.
NOIR (Daejae ver.)
.
Chapter 2
.
Suasana kantin rumah sakit tampak ramai di saat jam makan siang seperti ini.
Seorang dokter laki-laki dengan name tag Yoo Youngjae yang terpatri pada jas putihnya tengah duduk di salah satu meja yang terletak di sudut kantin. Dia tampak tak berselera untuk makan, terbukti dengan hanya di aduk aduknya semangkuk sup jagung nya.
Seseorang meletakan piring makanannya di depan Youngjae, membuatnya mendongak pada orang itu. Tanpa bicara, orang itu segera melahap makanannya.
Youngjae terus menatapnya.
"ada apa ?." tanya orang itu yang sadar terus di perhatikan Youngjae.
"kau seperti orang tidak pernah makan, Im Jaebum."
"setelah ini aku ada operasi besar, jadi aku harus makan banyak."
Jaebum kembali memakan makanannya dengan lahap dan melirik mangkuk Youngjae yang masih penuh dengan Sup Jagung.
"kau tidak makan ?."
"sudah kenyang sepertinya."
"kalau begitu kenapa kau kesini ? buang buang makanan saja. Aku bisa rugi."
"ah, dasar. benar benar perhitungan. Kau tidak akan bangkrut karena semangkuk sup."
Sekedar informasi saja. untuk semua pegawai rumah sakit, makanan di kantin ini gratis.
"bagaimana hari liburmu kemarin ?." Jaebum mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin terus berdebat dengan sahabatnya di siang yang cukup panas seperti ini.
Pertanyaan Jaebum membuatnya jadi mengingat kejadian kemarin pagi saat dia berdebat dengan laki laki asing itu.
"dimulai dengan pagi yang buruk." nada kesal begitu mendominasi.
"kenapa ?."
"kemarin lusa, saat aku pulang dari rumah sakit. Aku tidak sengaja menabrak orang."
Jaebum yang baru menyelesaikan makannya, menatap Youngjae terkejut, dan hampir saja dia tersedak air putih yang di minumnya.
"ah, bukan bukan. Aku tidak menabraknya, dia tiba tiba pingsan di depan mobilku." dengan mengibas ngibaskan tangannya, Youngjae mencoba meralat perkataannya.
"lalu ?."
"aku membawanya kerumah ku." Cicit Youngjae pelan, raut wajahnya tampak menyesal.
"kau sudah gila ! membawa orang asing ke rumahmu ?." Jaebum sedikit berteriak membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.
Jaebum berdehem, mencoba mengendalikan dirinya. dia adalah CEO rumah sakit ini, tidak sepantasnya dia bersikap seperti itu.
"kau gila." Kali ini Jaebum memelankan suaranya dengan mendelik ke arah Youngjae.
"aku tidak tahu harus bagaimana. Jalan benar benar sepi, dia juga tidak memiliki identitas."
"sudah tahu begitu kenapa malah di bawah ke rumahmu. Bagaimana jika dia berniat jahat ?."
"aku baik baik saja Jaebum."
"kau ini, lain kali jangan lakukan itu. Kau kan bisa telpon polisi."
"aku tidak ingin berurusan dengan polisi. Itu akan memperpanjang masalah. Sudah lah jangan membahasnya lagi."
Jaebum menghela nafas kasar, melihat kelakuan sahabatnya ini. Kemudian melihat jam tangan branded yang melingkar di tangan kirinya.
"ya sudah, aku persiapan operasi dulu ya." Pamit Jaebum.
"iya. semoga operasinya lancar."
"habiskan makananmu jangan lupa."
"iya sajangnim."
Jaebum mengusak rambut Youngjae sebelum pergi, membuat sang empu berdecak dan memukul lengan Jaebum. Sementara sang pelaku hanya terkekeh.
.
.
Daejae
.
.
Di sebuah gang sempit di antara gedung gedung tinggi terdengar suara keributan yang memecah kesunyian malam. Sekitar sepuluh orang terlibat baku hantam dengan menggunakan senjata tajam dan beberapa balok kayu.
Daehyun juga terlihat disana, tengah menghadapi dua orang yang berusaha menjatuhkannya. Harusnya dia tidak ceroboh meremehkan orang orang ini hingga dia dan keempat anak buahnya meninggalkan short gun di markas. dengan begitu dia bisa dengan mudah menghabisi mereka.
