BLACK
EXO Fanfiction
Pairing: HunKai (Oh Sehun X Kim Jongin)
Rating: T-M
Cast: Sehun, Kai, Suho, Lay, Chen, Xiumin, Kris, and others
Masalah rating saya gak tau, ada yang protes masalah rating cerita, menurut saya ini sudah M karena menyebut alkohol dan sebagainya, ah ampun saya gak terlalu paham ama yang begitu-begituan, hmmm, maksih udah baca dan review ini bab kedua selamat membaca
Previous
Sehun menoleh ke belakang, tak ada seorangpun yang datang mencarinya. Mungkin, mereka terlalu asyik di dalam. "Kurasa mereka akan sangat lama."
"Aku akan menunggu di sini, kau bisa pergi."
Sehun menelan ludahnya kasar, ia tak sadar dengan kalimat yang akan ia ucapkan selanjutnya. "Aku akan menemanimu di sini."
"Terima kasih Sehun." Sehun menautkan alisnya tak menyangka Jongin akan setuju dengan ide sok akrabnya, sedangkan Jongin dia tak pernah semudah ini dengan orang lain.
BAB DUA
Sehun memandangi kolam buatan dengan permukaan air yang hampir seluruhnya tertutup oleh teratai, sudah sepuluh menit ia duduk menemani Jongin dan dia sama sekali tak memulai percakapan sama sekali. Ia bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain sebenarnya, Sehun merutuki dirinya sendiri kenapa dia harus menawarkan diri untuk menemani Jongin, namun meninggalkan Jongin seorang diri juga terasa salah baginya.
"Kau menyukai ketenangan?" Sehun tak tahu harus memulai percakapan seperti apa, sementara kesunyian semakin mencekik dan membuatnya ingin melarikan diri melupakan kesanggupannya terhadap Jongin. Jadi hanya pertanyaan bodoh itu yang bisa keluar.
"Ya, sepertinya kau juga hampir sama denganku, menyukai ketenangan."
Sehun menggaruk tengkuknya. "Tidak juga, kadang-kadang, entahlah aku sendiri tidak tahu."
Jongin tertawa pelan, Sehun langsung menoleh mengamati wajah Jongin yang diterangi remangnya lampu taman. "Kenapa tertawa?"
"Entahlah, aku hanya menganggapnya lucu saat kau ragu-ragu."
"Itu tidak lucu."
"Maaf."
"Tidak! Tidak!" Sehun berucap cepat. "Tidak perlu meminta maaf, sungguh, maksudku dengan tidak lucu adalah aku sendiri yang menyedihkan." Sehun menggigit pelan bibir bawahnya. "Sudahlah." Desah Sehun, dia benar-benar tidak menyukai situasi canggung ini.
"Kau tidak perlu memaksa untuk tetap di sini jika tidak nyaman."
"Aku tidak mungkin pergi, maaf bukan berarti aku mengasihanimu aku tidak tega meninggalkanmu seorang diri di sini."
"Kenapa? Apa ada alasan lain selain belas kasihan, mengingat kita sama sekali tak saling kenal?"
Sehun terdiam jika dia bersikeras maka perdebatan tak akan terhindar. "Baiklah, aku memang sedikit mengasihanimu, maaf."
"Terima kasih sudah jujur."
"Tapi ada hal lain selain itu, di dalam membosankan."
"Sejak kapan pesta membosankan? Ada yang mengganjalmu?"
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Hmmm." Gumam Jongin, sebelum kesunyian kembali menghampiri, karena Jongin tak akan mengorek keterangan lebih jauh tentang pesta membosankan dari Sehun, itu bukan urusannya.
"Kau suka makanan manis?"
"Apa?" Jongin menoleh ke arah Sehun.
"Di sini ada kue, aku tidak tahu jenis kue apa, warnanya merah mungkin Red Velvet." Sehun menebak asal. Berikutnya Sehun mengambil garpu plastik yang ditusukkan di atas permukaan potongan kue, memotong kue dalam ukuran sekali lahap, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Kau memakan kueku?"
"Ah, kupikir kau tidak mau." Sehun melempar tatapan meminta maaf dengan mulut yang masih mengunyah. "Maaf."
"Aku hanya bercanda, sudahlah kau banyak sekali meminta maaf padaku." Jongin tersenyum tulus, sebelum mengalihkan pandangannya dari Sehun.
