My Stalker Girlfriend
Naruto © Kishimoto Masashi
Warning: Rate T+ for suggestive theme
.
.
"Apa? Naruto jadian sama Hinata?!"
Jam sekolah baru berakhir, tapi kabar itu menyebar ke seisi sekolah secepat badai. Siapa yang tidak mengenal Naruto? Cowok hot yang jadi maskot kebanggaan sekolah yang gape olahraga yang bodinya macho yang kulitnya tan eksotik yang seksi kebinabina yang jadi inceran cewek seantero "dunia" yang…yang…yang lainnya!
Sedangkan Hinata? Dia cewek aneh yang punya aura seram yang kalo ngomong gagap yang wajahnya pucat kayak mayat yang kalo kemana-mana hobinya nunduk yang..yang…yang lainnya!
Dunia dibuat geger. Ada begitu banyak reaksi yang timbul Ino misalnya, cewek yang punya body aduhai dambaan cowok itu sangat shock sampe pingsan ditempat. Ada yang jerit-jerit histeris sampe kayak orang gila. Tapi ada juga yang curiga, "emang mereka beneran jadian?"
Berbagai spekulasi pun bermunculan. Pasalnya ikemen sekelas Naruto gak mungkin jadian sama Hinata, cewek aneh tingkat dewa. Gak ada pantes-pantesnya!
"Gue yakin itu cuma hoax doang."
"Pasti cuma akal-akalan oknum aja yang pengen nguasain Naruto buat dirinya sendiri."
"Secara, Naruto sama Hinata? Ya ampun kayak gak ada cewek lain aja deh."
"Please, ini Naruto. Cowok yang bisa dapetin cewek asoy manapun yang ia mau."
Hasilnya?
"Naruto-kun!"
Bel pulang baru saja berbunyi. Catat itu, baru saja berbunyi. Tapi kumpulan karnivora lapar sudah mengantri panjang di pintu kelas Naruto. Naruto menatap kumpulan cewek-cewek yang lagi gencar melancarkan serangan double TP—tebar pesona tebar perhatian—itu dengan pasrah.
Cewek-cewek dengan penampilan wah dan rok super mini itu berjalan menghapiri Naruto. Dengan gerakan kasual mereka memeluk lengan Naruto, bergelayut manja. "Kita ke karaoke, yuk?" Ajaknya sambil mengerling centil.
Parfum berbagai rasa menguar dari tubuh mereka yang nempel-nempel. Naruto menegak ludahnya, skinship selalu membuat dirinya gak nyaman. Lagian itu yang kenyal-kenyal…ugh!
"Main sama kita-kita aja, Naruto-kun!" Seru kumpulan cewek lainnya yang berbondong-bondong mulai memenuhi ruang kelas.
"Eh, main rebut aja. Naruto-kun udah dibooking sama kita. Udah cari cowok lain aja sana! Enak aja main serobot."
"Suka-suka dong! Lagian dia mana mau maen sama Lo pada, cewek kampung."
"Apa?! Lo ngomong apa barusan? Berani lo sama gue? Lo nggak tau siapa gue?"
"Enggak tuh, sori-sori aja ya. Lo cuma cewek gak penting. Sana minggir!"
"Enak aja. Gue hajar tau rasa lo!"
"Siapa takut?"
Naruto hanya menghela napas pasrah melihat kelasnya menjadi arena pertarungan untuk kedua kalinya hari itu. Cewek dan kelakuan mereka…
"Sori, girls tapi gue gak bakalan ikut sama kalian." Naruto beranjak dan meraih tasnya, "Ayo Hinata, kita cabut." Ajaknya cuek.
Gadis lavender yang duduk dua jajar di belakangnya itu tersentak. Saking cepatnya ia berdiri sampe bangku yang ia gunakan jatuh meninggalkan bunyi "BRUK" yang menarik perhatian semua orang.
"Hh..ha…hai," Gagapnya seraya mengalungkan tas selendangnya dengan gerakan kaku.
"Bye." Salam Naruto, menghempaskan tangan cewek-cewek yang masih bergelayut di lengannya.
Semua orang bengong. Berdiri dengan mulut terbuka. Tak ada yang bergerak tak ada yang menarik napas. Sampe-sampe waktu terasa berhenti berputar. Mereka melihat bagaimana Hinata berjalan gaya robot di belakang Naruto. Mereka melihat bagaimana sohib-sohib cowok hot itu melambaikan tangan perpisahan. Mereka juga melihat bagaimana Naruto balas melambaikan tangan pada sohib-sohibnya yang masih duduk anteng di kelas.
Pintu kelas tertutup. Naruto juga Hinata telah resmi meninggalkan kelas. Tapi kumpulan cewek masih bengong di tempat.
"Oi, Lo kalo mau pada hang out bareng gue aja. Gue luang kok!" Tawar Kiba memecah keheningan.
Sedetik…
Dua detik…
Tiga detik…
"Kyaaaa~"
"Tidaaak!"
"Gak Mungkiiin!"
"Mustahii~iil"
"Bohooong!"
Jerit para cewek serempak. Kiba buru-buru menutup telinganya yang hampir tuli.
"Gue pikir itu cuma hoax."
"Mereka seriusan jadian?"
"Naruto sama Hinata? Hinata?! Ya ampun!"
"Gak Mungkiiin!"
"Argghhhh!"
Bener, Hinata sekarang cewek gue. Lo gak percaya? Wajar. Gue aja masih gak percaya sampe detik ini. Tapi ini adalah keputusan terbijak yang gue ambil ditengah situasi genting pas istirahat tadi. Untuk menenangkan keadaan gue milih Hinata yang sendirian dibanding jalan sama grup cewek karnivora yang lagi berebut dengan ganas. Horor banget ngeliat mereka cakar-cakaran, mana mau gue jalan sama spesies kayak gitu!
"Mmm..mma..maaf, a..aak..aku gak bermaksud kayak gg..gini." Hinata berujar pelan.
Naruto menoleh kesampingnya, namun Hinata gak ditemukannya. Naruto menoleh ke belakang namun gadis itu masih tidak bisa ditemukan.
"Ppa..papp..pacaran atau jja.. ..jalan bareng, ini..ii..iini terlalu.." Lanjut Hinata masih bergetar.
Suaranya ada tapi orangnya gak ada. Naruto kembali memastikan kanan-kiri-depan-belakangnya namun si gadis aneh itu masih tidak terlihat. Dia bukan hantu, kan?
"Oi, Hinata dimana?" Panggil Naruto. Naruto terus mengedarkan matanya hingga sebuah kepala mengintip dibalik tiang listrik tiga meter di belakang Naruto. "Ngapain kamu disana?"
"So..sso..soalnya uu..untuk nng..ngomong langsung aa..aaku," Bibir gadis itu bergetar hebat. Wajahnya memerah parah dan ia jelas-jelas menghindari tatapan Naruto.
"Kamu ngomong yang bener dong. Aku gak bakalan gigit, sumpah!" Janji Naruto yang tidak tahan melihat prilaku Hinata yang ketakutan setengah mati. Biasanya juga gue yang ngeri kalo ngomong sama cewek.
"Tta..tapi," Gadis itu semakin menyembunyikan dirinya dibalik tiang listrik. Menarik perhatian orang-orang yang lalulalang di sekitar daerah itu.
Dasar cewek. Pikir Naruto pasrah. Sebenarnya mereka maunya apa sih?! Enggak yang ini, enggak yang itu. Gue gak ngerti. Tuhan kayaknya ngutuk gue deh.
Naruto berjalan mendekati tiang listrik yang dijadikan persembunyian. Sambil mengambil jarak aman Naruto bertanya, "tapi kenapa? Kamu takut sama aku?"
Hinata menggeleng cepat. "Ee..enggak! Naruto-kun orang yang baik, kok."
"Lantas, kenapa kamu jauhin aku kayak gitu? Sampe kamu gemetaran. Orang yang liat nyangkanya aku lagi ngebuli kamu."
Gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat orang-orang yang melihat mereka dengan pandangan menyelidik. Wajah putih itu dengan cepat merona. "Mmaaf ini udah kkk..kebiasaan." Katanya menunduk lagi.
"Hah?"
Hinata meremas ujung seragamnya. Mengumpulkan segenap kekuatan yang ia miliki. "Ss..soalnya aku udah lama ng..nnge…ngeliatin kamu dari jj..jja..jauh."
"Eh?"
Naruto mengerjap. Berharap salah dengar. Tapi kalo diinget-inget lagi Hinata emang bilang 'bersembunyi dan mengintip' pas istirahat tadi. Ini toh maksudnya.
Eh, tunggu! Kalau begitu bukankah itu maksudnya dia itu….Stalker?
