Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Warning:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el
Fic ini dibuat untuk memenuhi keinginan pribadi Rey~
Tadinya Rey mau request cerita ini, tapi begitu sadar kalau ide ini terlalu 'gila' akhirnya Rey jadi pingin buat sendiri XD berhubung idenya rada gila, maaf aja kalo ceritanya juga jadi ikut-ikutan gila. Jujur, Rey tidak bermaksud seperti itu u_u
Judulnya mungkin gak nyambung, maaf ya~
Selamat membaca! XD
Are You The SheMale Killer?
A PikoxMiki story
by reynyah
Chapter II – Utatane Piko
Piko POV
"Kamu gak tau, sih!" serunya sebal sambil lagi-lagi menggembungkan pipinya. "Aku ini di sekolah gak dipeduliin sama orang-orang! Aku dikucilin tau!"
"Oh ya?" tanya gadis berambut merah itu tanpa nada prihatin, terkejut, atau antusias. "Murid lama?"
"Kamu gak kenal aku?" tanya si laki-laki dengan wajah shock. "Aku ini murid kelas tiga sejak tiga tahun lalu yang gak lulus-lulus!"
Sang gadis seketika sweatdrop.
Aku terkekeh. "Bercanda, ding," ujarku sambil mendorong pelan bahu Miki. "Aku baru naik kelas tiga kok, tahun ini."
"Oh."
Astaga, dingin sekali gadis ini. "Kamu jahat banget sih, sama aku?!" tanyaku sewot dengan nada kemayuku yang biasa. "Miki-chan~"
"Kita baru kenal," ujarnya datar. "Jangan panggil aku Miki-chan."
Aku bersumpah, aku dapat melihat aura hitam muncul dari balik tubuhnya setelah dia selesai mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu. "Emangnya kenapa? Kan, kamu cewek, cantik, unyu, kiyut—"
"Kiyut?" potongnya sambil menyipitkan mata, menatapku tajam.
Aku mengangguk innocent. "Miki-chan gak tau kiy—"
Sekali lagi, aura hitam itu muncul.
"Eh... maksudku, Miki-san gak tau kiyut itu apa?"
Miki mengangkat bahunya pelan. Hah, dasar sok misterius. Aku lelah dengan perempuan-perempuan seperti ini. Masalah utamanya adalah, perempuan seperti ini jumlahnya BANYAK. Huft.
"Kiyut itu C-U-T-E! Cute! Lucu, imut, ngegemesiiiin~" jelasku sambil mencubit pipi kanannya yang chubby habis. Kenapa gadis secantik dirinya bisa bersikap menyebalkan seperti ini, ya? Apa memang itu bawaannya? Memangnya tidak ada yang mengajarinya untuk bersikap normal?
Tiba-tiba, Miki menepis tanganku. "Gomen," ucapnya dingin, pelan, namun tajam. "Aku ada perlu, jadi aku harus pergi sekarang."
Miki sudah berbalik. Tepat sebelum dia berbalik, aku menahan tangannya. "Eh!" panggilku tanpa menyebut namanya, takut salah sebut lagi. "Kapan-kapan aku boleh ngobrol sama kamu lagi kan, Miki-saaaan?" tanyaku penuh harap, berharap gadis yang baru kukenal ini tidak akan meninggalkanku begitu saja seperti teman-teman lamaku.
"Lihat saja nanti."
Seulas senyum terbentuk di bibirku. "Oke," ucapku sambil melepaskan tangannya. "Sampai besok ya, Miki-chaaan~"
Dia berbalik dan menatapku tajam. "Apa katamu tadi...?"
"E-eh... Miki-san~"
Tanpa menjawab, gadis itu, Furukawa Miki, langsung berbalik meninggalkanku. Aku tersenyum. Setidaknya, aku menemukan seseorang baru untuk berbagi kisah. Aku tidak perlu lagi merasa sendiri dan ditinggalkan, toh, sekarang ada Miki.
Bukankah begitu?
? POV
Aku meraih surat yang ada di genkan apartemenku. Ada sepucuk surat dengan amplop putih, perangko, dan namaku. Sekilas tidak terlihat mencurigakan, bukankah begitu? Kemudian aku masuk ke dalam sambil membawa surat itu, membuka amplopnya, mengambil isinya, lalu mulai membacanya.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Aku melipat kembali surat itu lalu melemparnya ke perapian, membiarkan huruf demi hurufnya hilang seiring api melalap kertas itu. Aku segera mengambil satu stel pakaian 'khusus'-ku dari lemari lalu memakainya. Aku melihat langit melalui jendela, sudah gelap. Sebentar lagi, jalanan akan sepi. Aku akan bisa keluar dengan bebas.
