Catatan: tulisan miring (italic) berarti kejadian masa lalu ya.

Mata sipit Baekhyun melirik Chanyeol yang kini tengah berpose dengan tubuh telanjangnya, kemudian kembali pada kanvas besar di hadapannya. Pria dengan mata berhiaskan eye-liner itu nampak serius dengan kegiatan melukis tubuh telanjang Chanyeol. Sedangkan Chanyeol sendiri sedang berusaha mati-matian menenangkan debaran jantungnya yang hampir meledak karena tatapan mata si pria mungil.

"Chanyeol-ssi, coba singkirkan kain itu dari penismu."

Chanyeol sempat terkesiap karena bibir tipis itu mengucapkan kata 'penis' tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi itu bukan masalah lagi sekarang. Masalah yang lebih besarnya adalah kalau Chanyeol menyingkirkan kain biru safir itu dari pangkuannya, maka penis besarnya akan terlihat.

"T–tapi, Baek–"

"Ah, biar aku saja yang singkirkan. Kau diam saja." ucap Baekhyun seraya bangkit dari duduknya.

"Ap–tunggu du–"

Chanyeol tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena kini Baekhyun sudah berada di hadapannya dengan jemari lentik yang sedang menyingkirkan kain biru safir dari pangkuan Chanyeol. Dan terpampanglah penis besar Chanyeol. Sontak itu membuat wajah Chanyeol memerah. Saat mata Chanyeol menatap mata Baekhyun, dia lebih terkejut lagi. Pria mungil itu kini tengah menatap penis besarnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol refleks menutup penisnya dengan kedua tangannya, membuat Baekhyun menatapnya polos.

"B–Baekhyun-ssi, bukankah kau bilang kau tidak akan melukis kelaminku?" tanya Chanyeol seraya menundukkan wajahnya saking malunya.

Baekhyun tersenyum manis. "Aku memang tidak akan melukis penismu kok. Hanya saja kain itu benar-benar mengganggu, jadi kusingkirkan saja."

Chanyeol mendongakkan kepalanya perlahan. "Sungguh?"

"Ya, tapi.." Baekhyun menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba saja, jemari lentik milik Baekhyun terulur, menyingkirkan tangan Chanyeol yang menutupi penisnya. Hal yang terjadi berikutnya lebih mengejutkan lagi. Baekhyun menyentuh penis Chanyeol dengan tangannya, membuat pria jangkung itu membelalakkan matanya. Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya, sedangkan Baekhyun menatap Chanyeol dengan sebuah seringaian di bibirnya.

Astaga.

Itu adalah seringaian yang jahat.

Chanyeol hanya bisa menelan ludahnya gugup, terutama saat penisnya jadi hard saat Baekhyun mulai mengocoknya dengan kecepatan konstan.

"B–Baek–aahh.." Chanyeol menggeram frustasi. Napasnya tiba-tiba berubah berat. "T–tolong..lepas–ahh–lepaskan tanganmu.." pinta Chanyeol setengah memelas, tapi sepertinya pria cantik itu tidak mengindahkan ucapannya sama sekali.

"Penismu besar sekali, Chanyeol-ssi." ucap Baekhyun tanpa rasa malu. Pria dengan mata berhiaskan eye-liner itu kini memaku pandangannya pada manik Chanyeol. "Boleh aku menghisapnya?"

Hebat.

Wajah Chanyeol memerah sepenuhnya dan jantungnya berdetak abnormal.

"A–apa?"

Tanpa menunggu jawaban Chanyeol, Baekhyun mulai memosisikan dirinya di hadapan penis Chanyeol dan mulai menjilat batang penis itu seduktif. Chanyeol yang tidak sempat menghentikan aksi pria pendek itu, hanya bisa membulatkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahannya. Tapi Baekhyun terlalu lihai. Kini penis besar itu masuk ke dalam mulut hangat Baekhyun dengan lidah dan ludah yang membasahi setiap inci penis tersebut.

"Aahh..B–Baekh.." Chanyeol tidak bisa menahan desahannya lagi. Aksi Baekhyun di bawah sana benar-benar membuatnya terbuai sampai-sampai membuat tubuhnya lemas seketika.

Tidak.

Ini tidak benar.

Chanyeol ingin menghentikan aksi Baekhyun sebelum ia kehilangan kendali, tapi entah kenapa tubuhnya merespon sebaliknya. Dia menginginkan Baekhyun. Dia menginginkan sentuhannya, tapi–

"HE–HENTIKAN!" Chanyeol berteriak sampai kedua matanya terbuka lebar. Napasnya memburu dan keringat mengalir di pelipisnya.

Itu mimpi.

Chanyeol menghembuskan napasnya lega menyadari hal itu. Namun sesaat kemudian, dia menyadari sesuatu. Mata Chanyeol kini beralih pada selangkangannya di balik selimut.

