Title: The Sweet Hostage

Cast:

-Kim Ryeowook / Wookie

-Kim Yesung

-Shim Changmin

-Jessica Jung and other cast

Genre: Romance, Crime

Disclaimer: Ini ff remake dari novel karya Nesti Mindha, saya cuma ganti tokoh dengan berbagai penyesuaian.

Summary: Ryeowook yang patah hati karena mengetahui kekasihnya tidur dengan dosen genit di kampusnya harus terpaksa menyembunyikan pria menyeramkan yang ia yakini adalah seorang buronan.

Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?

~YeWook~

Mereka berdua bergelung.

Sang wanita berumur sekitar tiga puluhan, sedangakan pasangannya tepat berumur dua puluh tahun. Perbedaan usia itu tidak menjadi alasan bagi mereka untuk merasa tabu berkasih-kasihan. Sang wanita berada di atas sedangkan sang pria muda melenguh di bawahnya.

"Kau menyukainya?" tanya wanita itu sambil terus mencumbu pasangannya.

"Ya, Sayang. Teruskan! "

"Bersiaplah, anak nakal"

Mereka berdua terkikik sejenak lalu saling mencumbu pelan dan lama-lama menjadi rakus. Tangan pemda itu bergerak kemana-mana, menelusuri setap jengkal tubuh sang wanita dengan tatapan rakus, hingga wanita itu mendesah puas.

Setan sudah menjadi pihak ketiga yang membujuk mereka untuk meneruskan perbuatan yang bakal dilakukan oleh dua orang penuh nafsu dalam keadaan telanjang bulat...

xXxXxXx

Ryeowook POV

Perutku mual hebat saat menggarisbawahi kata "telanjang" dalam otakku. Aku segera berlari ke kamar mandi lalu mengeluarkan isi perutku., yang keluar cairan oranye, sisa jus jeruk yang kuminum tadi siang. Setelah mengguyurnya cepat, aku mematung memandangi pantulan wajahku di cermin di atas wastafel. Seraut wajah berbentuk hati dengan tulang pipi tinggi terpantul di sana. Kedua ujung bibir lembut yang selalu melengkung ke atas tampak seperti tersenyum meskipun dalam keadaan ingin meledak dan mencekik orang. Rambut hitam kelam sebatas pinggang digelung di balik topi dan kini beberapa ujungnya mulai mengintip ke luar. Ada perbedaan jelas antara wajahku di cermin dengan wajahku di hari biasanya, wajah yang terlihat di cermin itu tampak pucat, tertipu dan penuh amarah.

Tentu saja. Kini, otakku penuh dengan bayangan kekasihku yang tidur dengan dosenku sendiri.

"Dasar pelacur! " Cermin di hadapanku bergetar dan pecah setelah aku memukulnya dengan kepala shower kuat-kuat. Bayanganku tercetak di setiap retakannya, menampilkan seorang gadis yang selama dua puluh tahun hidup dengan rasa percaya diri, tapi kini tinggal gadis pecundang yang siap meledak tangisnya.

Aku sangat menyayangi kekasihku, awalnya. Tetapi rekaman video yang kulihat kemarin telah membuat duniaku berbalik. Aku sudah curiga, ada yang tidak beres antara pacarku dengan dosen baru itu. Aku kerap memergoki mereka berduaan setelah kelas berakhir. Di tempat parkir, perpustakaan dan berakhir di kafe tempat pacarku manggung. Firasatku berkata dosen itu merayunya. Sayangnya aku bodoh, aku terlalu percaya pada pacarku dan hanya menganggap semua itu hanya sapaan biasa antara dosen dan mahasiswa. Tapi, mana ada dosen yang mengernyit genit sambil membasahi bbibir ketika menyapa mahasiswanya?

