. Mereka memutuskan untuk menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa.

Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Tae bertemu dengan seorang pria bernama Gintoki. Gintoki adalah salah seorang warga di desa tetangga yang bernasib sama dengan Tae yaitu kehilangan pasangan hidupnya karena sebuah kecelakaan. Ia sudah beberapa tahun hidup sendiri dengan anak perempuannya yang bernama Kyuubei. Pertemuan mereka menimbulkan benih-benih cinta antara keduanya. Rasa cinta antara mereka, kesamaan nasib dan dukungan anak mereka masing-masing membuat mereke mantap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, yaitu PERNIKAHAN.

"Tae, sudah dua tahun kita menjalin hubungan pertemanan yang dekat. Anak-anak kita juga berhubungan dekat. Diantara kita ada banyak kesamaan dan aku rasa... aku...aku..." kata Gintoki dengan gugup. Fokus Tae pada baju Gintoki yang sedang ia jahit teralihkan oleh kata-kata Gintoki. Saat itu, mereka sedang berada d ruang tamu rumah Tae.

"Ya?"

"Aku rasa...aku..." Gintoki menunduk, menyembunyikan kegugupanya. Tae yang melihatnya tersenyum dan ia menghentikan aktifitasnya. Kini, ia seratus persen fokus pada Gintoki, membuat Gintoki semakin gugup.

"..."

"A-aku..."

"..."

Tidak jauh dari tempat Gintoki dan Tae berada, tampak dua orang perempuan sedang mengintip mereka. Wajah mereka tampak kesal dan suram. Salah satu diantara mereka berbalik dan melipat kedua tangannya di dadanya dengna kesal.

"Ah, ayah ini bagaimana. Begitu saja gugup. Dasar payah,"

"Apa ayahmu akan menyatakan cinta pada ibuku?"

"Tentu saja. Selama ini ayahku dekat dengan ibumu dan melihat pancaran mata ayah, ayah sepertinya menyimpan cinta pada ibumu. Hm, kemungkinan mereka menikah persentasenya sangat besar,"

"Na-nani? Sou ka?" Kagura terpana mendengar perkataann Kyuubei. Dengan mantap ia mengangguk sembari tersenyum.

"Yep. Bagaimana, kau setuju kan jika ayahku menikah dengan ibumu? Kita akan jadi saudara dan akan tinggal bersama selamanya. Selain itu, kita bisa bermain bersama dan tidur bersama,"

"Yosh,"

"Ayo, kita intip lagi mereka. Siapa tahu apa yang kukatakan tadi benar,"

"Hai." Dan mereka berdua kembali mengintip dua sejoli yang sedang bersama tersebut.

"Aku rasa, aku...a-ada kecocokan denganmu..." demi sate ayam yang belum matang, Gintoki rela memukul kepalanya dengan palu besi. Bukan itu yang ingin ku katakan...! gerutu Gintoki dalam hati. Ia meremas celananya dan memejamkan matanya erat. Berusaha menganggap bahwa ia tidak pernah mengatakan itu dan berharap Tae tidak mendengarnya dan menggubrisnya.

"Ahahahaha..." dan tawa Tae meledak, membuat Gintoki terpana dan dua perempuan yang sedang mengintip itu sweatdrop melihatnya

"Dasar ayah payah! Uh!" gerutu Kyuubei sambil merengut kesal sementara Kagura hanya tersenyum simpul.

"Ke-kenapa, a-ada yang salah...?" tanya Gintok imasih dengan gugup. Hal itu membuat tawa tae semakin meledak.

"Hahaha...tidak, tidak. Kau tampak lucu,"

"Lu-lucu?"

"Ya,"

"Ma-maksudmu?"

"..."

"..."

"Hahaha...kau tampak lucu jika bicara dengan gugup begitu," dan wajah Gintoki memanas mendengar perkataan Tae. Ia segera membalikkan tubuhnya dan menepuk dahinya. Gintoki juga bingung kenapa wajahnya memerah.

"O-oh, ma-maaf,"

"Tidak perlu meminta maaf. Aku rasa aku juga sama denganmu. Aku merasa aman dan nyaman jika bersamamu. Kita juga cukup dekat, begitupula anak-anak kita. Kita juga memiliki kesamaan nasib. Jadi, ya...begitulah,"

"Kalau beigtu, a-apakah kau mau menikah de-denganku?"

