"Uh~ selamat datang, maaf aku ketiduran." Lirih Naruto sambil mengumpulkan kesadarannya.
Sosok itu mengucek matanya yang masih terasa berat, tapi ia harus sopan pada teman sekamarnya. Uh~ pose Naruto saat ini sungguh menggemaskan bagi Sasuke.
Like a Girl?
Naruto © Masashi Kishimoto
I don't own all chara in this story, but
I claimed this story.
Warning!
Cerita ini mengandung unsur yang tak pantas anak dibawah ini baca, typo bertebaran, OOC, yaoi content, bishounen boy, BL, calm!Naru, sangar!saku, miss typo, etc.
Harap pahami peringatan diatas sebelum anda membaca fanfic ini.
Segala keputusan ada ditangan reader.
"Blablabla" talk
'Blablabla' mind
"Blablabla" via telepon
Chapter 2
Sasuke memandang Naruto dengan pandangan terpesona, namun masih dalam tatapan datarnya. Well, pemuda pirang didepannya telah mengambil seluruh fokusnya saat ini. lihatlah mata biru bundarnya yang masih memandang dirinya dengan tatapan sayu, menahan kantuk. Sekali-kali pemuda berambut pirang itu menutup mulutnya dengan tangan, menguap pelan tetap menjaga kesopanan di depan orang lain.
"Aku pulang." Gumam Sasuke lirih, namun masih dapat didengar Sai dan Naruto yang berada disekitarnya.
Naruto tersenyum mendapat balasan atas sapaannya tadi. Paling tidak ia tak akan dibenci oleh teman sekamarnya, pikirnya polos. Memandang pria yang masih betah berdiri di depan pintu kamar asrama mereka.
"Kenapa tak masuk? Apa kalian tak kedinginan? Ini sudah malam." Kata Naruto bingung, memandang dua pemuda berkulit pucat didepan pintu yang tetap betah terdiam di pintu.
"Hn."gumam Sasuke tapi memasuki kamar asrama mereka. Mulai mengabaikan Sai yang masih pasrah namun tak terima dengan pilihan Sasuke yang sangat menawan meskipun gendernya belum ia ketahui. Mau dibilang cowok tapi terlalu cantik, mau dibilang cewek pun tak mungkin karena ini adalah asrama cowok.
Sasuke berjalan hingga ia sampai pada tempat tidur dengan sprei berwarna putih miliknya yang tengah diduduki oleh sosok pirang Naruto yang memandang senang sosok dirinya yang berdiri disampingnya.
"Jadi siapa namamu, bidadari pirang?" tanya Sasuke sedeng, menundukkan kepalanya dan berbisik lembut di telinga kanan Naruto.
"Naruto, uzumaki Naruto. Kau teman sekamarku?" Jawab Naruto dengan nada suara riang, melupakan kantuk yang masih melanda matanya. Dan tak sadar dengan ucapan sedeng Sasuke barusan.
'Sangat menggemaskan, tuhan sangat pintar dalam menciptakan makhluk seperti ini.' Batin Sasuke terpesona serta memuji ciptaan tuhan didepannya.
"Hn." Jawab Sasuke dengan gumaman tak jelas, masih terbuai dengan pikirannya.
Naruto memiringkan kepalanya, tak mengerti dengan perkataan Sasuke barusan. Mengernyitkan alisnya memandang Sasuke dengan tatapan tak mengerti. Sasuke sendiri yang mengerti dengan tanggapan bingung Naruto hanya terkekeh kecil, mengusap kepala Naruto gemas.
"Ya, Uchiha Sasuke." Kata Sasuke menjelaskan dengan lembut.
Sai yang dari tadi menatap interaksi antara Sasuke dan pemuda pirang itu hanya dapat tersenyum miris dengan nasibnya yang tak dianggap sama sekali. Sama sekali tak dihiraukan oleh Sasuke, sosok lelaki yang telah menawan hatinya sejak lama. Bahkan diperkenalkan pun tidak, dasar kejam.