Malam sebelumnya, emosiku memuncak saat pacarku tiba -tiba saja membatalkan janji dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia bilang kucing adiknya tersedak duri ikan hingga adiknya meraung-raung dan minta diantar ke dokter hewan saat itu juga. Katanya lagi, sopirnya sedang mengantar orangtuanya hajatan, jadi terpaksa dia yang pergi.

Tipuan yang fatal. Pertama, aku sudah sering ke rumahnya. Walaupun membenci binatang pemalas yang lebih setia pada rumah daripada tuannya itu, aku tetap mau mengobrol banyak tentang kucing bersama adiknya, Taemin. Aku ingat Taemin pernah bilang kalau kucing persianya hanya mau menyantap makanan kucing yang biasa dijual di pet shop. Kedua, tiga hari yang lalu saat aku menelepon pacarku ke rumahnya, kebetulan Taemin yang mengangkat. Ketika kutanya kenapa suaranya seperti orang yang baru menangis, dia terisak dan menjawab bahwa kucingnya tiba-tiba kabur keluar rumah dan terlindas truk.

Pacarku terlalu ceroboh untuk berbohong. Seharusnya dia meng-update dulu isi otaknya dan menyiapkan alibi yang lebih logis.

Saat itu aku langsung mendatangi Yunho, sahabat karibku ketika SD sekaligus teman segrup band pacarku. Aku mendesaknya agar mau berkata jujur. Dan aku tahu, Yunho selalu lemah dengan tatapan ganasku, hingga dia menceritakan semua kronologinya. Lengkap bagai skenario film.

Ternyata pacarku dan teman segengnya mengadakan taruhan menenggak minuman, dan dia kalah minum. Ya, selama ini dia bersumpah tidak mengenal cairan yang bisa membuat orang seperti gila setelah menengguknya. Aku mempercayainya, layaknya aku percaya tak ada petir di siang hari. Namun belakangan aku tahu, kadang ada petir di siang hari. Seperti kenyataan ternyata ia sering menenggak minuman itu. Tapi sayangnya, ia termasuk peminum yang payah. Dua teguk vodka saja bisa membuatnya menggelepar di lantai sambil mengoceh tak karuan. Hingga dia mendapat hukuman untuk menggoda dan mengajak kencan dosen baru di kampus kami yang terkenal sering bersikap genit kepada mahasiwanya.

Nama dosen itu Jessica, dan aku lebih suka menyebut namanya tanpa embel-embel seonsaengnim. Sebagian besar magasiswi menyebutnya "Perawan Tua", karena di umurnya yang sudah matang, dia belum menikah meskipun sudah jelas, tidak perawan lagi. Lagaknya bak peragawati. Tidak terlalu cantik sebenarnya, hanya saja dia terlalu pintar memoles makeup tebal dan tampak sangat bangga dengan ukuran payudaranya. Saat mengajar, dia selalu mengenakan rok selutut dengan belahan tinggi dipadu blus dengan leher berpotongan rendah yang memamerkan leher dan dadanya. Mungkin dia memang sengaja mempertahankan ciri khasnya agar semua orang mulai dari para wanita di kantin hingga para pria yang kencing di toilet membicarakannya sebagai dosen seksi berpayudara dan berpaha indah. Aku ingin muntah lagi rasanya ...

Awalnya hukuman taruhan itu hanya sebatas mencium, lalu merekam dan menunjukkannya pada anggota geng sebagai bukti. Tapi misi pacarku terlalu sukses, karena tanpa digoda pun dosen genit itu sudah kepanasan sendiri hingga mereka melakukan yang lebih kreatif. Jelas saja rekaman itu membuat gengnya puas dan mereka sepakat tidak akan menunjukkan video di ponsel itu kepada siapa pun.

Tapi Yunho, salah satu anggota geng yang juga temanku terpaksa berkhianat. Dia menunjukkan rekaman itu padaku dan sukses membuatku muntah di tempat. Terlebih saat Yunho berkata, "Changmin bilang dia tak menyesal sama sekali bisa melakukan itu dengan Jessica seonsaengnim, karena dia tak bisa dapatkan itu darimu, Wook.."

