I'm baaaack~ #gakadayangngarepelubalik #pergisono I've been busy recently wkwk. Sowyyy :3
No. 666: Oiya, tentang Internet Positif itu, sorry banget baru bisa bales. Coba kamu ripiunya pake akun, nanti langsung aku PM-in cara mengatasinya. =3= tapi saya gak mau nerangin caranya di sini. Di sini kan tempatnya fanfic~ saya saranin kunjungi askfm sayaa, ada di profil saya #promoterselubung #digiles soalnya waktu itu juga pernah ada yang nanya kayak begituan (atau itu emang kamu?). Muup ea pagi-pagi udah buat merinding, chuuuyunkz :* #apalagiini #plaks OC saya emang jahat tapi dia emak yang baik #baikndasmu #slapped thankies banget udah baca + ripiu~ :*** #woy #ituemotnyajijikbanget
P.s: ada yang nanya nama OC-nya itu nama asli saya apa bukan... well, FYI: nama OC-nya buka nama asli sayaaa #orz
.
.
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira-sensei
No! Don't Call Me Mother, You Bi—Bocah! by prof. creau
#1st Child: Asari Takeshi — Doa Malaikat Kecil
Warning: OC, OOC, typo, AU etc. Don't like, don't read~ :*
.
.
Sudah seminggu terlewati. Calon ibu baru untuk Takeshi tinggal di kediaman Asari. Sekalian untuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan digelar sebulan lagi. Ah… sebulan lagi Tsuyuko melepaskan marga 'Kiriname' dan akan diganti dengan 'Asari'. Sebulan lagi ia akan jadi ibu tiri dari anak bersurai hitam itu.
'Sebulan lagi…' Takeshi menghela napas panjang. Ia gagal mati karena insiden cekik leher itu hanya menyisakan goresan pada lehernya. Saat pintu terbuka, tiba-tiba saja Tsuyuko melepaskan Takeshi. Hal itu murni ia lakukan karena takut ketahuan bukan karena adanya rasa kemanusiaan.
Sudah seminggu ini wanita yang kerap kali dipanggil 'Bibi Tsuyu' oleh Takeshi sering menganiaya dirinya tanpa sepengetahuan siapapun. Anjing dan burungnya itu pengecualian. Setiap Takeshi dicekik atau dilempar pisau daging atau didorong ke kolam atau berbagai percobaan pembunuhan lainnya, kedua hewan itu selalu ada di samping pemiliknya dan menyelamatkannya. Mereka hewan peliharaan yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Bibi Tsuyu saja kalah. Harusnya ia malu pada hewan.
Sampai saat ini belum diketahui apa motif dari segala perbuatan sang Kiriname wanita itu.
Takeshi berada di kamarnya siang ini. Ia tidak sekolah. Kakinya terkilir karena kabur saat jari-jari mungilnya akan digunting dengan gunting rumput yang indah dan tajam. Ia meminta pelayan di rumahnya untuk mengambilkannya air. Sebenarnya, ia masih bisa berjalan hanya saja… air itu letaknya di dapur. Ia tidak mau pergi ke sana. Dapur adalah salah satu dari rentetan tempat yang akhir-akhir ini ia takuti. Ia tidak mau mengambil resiko untuk dilempari pisau daging lagi.
Sang pelayan datang dan membawakannya segelas air dan kue kering. Aneh, padahal ia hanya meminta air. Ia mengedikan bahunya dan menerimanya. "Terima kasih, Mariko-san!" ucapnya seraya menyebut nama depan dari wanita bercelemek itu. Takeshi tahu semua nama para pekerja yang bekerja di rumahnya. Kata ibunya, mereka adalah keluarga. Keluarga yang selalu menjaga dirinya dan menyayanginya jadi, ia harus menyayangi mereka. Uh… maksud Takeshi di sini itu ibu kandungnya bukan calon ibu tirinya. Jangan salah sangka.
Takeshi gigit kue kering itu. "Bagaimana, tuan muda? Enak, kan? Kiriname-sama yang membuatnya khusus untuk Anda!" kata Mariko antusias. Ia senang karena calon ibu tiri Takeshi benar-benar peduli pada Takeshi. Namun sayang, pelayan muda itu tidak tahu apa-apa.