"Eh?" Tae yang mendengarnya terpana, begitupula dengan Kyuubei dan Kagura. Mereka menutup mulut mereka sambil menahan napas. Sedangkan Gintoki, apakah ada palu besi? Bolehkah aku meminjamnya untuk memukul kepalaku? Pikir Gintoki.

"Yes, tebakanku benar. Doaku terkabul, Kagura. Yiha...aku senang sekali hari ini," kata Kyuubei berjingkrak ria dan ia memeluk erat Kagura. Kagura juga turut tersenyu dan membalas pelukan Kyuubei.

"A-ano, aku...aku..."

"Apa kau bilang tadi?"

"A-ano, aku...aku..."

"Benarkah?"

"Y-ya,"

"Serius?"

"Ya,"

"Kau tidak bohong kan?"

"Ya," dan Tae langsung memeluk Gintoki. Gintoki tersenyum dan membalas pelukan Tae.

"Ya, Gin-san. Aku mau, aku mau. Kau tahu, inilah yang selalu ada dalam anganku. Ku pikir ini ini hanay sekedar angan. Ternyata...terima kasih telah memilihku sebagai pendampingmu, Gin-san. Aku janji akan menjadi istri yang patuh dan setia serta menjad ibu yang baik bagi anak-anak kita,"

"Ya, Tae-chan," dan mereka melepaskan pelukan mereka. Mereka berdua tersenyum sementara Kyuubei kembali berjingkrak ria.

Dan, tidak perlu menunggu lama lagi, akhirnya mereka menikah. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan (bahkan lebih dari cukup) karena Gintoki bekerja sebagai sebagai tuan tanah di distrik Kabuki-Cho, daerah di mana mereka tinggal. Hal ini terlihat dari putri Gintoki yang selalu memakai perhiasan emas. Lain halnya dengan Kagura yang tidak memakai perhiasan sama sekali. Walaupun begitu, itu tidak menjadi masalah bagi kagura. Yang terpenting, impiannya untuk mendapatkan seorang figur ayah telah tercapai dan ia adalah seorang ayah yang baik lagi bijaksana dan sangat menyayanginya serta ibunya. Ya, untuk saat ini memang tidaka ada masalah. Tetapi suatu ketika, malapetaka menimpa keluarga harmonis yang belum beberapa lama ini sedang direngkuh kebahagiaan ini.

Night, 21.30 p.m...

Tae tersenyum simpul melihat kedua putrinya telah tertidur lelap. Melihat wajah mereka yang berseri-seri ketika tertidur membuat hatinya begitu damai. Terlebih melihat raut wajah Kagura. Melihatnya membuat Tae teringat kembali pada Kondou. Senyumnya kembali pudar dan setitik air mata turun melintasi pipinya.

"Kondou..." dan Tae kembali menatap wajah Kagura. Tiba-tiba ia tersenyum sinis dan menatap ke langit melalui jendela kamar yang terbuka dan tidak tertutup gorden dengan pandangan tajam.

"Kondou, jujur, aku sedih dan sakit hatiku dalam menerima takdir ini. Tetapi, aku tahu, aku harus ikhlas menerimanya dan aku ikhlas menerima takdir ini. Ya, ikhlas menerima takdir ini karena dengan begitu, seluruh hartamu akan jatuh ke tanganku dan putriku. Ahahahaha... A..., andaikan itu juga terjadi pada suamiku yang sekarang. Hm... aku akan jadi kaya raya dan aku akan menikah lagi. Lalu menguasai hartanya, begitu seterusnya. Oh, aku tidak sabar menunggu hari-hari itu...," Tae kembali tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Kyuubei yang tertidur lelap di samping Kagura. Tae segera bersikap biasa dan segera mematikan lampunya dan keluar sembari menutup pintunya, namun ketika pintu akan menutup, sebuah suara menginterupsi Tae yang menutup pintu.

"Ibu...?"

"Kagura, kau belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur, bu. Ibu mau kan menemaniku tidur?"

"Baiklah," dan Tae segera masuk dan duduk di samping anak tercintanya. Ia memeluk Kagura dan mengelus kepala Kagura dengan sayang, berharap agar anaknya bisa terlelap dalam mimpi indahnya.