Hingga Naruto menyadari eksistensi dirinya, memandang kearahnya dengan tatapan penasaran dengan mata biru bulat yang bersinar. Namun tatapan tersebut hanya sebentar karena fokus mata biru itu kembali menatap pada mata kelam Sasuke lagi.
"Jangan hiraukan dia. Hanya banci yang selalu mengekor pada buntutku." Kata Sasuke sadis benar-benar tak menganggap Sai ada disekitarnya. Sai mematung dengan perkataan Sasuke yang terdengar kejam ditelinganya.
"Dia temanmu?" tanya Naruto mengabaikan perkataan menyakitkan Sasuke.
" " Sasuke mengabaikan pertanyaan Naruto
"Atau dia teman sekamar kita juga?"
"Hn." Gumam Sasuke ogah-ogahan, malas saat melihat Sai yang dianggapnya mengganggu moment romantisnya saat ini.
'Dasar pengganggu.' Batin Sasuke kesal, memandang Sai tajam.
Ctak
"Jawab yang benar, brengsek." Teriak Naruto kesal ucapannya tak ditanggapi sama sekali. Hell! Sasuke teman sekamarnya ini sangat mengesalkan. Ia salah menilai cowok menyebalkan ini.
Levfus kit
Pagi hari dikelas 2-1 dimana tempat Sasuke menimba ilmu selama ini terasa sangat ricuh. Sekelompok anak-anak yang berada dikelas itu sedang sibuk membicarakan tingkah Sai tadi malam saat kembali keasrama dengan keadaan kacau.
Siapa sih anak SMA Konoha yang tak kenal Sai? Anak cowok yang terkenal dengan sikap centilnya untuk mendapatkan perhatian Sasuke sejak penerimaan murid baru itu terlihat menangis dengan air mata yang mengalir dengan deras di pipi pucatnya dan hidung yang memerah. Sungguh menyedihkan.
Padahal Sai jika tidak kecentilan dan bersikap biasa, dia bisa mendapatkan cowok manapun yang ada di SMA Konoha. Wajahnya cukup tampan meskipun tidak setampan Sasuke dan antek-anteknya, tapi juga tak bisa disebut jelek. Dia mempunyai bakat yang mengagumkan dalam bidang seni, serta jenius dalam menyanyi. Sosok yang bisa dibilang ideal untuk dijadikan pasangan.
Sayang, seluruh kelebihan yang ada pada diri Sai terlalu kasat mata di pandangan Sasuke yang menuntut kesempurnaan. Sasuke tak akan sudi melihat atau bahkan hanya melirik objek yang menurutnya tak sempurna. Sesempurna apapaun objek itu dimata orang lain. Sungguh manusia yang perfeksionis.
Segala keributan yang terjadi didalam kelas terhenti karena seorang guru wanita yang memiliki postur tubuh seksi dengan wajah yang manis, jangan lupakan rambut berwarna sama dengan bunga levender itu terlihat sangat lembut jika disentuh. Seorang guru kimia yang bernama Hyuuga Hinata.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Hinata lembut kepada seluruh siswa kelas 2-1.
"Selamat pagi Hinata-chan." Jawab seluruh anak kelas 2-1 minus Sasuke yang tengah membayangkan bidadari pirangnya dan Sai yang tidak masuk, serempak namun kurang ajar.
Hinata hanya mampu tersenyum kikuk saat anak-anak didiknya yang memanggilnya dengan suffix chan, matanya memandang Sasuke dengan tatapan heran. Anak bungsu dari keluarga Uchiha itu terlihat melamun saat ini.
'Kenapa lagi dengan Sasuke-kun.' Batin Hinata khawatir.
Adik dari Itachi itu jarang melamun dalam kelasnya, meskipun anak itu selalu memasang ekspresi tembok saat pelajarannya. Anak itu jarang memiliki masalah selama ia berada di lingkungan sekolah jika Sai tidak terhitung sebagai masalah dalam kehidupan Uchiha Sasuke. Tapi Hinata berusaha mengabaikan keadaan Sasuke saat ini.