Mata Naruto membulat. Ia kembali tercengang terhadap kelakuan gadis Hyuga itu hingga untuk sedetik ia merasa seluruh tubuhnya membatu. Tiba-tiba suara teman-temannya mulai terngiang-ngiang di kepalanya. Tentang Sasuke dan Shikamaru yang nyaranin buat nyari pacar. Tentang pacar yang bisa jadi tameng buat ngehalau cewek-cewek karnivora. Tentang cewek yang aman, yang gak bakalan nyerang diam-diam.
Dan diantara semua cewek gue milih stalker! Gue pasti udah bosen idup.
"Mm..makanya, pp..pper…pernyataan pas istirahat itu…tidak usah kamu hiraukan. Hanya melihat dari jauh dan membayangkan kamu aja sudah membuat hatiku jadi senang, kok."
"'membayangkan'?" Naruto menekankan kata yang diucapkan Hinata. Sebuah kebencian menguar dari dirinya begitu mendengarnya. "Seriusan itu nyebelin banget!"
Dasar Cewek! Gak yang karnivora gak yang Stalker! Mereka seenaknya sendiri. Selalu dan selalu. Sesuka hati mereka membicarakan sesuatu yang gak ada bener-benernya. Menjerumuskan Gue dalam pencitraan aneh yang bikin gue muak.
"Lo, cewek, egois banget ya? Seenaknya ngebayangin gue, sebagai apa? Jadi cowok playboy lah! cowok badboy lah! Tidur sama puluhan cewek lah! Gue yang kena disini. Gue harus ngadepin pencitraan aneh tentang diri gue yang gak ada bener-benernya! Lo jangan seenak jidat ngebayangin gue jadi cowok impian lo trus ngomong sama temen-temen lo trus maksa gue harus jadi cowok yang sesuai sama ekspektasi kalian! Itu bener-bener ngegang—lo ngapain cengar-cengir?"
Naruto telah bersiap mendengar sebuah tangisan yang meledak dari si gadis setelah dibentak dan dijadiin pelampiasan kemarahannya seperti itu. Namun yang Naruto dapatkan bukanlah rengekan melainkan wajah Hinata yang tersenyum malu-malu sampe Naruto bisa ngeliat bunga-bunga bermekaran di belakang cewek itu.
Ini cewek gila, ya? Sangka Naruto.
Hinata menangkup pipinya yang mulai merona saking bahagianya. Membuat Naruto bergidik ngeri siap berlari.
"Lo masochist?" Tuduhnya seraya mengambil langkah mundur.
Hinata menggeleng pelan. "Soalnya, aku juga suka ngebayangin kamu pas lagi marah." Jawabnya disertai mata bersinar-sinar.
Huh? Ini anak aneh beneran aneh.
"Emangnya seseru itu ngebayangin orang? Lu pasti masochist!" Seru Naruto tak habis pikir. "Emangnya Lo ngebayanginnya kayak gimana, sih?"
Naruto tak bisa menahan dirinya yang mulai penasaran. Ia melihat wajah Hinata berseri-seri. Gadis Hyuga itu kembali menangkup pipinya. Bola matanya berputar ke atas "Gimana, ya?" Katanya masih cengar-cengir.
Gadis itu mengambil sebuah buku bersampul pink dari tas selendangnya. Lalu membuka lembar demi lembar dengan perlahan-lahan. "Ada banyak. Misalnya aku ngebayangin kapan kamu marah? Trus ekspresi Naruto-kun pas lagi marah kayak gimana? Em..Alasan Naruto-kun marah. Ah, hal yang kamu katakan waktu marah juga umpatan-umpatan yang kamu gunakan. Ya semacam itulah."
Hinata tersenyum sampai matanya tenggelam. "Aku selalu ingin tahu semua itu. Makanya aku senang seka—"
Ucapan Hinata terputus begitu manik safir itu bersibobrok dengan manik lavendernya. Ia buru-buru menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan poninya yang panjang. Telinga gadis itu memerah.
Aneh banget cewek ini. Kayak…sungguh aneh.
Naruto menghela napas, "Jadi, rumahmu arah mana?" Tukas Naruto pada akhirnya.
~My Stalker Girlfriend~
Gue gak heran saat dateng pagi dan orang-orang sibuk bergosip tentang hubungan gue sama Hinata. Siapa yang bakalan nyangka gue milih dia jadi pacar? Logika orang-orang yang sehat udah pasti nolak kenyataan itu. Gue gak bisa nyalahin cewek-cewek yang baris rapi di pintu kelas gue nanyain kebenaran hubungan gue sama Hinata.
"Naruto-kun, itu gak bener kan? Kabar kamu jadian sama Hinata."
"Kamu kemarin cuma ngenterin dia pulang doang, kan?"
"Gak jadian, kan?" Serobot yang lain.
"Lagian kemarin kamu cuma ngajak Hinata pulang bareng aja, kan?"
"Lho, yang ngajak jalan Naruto-kun? Bukan Hinata?"
"Enggak. Hinata memang nembak Naruto, tapi yang ngajak jalan Naruto-kun."
"Jalan? Jalan dalam artian jadian? Atau jalan cuma pulang bareng?"
"Gue gak tau!" Tukas Ino. "Gue keburu pingsan kemaren. Makanya gue nanya orangnya langsung sekarang."
"Gak apa-apa kan dia jalan beneran sama Hinata. Paling dia lagi cari suasana baru. Mainan baru. Lo ngarepin apa dari cewek aneh tingkat dewa kayak dia?"
"Ya, iya lah buat mainan. Emangnya siapa yang ngira Naruto jalan seriusan sama Hinata? Tapi meski buat main-main gue tetep gak rela. Gue gak rela kalau itu Hinata."
"Bener. Cewek lain gak masalah. Tapi buat cewek aneh bin suram model dia jadi mainan Naruto yang gue aja belum pernah…gue sampe mati pun gak rela!"
"Naruto-kun, jawab dong!"
"Naruto…"
"Naruto!"
Sumpah! Cewek dan pikiran mereka. Ada gak sehari mereka gak ngomongin hal yang aneh tentang gue? Mereka gak tau ya gara-gara mereka hidup gue bisa hancur! Gara-gara ekspektasi mereka tentang gue…lama-lama gue bisa ngidap 'anti-cewek' tipe akut. Gue mending keluar sekolah trus ngelamar jadi biksu aja sekalian!
"Berisik!" Bentak Naruto. "Hinata!" Panggil Naruto setengah berteriak.
BRUG!
Suara papan pengumuman yang terjatuh diikuti suara "YA?" lima meter di belakang Naruto sukses membuat semua kepala berpaling. Disana Hinata Hyuuga berdiri dengan wajah memerah, di hadapannya sebuah papan pengumuman terguling dengan mengenaskan.
"Gue sekarang punya pacar." Aku Naruto. "Cewek yang barusan ngejatuhin papan pengumuman." Menunjuk Hinata dibelakangnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Eeehhh?"
"Seriusan?!"
Pekik para cewek gak terima. Klimaksnya, Ino kembali pingsan di tempat.
"Oi, yang baru jadian!" Kiba tiba-tiba berseru. "Cie makan-makan dong." Katanya seraya menyikut Naruto penuh canda.
"Iya. Ntar gue beliin makanan anjing buat lo." Jawab Naruto malas.
"Jahat banget lo sama gue. Udah bagus lo dapet cewek." Cicit Kiba. "Berkat saran gue lo dapet cewek. Liat tuh para karnivora langsung cabut gitu."
Naruto tertegun. Matanya langsung menjelajahi kelas dan sekitarnya. Benar apa kata Kiba. Para cewek, kecuali cewek sekelas, telah meninggalkan arena. Ketenangan dan kenormalan yang Naruto dambakan kini telah kembali. Gak ada fansgirl gak ada cewek karnivora sama dengan surga!
"Sip deh, Ramen Ichiraku porsi jumbo gimana?" Tawar Naruto bibirnya mengulum senyum.
"Deal!" Sahut Kiba semangat.
Begitu memasuki kelas, Naruto disambut senyum datar Sai dan kening berkerut Sasuke. "Lo seriusan jadian sama cewek Hyuga itu?" Tanya Sasuke sangsi.
"Iya. Kenapa?"
Hening sejenak sampe Kiba yang di belakangnya menanggapi, "trus kenapa lo jalan jauhan gini? Cewek lo ditinggalin gitu." komentarnya sweatdrop.
Ah, itu ya! Memangnya apa yang lo pada harepin dari seorang stalker?
"Dia yang maunya gitu. Udah kebiasaan katanya." Sahut Naruto.
"Udah kebiasaan gimana maksud lo?" Kata Sasuke kembali bertanya. "Jalan ngumpet-ngumpet gitu? Dia lagi ngapain sih?"
Naruto menggidikkan bahunya. "Tanya aja ke orangnya."