"Tumben kamu tidak bisa tidur. Ada apa, anakku sayang?" sahut Tae dengan penuh kasih sayang sembari mengelus kepala Kagura.

"Ibu, lihatlah, kak Kyuubei selalu memakai perhiasan emas yang banyak dan bagus sekali setiap hari," Kata Kagura menatap Tae dengan manja dan dengan sedikit cemberut.

"Lalu?" kata Tae masih mengelus kepala Kagura dengan sayang.

"Aku iri dengan kak Kyuubei. Aku ingin seperti kak Kyuubei, bu. Selalu mengenakan perhiasan dan selalu terlihat cantik di depan semua orang,"

"Oh, begitu. Jadi, anak ibu yang satu ini ingin memakai perhiasan juga?" sahut Tae yang melepas pelukannya dan menatap Kagura sambil tersenyum. Kagura mengangguk dan Tae kembali memeluk Kagura dan mengelus kepalanya dengan sayang agar Kagura terlelap.

"Ya, bu. Tetapi, aku takut mengatakannya pada ayah maupun kakak..."

"Tidurlah, Kagura. Besok kau sekolah kan?"

"Baiklah. Oyasuminassai, okaa-san,"

"Hai, oyasuminassai desu yo, my lovely daughter." jawab Tae dengan tersenyum dan lama kelamaan, Kagura pun terlelap dalam pelukan Tae. Tae kembali menatap langit dan pandangannya berubah serius.

"Aku rasa inilah waktunya. Waktu yang tepat untuk semua itu. Bersiaplah, Kyuu-chan, Gin-san." Gumam Tae dalam hati sambil tersenyum sinis. Setelah mengetahui bahwa Kagura sudah terlelap, ia segera merebahkan Kagura di tempat tidur dan menyelimutinya dan mengecup dahinya. Lalu, Tae tersenyum simpul dan mengelus kepala anaknya untuk terakhir kalinya. Tae segera bangkit dan keluar dari kamar anak-anaknya tersebut sembari menutup pintu.

Malam harinya setelah malam perbincangan antara Kagura dan ibunya, di kamar Kagura dan Kyuubei, Kagura bersiap untuk tidur begitupula dengan Kyuubei. Namun, sebelum merebahan kepalanya ke bantai yang empuk, Kagura menatap Kyuubei yang sedang bersiap untuk tidur. Ia memandang tangan kiri kakaknya yang masih mengenakan gelang lalu kembali menatap kakaknya tersebut.

"Mungkin, jika aku bertanya dengan baik-baik, kakak mau meminjamkannya padaku,"

"kakak," panggil Kagura dengan sedikit merajuk.

"Ya?" Kyuubei pun menoleh ke arah Kagura dan merubah posisi tidurnya jadi menghadap Kagura.

"Bolehkah aku meminjam perhiasanmu? Semalam saja. Boleh?"

"Tentu saja, adikku sayang," jawab Kyuubei sambil tersenyum. Ia melepas semua gelang yang ia pakai dan menyerahkannya pada Kagura.

"Ini, ambillah,"

"Wah, terima kasih, kakak. Aku janji, besok pagi, perhiasan ini akan kukembalikan," dan Kagura segera memakaikan perhiasan tersebut di tangan kirinya.

"Ya, adikku sayang," dan mereka saling berpelukan. Senyum pun menghiasi wajah Kagura yag berseri-seri karena kegirangannya di mana apa yang ia inginkan bisa tercapai, yaitu memakai gelang emas. Walau sementara, bagi Kagura, itu sudah lebih dari cukup.

"Oyasuminassai, kakak,"

"Hai, oyasuminassai desu yo," dan mereka pun tidur dengan lampu yang dimatikan serta jendela yang terbuka tanpa tertutup gorden.

Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Tae terbangun karena dentingan alarm pada jam di ruang tengah tidak jauh dari kamarnya dan suaminya berada.

"Aku rasa inilah waktunya. Bersiaplah untuk mati, Kyuu-chan!" gumam Tae dalam hati dengan emosi yang meluap-luap dan tatapan mata yang tajam. Ia segera bangkit dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Setelah sampai, ia mengambil pisau dan menatapnya sambil tersenyum sinis. Lalu, ia berjalan cepat menuju kamar kedua anaknya tersebut.

