Sorry

Naruto belong Masashi Kishimoto.

Warning!

DLDR, OOC, AU, TYPO DST


.

.

D

L

D

R

.

.

.

.

Hirup pikuk keramaian kota mewarnai siang hari yang semakin menyengat dengan polusi kendaran tersebar dimana mana, namun beberapa orang sudah terbiasa dengan keadaan itu, adapula yang sangat terganggu akan hal itu. Berbagai macam ekspresi yang ditunjukan oleh warga kota semua terlihat di sini termaksud dengan seorang bertopi jerami sambil membawa beberapa kanvas kecil dan alat lukis lainnya yang tidak terganggu sama sekali dengan keadaan di sekitarnya dan terus melangkahkan kakinya menelusuri jalan kota.

"Lukis! Lukis!" teriaknya ksambil melihat kedepan kadang menunduk karena tatapan orang lain yang menatapnya.

Memang jaman sekarang sangat jarang ada jasa lukis jalanan, terlebih tidak menetap alias pindah pindah. Namun dengan tekad yang sudah kuat dia terus menawarkan jasa lukis pada siapapun yang berminat.

"A-anda mau di Lu-lukis?" tawarnya pelan pada beberapa anak muda.

Anak muda itu melihat perlaku sang jasa pelukis yang menurutnya aneh dan beberapa pandangan jijik "Dasar Autis, pergi sana!" usir sang anak muda berjaket HItam

"Lihat tingkah anehnya itu? Dia ingin menawarkan sesuatu tapi bertingkah idiot seperti itu? Mana ada yang mau!" susul teman anak muda tersebut

Merasa bawa pelanggannya tidak ingin di lukis sang jasa pelukis jalanan itu pergi meninggalkan mereka. sudah kesekian kalinya jasanya di tolak namun si empunya masih terus menawarkan jasanya.

"DASAR IDIOT!"

Teriak anak muda berjaket biru itu dan disusul oleh gelak tawa oleh teman temannya yang seakan mendapatkan lawakan lucu, namun sang jasa pelukis tetap berjalan sambil menunduk mengabaikan mereka yang tertawa mengejeknya

Setelah berjalan cukup jauh sampai lah dia di taman kota, merasa sudah lama berjalan diapun duduk di salah satu bangku taman dekat pohon. Merapihkan alat lukisnya terlebih dahulu baru dia duduk di bangku bercat putih kusam itu.

Di dengakan kepalanya untuk melihat langit biru melalui mata biru langitnya yang senada. Dengan tatapan polos Naruto—sang jasa pelukis memandang langit biru

"Cantik seperti Hinata" gumamnya "Naruto suka" Naruto tersenyum lembut menatap langit.

Sudah beberapa minggu ini Naruto melakukan pekerjaan diam diam ini dari sanak saudaranya, awalanya ia merasakan keraguan dan ketakutan akan dunia luar tapi demi gadis berambut indigo itu Naruto dengan berani melakukannya dan sampailah pada sekarang ini..

Berkali kali Mendapatkan caci maki yang menyayat hati seperti 'anak pembawa sial' 'Pengemis sialan' dll, tolakan keras dengan berbagai ucapan yang tidak pantas di berikan kepada manusia, dan perlakuan yang tidak wajar seperti di tendang, didorong berkali kali bahkan Naruto pernah di lemparkan topeng kabuki yang terbuat dari kayu hingga kepalanya berdarah hanya karena ingin melihatnya, namun semua itu tidak Naruto pikirkan karena sebenarnya Naruto tidak tahu kenapa meraka melakukan semua hal itu padanya, karena keluarganya selalu mengajarkannya untuk menghargai orang lain apapun bentuknya dan terlebih pada orang tua dan Naruto sangat mematuhinya.

Walaupun dia Autis banyak kekurangannya tapi Naruto sangat jago dalam bidang melukis dan Naruto selalu menghargai orang lain dan tidak mudah marah atau lebih tepatnya jarang menunjukan rasa kasalnya kepada orang lain, kalaupun iya dia kan menyiksa dirinya sendiri karena rasa marahnya tersebut.

Makan dari itu keluarganya sangat menjaga Naruto agar dia tidak menyiksa dirinya sendiri karena dulu Naruto sering menyiksa dirinya sendiri tanpa sebab membuatnya selalu bolak balik ke rumah sakit karena kehabisan darah. Namun hal itu jarang terjadi kembali semenjak Naruto mengetahui sosok Hinata.

Setiap mengingat Hinata. Naruto selalu merasa senang dan patuh kepadanya apapun perintahnya. Jadi kalau Hinata Marah atau Kesal hal itu sangat membuat Naruto takut—sangat takut namun saat Hinata tersenyum dan tertawa hal itu membuat Naruto merasakan hal yang menyenangkan di dalam hatinya. Karena bagi Naruto, Hinata adalah lukisan yang berharga dalam hidupnya yang harus dia jaga dan rawat dengan baik.

Set!