"Hinata-chan," panggil Kiba seraya menghapiri Hinata yang bersembunyi dibalik pintu kelas. "Kenapa kamu bisa suka cowok nakal kayak Naruto? Kamu tahu dia ini playboy, kan?"
Hinata menoleh pada Kiba, memberikan tatapan dingin. "Kamu bodoh, ya? Naruto-kun itu gak nakal. Dia bukan playboy." Jawabnya datar.
"Kok kamu ngomongnya dingin gitu, sih?" Protes Kiba. "Beda banget sama ke Naruto."
"Lho, udah jelas kan! Soalnya aku gak suka kamu." Tukasnya tambah datar.
Naruto setengah mati menahan tawa. Bahu Kiba jatuh lunglai seketika. Sudut matanya berair. Perbedaan perlakuan Hinata membuat Kiba shock berat. Kiba menoleh pada Naruto, lalu pada Hinata, pada Naruto lagi, lalu pada Hinata. Seringai muncul di bibirnya.
"Ah!" Seru Kiba. "Naruto lagi ngeliatin."
Si cewek terlonjak. Tubuhnya mendadak berpose layaknya petugas pengibar bendera di siapin.
"Ceile, yang diliatin pacar kok malah kaku gitu," goda Kiba. "Awas lalat masuk mulut." Lanjutnya.
Hinata buru-buru menutup mulutnya. Tubuhnya masih mematung dan Naruto bisa melihat betapa merahnya wajah Hinata. Telinga sama leher sampe ikutan merah gitu. Selidik Naruto.
Hinata adalah cewek aneh yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia. Naruto dibuat takjub dengan keanehan-keanehan yang dilakukan gadis itu. Tak jarang hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya. Kenapa ia melakukan itu? Apa yang akan dia lakukan setelah itu? Bagaimana reaksinya? Apa yang dipikirkannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terus bermunculan. Mereka memang sudah menjadi teman sekelas selama lebih dari sebelas tahun. Tapi bagi Naruto ia seperti baru mengenal gadis itu. Sebelas tahun menjadi teman sekelas yang sudah seperti takdir...'Bisa jadi jodoh juga.'
Blush.
"Kenapa wajah lo merah gitu, Naruto?" Pertanyaan heran Shikamaru membuat Naruto terkesiap. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya pada kepala nanas yang baru datang.
"Gara-gara lo, kan? Omongan lo yang gak bisa dijaga." Ujar Naruto sebal.
"Lho, emang gue ngomong apa? Baru aja datang udah disalahin. Mendokusei."
"Berisik lo!" Bentak Naruto yang langsung memalingkan dirinya dari pintu masuk, Shikamaru…dan Hinata.
Sasuke menyeringai. Ia yang duduk persis di samping bangku Naruto bergerak mendekatinya. "Cie, yang ketangkep basah lagi ngeliatin."
Naruto beranjak dalam sekali hentakan hingga menimbulkan bunyi "Brak" dari kursi yang menabrak meja di belakangnya. "Berisik lo!" Hardik Naruto.
"Lo kalo salting biasa aja kali, gak usah sewot gitu." Goda Sasuke.
"Diem lo!" Ancam Naruto sambil mengangkat kerah kemeja Sasuke tinggi-tinggi. Tapi Sasuke malah menyeringai makin lebar.
"Lo kenapa sih? Kok jadi uring-uringan gitu?" Tanya Kiba sambil meletakkan tasnya di meja. "Lo cemburu Hinata gue godain barusan?" Selidiknya.
Seringai Sasuke melebar. Wajah Naruto tambah merah. Ia buru-buru menghempaskan Sasuke dan berbalik menyalak pada Kiba, "Berisik lo semua!" Bentaknya lalu pergi meninggalkan kelas.
"Doi kenapa, sih?" Tanya Kiba heran.
Sasuke mengangkat bahunya gak peduli, "biasalah lagi PMS."
~My Stalker Girlfriend~
Kira-kira sebelas tahun yang lalu. Saat itu Hinata kecil baru saja masuk TK. Meski baru masuk, gadis lavender itu langsung menjadi sasaran buli teman-teman sekelasnya. Mungkin karena pembawaannya yang pemalu dan cenderung gugup bila berhadapan dengan orang asing, ia seringkali membuat orang-orang disekitarnya gatal menjahili dirinya.
Rasanya seperti takdir. Tuhan mengirimkan ksatria berkuda putih untuknya. Anak laki-laki itu berambut secerah sinar mentari dan matanya sebiru lautan.
"Dasar monster! Lihat matanya pucat seperti mayat!"
"Zombie…huu zombie… Hinata-chan si zombie!"
"Bbu,bukan! Aku bukan zombie."
"Ara, Zombie Hinata bicara! Hihihi…zombie Hinata…zombie Hinata…"
"Kyaa, zombie Hinata menakutkan!"
"Zombie Hinata!"
"He,hhe,hhentikan!"
"Zombie Hinata!"
" ..henti—"
"Hora! Kalian lagi ngapain?" Seorang anak laki-laki dengan rambut pirang acak-acakan tiba-tiba berteriak. "Kayaknya seru. Aku ikutan, dong!"
"Kami sedang mengerjai Hinata-chan. Ayo, seru lho!"
"Mengerjai?" bocah itu menghentikan langkahnya, lalu keningnya berkerut "Kenapa?"
"Lihat, bola matanya putih. Aneh banget kan?"
"Iya. Dia kayak monster, kan?"
"Zombie! Dia mirip zombie, kan? Mayat yang hidup lagi. Dia Monster zombie!"
Hinata menundukkan kepalanya. Air mata telah membasahi matanya yang sembab. Dia bukan zombie. Matanya memang sudah lahir seperti itu. Tapi ia manusia yang masih hidup, bukan zombie!
"Bola mata putih?" Ujar si anak pirang penasaran. Ia kembali lari mendekat dan berhenti di hadapan Hinata.
"Hey," Panggil bocah pirang namun Hinata terus menunduk. Bahunya bergetar ketakutan.
Sudah cukup. Ia tidak mau dikata-katai oleh teman-temannya lagi. Menakutkan…orang asing sangat menakutkan. Pikirnya.
Sepasang tangan menepuk kedua bahunya. Menyadarkan Hinata kecil dari lamunannya.
"Hey, perlihatkan matamu padaku!" Serunya dengan wajah riang dan penuh antusias. Tubuh Hinata kembali bergetar.
"A,aa..aku—" Hinata hendak menjawab begitu kedua tangan dibahunya mengguncangnya keras. Hinata terkesiap. Kedua bola matanya mengerjap. Dalam sedetik, mata Hinata menemukan warna biru lautan yang dalam di hadapannya.
Hinata bergeming.
"Whooaaa, keren!" Pekik bocah pirang. Mata lavender si gadis kembali mengerjap.
"Woy, kalian bodoh ya?" Ujar si pirang kembali berseru. Kali ini ia menoleh pada teman-temannya dan memperlihatkan wajah kaget Hinata pada mereka. "Mata secantik ini apanya yang aneh?"
Sepasang Lavender itu membulat. Ia menoleh pada sang empu suara dan tertegun. Untuk beberapa saat Hinata tidak bisa mencerna apa yang dikatakan si bocah pirang dengan tiga garis kumis dikedua pipinya yang berwarna gelap. Caa.. …cantik?!
"Tubuhnya juga hangat, sudah pasti manusia. Jadi berhentilah mengatainya zom—"
"Wooy, Naaruuutttoooo~" Panggilan seseorang dari kejauhan membuat bocah itu terdiam. Ia menoleh mendongkakkan kepalanya kemudian ia mengangkat tangannya, melambai.
"Sasukee, aku disini!" Pekiknya.
Di ujung jalan berdiri seorang bocah dengan rambut gelap. Orang yang dipanggil Sasuke itu berlari mendekat tapi tidak cukup dekat.
"Apa yang kau lakukan, Naruto? Cepat, bibi Kushina dan Oka-chan sudah menunggu." Serunya.
"Ya. Aku kesana!" Kata si bocah pirang yang dipanggil Naruto pada bocah raven lalu mengalihkan perhatiannya pada teman-teman barunya yang balas menatapnya begitupun Hinata yang masih tertegun. "Sampai jumpa!" Katanya seraya melambaikan tangan kemudian berlari menuju bocah raven berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke
"Ada anak perempuan matanya baguus banget!" Sahut Naruto "Kamu tadi harusnya liat juga, Sasuke!"
Suara kedua bocah yang tampak asyik mengobrol itu semakin sayup. Hinata melihat punggung anak laki-laki itu menjauh perlahan-lahan. Mata Hinata nampak terpaku, nyaris tak mengerjap meski sang objek telah menghilang dari pandangan.
Naruto. Jadi namanya, Naruto-kun? Pikirnya.