Masalah dari perkelahian ini adalah lima orang dari mereka membeli beberapa senjata api dari kelompok Daehyun. Tapi, mereka merasa di tipu karena senjata api nya tak berfungsi sama sekali.
Dengan tangan kosong, tentu sangat sulit menghadapi dua orang sekaligus apalagi salah satu di antara mereka menggunakan senjata tajam.
ZRAASS
Daehyun kehilangan fokus. Orang itu berhasil melukai perutnya. Dia terdorong ke belakang membentur dinding.
BUGH.
Saat dua orang itu ingin menyerangnya lagi salah satu anak buahnya menjatuhkan orang bersenjata tajam dengan balok kayu hingga satu orang lainnya beralih melawan anak buahnya.
Daehyun meringis memegangi perutnya. Kemeja abu-abu yang dia pakai berubah kemerahan karena darah.
Dia melihat sekelilingnya yang tengah sibuk dengan lawan mereka masing-masing kemudian mengambil tas ransel hitam berisi uang yang berada tak jauh darinya. Pergi dari sana secepat yang ia bisa.
Setelah dirasa aman dan tak ada yang mengejarnya, Daehyun berhenti lalu bersandar pada tiang lampu. Melirik perutnya yang masih mengeluarkan darah. Dia mengerang pelan dan nafasnya terengah setelah berlari sementara perutnya terluka.
Tiba-tiba seorang laki-laki dengan kondisi nafas yang tak beda jauh darinya berhenti di depannya.
"Hyung, kau tidak apa ?." tanya orang itu sambil memegangi lengan kirinya yang berdarah.
"yang lainnya ?." Daehyun kembali bertanya. Laki-laki itu hanya menggeleng.
Malam ini anak buahnya berkurang tiga hanya karena sebuah transaksi seperti ini.
Daehyun menyerahkan tas ransel yang di bawanya pada orang itu.
"kembalilah ke markas, berikan ini pada Himchan hyung."
"lalu hyung bagaimana ?." orang itu melihat perut Daehyun. Bahkan tangan Daehyun yang memegangi perutnya ikut berubah warna menjadi merah.
"jangan khawatirkan aku. Aku akan mengurus ini." Daehyun berusaha bersikap baik-baik saja.
"lebih baik hyung juga ikut kembali."
"apa yang bisa aku lakukan disana. Mereka juga tidak ada yang bisa membantu mengurus luka ini."
Orang itu menatap Daehyun ragu.
"Kalau begitu, hati-hati hyung." Ujar laki-laki itu sebelum meninggalkannya disana.
Sepeninggal anak buahnya, Daehyun kembali berjalan tertatih. Pulang ke rumahnya dan mengobati luka itu seadanya mungkin. tapi, dia tidak yakin bisa bertahan sampai di rumah.
.
.
Daejae
.
.
Youngjae melajukan mobil putih kesayangannya pada jalanan kota yang tampak mulai sepi, di terangi dengan lampu-lampu jalan. hanya ada satu atau dua mobil yang lewat.
Di tengah istirahat part malamnya tiba tiba Youngjae ingin minum kopi, hanya untuk memulihkan tenaganya. Dia harus mengawet tenaganya karena dia baru bisa pulang besok siang.
Suasana seperti ini jadi mengingatkannya pada peristiwa empat hari lalu. Menyebalkan, padahal dia sudah lupa.
Youngjae melirik jam digital pada mobilnya. Kemudian merutuki kebodohannya. Dia baru sadar, larut malam begini dimana ada café yang masih buka ?.
Dengan segera dia memutar haluan. Jalanan sepikan ? jadi tak apa jika dia langsung memutar arah begitu saja meski tetap itu melanggar peraturan.
Youngjae menurunkan kecepatan mobilnya, alisnya bertaut. melihat halte bus di depannya. Seorang laki laki duduk di trotoar tepat depan halte bus itu. Mungkin orang mabuk. Youngjae mengendikan bahunya mencoba tak peduli.
Saat sampai di depannya, dia menoleh sebentar. Laki laki itu tengah tertunduk dengan sebelah tangannya memegangi bagian perut. Youngjae terus berjalan. Tapi entah hatinya merasa tak nyaman, dia kembali melirik melalui spion. Dia seperti pernah bertemu orang itu.
Hati dan pikirannya sedang tidak sejalan saat ini. otaknya menyuruhnya untuk terus berjalan, bagaimana jika dia orang jahat. Tapi, hatinya menyuruhnya untuk berhenti, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan orang itu.
