Diamond no Ace By Terajima Yuuki

Story By aicweconan

Siang hari di musim semi, bisa dikatakan sejuk. Suhu rata-rata di siang hari adalah dua puluh empat secius, cukup nyaman berjalan di rimbunnya pohon ginko yang kembali berwarna hijau.

Universitas Nagoya memang bukan universitas top Jepang tapi juga bukan kelas bawah. Mereka punya fasilitas cukup lengkap, dari hutan kecil dengan pohom yang rapat, taman yang ditata rapih dan indah, kanting yang lengkap, juga fasilitas kesehatan dan olahlaga. Termasuk juga lapangan baseball standar internasional.

Lapangan itu jugalah dipergunakan oleh club baseboll mereka, walau Nagoya tidak khusus mengembangkan club baseball mereka, tapi mereka memberi dispensasi kepada mahasiswa yang sudah masuk dunia baseball dari SMA. Kadang mereka mengundang para pemain berbakat. Tapi orang-orang lebih memilih Tokyo atau universitas top lainnya yang sama memberikan undangan walaupun dites juga.

Jadi mereka hanya mendapatkan antara yang kurang berbakat atau bodoh.

Tapi baru-baru ini mereka berhasil mendapatkan pemain berbakat yang juga tidak bodoh. Kominato haruichi, entah kenapa dia masuk Nagoya, padalah sang kakak bisa masuk ke salah satu universitas top Jepang. Dan tahun ini juga dua pemain yang bermain di final koshien dua tahun berturut-turut memilih masuk ke Nagoya. Ini bisa mengubah peta persaingan di baseball tingkat universitas.

Walau tidak seketat SMA karena di universitas banyak pemain yang cemerlang di SMA lebih memilih untuk masuk dunia baseball pro langsung dan tak menjadi pemain di universitas mereka, itu terjadi pada Miyuki Kazuya yang kuliah di Tokyo tapi tidak bermain di club universitas Tokyo karena dia sudah dikontrak di club profesional baseball.

Karena itu baseball tingkat universitas tidak sepopuler tingkat SMA.

Seto memikirkan itu semua di tengah perkenalan anggota baru club baseball universitas Nagoya, mereka harus meneriakan nama dan sekolah SMA sebelumnya. Seto dan Okumura sudah memperkenalkan diri dan cukup membuat terkejut semua orang yang ada di sana, karena Seido cukup terkenal, karena dari dulu universitas Nagoya tak pernah kedatangan anggota dari sekolah baseball terkenal. Sekarang mereka kedatangan tiga dari tahun kedua dan pertama.

Seto dapat melihat pemuda bersurai merah muda di depannya, berbaris di barisan para senior mereka, ia tersenyum padanya dan Okumura yang ada disampingnya, sendang memelototi kelompok barisan yang hampir semua adalah para gadis. Namun bukan gadis bohay yang dipelototi sahabatnya itu, tetapi seorang pemuda bersurai cokelat pekat yang menjadi satu-satunya pria di kelompok yang terpisah dari para anggota pemain tahun pertama.

"Ya, sudah semua, Kan?" kakak tingkat yang jadi kapten di tim, menyaut. Ia cukup ramah namun juga terlihat tegas. Seto hanya ingat nama belangkan kakak tahun ketiga itu, Abe. "Sekarang dari manager tahun pertama perkenal diri kalian." Abe melirik kelompok yang mayoritas gadis.

Satu persatu mereka memperkenalkan diri, mayoritas mereka dari SMA dekat universitas Nagoya. Seto sedikit terkejut saat Abe bilang semua anggota club baseball tahun pertama sudah perkenalkan diri. Seto pikir ada satu orang lagi yang akan melakukan perkenalan.

"Sawamura Eijun dari Shijinohana." Sawamura berkata dengan lembut dan tak seribut dulu, Pemuda itu cukup berbeda dengan yang seto kenal. Ia tak menyangka bahwa Sawamura Eijun hanya menjadi maneger? Seorang pitcher dengan bakat luar biasa hanya menjadi maneger. Entah kenapa Seto kecewa dan rasanya Okumura akan lebih kecewa lagi.

Seto semakin bertanya-tanya ada apa dengan senior SMAnya itu, ia meninggalkan posisinya yang sangat diidamkan pitcher lain. Sawamura bahkan terlihat lebih diam sekarang, Seto ingat saat kelas pertama selasai ia dan Okumura ingin menyapa senior SMA mereka, tapi surai cokelat pekat itu langsung pergi, berlari bagai dikejar sesuatu.