Sejak kejadian itu Hinata tidak bisa melepaskan dirinya dari Naruto. Ia ingin tahu tentang pria itu. Ia ingin mengenalnya lebih dekat. Sayangnya, gadis itu telalu pemalu. Berulang kali Hinata meyakinkan dirinya untuk menyapa Naruto namun ia selalu mendapatkan dirinya berdiri kaku tanpa sanggup mengatakan sepatah katapun saking gugupnya. Mereka berdua seperti perpaduan dua kutub yang sangat berbeda. Kalau diumpamakan mirip kutub utara dan kutub selatan. Perumpamaan yang sering digunakan untuk meyebut dua hal yang tak mungkin bersatu. Dua dunia yang sangat berbeda.
Hinata tahu kemungkinan baginya untuk bersama pria popular seperti Naruto hampir mendekati nol alias gak mungkin. Itulah yang membuat Hinata langsung Jiper. Minder. Juga Keder! Sebelas tahun yang ia lalui. Ia hanya bisa menatap punggung pria itu dari jauh. Dibalik tiang listrik di depan rumah Naruto atau di semak-semak halaman sekolah atau di belakang papan pengumuman di lorong kelas. Ia selalu memilih tempat tersembunyi agar tidak ketahuan. Bagi Hinata melihat sosoknya secara diam-diam dan dari kejauhan sudah cukup menimbulkan getaran-getaran indah dihatinya. Walau hanya seperti ini, Hinata cukup senang.
Lalu tiba-tiba dunia berputar dan dewi fortuna datang memihaknya! Kejadian kemarin yang seperti mimpi…kejadian tadi yang seperti mimpi…
"Cie, yang baru jadian sama gebetan." Suara tinggi khas perempuan keturunan Cina itu membuyarkan lamunan Hinata.
"Tenten!" Serunya. "Lho, kemana Neji-niisan?"
Gadis bercepol itu menggidikkan bahunya. "Biasalah. Ngerem di ruang Osis."
Hinata mengangguk kecil seraya menyuapkan sesendok kare ke dalam mulutnya.
"Oh, ya Hinata," Tenten tiba-tiba memajukan tubuhnya. "Kamu bener jadian sama Naruto?"
Mengapa oh Mengapa! Hinata tahu bahwa sahabatnya ini pasti akan menanyakan hal itu cepat atau lambat tapi diantara banyaknya waktu, kenapa Tenten harus mengatakan pertanyaan sakral itu diwaktu terburuk yang pernah ada. Saat Hinata hendak menelan makanan. Alhasil sesendok kare yang harusnya masuk ke kerongkongan beralih jalur ke tenggorokan!
"Uhuk Uhuk! Uhuk uhuk!" Hinata terbatuk hebat.
"Hinata?" Tenten terkesiap. Ia buru-buru mengambil segelas air putih di atas meja makan kantin dan menyodorkannya pada Hinata. "Minum ini."
Hinata meraih gelas dari Tenten dan meneguknya perlahan sambil sesekali menepuk dadanya yang perih luar biasa. "Ehem…Ohok! Ugh,"
"Kau baik-baik saja?" Tanya Tenten merasa bersalah. "Sini biar ku tepuk punggungmu."
Hinata menahan tangan Tenten lalu menggeleng pelan. "Tidak aku sudah baik—uhuk—baik saja. Ehem…!"
Hinata menarik napasnya. Perlahan-lahan perih di dadanya menghilang. Ia meletakkan gelasnya dan menarik napas lega. "Uh, lega rasanya." Ucap Hinata.
Mendengar itu, Tenten ikut merasa lega. Tenten mengamati pergerakan Hinata hingga setelah ia merasa Hinata sudah tenang dari peristiwa keseleknya barusan Tenten kembali bertanya, "kamu bener jadian sama Naruto?"
Raut wajah Hinata berubah. Rona putih itu kini tertambal warna merah merona. Tenten tertawa kecil. Dari dulu nama 'Naruto' selalu ampuh memerah-padamkan wajah Hinata. Gadis pemalu nan lugu itu sangat sensitive terhadap nama 'Naruto'. Background Bunga-bunga otomatis muncul begitu 'Naruto' disebut.
Gadis lavender itu mengangguk kecil.
"Kamu serius jadian sama dia? Naruto kan playboy?"
"Enggak. Naruto-kun bukan playboy!" Sanggah Hinata cepat
"Cowok super populer kayak dia sudah pasti playboy, kan? Kamu mending mundur Hinata. Dibanding ntar sakit hati. Aku tahu kamu bener-bener cinta mati sama Naruto. Kalau dia cuma main-main kasihan kamunya." Tutur Tenten seraya menyendok katsudon yang ia pesan.
Hinata menundukkan kepalanya. Hinata tahu pasti Naruto bukan playboy. Bagaimanapun, ia telah menguntit pria pirang itu selama sebelas tahun. Hinata tahu bahwa dalam kurun waktu sebelas tahun itu ia tak pernah sekalipun melihat Naruto pacaran. Mungkin untuk berjalan bersama perempuan dan bergandengan tangan Hinata pernah melihatnya, tapi untuk ciuman atau pelukan Hinata belum pernah melihatnya sekalipun!
"Salah aku juga, sih. Kamu kemarin jalan sama Naruto karena aku yang dorong kamu. Itu kulakukan untuk membuatmu bicara padanya. Setidaknya jika kalian sudah bisa berbicara dengan normal layaknya teman, kamu bisa move on." Lanjut Tenten. "Hidupmu itu gak akan selamanya muda. Kalau kamu nunggu Naruto terus kamu bisa nunggu sampe ubanan! Tapi aku bener-bener gak ngarepin kau jadian, Hinata. Cowok kayak Naruto itu lebih pantes dijadikan hiasan dibanding pacar. Jadian sama Naruto cuma bakal bikin kamu sakit hati doang, percaya deh!"
"Tta..tapi aku cintanya cuma sama Naruto-kun." Kilah Hinata.
Tenten menggoyangkan telunjuknya, "Ampun deh, ini anak lugunya minta ampun. Kamu kurang piknik, nih!"
"Huh?"
"'Cintanya cuma sama Naruto' itu karena kamu ngedon aja ngeliatin Naruto! Ya iya lah pasti sukanya cuma sama Naruto. Asal kamu tahu, cinta itu bisa dateng dan pergi sendirinya. Coba kamu membuka hati dan bebaskan perasaan kamu buat cowok lain. Nanti juga cinta bisa dateng kalau cocok dan emang jodoh." Jelas Tenten panjang lebar. "Lagian suka sama cowok caper kayak gitu.
"Naruto-kun gak caper!" Bantah Hinata cepat. "Naruto-kun cowok yang baik dan polos."
"Polos?" Dengus Tenten, "cowok model dia itu jelas jauh dari kata 'polos' Hinata! Dia itu tukang mainin cewek!"
"Enggak! Naruto cowok yang baik." Kata Hinata bersikukuh.
Tenten hendak menyemprot Hinata dengan berbagai argument tentang betapa orang jatuh cinta biasanya buta. Tapi sinar kesungguhan dimata Hinata membuatnya urung. Akhirnya, Tenten hanya mampu menghela napas pasrah. "Yah, terserah kamu aja kalau begitu. Aku sayang kamu Hinata. Aku gak mau kamu disakitin cowok itu karena hubungan sebelah pihak kayak gini."
"Aku tahu itu. Jatuh cinta sudah pasti sepaket dengan sakit hati." Ucap Hinata. "Aku tahu Naruto-kun pacaran denganku karena didesak keadaan. Tapi ini tetap kesempatan bagiku. Kesempatan yang cuma sebesar biji apel ini tetaplah kesempatan. Jadi aku akan memperjuangkannya."
"Jadi kamu sudah siap lahir batin dengan cinta bertepuk sebelah tangan ini?"
"Ya, do'akan saja semoga pada akhirnya cintaku bertepuktangan." Seru Hinata.
Jawaban Hinata itu berbuah tepukan tangan Tenten yang membuatnya mengernyitkan alisnya. "Lho, kok malah tepuk tangan, sih!?"
"Tadi kamu yang minta kan?" Jawab Tenten kumplit dengan cengiran isengnya. "Biar cintamu bertepuk tangan."
"Maksudnya cintaku sama Naruto! Gimana, sih." Protes Hinata kesal.
"Iya deh. Apapun itu aku hanya ingin semua yang terbaik untukmu."
Hinata tersenyum mendengar restu yang telah Tenten berikan untuknya. Bagaimana pun Tenten adalah sahabat yang sangat berharga. Ia tidak mau hubungan persahabatannya rusak karena insiden jadian dengan sang ikemen sekolah.
Nampaknya, do'a yang Tenten panjatkan benar-benar manjur. Tak lama setelah Tenten mengucapkan do'anya di dalam hati, Ikemen sang maskot sekolah berjalan memasuki kantin. Cowok pirang itu langsung jadi pusat perhatian di kantin. Apalagi ia datang bareng Sasuke dan kawan-kawan yang tak kalah hot-nya.