Takeshi langsung terbatuk-batuk. Ia mencoba mengeluarkan kue kering yang setengah perjalanan menuju kerongkongannya. Untung tidak jadi masuk lambungnya. Instingnya mengatakan untuk tidak memakan kue buatan calon ibu tirinya. Bahaya. Bisa saja di dalam kuenya itu dimasukan racun atau semacamnya. Mariko yang panik segera memberi Takeshi segelas air. Ia menanyakan keadaan Takeshi terus-menerus.
Anak manis itu menjawab dengan tawa khasnya, "Hahaha aku tidak apa-apa! Sungguh! Tinggalkan saja kue itu di sini, aku akan menghabiskannya…" Ucapnya bohong. Dari dalam hati, ia berdoa supaya hidungnya tidak menjadi panjang seperti Pinokio. Nanti ia jadi susah memeluk ayahnya kalau memiliki hidung panjang.
Mariko mengundurkan diri. Ia masih cemas sebenarnya tapi, ia masih punya banyak pekerjaan lain. Setelah pintu itu tertutup, Takeshi segera bangkit dan mencari sebuah kotak. Ia masukan kue kering itu ke dalam kotak kardusnya dan menyimpannya di dalam lemari yang paling dalam. Jika memang benar kue itu beracun maka, tidak boleh ada yang tahu selain dirinya. Kalau ada yang tahu kue itu beracun kemudian, melaporkan hal ini pada ayahnya, entah pisau jenis apalagi yang akan dilemparkan kepadanya.
"Kamu akan tahu akibatnya jika melaporkan apa yang telah terjadi pada ayahmu." Kiriname Tsuyuko, dua puluh tahun, calon ibu tiri Takeshi.
Takeshi jadi merinding karena bayangan Bibi Tsuyu terus berloncatan di pikirannya.
.
Makan malam tiba. Mereka bertiga menikmati makan malam dengan nikmat. "Takeshi sayang, bagaimana kakimu?" suara yang lembut itu membuat Takeshi mengalihkan pandangannya dari makanan yang akan ia santap dan menatap orang yang bertanya dengan suara lembut itu. Takeshi jawab dengan tawa canggung, "Haha… sudah mendingan tapi, masih sakit…"
Tsuyuko merengkuhnya dan mengelus surai hitam milik Takeshi. "Sabar ya, nanti juga sembuh, sayang." Katanya. Takeshi jadi merasa tidak nyaman. Ia melihat ke meja itu dan merasa lega karena tidak ada benda tajam seperti pisau roti atau semacamnya. Ia khawatir jika dibalik pelukan itu, Bibi Tsuyu akan menyaya-nyayat dirinya seperti yang dilakukannya kemarin lusa. Untung ada Jirou yang menerjang sang pelaku jadi, luka Takeshi tidak parah.
Ugetsu tersenyum melihat kedekatan Tsuyuko dan Takeshi. "Ya ampun, kalian membuatku iri. Hahaha…" katanya disertai tawa.
"Ugetsu-kun, jangan begitu ah. Aku kan juga sayang padamu." Senyuman bak malaikat terukir di wajahnya.
"Iya, aku tahu. Hahaha…"
Takeshi tidak menginterupsi perbincangan mereka. Ia hanya diam tapi, dalam diamnya ia terus mengucap tolong jangan tinggalkan aku sendirian bersama Bibi Tsuyu.
Tolong jangan tinggalkan aku sendirian bersama Bibi Tsuyu.
TolongjangantinggalkanakusendirianbersamaBibiTsuyu.
Tolongjangantingglkanakusendirian—
"Takeshi, ayah akan menjemput nenek dulu di rumah temannya ya. Tsuyuko, aku titip Takeshi."
"Tenang saja, Ugetsu-kun!"
—bersamaBibiTsuyu.
Ugetsu berjalan keluar dari ruang makan. Ia membukan pintunya dan mengerling pada keluarga barunya. Calon istrinya dan anaknya sedang berpelukan. Satu detik, dua detik, tiga detik terlewati. Rasanya tadi ada yang berbicara untuk melarangnya pergi meninggalkan anaknya—atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Ia mengedikan bahunya dan pergi dari sana.
Senyum bak malaikat itu luntur. "Takeshi-chan…" nada suaranya berubah drastis. Tsuyuko melepas pelukannya dan mengelus pipi anak itu. "Sudah berapa kali ibu bilang untuk bersikap normal di depan ayahmu?" pertanyaan ini tak perlu dijawab. "Uh, oh… coba lihat kuku-kukumu, panjang sekali! Biar ibu potong untukmu."