"Ah, gelapnya. Kalau aku menyalakan lampunya, maka akan membangunkan Kagura dan Kyuu-chan. Alhasil rencanaku akan gagal. Lalu, bagaimana agar rencana ini bisa berjalan lancar? Aku jadi kesulitan membedakan mana anakku dan mana Kyuu-chan. Ah, aku ingat. Kyuu-chan kan memakai gelang emas sedangkan Kagura tidak. Berarti, yang di sebelahku adalah Kyuu-chan. Hihihihihi... tamatlah riwayatmu, Kyuu-chan. Ahahahaha...!" dan Tae menatap tajam ke arah sosok di depannya. Ia mengarahkan tangan kanannya ke atas dan...

JLEBBB

"Aaakhhhhh...!" dan suasana kembali sunyi, tanpa suara apapun. Tae tersenyum dalam hati dan ia segera melepas semua gelang yang ada di tangan kiri anaknya tersebut dan memasukkannya di kantong dasternya tersebut. Lalu, ia melihat sebuah benda yang ia ketahui sebagai selimut yang tergeletak di kursi di sebelah kiri di samping jendela. Ia mengambilnya dan segera membungkus anaknya tersebut dengan cepat. Lalu, ia membuka pintu dan menggendong anaknya keluar kamar. Ia membawa anaknya tersebut ke sungai dan ia pun membuangnya. Anaknya pun terseret air yang mengalir menuju arah utara. Dan ia segera kembali ke rumah dan berjalan menuju dapur.

"Akhirnya, nak. Esok akan ada kejutan untukmu. Kau tahu, ibumu ini berhasil mendapatkan gelang milik kakakmu itu. Kau pasti senang. Ah, aku tidak sabar menunggu esok pagi..." gumam Tae dalam hati. Ia segera mencuci tangan dan pisaunya dan menembalikan pisaunya ke dapur lalu ia segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya yang tertunda. Gelangnya masih tersimpan di saku celana panjangnya.

Keesokan harinya sekitar jam setengah tujuh pagi, Tae berkunjung ke kamar anaknya yang saat itu belum bangun. Ketika ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, betapa terkejutnya ia melihat fenomena di kamar tersebut. Terlihat Kyuubei yang masih tertidur dengan tersenyum-sepertinya sedang bermimpi indah. Tae terpana melihatnya dan menggelengkan kepalanya.

"Ti-tidak mungkin. Ke-kenapa Kyuu-chan ada di sini? Bu-bukankah dia sudah ku..." dan Tae lebih terpana lagi setelah memikirkan kemungkinan jawaban atas fenomena yang ia lihat ini.

"Ja-jangan-jangan. Jangan-jangan..." dan Tae merogoh saku celananya di sebelah kiri. Ditatapnya gelang emas yang ia genggam ini. Ia menggelengkan kepalanay dna seketika tubuhnya gemetaran.

"Tae-chan..." dan masuklah Gintoki ke kamar Kagura dan Kyuubei. Gintoki begitu terkejut melihat Kyuubei yang masih tertidur lelap.

"Ne, Kyuu-chan masih belum bangun? Lalu, kemana Kagura? Aku cari di mana-mana tidak ada. Masa ia sudah berangkat sekolah lebih dulu tanpa pamit dan sarapan pagi? Apa kau melihatnya, Tae-chan?" tanya Gintoki menatap Tae. Ia tambah bingung melihat Tae yang terdiam tidak menjawab pertanyaannya.

"Tae-chan...?" dan air mata jatuh menetes melalui pipinya. Gintoki yang melihatnya terkejut dan panik.

"Tae-chan, ada ap-" dan betapa terkejutnya Gintoki melihat gelang emas yang ada di tangan Tae.

"Bukankah itu punya Kyuu-chan. Kenapa ada padamu?"

"A-aku...aku..."

"Kyu-chan belum bangun, Kagura tida ada, gelang Kyuu-chan ada padamu. Aku tidak mengerti, kemana Kagura dan kenapa gelang itu ada padamu?"

"A-aku...aku..."

"Apa kau tahu sesuatu?"

"..."

"Tae-chan...?"