"Lho, Hinata?!" Seru Kiba, salah satu sohib dekat Naruto. "Naruto, tuh liat cewek lo! Udah gue bilang dia pasti ada di kantin. Jam istirahat gini nyari orang ya ke kantin, lah!"
Hinata tersentak. Naruto mencarinya? Pikiran itu memenuhi benaknya dengan voltase cukup besar hingga membuat otaknya sedikit koslet kelebihan tegangan.
"Pacarmu udah dateng, tuh. Aku pergi dulu ya? Kasihan Neji belum makan siang. Bye!"
Alasan klasik yang diucapkan Tenten membuat mata Hinata terbelalak lebar dengan mulut menganga. Pikiran 'ditinggal sendiri bersama Naruto dan teman-temannya' membuat debaran jantung Hinata menggila.
"Te..Te..Tenten!" Panggilnya berusaha mencegah kepergian sahabat satu-satunya.
"Yaelah, disamperin pacar kok tegang gitu. Mingkem dulu 'napa." Sahut Tenten cepat.
Bibir Hinata terkatup rapat. Tangan kanan menutu—membekapnya.
"Lho, cewek bercepol kemaren?" Sapa Kiba setengah bertanya.
"Tenten. Kelas dua belas mia empat, sahabat Hinata." Jawab Tenten seraya melambaikan tangannya. "Aku cabut dulu, ya. Bye~"
Tenten beranjak pergi meninggalkan gadis Hyuuga dengan ketegangan tingkat dewa. Tubuh gadis lugu itu membatu di tempat. Mana kanan mana kiri sudah tidak bisa dibedakan lagi. Seluruh kepala Hinata terasa berputar. Membuatnya pusing tujuh keliling.
"Gue pesen katsudon dulu, lo mau gue pesenin apa?" Tawar kiba entah pada siapa.
Diantara ke empat sahabat Naruto lain yang Hinata harap akan menjawab, Naruto adalah yang pertama membuka mulut.
~My Stalker Girlfriend~
"Ramen." Jawab Naruto.
Setelah menjawab, kelima sohib dekat cowok pirang itu langsung pergi tanpa komando. Meninggalkan Naruto bersama Hinata di meja pojok kantin yang ramai. Naruto menggeser kursi dan duduk di hadapan Hinata.
Meskipun mereka duduk di bangku pojok tapi rasanya seperti berada di tengah. Seluruh perhatian orang di kantin jatuh pada pasangan yang jadi buah bibir sejak kemarin. Perhatian itu membuat kepala Hinata makin tunduk. Hinata berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjang miliknya.
Hening.
Ayo bikin topik! Seru Naruto pada dirinya sendiri. Keheningan diantara keduanya membuat Naruto gugup. Naruto memang mencari gadis aneh ini, tapi setelah ia menemukan Hinata ia jadi bingung harus bagaimana. Pasalnya ia memang tidak terbiasa bersama cewek. Selama ini selalu pihak cewek duluan yang pertama buka mulut. Tapi bareng Hinata, lain cerita!
Naruto berdehem untuk mencairkan suasana, tapi Hinata malah duduk makin kaku. Ketegangan tergambar jelas di seluruh wajahnya yang merona.
"Karenya gak dimakan?" Tanya Naruto membuka percakapan.
Cewek di hadapannya terlonjak, "Ah, iya." Jawabnya seraya memasukkan sesendok penuh Kare ke mulutnya yang langsung mengerucut ke depan. Keningnya langsung mengerut begitu ia merasakan pedasnya kare di dalam mulut. Membuat Naruto tertawa melihat gadis itu berusaha menelan karenya sekuat tenaga.
"Ini." Naruto menyodorkan segelas air putih ke hadapan Hinata. Gadis lavender itu meneguk semua isinya seketika. "Makannya pelan-pelan." Saran Naruto.
Hinata menghembuskan napas lega setelah rasa pedas perlahan-lahan menghilang di lidahnya.
Hening.
Naruto tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Ngobrol sama cewek bukanlah keahliannya. Naruto menemukan dirinya jungkir balik putar otak hanya untuk nyari topik pembicaraan!
Apakah 'keanehan' itu sifatnya menular? Jika ya, maka Naruto pasti sudah tertular 'keanehan' Hyuug Hinata. Naruto merasa tersedot kedalam dunia gadis yang misterius itu. Gadis itu selalu melakukan sesuatu yang diluar dugaan sampe Naruto bertanya-tanya 'keanehan' apalagi yang akan ia lakukan berikutnya?
Semenjak tahu Hinata adalah penguntitnya, Naruto jadi sadar sekeliling. Saat pergi ke sekolah pagi itu ia merasakan seseorang mengawasinya dan Hinata Hyuuga sedang bersembunyi dibalik tiang listrik di depan rumahnya. Demi Tuhan, Tiang Listrik! Tak lama kemudian ia merasakan pergerakannya diikuti secara perlahan-lahan dari jarak tak lebih dari lima meter. Naruto jadi bertanya-tanya, dengan kemampuan menguntit seprofesional itu, sudah berapa lama Hinata Hyuuga menjadi stalkernya?
Kalau diingat-ingat lagi, dari dulu Naruto memang selalu merasakan perasaan diikuti jika dekat-dekat dengan gadis aneh ini.
Naruto penasaran. Kenapa Hinata Hyuuga senang sekali menguntitnya? Memang apa serunya mengikuti seseorang dari belakang? Bukankah membosankan?
"Hey, Hinata." Bukan hanya yang dipanggil yang terlonjak kaget, yang memanggil pun ikutan kaget. Tanpa sadar Naruto memanggil Hinata.
"Yyy…ya?"
"Kenapa kau senang sekali menguntitku?" Tanya Naruto to-the-point.
"Eehh?!" Gadis itu terkesiap. "Kkk..kkke..kkenapa?"
Naruto mengangguk. Ia memang sudah penasaran dari kemarin. Dia gadis langka yang sangat menarik, dilihat dari sudut keanehannya.
"Se..sebab aku ingin tt..tahu tentang Nnn..na..Naruto-kun." Jawabnya.
"Kenapa gak nanya langsung?"
Hinata mengangkat kedua tangannya. Mengibas-ngibaskannya dihadapan Naruto. "Gak mungkin!" Serunya. "U..uuu..untuk ngg..ngobrol langsung, gak mungkin!"
"Lho, kenapa? Kita sekelas dari TK, lho." Sanggah Naruto santai.
"Tt..tta..tapi tetap saja bb..bbeda!" Kukuh Hinata. "A..aa..aku terlalu tegang uu..untuk bertanya la…lala..langsung."
"Apa yang ingin kau tahu dariku?"
"Banyak," aku Hinata. "Se…seperti a..apa yang kukatakan kemarin."
"Ah, yang waktu aku marah itu?" Tanya Naruto. Hinata mengangguk kecil.
"Pada saat marah misalnya, aku ingin tahu seperti apa Naruto-kun jika marah. A..aku menguntitmu untuk mencari tahu bagaimana Naruto-kun saat marah."
"Ah, jadi intinya kau mengikutiku untuk mencari jawaban atas khayalanmu tentangku?" Tembak Naruto hingga Hinata langsung pucat di tempat. "Memangnya mengkhayal itu seru?"
Kembali rasa penasaran mengambil alih kendali. Semakin lama semakin menggunung. Naruto dilanda oleh badai 'kenapa' yang hanya kembali berbuah 'kenapa' saat Hinata menjawabnya. Seperti jawaban Hinata yang satu ini, "dibandingkan seru aku lebih suka kata 'bahagia'."
Mata Naruto membulat tak percaya, "bahagia?"
"Mengobrol tentang banyak hal, jalan-jalan, bersenang-senang…rasanya aku selalu bahagia bersama denganmu, meskipun kenyataannya kita bahkan tidak berbicara satu sama lain."
Eh?
Sesuatu melesak. Terasa hangat, nyata dan…klik. Naruto kembali tersedot kedalam dunia Hinata. Perasaan asing yang tidak ia ketahui memenuhi dadanya dengan penuh keingintahuan yang mendesak keluar. "Apa? Apa yang biasanya kamu bayangin?" Desak Naruto.
"Eeh?!" Gadis itu mengerjap. "Em…mm..misalnya, kita makan bersama di kantin lalu Naruto-kun memasukkan makanan yang tidak kusukai ke dalam piringku. Aku memakannya sambil mengatakan 'enak' dengan wajah 'aku tidak mau memakannya'. Kita nonton drama keluarga yang sedih sampai Naruto-kun nangis, tapi Naruto-kun langsung menyembunyikannya dengan menguap karena filmnya terlalu membosankan..."
Uwaahh! Apa-apaan itu? Ii—itu terlalu nyata!