"Kau mau kuemu? Masih ada sisa."
"Nanti saja."
"Haah…," Sehun mendesah, ia kembali memotong kue dalam ukuran sekali lahap, kemudian berdiri di hadapan Jongin dan menyodorkan potongan kue di hadapan mulut Jongin. "Buka mulutmu, aku sudah memotongkan kue untukmu."
"A…," Jongin ingin menjawab namun Sehun mendorong potongan kue memasuki mulutnya, otomatis Jongin mengunyah kue di dalam mulutnya.
"Enak kan?" Sehun bertanya sambil melempar garpu plastik di tangannya ke atas meja rotan.
Jongin menelan potongan kuenya. "Terima kasih tapi aku tidak memintamu untuk memotongkan kue untukku."
"Apa harus meminta ijin untuk menolong orang lain? Bukan maksudku untuk mengasihanimu Jongin, sungguh, aku ingin berteman denganmu, karena kita akan menjadi saudara setelah pernikahan Suho dan Lay hyung." Sehun merasa ada sesuatu yang aneh di dalam mulutnya, kala menyebut pernikahan Lay dan Suho.
"Sehun?"
Sehun langsung mengamati wajah Jongin dengan dahi yang mengkerut, sepertinya dia menyadari keengganan di hati Sehun. "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat kolam. Ayo kau harus ikut, tak ada penolakan." Sehun menggenggam tangan kanan Jongin menarik sang pemilik dengan lembut untuk berdiri.
Jongin hanya bisa menggerutu di dalam hati, hari ini sudah dua kali ia dipaksa melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Sehun menggenggam erat tangan kanan Jongin menuntunnya meninggalkan beranda. "Kita akan menuruni tiga anak tangga beranda. Aku akan mulai menghitung, kau siap?"
"Ya." Jongin membalas singkat.
"1,2,3, ayo." Ucap Sehun, Jongin mengikuti, ia melangkahkan kaki kanannya perlahan, setelah kaki kanannya memijak anak tangga pertama dengan mantap kemudian kaki kirinya menyusul. "Bagus!" pekik Sehun dengan nada memuji yang tulus, membuat Jongin tak bisa menahan senyumannya. "1,2,3, ayo." Sehun mengulangi lagi ucapannya. Jongin melakukan hal yang sama seperti tadi. "Satu anak tangga lagi, ini yang terakhir." Sehun memberi semangat. "1,2,3,ayo."
Jongin melakukan semua perintah Sehun, saat kedua kakinya menginjak tanah dengan kerikil yang terasa jelas di bawah sol sepatunya, mengakhiri petualangannya menuruni anak tangga, teriakan Sehun terdengar begitu nyaring. "Kau berhasil! Kau berhasil Jongin!" Jongin hanya tersenyum menanggapi sikap Sehun yang terasa kekanakan sekarang.
"Ah!" pekik Jongin tertahan saat Sehun tiba-tiba memeluknya.
"Maaf." Ucap Sehun sambil menarik tubuhnya menjauh dengan cepat. "Aku sangat senang, melihatmu berhasil menuruni tangga."
"Hmm." Jongin bergumam.
"Apa kau—tersinggung?" Sehun bertanya dengan hati-hati yang dijawab dengan gelengan kepala tulus dari Jongin. "Baguslah, ayo kolamnya tinggal beberapa langkah lagi." Secara otomatis tangan Sehun menggenggam dan menggandeng tangan Jongin, menuntunnya untuk berjalan perlahan mendekati pinggir kolam.
Jongin masih tak mengerti kenapa dirinya mengijinkan Sehun untuk terus menggenggam tangannya, padahal biasanya genggaman tangan Suho saja sudah terasa menyebalkan.
"Duduklah, kita sudah berada di pinggir kolam sekarang. Aman, aku tidak akan membiarkanmu terjatuh ke dalam kolam." Jongin tak membalas kalimat Sehun, ia mendudukkan dirinya ke atas sesuatu yang keras dan dingin, Jongin yakin itu adalah pinggiran kolam yang terbuat dari semen dan mungkin ditutup oleh ubin batu alam.
Jongin meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan, tak tahu harus melakukan apa. Kolam teratai, terdengar cantik, pasti cantik saat semua bunga mekar, sayang ia tak dapat melihat keindahannya.
