Yang namanya anak kecil itu polos, sepolos kertas putih yang belum terkena tinta manapun. Hanya terkadang, ada pihak yang membuat kertas itu tercoret sejak awal. Dan entah tinta apa yang telah mereka goreskan pada dua anak polos itu sehingga keduanya berbelok menuju jalan humu...

.

.

.

.

Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Title : Innocent Kids

Pair : Riren

Rated : T

Warning : AU, BL, gajenya semena-mena, TIDAK UNTUK DITIRU WKWKWK, typo berserakan, bahasa non-baku, ooc tingkat dewa, dibuat untuk seneng-seneng.

Saya menerima kritik saran yang membangun ^_^

Happy Reading!

.

.

.

.

.

.

Bisa kau lihat tiga ibu-ibu bergerombol di dalam rumah salah satu dari mereka? Ketiganya membuat satu lingkaran kecil, dengan kamera yang tepat di tengah-tengah mereka. Si ibu kacamata mengangkat dagunya dengan bangga, hidungnya kembang-kempis dengan ganas. Yang satu berambut hitam panjang dan di ikat pinggir sedang asyik melotot dan menyentuh kedua pipinya yang memerah. Sementara satu ibu-ibu yang paling muda berambut coklat madu sedang banjir darah di hidung. Ah, memang dia satu-satunya yang baru melihat sesuatu yang terdapat dalam sebuah kamera.

Memangnya apa sih yang ada di kamera itu?

"KYAAAAAAAAAAAA!" si ibu rambut coklat madu berteriak riang gembira saat melihat adegan absurd bocah-bocah tempo hari. "KAWAIII!" lanjutnya sambil mimisan.

"Benar kan apa kataku? Aaah kita akan segera berbesanan, Carla!" seru Hanji.

"Betapaaa~ bahagianyaaaa~ berbesanan dengan~ seorang fujoshi~ beeetaapaaaaa~ bahagianyaaaa~ asupanpun, terpenuhiiii~~~" (nyanyikan pake nada lagu persahabatan - sherina) Hanji dan Carla saling merangkul, lalu melambai-lambaikan tangan dengan absurdnya.

"Aku ikut berbahagia, kawan..." Petra mengusap setitik airmatanya.

"Terimakasih, kawan" jawab Carla. "Oh iya. Bagaimana dengan Jean? Apakah terlihat sesuatu? Apakah sudah ada tanda-tanda?"

"Jean seperti ayahnya. Jean memang menyebalkan, dia jutek dan galak. Aku kan ingin menantu yang shota." Petra manyun di tempat mengingat kelakuan Jean yang beringas seperti Auruo, suaminya.

Ya masa iya Jean tega menyeruduk Armin yang sedang asyik menggambar sampai terjengkang kebelakang?

Apakah ada yang percaya? Petra pun awalnya tak percaya, tapi Annie, si bocah pirang yang galak mengatakannya dengan ekspresi murka luarbinasa melihat Armin menangis kencang karena kesakitan.

Padahal Armin adalah sasaran Petra untuk menjadi menantunya.

Dan padahal, Jean cuma nyari perhatian Armin. Tapi caranya saja yang salah.

Ternyata anaknya Petra humu dari sananya.

"Ya ampun, semoga kau mengikuti jejak kami ya, Petra" ucap Carla. Doa paling nista sejagad raya.

"Iya. Eh, ngomong-ngomong... dimana RivaEre?"

Carla melihat jam. Sudah pukul empat sore lewat. Saatnya Eren mandi.

"Mereka sedang bermain di kamar Eren. Bermain apa? Akupun tidak tahu. Hanji, sudah pukul empat. Aku harus memandikan Eren!"

"Rivaille juga harus mandi!" pekik Hanji sambil meremas rambutnya.

"Bagaimana kalau mereka mandi bersama?"

Hanji dan Carla terdiam mendengar usulan kampret dari Petra. Sedetik kemudian seringaian serigala terbit di bibir mereka berdua sambil mengacungkan jempol.

.

.

.

.

.

"Bunda, ayah mau kopi." suara Rivaille yang serak-serah basah sejak masih kecil itu mengudara di kamar Eren. Dengan sok dewasa, Rivaille ongkang-ongkang kaki di depan meja dengan setumpuk buku gambar di atasnya.

Ceritanya jadi bos gitu?

Eren, si balita manis kita mengangguk. "iiyya ayyah. unda uat koppi."