"…Naruto-kun kalah main game, lalu kau berlatih sampe bergadang…"
"Ah, lihat! Dia keren banget!"
"…Naruto-kun menangis saat hewan peliharaan Naruto-kun mati…"
"Udah pasti playboy tuh. Lihat aja gayanya. Gimana ya…ah, tipe anak nakal gitu, kan?"
"…Kita ke taman hiburan, lalu Naruto-kun mengajakku ke rumah hantu meski tahu aku sangat takut hantu…"
"Kau merasa bosan denganku? Kau bahkan merasa bosan sebelum benar-benar menyentuhku?"
"…Naruto-kun sangat kesal sampai rasanya ingin marah saat menunggu 3 menit untuk menyiapkan ramen instan…"
Ah, itu semua…semua itu adalah diriku. Diriku yang sebenarnya!
Seperti menemukan oase di padang gurun. Perasaan bahagia yang tak terkira membuncah tak tertahankan. Naruto maju menggebrak meja penuh antusias hingga Hinata yang sibuk mengkhayal melonjak kaget.
"Beri tahu aku!" Seru Naruto, tersenyum begitu lebar. "Beri tahu aku semuanya. Semua khayalanmu!"
~My Stalker Girlfriend~
Bibir pria pirang itu melengkung sempurna memunculkan lesung pipit manis di kedua pipinya. Kedua matanya tenggelam dibalik pelupuk matanya yang dihiasi bulu mata lentik yang cantik. Pipi tan-nya yang dihiasi tiga kumis unik itu merona. Suara gelak tawa renyah terdengar begitu merdu. Butuh sedetik, tidak sepuluh detik penuh bagi Hinata untuk menerjemahkan scene dihadapannya ke dalam otak berpentium empat miliknya.
Hinata melongo parah sampai matanya tidak berkedip dalam beberapa detik. Hingga, "WHOAAAHHHH!" Hinata bangkit mendadak, menjatuhkan kursi yang tadi ia duduki. Bunyi "DUAK" menggema membuat semua siswa di kantin menatap mereka penuh kecurigaan.
"Ramen special ekstra pedas siap tersediaa~" Cicit Kiba yang datang membawa semangkuk katsudon dan ramen yang masih panas lalu dengan nyanteinya menyimpan makanan di meja dan duduk di kursi samping Hinata.
"Ah, Gue kehabisan daging!" Seru Chouji tiba-tiba datang ke meja dengan dua piring nasi kare juga sekeresek penuh makanan ringan di tangannya. "Gara-gara lu sih, kita ke kantin jadi telat. Gue gak kebagian daging nih!"
"Lu liat badan lu deh, itu daging semua Chouji!" Ujar Kiba sweatdrop.
"Lu ngatain gue gendut, huh?!" Nada Chouji menajam.
"Kiba gak maksud ngatain lo, tapi kalo lo tersinggung ya berarti lo nya lagi sensian berarti." Sahut Sai bermaksud menengahi.
"Jadi maksud lu, gue cowok gendut yang sensian?!" Pekik Chouji. Oh, betapa kacaunya emosi Chouji jika makan tanpa daging. Bagi sebagian orang kare tanpa daging mungkin seperti jus tanpa es. Namun bagi pria tambun satu ini, kare tanpa daging adalah bencana!
"Sai, lu mending tutup mulut lu deh." Ujar Shikamaru bijak. Well, cara teraman mengatasi orang marah dan kesal adalah dengan membiarkan orang tersebut ngomel sesuka hatinya.
"Lo ngapain berdiri gitu, Hyuuga?" Tanya Sasuke setengah menyeringai. Merupakan tandatanya besar bagi Sasuke melihat sobat pirangnya membatu tak menggubris Ramen yang terhidang di depan matanya.
"A,aa…aku ke kelas du,du,duluan!" Kata Hinata persis robot koslet. Ekspresinya mendadak kaku dengan rona merah menjalar di seluruh wajahnya.
Cewek lugu itu seketika putar balik bak pasukan pengibar bendera. Lalu ngacir secepat kilat bagai anak panah lepas dari busurnya.
"Lo apain cewek lo sampe ngacir gitu?" Tanya Kiba seraya menyuapkan katsudon kedalam mulutnya.
"Ya, lu si Kiba! Lu gak peka liat orang pacaran maen serobot duduk di pinggir ceweknya." Gerutu Chouji ikut memulai acara makan siangnya.
"Lo juga ikut-ikutan duduk, kan? Ngapain protes coba?" Sahut Kiba. "Apa jangan-jangan barusan gue ganggu momen lo, Nar?"
"Udah pasti kan, Kib. Lo tau sendiri gimana rasanya diganggu pas pacaran." Seru Sai menimpali.
"Lo gak lagi berbuat mesum sama cewek lo kan?" Selidik Kiba dengan mata memincing curiga.
"Ya enggak lah!" Jawab Naruto spontan. "Lu pada berisik banget, deh!"
"Akhirnyaa~" Seru sohib sang ikemen bersamaan.
"Lo semua kenapa?" Tanya Naruto bingung ngeliat gelagat teman-temannya yang tiba-tiba kompak seperti sedang bernapas lega.
"Gue khawatir ngeliat lo ngediemin ramen favorit lo, dobe." Ujar Sasuke to-the-point.
"Kita-kita pikir loe kerasukan jin iprit." Lanjut Kiba menimpali.
"Gila lu ya!" Sewot Naruto.
Well, Naruto gak bisa nyalahin sohib-sohibnya. Ini memang pertama kalinya dia tidak menggubris Ramen special ekstra pedas favoritnya di meja makan. Dan itu karena…Hinata, cewek stalker-nya.
~My Stalker Girlfriend~
Kulitnya putih, pipi tembem yang merona dengan lesung pipit imut di kedua sisinya. Hidung lancip, mata bulat dengan bulu yang lentik. Lalu bibir merah yang lagi-lagi di gigit sang empunya.
"Na,Na,Naruto-kun ngapain?" Bibir itu bergerak menimbulkan suara bergetar yang jelas-jelas terdengar gugup.
"Ngeliatin kamu, lah. Apalagi coba?" Jawab Naruto spontan, polos dan cenderung watados. Jawaban itu sontak membuat gadis yang duduk dihadapannya tambah kaku.
"Nulis agenda kelasnya beres belum, sih? Kok lama banget?" Lanjut Naruto gak sadar jelas-jelas dirinya yang bikin Hinata nulis lambat. Lagian dipelototin pujaan hati sepanjang menulis, siapa yang ga grogi coba?
"Ja,jaja,jangan nge,ngeliatin aku te,terus dong, Naruto-kun!" Hinata buru-buru menutup wajahnya dari pandangan Naruto dengan buku agenda kelas, namun tangan Naruto buru-buru menahan agenda itu hingga buku agenda harian kelas dengan cepat berpindah tangan ke sang cowok.
"Ntar aku suruh si teme yang lanjutin nulis agendanya. Sekarang kamu ceritain apa aja yang kamu bayangin tentang kita. Kemarin di kantin kamu maen kabur gitu, gak seru ah!" Naruto menambah ketegangan dengan senyuman manis dan pandangan penuh minat pada Hinata yang hampir mengap-mengap.
Satu per satu murid datang ke kelas. Saat masuk, mereka mendadak menajamkan telinga mereka di masing-masing tempat duduk. Penasaran percakapan macam apa plus gaya pacaran kayak gimana yang dipilih si ikemen untuk mempermainkan Hinata, si cewek gagu itu.
"Na,Naruto-kun me,mengajakku makan bareng di kantin ntar istirahat. Ki,kita menyebutnya 'kencan istirahat'." Ujar Hinata seraya menundukkan kepalanya malu-malu.
"Yosh! Ntar istirahat kita kencan yaa."
Naruto gak sadar kalo ucapannya itu berbuah pandangan tajam yang menusuk Hinata diseluruh tubuhnya. Para cewek menatap garang Hinata, layaknya predator memburu mangsa dan siap menerkam kapanpun si mangsa lengah. Hinata harus cukup puas dengan meneguk ludahnya sendiri untuk menghilangkan perasaaan gugup dan takutnya karena pandangan cewek-cewek terhadapnya.
'Kencan sama Naruto-kun!' Batin Hinata menjerit.
"Trus pas kencan kita ngapain, Hinata?" Tanya Naruto lagi. Antusias luar biasa.
"Em, ki..kita beli eskrim?" Kata Hinata tidak yakin. Lalu dirinya menggeleng cepat. "Kita ke beli mi,minuman trus Na,Naruto-kun memilih kopi dan susu."
"Susu untukku dan kopi untukmu? Benar kan Hinata?" Potong Naruto.