"Great." ucapnya lirih setelah melihat celananya yang mengembung.

Mimpi basah di pagi hari. Klasik.

.

.

.

###

BEYOND THE ART

Chapter 2 – Morning Wet Dream

by Pupuputri

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Support Casts : Kim Jongin, Oh Sehun

Genre : Romance, Fluff

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: Pembukaannya bikin kalian kecewa ya? *ketawa setan* Ternyata si Dobbi cuma mimpi basah, wkwk! Ngomong-ngomong disini Yeol emang polos, tapi gak culun ya. Penampilan dia normal, tapi pake kacamata. Oke, happy reading kalo gitu~

###

.

.

.

Kepala Chanyeol menunduk lesu saat ia sedang berjalan menuju kelasnya. Well, ia tidak akan lesu begitu jika bukan karena mimpi basahnya tadi pagi. Kenapa setelah sekian lama ia tidak mimpi basah, dia harus mengalaminya lagi pagi ini? Tepat di saat dia akan menjadi model telanjang Baekhyun. Itu membuatnya harus beronani pagi-pagi. Sebagai catatan, meskipun Chanyeol belum pernah nonton film porno atau pergi ke night club atau melakukan seks, ia tahu cara beronani.

"Park Chanyeol, selamat pagi!" seru Jongin –yang muncul entah dari mana– seraya menepuk punggung Chanyeol cukup keras, membuat pria bertelinga peri itu sedikit limbung. "Apa kabarnya model baru Byun Baekhyun ini? Apa kau bersemangat untuk pose pertamamu di hadapan pujaan hatimu?" goda Jongin seraya menaik-turunkan alisnya. Tapi godaan Jongin malah dibalas dengan helaan napas berat dari mulut Chanyeol. Jongin mengernyit. "Yak, kau kenapa, hah? Apa kau tidak senang menjadi model lukisan Byun Baekhyun?"

Tentu saja Chanyeol senang, hanya saja ia tidak siap. Dia tidak siap memperlihatkan tubuh telanjangnya pada pria yang ia sukai. Seandainya saja Chanyeol bukan menjadi model telanjang, semua ini pasti tidak akan terlalu sulit. Dan satu lagi, Jongin tidak tahu mengenai hal-model-telanjang ini. Dia bisa malu seumur hidup kalau sampai pria berkulit tan itu tahu mengenai hal ini karena Jongin pasti akan menggodanya sampai ia lulus kelak –atau mungkin sampai Chanyeol tua nanti. Jadi, Chanyeol putuskan untuk bungkam soal ini.

.

.

Tarik napas. Hembuskan.

Tarik napas. Hembuskan.

Baiklah. Ini dia. Ini adalah waktunya bertelanjang. *siapin SLR*

"Sekali lagi, terima kasih kau sudah mau jadi modelku, Chanyeol-ssi." ucap Baekhyun yang sedang menggulung lengan kemejanya. Chanyeol hanya tersenyum kikuk menanggapinya. "Lepaskan semua bajumu dan simpan disana. Aku akan siapkan propertinya."

DHUAR! –jantung Chanyeol meledak.

Kenapa pria manis itu terdengar seperti seorang maniak dan –anehnya– Chanyeol menyukainya? Apa ini berarti Chanyeol lebih berjiwa maniak daripada Baekhyun? Ah, sudahlah. Semua pikiran ngelantur ini benar-benar membuatnya tidak fokus. Tidak ada yang berjiwa maniak disini! –pekik Chanyeol dalam hati.

Chanyeol-pun melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya, termasuk celana dalamnya. Matanya sempat melirik Baekhyun yang sedang mempersiapkan properti untuknya nanti. Well, untungnya ruangan seni yang digunakan Baekhyun itu sepi. Di ruangan dengan cat putih itu hanya ada mereka berdua, beberapa kain berwarna merah cherry dan biru safir, beberapa kursi, dan peralatan lukis. Bau cat lukis yang kental tercium dengan jelas di penciuman Chanyeol. Apa sehari-harinya Baekhyun mencium bau seperti ini? Chanyeol pernah melihat Baekhyun melukis beberapa kali, tapi hanya dari luar ruangan. Dia baru tahu rasanya berada dalam satu ruangan yang sama dengan pujaan hatinya.

"Kau pasti sering olahraga ya?" Suara Baekhyun membuat kegiatan-memperhatikan-setiap-sudut-ruangan-seni Chanyeol terhenti. Pria tinggi itu beralih menatap Baekhyun. "Tubuhmu bagus sekali."

Hebat.

Kalimat itu benar-benar membuat Chanyeol tersipu.

"U–uh..begitulah." sahut Chanyeol seraya menunduk malu.

"Wow. Ternyata mataku memang tak pernah salah saat mencari seorang model untuk dilukis." ujar Baekhyun bangga. "Oh ya, lepaskan kacamatamu juga ya? Aku akan atur penampilanmu nanti." Chanyeol hanya mengangguk mengerti.