Takeshi melebarkan matanya. Di sini tidak ada gunting rumput itu, kan? Uh, aman. Tapi masalahnya gunting kuku juga tidak ada di sini. Nah, ini baru tidak aman. Bibi Tsuyu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Keringat Takeshi turun di pelipisnya. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Oh, rupanya bukan pisau yang dikeluarkannya melainkan pemotong kuku. Sekarang ia merasa lega.
Bibi Tsuyu meraih tangan Takeshi. Ia memotong kuku-kuku Takeshi yang panjang.
Ckris. Ckris. Ckris.
"Duh, kotor juga ya… pasti kamu sering main tanah."
Ckris. Ckris. Ckris.
"Anak bangsawan sepertimu tidak boleh main tanah."
Ckris. Ckris. Ckris.
"AH!" Takeshi meringis kesakitan. Memang tak ada baiknya jika dirinya ditinggal sendirian bersama Bibi Tsuyu. Ia melihat jari tengahnya terluka. Kemudian, ia tarik tangannya. Jari-jari mungilnya yang lain bisa saja jadi korban berikutnya.
Bibi Tsuyu tidak suka karena Takeshi sudah menarik tangannya. Padahal kukunya belum selesai dipotong. Anak tidak patuh harus mendapat hukuman. "Takeshi-chan, kukumu belum selesai digunting." Katanya dan Takeshi hanya menunduk. Ia tidak memberi tangannya maupun membalas perkataan Bibi Tsuyu. "Takeshi-chan, kalau orang sedang berbicara, pandang matanya!" Bibi Tsuyu mengangkat dagu anak itu dengan paksa.
Kristal-kristal bening itu tertahan. Bahkan Takeshi kecil itu sampai hampir menangis…
"Kalau mau menangis, menangis saja! atau… mau ibu bantu?" ia keluarkan bagian pembuka tutup botol pada pemotong kuku multifungsi itu. Ia bisa saja mencongkel matanya dan mengeluarkan air mata yang tertahan itu. Tapi niat baiknya segera terhenti ketika Takeshi berlari dari sana. Ketika ia hendak mengejar Takeshi, Kojirou menghalanginya dan Jirou menerjangnya. "Menyingkir dariku anjing sial!"
Takeshi berlari sekuat tenaga walau kakinya sedang kesakitan.
Ia keluar dari rumahnya, mengabaikan panggilan para pelayan yang mencegahnya keluar karena hari sedang hujan. Tak masalah jika ia dimarahi ayahnya karena main hujan-hujanan. Walaupun ia tidak sedang main hujan-hujanan. Tak masalah jika kakinya yang terkilir jadi semakin sakit asal kedua bola matanya masih ada. Tak masalah jika ada mobil yang menerjangnya saat ini. Bukan kah itu berarti ia akan bertemu mamanya dengan cepat?
Bunyi klakson mobil menggema di telinganya. Aih, salah. Itu truk.
Rem itu diinjak secepatnya. Takeshi jatuh di tengah jalan. Kakinya yang terkilir berbuat ulah. Rem sudah diinjak tapi bukan berarti truk akan berhenti begitu saja. Di dunia ini pelajaran sains ada bukan hanya untuk ditiduri atau dibolosi—whoops. Saat ini hujan, tentu saja jalanan menjadi sangat licin sehingga gaya gesek yang terjadi antara aspal dan ban menjadi sangat kecil. Kecepatannya juga sudah cepat dari awal sehingga tabrakan pasti tak terelakan.
Takeshi tutup matanya rapat-rapat. Ia lebih memilih ditabrak kereta api dari pada truk—hey, ditabrak oleh Thomas Kereta Api lebih menyenangkan tahu!
Detik demi detik berlalu.
"Hahh… haah… hah…" deru napas menjadi salam pembuka dan suara truk yang bertabrakan dengan sebuah toko menjadi salam penutup. Takeshi buka matanya. Pandangannya yang buram karena air mata yang menumpuk hanya melihat sekelabat merah darah. Ia usap air matanya—oh, rupanya merah darah itu warna rambut seseorang. Ia kira darah betulan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu.
Takeshi tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak sanggup. Emosinya masih belum stabil. Baru saja ia berada di ambang kematian tiba-tiba sudah terselamatkan. Demi Tuhan, tadi itu ia sudah merelakan dirinya yang akan ditabrak oleh truk.