.
Another place in same time
.
Kelas 2-6 SMA Konoha terlihat sangat gaduh saat di depan kelas berdiri seorang anak berwajah bishounen berambut pirang yang tengah berdiri disamping guru berwajah manis dengan luka melintang di hidungnya. Sungguh dua makhluk yang dapat menggemparkan kelas 2-6 yang berisi anak cowok bosan hidup dalam melaksanakan proses kegiatan belajar dan mengajar.
"U-uzumaki Naruto, salam kenal." Kata anak berambut pirang tadi memperkenalkan diri dengan gugup, melihat tatapan mupeng anak-anak cowok dalam ruangan itu.
'Tatapan mereka sangat mengerikan.' Batin Naruto ngeri.
"Woaaaa manis sekali."
"Salam kenal, Naru-chan."
"Kawaii, aku mau jadi semenya."
"Wow dia uke idamanku."
"Shit! tubuhnya sangat menggoda."
"Ck aku ingin mencium bibirnya."
Sungguh reaksi yang sangat mengerikan dari teman-teman barunya. Bolehkah Naruto mewek saat ini, meratapi nasibnya yang lebih mengerikan disekolah ini. baru tadi malam ia bertemu dengan pemuda gay gila yang menganggap ia bidadarinya, apakah sekarang ia akan mendapatkan pelecehan disekolah barunya saat ia belum genap sehari berada disekolah ini.
'Dasar ibu bodoh.' Rutuk Naruto dalam hati, menyalahkan ibunya yang memasukkan anaknya ke dalam sekolah berisi siswa yang tak waras. Apa ibunya ingin anaknya benar-benar belok ke jalan sesat author. Terkutuklah ibunya dan pihak yang membuat hidupnya seperti ini.
"Nah, kau bisa duduk di samping Haku." Perintah guru berwajah manis dengan tag-name Umino Iruka.
Naruto memandang seluruh anak-anak di kelas barunya itu. hell! Lihatlah tatapan lapar dan memuja mereka sangat mengganggu ketentraman batinnya hingga Naruto melihat seorang anak laki-laki berambut hitam panjang mengangkat tangannya. Wajah anak itu terlihat cantik dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
'Paling tidak tak semua anak kelas itu berpikiran mesum.' Syukur Naruto dalam hati melihat pemuda cantik itu yang masih terlihat normal diantara siswa aneh dikelas ini.
Naruto berjalan kearah siswa bernama Haku yang masih mengangkat tangannya. Duduk di kursi samping tembok dan Haku yang kosong. Tersenyum canggung dengan siswa cantik disampingnya berusaha bersikap ramah.
"Haku, tanpa marga. Salam kenal, Naru-chan." Sapa Haku memperkenalkan diri pada neruto.
"Uzumaki Naruto." Jawab Naruto ramah.
"Mohon bantuannya." Kata Naruto dan Haku serempak.
Lihatlah wajah tak percaya Haku dan Naruto saat mendengar perkataan mereka yang sama dan diwaktu yang bersamaan. Wajah Naruto menunduk dengan ekspresi malu pada wajahnya, ah spontanitasnya terasa memalukan bagi Naruto. Hingga ia mendengar kekehan geli dari arah sampingnya, apa Haku menertawakannya? Tapi wajah pemuda itu tidak menunjukkan wajah menghina sama sekali.
"Iya, mohon bantuannya juga Naru-chan?" Haku memandang Naruto dengan pandangan teduh, dibalas senyuman manis Naruto.
Sungguh dua pemuda yang mempesona dimata siswa kelas 2-6 itu tak menyadari tatapan terpesona siswa kelas 2-6, seolah mereka hanya semut-semut yang berjalan di dinding.
