Highest Life

Boboiboy ©Animonsta Studio

Rating : K+ NO YAOI!

Happy Reading & RnR please!

Senja tak bertahan begitu lama menggantung di langit barat ketika gelap mulai menyingsing, matahari yang biasanya membawa kehangatan kini telah berganti bulan-yang seiring dinginnya atmosfer kota-kian meninggi.

Sebuah motor keluaran Jepang terparkir sempurna di depan garasi, lampunya padam seketika mesin dimatikan. Dan kini bisa kita lihat si pengendara yang mengenakan jaket hitam dengan corak kilat merah-mengacak rambutnya yang sedikit lepek. Kets yang dipakainya menapaki teras rumah yang hanya mengandalkan penerangan lampu taman. Ya, dia Boboiboy Halilintar, penghuni tertua di rumah itu.

"Aku pulang." Desisnya nyaris terdengar seperti bisikan.

"Selamat datang."

Tak disangka sebuah sahutan menyapa pendengarannya ketika pintu setengah terbuka. Siluet hitam tertangkap pupil Halilintar yang melebar sempurna karena limitnya cahaya di ruangan itu.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan dirumahku? HAH!?" Tenaganya terpusat di tangannya yang kini terkepal erat bersiap menghantam siluet itu.

"W-wait, kak Hali! Ini aku Gempa!" seru sosok itu seraya berusaha mencari tombol saklar.

PATS..

Kegelapan yang sebelumnya menyelimuti, kini hilang tak bersisa. Sosok yang awalnya dilihat Halilintar sebagai siluet kini menjadi sosok Gempa yang tengah menunjukan mimik 'berhasil lolos dari maut'.

"Eh, Gempa?

"Kak Hali kenapa sih? Masak adek sendiri mau ditampol." Omel Gempa bersungut-sungut.

Halilintar hanya berdehem, sambil menyembunyikan wajah absurdnya akibat adrenalinnya yang sempat terpacu, hingga nyaris menjadikan adiknya target samsak.

"Y-ya habisnya-kau bilang pulang telat, lagian apa-apaan nadamu tadi yang dibuat memelas kaya gitu? Malah kaya bisikan setan tau ngga!" sergah Halilintar membuat pembelaan.

"Ya emang aku pulang telat, ini aja aku baru nyampe! Rapat sama pembina OSIS aja pake debat segala, sampai-sampai suara serak begini! Capek tau pontang-panting kesana-sini Cuma buat minta tanda tangan kepsek!" Seru Gempa yang disisipi curcol, sama sekali tak mau memahami Halilintar yang memiliki phobia akan hal-hal yang berhubungan dengan hantu.

Halilintar menghela nafas, "Ya sudah, biar aku yang menyiapkan makan malam, tadi aku sempat mampir rumah makan, jadi tidak perlu masak. Kau mandilah dulu dan istirahat sebentar, setelah itu kita makan bersama."

Sambil berlalu, tangan kekarnya dengan lembut mengusap lembut surai hitam adik terkecilnya. Rasa sudah sangat lama sekali Halilintar tak menunjukan sisi lembutnya seperti ini, selama ini sifat tegas, kritis dan leadership-nya yang tinggi menutupi segala kelemahannya. Meskipun ia tak terlahir dengan sifat lemah lembut seperti Gempa, tapi dialah yang paling bisa di andalkan. Mungkin juga karena tak lepas dari posisinya sebagai anak pertama.

6 tahun yang lalu, kedua orang tua mereka meninggal karena sebuah insiden yang tak terduga dan sejak saat itu kehidupan mereka berubah. Mereka sempat tinggal bersama kakek mereka, namun 1 tahun berjalan, beliau menyusul kedua orang tua mereka.

Bukan hal mudah bagi Halilintar yang saat itu baru memasuki sekolah menengah atas mengurus kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD. Banyak hal berat juga pahit telah ia rasakan saat itu, mungkin bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi menjadi salah satu takdir manis yang Tuhan berikan padanya. Beasiswa yang ia peroleh untuk mendapat gelar sarjana komputer nanti juga hasil kerja kerasnya selama ini.

Meski terkadang ia lelah dengan permainan takdir ini, ia selalu berprinsip 'Hidup tak boleh setengah-setengah'. Mungkin prinsip hidupnya terdengar berat dan terpaksa, tapi ia bisa bertahan hingga saat ini pun juga tak lepas dari prinsip yang dipegangnya teguh.

Kerutan hitam tercetak jelas di sekitar netranya, sesekali ia menguap lebar karena waktu tidurnya tersita untuk mengerjakan tugas dan membuat jurnal mata kuliahnya. Belum lagi ia sering membawa pekerjaan part time ke rumah, ia sudah melakukan hal itu selama beberapa tahun terakhir.

"Habis ini harus mulai ngoding." Gumam lelaki beriris ruby itu hendak membuat secangkir kopi. Tapi kegiatannya terhenti seketika, keningnya berkerut seolah pikirannya dipenuhi tanya.

Suatu cairan kental berwarna merah menempel di sisi wastafel dan sebagian tercecer di keramik, sebenarnya ingin ia menyangkal tapi ketika ia menyentuh dan mencium bau anyir melekat pada liquid itu, baru ia percaya bahwa itu noda darah.

Satu kalimat tanya yang pertama kali dipikiran Hali adalah 'Darah siapa?' Sesaat sosok Taufan terbesit dipikirannya, entah apa yang membuatnya berpikir kalau itu darah miliknya. Hanya saja...

"Aku sudah selesai, kak Hali mau mandi dulu?" Sebuah suara yang berasal dari belakang membuat lelaki yang tengah sibuk dengan pikirannya itu terkesiap. Dengan cepat ia memutar keran, dan air dengan cepat menyapu noda tersebut, sambil mengelap sisa darah lainnya yang tercecer di keramik. Kini ia dapatinya sosok adik bungsunya yang telah berdiri di depan pintu dapur.

