MIDNIGHT SUN
( Chapter 2 )
Naruto : Masashi Kishimoto
Yellow Bird © Akeboshi
Warning : OOC, Typo, Don't Like Don't Read, Shounen-ai, SasuNaru
"Ohayou," sapa Naruto pada pada Iruka yang terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.
Iruka menoleh ke arah putra angkatnya sambil tersenyum hangat, "ohayou, Naruto."
"Tumben Tou-san belum berangkat?" tanya Naruto kemudian mendudukkan dirinya tepat di depan Iruka.
"Hari ini Tou-san tidak ke kantor."
"Eh? Kenapa?"
Iruka menghela napas berat sambil memijit pelipisnya yang teras sakit, "Tou-san sepertinya sedikit demam."
Sontak Naruto menghentikan acara mengunyahnya begitu mendengar Tou-san kesayangannya sakit. Pemuda itu pun mendekat ke arah Iruka lalu memijit pundak laki-laki itu pelan, "Aku temani ke dokter, ya?"
"Tidak usah. Ini cuma demam biasa. Tidur sebentar juga sembuh, kok." Iruka balas mengusap punggung tangan Naruto yang masih berada di pundaknya. "Lebih baik kau cepat berangkat."
"Yakin mau aku tinggal sendiri?" tanya Naruto sangsi. Ia hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Iruka mengingat sekarang cuma sosok ini yang ia punya. Ia tidak mau kehilangan lagi.
Belum sempat Iruka menjawab, tiba-tiba terdengar sura bel dari arah depan. Sedikit merengut, Naruto akhirnya beranjak untuk membukakan pintu bagi tamu yang nekat datang di saaat mood-nya sedang buruk.
.
.
"Kenapa kau suka sekali menumpang sarapan di rumah orang lain, Uchiha-senpai?" tanya Naruto sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Pertanyaan Naruto barusan sama sekali tidak digubris oleh senpai di depannya itu, Sasuke malah semakin sibuk dengan masakan-masakan Iruka, Tidak terpengaruh sedikitpun akan tatapan membunuh Naruto.
Iruka hanya bisa terkekeh geli melihat interaksi unik yang terjadi diantara kedua orang itu. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari ia tonton secara 'live', jadi bisa dibilang kalau dirinya sudah kebal.
Merasa tidak dihiraukan sama sekali membuat Naruto semakin jengkel. Dengan kasar, diambilnya tas yang ia letakkan di kursi sebelahnya, "aku berangkat duluan!"
Sasuke yang melihat itu, cepat-cepat menyusul Naruto yang hampir mencapai pintu, setelah sebelumnya mengucapkan 'terima kasih' pada Iruka.
Sasuke menjejeri langkah Naruto, tapi pemuda orange itu sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Setelah beberapa menit dalam diam, akhirnya Sasuke berinisiatif untuk memecahkan keheningan itu.
"Kau ini kenapa? Sedang PMS?"
Sebuat jitakan tepat mengenai kepala Sasuke.
"Jaga bicaramu, Uchiha! Aku sedang tidak niat untuk bercanda!"
Sasuke hanya mendengus. Dan lagi-lagi perjalanan mereka menuju sekolah diwarnai oleh keheningan.
"Sasuke?" Ichigo tiba-tiba berhenti. "Dimana mobilmu?"
"Di rumah." Jawab Sasuke enteng.
Dan jawaban singkat itu sukses membuatNaruto melongo. Biasanya Sasuke seolah tidak bisa dipisahkan dengan mobil hitam kesayangannya itu.
"Apa maksudmu?"
Sasuke menghela napas kesal. Sejak kapan Naruto jadi banyak tanya begini?
"Sudah jelas 'kan? Mobilku aku tinggal di rumah. 'Kan kau sendiri yang bilang, kalau aku harus belajar hidup sederhana. Lagipula, sekali-kali jalan kaki ke sekolah, tidak buruk juga."
Sekali lagi Naruto tertegun. Bagaimana bisa Uchiha Sasuke yang putra seorang pengusaha sukses ini mau begitu saja menuruti sarannya?
Setelah itu, sisa perjalan menuju ke KonohaGakuen diwarnai dalam diam. Dan tanpa sadar mereka telah sampai di depan gerbang tempat mereka menuntut ilmu.
Sasuke dan Naruto masih berjalan beriringan, mereka baru berhenti ketika sampai di depan kelas Naruto.
Sasuke menepuk pelan kepala orangeNaruto, "aku duluan." Ia kemudian berlalu, menuju kelasnya sendiri.
.
.
