Lima tahun sudah peristiwa berdarah untuk kedua kalinya terjadi di Konoha. Dan menyebabkan banyak korban, baik dari kaum atas maupun kaum bawah. Gedung-gedung dan fasilitas yang hancur kini mulai nampak seperti semula. Kejadian itu meninggalkan luka dan semakin besar rasa kebencian dari dua kaum tersebut.
"Aku di sini untukmu, Sasuke-kun."
"Carilah kebenaran dan perdamaian."
"Aku mencintaimu."
Akatsuki
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Story by KiRei Apple
U. Sasuke X H. Sakura
Fantasy, Au, Typo, misstypo, eyd, ooc, etc.
.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
.
.
2
.
.
.
.
=Akatsuki=
Hiruk pikuk suasana di siang hari ini terlihat ramai di gedung pusat kemiliteran. Anggota-anggota militer terlihat sedang berjaga, berlatih dan hilir mudik menuju ruangan-ruangan atasan mereka dan sepertinya menerima perintah-perintah untuk pengawalan.
Dari arah timur gedung, sosok pria tinggi dengan pakaian seragam khusus, hitam dengan goresan-goresan merah terlihat di beberapa sudut pakaian. Lengan dua garis, kantung depan satu garis dan kerahnya satu garis. Topi hitam yang senada juga tidak luput dari kesempurnaan seragam impian para prajurit itu. Ia berjalan santai dengan sebuah dokumen di tangannya. Berjalan melewati lorong-lorong, dan terhenti di pintu besar di depannya.
Tangannya membuka dan mendorong pintu besar itu. Pintu itu terbuka. Namun hanya gelap yang menyapa indra penglihatannya karena ruangan ini berlorong cukup panjang dan butuh lima puluh langkah untuk sampai ketempat tujuannya.
"Yo."
Ia berseru menyalami semua yang ada di ruangan ini.
"Kakashi sensei ! Lama sekali."
Suara kekesal keluar dari pemuda yang sedang duduk di sofa dengan sebuah ramen cup di tangannya kepada atasan mereka. Letnan Kakashi yamg juga merupakan pembimbing mereka. Dia Uzumaki Naruto, salah satu prajurit khusus dari klan atas yang memiliki kekuatan khusus dari unsur angin dan juga korban dari kejadian lima tahun lalu. Dia adalah anak pemimpin namun ayah dan ibunya tewas saat para pemberontak menyusup ke gedung pemerintahan.
"Aku tersesat..."
"Apa itu di jalan kemaksiatan?" tanya perempuan pirang. Yamanaka Ino, salah satu anggota juga di sini. Ia pun memiliki kekuatan khusus. Walau dari kaum bawah ia memiliki kemampuan yang bisa di andalkan untuk berperang. Dan karena itulah Kakashi memilihnya.
"Tidak mungkin itu." bela letnan Kakashi dengan senyuman walau tidak dapat terlihat karena masker yamg menutupi wajahnya.
"Hn. Mendokusei." keluahan seseorang yang sejak tadi tertidur di sofa kini terbangun dan duduk.
Kakashi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Mana yang lainnya?"
"Kau sudah pikun, eh Kakashi sensei." decak Naruto di sela seruputannya memakan ramen cupnya. "Hinata, Kiba,Sai sedang bertugas di perbatasan." jelas Naruto mengenai rekan yang lainnya. Mereka sedang bertugas di perbatasan, tembok yang memisahkan antara kaum bawah dan atas.
Kakashi tertawa pelan. "Mana Sasuke? Apa dia berulah lag..."
Perkataan Kakashi terhenti saat lemari buku atau bisa di sebut pintu rahasia terbuka. Nampaklah Sasuke keluar dengan pistol kesayangannya.
Ruangan itu adalah ruangan khusus mereka menyimpan senjata-senjata.
"Hn."
Berdehem, Kakashi duduk dan menaruh dokument yang di bawanya di meja.
"Sepertinya ada pemberontakan lain yang menginginkan melawan kaum bawah dan kaum atas." Kakashi memulai penjelasnya. Ia membuka laporan yang di berikan Yamato tadi pagi saat menikmati kopinya di cafe bawah gedung ini.
"Apa mereka kelompok pemberontak yang menyerang akhir-akhir ini?" Ino bertanya mengenai pemberontakan yang terjadi sekitar dua minggu ini. Tapi, "mereka tidak menyerang kaum atas atau bawah melainkan..."
"Pemerintah." potong Shikamaru dan di jawab anggukan yang lainnya.
"Jadi?" Sasuke bertanya tanpa minat. Tapi seringai di wajahnya nampak jelas jika jiwa hewan buas yang haus akan darah mulai terpancing.