Sang penyelamat belum melepaskan pelukannya. Takut terjadi apa-apa pada anak kecil yang jiwanya hampir dicuri malaikat pencabut nyawa. Ketika pulang sekolah tadi, ia rela menerobos hujan demi janjinya bertemu kakaknya yang ada di rumah. Tepat saat ia akan menyebrang, ia melihat seorang anak kecil jatuh terduduk di tengah jalan dan sebuah truk yang melaju dengan cepat. Ia berlari menuju anak itu untuk menghindarinya dari truk. Hal itu terjadi karena refleks. Sumpah. Biasanya ia jadi penakut di sekolah dan bahan ejekan. Ia sendiri tak menyangka akan menyelamatkan nyawa anak ini.
Orang-orang bernapas lega karena anak kecil itu terselamatkan tapi, mereka tetap menatap iba pada toko yang hancur itu. Semoga saja tak ada korban jiwa.
"Oi, pecundang, mau sampai kapan kau akan memeluknya di tengah hujan begini?"
Suara seorang gadis menginterupsi kedua insan yang masih tercengang akibat kecelakaan itu. Takeshi mendongak dan segera memeluk gadis itu sambil menangis. "Ku-Kusuma-san… eto, aku titip anak itu, ya. A-aku… harus pergi." Setelah mengatakan itu, si anak bersurai merah kembali berlari. Kali ini dengan kaki yang bergetar. Aksi heroiknya membuatnya senang dan ketakutan di saat bersamaan. Senang karena berhasil menyelamatkan jiwa tak berdosa dan takut karena bayang-bayang truk yang melintas masih melekat pada benaknya.
Takeshi masih menangis sesenggukan. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Rahma. Rahma menghela napas. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang—"
"—Tidak mau!"
"Jangan menyusahkanku, bocah!"
"Tapi aku tidak mau pulang… hiks… aku ingin sama mama—Mama Rahma maksunya…"
Tak ada pilihan lain. Rahma membawa Takeshi ke Rumah Sakit Namimori. Ia ada janji di sana dan biar sekalian Takeshi dirawat. Walaupun Takeshi selamat, masih tidak menutup kemungkinan kalau ia mendapat luka di tubuhnya.
.
Agak susah memisahkan Takeshi dengan Rahma untuk dirawat di kamar inap karena anak lelaki itu tidak mau melepaskan pinggang Rahma sama sekali. Ketika dipaksa, ia malah menangis meraung-raung. Padahal pakaian keduanya sudah teramat basah. Jika tidak segera diganti mereka bisa terkena demam. Rahma bersyukur saat itu juga neneknya segera datang dan membujuk Takeshi. Ah, neneknya adalah pemilik rumah sakit ini.
"Takeshi, lepas Rahma-nee, ya. Ia ada janji sekarang, nanti kalau sudah selesai, akan menemani Takeshi." Takeshi malah mengeratkan pelukannya dan menggeleng. Nenek menghela napas dan mengeluarkan ponselnya. "Sepertinya memang harus Asari-kun yang membujuknya."
"Jangan, Nenek! Jangan beritahu ayah!" jika nenek memberitahu ayahnya bahwa ia ada di rumah sakit maka, calon ibu tirinya juga tahu. Kemudian, calon ibu tirinya akan kembali menyiksanya—atau mungkin melakukan percobaan pembunuhan?—tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Ia tidak mau hal buruk terjadi lagi menimpanya. Biar bagaimanapun, ia masih seorang anak kecil yang hanya tahu bermain bukan boneka yang bisa seenaknya di'main'kan.
Merasa pilihan terbaik adalah melepas mama impiannya, ia pun melakukannya. Rahma langsung pergi dari kamar inap itu, menyisakan sang nenek dan beberapa perawat. Para perawat mengganti pakaiannya. Dahi nenek mengkerut saat ia melihat tubuh Takeshi. Ia tahu dari Rahma bahwa Takeshi hampir tertabrak truk tapi… apa mungkin truk bisa membuat tubuh anak itu tersayat-sayat dan beberapa luka lebam?
.
Setelah selesai dengan urusannya, Rahma dengan malas memasuki kamar Takeshi.
Brak!
"Hei, bocah!"
Para perawat di sana langsung kaget begitu pintu dibuka secara kasar. "Uhm, Kusuma-san… Takeshi-kun tidak mau makan. Apa kau—"
"Taruh saja makanannya di meja dan serahkan bocah itu padaku." Setelah itu para perawat mengundurkan diri dari sana.