Eren menuangkan kopi imajiner dari teko mainan ke dalam cangkir mini dari plastik. Ia mengaduknya perlahan dengan sendok, lalu membawanya ke hadapan Rivaille yang ceritanya lagi sibuk ngerjain tugas kantor.

"Telimakacih, cayang..." ucap Rivaille setelah mencium pipi tembem 'istri'nya.

Eren nyengir ke sekian kalinya karena tergelitik oleh kecupan-kecupan sang 'suami'.

"Oh, Icabel nangis, ayyah!" dengan tergopoh, Eren mendekati boneka bayi perempuan di dekat kasur. Boneka itu berambut merah, dengan mata besar berwarna hijau. Mirip dengan mata Eren.

"Hhsshhhh.. jangan nangis icabel... hhhsshhh" Eren menimang-nimang Isabel dengan penuh kasih sayang. Dielus, dikecup, dipeluk. Seakan-akan boneka Isabel benar-benar menangis.

"Icabel haus, bunda. Kasih susu." ucap Rivaille.

"Icabel mau mimi cucu, hnnghh?" Eren mengangkat kaosnya sampai ke dada. Lalu ia arahkan Isabel menuju dadanya.

OH.

OHH.

OHHHHH. Eren memberi Isabel ASI. Pintar sekali, bukan?

Memang istri idaman dia.

Rivaille memerhatikan dari belakang. Rasanya ia pernah melihat ibu dan ayahnya dalam posisi seperti Eren dan Isabel. Ibunya mengangkat kaosnya, lalu ayahnya-

Cukup. Author tidak sanggup menulis kebejatan pikiran bocah bersurai hitam ini.

"Ayyah, icabel cudah bobo." Eren tersenyum bangga sudah membuat anak mereka tidur dengan nyaman.

Tapi Eren lupa menurunkan kaosnya kembali seperti semula. Membuat dada dan perutnya terlihat kemana-mana.

Rivaille menyusun tumpukan buku gambarnya dengan rapi, lalu menarik tangan Eren menuju kasur.

"Yasudah. Kalena Icabel sudah tidul, kita juga tidul." ajak Rivaille.

"Hum! Unda ngantuk, ayyah." pernyataan Eren sama persis dengan yang Hanji katakan dulu. Rivaille ingat, saat itu Hanji dan Erwin mengajaknya tidur, dan Hanji berkata mengantuk, tapi nyatanya tengah malam mereka malah membuka baju.

Rivaille kepikiran. Sekaligus penasaran.

Jadi jangan salahkan Rivaille kalau sekarang ia dan Eren sudah berada di atas ranjang, dengan posisi tumpang tindih. Hampir saja Rivaille membukakan baju Eren kalau saja ketiga emak fujoshi tidak datang mengganggu.

...

Rivaille dan Eren. Di atas ranjang, Rivaille diatas Eren dibawah. Dengan Rivaille yang hampir membuka baju Eren.

OHHHHHHHH

Petra istighfar sebanyak-banyaknya. Carla menutup wajahnya yang tidak kuat melihat anaknya yang hampir digrepe. Sementara Hanji sudah ngakak liar.

"OWAHAHAAHAHAHAHAHA RIVAILLE KAU AGRESIF SEKALI TOLONG." Hanji menggebuk pintu membabi buta.

Bukannya memarahi anaknya yang berbuat tidak senonoh, Hanji malah bangga karenanya.

"Eren, kamu pasrah sekali, nak... kamu memang anak mama." Carla juga sama saja rupanya.

"ASDJKLASDJKLASDJKLASDJKLASDJKL " Petra lebih parah lagi. Mungkin bahasa seperti itu hanya dimengerti oleh sesamanya. Sesama fujo maksudnya.

Eren dan Rivaille bingung dengan kelakuan tiga ibu-ibu di depannya.

"Mama apacih? ganggu aja!" kata Rivaille kesal sambil melipat kedua tangan di dadanya.

"Mama.. Unda.. hehehehehe" Eren lagi-lagi nyengir bahagia. Entah karena kedatangan ibu dan gurunya, atau karena kepergok lagi anuanu sama Rivaille.

Hanji mendekat, menggendong Eren yang bajunya masih berantakan. "Memangnya tadi kalian sedang bermain apa, hm? Serius sekali sampai tidak mau diganggu." Hanji gemas, lalu mencium pipi Eren.