"Kak Hali kenapa?" Tanya Gempa dengan pandangan penuh selidik.

"Hm? Memangnya kenapa?" Dusta Halilintar kembali sibuk dengan makan malam mereka.

Ia terdiam begitu melihat ekspresi datar kakaknya yang terbaca jelas sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi ia mengacuhkan tingkah Halilintar, toh kakaknya satu itu pasti tak mau membeberkannya. Ia selalu menjaganya untuk dirinya sendiri.

"Ayo makan," ujar Halilintar sembari memindahkan piring yang telah ia siapkan ke meja makan.

Malam itu makan malam berlangsung dengan tenang, tak ada kebisingan yang biasanya memperkeruh ruangan itu, hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Halilintar sudah terbiasa untuk makan dalam diam meski pikirannya kabur entah kemana, sedangkan Gempa, sebenarnya ada yang ingin ia sampaikan pasal Taufan yang dikabarkan pingsan tadi, tapi ia merasa itu bukanlah obrolan yang bagus untuk mengisi kekosongan ini.

"Gempa..?" Suara baritone berat Halilintar memecah keheningan yang sudah dari separuh waktu berlalu.

"Hmm?" Manik emas lelaki itu beralih memandang si kakak.

Kini giliran iris ruby yang membalas tatapan yang biasa terasa hangat itu, "Tadi itu kau baru saja pulang?"

Gempa memiringkan kepalanya, memastikan tak ada kesalahan pengucapan, "Bukannya kita bertemu di depan?"

"Iya, maksudku kau belum sempat ke dapur?"

"Kak Hali sendiri yang menyuruhku langsung mandi, kan kakak yang langsung ke dapur. Memangnya kenapa?" Sekali lagi Gempa berusaha mengungkap pikiran yang sepertinya mengganggu kakaknya. Tapi jawaban yang ia peroleh selalu tak sesuai harapannya membuatnya menaruh curiga lebih pada kakaknya.

"Tidak-tidak apa-apa."

Hening... Tak ada lagi pembicaraan setelah itu, mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

"Aku selesai. Aku mau ke kamar dulu," Halilintar beranjak meninggalkan adik terkecilnya yang masih berkutat dengan makanannya.

"Kak Hali.." Panggil Gempa tiba-tiba, "Kak Hali, jangan terlalu memaksakan diri ya?" tanya sambil tertunduk.

Akhir-akhir ini ia sering mencemaskan kakaknya satu itu yang sepertinya terlalu sibuk, entah dalam pekerjaan maupun kuliahnya. Sampai-sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri. Sering ia menjumpai lampu kamar Halilintar masih menyala saat sudah lewat tengah malam, atau menemukan dirinya sedang membuat kopi di dapur untuk menemani lemburannya.

Halillintar menatap adiknya sesaat, kemudian mengulas senyum tipis, "Aku baik-baik saja, kau tak perlu mencemaskanku sampai sebegitunya. "

"Tidak, bukan hanya itu maksudku. Kak Hali kalau punya masalah jangan dipendam sendiri. Ceritalah padaku, kalaupun aku tak bisa memberikan saran, setidaknya bisa meringankan beban kak Hali dan aku juga tak perlu merasa seperti orang lain." Ungkap Gempa meluapkan segala yang mengganjal dipikirannya.

Halilintar mengerjap sejenak, mencerna kata-kata adiknya yang mungkin sulit dipahami bagi orang yang tak tahu penyebabnya.

"Tak ada yang perlu kau khawatirkan Gempa. Masalahku biar aku saja yang menyelesaikannya. Tapi kalau kau ada masalah, kau bisa membicarakannya denganku, oke? Sudah ya, masih ada tugas yang harus kukerjakan." Balas Halilintar seraya melenggang menuju kamarnya.

Satu hal yang Gempa tak sukai dari kakaknya adalah kepribadian yang tertutup meski dengan keluarganya sendiri. Bahkan dengan ekspresi yang diperlihatkan Halilintar tadi, ia masih menyembunyikannya dari Gempa.

"Apa aku terlalu memaksakan diri?" Halilintar memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.

Langkah terakhirnya meniti anak tangga menuju lantai , netranya tertuju pada ujung lorong, di mana terdapat 2 ruangan dengan pintu yang dicat berbeda, blue sky dan crimson yang saling berhadapan.

Sedikit jarak diantara pintu berwarna biru mencuri perhatian iris ruby Halilintar untuk menilik sesaat ke dalam ruangan. Seseorang tengah bergelung selimut diatas ranjang dalam kegelapan. Tak ada secercah cahaya yang barang kali menerangi ruang itu. Gelap-hitam mendominasi.

'Apa anak itu sudah makan? Apa dia baik-baik saja?' Apa pernah kalimat itu terlontar dari bibirnya? Bahkan sebisa mungkin ia tak ingin memikirkan anak itu, barang sekilas. Karena setiap kali ia memikirkannya, ingatan pahit ikut mengalir bersamanya.

Halilintar bergeming, kemudian memutar arah menuju kamarnya yang berada di seberang kamar Taufan. Padahal jarak fisik mereka begitu dekat, namun jurang ratusan mil memisahkan batin mereka. Dan selama ini juga ia selalu bersikap tak acuh seolah tak ada hubungan diantara mereka.

Tak seorang pun tahu rintihan dari rasa sakit yang menggigit sedikit demi sedikit meruntuhkan tekad sosok dalam ruang itu untuk hidup. Dengan gelap ia berbagi, dengan dingin ia bercurah, dalam hening ia hidup.~Boboiboy Taufan

~Luckyra~

Selama ini aku merasa hidupku sudah cukup, karena hal yang menyenangkan dalam hidupku telah berlalu dan tak mungkin untuk terulang kembali.

Bisa melakukan hal yang aku suka, tak ada kehormatan yang harus dijaga, aturan yang mengikatku terlihat seperti seutas tali transparan, yang sangat mudah aku patahkan. Aku bahkan tak peduli lagi apakah waktuku telah berhenti atau masih berjalan?