Dilihat dari raut wajahnya, Takeshi nampak senang karena Rahma menemaninya tapi kesenangan itu memudar ketika mengingat bahwa cepat atau lambat ia akan kembali lagi ke rumahnya… which is mean, ia akan bertemu Bibi Tsuyu.
"Kalau mau makan, makan sendiri. Aku tidak mau—"
"—Aku akan dapat mama baru."
Hening.
Rahma menyenderkan dirinya pada pintu seraya melipat tangannya di depan dada. Neneknya bilang, ia harus bicara pada Takeshi karena mungkin saja anak itu trauma pada insiden truk itu tapi, kenapa tiba-tiba ia malah berkata akan memiliki ibu baru?
"Awalnya, ia orang yang baik dan sangat menyayangiku. Ia terlihat senang saat aku menceritakan hewan peliharaanku padanya. Ia malah akan membawa kucing peliharaannya tapi, aku bingung. Memang anjing dan kucing bisa bersahabat? Saat kutanya begitu, ia malah tertawa manis dan berkata akan menjinakan anjingku jika bertemu kucingnya." Takeshi tersenyum tipis saat menceritakan hal manis saat mereka pertama kali bertemu.
Rahma menatap bosan dan berkata, "Bisa kau percepat cerita dongengmu? Aku ingin segera tidur di rumah."
"Tapi aku membencinya."
"Whaaat? Wanita seperti itu kenapa pantas dibenci?"
"Di depan semua orang, ia akan bersikap baik tapi… jika hanya tinggal kita berdua, ia akan menyiksaku. Aku tidak tahu apa salahku. Terakhir kali kita bertemu—saat sebelum kecelakaan—ia akan mencongkel mataku dengan pembuka tutup kaleng. Sebelumnya juga pernah… se-sebelumnya…" binar kehidupan di matanya hilang. Digantikan dengan untaian air mata.
"Oke, aku mengerti. Aku akan telpon Asari-san dan—"
"—Jangan! Jangan ceritakan hal ini pada siapapun… aku mohon!" kata Takeshi yang memotong perkataan Rahma. Sebelah alis terangkat dan sebelum Rahma bertanya kenapa, Takeshi berkata, "Kalau ayah sampai tahu… nanti… dia akan menyiksaku lagi… lebih parah…"
"Baiklah, bocah… aku akan menanyakan beberapa hal padamu. Jawab dengan jujur dan kalau bisa, harus disertai alasan." Kata Rahma. Takeshi mengerjapkan matanya kemudian mengangguk. "Pertanyaan pertama, apa ia seorang aktris? Atau mungkin ia pernah bercerita bahwa saat ia sekolah, ia ikut klub teater atau sejenisnya?"
Takeshi memiringkan kepalanya dengan imut. "Hmm… ia bukan aktris. Papa pernah cerita, sewaktu mereka sekolah—mereka satu sekolah—ia sangat pintar di bidang kimia maka dari itu, ia ikut semacam perkumpulan sains dan sering memenangkan lomba, bahkan tingkat internasional—Mama, memang sains itu apa sih?"
"Kau tahu apa yang paling ia takuti?" tanya Rahma lagi, mengabaikan pertanyaan Takeshi.
Takeshi melipat tangannya di depan dada. Ia nampak berpikir. "Tidak tahu."
"Dasar payah."
"Tapi, ada hal aneh terjadi saat ia menyiksaku. Padahal ia memelihara kucing di rumahnya… saat ia akan mencekokiku dengan garpu, seekor kucing liar lewat di jendela. Tiba-tiba saja ia langsung kaget dan ketakutan. Aneh, bukan?"
Rahma mengerutkan kening sampai akhirnya, "Ah… I see…"
"Last question, siapa namanya?"
"Kiriname Tsuyuko."
Suara ketukan terdengar. Rahma membuka pintunya dan masuklah seorang wanita cantik nan elegan. Ia berlari ke tempat tidur Takeshi dengan air mata berlinang. "Takeshi sayang! Ibu kira kamu… kamu…"
Takeshi kaku di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat. Di lain pihak, Rahma malah sibuk membongkar tas sekolahnya, membelakangi mereka.
Dalam pelukan itu, sang Kiriname wanita itu berbisik, "Kenapa kamu lari? Kukumu belum selesai dipotong. Kamu mau ibu potong hal lain selain kukumu?" Takeshi langsung diam seribu bahasa. Ia ingin berteriak minta tolong pada Rahma tapi tidak bisa karena calon ibu tiri tercinta sudah memegang pemotong kuku multifungsi itu.