Akhirnya dia menepikan mobilnya. Kali ini dia menuruti hatinya. Dia turun dari mobil, dan sedikit berlari menghampiri orang itu.
Youngjae membelalak, mulutnya menganga saat sampai di depannya.
Orang itu tengah memegangi perutnya yang mengeluarkan darah. Terlihat sangat jelas pada kemeja abu abu yang dia kenakan.
"tuan, kau tidak apa apa ?." Youngjae segera berjongkok di depan orang itu. Dia bisa melihat jelas wajah laki laki ini yang sedang menunduk.
Mencoba mengingatnya karena dia merasa familiar.
Laki laki yang empat hari lalu dia bawa ke rumahnya !. Dia jadi sedikit enggan menolong orang ini lagi. Tapi, tidak mungkin dia meninggalkannya disini dengan keadaan terluka seperti ini.
"kau lagi. Hei, kau tidak apa apa ?."
"pergi." Dengan meringis, Daehyun menepis tangan Youngjae yang bertengger di pundaknya.
"aku akan membawamu ke rumah sakit. Ayo." Youngjae mencoba menulikan pendengarannya. Egonya sebagai dokter lebih besar dari pada ke engganannya untuk kembali menolong orang ini.
"aku bilang…. Ssshh- pergi." Daehyun mendorong Youngjae kali ini. Hingga Youngjae jatuh terduduk di atas aspal.
"disaat seperti ini kau masih keras kepala."
"sshh- pergi." Daehyun mengulangi katanya.
"Ya ! jika kau tidak segera di tolong, kau bisa mati kehabisan darah."
Youngjae kembali mencengkram pundak Daehyun.
"apa pedulimu." ujar Daehyun menusuk
Youngjae menghela nafas kasar, untuk kedua kali nya dia menyesal berniat menolong laki laki ini.
Dia beranjak dari sana menuju mobilnya, mengambil kalung yang Daehyun tinggalkan beberapa hari lalu. Dan kembali menghampirinya.
"ya sudah jika kau tidak mau aku tolong. Aku akan pergi. Dan ini, kau meninggalkannya waktu itu." Youngjae memegang tangan Daehyun yang tak memegangi perutnya. Kemudian meletakan kalung itu pada telapak tangannya.
Benar. Daehyun tak boleh mati. Dia harus menemukan kekasihnya.
Baru saja Youngjae berdiri, hendak meninggalkannya. Daehyun segera menahan tangan Youngjae.
"tolong….aku…"
.
.
Youngjae menghentikan mobilnya tepat di depan pintu UGD.
"bawakan kursi roda kesini." Teriak Youngjae pada perawat yang berjaga di depan UGD.
Dengan telaten membantu laki laki yang tak di kenalnya ini keluar dari mobilnya dan membantunya duduk di kursi roda. Tidak peduli kini jas putihnya sudah terlumuri oleh darah.
"tolong siapkan anastesi, antiseptic dan alat jahit." Ujarnya pada perawat tadi selagi mereka masuk ke dalam UGD.
Dia memindahkan Daehyun pada bangsal, tepat setelah perawat tadi membawakan apa yang dia minta.
"apa aku bisa membantu ssaem ?." tawar perawat itu.
"tidak perlu, tolong tutup tirainya."
Perawat itu menutup tirainya, dan beranjak pergi dari sana.
"aku akan membuka bajumu." Ijin Youngjae kemudian melepas satu persatu kancing kemeja Daehyun.
Entah apa yang membuatnya merona saat melihat tubuh bagian atas Daehyun. abs yang terbentuk disana dengan beberapa bekas luka.
Dia mencoba kembali focus pada luka Daehyun. terdapat sayatan di perutnya. Beruntung darahnya sudah berhenti keluar. Sepertinya lukanya tak terlalu dalam.
Youngjae membersihkan lukanya, sesekali dia melirik Daehyun yang memejamkan matanya dengan ringisan pada bibirnya. Dia kemudian menyuntikan anastesi. Dengan pelan Youngjae menjahit lukanya.
Dia bernafas lega saat sudah selesai. Youngjae memegang pergelangan tangan Daehyun dengan melihat jam tangannya utuk memeriksa detak jantung. Dia juga memeriksa tekanan darah Daehyun. semuanya normal.
"menginaplah disini sampai besok pagi. Apa kau ada seseorang yang bisa di hubungi ?."