Naruto mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya dengan handuk kecil yang disodorkan Sasuke. Hari ini klub Kendo mereka sedang mengadakan latihan untuk pertandingan bulan depan. dan jangan tanya bagaimana kerasnya pelatih mereka, Kakashi-sensei. Sensei mereka yang sedikit 'unik' tersebut tidak akan tanggung-tanggung dalam memberikan latihan pada anak didiknya. Dan untung saja anak-anak di klub KendoKonohaGakuen sudah terbiasa dengan pola latihan senseimereka yang sering telat itu.
Sekarang yang tersisa di ruangan klub hanya Ketua dan Wakil Ketua klub KendoKonohaGakuen. Teman-teman mereka sudah pulang duluan. Wajar saja, karena hari juga sudah mulai gelap.
Sasuke beringsut dari tempatnya semula dan mendudukkan diri tepat di samping Naruto yang sedang meminum air mineral., "kau tidak kerja?"
Naruto menoleh sekilas, "aku libur."
Sasuke hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian ia berdiri dan mengambil tasnya.
"Ayo pulang. Atau kau mau aku tinggal?"
Naruto mendengus kesal, "kau ini kenapa tidak bisa sabar?"
Sasuke tidak menghiraukan omelan Naruto, ia malah mempercepat langkahnya dan setelah sampai di dekat pintu, pemuda itu sedikit berteriak, "hei! Kau mau aku kunci di sini? Cepatlah sedikit! Lambat sekali, sih."
Naruto setengah berlari menyusul Sasuke dan segera meninju lengan pemuda itu pelan.
"Ck! Menyebalkan!"
Setelah mengunci ruang klub, mereka segara berjalan menuju gerbang, namun baru beberapa langkah, gerimis telah berhasil membuat kedua orang itu berlari untuk berteduh.
"Hah… kenapa harus hujan?" rutuk Naruto sambil memandang gerimis yang mulai menderas.
Sasuke hanya diam, saat ini entah kenapa ia sedang malas untuk bicara.
Tiba-tiba mata biru Naruto terpaku pada pintu ruang musik yang sedikit terbuka. Bukankah seharusnya jam segini, semua kegiatan klub sudah selesai semua? Tapi kenapa ruang musik tidak dikunci? Pemuda orange itu segera berjalan ke arah ruangan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berteduh, tidak menghiraukan panggilan Sasuke yang semakin keras.
Sasuke hanya bisa berdecak sebal melihat kelakuan Naruto. Dan mau tidak mau ia akhirnya mengikuti Kohai-nya yang kadang suka semaunya sendiri itu.
Naruto perlahan memasuki ruangan yang biasa dipakai berlatih oleh anak-anak klub musik tersebut dan menyalakan lampu, "bisa-bisanya mereka lupa mengunci pintu."
"Mungkin mereka lupa." Sasuke berkata sambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Lupa? Ceroboh sekali!" cibir Naruto.
Sasuke tersenyum sinis mendengar perkataan Naruto barusan, "ceroboh? Memangnya kau tidak?"
"Urusai!" bentak Naruto sengit. Kemudian tangannya mengambil sebuah gitar yang terletak tidak jauh dari tempat duduk Sasuke. Ia mulai memainkan melodi secara acak, namum di pendengaran seorang Uchiha Sasuke terdengar begitu harmonis. Selaras dengan suara hujan yang kembali gerimis.
Perlahan bibir Naruto mulai melantunkan sebuah lagu.
One rainy afternoon
A yellow birdnest in my (grumpest) tree
I have stories to tell you tonight
I have stories to tell you tonight
Tanpa sadar, mata hitam Sasuke mulai terpejam. Menikmati setiap lirik yang meluncur dari bibir Naruto. Lagu ini begitu pas dengan keadaan hari ini. Hujan.
Dan ia ingin menceritakan 'sesuatu' pada orang di dekatnya sekarang ini. Menceritakan tentang apa yang ia rasakan, Tapi mungkin ia harus menunggu hingga saat itu tiba.
Sasuke terus memejamkan matanya, dan ia tidak menyadari kalau Naruto telah berhenti bernyanyi. Pemuda orange itu memandang Sasuke yang terlihat seperti sedang tertidur.
'Hei... ayo bangun, Baka-senpai." Tegur Naruto sambil menepuk pundak Sasuke.
Sasuke segera membuka matanya dan berujar kesal, "aku tidak tidur!"
"Ayo pulang, hujannya juga sudah reda." Tanpa menghiraukan gerutuan Sasuke, Naruto mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Sedangkan Sasuke hanya mengekor saja dengan langkah malas.
"Kau ini benar-benar merepotkan, MidnightSun." Bisik Sasuke sebelum menutup pintu ruangan itu.
.
.
Maybe it's ok if I lie and prentend that there's nothing bothering me.
Sudah hampir lima menit Sasuke diam di depan café tempat Naruto bekerja dan selama itu pula ia hanya menatap dari balik jendela yang memperlihatkan dengan jelas segala aktivitas di dalamcafé kecil namun memiliki interior yang begitu apik.