Kakashi memandang semua anak buahnya. "Hari ini adalah pertemuan pemerintah dengan negara Amegakure. Kita harus pastikan semua berjalan lancar."
Semua mengangguk dan berdiri.
"Akhirnya aku bisa berolah raga." ujar Naruto senang yang akhirnya mendapat tugas.
Semua berbaris dan menghadap Kakashi yang berdiri di depan mereka.
"Pasukan khusus pastikan semua dewan selamat!" perintahnya.
"Ya." jawab serempak dan memberikan hormat kemudian berbalik keruangan khusus menyimpan persenjataan mereka.
.
.
.
.
=Akatsuki=
.
.
.
.
Gedung pusat pemerintahan terlihat ramai oleh lalu lalang petugas keamana maupun anggota para parlement yang akan menyambut kedatangan tamu kenegaraan dari Negara Amegakure. Terlihat di depan pintu Naruto berjaga dengan pasukan lainnya. Sedangkan Shikamaru menjaga area dalam bersama Ino. Dan Sasuke, menjaga tepat di pintu ruangan yang di mana akan di adakannya pertemuan.
Para anggota dan pemimpin kedua negara sudah memasuki ruangan. Hanya sekitar dua puluh anggota yang ada di dalam, dan selebihnya adalah para pengawal yang berjaga-jaga di luar.
Sasuke mendengus dan menyenderkan tubuhnya. Ingatannya seketika teringat kenangan kelam masa lalunya. Kehilangan keluarga dan gadis yang di cintainya. Sektika rahangnya mengeras dan tangannya mengepal erat.
"Aku akan mencari kebenaran itu."
Bosan. Sasuke berjalan ke ujung lorong di mana jendela besar terdapat di sana. Dahinya berkerut saat melihat benda kecil melayang kencang di udara dan mengarah ke gedung ini.
Itu kan...
"DUAR."
... Roket kecil yang di lunculkan dari jarak jauh.
Suara keras ledakan membuat semua yang ada di dalam maupun luar seketika riuh dan panik.
Sasuke mendecih. Berbalik, ia mengeluarkan pistol miliknya dan berlari ke area luar mengecek keadaan.
"Shikamaru ungsikan para pejabat di atas." Sasuke menghubungi Shikamaru melalui wearless yang terpasang di telinganya. Semua memakainya untuk saling berkomunikasi.
"Mendokusei. Aku akan ke sana."
"Hn."
Sasuke berlari melompati tangga darurat sambil menembaki pasukan yang coba menyerang masuk pertahanan.
"Cih. Rupanya mereka banyak yang menyusup." decihnya melihat orang-orang yang menembakinya berpakaian sama dengan pasukan dari Negara Amegakure.
"DUAARRR!"
Lagi. Suara tembakan-tembakan itu membuat Sasuke terusik. Berlari ke luar gedung, matanya menyipit saat Naruto terlihat kepayahan menghadapi musuh yang berjumlah puluhan itu. Para prajurit dari pertahanan Konoha sudah banyak yang tumbang.
Seketika ia ingat pembicaraan tadi jika kelompok sekarang yang mengancam adalah yang mengincar pemerintahan.
"Naruto." Sasuke membantu dan tangannya di arahkan ke depan untuk mengeluarkan kekuatan yang ia miliki namun di tahan oleh Naruto.
"Jangan bodoh!" bentak Naruto. "Kita tidak bisa mengeluarkannya sembarangan kepada mereka."
Sasuke mengangguk dan berlari dengan tangan yang tiba-tiba mengeluarkan katana -kusanagi- miliknya yang berkilat mengeluarkan cahaya merah.
"Mereka bukan manusia," Sasuke memperingatkan dengan matanya yang kini berubah merah. "Mereka seperti... Mayat hidup."
Naruto membelalakan matanya. "M-mayat hidup?"
Oke. Sasuke itu mempunya penglihatan khusus yang bisa melihat hal sebenarnya dengan jeli sama halnya dengan Ino yang bisa membaca pemikiran orang. Tapi, mendengar hal itu mau tidak mau membuatnya brigidik ngeri. Mayat hidup? Zombie? Tapi mereka sama halnya seperti kita dan mempunyai daya perang yang di bekali senjata.
"Hn."
Sasuke maju berlari menerjang musuh dengan kusanagi yang mengeluarkan cahaya merah.
Naruto pun akhirnya mengeluarkan tongkat miliknya yang kini terselimuti cahaya putih. "Mari kita olah raga Sasuke!" teriaknya menyemangati dan maju menghalau musuh dan menebasnya.
.
.
.
.
.
Ino mendengus melihat lawan-lawan di depannya yang jatuh bertekuk lutut sambil memegangi kepala mereka.