"Ya, sudah semua kan? Kami ucapakan selamat datang untuk tahun pertama, kami berharap kita bisa bekerjasama dengan baik." Kata capten tim baseball sekaligus catcher utama. ''Untuk maneger pria mohon ikut saya sebentar.'' lajut pemuda itu, lalu bejalan dengan diikuti Sawamura.

''Ha-halo. Sa-saya wakil capten, Ren Mihashi. Kalian bisa bertanya padaku atau senior yang lainnya." seorang pemuda yang gugup menggantikan sang capten. Seto sedikit heran kenapa mereka memilihnya untuk menjadi wakil capten karena ia lebih terlihat tak berguna dari lain. Wakil capten seharusnya yang bisa mengganti capten seperti Maezono atau Kuramochi.

"Senior." suara Okumura terdengar lantang, ia maju ke depan. Seto melihat mata sahabatnya terlalu tajam untuk seorang junior.

"I-Iya." sang senior bersurai emas malah makin gugup, memainkan jarinya di dadanya. Seto makin heran saja.

Okumura juga heran, apa ia menakutkan? "Siapa yang jadi ace di sini?"

Mendengar pertanyaan itu Mihashi entah kenapa matanya berbinar, bintang di dalam matanya bercahaya terang, Okumura hampir melihat bintang di sekitar sang senior. Pemuda bertubuh lumayan mungil itu perlahan mengarahkan telunjuknya ke arah dirinya sendiri. "Aku..."

Okumura berkedip, bukanya apa-apa. Ia tak pernah bertemu dengan pitcher yang terlihat akan lari jika berhadapan dengan batter yang mirip golila. Pitcher dalam pikirannya adalah seseorang yang mempunyai percaya diri tinggi hingga terlihat arogan atau tak tahu malu. Seperti Furuya atau Sawamura.

Okumura terdiam, dan Mihashi terlalu peka. Ia tiba-tiba memainkan lagi jari, menundukkan kepalanya.

Seto menyikut belikat Okumura, ia berbisik. "Hai, kau membuatnya menangis, Shuu. Katakan sesuatu."

"Hah?" Okumura syok, ia tak tahu kenapa Seto mengatakan itu. Hai Okumura tak melakukan apapun yang menyakiti seniornya, lagipula memang dia anak kecil apa?

"Hik... Hik... " Mihashi benar-benar menangis. Semua senior panik, sementara para tahun pertama hanya terbengon dengan penomena ini.

Para senior mengcoba menghiburnya dengan kata-kata manis, seperti 'kau ace hebat, Mihashi.' atau 'dia hanya diam, Mihashi. Bukan tidak percaya kau tuan ace' serta 'mungkin dia terpesona padamu, Mihashi.' dan orang itu mendapatkan pukulan di kepala.

"Okumura. Lebih baik kau kata sesuatu." suara yang ia kenal terdengar dari depan, pemuda berambut merah muda sedang tersenyum miris, ia merasa kasihan entah harus ke siapa. Ace mereka tahun ini memang terkenal cengeng tapi dia hebat dalam perbagian zona streak, ya tapi kecengengannya memang terlalu.

Okumura bingung, ia bertanya karena ingin tahu bagaimana sosok ace di tim ini, sebagai catcher ia harus mengenal pitcher walau Okumura akan bermain jika catcher utama tidak dapat bermain tapi catcher harus mengenal tiap pitcher di tim.

Dan Okumura merasa pitcher arogan atau tak tahu malu lebih mudah ditangani daripada seorang ace cengen seperti senior satu ini. Hai bagaimana ia memotivasinya jika si pitcher terus meracau dalam tangisnya.

"Ada apa ini?" si capten datang dengan tanpang tak mengerti, Sawamura yang mengikutinya juga tapak bingung. Ia terlihat membawa setumpuk kertas di pelukannya.

"Anak tahun pertama bertanya ace di sini siapa, dan Mihashi menujuk dirinya sendiri tapi anak itu terlihat syok entah kenapa. dan Mihashi tiba-tiba menangis, katanya ia memang tidak cocok jadi ace." salah satu anak tahun ketiga surai kuning menjelaskan situasinya.

Abe menghela nafas, berjalan dengan langkah lebar mendekati Mihashi yang masih terisak. Para senior mundur beberapa langkah, menutup terlinga mereka membuat para tahun pertama bingung sebenarnya apa yang terjadi.

Abe menarik nafas dan mengulurkan tangan dengan kepalan terlapak di setiap pelipis Mihashi. "MI-HA-SHI! MEMANGNYA BERAPA UMURMU, HEH!?" teriak capten itu, nyaring. Sekarang para anggota baru tahu kenapa para senior menutup telinga, bukan hanya suara capten yang menggelegar tapi juga suara lengkingan tangisan Mihashi makin tinggi, membahayakan gendang telinga mereka.