Merasakan ada sesorang yang duduk di sebelahnya Naruto menatap seseorang di sampingnya

"Selamat siang" ucap sang wanita muda begitu lembut

Naruto langsung menunduk, kebiasaannya saat berhadapan dengan orang lain "Se-selamat pagi" cicitnya

Sang wanita yang bernama kurenai itu tersenyum melihat tingkah Naruto, dan beberapa kali Naruto ketahuan meliriknya dan bayinya di box bayi

"Anda seorang pelukis?" tanya Kurenai membuka percakapan

Naruto mengangguk cepat "Apa kau bisa melukis kami berdua?" dengan cepat Naruto menoleh dan mengangguk dengan antusius, di ambil perlengkapan lukisnya, dan Kunenai mengambil anaknya dari box lalu mengendongnya di pangkuannya

"Apakah dengan begini sudah pas?" ucap kurenai meminta persetujuan Naruto

Naruto menganguk dan mulai melukis ibu dan anak tersebut

7 menit berlalu dan Naruto selesai melukis. Naruto langsung memberinya kepada kurenai

"Wah cepat sekali dan ini—indah sekali.. terimakasih" Kurenai mengambil beberapa uang untuk membayarnya "ini—"

Namun Naruto langsung menolaknya "U-untuk bayi kecil " Naruto sambil menunjuk bayi Kurenai

"Sungguh?"

Naruto mengangguk dengan cepat, Kurenai tersenyum tulus melihat tingkah Naruto " Terima kasih, namamu siapa nak?"

"Naruto"

"Nama yang lucu, saya Kurenai dan ini Mirai" Kurenai menunjukan bayi kecilnya yang sedang terlelap kepada Naruto. dengan cepat Naruto berdiri dan berojigiri memberi salam, melihat tingkah Naruto membuat Hinata tertawa kecil

"A-apa ada yang lucu nyonya?" tanya Naruto polos

"Tidak, hanya Naruto sangat lucu"

Mendengar pujian entah kenapa Naruto menjadi bersemu merah dan langsung saja Naruto menunduk malu "Ah sebelumnya aku melihatmu. kau terus memandang langit, apa kau segitu menyukainya hm?"

Naruto mengangguk cepat "Karena mirip Hinata, cantik"

"Wah siapa itu Hinata, apa pacarmu?"

Dengan malu malu Naruto mengangguk, melihat tingkah malu malu Naruto yang sangat lucu membuat Kurenai kembali tersenyum "baiklah itu akan menjadi rahasia selanjutnya ya" Naruto sedikit bingung dengan ucapan Kurenai hingga menampilkan wajah polosnya "Maksudnya itu sudah masuk masalah pribadi Naruto-san" jelas Kurenai yang mendapatkan anggukan dari Naruto. beberapa menit hening hanya ada suara angin yang menari nari membawa dedauanan

"Sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu pada Naruto-san" Naruto menoleh pada Kurenai dengan tampang tanya. "Kenapa Naruto-san mau melakukan pekerjaan melelahkan yang sudah jarang peminatnya di zaman ini?"

Mendengar pertanyaan Kurenai membuat Naruto tersenyum manis "Hinata suka hadiah!—" balasnya dengan antusius "—Naruto ingin memberi Hinata hadiah yang Hinata suka!"

Mendengar itu Kurenai terteguh sesaat dan juga melihat tekad Naruto yang tulus "Apa Naruto-san tidak em mendapatkan uang dari orang tua atau wali Naruto-san?" Setahu Kurenai seorang anak yang berkebutuhan khusus tidak akan lepas dari pengawasan orang tua atau pemerintah

Naruto mengeleng "Naruto ingin membeli Hadiah sendiri! ayah, ibu, kakak dan Hinata– tidak ingin menyusahkan mereka" ucap Naruto sambil memainkan pensil lukisnya polos

Astaga Kurenai tidak mempercayai keadaan ini. anak yang berkebutuhan khusus ini memikirkan perasaan orang lain? Biasanya mereka tidak memperdulikan sekitar namun beda dengan Naruto, dia sangat berbeda dan sangat baik hati. Betapa beruntungnya mereka yang memiliki Naruto "Kamu anak baik, dan Hinata pasti akan senang mendapat hadiah darimu" Kurenai mengelus kepala Naruto lembut dan Naruto hanya memainkan pensilnya dengan tersenyum manis

"Ta-tapi Nyonya Kurenai dan bayi kecil harus janji" ujur Naruto tiba tiba

"Janji? Apa itu?"

"Jangan memberitahu Hinata ya" Naruto mengeluarkan jari kelingkingnya kepada Kurenai

"Baiklah ini akan menjadi rahasia kita bertiga" Kurenai membalas jari kelingking Naruto. Dengan pelanggan pertamanya di hari ini pertama kalinya Naruto dapat berbagi berita dan bertemu bayi kecil yang lucu…

.

.

.

.

.

.

"Waktunya Istirahat!" teriak photographer

Hinata langsung menuju ke ruangannya untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak, namun air minumnya habis yang hanya mendapatkan menghelai nafas pelan "Aku haus seka—ahk!" pekik Hinata saat seseorang menempekan air minum dingin di pipinya "Ap—" mata Hinata terbelalak

"Lama tak jumpa— Hinata"

.

.

.

tbc


Sigh

Namaki Shidota.