"Mereka akan kuhidupkan..."
Selama berminggu-minggu, Rozen hampir kurang makan dan minum, ia selalu mengerjakan boneka-boneka baru yang mirip dengan anak mereka. Seakan kunjungan Shirosaki hampir terasa diabaikan, Shirosaki hanya melihat ia dari kejauhkan betapa tangan lembut Rozen membuat boneka dengan ukiran yang luar biasa.
"Ia membuatnya dengan perasaan yang begitu mengagumkan selayaknya ia menyayangi anaknya sendiri. Ia membuat boneka dengan penuh kasih sayang, hahahaha, aku sangat iri melihatnya. Sebaiknya aku tidak mengganggunya..." Shirosaki pergi dari mansion menuju suatu tempat seperti sebuah toko yang didalamnya terdapat begitu banyak boneka buatan. Tempat itu bernama Enju's Company.
"Bagaimana dengan kuncinya, Shirosaki?"
"Kesabaran adalah kunci utama dalam hal ini, Tuan Enju. Terlihat kau begitu mirip dengan Rozen, dan itulah kelebihan darimu yang aku bisa gunakan."
Enju kembali membuat sebuah boneka yang selama ini ia impikan. "Entah kenapa perasaanku membuat boneka yang satu ini punya hubungan erat dengan Rozen. Aku mengenalnya, saat waktu aku masih muda, aku ingin memiliki tangannya yang luar biasa. Waktu kecil ia yang hanya dirumah saja, menghancurkan kamarnya sendiri demi hal yang ia inginkan. Aku selalu bermain dengannya saat kecil, dari mulai menggambar, sampai sering membuat istana pasit dipantai."
"Ada apa gerangan kau mengatakan hal itu, Tuan Enju?"
"Itulah yang kurasakan saatku membuat boneka yang satu ini. Seandainya Kunci Emas itu bisa mewujudkan apa yang aku inginkan, mungkin akulah yang akan menjadi Rozen yang sebenarnya."
Enju mendeskripsikan banyak hal mengenai Rozen saat itu, terutama... "1 orang dikehidupan kami datang. Dialah istri dari Rozen. Waktu kecil aku bersama Rozen sangat menyukai gadis itu, sampai-sampai hubungan persahabatanku dengan Rozen hampir berantakan. Kami berdua bertengkar, menerima tantangan satu sama lain demi gadis yang kami sukai. Kebetulan gadis itu suka boneka, maka dari itu aku berjuang memberikan boneka yang terbaik meskipun dari tanah liat. Tapi sayang... Rozen membuat boneka untuknya yang jauh lebih besar, lebih indah sampai-sampai pandanganku hampir tidak bisa menoleh kemana-mana. Akhirnya mereka menikah dan mempunyai 6 orang anak perempuan. Rasa cintaku dengan istrinya sampai sekarang masih belum terhapuskan. Lalu aku mencoba hal yang semestinya tidak aku lakukan."
Shirosaki mencoba menebak, "Biar kutebak, Tuan Enju. Kau menghamilinya, benar begitukan?"
"Ia mengandung 1 anak yang semestinya aku tidak mau anak itu ada, dan itu adalah kesalahanku yang terlalu mencintainya. Aku berusaha menolong istrinya dengan cara membujuk ia harus tidur dengan Rozen kembali, sehingga peristiwa hamilnya ia, murni karena Rozen dan bukan olehku. Syukurlah ia menerimanya, dan kemudian lahir 1 anak yang aku tidak tahu namanya. Anak itu dititipkan padaku, karena istrinya tau aku yang menghamilinya. Haha... nama yang seharusnya ku kasih nama... Akhirnya kuberikan nama yang istrinya tidak akan pernah tahu."
"Barasuishou... nama yang kau berikan kepada anak itu." kata Shirosaki.
"Barasuishou menderita cacat dimatanya, baguslah kau memberitahu Rozen kalau mata Barasuishou cacat karena kecelakaan. Dengan itu depresi Rozen akan berkurang. Namun semenjak ditangan Rozen, walaupun Barasuishou sudah besar, ia meninggal... Aku seharusnya membunuh Rozen saat itu."
Shirosaki terlihat agak heran mendengarnya, "Apalagi jika Barasuishou ditanganmu Tuan Enju, pasti Barasuishou akan meninggal cepat."
Enju terlihat sedih kala itu. "Nama Kirakishou... diucapkan oleh istrinya... itulah mengapa aku menghargai saat kau membawa Barasuishou, kau menggunakan nama Kirakishou kepada Rozen, dan menyuruh Rozen untuk merawatnya." Enju meneruskan membuat bonekanya, "Tapi... kuhargai semua usaha Rozen dalam membesarkan Barasuishou... anak itu, sudah kuanggap pula sebagai anak Rozen sendiri. Jujur, aku sangat berterima kasih dengannya."
Di Istana Rosenheim, Rozen berjalan menuju kamar ayahnya, dan mengambil sebuah peti besar yang berukiran bunga emas diatasnya, dengan kunci emas yang dimiliki Rozen, ia membukanya. 7 buah Roza Mystica yang bersinar terang, Rozen menutup petinya kembali, "Akan kugunakan nanti..."