Okumura Khooshuu menjadi ragu akan pilihnya...

Sesudah drama yang dramatis, Mihashi mendapat motivasi dari Abe. Semua berjalan lancar, para tahun pertama mendapatkan kertas jadwal latihan yang dibagikan oleh Sawamura selaku maneger.

"Senior Sawamura, apa kabar?" Seto mengcoba menyapa pemuda surai cokelat yang menyerahkan kertas untuknya.

Sawamura terlihat bingung, ia berusaha mengingatnya. "Ah, temannya si bocah serigala itu?"

Seto mengedip lucu, seniornya satu ini memang selalu unik kalau tidak mau dibilang jahat. Ia mengingat dirinya hanya sebagai temannya bocah serigala dan kenapa ia masih memanggil Khooshuu sebagai bocah serigala? "iya, Seto Takuma lebih tepatnya. Shuu juga masuk ke sini." Seto menujuk Okumura yang sedang berbicara dengan senior Abe, kelihatannya dia meminta maaf karena menyebabkan ace menangis.

Sawamura hanya tersenyum, ia mengangguk. "Kenapa kalian masuk ke sini, kalian pasti diundang ke universita top, bukan?"

"Shuu memang dapat undangan di tokyo tapi aku tidak. Aku memang di undangan ke sini." Jelas Seto.

"Jadi bocah serigala itu mengikutimu?" Sawamura memiringkan kepalanya.

Tawa renyah Seto terdengar, mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak, aku tidak memberitahu dia. Rencananya aku akan ikut tes masuk biasa saja jika dia memilih universitas top tapi Shuu sudah memutuskan datang ke sini, jadi. Yah, aku tidak susah-susah."

Sawamura yang mendengar itu jadi heran, apa Seto itu istri Okumura? Kok bisa selalu mengikutinya sampai kuliah. Masalahnya adalah Seto bisa tahan dengan aura menakutkan Okumura, itu hebat.

"Senior sendiri kenapa tidak masuk tim, malah masuk hanya sebagai Maneger?." Seto tahu, ini bukan urusannya tapi ia menyayangkan jika bakat sebesar yang dimiliki Sawamura terbuang begitu saja.

Sawamura tersenyum, itu juga yang ditanyakan Haruichi saat menyerahkan formulir pendaftaran anggota maneger. Kenapa ia hanya masuk sebagai maneger? Dan Sawamura hanya bisa menjawab... "Aku tak punya waktu untuk latihan dan bermain baseball."

mendengar jawaban itu sebenarnya Seto benci, tak punya waktu? Memang apa yang ia lakukan sekarang hingga tak punya waktu untuk baseball, apa itu alasan yang sama saat tiba-tiba hilang dari seido dua tahun lalu? Apa karena tidak ada waktu? Seto tak mengerti seniornya ini, tapi saat melihat mata emas itu Seto merasa ada sesuatu, Sawamura tetaplah Sawamura seorang pitcher yang hatinya terbuka hingga siapa pun bisa melihat hatinya.

Okumura sudah selesai berbicara dengan Abe dan sekarang ia berjalan kembali ke barissan tahun pertama. Okumura dapat melihat seto berbincang dengan Sawamura.

Sebenarnya Okumura tidaklah marah pada seniornya itu seperti yang diduga Seto dan teman-temannya, hanya saja ia kecewa akan dirinya sendiri. Okumura pernah mendengar dari senior dua tahun darinya, bahwa Sawamura dan miyuki pernah menjadi batery saat Sawamura kelas tiga SMP dan Miyuki kelas satu SMA, ia juga dengar bahwa surai cokelat pekat itu menolak masuk seido karena ingin bersama teman-temannya, tapi Miyuki mengubah itu semua. Sawamura menjadi bernafsu untuk menjadi ace, ia bernafsu untuk yang terbaik bersama Miyuki. Miyuki membangkitkan insting pitchernya. Okumura tak bisa melakukannya, ia tak bisa membangkitkan instingnya sama seperti Miyuki Kazuya, sang catcher terbaik SMA.

"aku tak punya waktu untuk latihan dan bermain baseball." kata-kata itu lebih menguatkan asumsinya tentang dirinya yang tak berguna, jauh dari kata sejajar dengan Miyuki Kazuya.

...

Petang menyambut mereka dengan bulan sabit, Seto dan Okumura berjalan di tortoran. Mereka akan pulang ke apartemen usai latihan sore pertama mereka setelah kelas keempat. Mereka tinggal bersama di apartemen dekat kampus, hanya beberapa menit saja jauhnya.