Kediaman Megpoid adalah tempat yang kutuju malam ini. Tempat itu sepi malam ini. Hanya ada dua orang di dalamnya malam ini, yaitu Megpoid Gumi dan pelayan pribadinya, Hatsune Miku. Bingung kenapa Miku bisa ada di sini?
Dia memang bekerja pada Gumi sebagai pelayan pribadinya. Miku pernah diselamatkan oleh Gumi dan sebagai gantinya, Miku bekerja sebagai pelayan pribadi Gumi seumur hidupnya. Konyol sekali bagiku. Untuk apa mengabdikan diri sebagai pelayan kalau kau bisa jadi lebih dari itu?
Dasar orang-orang yang berpikir sempit.
Aku menyelinap ke dalam kediaman Megpoid melalui cerobong asap. Cerobohnya keluarga itu, mereka tidak pernah menutup perapiannya. Sangat mudah bagiku untuk masuk melalui perapian dan membunuh salah satu dari mereka.
Ya, aku akan membunuh salah satu dari mereka.
Maka di sinilah aku, di depan perapian.
Aku sudah berhasil melalui cerobong asap. Keren, bukan?
Kuambil langkah pelan menuju kamar belajar Gumi. Mereka berdua pasti ada di sana, tidak ragu lagi. Dan benar saja, aku mendengar tawa pelan dari dalam sana. Keduanya pasti tengah tertawa karena lelucon yang dilontarkan oleh Hatsune Miku, gadis yang dianggap paling sempurna. Bahkan guyonannya saja tiada dua.
"Aku ambil minum dulu ya, Gumi-sama."
"Ya."
Pintu ruang belajar terbuka dan keluarlah Miku sang gadis sempurna. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk secepatnya ke dalam ruang belajar. Di sana, Gumi sibuk menulis, menghadap meja belajar, membelakangiku. Dengan santainya kuraih vas bunga di atas rak buku dan melayangkan vas itu ke kepala Gumi.
That's it. Tugasku malam ini sudah selesai.
Maka aku buru-buru pergi sebelum Miku sadar bahwa majikannya dibunuh olehku.
Dan aku keluar dari kediaman Megpoid ini melalui jalur yang sama dengan jalur masukku tadi.
Hanya butuh beberapa detik sebelum aku mendengar suara Miku.
"KYAAAAAAAAAAAA!"
Yap. Tugasku malam ini benar-benar sudah selesai.
Normal POV
Paginya, Miki kembali membaca berita di mading sekolah. Belum ada berita baru lagi hari itu. Akhirnya, Miki memutuskan untuk membaca koran. Setidaknya, koran lebih up-to-date jika dibandingkan dengan mading sekolahnya. Tim mading sekolahnya memang tidak rajin memasang berita baru di sana.
.
.
PEMBUNUH BERANTAI BERKELIARAN
X yang dianggap sebagai pembunuh misterius rupanya tengah melancarkan pembunuhan berantai terhadap siswa-siswi Akademi Voca. Setelah Hatsune Mikuo, alumni yang sangat berprestasi itu dibunuh dua malam lalu, gantilah Megpoid Gumi, siswi kelas sepuluh.
Dugaan terkuat polisi, X adalah seorang gadis yang juga murid Akademi Voca yang diberi inisial HM. Dia ada di dua tempat kejadian perkara dan selalu beralasan bahwa dia tidak melihat korban saat dibunuh. Polisi sedang menindaklanjuti kejadian ini.
.
.
"WHAT?! GUMI-CHAN DIBUNUH?!"
Miki mendengus lalu menoleh ke kanan. "Tolong jangan berisik tepat di samping telingaku."
"Ta-tapi aku bener-bener gak nyangkaaa!" seru Piko panik. "Kenapa dia dibunuh?! Gumi-chan orang baik?"
"Oh, tolong." Miki menghempaskan koran ke meja. "Apa kamu selalu pakai embel-embel 'chan' buat cewek-cewek yang kamu kenal?"
"Mm... pertama kamu, kedua Gumi, kok."
Miki seketika sweatdrop. "Kamu... gila?"
"Nggak," jawab Piko dengan senyum menghiasi bibirnya. "Cuma seneng main sama cewek."
APA?!
Bersambung...
Ya ampun, lama banget apdet nya-_-
Silakan review! Entah kenapa Rey males lanjutin, jadi kalo review chapter ini gak nyampe empat, kemungkinan Rey gak akan lanjutin~