Beberapa saat kemudian, Chanyeol sudah dalam keadaan telanjang bulat –hanya jaketnya yang ia gunakan sementara untuk menutupi kejantanannya. Kacamatapun sudah ia lepaskan. Dia hanya tinggal menunggu perintah dari pria mungil di hadapannya.

"Baiklah, persiapan sudah siap!" Mata Baekhyun beralih pada Chanyeol sekarang. "Duduklah disini." Baekhyun menunjuk sebuah kursi berbentuk balok berwarna putih. Chanyeol-pun segera duduk disana seraya melepaskan jaket yang menutupi kejantanannya. "Posisikan tubuh menyerong ke kanan," Chanyeol mengikuti arahan Baekhyun, "Tekuk kaki kananmu sedikit, lalu kaki kirimu diluruskan saja. Simpan tangan kirimu di paha kirimu, tangan yang kanan simpan di samping paha kananmu dan tumpukan beban badanmu di tangan kananmu sehingga otot tanganmu terlihat menonjol. Ya, bagus."

Bisa dilihat dari posisi ini, tubuh Chanyeol yang indah dengan bentuk kotak-kotak di perutnya itu terlihat begitu menawan. Cahaya matahari sore yang masuk melewati jendela ruangan itu menerpa sebagian tubuh Chanyeol, seolah memberikan efek cahaya pada tubuh maksulinnya. Ditambah lagi tirai jendela berwarna putih di belakang Chanyeol itu sedikit tersibak angin sore, memperindah sosok telanjang yang sedang berpose itu.

Setelah berpikir sejenak, Baekhyun mendekati Chanyeol dan jemari lentiknya terarah pada kepala Chanyeol. "Maaf, aku akan mengacak-acak rambutmu sedikit. Tidak apa'kan?"

"T–tidak apa." sahut Chanyeol, cukup gugup karena Baekhyun berdiri begitu dekat dengannya.

Setelah mendapat persetujuan dari pemilik rambut hitam itu, jemari Baekhyun mulai mengatur rambut Chanyeol dengan mengacak-acaknya, sebisa mungkin agar terlihat alami. Setelah dua menit mengatur rambut Chanyeol, pria mungil itu mengambil jarak dengan tubuh modelnya dan berpikir kembali. "Baiklah, kurasa cukup. Bisa kau arahkan wajahmu kesana? Seperti kau sedang menengok pada seseorang."

"Seperti ini?" tanya Chanyeol ragu.

"Ya, sedikit ke belakang lagi." Tangan Baekhyun tiba-tiba menyentuh wajah Chanyeol agar sesuai dengan sudut yang diinginkannya. Baekhyun tidak sadar bahwa sentuhannya di wajah Chanyeol membuat pria jangkung itu sempat menahan napasnya saking terkejutnya, namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. "Dan sempurna! Pertahankan posisi ini sampai aku selesai melukis, oke? Santai saja, tidak perlu tegang ataupun gugup."

"B–baiklah." sahut Chanyeol. Dia melirik Baekhyun melalui ekor matanya yang kini duduk di depan sebuah kanvas besar, kemudian meraih alat lukisnya.

"Terus arahkan matamu kesana seolah kau sedang menoleh pada orang yang memanggilmu."

"Oke."

Suasana dalam ruangan itu benar-benar hening. Baekhyun terlihat fokus melukis Chanyeol. Chanyeol-pun sama seriusnya dengan Baekhyun, walaupun sesekali ia mencuri pandang untuk menatap wajah serius Baekhyun yang sedang melukisnya. Chanyeol suka sekali tatapan fokus Baekhyun yang sedang melukis. Sorot matanya selalu menunjukkan keseriusan dan ketulusan setiap kali ia sedang melakukan hal yang ia suka. Hal yang Chanyeol juga inginkan ketika melakukan hal yang ia sukai, meskipun ia belum benar-benar memiliki ketertarikan yang serius dalam satu hal –kecuali perasaannya pada Baekhyun.

"Kau tingkat berapa, Chanyeol-ssi?" Baekhyun memecahkan keheningan.

"Tingkat I."

"Wow, berarti aku adalah sunbae ya? Aku tingkat II." Baekhyun sempat terkekeh di ujung kalimatnya. Chanyeol hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Hening kembali.

Pikiran Chanyeol kini melayang pada ingatannya dimana ia pertama kali bertemu dengan Baekhyun.

.

.

.

"Pakai saja payungku."

Alis Chanyeol terangkat sebelah. "Hah?"

"Ini." Laki-laki mungil itu sekali lagi memberikan payung biru langitnya pada Chanyeol.

Chanyeol mengambil payung biru langit itu ragu. "Lalu, kau? Kalau tidak pakai payung, kau sendiri juga akan kebasahan'kan?"