Oh, jangan berpikir yang tidak-tidak. Mereka tinggal bersama agar biaya sewa bisa lebih ringan, makanan juga bisa dibagi, bukankah itu menguntungkan? Mereka mengambil apartemen dua kamar, satu kamar mandi. Cukup untuk mereka berdua dan hemat.

Seto membenarkan kacamatanya yang melorot. "Aku mau beli makan malam dulu, Shuu mau ikut atau duluan?" tanya pemuda surai cokelat kemerahan itu.

Okumura menggeleng. "Kau pasti membeli makanan aneh-aneh, aku ikut saja. Aku tak mau makan kare cokelat."

"Tapi itu enak, tahu.?" Seto berdalih, tapi kenyataannya ia hanya tahan tak lebih dari satu sendok. Mereka menuju kombini yang searah dengar apartemen mereka.

Seto membuka pintu yang terbuat dari kaca transparan berbingkai besi. Okumura dan Seto masuk kombini yang cukup ramai dengan pengujung.

Seto langsung mengambil keranjang belajaan dan mulai mencari makanan instan yang terdia di kombini itu dengan pengawasan okumura, ia akan mengembalikan makanan atau minuman aneh yang seto ambil.

Seto berjalan kebagian permen dan coklat, ia ingin membeli permen karet. Okumura masih mengekor dibelakang.

"Misa, au beli coela... Misa au beli coela..." suara anak kecil imut terdengar, Seto yang penasaran celingukkan mencari sumber suara. Pandangan Seto tertuju pada rak yang penuh dengan berbagai jenis dan mrek coklat. Di sana Seto melihat anak yang sedang berjingjit berusaha mengambil salah satu coklat yang dijajakkan. Anak perempuan itu berambut cokelat kehitaman pendek mengenakan baju bunga-bunga merah dengan rok hitam pendek, sepatu merah. Seto kira umur anak itu satu setengah atau dua tahun, entahllah. Yang jelas anak itu tak lebih tinggi dari lututnya.

Anak itu terus berusaha menggapai coklat yang berada jauh dari jakauannya, padahal ada coklat yang berada di rak paling bawah.

Seto menghampiri anak itu mengambil coklat yang ingin diambil anak perempuan itu. "ini, kamu ingin yang ini, kan?"

Anak itu menoleh ke arah seto, mata cokelat emas itu berbinar, perasaan pamiliar menyeruak entah kenapa. Anak itu mengangguk cepat, Seto membungkuk sedikit untuk menyerahkannya. "Mana orang tuamu, dik." tanya Seto, karena tak ada orang yang membantu anak ini tadi, jadi bisa dipastikan orang tua gadis kecil ini tidak ada di dekat sini.

Anak itu mengembil coklat panjang dari tangan Seto. "Nanti ke sini, mama Misa au beli dagi dulu." walau ada kata yang salah tapi untuk anak sekecil misa itu sangat hebat, bisa mengerti dan menjawab pertanyaan dengan baik.

Okumura mengerutkan alis bukankah meninggalkan anak sekecil Misa itu bahaya. bagaimana kalau ada pedopil? Penculik? Orang tua macam apa yang berani meninggalkan anak kecil yam

"Misa sayang, kau sudah memilih-" suara yang di kenal Okumura dan seto terdengar, dua pemuda itu menoleh ke arah ujung rak yang pernuh coklat.

di sana Sawamura Eijun berdiri dengan masih menggunakan setelan yang sama ketika mereka di kampus dengan tas belanjaan di kedua tangannya.

"Mama!"'

"Hah?"

Di sini ai sudah tidak memukan typo, ok. kalau kalian para hantu guest menemukan typo. beritahun ai di mana, dan kata apa yang benar.

kalian tahu. lebih mudah menemukan typo saat sudah dipost, prolog sebenarnya teman ai sudah editing tapi ai pikir. post dulu editing ai nanti perbaik. di prolog ai udah baca ulang. diedit ulang. tapi karena dibilang males edit jadi males ngepost ulang hasil beta teman itu, jadi itu cuma di wattpad aja.

jadi apa kalian enak ketika kalian sudah maksimal berusaha memperbaiki dan ada hantu guest bilang jangan malas edit? malas edit eeh, iya dua kali baca ulang dan gonta-ganti huruf. malas edit? tidak teliti iya ai memang kurang teliti.

fitur perdiksi di

hp membantu btw tapi dalam berapa kata malah typo parah…

kalau di bilang malas lagi ai bakal post yang beneran ga ai edit loh pusing-pusing. hehe