Oops. Rivaille mengeluarkan aura hitam yang menakutkan.

"main ayyah-unnda." kata Eren polos.

HA?

"maksudnya?" Petra bertanya pada Rivaille yang menatap mereka dengan aneh.

"Tadi Livail sama Elen main ayah-bunda. Livail jadi ayah, Elen jadi bundanya." jawab Rivaille jujur. Ia lalu menunjuk boneka Isabel yang ada di sebelahnya.

"Tadi Icabel ceritanya nangis, mau minum susu. Telus Elen susuin Icabel. Telus icabel bobo."

"Livail inget mama dulu pelnah ajak papa tidul waktu Livail abis di susuin, tapi mama malah buka baju sama papa. telus tindih-tindihan. Aku kan juga mau sama Elen biar sama kaya mama sama papa."

Carla dan Petra nengok berjamaah ke arah Hanji. Hanji nyengir kuda, lalu kedip-kedip inosen.

Astaganagahomohominah.

Carla dan Petra tidak habis pikir, turunan dari mana otak mesum Rivaille ini berasal?

"Aha.. ahahaha... AHAHAHAHAHAHAHA." Hanji ngakak ragu-ragu. Ragu karena sebenarnya dia bingung apakah semua ini patut ditertawakan atau tidak.

'sepertinya kalau anakmu jadi ukenya Rivaille, dia pasti dibobol tiap hari' bisik Petra.

'Rivaille itu seme agresif, sepertinya kalau sudah dewasa dia bakal mesum dan perkasa' balas Carla.

.

.

.

.

.

Dan disinilah Rivaille dan Eren sekarang. Di dalam kamar mandi, bugil, duduk dalam bathtub diisi air hangat yg berbusa, lalu main bebek karet.

Jangan lupakan Handycam di sudut kamar mandi yang merekam semua gerak-gerik dua bocah di sana.

Eren heboh kecipak-kecipuk dengan bebek karetnya, ia tertawa lebar saking senangnya mandi bareng Rivaille.

"iivai, nii.." Eren memberikan induk bebek karet pada Rivaille.

Rivaille menerimanya dengan senang hati. Ia memerhatikan Eren yang tertawa sambil mencium anak bebek karet.

Giginya belum tumbuh semua. Bola matanya yang sebesar bola pimpong itu bersinar, menyita perhatian Rivaille. Buih-buih sabun menempel di pipi, rambut dan seluruh tubuhnya. Eren jadi licin bagai belut.

Eren berdiri, hendak mengambil sabun bergambar titan kolosal yang lagi sabunan.

Rivaille memerhatikan sesuatu di tubuh Eren. Dan Rivaille baru sadar.

Kata mama, Rivaille itu laki-laki. Tandanya laki-laki adalah punya 'sesuatu' seperti burung di bawah perutnya. Rivaille mengangguk, ia punya burung seperti punya papanya, meskipun Rivaille selalu takut melihat burung papanya yang besar luarbiasa. Meski begitu, Rivaille benar-benar laki-laki.

Dan sekarang Rivaille melihat Eren juga punya burung. Tapi kenapa burung Eren kecil?

Rivaille tidak mengerti. Ia tatap burungnya, lalu ia menatap burung Eren. Tatap burungnya sendiri, lalu tatap burung Eren. Begitu berulang-ulang.

Rivaille masih penasaran. Rivaille juga ingin menyentuhnya.

Jadi jangan salahkan kekepoan Rivaille yang semena-mena kalau sekarang dia menyentuh burung Eren.

"Hiiiiiyyy iivai, geyiiiii." Eren menutup wajahnya dengan tangan, ia kegelian saat miliknya disentuh.

"?" Rivaille bingung dengan respon Eren yang kegelian. Jadi dia pegang burung Eren, lalu Rivaille elus dan ia perhatikan dengan seksama.

'kok beda, ya?' batinnya kepo.

Eren menggeliat gelisah, mendorong-dorong tubuh Rivaille yang menjulang dihadapannya.

"Hnnngghhh, iivai.." erangnya geli. Wajah Eren memerah, kegelian membuatnya ingin menangis.

"udahh... iivai canahh.." mata Eren berkaca-kaca. Eren meronta, memukul tangan Rivaille dengan tangannya yang mungil.

Tapi Rivaille malah asyik mengelus dan membandingkan milik Eren dengan miliknya sendiri.