Akhirnya, Rozen menyelesaikan 1 boneka yang terduduk di bangku sofa merah manjang selayaknya bangku seorang ratu. Terduduk disana sosok boneka yang menyerupai anak pertamanya."Suigintou..." Rozen perlahan mendekatinya, dan memeluk Suigintou... "Suigintou..." Dibelakang boneka, terdapat 1 lubang kecil dan Rozen gunakan untuk memasangnya kunci emas yang ia punya. Rozen mengaktifkan Suigintou dipelukannya...
"Bergeraklah... Suigintou... Ayah disini..." Suigintou bergerak... pandangan yang ia lihat pertama kali adalah bunga yang dipegang oleh Rozen. Perlahan Suigintou bergerak menuju Rozen... namun Suigintou jatuh terjerembab. "Suigintou!"
Suigintou terlihat seperti boneka yang belum sempurna, Rozen merasa hampir putus asa, melihat seperti anaknya yang segera meninggal. Pandangan Suigintou memudar... Rozen yang hampir putus asa mencoba menggerakkan kembali Suigintou namun tidak bisa. Rozen akhirnya menaruh Suigintou diatas meja dan membuat boneka lagi demi keberhasilan nanti, "Tunggulah Suigintou... jika ini berhasil... kau juga akan memiliki tubuh yang sempurna."
Selama berbulan-bulan, Rozen mencoba membuat boneka yang betul-betul sempurna. Sementara Shirosaki yang sibuk melihatnya dari jauh, dan juga Enju yang senantiasa bersama tokonya membuat karya-karya boneka yang bisa ia perjual belikan. Terutama membuat boneka yang selama ini ia impikan.
Enju memikirkan sesuatu kepada Shirosaki ditokonya, "Aku hampir sukses disini. Setidaknya aku ingin mencoba hal lain." Shirosaki menanyakannya, "Apa itu Tuan Enju?"
"Ada banyak pesanan yang kuterima dari negara lain, bukan ditanah kelahiranku ini. Setidaknya aku bukan Rozen yang hanya memikirkan diri sendiri. Tempat yang akan kutuju ialah Jepang, yang kutahui disanalah tempat yang bagus untuk membuka toko. Tempat yang begitu damai." kata Enju.
Shirosaki tertarik mendengarnya, "Kalau begitu, aku bersedia ikut denganmu Tuan Enju." Enju dengan senang hati menyetujuinya, "Baiklah, kau seharusnya memang ikut denganku, Shirosaki."
Rozen yang masih tergila-gila membuat boneka, menjadikan istananya hampir penuh dengan sampah hasil kegagalannya. Walaupun dalam keadaan sakit, Rozen tetap membuatnya, bahkan waktu sehari-hari seperti makan dan minum hampir ia lupakan. Walaupun ditengah malam yang sunyi, ia tetap mencoba membuat boneka sampai ia berhasil.
Usaha Rozen akhirnya tidak sia-sia... Ia akhirnya berhasil membuat 1 boneka sempurna. Yaitu Kanaria... "Lihatlah apa yang aku buat... aku akhirnya berhasil..."
Pekerjaan Rozen terganggu dengan hadirnya sosok manusia dengan kepala kelinci, menggunakan Tuxedo hitam dengan mata merahnya, "Apakah aku mengganggu, Tuan Rozen?"
"S-Siapa kau!" Rozen merasa terancam.
"Aku Laplace's Demon. Hasil karyamu yang begitu mengagumkan, terutama satu boneka yang belum sempurna itu dan satu boneka yang sudah sempurna. Meskipun kau sudah membuatnya, mustahil kau bisa menciptakan semua ingatan dan perilaku selayaknya mereka sudah mencapai umur sekarang. Mereka masih belum mempunyai sifat dan lain-lain. Kau masih belum menggunakan Roza Mystica kepada mereka, kau baru saja menghidupkan mereka dengan kunci emasmu itu."
"Itu bukan urusanmu, Laplace's Demon. Apa yang kau inginkan...?"
"Menukar semuanya yang ada didalam dirimu kepada semua boneka-boneka Rozen yang akan kau buat. Jika kau mau rela berkorban demi semua boneka-bonekamu supaya menjadi lebih sempurna, lakukanlah selayaknya kau seorang Father (Ayah). Aku bisa mengaturnya, Rozen. Saat kau sudah membuat boneka yang terakhir yaitu Kirakishou, saat itulah kau sudah menjadi Ilusi bagi mereka. Biarkan semua kenangan dan apa yang menjadi sifat istri dan kau sendiri, ditumpahkan kepada semua boneka anak-anakmu itu nanti Rozen." saran Laplace's Demon.
"Apa aku bisa menemui mereka kelak?" tanya Rozen.
"Tentu, dengan penerapan yang sudah kuatur. Semua terkandung dalam 1 permainan yang mereka (boneka-boneka Rozen) akan suka. Boneka adalah sesuatu yang sangat lucu dan sangat disayangi banyak orang, Rozen. Saat kau sudah tidak ada, biarkan mereka dibimbing oleh para Master yang nanti akan mereka punya. Dan dengan berkumpulnya mereka kembali suatu saat, disitulah, kau akan menemui apa yang kau impikan kembali. Apa kau bersedia melakukan hal itu sebagai seorang Ayah, Rozen? Tentu kau memiliki rasa kasih sayang kepada mereka, bukan? Pikirkanlah..." jelas Laplace's Demon.
"Boneka-bonekaku... putri kesayanganku..." Rozen memikirkannya matang-matang.
"Boneka-boneka Rozen... Putri-putri seorang Rozen. Rozen Maiden (Putri Rozen), Menarik sekali..." -Laplace's Demon-