Aku mengatakan hal itu bukan karena aku tak takut mati, aku hanya takut aku tak cukup hidup. Aku tak pernah menyalahkan bagaimana takdir Tuhan mempermainkanku.

Bagiku selama tak menyusahkan orang-orang di sekitarku, hidupku yang seperti ini-aku terima. Jikalau aku mati sekarang pun, juga bukan masalah. Ya, aku selalu berpikir begitu.

Menyedihkan bukan?...

Di bawah langit biru ini sosok itu seperti dihapus oleh angin, keberadaannya yang terlindung bayangan gedung membuat radiasi si kuning matahari tak mampu mencapainya. Masih dibalut seragam putih abu-abu ia biarkan angin lembut mengehempaskannya, matanya terpejam di balik lengan yang ia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.

"Ternyata benar kau di sini."

Ia menurunkan lengannya, hanya sekilas melirik orang yang berani menganggu tidur siangnya. Namun kemudian ia bangkit dan duduk bersila.

"Kau mau mengomeliku?" Masih dengan wajah khas bangun tidur, ia menatap malas lelaki di hadapannya.

"Tadinya, tapi aku malah ikut bolos bersamamu." Jawab lelaki berkacamata itu sambil mengeluarkan camilan dari plastik yang ia bawa.

Taufan mengernyit mendapati tingkah sahabatnya yang tak biasa, "Kau sakit Fang?"

"Kau yang sakit, bagaimana bisa kau pingsan di lapangan? Kudengar kau sampai sesak nafas." Sembur Fang saat itu juga.

"Huh, kau yang memaksaku ikut olahraga." Dengus Taufan.

Fang memutar bola matanya-malas, "Kalau dari awal kau bilang tidak enak badan, aku juga ngga bakal memaksamu ikut."

"Lupakan, aku sedang ngga mood berdebat denganmu." Balas Taufan.

"Kenapa? Bertengkar dengan kakakmu lagi?" Tanya Fang seraya menegak softdrink.

Nafas Taufan terdengar berat ketika dihembuskan, netranya menerawang jauh pada atmosfer biru yang menggantung cerah kala itu.

"Rasanya hidupku ini seperti sebuah kesalahan."

Sebelah alis Fang terangkat, mempertanyakan kelanjutan kalimat itu.

"Selama ini aku selalu mempertanyakan suatu hal yang benar dalam hidupku, tapi yang ku temukan hanyalah penyesalan atas kesalahan yang bahkan baru aku sadari setelah memikirkannya berulang kali. Dan itu seperti mimpi buruk yang terus menghantuiku." Lanjutnya tanpa sadar bermonolog.

"Kemudian aku berpikir, apa mungkin sebuah kematian mampu menghapus mimpi buruk itu?" Sambil memeluk lutut, Taufan tenggelam dalam asanya.

Pandangan Fang menajam seketika, "Apa kau pikir sebuah kematian lebih baik dari hidupmu saat ini?"

"Aku pikir 'Ya'! Waktuku sudah tak ada artinya Fang! Untuk siapa aku hidup? Sudah tak ada lagi orang yang peduli padaku! Selama ini aku terus mencarinya, alasan untukku mempertahankan hidup yang menyedihkan ini."

Fang kalap, emosinya meluap begitu saja mendengar penuturan Taufan. Kaleng minuman menjadi tak berbentuk dalam genggamannya. Reflek tangannya menarik kerah seragam Taufan,

"Apa hidup saja tidak cukup untuk dijadikan alasan? Kenapa kau begitu memusingkan hidup yang sudah diatur oleh Tuhan? Kalau kau tak menemukan seseorang untuk dijadikan alasanmu untuk hidup, hiduplah untuk dirimu sendiri!"

"..."

Iris dibalik lensa nila itu melunak ketika bertatapan dengan iris biru yang memandang kosong, cengkramannya melonggar, "Dan satu lagi yang harus kau tau, kau itu tak pernah sendiri. Hanya saja kau yang 'merasa sendiri', kalau kau membuka matamu dan menerima apa yang ada disekitarmu, kau tak akan pernah kesepian! Apapun yang terjadi padamu, aku akan tetap care padamu, bahkan kalau seisi dunia membencimu sekalipun. Jangan pernah menganggap hidupmu sesuatu yang tak berarti." Kata Fang untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan Taufan yang membisu.

"Ugghh..."

Belum sampai kakinya melangkah jauh, pendengarannya menyambut sebuah rintihan. Dibalik itu punggung Taufan nampak gemetar, tangannya mencengram kuat dadanya dari balik seragam.

"Taufan? Kau oke?" Tanyanya ragu.

Tak ada respon, sepertinya ia terlalu fokus akan rasa sesak yang membuncah di dadanya dan itu membuat Fang panik seketika.

"Hei! Taufan, kau kenapa!?" Seru Fang berusaha mendapat perhatian Taufan.

"Khhhaaa... Haahh... Haaah.. Haahhh.. BAAA! Bercanda!"

"..."

Krik.. Krik...

"Pffftt, Bwahahaha! Expresimu Fang, menggelikan sekali! Hahaha" Tawa Taufan pecah begitu melihat wajah Fang yang seperti orang bodoh.

Buagh!

"Oi! Sakit kampr*t!"

Duak..

"Hei..!"

"Bangs*t! Aku beneran mencemaskanmu bodoh!" Sembur Fang masih berniat nampol lelaki hyperactive didepannya.

"Pfftt, hahahaa! Iya-iya, aku minta maaf. Tapi wajahmu tadi benar-benar lucu! Hahaha.." Tak henti-hentinya ia tergelak.

"Terserah..." rajuk Fang sungguh muak dengan candaan Taufan.

"Tapi terima kasih," tawa Taufan mereda, "Sudah menjadi sahabatku dan care padaku. Aku pikir sudah tak ada lagi yang peduli padaku."