"Wah, dari dekat ternyata warna bunganya berbeda-beda." Sehun menoleh mengamati wajah Jongin, cemas jika dia melakukan kesalahan dan menyinggung perasaan seseorang.
"Lanjutkan, aku mendengarkanmu." Ucap Jongin.
"Apa ini membuatmu merasa tidak nyaman?"
"Aku suka mendengar suara orang yang bahagia dan antusias, aku pendengar yang baik." Jongin tersenyum tulus membuat perasaan Sehun lega.
"Baiklah, kulihat ada beberapa warna di sini, ada ungu, kuning, dan putih, mungkin ada yang lain tapi tidak semua sudut kolam disinari lampu taman."
"Hmmm."
"Kau pernah menyentuh bunga teratai?"
"Aku hanya pernah menyentuh Mawar dan Krisan."
Sehun menggeser duduknya mendekati Jongin, membuatnya kini berhadapan dengan Jongin. Tangan kanan Sehun bergerak menggenggam tangan kiri Jongin. Jongin membiarkan tangan Sehun menggenggam tangannya, ia ikuti kemana Sehun menginginkan tangannya berada. "Ah!" Jongin terkejut saat sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya.
"Ini daun teratai, dingin?" Jongin mengangguk pelan. "Maaf, teratai hidup di air, air yang membuatmu merasa dingin. Dan ini bunganya."
Jongin menahan napasnya saat mersakan sesuatu yang lembut, dan rapuh, menyentuh ujung-ujung jari tangan kirinya. Sehun memperhatikan wajah Jongin, bagaimana kedua bola matanya yang sempurna itu membulat, sungguh kedua bola mata gelap nan jernih itu tak melukiskan jika keduanya tak berfungsi. Kedua bola mata itu sangat indah.
"Bagaimana?"
"Pasti indah, bentuk kelopaknya sangat rumit."
"Ya." Balas Sehun pelan, ia pandangi bunga Teratai di hadapannya yang berwarna putih. "Indah, sangat indah." Sehun tersenyum getir, selama ini ia melewatkan semua keindahan yang bisa ditangkap oleh indera penglihatannya begitu saja, setelah bertemu dengan Jongin mungkin mulai detik ini ia harus lebih sering menghargai hal-hal disekitarnya.
"Bagaimana dengan langit dan bulannya?"
Pertanyaan Jongin membuat kepala Sehun otomatis mendongak ke atas, memeriksa langit malam. "Ada bulan sabit, tapi bintangnya tak terlihat."
"Oh." Balas Jongin.
"Kau merasa dingin? Sebaiknya kita masuk, setelah beranda ada dapur bersih kita tak langsung memasuki bagian dalam restoran, dan tidak ada siapa-siapa di dapur bersih."
"Baiklah." Balas Jongin diiringi anggukan pelan, ia sudah merasa cukup kedinginan sekarang, jadi ide Sehun untuk masuk ke dalam terdengar baik.
"Ayo." Sehun kembali menggenggam tangan Jongin dan menuntunnya berjalan. Mereka berjalan pelan, Sehun takut Jongin terjatuh sementara keduanya belum cukup akrab, Sehun yakin Jongin tak akan mengijinkannya melakukan sentuhan lain kecuali menggenggam tangan.
"Maaf aku merepotkanmu, biasanya ada Monggu yang membantuku, tapi malam ini Suho hyung melarangku membawa Monggu atau sekedar tongkat."
"Tidak masalah, kita sudah berteman, dan besok kita akan menjadi keluarga." Jongin hanya mengulas senyum tipis menanggapi kalimat Sehun. "Monggu? Anjing penuntun?" Sehun asal tebak saja, biasanya memang para tuna netra memiliki anjing penuntun untuk membantu kegiatan sehari-hari mereka.
"Ya, dia anjing penuntunku. Sehun?"
"Ya."
"Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman."
"Apa?"
"Hmmm, kau terdengar tidak menyukai pernikahan Lay hyung dan Suho hyung."
Sehun menoleh memandangi wajah Jongin selama beberapa detik lebih lama, ia yakin Jongin tak akan menceritakannya pada siapapun jadi tak apa berterus terang, lagipula dia ingin mengurangi sedikit bebannya, dan mungkin saja bercerita pada Jongin bisa mengurangi beban yang ia tanggung. "Ya, aku tidak suka dengan pernikahan mereka."
