karena mood nulis Kames lagi tinggi, akhirnya mutusin buat nerusin fic ini
oh iya, buat yg kemaren review dan bilang kalo dia hardcore fans nya Kames,
well, I LOVE YOU! author juga suka banget sama Kames *curcol
di Indonesia jarang banget yg suka kames soalnya T_T
yaudah deh daripada kelamaan curhat :))
Fall For You
Chapter 2
Disclaimer: seandainya saya memiliki Big Time Rush~~~
Pairing: Kendall Knight – James Diamond
Warning: OOC, SLASH
"Kendall, kau akan kemana?" Logan menanyakan Kendall saat dia melihat Kendall berjalan keluar dari kantornya dan membawa tas kerjanya. Jas kerjanya juga sudah dipakai, pertanda bahwa Kendall akan meninggalkan kantor dan tidak kembali lagi. Kendall berhenti dan membalikkan punggungnya dan melihat Logan berdiri di hadapannya dengan pandangan heran.
"Pulang," jawab Kendall enteng. Logan menaikkan alisnya saat mendengar jawaban Kendall yang santai.
"Pulang? Ini masih pukul 3 dan kau sudah mau pulang?!" tanya Logan. Kendall memutar bola matanya saat mendengar nada bicara Logan yang menyiratkan bahwa Logan akan menguliahinya seperti biasa jika Kendall berkelakuan yang menurut Logan tidak sesuai dengan prosedur.
"Katie pulang dari London hari ini dan aku harus menyiapkan kejutan untuknya, kan?" tanya Kendall. Logan memutar bola matanya dan mendengus mendengar jawaban Kendall.
"Tapi pekerjaanmu masih banyak!"
"Nanti kusuruh Jenny membawakannya untukku."
"JENNY?! Kau memberikan kepercayaan kepada Jenny untuk membawakan pekerjaanmu ke apartemenmu? Kau tidak takut kalau berkasmu akan hangus?" Logan mulai senewen mendengar pilihan Kendall. Jenny merupakan karyawati Kendall yang paling ceroboh. Dia pernah nyaris membakar satu lantai tempat dia bekerja karena hal yang simple. Kendall pun nyaris terpaksa memecatnya, tetapi tidak jadi karena Kendall ingat bahwa Jenny sahabatnya dulu saat masih SMA dan cara kerja Jenny juga tidak terlalu buruk, walaupun kadang-kadang sedikit ceroboh.
"Kecuali kau tidak cerewet dan mengizinkanku pulang, aku akan menyerahkannya kepadamu." jawab Kendall lagi dengan sangat sangat santai. Logan hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya menghadapi sahabatnya itu.
"Ayolah, Loges, adikku akan pulang hari ini dari London. Aku tidak bertemu dengannya sepanjang tahun." kata Kendall lagi. Kendall juga terpaksa memasang Puppy Dog Face nya yang dulu sering dia praktikan saat masih sekolah. Wajah Logan masih kaku.
"Uh, kau juga ku undang makan malam jam 7 malam ini di apartemenku. Camille juga boleh datang!" tambah Kendall lagi.
Melihat wajah Kendall yang memelas, akhirnya Logan mengizinkan Kendall untuk pulang dan berjanji kepada Kendall akan menyelesaikan pekerjaan Kendall yang pria pirang itu tinggalkan.
Setelah mendapatkan izin dari Logan, Kendall langsung pergi meninggalkan sahabatnya itu dengan senyum yang sangat cerah. Kendall pun dengan senang hati meninggalkan kantornya dan bersiap membawa Aston Martin DB9 nya pulang ke rumah.
Kendall melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, karena mengetahui, lalu lintas cukup padat hari itu. Seperti biasa, New York selalu dipadati oleh ribuan, bahkan jutaan mobil pribadi maupun angkutan umum.
Saat jalan sudah tidak terlalu padat, Kendall memberanikan dirinya untuk memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Saat dia sudah nyaris membawa mobilnya dalam kecepatan 80 km/jam, tiba-tiba ada seorang pemuda lewat yang berlari menyeberang dengan seenaknya dan membuat Kendall terpaksa mengerem mendadak. Walaupun sudah mengerem, tetap saja Kendall menyenggol pemuda tersebut, hingga akhirnya, pemuda tersebut tergeletak di jalan dan meringis kesakitan.
Kendall yang tidak mau dikeroyok oleh orang-orang yang mulai berkerumun di sekitar mobilnya itu, langsung keluar dari sarangnya dan melihat kondisi orang yang baru saja ditabraknya. Mata Kendall melebar saat melihat bahwa pemuda yang ditabraknya itu adalah pemuda yang sering dia temui di sebuah kedai makanan langganannya. Pegawai baru tersebut tepatnya. Tetapi, Kendall belum pernah mengobrol dengan pemuda tersebut.