Sasuke tidak perduli kalau posisinya itu bisa mengganggu pelanggan yang keluar masuk café. Sekarang ini matanyanya cuma terpaku pada satu hal, tepatnya seseorang. Seorang pelayan berambut orangeyang sedang sibuk melayani para tamu. Sasuke juga tidak menghiraukan bisik-bisik gadis remaja yang kebetulan lewat. Berani taruhan, pasti mereka sedang membicarakan dirinya. Dengan segala yang dimiliki olehnya, tidak heran jika Uchiha Sasuke jadi idola, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Entah apa yang membuatnya melangkah ke dalam. Ia acuhkan pelayan yang mengucapkan 'selamat datang' dan segera menemui Naruto yang sedang meletakkan secangkir Cappuccinodi hapadan pelanggan.
"Sasuke?" Naruto mengerutkan dahinya begitu melihat kedatangan Sasuke.
Sasuke segera menunjukkan seringaian menyebalkannya ketika melihat wajah bingung Naruto, "Hn."
"Tumben kau datang? Bisanya hari minggu begini kau lebih suka malas-malasan di kamarmu, Tuan Muda." Sindir Naruto sambil berjalan ke arah meja yang kosong. "kau mau pesan apa?"
Sasuke mendudukkan dirinya di kursi yang ditunjuk Naruto, "Cappucino."
"Tunggu sebentar."
Naruto segera berlalu untuk menyiapkan pesanan Sasuke.
Sepeninggal pemuda itu, Sasuke menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Sebenarnya ia datang ke sini ada tujuan tertentu. Ia ingin 'menculik' pemuda orangeitu sebentar. Sekedar menemaninya jalan-jalan atau apa, tapi melihat jumlah tamu yang datang semakin banyak membuat Renji mengurungkan niatnya. Dan ia yakin kalau Naruto akan menolak dengan alasan 'sibuk'. Sekali lagi Sasuke menghembuskan napasnya.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Naruto sambil meletakkan pesanan Sasuke di hadapan sang senpai.
Sasuke mengaduk sedikit Cappucino-nya, "tidak."
"Oh… ya sudah. Aku tinggal dulu, pekerjaanku masih banyak."
"Tunggu!" Sasuke refleks menahan lengan Naruto yang sudah berbalik, membelakangi dirinya.
"Eh?"
Naruto tidak tahu kenapa, ada perasaan yang aneh ketika Sasuke memegang lengannya. Kenapa baru sekarang ia merasakannya? Padahal ia sudah sering melakukan kontak fisik dengan seniornya ini.
Mereka berdua seolah nyaman dengan keheningan yang tiba-tiba datang. Sampai…
"Bisa lepaskan tanganmu?" suara Naruto terdengar begitu lirih.
Sasuke cepat-cepat melepaskan pegangannya, "maaf…"
Setelah berhasil mengendalikan debaran jantungnya yang meningkat, Naruto mengeleng sebagai pengganti kata 'tidak' namun ia masih berdiri di dekat Sasuke. Kakinya seolah berat untuk melangkah.
Sekilas, Sasuke tampak sedikit gugup, tapi ia berusaha bersikap wajar. Ia kembali mengaduk minumannya yang masih penuh, "kau masih lama?"
Sedikit menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba merasa kering, Naruto menjawab pertanyaan itu, "iya… mungkin sampai malam."
Sasuke mengerutkan dahinya tanda kurang suka mendengar jawaban itu, "sampai malam? Kau mau terlambat ke sekolah besok, Baka-kohai?"
"Bukan urusanmu!"
"Tentu saja ini urusanku!"
"Apa? kau ini…."
Pertengkaran konyol mereka segera diinterupsi oleh sebuah suara, "kenapa kalian berdua tidak pernah bisa tenang?"
Seorang pemuda dengan iris emerald tampak sedang berjalan ke arah Ichigo dan Renji yang sepertinya akan bersiap melontarkan kata-kata 'indah' satu sama lain.
Pemuda itu memasang wajah jengkel ketika sampai di tempat mereka, "setidaknya jangan membuat keributan di café-ku!"
"Dia yang mulai!" teriak Sasuke dan Naruto bersamaan.
Gaara hanya bisa mengeleng pasrah melihat kelakuan kedua sahabatnya. Ya, sahabat yang kadang-kadang suka merepotkan.
Naruto mendengus jengkel. Hilang sudah semangatnya hari ini. Semua gara-gara si rambut pantat ayam menyebalkan ini!
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Naruto meninggalkan Sasuke dan Gaara berdua.
"Dia kenapa?" tanya Gaara sambil menunjuk Naruto pada pemuda di depannya yang diam-diam menatap punggung Naruto yang semakin menjauh.