"Kenapa?" Jongin bertanya dengan suara pelan berbisik, terkejut dengan pernyataan Sehuh, apakah Sehun membenci kakaknya, kakaknya yang menurut Jongin begitu sempurna.
"Aku menyukai Lay hyung."
"Oh." Jongin terkejut dengan kalimat Sehun, tentu saja. "Lalu— apa kau akan datang ke upacara pernikahan mereka besok?"
"Tentu saja, aku anggota keluarga." Balas Sehun, kemudian tersenyum perih, sebuah senyuman yang tak akan bisa Jongin lihat.
"Kau yakin akan baik-baik saja besok?"
"Tak ada pilihan." Sehun kembali menoleh memandangi Jongin. "Kurasa aku akan baik-baik saja jika kau ada di sana bersamaku."
"Aku? Kenapa?"
"Setidaknya aku memiliki teman untuk berbagi kesedihan." Ucap Sehun dengan nada bercanda untuk menutupi rasa sakit hatinya. "Kau akan datang besok?"
"Tidak, aku tidak suka keramaian dan Suho hyung tidak memaksaku jadi sebagai gantinya aku datang ke pesta lajang ini."
"Tapi kau kan tidak ikut berpesta, jadi kau harus datang besok."
"Sehun aku tidak bisa."
"Kenapa? Karena kau tidak suka keramaian? Aku tidak suka melihat Lay hyung mengikat janji dengan orang lain, tapi aku tetap datang. Datanglah, aku ada di sana untuk membantumu."
Jongin membuka kedua bibirnya, namun ia tak tahu harus mengucapkan kalimat seperti apa untuk menolak ajakan Sehun. "Aku anggap kau setuju untuk datang, kita teman kan? Mari menguatkan satu sama lain."
"Baiklah." Bisik Jongin, sekali lagi tak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa ia menjadi mudah dengan seorang Oh Sehun.
"Kita sampai di depan tangga beranda." Ucap Sehun, ia lepaskan genggaman tangannya dari Jongin.
"Sehun?!" Jongin terdengar panik. "Sehun!" Jongin berteriak saat kedua kakinya tak memijak tanah, dan tubuhnya melayang, tangan seseorang berada di bawah lututnya, dan tangan lain menahan punggungnya.
"Kita sampai." Sehun menurunkan tubuh Jongin perlahan.
"Kenapa— kau menggendongku?"
"Aku sudah kedinginan, ayo masuk." Ucap Sehun kemudian menggenggam tangan Jongin kembali. Memang itu yang sebenarnya, dia sudah cukup kedinginan di luar dan menunggu Jongin menaiki anak tangga beranda akan membuatnya menggigil karena terlalu lama.
Keduanya melangkah masuk, Sehun menahan pintu kaca dengan tangan kirinya ia biarkan Jongin masuk terlebih dahulu karena dia akan menutup pintu kembali. "Hangat," gumam Jongin, ia baru sadar jika udara di luar dingin saat kehangatan ruangan menyapanya.
"Duduklah." Sehun menuntun Jongin untuk duduk ke atas kursi kayu di depan konter. "Aku ke toilet sebentar, tak apa kan?" Sehun melihat Jongin mengangguk pelan. "Hanya sebentar." Ucap Sehun meyakinkan Jongin sebelum berlari pergi menuju toilet.
.
.
.
"Lay kau punya air putih?" tanya Kris dengan suara aneh karena mulai mabuk.
"Ada, aku ambilkan untukmu."
"Oh tidak, tidak, nikmati pestamu, di mana? Di dapur bersih?" Lay mengangguk. "Aku ambil sendiri sekalian ke toilet memeriksa Sehun, dia lama sekali ke toilet apa dia pingsan?"
"Ah benar juga!" pekik Xiumin dan Chen hampir bersamaan.
Suho berdiri dari duduknya berniat memeriksa Jongin dan Sehun. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa cemas. "Tidak Suho, kau di sini saja, biar aku yang memeriksa Sehun."
"Hmm." Gumam Suho. Ia berulang kali melihat ponselnya, Jongin tidak menghubungi berarti adiknya baik-baik saja sekarang, semoga saja.