"Itu mudah~" Laki-laki mungil itu mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam tas-nya. Itu sebuah payung berwarna hijau. "Aku masih punya cadangannya!" serunya bangga seraya membuka payung itu.

Chanyeol merasa laki-laki pendek itu aneh. Kenapa dia membawa dua payung di saat ia tidak sedang bersama siapapun?

"Kenapa kau membawa dua payung?" Chanyeol tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Aku selalu membawa cadangan untuk saat-saat seperti ini. Lihat? Ini berguna'kan?"

Chanyeol menatap datar laki-laki mungil itu. Sepertinya si pendek ini ingin sok jadi pahlawan –batin Chanyeol.

"Karena itu, kau boleh memakai payungku~"

Jantung Chanyeol sontak berpacu cepat saat laki-laki pendek itu memberikan senyumannya pada Chanyeol. Cantik sekali, seperti bulan sabit.

.

.

.

Tanpa sadar, Chanyeol malah tersenyum mengingat kenangan itu. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tapi Baekhyun bersikap baik padanya.

"Kau sedang senang, hm?" Suara Baekhyun membuat Chanyeol meliriknya.

"Ne?"

"Kau tersenyum."

Chanyeol mengerjap sekali. "Benarkah?"

"Mm-hm. Teringat orang yang kau sukai ya?" tanya Baekhyun yang masih fokus dengan cat dan kuas di tangannya. Chanyeol sempat terkesiap karena ucapan Baekhyun, namun detik berikutnya senyuman terukir dengan indahnya di sudut bibir Chanyeol. Pipinya agak memerah.

"Sepertinya begitu."

"Aww~ manis sekali." Baekhyun menggoda Chanyeol. "Tapi tahan sebentar ya? Aku tidak ingin kau tersenyum di lukisanku."

"Ah, baiklah."

Chanyeol segera menetralkan kembali ekspresinya meski pria tinggi itu masih mengulum senyumnya. Chanyeol tidak menyangka ia bisa mengobrol dengan Baekhyun mengenai orang Chanyeol sukai, padahal orang yang ia sukai adalah Baekhyun sendiri. Chanyeol berpikir bagaimana kalau Baekhyun sampai mengetahui perasaannya. Apakah dia akan terkejut? Atau mungkin akan mengatakan bahwa dia juga menyukai Chanyeol? Atau mungkin malah mengatai Chanyeol aneh?

Pikiranmu mulai melantur lagi, Park Chanyeol. Hentikanlah! –rutuk Chanyeol dalam hatinya.

###

"Jadi," Jongin meminum jus jeruknya sebelum melanjutkan ucapannya, "Bagaimana kemarin? Sukses?"

Chanyeol melirik sebentar pria berkulit tan yang duduk di hadapannya, kemudian kembali menatap piring nasi gorengnya. Mereka sedang berada di kantin, menyempatkan sarapan pagi sebelum kelas dimulai. "Lumayan."

Alis Jongin terangkat sebelah. "Kenapa lumayan?"

"Well..," Chanyeol berpikir sejenak, "Itu berjalan biasa saja. Tidak ada yang spesial."

Itu bohong tentu saja.

"Wow. Apakah kau benar-benar hanya menjadi modelnya? Kalian tidak ngobrol selama itu?" Jongin semakin penasaran.

"Tidak, kami mengobrol sedikit."

Yang ini jujur.

"Mengobrol apa saja?"

"Hm..hal biasa." Chanyeol menjawab singkat, menghasilkan mimik protes di wajah Jongin.

"Detail, please?"

Chanyeol menghela napas. "Hanya hal biasa, 'kau tingkat berapa?', hal semacam itu saja."

Jongin memberikan ekspresi datar. "Membosankan."

Chanyeol mengedikkan bahunya tak peduli. Astaga, ia tidak bisa membayangkan betapa excited-nya Jongin jika seandainya ia tahu bahwa Chanyeol bertelanjang bulat di hadapan pria mungil yang disukainya. Tapi itu sangat tidak akan pernah terjadi.

"Lalu urusan kalian selesai sampai disitu?" tanya Jongin lebih lanjut.

"Tidak. Kami akan bertemu lagi nanti. Dia bilang masih belum puas dengan hasil lukisannya."

"Sungguh? Itu hebat!" Jongin mencondongkan badannya ke arah Chanyeol. Senyuman mencurigakan terukir di bibir pria berkulit tan itu. "Hey, boleh aku datang melihat nanti? Aku juga penasaran sekali dengan hasil lukisan pria Byun ini. Apakah itu bagus?"