Fang termenung sejenak, "Sebenarnya aku juga bingung, bagaimana bisa aku punya teman 'agak gila' sepertimu."

"Hahaha, jangan begitu. Kalau aku ngga ada nanti, kau pasti merindukanku."

Fang hanya mendengus, meski begitu ia tak bisa menyembunyikan sebuah rasa syukur yang dicerminkan melalui seulas senyum karena pernah mengenal Taufan.

~Luckyra~

"Hei Fang, nongkrong yuk!" Ajak Taufan usai mengambil tas di kelas. Kala itu ia menanggalkan topi biru kesayangannya dan membiarkan rambutnya dipermainkan angin

"Hm, dimana?" sambut Fang yang masih fokus memainkan game di ponselnya.

"Rumahmu,"

Perempatan merah imanjiner menghiasi pelipis si rambut landak, "Kau pikir rumahku cafe?"

"Habis ibumu sering membuatkan cake dan camilan enak. Hmm, sudah lama aku tidak merasakan pie buah buatan ibumu. Mungkin kalau ibuku masih hidup, dia juga akan sering membuat red velved atau puding leci kesukaanku."

"Tak ada kue di rumahku, orang tuaku sedang keluar kota dan mungkin baru pulang minggu depan. Aku hanya berdua dengan kakakku." Balas Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Taufan mendesah kecewa, tangannya beralih masuk ke dalam saku hoodie yang membalut seragam putihnya, "Ya ngga masalah sih, yang pentingkan aku bisa bertemu cyclone."

"Tch, kau ini mau kerumahku Cuma mau gitaran-kan?" duga Fang.

"Hahaha, itu salah satunya. Lagian aku juga males pulang, di rumah sendirian itu membosankan."

Mulai dari menginjakan kaki di kelas hingga habis anak tangga menuju lantai 1, tak habis-habisnya Taufan mengoceh tentang hal yang dianggapnya menarik. Sepertinya Fang salah mengkhawatirkan orang yang selalu memasang image ceria bahkan cenderung hyperactive itu. Meski terkadang sikap kekanakannya cukup menguji kesabaran.

"...Fang!"

Dari kejauhan suara manis memanggil, perhatian mereka tertuju pada seorang gadis yang berlari ke arah mereka.

"Akhirnya ketemu." Desah lega gadis itu. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya sembari menetralkan nafas yang memburu. Perhatiannya belum terfokus pada orang di depannya.

"Yaya, ada apa?" sambut Fang.

"Ah, aku-" kalimatnya terpotong, iris hazelnya tertuju pada Taufan yang kala itu menanggalkan topinya begitu ia mengangkat kepalanya. "Taufan? Kau sudah masuk? Harusnya kau butuh banyak istirahat. Kau sudah periksa ke dokter?" Serang Yaya dengan serentetan pertanyaan.

"Aku baik-baik saja, aku kan strong, tak perlu sampai absen. Dan aku bisa sehat seperti ini karena dirimu. Terima kasih ya sudah merawatku kemarin."

Seketika pipinya merona, senyum cerah Taufan membuat Yaya terpesona, "Bu-bukan masalah. Syukurlah kalau kau sudah sehat."

"Lagian seharian ini dia juga bolos hampir semua mapel, jadi pasti sudah sehat." Desis Fang yang merasa keberadaan dirinya diabaikan.

Beberapa detik kemudian berlalu, sebuah sikutan maut mendarat tepat di ulu hati Fang.

"Any*ng!" pekiknya berusaha untuk tidak menggampar Taufan saat itu juga.

Yaya sweatdrop berat melihat tingkah sejoli satu ini, sementara Taufan bersikap tetap biasa dengan cengiran cerianya.

"O-oh ya, Fang, aku hanya mau balikin catatanmu. Makasih ya, catatanmu lengkap banget dan bahasanya gampang dimengerti. Catatan anak IPA mana ada yang selengkap itu." Pujinya. "Kalau begitu aku pergi dulu ya, masih ada rapat OSIS soalnya, bye." Pamitnya kemudian dan berlalu begitu saja hingga sosoknya menghilang di persimpangan lorong.

"..."

Bletak...

"Aduh! Bisakah kau berhenti memukulku tiba-tiba? Kalau aku mati gara-gara dianiaya kau, bagaimana?" pekik Taufan mengelus bekas jitakan di kepalanya..

"Tak akan mati, lagian kalo kau mati fic ini bakal tamat, dan bisa-bisa authornya ditimpukin reader gara-gara kau mati garing(?)" jawab Fang santai.

"Kau ingin aku mati tragis biar reader puas gitu?"

Mengabaikan pertanyaan Taufan, ia sudah memimpin langkah di depan, "Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mengenal Yaya?"

"Eum, baru kenal kemarin sih. Waktu aku sadar dari pingsan, dia udah ada di sampingku. Dia bahkan sampai mengantarku pulang dan masih merawatku di rumah. Hah, kapan ya terakhir kali aku diperhatikan seperti itu?"

"Dasar jones! Makanya punya pacar, biar ada yang merhatiin" Ejek Fang yang langsung menohok jantung Taufan.

Helaan nafas terdengar berat bagi Fang, "Tapi mana ada perempuan yang mau dengan orang sepertiku, pasti mereka langsung pergi sambil mencibir setelah mengetahui kebenarannya."

"Belum tentu, Yaya misalnya."

Kedua tangan Taufan dilipat ke depan, memasang pose berpikir, "Hm, dia baik sih, manis juga apalagi kalo senyum. Apa menurutmu aku bisa dekat dengannya?"

"Kau suka padanya? Mending jangan berharap banyak deh. Dia itu populer, cerdas dan murid teladan, kalau dibandingkan denganmu yang tukang bolos, otak pas-pasan, dan langganan masuk BK, kayaknya udah gugur duluan." Tanggap Fang.

Terasa deja vu, panah tak kasat mata kembali menghujam dada Taufan mendengar ucapan itu langsung dari sahabatnya.