"Kau ingin memeriksa Jongin?" Lay bertanya sambil menggenggam tangan kanan Suho. Suho mengangguk pelan. "Pergilah setelah Kris, jangan membuatnya tersinggung saat dia setengah sadar." Ucap Lay kemudian tersenyum menampilkan lesung pipit dalamnya.
Kris berjalan sedikit limbung menghampiri lemari pendingin, ia melihat seseorang duduk di depan konter dapur. Ia acuhkan saja, toh, ia hanya ingin mengambil air minum kemudian ke toilet dan kembali kepada teman-temannya. Kris mengambil botol air mineral dengan cepat, membuka segel dan tutupnya kemudian meneguk isinya.
"Kau siapa?" Akhirnya Kris tak dapat menahan rasa penasaran karena orang itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. "Kenapa tidak ikut berpesta?"
"Aku adik Suho hyung, aku tidak terlalu suka dengan keramaian."
"Oh adik Suho." Kris meletakkan botol air mineral yang tersisa setengah, ke atas konter. "Siapa namamu? Aku Kris, teman Lay."
"Kim Jongin." Jawab Jongin sopan.
"Well, senang bertemu denganmu Jongin." Kris mengulurkan tangannya ke hadapan Jongin untuk berkenalan. Melihat Jongin tak bergeming Kris yang setengah sadar mulai kesal. "Senang bertemu denganmu Jongin, aku Kris." Nada Kris meninggi.
"Maaf, apa kau mengajakku bersalaman…,"
"Kau tidak sopan dan menyebalkan!" pekik Kris kesal memotong kalimat Jongin yang belum lengkap. "Menyingkir dari hadapanku." Kris menghampiri Jongin dengan amarah kemudian mendorong Jongin sekuat tenaga dari kursi yang ia duduki.
BRAK! "Ah!" Jongin kaget karena tubuhnya tiba-tiba di dorong hingga jatuh membentur lantai dengan keras dan menyakitkan.
"Hyung!"
"Apa yang kau lakukan?!" dua pekikan terdengar, Sehun berlari menghampiri Jongin sedangkan Suho langsung mendorong tubuh Kris. "Apa yang kau lakukan pada adikku?!"
"Dia menyebalkan dan tidak sopan, hanya memberinya sedikit pelajaran."
"Kau tidak apa-apa Jongin?" Sehun membantu Jongin berdiri, mengacuhkan pertengkaran dua orang di belakangnya. Jongin mengangguk pelan. "Yakin? Tidak ada yang sakit?"
"Tidak, hanya terkejut."
"Kenapa kau mendorong adikku?!" Sehun menoleh ke belakang dan mendapati Suho dan Kris yang masih berdebat, di sana ada Lay juga.
"Dia tidak menerima uluran tanganku untuk berkenalan dia tak tahu sopan santun."
"Dia tidak bisa melihat!" Suho memekik kencang amarahnya meledak.
Sehun mengalihkan pandangannya dari pertengkaran itu kepada Jongin. Dilihatnya kedua mata Jongin bergerak gelisah dan berkaca-kaca, ia cukup tahu jika Jongin tak suka saat kakaknya menyebut kekurangannya.
"Jongin." Suho menghampiri Jongin dengan cemas, ia bahkan tak sadar jika tangannya mendorong Sehun menjauh. "Kau baik-baik saja kan? Ada yang sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Hyung bisa kembali ke pesta."
"Kau bicara apa?! Kita pulang sekarang, maaf aku sudah mengajakmu ke tempat ini, maaf membuatmu merasa tidak nyaman Jongin."
"Aku baik-baik saja Hyung aku tidak suka dengan nada bicaramu. Jangan meminta maaf padaku."
Sehun hanya berdiri mengamati interaksi keduanya, kemudian ia melihat Suho memeluk pinggang Jongin dan mengajaknya pergi. Kris berdiri bersandar pada konter dapur dengan wajah penuh penyesalan, meski Sehun juga tak yakin apa Kris menyesal sekarang, dia sedang setengah sadar. Lay berlari menyusul Suho dan Jongin sementara Sehun masih terpaku di tempat.
"Apa aku membuat kesalahan?"
"Mungkin." Sehun membalas pertanyaan bodoh Kris.
"Aku harus meminta maaf pada Suho dan adiknya besok."
"Aku rasa itu ide yang bagus."