Hinata mengangkat kepalanya. Kaget karena Naruto mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Naruto mengerti apa yang dipikirkan Hinata karena ia pun berpikiran demikian. Maka ia hanya bisa memberikan cengiran khas miliknya untuk menjawab pertanyaan diam-diam Hinata. Dan perbuatan Naruto malah menambah keruh aura disekelilingnya yang sudah seperti akan hujan badai.
"Ciee~ pagi-pagi buta udah pacaran." Kiba baru saja datang. Pria penyuka anjing itu langsung menghampiri meja Hinata untuk menggoda sejoli yang dimabuk asmara. "Serasa kelas milik berdua, niee~ Aw, panas panas!" Godanya sambil pura-pura kegerahan.
"Lu rese banget sih. Nih, daripada lu banyak bacot mending gunain energy lo untuk hal-hal yang berguna kayak nulis agenda kelas." Ujar Naruto seraya menyodorkan dengan paksa agenda yang disitanya dari Hinata.
"Ih, ogaaah! Suruh si Sai aja yang lanjutin. Kasian ntar para guru kalo gue yang nulis. Mereka pasti langsung ngantri di klinik mata."
"Biarin, biar kelas cepet bubar. Nih, isiin yang bener." Paksa Naruto setengah melotot hingga Kiba tidak berkutik dibuatnya.
"Okelah kalau begitu. Demi masa depan sohib gue yang mulai sembuh dari penyakit misogynist-nya."
"Njir, lo ngatain gue apa barusan?!" Naruto berdiri, menyerbu Kiba yang langsung ngambil langkah seribu.
Hinata melihat Naruto berlari mengejar Kiba, lalu Sasuke datang diikuti Sai dan Kiba buru-buru berlindung di punggung temannya. Cepat-cepat menghindari amukan Naruto yang yang langsung ditahan Shikamaru yang baru datang sambil nguap dan Chouji yang masih anteng makan keripik kentang tanpa mempedulikan dunia. Senyum Hinata tertarik, matanya dengan sigap memotret setiap ekspresi yang dimiliki Naruto dan mengabadikannya dalam 'Galeri Naruto-kun' di dalam hatinya.
Istirahat telah tiba dan Hinata langsung kembali dalam robot mode-on. Tubuhnya dengan sangat kaku mengikuti jejak Naruto selangkah demi selangkah persis pasukan tentara yang sedang latihan baris-berbaris.
Naruto sengaja melambatkan jalannya. Lalu secara pelan-pelan mengikis jarak diantara mereka. Selangkah mendekat…dua langkah menjauh, selangkah mendekat….ada orang lewat di tengah meraka jadi Naruto terpaksa ngambil empat langkah menjauh. Dada Naruto dag dig dug gak karuan. Tiba-tiba salting pas papasan guru di koridor. Tiba-tiba jantungan pas bahu mau sentuhan. Naruto merasa ada yang salah dengan system tubuhnya, dan melihat kondisi hinata yang kaku stadium empat tidak membantu sama sekali!
Setelah dipikir-pikir selama ini selalu pihak cewek duluan yang megang tangan Naruto kalo lagi jalan bareng. Selalu pihak cewek duluan yang bergelayut manja sambil kadang meluk-meluk. Selalu pihak cewek duluan…harap catat itu.
Jadi Naruto sama sekali tidak tahu bagaimana memulai untuk pegangan tangan pas jalan bareng, atau ngerangkul mesra si dia sambil manja-manjaan. Sama sekali tidak tahu!
Tiap jalan hampir mepet, yang ada tubuhnya berdebar gak karuan. Trus dia jadi ngerasa kagetan pas ada orang lewat, trus….ini apaan? Kok tangan gue tiba-tiba keringetan?!
Intinya, si 'badboy playboy' bahkan gak sanggup megang tangan ceweknya sendiri. So, lupakan ngerangkul mesra sambil manja-manjaan! Naruto harus puas dengan jalan masing-masing sambil muter otak nyari bahan obrolan.
"Jadi, sekarang apa yang lagi kamu bayangin?" Tanya Naruto setelah ia berdehem ria untuk menormalkan lagi tenggorokannya yang sempat gagal fungsi.
"Eh?" Suara Hinata naik satu oktaf.
"Kita bakalan ngelakuin apa yang kamu bayangin pas lagi kencan sama aku. Jadi, apa yang lagi kamu bayangin sekarang?"
Hinata melirik pada Naruto sesaat sebelum menunduk dengan telinga memerah, "ki,kita makan bento setelah beli minuman di ta,taman." Katanya malu-malu sampe Naruto bersumpah bisa melihat uap panas keluar dari telinga cewek super aneh di sampingnya.
"Yosh, kita beli minuman dulu trus makan di taman!"
~My Stalker Girlfriend~
"Itadakimasu!" Ujar Naruto dan Hinata bersamaan.
Mereka berdua makan siang bersama layaknya pasangan remaja pada umumnya. Ditemani angin semilir dan langit yang cerah, Naruto memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya sambil sesekali melirik Hinata. Cewek itu nampak sangat bahagia, dengan senyum terlukis di wajah ayu-nya Hinata memakan bentou miliknya.
Melihat Hinata yang sunyam-senyum sendiri dengan wajah setengah menerawang membuat Naruto tergelitik untuk bertanya, "apa yang kau pikirkan sekarang?"
"Eh?" Mata Hinata mengerjap. "Naruto-kun mencomot sosis milikku, padahal aku sangat menyukai sosis."
Naruto spontan mengambil sosis dari kotak bento Hinata dan memakannya dengan cepat. "Oishii~" Seru Naruto lalu melirik Hinata yang menatapnya tak percaya. "Kenapa? Kan kamu tadi yang bilang."
Hinata menatap pasrah sosisnya yang kini telah tiada. Lalu memakan nasinya dengan tidak selera. Melihat raut wajah Hinata yang murung Naruto lalu berinisiatif memberikan edameme dari kotak bentonya pada Hinata dan wajah Hinata semakin bertambah murung.
"Jangan cemberut seperti itu, kau sendiri yang bilang 'kita makan bersama di kantin lalu Naruto-kun memasukkan makanan yang tidak kusukai ke dalam piringku. Aku memakannya sambil mengatakan 'enak' dengan wajah 'aku tidak mau memakannya' yah walau kita tidak di kantin dan kita tidak menggunakan piring bukankah situasinya sama saja?" Kata Naruto.
Kepala indigo itu kembali terangkat dan menatap Naruto dengan mata berbinar. "Ka,kau mengingatnya?"
"Tentu saja! Kan aku udah bilang kita bakal ngelakuin apa yang kamu bayangin. Jadi mulai detik ini kita akan membuat semua khayalanmu jadi nyata." Seru Naruto. "Jadi ntar pulang sekolah kita main ke taman hiburan trus masuk rumah hantu. Udah gitu kita ke bioskop nonton film keluarga tapi gue gak bakan nangis inget itu!"
Hinata terpaku. Lalu ia mencubit pipinya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak bermimpi. Rasanya sakit jadi ini pasti bukan mimpi. Hinata tiba-tiba takut terpejam karena bisa saja tiba-tiba ia terbangun dan sedang berada di kamarnya seperti pada hari-hari sebelumnya saat ia—entah untuk keberapa kalinya—bermimpi tentang Naruto, cowok pujaannya.
"Jadi, apa lagi yang kamu bayangin?" Tukas Naruto seperti tidak bosan-bosannya menanyakan isi khayalan Hinata.
Hinata menggigit bibirnya. Kalaupun ini mimpi, ini pasti mimpi terindah yang ia miliki. Duduk bersama Naruto dan menikmati bentou bersama dengan minuman yang dibelikan sang kekasih. Ah, kekasih? Benarkah mereka kekasih? Hinata harus sadar bahwa Naruto hanya sedang berbaik hati meladeni permainan kecil Hinata. Mungkin suatu saat, jika ia sudah bosan ia akan meninggalkannya.
Hinata jadi teringat perkataan Tenten kemarin di kantin. Namun Hinata dengan sok nya mengatakan bahwa ia sudah siap untuk patah hati. Benarkah itu?
Akankah datang waktu baginya untuk melupakan Naruto-kun? Cowok yang ia puja sejak jaman ia TK, pangeran berkuda putihnya. Sanggupkah ia?
Hinata merasa dadanya seperti tertusuk. Rasa sakitnya seakan nyata. Hal itu membuat Hinata berpikir, bahwa jika ini adalah permainan kecil bagi Naruto maka bukankah tidak masalah bagi Naruto untuk mengikuti keinginan egoisnya? Setidaknya ia ingin mendengar Naruto mengatakan kalimat itu untuknya…walau itu hanya permainan…walau itu hanya khayalan…lagipula bukankah Naruto mengatakan akan membuat semua khayalannya jadi nyata? Ini adalah kesempatannya yang sebesar biji apel itu!
"Hinata?" Panggil Naruto, kebingungan dengan sikap Hinata yang tiba-tiba membisu.