Levfus kit
Jam istirahat yang telah berlalu beberapa menit yang lalu terasa sangat menyiksa Sasuke, hell! Kenapa banyak bences-bences yang mengerubungi dirinya saat ini. padahal saat Sai sering menempel pada dirinya tak pernah ada bences (siswa melambai) yang berani mendekat padanya. Terasa sangat menjengkelkan, karena ia tak mendapat ruang bebas yang ia inginkan. Bahkan untuk berjalan keluar dari kerumunan itu ia harus memberikan tatapan paling tajam serta mematikan pada bences-bences gila itu.
Sasuke melangkah keluar dari ruang kelasnya dengan aura yang yang suram pada tubuhnya. Mood baik yang telah ia dapatkan tadi pagi dari sosok pirang bidadarinya hilang entah kemana. Atau ia perlu memanggilnya bidadara saat sosok itu malah menggembungkan pipinya dengan mata mendelik tajam padanya tak terima, saat ia memanggil sosok Naruto dengan panggilan bidadari. Wew ekspresinya sangat imut saat itu dimatanya.
Sasuke membutuhkan mood maker saat ini, dia butuh mendongkrak moodnya yang tengah berada pada level paling bawah saat ini. Sasuke berjalan menuju atap sekolah, mengabaikan berbagai tatapan kagum serta iri seluruh siswa yang telah ia lewati. Berharap ia dapat bertemu dengan partner-in-crimenya selama ini. mungkin mereka membawa mainan baru yang bisa meningkatkan level moodnya.
Sesampainya di atap SMA Konoha, Sasuke dapat melihat beberapa anak sedang memojokkan seorang siswa dengan rambut berwarna hitam panjang dengan wajah cantik yang terlihat ketakutan dengan intimidasi anak-anak didepannya.
"What going on here?" tanya Sasuke datar.
"Yo, sas." Sapa anak berambut coklat panjang dengan mata sewarna lavender yang sama dengan guru .
"Hn."
"Tetap irit seperti biasa, pelit kata." Sahut anak dengan rambut yang dikucir tinggi layaknya buah nanas segar.
"Kalau Sasuke jadi cerewet maka langit akan runtuh." Ejek seorang pria bergigi runcing tajam, meledek sikap buruk Sasuke. Namun Suigetsu langsung beringsut kebelakang tubuh Neji saat melihat tatapan sengit Sasuke siap membunuh, aih benar-benar menakutkan.
Merasa ada seorang siswa yang dapat menyelamatkan dirinya siswa yang dari tadi merasa terintimidasi, siswa itu berusaha meminta pertolongan kepada sosok Sasuke yang mengalihkan tatapan matanya kearahnya.
'Kumohon bantu aku tuhan, aku akan melakukan kebaikan selama seminggu jika aku selamat. Dan mungkin aku akan menerima cinta Zabuza-sensei.' Doa anak itu dengan perasaan was-was, takut akan dibuli segerombolan geng biang sengsara di SMA Konoha selama ini.
"Bo-boleh kah aku kembali ke kelas senpai?" interupsi siswa cantik berambut hitam itu, takut dan gugup.
"Hn,siapa namamu?" tanya Sasuke saat melihat jelas wajah anak itu.
'Cantik. Namun lebih cantik Naruto.' Batin Sasuke menilai.
"Ha-Haku." Jawab Haku dengan nada suara gugup. Wajah Sasuke tepat berada di wajahnya, wajah itu terlihat sangat sempurna dari dekat, real prince in the world.
Haku mencoba menenangkan debaran jantungnya saat ia dapat melihat wajah aristokrat salah satu seme paling dicari di SMA Konoha saat itu juga yang menyebabkan ia benar-benar belok. Sangat mempesona tapi juga baracun.
"Uchiha-san." Panggil Haku dengan wajah gugup, melupakan perasaan was-was yang masih mengintai. Dunianya serasa terhisap pada pandangan nakal Sasuke saat ini.
"Kau tahu apa kesalahanmu, hn?" tanya Sasuke mempermainkan nada suaranya.
.
.