"Tidak tahu. Sudah, biarkan saja." Ujar Sasuke dengan suara pelan.
"Kalian ini aneh. Terutama kau."
"Aku?"
Gaara mengeleng pelan, "kenapa kau tidak bilang tentang perasaanmu yang sebenarnya?"
"Dan itu akan sukses menbuatnya menjauh? Dia akan mengganggapku aneh dan menjijikkan."
"Jangan pesimis begitu, siapa tahu kenyataaannya berbeda. Kau belum pernah mencoba 'kan?"
Kali ini Sasuke mencoba untuk tersenyum, meski hasilnya hanyalah senyum yang penuh dengan kegetiran, "aku hanya mencoba untuk realistis, tidak semua orang mempunyai pikiran seperti dirimu."
Gaara menghembuskan napasnya. Ia mulai kesal dengan percakapan yang jika diteruskan akan berlangsung alot, mengingat dirinya dan Sasuke adalah tipe orang yang sama, keras kepala. "ngomong-ngomong tumben kau ke sini?"
"Untuk melihat, MidnightSun-ku."
Gaara mengernyitkan keningnya heran mendengar kata-kata Sasuke yang menggandung sedikit unsur gombal. Heh! sejak kapan Uchiha belajar menggombal?
"Sasuke… kau tidak ada bakat merayu, tahu! Entah apa yang Naruto akan lakukan kalau ia mendengarmu memanggilnya, MidnightSun!"
Sasuke berdecak kesal mendengar kalimat Gaara, "panggilan itu cocok untuknya."
"Ya… ya… terserah kau saja." Gaara berdiri dari kursinya, kali ini sambil menahan tawa.
"Mau ke mana, kau?"
Gaara hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya.
"Dia sendiri tiidak kalah aneh. Dasar!"
.
.
"Hei.?"
"Apa?"
"Kau menyebalkan!"
"Terima kasih, aku anggap itu pujian."
Lagi-lagi Naruto dibuat kesal oleh orang yang sama! Ia tidak menyangka kalau Sasuke akan menunggunya sampai selesai. Dan sekarang, seniornya ini memaksanya untuk pergi ke taman kota! Ini sudah hampir jam tujuh dan tubuhnya perlu istirahat! Apalagi ada tugas sekolah yang belum sempat dikerjakannya! Naruto benar-benar ingin melempar kepala Sasuke dengan pot bunga yang ada di sampingnya.
"Aku lelah! Kalau kau cuma mau bengong di sini, lebih baik jangan ajak aku!" kata-kata ketus Naruto mulai terdengar sekarang.
"Temani aku."
Ucapan yang terdengar seperti memerintah itu sukses membuatNaruto meradang.
Ia memilih untuk menjauhi pemuda menjengkelkan ini. Sebaiknya ia pulang dan menyimpan energinya untuk besok. Naruto mulai berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh sampai ia merasakan sebuah tangan sekali lagi menahan lengannya.
"Sebentar saja…. Aku janji, ini tidak akan lama." Bisik Sasuke.
Naruto hanya bisa menurut ketika Sasuke menggandeng tangannya, menuntunnya untuk duduk di bangku taman.
Hening.
"Tumben gitarmu kau tinggal." Sasuke berkata sambil memandang jauh ke depan. Jujur saja, ia tidak berani menatap wajah Naruto.
"Ketinggalan."
Sasuke tidak tahu apa yang membuat tangannya bergerak dan menggenggam jemari Naruto yang terasa dingin, "kalau begitu, malam ini temani aku. Nanti aku antar kau pulang."
"Terserah kau saja."
Anehnya, sama sekali tidak ada penolakan dari Naruto ketika Sasuke mulai menautkan jemari mereka.
Ada sedikit harapan di hati kecil Sasuke, namun keraguan itu belum juga hilang.
Tapi kali ini, ia hanya ingin menimati waktunya bersama dengan Naruto.
BersamaMidnightSun-nya.
T.B.C
AN:
Yosh update kilat, seperti permintaan beberapa readers. ^^v
Balesan ripiu:
mitsu-tsuki: hai..hai.. salam kenal juga. Panggil saya Zen saja ^^ um...makasih udah ripu dan untuk update kilat, saya usahakan :D
ShikiRaven-Sakuraii: Udah lanjut! Udah update kita! *nari hula2* thanks udah ripiu :D
ChaaChulie247: udah update kilat nih, sankyuu ripiunya...
Ladyheehee: hohho makasih udah bilang nih fic bagus *bow* udah cepet udpate nih...
ryu:sankyuu udah ripiu, udah update kilat pula... :D
ApdianLaruku : Huweee gantung? Iya juga sih hehehehe *nyengir* ini bukat sekuel, tapi next chapnya ^^