"Sialan!"

Aku berteriak marah mengingat kembali kata-kata Yunho. Aku mengobrak-abrik botol dan semua benda benda yang tadinya ada di meja wastafel. Manusia-manusia tak bermoral itu sudah berani mempermainkanku. Di depanku, Changmin bersumpah berulang kali bahwa dia bukan peminum dan tak mau berselingkuh. Tapi dalam satu waktu dia menjilat sendiri ludahnya.

Aku beranjak dari toilet dan kembali ke kamar yang juga sudah obrak-abrik sama parahnya dengan kamar pacarku, tapi dia beruntung punya pembantu yang bisa membereskannya. Tapi tidak dengan kamar Jessica ini. Kasur yang sudah menjadi temat pengkhianatan itu sudah kucabik dengan pisau dapur sampai isinya terburai. Peralatan makeup-nya juga sudah kubuat berantakan dan kusemprotkan isinya di lantai dan dinding. Aku memecahkan semua benda yang trbuat dari kaca. Merobek foto Jessica dan Changmin yang kutemukan di laci, juga menggunting sambungan teleponnya. Kukeluarkan isi lemari dan kusiram dengan cat merah yang kubawa dari rumah. Dan terakhir aku menuliskan kata "BITCH" hampir di seluruh ruangan. Oh ya, aku juga sudah menuliskannya di atas kaca dan kap mobil tuanya yang terparkir di garasi. Tak lupa kuberikan pemanis berupa guratan panjang di badan mobil.

Aku tersenyum puas.

Inilah pembalasanku jika berani bermain-main denganku.

xXxXxXx

Aku jekuar dRi rumah Jessica persis dengan caraku ketika masuk Melompati jendela samping rumah seanggun lompatan kucing. Awalnya aku berniat mencongkel jendela itu dengan peralatan yang sudah kusiapkan di dalam tas ransel, tapi aku beruntung ternyata jendela itu tak terkunci, sementara penghuninya sedang tak ada di rumah karena mengikuti diklat di luar kota selama tiga hari. Sebelum aku melompati pagar tembok untuk pulang, aku melepas sekring dan memotong kabel listrik dengan tang besar. Kini tinggal kegelapan di sana.

Aku mendesah puas.

Aksi pembalasan ini sudah kurencanakan dengan baik. Mencari tahu kapan si Jessica genit itu tak ada di rumah dan mengamati keadaan rumahnya. Aku menggunakan mobil sewaan dengan nama samaran saat meminjamnya, jadi bila ada orang curiga bisa langsung terkecoh. Pakaianku berupa setelan hitam yang tertutup rapat, topi bisbol gelap yang menyembunyikan rambutku dan sarung tangan karet yang membalut tangan. Aku tak ingin meninggalkan jejak. Tapi, kalaupun kemungkinan buruk terjadi, Jessica melapor polisi dan aku tertangkap, maka aku akan balas melaporkan perbuatan mesumnya. Aku juga bisa memenjarakan dirinya sekaligus membuatnya dipecat dengan perasaan malu sampai mati.

Aku melompati tembok pagar setelah mengintip dan memastikan tak ada orang yang lewat. Pukul 21.05, kebanyakan warga perumahan menengah sudah duduk manis di ruang keluarga. Apalagi tadi hujan lebat, membuat orang lebih memilih bermalas-malasan di dalam rumah daripada keluar melewati jalanan becek.

Akhirnya aku berdiri puas di luar pagar rumah Jessica yang kini gelap gulita. Aku memilih mobil warna silver yang banyak berkeliaran di jalanan dan kerap dilihat orang, jadi tak akan ada yang curiga jika aku memarkirnya di depan sebuah rumah sekitar lima puluh meter dari rumah Jessica.