"..."

"Tae, jawab pertanyaanku. Kenapa gelang itu ada padamu dan dimana Kagura?!"

"..."

"Tae!"

"Aku...aku...Kagura...Kagura..." dan Tae bergegas keluar dari kamar.

"Tae!" dan Gintoki segera mengejarnya.

Tae berlari menuju sungai diikuti oleh Gintoki yang terus memanggilnya-tanpa sahutan dari Tae. Tae terus berlari tanpa menoleh ke sekitarnya. Yang ada di pikirannya hanya satu.

"Kagura..."

Setelah sampai di sungai. Tae segera menyusuri pinggir sungai. Gintoki yang telah sampai hanya berdiri di beakang Tae tanpa mendekatinya, menyapanya, dan berbicara dengannya.

"Kagura? Kagura? Di mana kau? Kagura? Kagura?" Tae masih sibuk mencari Kagura namun tidak ditemukan batang hidungnya. Sudah cukup lama ia mencari dan sudah cukup lama Gintoki menunggu namun nihil. Tae terduduk dan pecahlah tangisnya. Gintoki menghela napas dan ia berjalan selangkah ke depan dan menatap tajam Tae.

"Tae, ada apa ini? Kenapa kita ke sini? Di mana Kagura?"

"Gin-san..." Tae menoleh ke arah Gintoki dan ia berlari ke arahnya lalu memeluk kakinya. Gintoki tidak bergeming dan Tae masih setia menangis sambil memeluk kakinya.

"Gin-san, maafkan aku...maafkan aku..."

"..."

"Maafkan aku yang mengkhianatimu. Maafkan aku yang mengkhianati anak kita dengan cara membunuh anak kita sendiri..."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Membunuh anak kita?" Tae terdiam tidak menjawab pertanyaan Gintoki dan malah semakin erat memeluk kakinya.

"Ini salahku, Gin-san. Ini salahku. Ini salahku...tolong maafkan aku...maafkan aku..." Tae tiada henti menangis, membuat Gintoki merasas erba salah dan bingung serta kesal karena pertanyaannya tidak di jawab. Semua bercampur menjadi satu.

"Jangan membuatku bingung, Tae!"

"Gin-san..." dan Tae menatap Gintok idengan air mata yang masih terus berlinang. Tae masih terisak dan Gintoki menatap Tae dengan datar-terlalu mala memasnag wajah kesal karena ia yakin pertanyaannya tidak akan dijawab.

"..."

"Aku, aku..."

"..."

"..."

"Aku, aku, aku telah, telah mem-membunuh, membunuh Kagura... Maafkan aku, Gin-san..." Gintoki yang mendengarnya terpana sementara Tae masih menangis sambil memeluk kaki Gintoki.

FLASH BACK: ON

"Kondou, jujur, aku sedih dan sakit hatiku dalam menerima takdir ini. Tetapi, aku tahu, aku harus ikhlas menerimanya dan aku ikhlas menerima takdir ini. Ya, ikhlas menerima takdir ini karena dengan begitu, seluruh hartamu akan jatuh ke tanganku dan putriku. Ahahahaha... A..., andaikan itu juga terjadi pada suamiku yang sekarang. Hm... aku akan jadi kaya raya dan aku akan menikah lagi. Lalu menguasai hartanya, begitu seterusnya. Oh, aku tidak sabar menunggu hari-hari itu...,"

"Ibu, lihatlah, kak Kyuubei selalu memakai perhiasan emas yang banyak dan bagus sekali setiap hari,"

"Aku iri dengan kak Kyuubei. Aku ingin seperti kak Kyuubei, bu. Selalu mengenakan perhiasan dan selalu terlihat cantik di depan semua orang,"

"Aku rasa inilah waktunya. Waktu yang tepat untuk semua itu. Bersiaplah, Kyuu-chan, Gin-san."

FLASH BACK: OFF

"Dan aku terbangun jam dua belas malam. Kupikir itu adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencanaku. Aku pergi ke dapur dan mengambil pisau, memasuki kamar anak kita, dan membunuh anak kita yang kukira adalah Kyuu-chan karena yang ku tahu, Kyuu-chan yang memakai gelangnya. Lalu, kubungkus dengan selimut dan kubuang ke sungai. Kukira itu Kyuu-chan. Tetapi ternyata...itu..." Gintoki yang mendengarnya tambah terpana. Ia menggelengkan kepalanya-tanda tidak percaya dan kedua tangannya mengepal erat. Giginya bergemelutuk dan ia menatap Tae dengan tajam. Tae hanya mampu menunduk, tidak berani memandang suaminya yang tengah marah tersebut.