Tak lama kemudian Eren menangis meraung-raung. Rivaille yang kaget karena Eren menangis, langsung menghentikan kegiatan grepenya yang sungguh tidak senonoh.

"Huuwwwaaaaaa... Mamaaaaaaaaa..." tangis Eren pecah. Rivaille menyesal setengah mati.

"Sssstttttt, Elen jangan nangis. Sssstt maapin Livail yah?"

Eren tetap meraung.

"Kenapa!? Ada apa!?" Carla langsung datang setelah mendengar Eren menangis, disusul Petra dan Hanji yang tadi lagi makan bakso.

"Bibi..." Rivaille yang menyesal ikut menangis. Ia sedih karena sudah membuat ukenya menangis.

"Ssstttt, kalian kenapa?" Carla kebingungan. Dilihatnya tubuh Eren dan Rivaille tidak ada luka sedikitpun. Ia peluk anaknya yang masih menangis, lalu mencium keningnya dengan sayang.

"Sssttt anak mama yang tampan, jangan menangis ya? Eren kan jagoan. Ayo sini mandinya sudah selesai. Sini mama bilas."

Hanji mencium sesuatu yang janggal. Pasti ada apa-apa.

"Kamu kenapa, sayang? Jatuh? Sini mana yang sakit?" Hanji mengguyur Rivaille dengan air hangat, membilas tubuhnya dari sisa buih yang masih menempel.

Rivaille yang menangis dalam diam hanya menggeleng.

Petra menyambar handuk di belakang pintu. Sebagai guru Paud kedua anak ini, dia sangat merasa khawatir bila sesuatu terjadi pada mereka. Jadi biarpun dia bukan ibu kandung Eren dan Rivaille, ia sudah menganggap mereka sebagai anak sendiri.

"Carla, Hanji, kalian duluan saja ke kamar. Lihat siapa tahu Eren dan Rivaille jatuh, lalu ada luka atau lebam. Biar aku yang membersihkan kamar mandinya."

Hanji mengangguk. Carla mengucapkan terimakasih.

Setelah kedua ibu itu membawa dua anak mereka ke kamar, Petra mulai membereskan kamar mandi yang berantakan. Shampoo dan sabun cair berserakan, ada handuk basah yang jatuh di sudut kamar mandi.

Sudut kamar mandi.

OH IYA. KAN ADA HANDYCAM!

Petra mengambil Handycam di sudut ruangan, menekan beberapa tombol untuk menyimpan rekaman barusan.

Ini dia, rekaman Rivaille dan Eren yang sedang mandi. Petra lalu memutar rekaman tersebut.

Awalnya sih Petra adem ayem menonton, ia bahkan menonton sambil menguras bathtub yang tadi sudah dipakai dua bocah unyu itu.

Tapi aktifitasnya terhenti saat ia melihat Rivaille mendekati Eren, lalu memegang anu si bocah.

Memegang anu Eren.

Memegang anu Eren.

Memegang anu.

Memegang anu.

Memegang.

Dan sekarang mengelus.

Lalu Petra jerit sawan.

"ANJRYIIIIIIIIT, TITITNYA EREN TELAH TERNODAI!"

.

.

.

.

.

TBC

A/N : EBUSET BEJAD BANGET INI PANPIK SIAPA SIH YANG BUAT HAH!? #kaunak #slapped

gak kerasa hampir mau dua taun ini ff dianggurin gitu aja. salahkan kerjaan author yang membabi buta.

Terimakasih banyak untuk Miharu Midorikawa, miminetjantik, Fvvn, saniwa satutigapuluh, Hoshigami sheia, Kim Victoria,Kajika Louisa, mimong, Yami-chan Kagami, rosencia, yuzuru, Azure'czar, LeviHeichouchan, arisa, sessho ryu, Kakek Armin, Shiori Kagome, alysaexostans, leonydesuu, Miyuki 489, Kucing Bishie, L V Neko, yuka, dan untuk semua yang sudah baca, fav dan follow ff ini. Kalian bikin author semangat lanjutin ff ini meski banyak banget halangannya :""""DDDD #ciumpelukatuatu

yahh segitu dulu untuk chapter dua ini. maaf kalau alurnya kecepetan, author ngetiknya sambil ngantuk-ngantuk lol

Terimakasih sejauh ini sudah baca, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~~~~

salam

Amymi