Baru beberapa langkah, seseorang menepuk pundakku.

Rasa kaget membuat ototku menegang. Sebelum keluar tadi sudah kupastikan keadaan aman, dari mana penguntit ini datang?

"Aku melihat aksimu."

Suara berat dan sedikit serak itu membuatku bergidik. Aku sudah menyiapkan nyali jika ulahku ketahuan. Tapi dimana nyaliku sekarang? Berpikir, Wook. Berpikir!

Baru saja aku berniat mengelak lalu berlari saat cengkeraman kuat itu mencekal tanganku dan membuatku berbalik menghadapnya. Seorang lelaki hitamnya basah dan berantakan. Sebagian rambut lembab mengerikan itu jatuh menutupi wajah yang tampak lusuh. Brewok tebalnya membuatku tambah ketakutan. Baju yang dipakainya sama lusuh dengan wajahnya serta mengeluarkan aroma keringat busuk. Sepatu berlumpurnya membuatku kehilangan nyali.

Ya ampun, kenapa aku harus kepergok oleh orang bertampang penjahat begini?

"Aku punya bukti," katanya sambil mengangkat kamera ke arahku.

"Hah! Kau merekamnya?" desisku antara terkejut dan marah. Bagaimana orang ini bisa masuk tanpa sepengetahuanku? Oh... atau dia masuk lebih dulu dan bermaksud mencuri tapi usahanya gagal karena aku masuk? Dan sekarang dia ganti memerasku? Pantas saja jendela itu sudah, tak terkunci, sudah tercongkel. Perbuatannya, ternyata. Oke, terima kasih telah membantuku sedikit. Aku menarik napas, berpura-pura tenang, "Kau mau melaporkan aku? Aku juga bisa bilang pada polisi, bahwa kau juga mau mencuri."

Laki-laki itu menyeringai, mengejekku. Benar-benar seram. "Silahkan saja. Tapi kau anak artis terkenal dan anggota pemerintahan, bagaimana pendapat orang nanti? "

Aku bergidik melihat kilatan jahat di matanya. Otakku berpikir keras. Bagaimana mungkin tampang penjahat sepertinya bisa menyukai acara infotainment. Memang minggu lalu salah satu reality show menayangkan episode tentang rumah dan keluargaku. Eomma baru mendapat penghargaan artis senior terbaik dan film yang diproduserinya pun sukses hingga menjadi sorotan media. Apa penjahat ini mengenal aku dari tayangan itu? Hebat sekali dia. Bisa langsung mengenaliku, padahal aku sudah menyembunyikan rambutku.

"Kau salah orang!" elakku.

Dia tersenyum licik seperti merendahkanku. "Mataku cukup tajam untuk bisa mengenalimu."

"Jadi, apa maumu? Memerasku? " tantangku, berlagak tak takut. Aku harus tenang, karena bertindak gegabah bisa membuat orang gila ini nekat.

"Kau bawa motor? mobil? "

Uh, pintar juga. Sehabis memerasku dia langsung kabur. Sekelebat ide cemerlang melesat di otakku. "Oke tak masalah. Aku serahkan mobilku padamu dan kau serahkan kamera itu padaku." Aku berusaha melepaskan cengkeramannya tapi dia terlalu kuat.

"Mobil? Bagus! " Dia menoleh ke belakang seperti mencari sesuatu. Apa dia mencari barang hasil curiannya dari rumah Jessica? "Kau harus membawaku pergi dari sini, " katanya dengan nada memerintah.

Aku melongo saat ia tergesa-gesa menyeretku. Astaga, aku bodoh pangkat idiot! Tanpa sadar gerakan tanganku saat menyebut kata "mobil" sama saja dengan menunjukkan letak mobilku.

Sekarang apa yang akan terjadi? Apa dia akan membunuhku di dalam mobil dan memutilasiku atau memerkosaku dulu?