"Yare, yare, hal ini benar-benar merepotkan. Oi, okaa-baka, jangan celakai dia."
Mata Tsuyuko melebar. Bagaimana orang asing itu bisa tahu bahwa ia akan mencelakai Takeshi? Ia melepas pelukannya dan menatap Rahma. "Apa maksudmu?"
Rahma masih membelakangi mereka. Ia sedang sibuk sebenarnya. Meja kecil jadi tempat menaruh tasnya. "Bukan kah itu jelas? Dari gelagat Takeshi saja aku sudah bisa menebak kau sedang mengancamnya. Anak berisik seperti dia tidak akan diam seperti patung begini—apalagi jika bertemu mama barunya. Benarkan… Kiriname Tsuyuko?"
Sial. Orang asing seperti dia tahu segalanya. Tsuyuko mengeratkan pegangannya pada pemotong kuku. Kesempatan yang bagus, berhubung orang itu sedang membelakanginya. Ia berjalan mendekati Rahma.
"Atau aku salah menyebutkan nama? Dalam modemu yang sekarang ini pasti kamu bukan Kiriname Tsuyuko."
"Excuse me?" ia berhenti medadak.
"Kau selalu bersikap baik di depan semua orang kecuali pada Takeshi. Aku yakin sikap baikmu di depan semua orang bukanlah sekedar akting dan aku juga yakin sikap burukmu pada Takeshi bukan akting juga. Kenapa aku bisa seyakin itu? Itu karena Kiriname Tsuyuko adalah jenius sains. Kebanyakan orang yang bergelut dengan sains mengandalkan otak kanannya ketimbang kiri. Akting termasuk kategori 'art' yang berarti otak kiri lebih sering diandalkan. Kesimpulannya, Kiriname Tsuyuko tidak pandai berakting."
Rahma kembali melanjutkan, "Semua perilakunya—bagian bersikap baik maupun buruk—nyata, bukan akting belaka. Tapi sayang, ada beberapa perilaku yang memang tidak ia lakukan. Kepribadian yang bertolak belakang di waktu yang berbeda. So, may I know who are you?"
Tsuyoko menunduk. Ia memegangi perutnya dan tertawa layaknya kesetanan. "Fufu—kau orang pertama yang berhasil mengetahui bahwa aku bukanlah Kiriname Tsuyuko! Woohoo! Standing applause for you!" ia bertepuk tangan bagai melihat pertunjukan sirkus. Takeshi jadi takut. "Berhubung kamu tahu banyak jadi… aku harus segera menyingkirkanmu."
Ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan berlari merejang Rahma. Takeshi berteriak histeris. Tapi apa daya? Ia tak bisa berjalan. Sebelum Tsuyuko berhasil menancapkan pisau itu, bahunya telah ditusuk terlebih dahulu oleh Rahma. Cairan bening dari sebuah suntikan memasuki wanita itu. Benar, Rahma tidak menusuknya dengan pisau melainkan dengan suntikan. Dalam hitungan detik, Tsuyuko terjatuh dan kesadarannya hilang.
"Aku tak menyangka obatnya cepat bekerja…"
Tak lama, pintu didobrak. Asari Ugetsu dan pemilik rumah sakit ini memasuki kamar.
"Takeshi! Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik! Mama Rahma menolongku!"
"Berhenti memanggilku 'mama', bocah sialan!"
Asari membungkuk pada Rahma dan neneknya untuk mengatakan terima kasih. "Dari ruang CCTV aku melihat seluruh kejadiannya, hal ini atas saran nenekmu. Nenekmu juga menghubungiku untuk datang ke sini. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian. Tanpa kalian, sampai sekarang—atau bahkan setelah menikahinya—aku tidak akan pernah tahu apa yang telah ia perbuat."
Rahma mengambil tasnya kembali. "Kalau ingin berterima kasih, biarkan aku pergi. Berada satu tempat dengan bocah yang menjengkelkan membuatku tambah mengantuk." Ia pun meninggalkan tempat kejadian.
Urat kesabaran nenek sedang dites. Cucunya memang tidak sopan. "Dasar cucu sialan…"
Asari terkekeh. "Rahma-san manis juga, ya."
Nenek menatap Asari dan menggeleng. "Seleramu rendah, Asari-kun."