"Kau yang menyarankan, tapi kau juga yang menjatuhkan. Aku bingung, sebenarnya kau itu kawanku atau kawanku sih? Tapi yang kau katakan itu ada benarnya juga sih, rasanya seperti bukan jodoh yang mempertemukanku dengannya." Taufan mendadak pundung di tempat.

Fang sweatdrop berat dengan temannya satu ini, tadinya menyangkal sekarang menerima kenyataan.

"Tapi kita lihat saja nanti, siapa tau dia bisa melepaskan status jonesmu." Jari Fang kembali sibuk menyentuh layar ponselnya.

"Kau memang teman terkampretku, Fang."

.

.

.

Sore itu langit sepenuhnya biru, udara terasa lebih dingin meski sinar mentari tak terhalangi awan untuk mencapai bumi. Terhitung langkah yang mereka ambil untuk mencapai rumah Fang yang terletak 2 blok dari dari halte tempat bis menurunkan mereka. Sesekali gelak tawa mengisi sela obrolan di antara mereka.

Seketikanya mereka sampai, seekor kucing ber-ras russian blue bergelayut mesra di antara kaki majikannya.

"Halooo, Grey! Lama tak jumpa, sepertinya tambah gendutan ya kamu." Jari Taufan mencubit pipi hewan berbulu abu itu gemas. Fang pun hanya tersenyum simpul, tak biasanya kucing itu bisa akrab dengan orang lain. Tapi kalau dengan manusia hyperactive itu-ia tak tanggung-tanggung meminta belaiannya, mungkin auranya membawa keceriaan tersendiri bagi makhluk lain (?).

"Kau langsung ke kamarku saja, aku mau buat minum dulu." Ujar Fang sambil berlalu menuju dapur.

"Jangan Cuma minum, camilannya juga." Balas Taufan masih asik bermain dengan menggosok perut Gray.

"Kau ini mau bertamu atau numpang makan sih?" cecar Fang dengan perempatan merah kembali mewarnai pelipisnya.

"Kalau boleh seisi kulkasmu ku bawa pulang."

"Pulang saja sana!"

Pemilik marga Boboiboy itu hanya tertawa renyah mendengar balasan sahabatnya. Dia memang suka menggoda Fang, bahkan sampai ke taraf over sampai tak terhitung berapa banyak jitakan yang diterimanya.

Ia mulai menaiki lantai 2, dimana kamar Fang berada. Jauh dengan kamarnya yang melebihi kapal pecah, kamar Fang nampak lebih rapi. Buku-buku yang tertata rapi di rak besar yang mengisi sudut ruangan, pemandangan balkon yang langsung menghadap matahari tenggelam dan yang paling ia sukai dari ruang itu adalah koleksi gitar yang menghiasi sisi dinding kamar berwarna indigo. Mulai dari gitar akustik, elektrik, bass hingga klasik, tak heran jika permainan gitar Fang hampir menyamai gitaris profesional.

Namun dari sekian gitar dari koleksi Fang, hanya satu gitar yang menarik hati Taufan untuk memetik senarnya. Cyclone, nama yang diberikannya pada sebuah gitar klasik berwarna biru ocean.

Matanya terpejam, untaian nada indah ketika senar nilon itu dipetik membuat angannya tenggelam dalam alunan melodi. Bibirnya mengucap kata dengan pita suara yang terdengar berat namun tak lepas dari kata mempesona.

"Setelah begitu lama, tersisa air mata

Banyak kenangan yang tak akan terlupakan

Masa-masa yang indah, masa-masa kita bersama

Perasaan mendalam yang takkan pernah reda

~Maafkan aku tak pernah mendengar

Maafkan aku tak pernah melihatmu pergi

Ku ingin kau di sini"

*Berlari Tanpa Kaki ~ GAC x The Overtunes

"Permainanmu lumayan juga," Dari balik pintu, tiba-tiba Fang muncul sambil membawa sebotol softdrink dan beberapa camilan di atas nampan. Menghancurkan imajinasi Taufan yang mengisahkan tentang ketenangan.

"Padahal kau jarang memainkannya. Aku saja butuh waktu lama untuk bisa menguasainya."

"Mungkin ini yang namanya bakat," bangga Taufan mengulas senyum. "Tapi aku masih belum terbiasa menggunakan 10 jari untuk memainkannya." Jarinya kembali memetik bentangan senar yang selalu membawanya dalam kisah klasik masa lalu.

"Kalau kau mau, ambil saja."

Mata biru itu melebar tak percaya, "Heh? Kau serius Fang? Kau memberikannya secara Cuma-Cuma?"

"Yah, aku memang berniat memberimu salah satu koleksiku karena cukup sulit merawat gitar sebanyak ini, lagipula kau sudah memberikannya nama dan kurasa kau bukan tipe orang yang suka merusak barang."

"Wah! Terbaik lah kau Fang!" Seru Taufan berbinar sambil mengacungkan jempol. "Oh ya," Ia teringat sesuatu, "Kau ada saran kerja part time untukku ngga?"

"Kenapa tiba-tiba kau jadi ingin kerja part time? Kakakmu sudah tidak memberimu uang saku?" Tanya Fang sambil melahap crackers yang disajikannya.

Nampak Taufan mengendikan bahu, "Ya ngga juga sih, meski kak Halilintar membenciku dan seolah tak peduli lagi padaku,t api dia tetap memberiku uang saku. Sebenarnya aku juga kasihan padanya, harus kuliah sambil kerja untuk membiayai kehidupanku dan Gempa. Karena itu aku ingin punya uang sendiri."

"Hah entahlah, aku ngga yakin. Kau sekolah saja sering bolos, apalagi ditambah kerja sampingan? Bisa-bisa kau malah fokus pada pekerjaanmu dan putus sekolah." Cecar Fang.

"Ide bagus! Mending aku berhenti sekolah saja kemudian kerja."