"Jadi?" Sehun membalas tatapan Kris. "Kau akan tinggal atau pulang sekarang?" Sehun tak menjawab dan melangkah pergi meninggalkan Kris. "Aku anggap itu sebagai jawaban pulang," gumam Kris.
"Sehun kau mau kemana?!" Pekik Chen saat dirinya melewati tempat pesta.
"Pulang."
"Pesta belum usai."
"Kalian bisa tinggal, aku akan naik taksi, selamat malam Hyung." Sehun melambaikan tangannya pada semua orang kemudian melangkah panjang-panjang menuju pintu keluar restoran. Dirinya bahkan mengabaikan kehadarian Lay.
Mobil Lay tak ada di tempat parkir, sepertinya Suho meminjam mobil Lay untuk pulang dengan adiknya. Sehun merapatkan jaket yang ia kenakan, udara malam terasa dingin di ujung musim panas. Ia langkahkan kakinya dengan cepat menuju pinggir jalan, terlalu banyak yang terjadi malam ini, dan besok sesuatu yang rumit menunggunya, jadi yang Sehun inginkan hanya pulang dan tidur.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang hanya kebisuan yang tercipta, setelah memarkir mobil Lay di halaman rumahnya, Suho turun terlebih dahulu kemudian membantu Jongin. Suho memeluk pinggang dan menuntun sand adik berjalan.
"Kalian sudah kembali? Ada yang terjadi?!" Ibu mereka menyambut, membukakan pintu, menyambut keduanya dengan kecemasan jelas.
"Semuanya baik-baik saja Ibu, aku hanya mengantuk Suho hyung akan kembali ke pesta." Jongin mencoba memberi alasan terbaik yang bisa ia pikirkan.
"Tidak, aku juga akan tidur untuk besok yang lebih penting." Suho tak setuju dengan kalimat Jongin, memakai hari pernikahannya sebagai alasan, terdengar bagus. Ibu mereka percaya dan membiarkan keduanya masuk ke kamar tanpa pertanyaan lain.
Suho menutup pintu kamar Jongin, sementara Jongin berjalan menuju tempat tidurnya, ia sudah hapal dengan semua letak barang di kamarnya jadi meski tanpa bantuan tongkat dan Monggu ia sama sekali tak kesulitan. "Hyung." Jongin memprotes saat Suho membantunya melepas jas yang ia kenakan.
"Maafkan aku Jongin, aku tidak bermaksud untuk menyebutkan kekuranganmu di depan semua orang, aku tidak bermaksud membuat malammu menjadi buruk, sungguh, aku hanya ingin membawamu keluar dan melihat sesuatu yang baru, tapi—tak kusangka akan jadi kacau."
"Hyung." Jongin memanggil dengan nada lembut. "Sudahlah, tidak apa-apa jadi hentikan perasaan bersalahmu, justru aku yang harus meminta maaf karena Hyung seharusnya masih ada di pesta."
"Pesta itu tidak penting lagi." Ucap Suho tegas sambil menarik lepas jas dan kemeja putih Jongin. Suho berjalan menuju lemari pakaian Jongin mengambil baju ganti untuk adiknya.
"Hyung, sudahlah aku bisa melakukannya sendiri, Hyung tidur saja besok adalah hari penting untukmu." Suho tak peduli dengan ucapan adiknya, ia menarik kaos berwarna abu-abu dan celana kain berwarna hitam dengan garis putih di kedua sisinya untuk Jongin.
"Ganti pakaianmu." Jongin tak memiliki pilihan lain kecuali menurut.
Suho mengeraskan rahangnya melihat memar di siku kanan Jongin, memar itu pasti karena Jongin menahan tubuhnya saat Kris mendorongnya dari kursi tadi, ia akan membuat perhitungan pada Kris jika laki-laki jangkung itu tak meminta maaf pada Jongin. "Sikumu memar, aku ambil es batu untuk mengompresnya ya."
"Tidak Hyung, ini tidak sakit jadi biarkan saja. Hyung sebaiknya tidur sekarang. Jangan lupa bangunkan aku besok."
"Kau akan datang?!" Suho memekik seperti perempuan, persetan, ia hanya sangat senang dengan keputusan Jongin untuk datang di hari istimewanya.
"Ya aku akan datang."
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?"
"Karena besok hari bersejarah dalam hidup kakakku."
"Ada alasan lain?"