"Kau...!"

"Maafkan aku, Gin-san..."

"Teganya kau berniat membunuh anakku. Walaupun anakku selamat, tetapi, kau...!"

"..." Tae hanya mampu mendengarkan makian Gintoki sembari menangis. Ia tahu ia salah dan ia menyesalinya. Namun, nasi sudah menjaid bubur. Kebencian Gintoki mengalahkan semua penyesalannya kini dan Kagura juga tidak akan kembali walaupun ia terus menyesali perbuatannya seumur hidup.

"Aku menyesal telah menikahimu, Tae. Aku tidak menyangka kau sejahat ini. Padahal aku sangat mencintai dan menyayangimu, begitupula anakku, Kyuu-chan. Tetapi kau..."

"Gin-san..."

"Aku tidak akan memaafkanmu. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu! Aku membencimu, Tae!" dan semakin pecahlah air mata Tae. Gintoki melepaskan kakinya dari pelukan tae dan Tae terjatuh seketika. Di belakang Tae dan Gintoki tidak jauh dari mereka, tampak Kyuubei yang berdiri sambil perlahan menunduk. Air matanya jatuh dan kedua tangannya mengepal erat.

FLASH BACK : ON

"kakak,"

"Ya?"

"Bolehkah aku meminjam perhiasanmu? Semalam saja. Boleh?"

"Tentu saja, adikku sayang,"

"Ini, ambillah,"

"Wah, terima kasih, kakak. Aku janji, besok pagi, perhiasan ini akan kukembalikan,"

"Ya, adikku sayang,"

FLASH BACK: OFF

"Kagura, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak peka terhadapmu. Seharusnya aku sadar bahwa perhiasan yang kupakai berlebihan jumlahnya sehingga membuat mata semua orang iri termasuk kau. Tetapi, walaupun kau merasa iri, kau memendamnya dalam hati. Kau tidak memusuhiku, tidak mengeluh padaku dan ayahku bahkan memohon sekalipun kepada kami. Kau tetap ceria seperti Kagura yang ku kenal. Seharusnya aku menyadari itu. Kagura, aku telah bersikap layaknya orang yang sombong. Walau dalam hatiku tidak ada niat seperti itu, tetapi...tetapi..." Kyuubei jatuh terduduk sambl terisak. Sementara di depannya, ayahnya masih berdiri diam tidak bergeming dan Tae masih menangis tersedu-sedu.

"Kau anak yang baik, Kagura. Tidak terbesit rasa serakah dan dengki dalam hatimu padaku dan ayahku. Seandainya aku mengetahuinya sedari awal, pastilah hal ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Kagura. Maafkan aku...semua ini juga salahku. Maafkan aku dan ayahku yang tidak peka sehingga tidak menyadari perasaanmu yang sebenarnya. Maafkan aku, Kagura. Maafkan aku..."

"Kyuu-chan,"

"A, ayah..." Kyuubei segera menengadah dan mendapati ayahnya sedang memandangnya. Air mata kembali menetes di pipinya.

"Kyuu-chan, ayo, kita pergi!"

"A, ayah..." Kyuubei menatap Tae yang masih menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa. Gintoki kembali menghadap ke depan dan berjalan meninggalkan mereka.

"A, ayah!" Kyuubei mendadak berdiri dan berlari menyusul ayahnya, meninggalkan Tae seorang diri. Di sisi lain, para warga yang mengetahui yang sebenarnya, ramai berbisik-bisik sambil menatapnya.

"Maafkan aku, Gin-chan, Kyuu-chan. Maafkan ibu, Kagura. Maafkan ibu..." kata Tae dengan menyesal. Para warga satu persatu meninggalkan Tae seorang diri. Dan sekarang, tinggallah Tae seorang diri, menangis tiada henti tanpa seorangpun yang menemani.