'Bagus'? Baekhyun adalah salah satu mahasiswa berprestasi dalam bidang seni lukis di kampusnya, bagaimana mungkin hasil lukisannya disebut jelek? Pasti itu sangat bagus, well, setidaknya begitulah menurut Chanyeol yang tidak mengerti apapun tentang seni. Itu memang sangat bagus, tapi itu juga membuat Chanyeol malu. Yeah, hasil lukisan Baekhyun memang sangat bagus untuk percobaan pertamanya melukis manusia telanjang, tapi bagi Chanyeol itu sangat memalukan karena dirinyalah yang telanjang disana. Semuanya terekspos kecuali kejantanannya. Baekhyun benar-benar menepati janjinya untuk tidak melukis kelaminnya. Setidaknya itu membuat Chanyeol sedikit tenang.

"Tidak, Jongin. Baekhyun tidak suka diganggu ketika sedang melukis. Dia bilang hanya boleh ada dia dan modelnya saja di dalam ruangan. Dan aku tidak yakin dia mau memperlihatkan hasil lukisannya pada orang asing."

Chanyeol berbohong (lagi) demi keselamatannya –untuk saat ini.

Jongin mendengus. "Aish, arasseo, arasseo." Setelahnya, ia menatap Chanyeol dengan mata berbinar. "Tapi kau lihat hasil lukisannya'kan? Bagaimana? Apa itu bagus?"

Chanyeol tersenyum. "Ya, menurutku itu sangat bagus. Benar-benar terlihat seperti aslinya."

"Woah~ aku jadi penasaran. Hey, bukankah lukisan ini untuk dipamerkan? Kapan itu diselenggarakan?"

Shoot. Chanyeol baru ngeh. Hell, sejak kapan dirinya jadi lemot begini?

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tiga minggu lagi kurasa."

"Hm..masih lama juga ya? Tapi tidak perlu khawatir, kawan!" Jongin menepuk pundak Chanyeol dengan senyuman lebar di bibirnya. "Aku pasti akan melihatnya nanti~"

Well, itu adalah peringatan yang tak menyenangkan. Tapi Chanyeol hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Dalam hati, Chanyeol sungguh berharap semua teman-temannya mendadak sakit di hari pameran lukisan itu sehingga mereka tidak perlu melihat lukisan Chanyeol bertelanjang bulat terpajang disana. Dan, ya, itu keinginan yang konyol.

"Jadi, hari ini kau tidak akan bertemu dengan Baekhyun?"

"Tidak. Kami akan bertemu besok untuk membicarakan rencana lukisannya yang kedua nanti. Dia bilang dia perlu rencana yang matang agar tidak membuang-buang waktu dan tenaga nantinya." tutur Chanyeol.

Jongin mengangguk paham. Namun tiba-tiba terpikirkan sebuah ide. "Hey, aku punya film porno baru. Kau mau nonton?"

Chanyeol mendengus. "Sudah kubilang berapa kali, Jongin? Aku tidak suka nonton film porno. Lagipula, apa asyiknya nonton film porno sih?"

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sedih dengan kepolosan sahabatnya. "Sahabatku, sebagai informasi, film porno itu adalah bekal kita di masa depan."

Chanyeol memutar bola matanya bosan. "Tidak ada hubungannya sama sekali, bodoh."

"Aigoo~ seseorang meremehkan kehebatan film porno rupanya. Baiklah, biar kutanya kau satu pertanyaan penting." Chanyeol menatap Jongin dengan alis terangkat sebelah, sedangkan pria berkulit tan itu sedang memasang mimik serius yang dibuat-buat. "Apa kau tahu dimana letak-letak sensitif seorang uke selain di penis?"

Chanyeol dengan polos memikirkan jawabannya. "Hm..leher, kurasa?"

"Klise. Selain itu?"

Chanyeol sempat mencibir, tapi akhirnya ia berpikir kembali. Namun tautan alis yang tersambunglah yang terlihat, menandakan pria tinggi tersebut sulit menemukan jawaban yang Jongin inginkan. Dan Jongin tersenyum penuh kemenangan.

"See? Kau bahkan tidak tahu." Jongin meledek dengan nada-secara-fakta-yang-ada. Chanyeol kembali memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan sahabat mesumnya. "Tapi ini serius, Yeol. Dan yang terpenting, saat ini kau sedang mendekati pujaan hatimu, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"

"Maksudku, bagaimana jika suatu saat nanti dia tertarik padamu dan ingin melakukan seks denganmu? Apa yang akan kau lakukan?"

Chanyeol tahu perkataan Jongin hanya perumpamaan karena ia menggunakan kata 'jika', tapi tetap saja itu membuat Chanyeol berfantasi dan fantasi itu membuat Chanyeol merona parah. Membayangkan Baekhyun menyambut perasaannya saja sudah membuat Chanyeol berdebar begini, apalagi jika sampai menginginkan bercinta dengannya? Oh, sial. Chanyeol hampir mimisan dibuatnya.

Jongin terkekeh melihat reaksi lucu Chanyeol. "Karena itulah, kawan. Kau tidak mau terlihat bodoh ketika melakukannya nanti'kan? Well, anggap saja nonton film porno itu sebagai referensi. Tidak ada yang salah dengan mencoba, bukan?" hasutnya.