"Jangan aneh-aneh! Benerin dulu sekolahmu, kau tak akan mendapatkan pekerjaan layak kalau kau putus sekolah."

"Nyatanya Abraham Lincoln bisa menjadi Presiden AS ke-16 setelah putus sekolah sejak umur 12 tahun, Coco Chanel yang menjadi salah satu brand fashion terbaik di dunia juga tak menyelesaikan pendidikannya. Kenapa aku ngga?"

Dengan santai Fang menjawab sambil menyesap softdrink, "Karena kau Boboboy Taufan. Kau bukan mereka, bukan Bill Gates atau Einstein. Jadi berhenti berpikir yang aneh dan hadapi kenyataannya."

Taufan hanya bisa terdiam sambil mempoutkan bibirnya, ia tak akan menang jika berdebat dengan landak itu.

"Hmm, lalu pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak SMA?"

Mata dibali kacamata itu terpejam, mengolah informasi di otaknya, "Hmm, mungkin kau bisa menjadi penyanyi cafe. Honornya mungkin ngga seberapa, tapi kupikir lumayanlah buat tambahan, tergantung seberapa besar cafenya."

"Kau memang cerdas Fang! Kalau tidak salah ada cafe di dekat taman kota yang menyediakan space untuk band? Kau ikut kan Fang?"

"Hah? Apaan?"

Mata Taufan berbinar, menunjukan puppy eye setengah memohon, "Ayolah, kau kan yang menyarankannya. Nanti kita duet. Siapa tau ada yang mau merekut kita jadi penyanyi beneran."

"Mimpimu terlalu tinggi nak." Hela Fang memustahilkan ucapannya.

Taufan memutar bola matanya malas, "Semua impian diawali dengan mengimpikannya. Lagian kalau kau ikut, kau kan jadi tambah populer. Seorang FANG, tidak hanya cerdas dalam bidang akademik maupun basketnya, tapi permainan musiknya yang keren dan suaranya yang merdu." tambahnya meninggikan nama si landak.

Lelaki berambut pacak itu nampak menimbang ucapan Taufan, tapi tak butuh waktu lama untuk mendapat jawaban 'setuju' dari bibirnya, mengingat kelemahan Fang adalah popularitas.

"Yes! Kalau begitu kita harus mulai berlatih. Dimulai dari lagu yang gampang dulu. Hmm, apa ya? Kau ada saran Fang?"

"Lagu tentangmu,"

"Lagu tentangku?"

"*Terlatih patah hati, lagunya The Rain. Guitar ver. Aja, kunci dasar C." Balas Fang setelah selesai menyetel gitarnya.

"Oke, terlatih pa- HEY, aku belum pernah patah hati!" Sembur Taufan.

"Iyalah, kau kan jomblo akut. Sudahlah, cepat mainkan intronya." Titah Fang tak sabar.

Meski pelipisnya penuh dengan perempatan imajiner berpikir kalau sahabatnya itu orang yang suka seenak jidatnya, hanya Fanglah yang mengerti dirinya tanpa peduli dari mana dia berasal atau problematika internalnya. Itulah yang membuatnya bersyukur memiliki sahabat seperti Fang.

Taufan meletakan jemarinya pada senar dan mulai memainkan kuncinya dasarnya, diikuti petikan gitar oleh Fang.

(Nb ; Tulisan italic lirik yang dinyanyikan Taufan, tulisan underline lirik yang dinyanyikan Fang, italic+underline duet)

Aku sudah mulai lupa - Saat pertama rasakan lara

Oleh harapan yang pupus - Hingga hati cedera serius

Terima kasih kalian - Barisan para mantan

Dan semua yang pergi - Tanpa sempat aku miliki

Tak satupun yang aku sesali - Hanya membuatku semakin terlatih

Begini rasanya terlatih patah hati - Hadapi getirnya terlatih disakiti

Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa) - Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)

Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi

Jemari Fang yang berlapis sarung tangan berwarna senada dengan rambutnya dengan lincah memainkan interlude yang mengisi sela-sela reff. Taufan menarik nafas panjang, bersiap melanjutkan lirik berikutnya.

Lama tak ku dengar tentangnya - Yang paling dalam tancapkan luka

Satu hal yang aku tahu - Terkadang dia juga rindu

Terima kasih kalian - Barisan para mantan

Dan semua yang pergi - Tanpa sempat aku miliki

Tak satupun yang aku sesali - Hanya membuatku semakin terlatih~

DEG~

Jreng-

Petikan gitarnya terdengar sumbang ketika pita suara Taufan tak sanggup menyentuh nada terakhir. Tangan yang awalnya digunakan untuk menahan senar beralih mencengkram dada.

"Khhh... Uhuuk.."

"Taufan?"

"Seben-uhuuk..uhuk.." Taufan berpaling, menyembunyikan wajahnya sambil menjaga jarak dengan Fang.

Awalnya Fang menganggap wajar hal yang dialami Taufan, mungkin tersedak ludah atau semacamnya. Ia menyentuh punggung Taufan yang gemetar, membantu meredakan batuknya. Tapi kian lama justru kian menjadi, bahkan semakin keras dan menyakitkan.

"Taufan kau oke?" Ia mulai cemas.

Taufan menggeleng, gitar ditanggalkannya, seluruh tangannya fokus membekap mulutnya yang tak henti-hentinya membuang nafas berat. Dadanya terasa nyeri setiap kali tubuhnya tersentak karena batuknya tak kunjung reda.

Uhuuk.. Uhuuuk... Kh-huuuk...

Tes...

Setetes liquid merah mengalir dari sela jari-jari Taufan, keramik yang awalnya berwarna putih bersih kini ternodai merahnya darah.

"Maaf Fang, aku jadi mengotori kamarmu." Seketika wajah yang biasanya dibalut perangai ceria menjadi pucat pasi, tangannya menyeka sisa darah di mulutnya. Memasok oksigen bukanlah hal yang mudah baginya saat ini, ia merasakan nyeri di sela tulang rusuknya tiap kali menghirup udara.