Daehyun menggeleng. Youngjae terheran sekaligus bingung. Siapa lalu yang akan menjadi walinya ?.
"istirahatlah, jangan banyak bergerak. Jahitanmu bisa terlepas. Besok pagi aku akan memberikan obat yang harus kau minum."
Tanpa mendengar jawaban Daehyun, dia pergi dari sana. Toh, laki laki itu pasti tidak akan menjawabnya.
.
.
"Youngjae-ah bangun. Youngjae-ah." Jaebum menepuk nepuk pipi Youngjae yang sedang tertidur pulas.
Youngjae mengerjap pelan. matanya membiasakan cahaya matahari yang masuk dari jendela ruang istirahat malam.
"jam berapa ini ?." gumamnya dengan suara serak.
"jam sembilan, kita ada operasi jam sepuluh." Jawab Jaebum.
Youngjae terperanjat, bukan setelah ini dia ada operasi. Tapi dia hampir lupa dengan laki laki yang semalam.
Dia segera bergegas menuju apotik setelah mengambil sebuah kertas berisi beberapa nama obat yang dia tulis semalam di meja kerjanya. Tak mengindahkan teriakan Jaebum yang memanggilnya.
"tolong berikan aku ini." Youngjae memberikan kertasnya. Tak lama sang apoteker memberinya kantong plastic putih dengan label rumah sakit, berisi beberapa obat yang dia minta tadi.
Dia kembali berlari, kali ini menuju meja receptionist. Jaebum juga sudah berada disana.
"kau dari mana ? kenapa terburu buru ?."
"tolong berikan aku formulir." Pinta Youngjae pada bagian administrasi dan mengindahkan Jaebum lagi.
Jaebum mengerutkan keningnya saat Youngjae mengisi data wali pasien.
"siapa yang sakit ?." tanya Jaebum.
"tidak tahu. Dia harus segera minum obatnya. Ini sudah lewat jam minum obat."
Youngjae kembali berlari lagi menuju UGD, kali ini Jaebum mengikuti Youngjae.
Dia mengatur nafasnya saat sampai di depan bangsal Daehyun yang tirainya masih tertutup. Dia membuka tirainya, tapi matanya tak mendapati siapapun berbaring disana. Hanya ada beberapa lembar uang seratus ribuan.
"dimana pasien yang ada disini ?." tanya Youngjae pada siapa saja yang berada di UGD.
"sepertinya tidak ada yang melihatnya ssaem." Ujar salah seorang perawat.
"kenapa ?, apa seseorang kabur sebelum membayar tagihannya ?." Sahut Jaebum.
Youngjae tidak menjawab Jaebum. Dia malah menyahut beberapa lembar uang di atas tempat tidur.
"sepertinya dia memang tidak bisa mengucapkan terima kasih." Gumam Youngjae.
Youngjae kembali di buat kesal oleh orang yang sama. Bahkan dia rela tanpa mandi, cuci muka atau apapun dan harus berlari demi laki laki itu. Ini benar benar konyol.
Youngjae mengehela nafas, dia melihat jam dinding. Karena sebentar lagi dia ada operasi, segera saja dia bergegas dari sana. Dan Jaebum kembali mengekor.
"Youngjae." panggil Jaebum.
Youngjae hanya bergumam untuk menjawab Jaebum.
"kenapa ada banyak darah pada jasmu ?." tanya Jaebum.
"kau tau dari mana ?."
"kau belum mencucinya. Itu masih terletak di keranjang cucian kotor di ruanganmu."
"aku akan mencucinya nanti di rumah. Aku bertemu orang yang berlumuran darah kemarin malam, dan aku membawanya kesini."
"siapa ?."
"orang yang sama, yang aku tolong lima hari lalu."
"oh, orang itu." Sahut Jaebum santai. Dan sesaat laki-laki bermata kucing itu tersadar.
"Ya ! lalu siapa yang akan membayar tagihannya ?." Sambung Jaebum mulai mengomel.
" kau bisa memotong gajiku. aku akan mandi, kau masuklah dulu ke ruang operasi, setelah ini aku akan menyusul."
Youngjae berbalik menuju ruangannya, meninggalkan Jaebum yang masih berdiri pada tempatnya. Dia penasaran dengan orang itu, sampai membuat Youngjae mau menolongnya dua kali, setelah sikap buruknya terhadap sahabatnya.
.
.
.
.
TBC
.
Terima kasih untuk yang sudah RnR, follow, favorite dan Read :)