"Hahaha… bagaimana kalau kalian datang dan makan malam dengan kami? Hari ini ibuku ada di rumah. Biar kuperkenalkan kalian dengan ibuku." Katanya dengan wajah yang agak memerah.
Oke, ini kode. Seperti kata neneknya Rahma; seleramu rendah, Asari-kun.
#End of 1st Child: Asari Takeshi — Doa Malaikat Kecil
.
.
Side story 1
Namimori High School, 11.25 AM.
Rahma tidur di mejanya. Pelajaran sejarah tidak ada serunya. Ilernya mengalir dengan indahnya. Ia merasakan ponselnya bergetar di sakunya. Dilihatnya pesan masuk. Siapa yang mengiriminya pesan di jam belajar begini? Oh, rupanya dari neneknya! Pasti ini darurat!
H41 cHucHuQ Ch4y4nkk,,,
'Oanjrit!' teriaknya dalam hati dan ia terjungkil ke belakang—berhubung ia duduk di paling belakang.
"KUSUMA-SAN! PERHATIKAN PAPAN TULIS!"
"HAHAHAHA!"
.
Side story 2
Si kecil Takeshi sedang berada di kamar Rahma. Ayahnya menitipkan dirinya karena akan pergi menghadiri sebuah acara penting. "Mama! Mama! Ayo, main!" kata Takeshi seraya menarik-narik ujung baju gadis yang sibuk dengan laptopnya. Biasa, ngakunya mengerjakan tugas sekolah padahal sedang baca doujinshi sambil berfantasi.
"Main sendiri sana!"
Takeshi cemberut. Oh, ia terlihat imut. Jadi pengen diculik oleh penulisnya. "Tidak seru kalau main sendirian. Ayolaaah~"
Rahma tutup laptop hitam miliknya. "Baiklah, bagaimana kalau main petak umpet? Aku yang jaga. Aku mulai dari 100!" ia menutup matanya dan mulai menghitung. Takeshi tertawa geli. Akhirnya, mamanya mau diajak bermain. Ia pun keluar dari kamar Rahma dan mencari tempat persembunyian.
Ketika kehadiran Takeshi benar-benar lenyap di kamar itu, Rahma buka matanya. Mulutnya tetap berucap angka hingga 100. Kemudian, ia mendekati pintu kamarnya dan menutupnya. Oh, tak lupa ia kunci.
Kasihan sekali Takeshi, pasti ia menyangka Rahma sedang mencarinya.
Side story 3
Aku lahir sebagai bagian dari keluarga Kiriname. Umurku dua puluh tahun. Dari kecil aku sudah dididik untuk menjadi seorang lady. Banyak orang mengatakan aku cantik dan berkarisma. Uh, setiap mereka berkata seperti itu, aku hanya tersipu malu. Tunggu, apa aku sudah mengatakan bahwa hari ini adalah hari pertunanganku dengan Asari Ugetsu-kun? Aku tak menyangka aku akan menjadi istrinya—
—Cut! Cut! Karakternya jadi ngeselin! Lanjut side story 4!
A-apa?! Hey, ini debutku—walau cuma di side story saja! Lagipula, yang sering muncul di fanfic ini hanya kepribadianku yang lain! Hey! Heeey, dengarkan akuuu!
Side story 4
Namimori High School, 01.15 PM.
Pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran kesukaannya. Jamnya sangat cocok setelah pelajaran kimia yang buat kepala botak. Lumayan, seperti refreshing. Ketika ia sedang mengerjakan tugas, ponselnya bergetar. Icon pesan masuk terdapat pada layar. Oh, ternyata Asari-san!
R4hm44,,,,,, w1LL y0u m4rRy m3 ?,,,
GABRUK!
"Kusuma-san, tugasmu sudah selesai?"
"HAHAHAHA!" efek tawa memenuhi ruang kelas.
"Belum! Sedikit lagi!" ia merutuki nasibnya. Tadi neneknya, sekarang Asari-san! Sejak kapan dunia jadi alay begini?!
Ponselnya kembali bergetar. Ia melihat pesan masuk tanpa ketahuan.
Maaf, Rahma-san, tadi dibajak nenekmu.
.
Okeee~ thank you for reading~ mohon maaf lahir dan batin cemuaaah~ :* see you at next chappie! Saran dan kritik diterimaaa :*
Oh, saya lupa! Who wants tunaaa for the next chapter? X3
"Hieee?!"