"M-m-maaf," Kendall tergagap. Kendall sendiri tidak pernah tahu nama dari pemuda tersebut. Dia bingung harus melakukan apa, sedangkan pemuda tersebut tergeletak di atas jalan dan meringis kesakitan sambil memegang kaki kirinya yang terkena bagian depan mobil.
"Bawa saja ke rumah sakit, Pak!" tiba-tiba, seseorang berteriak dari kerumunan dan Kendall, tanpa berpikir dua kali, langsung menggendong pemuda yang masih meringis kesakitan itu masuk ke dalam mobil. Pemuda tersebut dua kali lebih besar daripada Kendall sehingga Kendall kesulitan untuk menolongnya. Akhirnya, dia dibantu oleh dua orang untuk menggendong pemuda tersebut masuk ke dalam mobil Kendall.
Setelah semua beres, Kendall memberikan sejumlah uang ke orang-orang yang sudah membantunya menggendong korban Kendall. Tanpa berpikir dua kali, Kendall langsung membawa pemuda tersebut untuk dibawa ke rumah sakit.
"Tenang, tenang, kita akan ke rumah sakit. Kita akan ke sana." kata Kendall berusaha untuk tidak panik selama menyetir. Tetapi, suara rintihan yang dikeluarkan oleh sang pemuda itu malah membuat Kendall sangat panik. Kendall memang paling tidak bisa untuk mengatasi orang kecelakaan. Dia pasti akan panik dan bingung untuk melakukan apa.
"Namamu siapa?" Kendall sempat menanyakan nama pemuda tersebut. Dia tahu kalau pemuda tersebut kemungkinan tidak akan menjawabnya karena dia terlalu sibuk untuk merasakan sakit yang ada di kaki kirinya.
"J-J-James-uh-J-J-James D-Diam-aah-D-Diamond," rasa sakit yang ada di kaki kirinya langsung menjalar ke seluruh tubuh James. Kendall semakin panik.
Dan dalam hitungan menit, Kendall sudah sampai di rumah sakit dan James langsung dibawa ke UGD. Kendall yang tadinya buru-buru untuk pulang ke rumah dan menyiapkan makan malam untuk penyambutan kepulangan Katie dari London, sekarang harus bersabar untuk menunggu keadaan James dan memastikan bahwa James baik-baik saja. Dia harus bertanggung jawab juga, kan?
Hampir setengah jam Kendall menunggu James keluar dari UGD, tetapi, belum ada dokter atau suster atau James pun yang keluar dari sana. Kendall pun mulai khawatir dan dia berusaha menghubungi Logan dan rumahnya. Logan langsung memberikan ceramah kepada Kendall yang nyaris membuat Kendall mati bosan dan pembantunya di rumah tidak bisa mengatakan banyak hal karena Kendall sudah terdengar sangat lelah dan kesal akibat telepon Logan sebelumnya.
Akhirnya, Kendall bisa melihat James keluar dari UGD yang berjalan sedikit terpincang-pincang. Kaki kirinya pun dibalut dengan perban. Karena James mengenakan jins yang hanya sampai di bawah lutut. Setelah dilihat lebih jelas, rupanya James juga mendapatkan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Maklum, kecelakaan tadi cukup keras dan Kendall juga bisa melihat lengan baju James yang sebelah kanan sobek di bagian siku.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kendall mendekat ke arah James. Pemuda berambut cokelat gelap itu mengangguk walaupun dia kesulitan untuk berjalan.
"Baiklah, kau ke mobilku sekarang, aku antar kau pulang. Aku akan mengurus beberapa hal." kata Kendall. James mengangguk dan akhirnya, dia diantar oleh beberapa suster menuju mobil Kendall yang diparkir tidak jauh dari UGD.
"Mobilmu apa, Sir?" tanya seorang suster.
"James tahu." jawab Kendall.
Setelah semua urusan beres, biaya juga sudah beres, Kendall langsung mengantar James untuk pulang. Kendall berusaha meminta maaf karena sudah seenaknya menabrak James dengan cukup keras dan membuat James memiliki banyak luka dan memar. Bahkan dia kesulitan untuk berdiri, apalagi berjalan. Tetapi, James dengan mudahnya memaafkan Kendall karena menurutnya, Kendall sangat baik sekal, sudah mau menanggung semua biaya rumah sakitnya dan sekarang, dia mengantarkan James untuk kembali ke apartemen bobroknya.
Saat sudah berhenti di depan bangunan apartemen milik James, Kendall melirik ke arah James yang kesulitan untuk keluar dari mobi. Tanpa berpikir dua kali, Kendall langsung keluar dari mobilnya, dan membantu James keluar dari mobil. James yang bersikeras tidak mau menggunakan alat bantu jalan itu akhirnya bisa keluar dari mobil Kendall.