"Hah~ kau tak perlu menambah rasa kesalku kura-kura." Ucap Naruto jengah dengan perkataan tak berperasaan.
"Harusnya kau senang mendapat sambutan baik dari temanmu jeruk." Sahut Sakura dalam pembicaraan jarak jauh.
"Mereka benar-benar mengerikan dari pada siswa SMA Suna hi~." Protes Naruto tak terima dengan statement yang diberikan pacarnya.
"Tak semengerikan pemuda-pemuda yang sering mengajakmu kencan malam minggu kan? Terima saja jeruk. Toh dengan itu kau bisa mendapatkan banyak teman."
'Kau salah kura-kura. Mereka lebih mengerikan dari pada ajakan kencan.' Batin Naruto merana, menyandarkan badannya pada dinding di belakangnya. Sungguh ia merasa sangat tertekan saat ini, penghuni SMA ini tak ada yang bisa dibilang waras.
"Naru?" panggil Sakura saat ia tak mendapat respon dari Naruto.
"Hm. Kenapa?"
"Kau melamun, apa lebih buruk dari ajakan kencan? Apa aku perlu memberi mereka pelajaran?" tanya Sakura khawatir.
"Ah tak usah. Aku masih bisa mengatasi mereka. Bagaimana keadaan disana?" ucap Naruto berusaha mengalihkan perhatian. Sakura tak akan pernah ia biarkan melakukan kekerasan apapun alasannya.
"Tetap seperti biasa. Hell! Tadi aku mendapatkan pernyataan dari lima siswi. Apa mereka tak tahu genderku huh?" gerutu Sakura, kesal.
"Dari kouhai lagi?" tanya Naruto memastikan.
"Kakak kelas dan seangkatan kita juga."
"Hah?" Naruto syok, benar-benar syok. Ternyata tak hanya keadaannya yang parah, kura-kura kesangangannya pun mengalami keadaan yang sama parahnya. Kenapa hidup mereka tak pernah normal sehari saja, sungguh mengenaskan.
"Kau tahu Yamanaka Ino? Dari kelas 2-1."
"Gadis seksi yang pakaiannya sangat menggoda itu" ucap Naruto membayangkan gadis pirang dengan dada wow dan pakaian super pendek.
"Iya, gadis centil itu."
"Ada apa dengannya?" tanya Naruto penasaran.
"Dia tadi menyatakan perasaanya padaku. Dia bahkan berani menciumku, dibibir." Kata Sakura enteng.
'Fuck you, gadis genit!' maki Naruto dalam hati. Jangan bilang gadis itu berusaha membelokkan kekasihnya saat ini. mati saja kau jika berani melakukannya, kalau perlu dengan tangannya. Tak peduli ia akan dikuliti deidara, kakak gadis itu.
"Kau tidak affair dengannya kan?" geram Naruto saat ini, posesif.
"Ck, jangan bercanda. Aku masih sangat mencintaimu." Jawab Sakura tegas.
Yeah, mereka tak akan pernah mau berpisah dengan alasan konyol seperti selingkuh, untuk saat ini.
"Baguslah, aku akan pegang perkataanmu kura-kura." Kata Naruto lega, tak setegang beberapa menit yang lalu.
"Bring it on. Aku rasa sampai disini dulu jeruk, ada tikus yang berusaha menggangguku."
"dasar preman. Usahakan jangan sampai kau lecet, kau cewek. Ingat itu." Maklum dengan perilaku brutal kekasihnya.
"Ya ya ya, cewek gak boleh punya luka lebam. Bye jeruk."
"Hm."
Benar kan, Sakura semakin brutal tanpa adanya pengawasannya. Gadis itu sungguh sangat susah untuk bersikap layaknya cewek normal, dandan ataupun bersikap lemah lembut. Nah ini malah ngajak berantem, dasar preman.