Kalau dipikir-pikir, Jongin ada benarnya. Dan ia benci ketika pikiran mesum Jongin benar.

Chanyeol menghela napas kasar. "Arasseo. Aku pinjam satu."

Jongin tersenyum senang. "Aku punya banyak, kau tinggal pilih saja. Berbagai tema, berbagai posisi, dimulai dari yang biasa sampai yang hardcore. Kau bebas untuk memilih, kawan~"

Sial.

Setelah sekian lama, pendirian Chanyeol yang tidak akan menonton film porno akhirnya runtuh bak jembatan runtuh seperti dalam film Final Destination. Miris.

.

.

Chanyeol menatap datar kaset di tangannya. Itu film porno yang ia pinjam dari Jongin. Pria berkulit tan itu benar-benar bersemangat meminjamkan koleksi film pornonya, ia bahkan merekomendasikan yang hardcore. Hell, tentu saja Chanyeol menolak. Ia memilih film porno yang biasa saja. Bisa-bisa ia mimisan jika menonton yang hardcore. Chanyeol berniat untuk menontonnya sekarang atas paksaan Kim Jongin. Dia bilang akan menanyakan posisi seks dalam film itu jam sepuluh nanti, yang artinya mau tidak mau Chanyeol harus menonton film porno itu sekarang. Pria tinggi itu menghela napas panjang. Ia sungguh tidak menyangka hari ini akan tiba, hari dimana Kim Jongin berhasil menghasutnya dengan pikiran mesumnya dan menodongnya dengan film porno.

Chanyeol memainkan jemarinya ketika laptop miliknya sedang memproses kaset film porno tersebut. Entah kenapa, ia jadi gugup sendiri. Jongin menyuruhnya untuk mengunci kamarnya sebelum menonton film porno, bilangnya sih untuk menghindari tamu tak diundang. Well, jika tamu tak diundang yang dimaksud Jongin adalah manusia, maka cara itu akan berhasil. Tapi bagaimana jika seandainya tamu tak diundang itu adalah setan mesum? Well, berharap saja makhluk seperti itu tidak akan datang menghampiri Chanyeol. Oh ya, Jongin juga menyuruhnya untuk menggunakan headphone ketika menonton film porno itu, bilangnya sih agar tetangga di asrama Chanyeol tidak curiga. Chanyeol mendengus mengingat tadi Jongin bersikukuh untuk menyuruhnya menggunakan headphone saat ia bilang akan menurunkan volume suara di laptopnya. Hell, bilang saja agar Chanyeol lebih mendalami suara-suara menjijikan dalam film porno itu. Heh.

Lamunan Chanyeol melebur ketika layar laptopnya mulai menayangkan gambar dari kaset film porno itu. Segera ia pasang headphone miliknya dan berusaha fokus pada tayangan di laptopnya. Pria tinggi itu benar-benar gugup. Apakah film porno itu benar-benar hebat seperti kata Jongin?

Dan lima menit kemudian, Chanyeol menyesali keputusannya.

Kawan, film porno itu buruk. Terutama jika kalian sangat polos.

###

Chanyeol berjalan lunglai ketika ia sedang dalam perjalanan menuju kelasnya. Padahal pagi nampak begitu cerah dan indah, tapi itu berbanding terbalik dengan hati juga wajah Chanyeol. Wajahnya benar-benar menunjukkan ekspresi kesal. Bagaimana tidak? Setelah ia menonton film porno laknat itu, Chanyeol harus beronani tadi malam. Cukup lama, jika kalian bertanya berapa lama Chanyeol beronani. Dan paginya, ia lagi-lagi mendapat mimpi basah –dengan Baekhyun tentunya– dan itu membuatnya terpaksa beronani lagi. Sial. Sejak kapan beronani jadi kegiatan rutin Chanyeol?

"Sialan kau, Kim Jongin." rutuk Chanyeol lirih. Ia bersumpah saat ia bertemu Jongin di kelas nanti, ia akan melemparkan kaset film porno itu tepat di wajahnya.

"Chanyeol-ssi!"

Hebat.

Serangan jantung di pagi hari, dan itu hanya karena mendengar suara Baekhyun menyerukan namanya. Pria mungil itu berlari kecil di ujung koridor menuju tempat Chanyeol berdiri. Chanyeol benar-benar merutuk dirinya sendiri karena tiba-tiba teringat mimpi basahnya tadi pagi.

Fokus, Park Chanyeol. Lupakan mimpi basah sialan itu! –batin Chanyeol. Sebisa mungkin ia bersikap biasa dengan melambaikan tangan pada Baekhyun disertai sebuah senyuman kecil. Begitu si mungil sudah berada di hadapannya, Chanyeol langsung mati gaya.

Sial. Sial. Sial.