Fang terkesiap, "Taufan, kau!?" Netra merah dengan spektrum indigo itu hanya mampu menatap horor pada sosok Taufan yang nampak kepayahan bernafas.

"Aku baik-baik saja, aku sudah pernah mengalaminya." Taufan memaksakan untuk tersenyum, namun terlihat miris bagi Fang.

"Tidak Taufan, aku serius. Kau harus cek kesehatanmu!" Seru Fang dengan nada tinggi.

Tawa garing Taufan buat untuk mencairkan suasana, masih membuat penyangkalan, "Haha, tidak perlu. Dari kemarin aku memang kelelahan, jadi.."

"TAUFAN! Berhenti membuat alasan bodoh, kau harus check-up hari ini juga! Dan aku yang akan menemanimu langsung!"

Kali ini Fang tak mau mendengar perkataan Taufan, ia langsung menyambar kunci mobilnya kemudian memapah tubuh ringkih itu sampai mobil yang masih terparkir di garasi.

"Kau berlebihan Fang."

"Diam kau!" Desis Fang terdengar dingin.

~Luckyra~

Dari earphone yang tertaut di telinganya, sebuah lagu post-rock mengalun, menemani waktu Fang yang berjalan dengan membosankan. Meski sesekali ia diasyikkan dengan game di ponselnya, nyatanya itu tak bisa mengusir rasa jenuhnya.

Hingga akhirnya pintu yang ia tunggu sedari tadi terbuka, dan sosok Taufan muncul setelahnya. Lelaki itu tersenyum cerah sambil nyengir melihat wajah kusut Fang, "Maaf, lama ya? Kan sudah kubilang kau tidak perlu sampai mengantarku, kau sendiri kan yang akhirnya susah.."

"Apa kata dokter?" tanya Fang langsung pada intinya.

"Ish, kau ini! Sudah ku bilang aku hanya kelelahan, kau jadi orang terlalu khawatir sih Fang!" Taufan mengibaskan tangannya, menepis segala kecemasan sahabatnya.

"Lalu bagaimana dengan virus itu?" sebuah pertanyaan kembali terlontar. Kali ini dengan mimik serius Fang menatap.

Pandangan Taufan melunak, senyuman hanya diulumnya, "Ternyata orang jenius emang ngga gampang ya dikibulin? Tapi untuk saat ini semua baik-baik saja Fang, serius. Jadi berhentilah mencemaskanku dan wajah melasmu itu! Jijay tau ngga!" semburnya kemudian.

"Kampret! Aku beneran mencemaskanmu idiot!"

Tawa Taufan pecah seketika, "Hahaha, padahal kita sama sekali tak memiliki hubungan darah, tapi rasanya seperti aku punya kakak bawel dan overprotective. Sedangkan keluargaku sendiri-ah, aku tak yakin mereka menganggap saudara lagi, justru mengabaikanku seperti anjing jalanan." Ia tersenyum pahit.

Lelaki berkacamata itu terhenyak, apa benar tak ada yang mengakui keberadaan Taufan selain dirinya? Mungkin saja kehidupan Taufan lebih berat dari bayangnya. Baru ia sadar bahwa semua kegilaan Taufan selama ini hanya pelarian belaka, tawa dan canda serta kekonyolan yang dilakukannya tak lebih dari topeng untuk menutupi semua rasa sakitnya

Hendak ia berkata, begitu banyak yang ingin ia sampaikan. Tentang waktu, cobaan, takdir dan kehidupan, kemudian ia sadar tak ada yang perlu dikatakan. Ia yakin Taufan telah tau semua itu karena bukan dirinya yang paling mengerti Taufan, melainkan diri Taufan sendiri.

Ketika matahari menghilang dari Pulau Rintis dan lampu jalanan mulai menyala. Sebuah mobil putih berhenti di depan kediaman Boboiboy, dan Taufan keluar dari mobil itu.

"Thanks udah nganterin sampe rumah. Mau masuk dulu?"

"It's okay, tapi lain kali aja aku mampir. Jadi aku langsung pulang aja,"

"Okay, hati-hati di jalan."

"Siippp!"

Mobil itu kembali melaju, meninggalkan Taufan yang belum berhenti melambaikan tangan bersama cengiran khas dirinya. Hingga tak ditangkapnya lagi warna putih mobil itu oleh netranya, ia melepas topengnya. Ekspresinya kontras, lesu dan lelah kini mendominasi wajahnya.

Dengan gontai ia melangkah memasuki rumah itu, salam yang biasa ia serukan kali ini hanya sebuah bisikan tak berarti. Bahkan ia langsung masuk ke kamarnya, tanpa menghampiri Halilintar dan adiknya yang tengah menyantap sajian makan malam.

Tubuh lemahnya limbung begitu bertemu kasur, tenggelam dalam gelapnya ruangan itu, hanya remang-remang cahaya sang luna yang menelusup menembus beningnya kaca jendela. Dinginnya angin malam ia biarkan mengoyak kulitnya yang nampak memucat.

"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" bisiknya entah pada siapa.

Matanya terpejam, ingatannya memutar kembali obrolan bersama dokter di rumah sakit beberapa waktu lalu.

Flashback...

Taufan baru saja kembali usai melakukan serangkaian pemeriksaan medis, diantaranya tes darah dan rontgen thorax. Dan kini ia hanya duduk gelisah sambil menunggu vonis dari dokter yang pernah merawatnya dulu, sekaligus sahabat mendiang ayahnya.

Ia terkesiap ketika dokter dihadapannya menghela nafas berat seraya menatapnya intens.

"Kenapa kau baru check-up sekarang?" tanya lelaki paruh baya itu. Dari kemeja yang jasnya ditanggalkan, di badge namenya tertulis . Noboru Takachi sp. Pd-kpti, spesialis penyakit dalam dengan sub-spesialis penyakit tropik-infeksi.