Bicara soal sikap lemah lembut, ia jadi teringat dengan teman satu bangkunya. Naruto lupa dengan cowok cantik itu. Mereka kan berjanji akan menghabiskan jam istirahat di atap sekolah. Mungkin Haku sudah berada di atap saat ini, menunggunya dengan berbagai macam sumpah serapah untuknya, Naruto terlalu lama telfon dengan Sakura.
'Kata Haku belok kiri, lalu naik.' Pikir Naruto mengingat perkataan Haku tadi.
"Kenapa tadi aku tidak meminta nomor Haku saja. Ck dasar Naruto bodoh." Gerutu Naruto, menyesal.
Naruto berhenti didepan tangga menuju keatas yang ia perkirakan adalah atap. Ia melangkah dengan pelan hingga ia mencapai depan pintu atap itu.
"Kau tahu apa kesalahanmu, hn?"
Naruto sepertinya pernah mendengar suara bariton itu. Bukankah ini suara anak ayam itu, apa yang sedang ia lakuakan di atap. Bukankah Haku juga berada disana, atau jangan-jangan Haku sudah pergi karena ia terlalu lama. Aih Naruto merasa bersalah pada Haku.
.
Sasuke memandang Haku dengan pandangan nakal namun berbahaya. Well! Mungkin anak ini bisa ia buat pelampiasan atas rasa badmood yang melandanya saat ini.
"Kau diam berarti tahu." Putus Sasuke.
"Ma-maaf Uchiha-san. Aku tak tahu jika ka-kalian akan menggunakan tempat ini hari ini." elak Haku, mencari alasan.
Sasuke memandang teman-temannya, memberi sinyal untuk mempermainkan Haku saat ini. peduli dengan guru seni pedang yang mengincar siswa cantik ini. baginya tak ada yang dapat menghalangi kemauannya.
"Kau tahu tempat ini adalah tempat nongkrong kami bukan?" Sahut Shikamaru malas, namun licik.
"I-iya."
"Kau harus mendapatkan hukumanmu bishie." Kata Neji menakut-nakuti.
Haku hanya dapat menelan ludah gugup saat ini. Haku menatap Sasuke, Neji dan shikamaru dengan pandangan takut. Shit! Diasudah menggali lubang kubur sendiri jika ia membuat masalah dengan tiga manusia super ini. super biang kerok dan super mesum, mereka terkenal playboy.
'Huwee mama, Haku akan mati muda.' Batin Haku tersiksa, lahir dan batin.
"Kau harus menghabiskan satu malam dengan kami eh?" titah Sasuke sadis.
Haku membelakakan matanya, terkejut. Matilah ia, Sasuke tak akan membebaskan korbannya hingga ia puas membuluinya. Bahkan dulu sampai ada anak yang koma sampai satu bulan. Dia menderita patah tulang disana-sini serta memar parah pada tubuhnya. Hell! Ia lebih memilih dijadikan kekasih mantan preman, Zabuza.
Cklek
"Aku rasa tempat ini terbuka untuk umum, anak ayam?" kata Naruto yang mulai jengah dengan sikap kurang ajar Sasuke dkk saat ini. tak tahukah mereka jika alasan mereka menghukum anak dengan alasan berada di tempat mereka biasa nongkrong itu sangat konyol.
Sasuke memandang sinis pemuda yang berada di belakang Neji dan shikamaru. Dia sedang butuh pendongkrak mood saat ini, bukannya perusak mood lagi saat ia mendapat korban. Ck mengganggu saja. Sedangkan Hakudalamhati sudah sujud syukur mendapat pertolongan disaat genting seperti ini, meskipun wajahnya hanya menampakkan ekspresi lega.
"Apa maumu huh? Menggantikan hukumannya hn?" tantang Sasuke, belum sadar jika sosok pengacau itu adalah bidadarinya.
"Hukuman? Memangnya kau siapa? Aparat keamanan?" sahut Naruto.
"Lebih dari itu." Kata Sasuke sinis.