Kenapa senyuman Baekhyun selalu berhasil membuatnya sport jantung?

"Selamat pagi~" sapa Baekhyun ramah.

"P–pagi.." Chanyeol membalas kikuk. Wajahnya malah memanas tatkala teringat kembali dengan mimpi basahnya. Bagaimana Baekhyun mendesahkan namanya, menyuruhnya untuk menyodok lubangnya lagi dan lagi, Chanyeol bahkan ingat betapa puasnya ia pasca menyetubuhi Baekhyun. Baekhyun yang melihat perubahan warna wajah Chanyeol, mulai terlihat khawatir.

"Hey, kau baik-baik saja? Wajahmu merah seka–"

Chanyeol segera menahan tangan Baekhyun yang hendak meraba dahinya. Tapi –sekali lagi– sial. Gerakan refleks itu membuatnya menyentuh tangan Baekhyun dan itu menghantarkan sengatan aneh ke tubuh Chanyeol.

"A–aku b–baik-baik saja. Ha–hanya sedikit lapar saja, aha-ha-ha.."

ALASAN MACAM APA ITU?! –pekik Chanyeol dalam hati.

"Ah, begitukah?" Baekhyun terlihat percaya pada ucapan Chanyeol. Pria mungil itu merogoh sesuatu dari dalam tas-nya. Tak lama setelahnya, ia memberikan sepotong roti isi pada Chanyeol. "Makanlah ini. Modelku tidak boleh sakit, oke?"

Seseorang tolong sadarkan Chanyeol dari keterkejutannya dan ingatkan dia untuk tidak memasang ekspresi melongonya karena itu terlihat sangat bodoh.

"Kenapa? Kau tidak suka roti isi?" Baekhyun berhasil membuat Chanyeol menggeleng kuat. Dengan cepat, pria tinggi itu mengambil roti isi itu.

"T–terima kasih, Baekhyun-ssi."

Baekhyun tersenyum manis. "Sama-sama. Kita jadi bertemu nanti sore'kan? Di café XOXO dekat kampus, kau tahu'kan?"

"Y–ya, aku tahu."

"Baguslah. Kalau begitu, sampai nanti sore, Chanyeol-ssi~" seru Baekhyun seraya berlalu. Chanyeol hanya mengangguk kikuk menanggapinya. Begitu sosok Baekhyun menghilang di ujung koridor, pandangan mata Chanyeol beralih pada roti isi di tangannya. Senyuman kebahagiaan senantiasa menerpa wajahnya. Padahal hanya diberi roti isi, tapi Chanyeol sungguh senang. Ia seperti melambung di atas awan dengan burung-burung biru yang bernyanyi di sekelilingnya. Melankolis? Well, terserah mau dibilang apa juga, yang penting Chanyeol bahagia. Ah, sungguh pagi yang membawa berkah (kecuali bagian onani).

.

.

Chanyeol sebenarnya tidak terlalu mendengarkan apa yang tengah Baekhyun jelaskan saat ini. Hanya sesuatu tentang properti yang akan ia gunakan, angle, blablabla. Chanyeol justru lebih fokus pada wajah Baekhyun. Bagaimana mata sipit itu berkedip dan memperlihatkan eye-liner yang diaplikasikannya, bagaimana rambut magenta-nya menutupi dahinya dan terayun begitu lembut ketika diterpa angin, juga bagaimana bibir tipis berwarna merah mudah itu bergerak dan mengeluarkan suara merdunya. Astaga, Chanyeol bisa gila karena sosok di hadapannya ini. Mungkin orang-orang di sekitar mereka juga sadar bahwa Chanyeol terus menerus memerhatikan Baekhyun, bahkan hampir tidak berkedip dibuatnya. Well, sosok Baekhyun memang selalu memukau Chanyeol, terutama ketika pria mungil itu sedang tersenyum. Chanyeol ingat setahun yang lalu rambut Baekhyun masih berwarna coklat, dia terlihat begitu manis. Dan sekarang rambutnya berganti magenta, mencolok memang, tapi tetap cocok. Baekhyun terlihat lebih cantik dan manis dengan warna itu. Ah, lagi-lagi jantung Chanyeol berdebar keras. Tanpa sadar, Chanyeol malah tersenyum sendiri.

TUK!

Seorang pelayan menyimpan minuman pesanan ChanBaek di atas meja dengan sedikit kasar. Chanyeol melirik pelayan itu dengan alis terangkat sebelah. Ada apa dengan orang ini?

"Bagaimana perkembangan lukisanmu?" tanya pelayan berkulit pucat itu pada Baekhyun. Cukup membuat Chanyeol terkejut. Mereka saling kenal?

"Lumayan, tapi aku masih belum puas dengan hasilnya, jadi aku meminta Chanyeol untuk menjadi modelku lagi."