"Terima kasih atas semuanya," kata James. Kendall mengangguk dan tersenyum.
"Mungkin aku harus mengantarmu sampai ke kamarmu. Mengingat kau kesulitan untuk berjalan." wajah Kendall terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." kata James sambil tersenyum. Kendall menganga dan jantungnya berdegup sangat kencang saat dia melihat senyuman James yang sangat menawan. Dia sampai tidak sadar kalau wajahnya sudah merona merah seperti kepiting rebus saat James terkekeh di hadapannya.
"Earth to, Kendall," kata James sambil terkekeh. Kendall menggelengkan kepalanya dan ikut tertawa walaupun grogi di hadapan James. Tiba-tiba, Kendall mendapatkan ide yang cukup berani untuk dirinya sendiri.
"Uh, James, uh… hari ini adikku baru pulang dari London dan aku akan mengadakan makan malam di apartemenku. Um… mungkin kau mau datang? Aku tidak masalah untuk menunggumu bersiap-siap. Mengingat makan malam masih jam 7." Kata Kendall sambil melihat arlojinya. James memandang Kendall dengan tatapan kosong. Tidak percaya mendengar tawaran yang baru saja Kendall berikan.
"Ah, tidak usah. Aku tidak biasa bergaul dengan orang-orang eksklusif sepertimu." Kata James berbohong. Tentu saja dia sudah terbiasa dengan kehidupan glamor yang dia tinggalkan 5 tahun lalu.
"Ayolah. Ini bukan makan malam eksklusif seperti yang ada di pikiranmu, kok. Ini hanya makan malam keluarga. Hanya ada aku, adikku, ibuku, dan temanku, Logan dan Camille." Kata Kendall. Entah mengapa, sebagian dari dirinya sangat mengharapkan James bisa datang ke makan malamnya malam ini. Tanpa alasan yang jelas, dia sangat ingin James selalu ada di hadapannya.
"Anggap saja ini permintaan maafku padamu." tambah Kendall sambil memasang wajah memelasnya.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Kau sudah membiayai semuanya dan mengantarkanku pulang itu sudah lebih dari cukup." Kata James lembut. Kendall menggeleng dan berusaha memaksa James untuk datang ke apartemennya malam ini.
Saat Kendall akan membuka mulutnya, rupanya kaki James yang sakit mulai lelah menopang beban tubuh James, sehingga, James jatuh ke depan dan Kendall dengan sigap menangkapnya, sehingga sekarang, Kendall terlihat seperti memeluk James. Punggungnya pun menghantam mobilnya, sehingga punggung Kendall bersandar pada mobilnya.
Menyadari apa yang terjadi, James langsung berusaha berdiri kembali dan wajahnya terlihat merona merah. Begitu juga dengan Kendall yang wajahnya lebih merah daripada tomat. Bibir mereka juga sangat berdekatan dan Kendall tak henti-hentinya untuk menatap bibir James yang sangat indah.
"Uh, maaf," kata James langsung menjauhkan kedua wajah mereka, tepat ketika Kendall berusaha untuk menciumnya.
"Aku antar kau ke dalam." Kata Kendall datar. Sedikit kecewa karena dia tidak bisa mencium James. James menggeleng, tetapi, dengan posisinya yang sedang lemah, dia membiarkan Kendall mengalungkan tangan kanan James di leher Kendall, dan tangan kiri Kendall melingkar di pinggang James.
Setelah sampai di depan pintu apartemen James, James memberikan kuncinya kepada Kendall sehingga Kendall bisa membukakan pintunya untuknya. Tentu saja Kendall yang memintanya.
James langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidurnya yang reot. Kendall melihat ke sekeliling apartemen James yang lumayan berantakan, karena di mana-mana yang dia temukan adalah baju dan bungkus makanan. Dia memasang wajah yang cukup untuk membuat James malu.
"Terimakasih." kata James. Kendall mengangguk lalu melihat kesekelilingnya lagi.
"Maaf, aku tidak tinggal di sebuah apartemen mewah sepertimu." kata James sambil berusaha untuk melepas sepatu Converse nya yang sudah terlihat rusak. Mendengar ucapan James, Kendall langsung sadar dan menggelengkan kepalanya. Membantu James untuk melepas sepatunya.
"Mandi dan cepatlah. Aku akan menunggumu. Pakai pakaian terbaikmu dan kita pergi ke apartemenku." kata Kendall lembut. James menatap Kendall dengan tatapan, 'Kau bercanda, kan?' tetapi, melihat keseriusan di wajah Kendall, James tidak bisa menolaknya. Akhirnya, dengan sedikit bantuan dari Kendall, James berhasil masuk ke kamar mandi, setelah mengambil pakaiannya, tentu saja.
"Uh, aku bisa mandi sendiri." kata James nyaris tertawa. Hal tersebut membuat wajah Kendall semakin memerah, terutama saat mendengar tawa James.