"Damn!" makinya entah pada siapa. "Mereka tahu. Cepat pergi dari sini! " perintahnya saat kami tiba di dekat mobil yang kuparkir.

Aku masih bingung, tapi entah kenapa aku seperti terhipnotis suaranya. Dengan gerakan cepat aku membuka pintu mobil lalu duduk siaga di balik kemudi. Lelaki itu juga lompat masuk dan duduk di sebelahku. Kali ini aku bisa melihat raut khawatir di tengah brewok lebatnya.

"Cepat jalan!" perintahnya galak.

"Apa-apaan ini? Kau tadi meminta mobilku kan? Ini! Ambil saja, tapi serahkan dulu kameramu lalu aku akan turun," tawarku. Aku yakin, Appa tak akan keberatan mengurus ganti rugi jika aku katakan mobil yang kusewa dirampok penjahat. Appa lebih menghargai nyawaku.

"Aku tak mau mobilmu. Aku mau kau cepat menjalankan mobil ini sudah sebelum orang-orang itu membunuh kita, " katanya marah dan tak sabaran.

"Membunuh? " Aku melirik ke spion. Di belakang sana ada dua orang yang berlari ke arah mobilku, bertriak tak jelas sambil mengacung-acungkan... "Hah, parang? "

"Ya, dan beberapa orang di dalam mobil membawa pistol, " terangnya cepat.

Aku melirik spion lagi, dari kejauhan terlihat van yang meluncur cukup kencang. "Sialan! Siapa kau ini? "

Kam beradu tatapan curiga sebelum aku memutar kunci dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban berdecit nyaring ketika dengan kecepatan tinggi aku berbelok tajam ke jalan utama yang mulai sepi. Tubuhnya nyaris terbanting ke kanan, tapi ia, tak protes karena van itu semakin mendekat dan tampak semakin ganas. Aku melirik lelaki itu sekilas, matanya menatap tajam ke depan sedangkan tangannya berpegangan erat pada jok dan pegangan di atas kepalanya. Sepertinya ia benar-benar penjahat. Dan orang-orang di belakang itu pasti mafia yang mengejarnya. Tapi ini Korea Selatan kan? Bukan Hongkong yang penuh mafia seperti di televisi kan?

Van di belakang itu terus bergerak cepat dan tahu-tahu sudah menjajariku. Salah satu kaca jendelanya turun dan seorang lelaki bertampang preman berteriak marah sambil mengacungkan pistol. Apa dia akan menembaki mobilku? Aku yakin ia tak berani karena beberapa orang yang nongkrong di warung tenda pinggir jalan akan berteriak histeris membangunkan seluruh kota. Dari gerakan tangannya aku tahu mereka menyuruh menepi. Sial. Menepi atau terus. Sudah jelas mereka akan membunuhku juga karena aku telah menyelamatkan pria bewok ini dan menjadi saksi yang melihat mereka membawa parang dan pistol begitu santainya. Pilihanku?

Tentu saja terus.

Kalau memang akan mati, setidaknya aku ingin mati denga cara menyenangkan.

"Kau harus cepat! " semburnya.

"Aku tahu, bodoh!" semburku tak kalah garang.

Aku memindahkan perseneling dan menginjak gas, lumayan gesit juga mobilku berhasil menghindar pepetan mereka. Untung saja dulu aku pernah mencoba balapan dengan teman SMA-ku, dan jalanan malam yang lumayan ramai di daerah pusat kota menyulitkan mereka untuk menyelip dan mengejar. Aku tak memikirkan lagi mana pedal gas, mana pedal rem, karena di otakku hanya berpikir untuk kabur.

"Penjahat apa sih kau ini?" teriakku gusar dan putus asa.

Ada jeda lama, kami sama-sama sibuk mengamati spion dan jalan depan. Mataku bergerak cepat menyisir keberadaan polisi lalu lintas. Aku berharap kali ini aku kena tilang karena kebut-kebutan, tapi setidaknya nyawaku bisa bersambung. Tapi sialnya, sisa hujan gerimis membuat para polisi lebih memilih berjaga di dalam pos.