Laki-laki albino itu menatap tajam Chanyeol. Kenapa tatapannya itu menusuk sekali? Apa orang ini temannya Baekhyun? Sepertinya ia tidak suka Chanyeol ada di dekat Baekhyun. Menyadari laki-laki albino itu terus menatap Chanyeol, Baekhyun-pun tersadar akan sesuatu.

"Oh ya, aku belum memperkenalkan kalian ya?" Baekhyun berhasil memutuskan kontak mata antara si laki-laki albino tersebut dan Chanyeol. "Chanyeol-ssi, kenalkan ini adikku –Sehun. Sehun-ah, beri salam padanya."

Chanyeol tersenyum mendengar penjelasan Baekhyun. Well, syukurlah laki-laki albino itu hanyalah adiknya. Iapun mengulurkan tangannya pada Sehun seraya berkata, "Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu."

"Byun Sehun." ucap Sehun tanpa menyambut uluran tangan Chanyeol. Chanyeol jadi agak keki dibuatnya. Pasalnya baik intonasi maupun raut muka Sehun, menunjukkan bahwa ia tidak suka pada Chanyeol. Jadi terpaksa, Chanyeol tarik kembali tangannya yang tak disambut hangat itu.

"Aku bekerja dulu. Jangan pulang terlalu sore." kata Sehun pada Baekhyun. Tanpa menunggu respon dari Baekhyun, Sehun-pun berjalan menuju dapur di dalam café XOXO.

"Ck, dia bicara seperti seorang Hyung saja, padahal dia yang lebih muda disini." Baekhyun tanpa sadar menggerutu sendiri. Namun tiba-tiba ia teringat kehadiran Chanyeol di sampingnya. "Ah, maafkan dia ya? Dia memang begitu orangnya, kuharap kau tidak tersinggung dengan sikapnya barusan." ucap Baekhyun. Pria mungil itu menggaruk tengkuknya kikuk, terlihat sekali raut tidak enak hatinya. Maka Chanyeol putuskan untuk tersenyum agar Baekhyun merasa lebih baik.

"Tidak apa kok."

"Begitukah? Syukurlah, kalau begitu. Emosinya sedang labil, biasalah anak SMA."

Chanyeol terkekeh pelan. "Begitu rupanya. Dia bekerja disini?"

"Ya, dia bilang dia bosan di rumah terus, jadi ia kerja sampingan disini. Dasar, padahal dia bisa luangkan waktunya untuk kegiatan klub di sekolahnya, tapi dia malah memilih bekerja disini." Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kelakuan adiknya.

Well, mungkin dia khawatir padamu –batin Chanyeol. Chanyeol pikir ia juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika ia adalah Sehun.

"Lalu untuk sesi lukisan keduaku nanti, akan kukabari lagi. Aku ingin semua persiapannya lebih sempurna sehingga tidak akan membuang-buang waktumu. Maaf ya, aku merepotkanmu begini, Chanyeol-ssi." Baekhyun merasa tidak enak hati.

"Itu tidak benar!" Chanyeol menepis kuat. "Aku justru senang bisa membantumu, Baekhyun-ssi."

"Woah~ kau baik sekali, Chanyeol-ssi. Orang yang kau sukai adalah orang yang beruntung, dia bisa disukai oleh pria setampan dan sebaik kau. Aku jadi penasaran dengan orang yang kau sukai itu."

Chanyeol tak bisa menahan pipinya untuk tidak bersemu. Ah, seandainya Baekhyun tahu bahwa orang yang Chanyeol sukai adalah Baekhyun sendiri. Chanyeol jadi penasaran, apakah Baekhyun memiliki orang yang spesial di hatinya?

"Baekhyun-ssi?" Chanyeol memanggil. Baekhyun menoleh tanpa menjawab. Pria tinggi itu mendadak gugup. Jantungnya saja sudah berpacu cepat saat pertanyaan itu sudah berada di ujung lidahnya. Namun ia tetap penasaran, jadi Chanyeol-pun bertanya, "Apakah..ada orang yang kau sukai saat ini?"

Baekhyun nampak terkejut. Pria mungil itu berpikir sebentar, kemudian mengangguk malu-malu. "Ya, ada."

TBC

Saya berpikir untuk membuat Sehun sebagai Hyung-nya Baekhyun, tapi setelah dipikir-pikir kembali, menciptakan karakter Sehun menjadi adik yang posesif kayaknya lucu juga. Jadi, begitulah. Silakan tebak sendiri siapa yang disukai Baek *ketawa setan*

Sebelum maju ke chapter 3, kalian review dulu ya!

THANKS, THANKS, THANKS untuk semua readers yang udah review dan klik fav/follow~ *big hug*

Untuk:

VampireDPS: yang terinspirasi dari komik hanya pas adegan pertemuan ChanBaek aja, kalo ide model lukisan telanjang itu asli ide saya. Tapi saya penasaran komik apa yang kamu baca? Yaoi kah?