Taufan hanya tertawa kikuk sambil menggaruk pipinya yang tak gatal, "Y-yah, itu karena aku kan sakitnya sekarang. Kemarin aku baik-baik saja."

"Setelah kau pingsan, sesak nafas sampai batuk darah, baru kau memeriksakan kesehatanmu? Aku bahkan tak menemukan riwayat pemeriksaan sebelumnya selama beberapa tahun terakhir." Kata dr. Takachi.

"Itu karena aku tak pernah sakit." Jawab Taufan polos.

"Padahal aku sering menghubungi Halilintar untuk menyuruhmu check-up, tapi selalu tak ada direspon."

Seketika mimik Taufan berubah muram, "Maaf, itu karena hubungan kami sedang renggang. Untuk berikutnya anda bisa menghubungi nomorku saja."

Pandangan dr. Takachi melunak, "Baiklah, tapi untuk berikutnya aku ingin kau melakukan pemeriksaan rutin. Dan untuk hasil pemeriksaan kali ini," kalimatnya menggantung, ia kembali memeriksa hasil tes yang sebelumnya ia pelajari.

Beliau kembali menarik nafas panjang, "Aku akan membahas inti dari penyakitmu HIV yang pernah dulu terdeteksi kini memasuki stadium 2, harusnya penyebarannya bisa lebih ditekan jika saja kau rajin memeriksakan diri." Perkataan itu hanya disambut anggukan Taufan tanpa arti.

"Dan satu lagi, aku menemukan bakteri streptococcus pnumoniae, kemungkinan besar penyebab sesak nafas dan batuk darah yang kau alami karena kau juga mengidap pnumonia."

Tubuhnya menegang, ia terlalu takut menerima kenyataannya, "Pnumonia? Bagaimana bisa aku bisa mengidap penyakit seperti itu?"

"Seseorang yang memiliki dayah tahan tubuh lemah seperti pengidap AIDS sangat mudah diserang penyakit, meski hanya demam atau flu, penyakit yang dianggap ringan bagi orang biasa akan menjadi masalah serius bagi mereka yang sudah terinfeksi HIV. Tapi aku juga menduga kalau pnumonia itu berasal dari cedera dada yang pernah kau alami saat kecelakaan itu. Karena itu aku terus memintamu untuk melakukan pemerikasaan rutin. Tapi selalu tak ada respon." Jelas dokter itu.

Taufan hanya bisa tertunduk seperti anak yang kena marah oleh gurunya.

"Mulai sekarang batasi aktifitas fisik yang menguras banyak tenaga, perbanyak istirahat dan jaga pola makanmu dengan makanan bergizi. Aku akan meresepkan antibiotik untuk pnumonianya dan obat ARV yang harus kau minum setiap hari. Meski hingga saat ini belum ditemukan obat untuk AIDS, tapi kita bisa menekan perkembangan virus HIVnya. Kau mengerti?"

Normal POV

Matanya terbuka sayu memandang, pikirannya dipenuhi kabut membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ia bangkit, tubuhnya berjalan bak orang linglung menghampiri meja belajarnya yang langsung menghadap dunia luar.

Dihujani cahaya purnama, benda itu nampak berkilau di tangan Taufan. Sisi tajam logam itu menempel di pergelangannya, dimana darah mengalir cepat.

'Apa kalau seperti ini akan lebih baik?'

To Be Continue

Tadaima...

Kyra balik lagi, ya ampun udah lebih dari sebulan ya? Kyra benar-benar minta maaf atas keterlambatannya. Rencana awalnya sih update tiap minggu, tapi malah molor berbulan-bulan. Hountou gomen..

Sebenernya banyak banget yang menganggu proses penulisan ceritanya, mulai dari sakit(masak sebulan sakit 2 kali), kerja, belajar buat ujian, dll. BTW, Susah banget mempertahankan kepribadian Taufan yang ceria di cerita genre angst.. Tiap mau nulis sad momentnya mesti inget 'Oh iya, Taufan orangnya bukan kayak gini, harusnya gitu.." Dan akhirnya harus diremake lagi... Jadi mohon kesabarannya kalo fic ini lama banget updatenya, selain kerjaan Kyra, feeling buat nulisnya juga susah dapetnya. Masih kebawa story-story kemarin yang main charanya itu introvert, jadi gampang aja mau dibuat semenderita apapun..

Eh kok jadi curcol sih..

Oh ya, mungkin dari kalian banyak yang mikir scene pas Taufan pura-pura sakit itu garing banget dan kurang greget. Dan sebenernya (spoiler gagal) pas scene itu pengennya aku Taufan pura-pura pingsan gara" sesak nafas biar dikasih nafas buatan sama Fang. Tapi, aku mikir 'itu bisa masuk YAOI' sedangkan aku anti yaoi.. Jadi harap dimaklumi ^^

Fic kali ini jauh lebih panjang dari yang sebelumnya, dan pasti lebih absurd *jangan sih*.. Kalo semisal readers sekalian menemukan bagian yg ganjil, tulisan pasaran dll, review aja gpp. Kyra malah merasa terbantu dengan review yang membangun dan mungkin bisa mengoreksi.

Hmm, satu lagi, di review chapter 1 kemarin banyak yang debat soal nulis lirik difanfic.. Sebenernya aku ngga terlalu mempermasalahkan aturannya sih, semisal emang dilarang, ya anggep aja 'Larangan ada untuk dilanggar.,' tapi untuk kedepannya aku bakal tetep nulis lagunya, soalnya itu udah bagian dari ceritanya.

Terima kasih buat kalian yang udah sempetin buat review, follow n favorite story ini. Dan mohon maaf, untuk saat ini belum bisa bales review kalian satu per satu karena jadwal padet bgt T,T *sok sibuk*. Tapi semoga kedepannya Kyra bisa bales review kalian, jadi tetep dukung Kyra ya! ^^

Regard :*