"Mati saja kau anak ayam." Teriak Naruto jengkel, anak ayam satu ini benar-benar sinting. Apa Sasuke menganggap ia adalah raja ditempat ini, hingga ia bisa seenak hati menghukum siswa seenak rambut ayamnya.
Shikamaru yang dari tadi melihat perdebatan antara teman dan siswa laki-laki itu hanya mengerjap mata, kagum. Baru saja mereka mendengar Sasuke the big one and most wanted seme dihina oleh siswa berawajah uke sejati. Harus diabadikan, pikir mereka sinting.
"Na-Naru." Kata Haku tak percaya saat melihat Naruto mendekat pada mereka. Wew anak itu berani sekali menentang penguasa sekolah ini sebagai anak baru.
Sasuke yang mengenal penggilan sayang bidadri tercinta hanya menampakkan seringai setan. Aih jodoh memang tak akan kemana, saat ia membutuhkan pelampiasan bad mood malah yang datang adalah sosok mood maker tercinta.
"Kau kangen padaku, hingga kau datang kesini hm? Aku tak tahu kau sebegitu ngebetnya my angel." Ucap Sasuke gombal. Naruto yang mendengarnya menahan amarah dalam hati, untuk apa ia kangen pada anak ayam itu. Dasar gila.
Shikamaru dan Neji memandang Sasuke tak percaya. What the hell! Sasuke mulai sarap. Sejak kapan anak itu menggombal pada siswa, yang ada Sasuke Sasuke yang sering digombalin sama bences-bences.
"Sas, kau belum gila kan?" tanya Neji mulai khawatir pada sikap Sasuke.
"Kau jangan membuat kami repot sas, rumah sakit jiwa sangat jauh dari sini." Kata shikamaru sama khawatirnya sama otak miring Sasuke saat ini. yang dibalas anggukan Suigetsu, menyetujui.
Sasuke mengabaikan kedua teman dan mantan-calon-korbannya. Mereka bagaikan butiran debu jika ada sosok Naruto saat ini, bidadari tercantik menurut otak konslet Sasuke.
"Kau tak berhak menghukum siswa seenak otakmu, brengsek." Semprot Naruto ngotot.
"Kalau begitu aku harus menghukum siapa hn?" kata Sasuke sabar, keluar dari sikap tak sabaran miliknya. Untuk Naruto ia akan melakukan apapun, right?
Naruto bingung mau menjawab apa, dia hanya memandang Sasuke sengit. Berbanding terbalik dengan Naruto yang kalap, Sasuke tetap stay calm.
"Bagaimana kalau kau saja yang aku hukum, my angel?" tawar Sasuke, menarik tangan Naruto semakin mendekat kearahnya.
Sasuke mengecup bibir Naruto lembut, memeluk pinggang ramping Naruto yang masih terkaget-keget. Merasa Naruto tak menolak ciumannya, Sasuke tak hanya sekedar mengecup bibir Naruto saja. Sasuke mulai melumat bibir bawah Naruto tak sabaran, terbawa nafsu.
'Oh god! Bibir Naruto benar-benar membuatnya bernafsu. Bagaimana dengan tubuhnya?' pikir Sasuke mesum.
Tbc
Huft~ akhirnya kelar juga. Apakah mengecewakan atau kurang panjang?
Maaf kit baru bisa upload ch 2 hari ini, dikarenakan modem tak bisa berfungsi dua hari yang lalu. Padahal naskah tinggal di upload.
Untuk review, kit sangat menyesal tidak bisa membalasnya kemarin karena alasan diatas. Modem gak ada, eh malah si andro ikutan ngambek. Ngeboot-loop lagi, ilang sudah seluruh kontak temen #plak *ditampol sandal gara-gara curcol*
Terima kasih review reader semua, menandakan jika kalian cayang aku huehehe #duak. Kritik dan saran author coba terima dengan lapang dahi sakura-sikura-kura-ninja. Mungkin disini ada beberapa saran reader yang kit kabulin, selamat ne?
Last word dari kit.
Mind to review minna-san?
*bows*