Mobilku kuarahkan ke jalur padat, berusaha menyulitkan mereka.

Tiba-tiba lelaki di sebelahku bersuara. "Aku melihat sesuatu yang seharusnya tak kulihat."

Aku menanggapinya dalam diam. Untuk sat ini mencari tempat aman adalah yang terbaik. Lewat spion, aku sudah tak melihat van itu lagi. Terakhir kali posisi mereka di belakang truk bermuatan besar yang berjalan lambat, sementara di jalur kiri beberapa mobil menghambat jalan mereka. Aku mempercepat laju mobil, berusaha mengecoh mereka dengan masuk ke sebuah gang, jalur satu arah. Lalu kembali ke jalur dua dan akhirnya berbalik arah untuk masuk pintu tol. Kali ini aku yakin, mereka sudah kehilangan jejak kami. Tadi sempat ada mobil bermerk dan berwarna sama yang aku pepet dan pasti mafia bodoh itu juga tak bisa melihat plat nomor kendaraanku. Aku sengaja menggosok kaca pelindung plat nomor bagian belakang. Ah, tenyata aku cukup cerdas untuk bertnda kriminal. Semoga saja darah yang mengalir di tubuhku bukan darah keturunan kriminal.

Aku menghentikan mobil di tempat peristirahatan pengguna jalan tol. Ada banyak orang di sini. Seandainya orang-orang tadi atau lelaki ini menembakku, pasti akan ada yang melihat dan menolongku. Atau setidaknya menemukan mayatku lebih cepat.

Kami menghembuskan napas lega bersamaan, membuatku sedikit kaget.

Akhirnya dia bicara duluan, sambil tersenyum kecut. "Kau pasti punya SIM khusu untuk bisa membalap seperti itu."

"Apa yang mesti kita lakukan sekarang?" tanyaku getir, tak memerdulikan komentar barusan.

"Kau bahkan membantuku tetap hidup," suaranya melemah.

Aku langsung membulat dan menatapnya. "Aku sudah menyelamatkanmu dengan mempraktikkan adegan The Fast and The Furious, tahu? Dan kau masih hidup. Jadi sekarang, aku mau pulang dan tidur. Anggap saja kejadian tadi adalah mimpi terburukku sepanjang masa."

"Oke. Besok pagi aku akan ke kantor polisi dan stasiun televisi untuk menyebarkan aksimu di dalam rumah tadi. Akhir-akhir ini memang banyak artis yang berulah, bertambah satu lagi pasti menarik." Dia melihat pemandangan di luar mobil dengan gaya cuek, seakan tahu bahwa kata-katanya itu membuatku kalah telak. Aku ingin sekali membunuh lelaki ini sekarang juga.

"Kau tak akan bisa melakukannya."

Dia menoleh ke arahku dengan tatapan yakin. "Tentu saja bisa. Sebelum mereka menangkap dan membunuhku, aku ingin bersenang-senang dulu selagi bisa. Keberuntungan sekaligus kesialanku... aku punya bukti."

Aku mencengkeram setir kuat-kuat hingga kuku panjangku terasa menusuk telapak tangan. Aku menjerit frustasi. Rencana pembobolan rumah Jessica memang berhasil tapi kebodohanku adalah tak memikirkan rencana pulang dengan selamat.

Aku memasang tampang ramah dan tersenyum dibuat-buat. "Jadi, bagaimana caraku untuk tetap membuatmu hidup?"

"Bawa aku ke tempatmu."

Tampang dan senyum ramahku hilang seketika.

TBC

Update lumayan kilat ya kali ini. hehehe

Terima kasih buat yang udah sempet baca apalagi yang review, follow ataupun favorit kan ff ini.

See you..