"Alasan lain? Maksud Hyung apa?"
"Entahlah, mungkin kau menyembunyikan sesuatu dariku."
Jongin menggeleng pelan. Mungkin ada sedikit hubungan dengan Sehun, Jongin mengerutkan kening berpikir ulang, Sehun belum tentu datang besok, jadi keputusan yang ia ambil murni untuk kakaknya yang akan memulai lembaran hidup baru.
"Ya sudah, aku senang sekali kau memutuskan akan pergi, tidurlah, besok pagi-pagi aku akan membangunkanmu."
"Terima kasih Hyung."
"Selamat malam Jongin." Suho berjinjit untuk mengusap pelan puncak kepala Jongin kemudian pergi.
Jongin merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menyelimuti tubuhnya kemudian mematikan lampu duduk di atas meja nakas, meski gelap dan terang tak membawa perbedaan. Tapi hal itu sudah menjadi kebiasannya sejak kecil, mematikan lampu sebelum tidur.
Ranjangnya bergerak pelan, dan sesuatu yang lembut menyentuh lengan dan wajahnya. "Halo Monggu, maaf kau tidak ikut tadi. Pestanya payah, beruntung kau tidak ikut." Ucap Jongin sambil mengusap bulu lembut anjing kesayangannya. Monggu membalasan usapan Jongin dengan menjilati wajah Jongin membuat sang pemilik tertawa geli. "Sudah, sudah, aku malas mencuci muka, kita tidur sekarang. Kau bisa masuk, apa Suho hyung tak menutup pintu?" Jongin mengerutkan kening. "Ah pintunya kan tidak pernah ditutup rapat." Gumam Jongin kemudian memejamkan kedua matanya, menyambut mimpi tak berwarna.
.
.
.
Sehun bangun pagi hari ini, atau pada kenyataannya ia hampir tak tidur. Berdiri di depan cermin mengamati penampilannya dalam balutan jas putih. Mencoba tersenyum, melatih senyum sempurnanya sebagai seorang pendamping pria.
"Sehun!" panggilan antusias Lay dengan kepala menyembul dari pintu kamar membuyarkan semua lamunan Sehun. "Kau siap?"
"Ya." Balas Sehun dengan senyum sempurna yang beberapa detik lalu telah ia latih, saat Lay membalas senyumanya ia yakin senyuman palsu miliknya benar-benar sempurna.
"Kita pergi sekarang, Ayah dan Ibu sudah siap di bawah."
"Baiklah, ayo." Sehun berjalan menghampiri Lay yang tampak bahagia, mengancingkan kancing terakhir jasnya, Sehun yakin ia akan mendapat penghargaan sebagai pembohong terbaik jika hal semacam itu ada di dunia ini.
"Kau sangat tampan hari ini." Lay memuji dengan tulus.
"Aku sudah tampan sejak lahir." Lay tertawa pelan mendengar jawaban konyol adiknya.
Keduanya bertatapan selama beberapa detik lebih lama. "Aku merindukanmu Sehun, aku rindu saat kau tertawa bodoh dan terlihat ceria bukan memasang wajah datarmu." Sehun hanya bisa menatap kedua bola mata cokelat Lay tanpa membalas. "Dimana Sehun yang ceria itu?"
"Aku juga tidak tahu," gumam Sehun pelan.
"Kalian cepatlah!" pekik kedua orangtua Lay dan Sehun tak menyadari sesuatu yang penting sedang terjadi.
"Baik!" Lay membalas dengan ceria ia bermaksud untuk pergi saat Sehun menahan lengan kanannya. Membuat Lay kembali berhadapan dengan sang adik.
"Semoga kau berbahagia dengan Suho, Lay hyung."
"Terima kasih Sehun."
Sehun menelan ludahnya kasar, sekarang atau tidak. "Kau sudah tahu dengan jelas kan apa yang kurasakan Hyung." Lay membisu. "Aku tidak memiliki kesempatan, aku tahu itu. Kau tak perlu memikirkannya. Aku mencintaimu Lay."
"Maafkan aku Sehun."
"Sudah aku katakan, kau tak perlu memedulikannya. Ayo, sebelum Ayah dan Ibu kembali berteriak." Sehun melepaskan pegangan tangannya dari lengan Lay, ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan sang kakak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jas putihnya.
TBC