"A,aku membayangkan…" Ujar Hinata menggantung kalimatnya.
"Apa? Apa yang kau khayalkan selanjutnya?"
Hinata menghindari tatapan Naruto lalu berkata dengan suara pelan, "Sa,saat kita ke,kembali ke kelas, Naruto-kun…"
"Ya?"
"—menyatakan cinta padaku."
DEG!
Hening merayap, ketegangan mendera. Naruto terkejut, dirinya terpaku pada Hinata yang wajahnya telah memerah hingga telinga dan lehernya.
"Menyatakan cinta?" Ulang Naruto dengan wajah penuh tanda Tanya seakan itu adalah bahasa alien yang baru ia dengar. Otaknya berputar, menguras setiap selnya untuk mengartikan kalimat sederhana yang baru dilontarkan Hinata.
Hinata mengangguk pelan lalu membenamkan kepalanya diantara lututnya. Surai indigonya dengan apik menyembunyikan ekspresi sang empu.
Cuma nembak! Lo jangan jadi pengecut gini dong Naruto. Apa susahnya nembak? Tinggal ngomong 'gue suka sama lo. Kita jadian, ya?' kan gak susah. Lagian sekalian ngeresmiin hubungan gue sama Hinata juga, kan? Oh, ayolah kok gue jadi gagap gini sih? Sial! Megang tangan dia aja gue gak sanggup apalagi nembak? Cowok macam apa gue? Kok, gue jadi cemen gini sih?! Sialaaaan!
"Ehem, so,sori Hinata. Kayaknya untuk nembak gue…" Naruto menghela napasnya, "…gak bisa."
Kepala indigo itu terangkat, lalu ia tertawa "Hahaha, maaf ya Naruto-kun aku udah ngomong yang enggak-enggak."
Hinata tertawa, tapi tiba-tiba air mata menetes di pelupuk matanya. Mata Naruto spontan membulat begitu melihat butiran-butiran air mata berlomba-lomba jatuh dari pelupuk mata gadis indigo itu.
"Oy, kamu gak apa-apa?" Tanya Naruto hampir terkesiap. Tangan yang hendak memegang bahu Hinata ditepis kasar oleh gadis itu.
"A,aku mi,minta maaf udah ngomong yang enggak-enggak. Ma,mana mungkin 'hiks' Naruto-kun menyatakan 'hiks' cinta ka,kalau Naruto-kun gak 'hiks' su,suka sama aku. Maaf. Maafkan aku 'hiks' mulai sekarang aku 'hiks' gak akan ganggu 'hiks' Naruto-kun lagi." Ujar Hinata sambil terisak kemudian dengan cepat berdiri, lari meninggalkan Naruto yang terpaku.
Dia nangis? Tolol, jelas lah! Sial gue udah bikin dia nangis kayak gitu. Enggak, yang bego itu Hinata! Dia gak liat apa gue suka beneran sama dia? Dia gak liat apa besarnya usaha gue buat pegang tangan dia? Dan dia pikir gue gak suka sama dia?!
"Oi, Hinata!" Pekik Naruto sekeras yang ia bisa.
Di taman sekolah yang mendadak ramai dilewati siswa saat jam istirahat hampir berakhir itu mendadak sunyi. Para siswa mendadak membeku mendengar teriakan sang ikemen apalagi akhir-akhir ini ia baru digosipin jadian sama cewek aneh dan jadi tranding topic paling hot di seantero sekolah.
Si gadis aneh yang konon katanya menurut gossip terbaru yang beredar sudah bertunangan dengan sang mascot sekolah secara diam-diam karena perjodohan itu terpaku ketika seseorang menarik tangannya dengan paksa hingga kepalanya terantuk dada seseorang. "Na..Na...Naruto-kun!"
"Jadilah stalker-ku, selamanya." Ungkap Naruto.
Mata Hinata membulat, cewek itu menutup mulutnya yang menganga parah.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"EKHHHHH?!"
"Naruto-kun barusan nembak, kan?"
"Nembak apaan, dia ngomong 'jadilah stalker-ku' STALKER!"
"Gyaaa Tidaaaakkk!"
"Gak mungkin! Naruto-kun nembak cewek Hyuuga aneh itu?!"
"Itu gak nembak, dia bilang STALKER bukan PACAR?!"
"Gak mungkin! Mereka asli jadian?"
"Tidaaakk! Gue gak terima gue gak terima!"
"Dia bilang STALKER bukan PACAR!"
"Tapiii gue yang harusnya jadi pacar selanjutnya Naruto-kun. GUE!"
"STALKER bukan PACAR"
"Apa sih bagusnya cewek aneh suram itu? Kok Naruto-kun mau jadian sama dia?"
"STALKER bukan PAC—"
"Sial, harusnya gue, GUE bukan Hinata gagap itu!"
"STALKER bukan—"
"Gak, gak mungkin ini terjadi Naruto-kun—"
"STALKER—"
Suara cecunguk yang bagai gaung itu membuatku tersadar. STALKER…STALKER…STALKER…kalimat itu terngiang-ngiang. Dan demi Tuhan dari begitu banyak kalimat cinta buat nembak kok bisa-bisanya gue milih STALKER?!
I,itu keitung nembak bukan ya?
Ah, sebodo amatlah yang jelas gue mau Hinata tetep sama gue. Mau jadi stalker kek, pacar kek…itu cuma judul doang.
"Bo,bolehkah?" Suara itu terdengar parau. Mungkin karena Hinata yang masih menangis hingga sesegukan.
Kepalanya menengadah, menatap Naruto dengan mata sembab dan hidung beringus lalu pipi yang basah dan tak ketinggalan merona. Sekilas terkesan acak-acakan dan menjijikkan. Jelas beda jauh sama kondisi heroin di film romantis yang selalu digambarkan cantik apapun yang keadaannya. Tapi yang alami selalu lebih menarik dibanding adegan buatan, jadi meski ceweknya dalam kondisi beringus, rambut awut-awutan, bibir meral, pipi mengkilap…dia tetep, ehem, menarik.
Sadar si gadis sedang menunggu jawabannya, dengan cepat Naruto mengangguk.
"A,aku bo,boleh terus me,menguntitmu?" Tanyanya dengan air mata yang semakin deras.
Tanpa sadar Naruto menggeratkan pegangan tangannya pada Hinata seraya mengangguk mantap. "Gue sih gak keberatan."
"Ji,jika Naruto-kun setuju 'hiks' a,aku akan terus mengikutimu…selamanyaa~"
"Oke." Sahut Naruto diikuti helaan napas lega.
Gue dapet cewek, heh? Dan diantaranya yang seorang penguntit lagi. Bener-bener…hidup gue dan makhluk bergenre cewek. Setelah apa yang gue alami gue kayaknya gak bakalan sanggup untuk melepas cewek aneh satu ini. Rambut indigo, pipi tembem kemerahan, mata lavender unik, hidung lancip lucu juga lesung pipit!
Naruto menatap lembut Hinata yang sibuk menghapus jejak air mata di pipinya. Mereka masih pegangan tangan. Pegangan tangan pertama setelah resmi jadian. Pas jadian, biasanya pasangan ngapain ya? Naruto menunduk pipinya tiba-tiba menghangat saat matanya menangkap bibir Hinata yang merona basah karena rajin digigiti sang empu.
"Hey," Bisik Naruto. Naruto membungkuk sampai garis matanya sejajar dengan Hinata.
Kelopak lavender itu terbuka perlahan. Lalu kekakuan spontan menguasainya begitu menyadari jarak Naruto dan dirinya yang hanya terpaut beberapa senti saja. Melihat sang kekasih membeku membuat tubuh Naruto ikut-ikutan membeku.
Gu—gue beneran cemen sumpah!
Dengan cepat Naruto berdiri tegak. Menutup matanya rapat-rapat sambil meremas jemari Hinata yang masih digenggamnya. Wajahnya semakin menghangat kala Hinata balik meremas tangannya.
"Ehem, so-soal ci,ci,ciuman dibayangin aja dulu, ya." Ujar Naruto yang dibalas anggukan lemah sang pujaan hati.
Mungkin sampe gue bisa jadi cowok seperti di dunia khayalan Hinata, ya suatu hari nanti. Ungkap Naruto di dalam hatinya.
Mereka berdua berdiri berhadapan dengan wajah memerah dan saling bergandengan tangan dengan konyolnya. Mereka pasangan aneh, mereka pasangan idiot…selama mereka merasa bahagia, Naruto tidak akan mempermasalahkan apapun sebutan orang-orang tentang hubungannya dengan Hinata. Toh, Naruto samar-samar mendengar jeritan fansgirl yang menyerukan "Kawaiii~" dan pekikan sohib cs "Makan-makan!"
~My Stalker Girlfriend Part 2/2 END~
-owari-
.
.
.
Sequel?