Selama menunggu James mandi, Kendall berusaha untuk membereskan sedikit apartemen James. Kendall memang tidak terbiasa dengan tempat yang berantakan. Jadi, dia membuang semua bungkus makanan dan melipat baju-baju yang berserakan. Memang tidak akan ada yang tahu kalau Kendall sering melakukan bersih-bersih, tetapi, memang itu yang sering Kendall lakukan di kamarnya.
Setelah semuanya beres, Kendall melihat sebuah meja yang dipenuhi oleh foto-foto diri milik James. Kendall tersenyum melihat foto-foto James yang terlihat sangat ceria dan terlihat jauh lebih muda. Mungkin foto-foto tersebut diambil saat James masih remaja.
Lalu, Kendall juga melihat beberapa foto James yang menarik perhatiannya. Beberapa foto James bergaya bak seorang model. Kendall tidak bisa menilai jelek akan foto-foto tersebut, karena, Kendall mengakui kalau James sangat berbakat untuk menjadi seorang model. James terlihat seperti model profesional di foto-foto tersebut. Sangat tampan dan menawan.
Wajah Kendall memerah saat melihat foto James tanpa kaos atau kemeja. Wajah James pun terlihat jauh lebih muda. James hanya memakai sebuah pakaian renang dan pria berambut cokelat itu terlihat basah. Dan di sebelahnya ada seorang gadis yang sangat mirip dengan James. Gadis tersebut hanya memakai sebuah bikini dan tubuhnya juga basah seperti James. Mereka berada di pantai. Foto tersebut tidak dibingkai dan di letakkan begitu saja di atas sebuah buku album. Kendall membalikkan foto tersebut dan ada tulisan tangan yang sedikit berantakan. Mungkin tulisan James. "Aku dan Ali di Malibu. 2 bulan sebelum Ali meninggal. I miss u, Alicia." Kendall bergetar saat membaca tulisan tersebut.
Kemudian, ada foto lain yang menangkap perhatian Kendall. Foto tersebut tepat berada di bawah foto James yang setengah telanjang itu. Kali ini, foto James dengan sebuah jersey hockey dengan huruf M yang sangat besar dan dia memakai pelindung yang biasa dipakai para pemain hockey profesional. James terlihat sedang menggiring hockey puck. Mungkin foto ini diambil saat James sedang bertanding. Kendall mengetahui bahwa jersey tersebut adalah jersey dari sebuah tim hockey di Minnesota. Yeah, Minnesota Wild. Kendall membalik foto tersebut dan ada tulisan, "Pertandingan terakhir bersama Minnesota Wild sebelum pindah ke New York. Miss'em."
Dan saat Kendall meletakkan fotonya di tempatnya semula, James keluar dari kamar mandi dan sayangnya, sudah memakai baju. James memakai sebuah kemeja berwarna putih dan sebuah celana bahan berwarna hitam. Lalu, James juga memakai sebuah blazer berwarna hitam dan Kendall menebak, blazer tersebut tidak murah. Tetapi, Kendall memilih untuk menutup mulutnya. Lalu, dengan sedikit bantuan dari Kendall, James memakai kaos kaki dan sepatunya. Tentu saja bukan sepatu Converse yang sudah jelek itu.
"Kau melihat foto-fotoku, kan?" tanya James sambil menyisir rambutnya yang sedikit lembap. Kendall mengangguk.
"Tidak tahu kau pernah bermain di Minnesota Wild." Kata Kendall.
"Aku tidak pernah memberitahu orang-orang." kata James.
Kendall memperhatikan cara James berdandan. Bagaimana James selalu berusaha untuk membuat rambutnya rapi dan memperhatikan cara James berdandan membuat jantung Kendall berdegup sangat kencang. Dia belum pernah memperhatikan orang sampai seperti ini. Dia sangat betah memperhatikan cara James berdandan. Dia sangat suka cara James merapikan rambutnya. Dan dia sangat suka aroma tubuh James yang beraromakan vanilla dan mint.
"Baiklah, aku siap." kata James yang masih tidak sadar kalau sedari tadi dia diperhatikan.
"Mau ku bantu berjalan lagi?" tanya Kendall. James menggeleng.
"Sudah jauh lebih baik. Aku pernah merasakan lebih parah." Kata James tersenyum. Melihat senyum James yang menawan tersebut membuat kedua pipi Kendall merona merah.
Akhirnya, mereka berdua pergi untuk makan malam di apartemen Kendall.
- To Be Continued -
itu aja yg bisa aku tulis hahah.
mmm... buat Girls At The Rock Show nya, masih belum tau mau di update kapan sebenernya karena writer's block yang sangat mengganggu
tapi moga aja dalam waktu dekat ini bisa diupdate fic Dramione nya.
so, umm... review?