"Kagura... Kagura... dimana kamu, nak? Di mana? Ini ibu, nak. Maafkan ibu...Maafkan ibu..."

Berhari-hari Tae terus mencari Kagura seorang diri dan tiada henti. Ia tahu bahwa itu semua hanya sia-sia. Namun, ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia akan menemukan putrinya yang malang. Dan sampailah pada akhir pencarian yaitu, putus asa. Dengan pandangan kosong, ia menatap ke tanah. Ia terjatuh dan dengan sisa tenaganya, ia menggumam untuk terakhir kalinya.

"Kagura... Kagura... dimana kamu, nak? Di mana? Ini ibu, nak. Maafkan ibu...Maafkan ibu..."

Setelah peristiwa ini, tidak ada kabar lagi tentang Tae maupun Kagura. Mereka dikabarkan hilang entah kemana. Tetapi, beberapa hari setelah peristiwa ini, di sekitar distrik Kabuki-Cho ini, muncul seekor burung yang berbunyi dengan suara yag terdengar sendu dan mengiris hati.

"Siiiih..sihhh..sihhhh..."

["Kagura... Kagura... dimana kamu, nak? Di mana? Ini ibu, nak. Maafkan ibu...Maafkan ibu..."]

Pada awalnya, suara burung ini tidak mendapat perhatian khusus dari para warga, namun burung ini selalu muncul baik siang maupun malam. Suara burung ini nadanya semakin tinggi dan tidak henti-hentinya berbunyi. Dari kemunculan burung bersuara aneh ini, warga desa sekitar tempat kejadian begitu heboh. Mereka menghubung-hubungkan suara burung ini dengan hilangnya Tae.

Para warga yang memiliki kemampuan supranatural mampu menangkap arti suara ini yaitu suara Tae yang sedang mencari anaknya yaitu Kagura.

"Siiiih..sihhh..sihhhh..."

["Kagura... Kagura... dimana kamu, nak? Di mana? Ini ibu, nak. Maafkan ibu...Maafkan ibu..."]

"Benarkah itu suara Tae?" tanya seorang warga, sebut saja Abuto.

"Ya, aku rasa itu suara Tae yang mencari Kagura. Mungkin ia dikutuk sang dewa atas perbuatannya," kata seorang lagi, sebut saja Bansai.

"Ya, Gin-san terlalu terpukul dengan kejadian ini. Ia terlanjur sakit hatinya sampai tidak mau memaafkan Tae lagi," jawab seorang wwarga lainnya, sebut saja Tama.

"Kau benar. Tetapi, jika benar burung itu jelmaan Tae. Ih, seramnya... jangan sampai aku kena kutukan seperti itu," kata seorang warga lainnya.

"Makanya banyak-banyaklah berbuat baik. Untuk kejiadian yang lalu, minta ampunlah," kata seorang warga lainnya.

"Kau benar. Kami-sama, maafkan aku atas kesalahanku selama ini. Janganlah aku bernasib sama seperti Tae," kata seorang warga itu sambil menyatukakkan kedua telapak tangannya di depan dadanya-berdoa.

"Ih, kau ini!" Tama sweatdrop melihat tetangganya ini sementara yang lain diam dengan pikiran masing-masing. Tidak jauh dari tempat mereka berada, seorang pria dengan kacamata berbingkai tipis dan berapakaian kimono sederhana berwarna biru langit berdiri melirik tajam kumpulan orang-orang itu. Ia menghela napas dan ia pun menengadah ke atas-menatap langit biru nan cerah dengan awan putih yang bergerombol dengan awan-awan lainnya.

"Aneue..." dan iapun pergi meninggalkan tempat di mana warga tersebut berkumpul.

THE END

Akhirnya, setelah berabad-abad hiatus (?) saya bisa menyelesaikan fict story ini. Syukurlah

Untung waktunya masih ada (jangka waktu) jadinya bisa memenuhi janjiku dalam event ini

cerita ini milik blognya Lulu Masruroh dan warga Jawa Timur. Untuk melihat cerita aslinya (entah benar asli atau tidak masalahnya untaian katanya ayng menyusun plot dan dialog tidak meyakinkan siy.

Walau begitu, saya tunggu kritik, saran, dan komentar readers semua.

Sampai jumpa di fict storyku selanjutnya... n_n/