"Bukan manusia hanya boneka yang di gerakan."
"Ino, apa di situ sudah beres?"
Shikamaru menghubunginya melalui wearless yang mereka pakai.
"Sudah."
"Bagus. Cepat ke luar temui Naruto dan Sasuke agar menyusul Sai dan yang lainnya ke garis depan!"
Ino mengangguk mengerti. "Oke."
.
.
.
.
.
Shikamaru sudah berada di dalam ruangan yang nampaknya tidak memperdulikan keadaan luar. Sebenarnya ia sudah memperingati mereka untuk berlindung ke tempat yang aman namun mereka menolak.
"Nara Shikamaru."
Seseorang memanggil Shikamaru.
Pria dengan tubuh tinggi dan sebelah matanya yang tertutup berdiri di depan jendela ruangan ini.
Shikamaru membungkuk. "Ya, Danzo-sama."
Danzo. Pemimpin Negara ini setelah menggantikan Namikaze Minato berdiri tenang di sana. Ia tampak tidak terganggu akan keributan yang mengancam Negara ini.
"Apa kau tau kekuatan penangkal dari semua kekuatan yang ada?"
Shikamaru mengeryitkan alisnya tanda jika ia tidak mengerti apa yang di bicarakan pemimpinnya. Tapi, sola kekuatan penangkal ia pernah dengar namun tidak ada klan yang memiliki kekuatan penangkal itu. "Sepertinya tidak."
Danzo diam sesaat sebelum kembali mengatakan sesuatu yang membuat Shikamaru membulatkan matanya.
"Aku merasakannya. Dia ada."
Semua yang ada di ruangan ini terdiam. Sosok pemimpin dari Amegakure melirik anggota khusus itu dengan senyuman mengejek.
"Aku tidak yakin pasukan khusus di ciptakan untuk mendukung pemerintah." ujarnya dengan nada meremehkan.
Belum Shikamaru menyahuti ucapan pemimpin itu, suara ledakan datang bertubi-tubi.
"Sial!" decahnya merasakan getaran gedung ini.
"Sebaiknya kalian berlindung jika tidak ingin jadi orang panggang." Shikamaru memperingati dan membuka pintu ruangan ini. "Ini perintah!" titahnya tegas.
Danzo diam dan melirik pemimpin Amegakure dengan lirikan tajam membuat Hanzo terkekeh. "Yare yare aku akan menurutimu... Kakak."
Mereka keluar bersama dari ruangan ini dengan lindungan para pengawal mereka.
Shikamaru menghela nafas pelan. Ia tidak menyangka jika pemimpin dari negara ini keras kepala dan, "mendokusei."
.
.
.
.
=Akatsuki=
.
.
.
.
.
Di perbatasan. Para anggota khusus yang sudah berjaga kini sudah kewalahan menghadapi musuh yang berjumlah banyak. Mereka bukan manusia melainkan manusia yang kembali di hidupkan dengan kekuatan.
"Hinata apa mereka berjumlah banyak?"
Kiba berteriak menanyai jumlah musuh yang tidak ada habisnya.
Hinata memandang keseluruhan, ia bisa melihat dengan zona tembus dan berjarak jauh.
"M-mereka mulai bermunculan dan sangat... banyak."
Sai tersenyum sambil mengelap keringat di wajahnya. Mengeluarkan gulungan kertas panjang, ia mulai merapalkan suatu mantera hingga pasukan yang di lukisnya muncul. Harimau dan burung-burung besar putih.
"Serang mereka!" perintahnya dan kemudian senjata pasukan yang di buatnya maju menyerang musuh.
"Akamaru mari kita bergabung."
Kiba dari klan Inuzuka yang merupakan keturunan Serigala mendekat ke Akamaru, anjing miliknya. Dengan asap tebal yang menyelimuti, mereka muncul dengan anjing besar berkepala dua. Maju, Kiba yang menyatu dengan Akamaru berlari menerjang musuh.
Hinata mengikuti Sai dan Kiba berlari maju memghadapi musuh. Namun saat akan memukul musuh, ternyata ia kalah kekuatan karena musuh itu mempunyai tenaga besar dan menendangnya hingga terpental jauh ke belakang.
Tubuhnya berguling di tanah namun tidak sampai membentur tembok salah satu bangunan karena seseorang menolongnya.
"Hinata-chan."
"N-naruto-kun." Naruto datang bersama Sasuke dan Ino.
"Kau baik-baik saja?" Ino menghampiri Hinata dan membantunya berdiri.
Hinata mengangguk. "Aku baik-baik saja." kemudian iris mutiaranya menatap pria yang berdiri membelakanginya dengan senyuman manisnya.
"S-Sasuke-kun."
"Naruto cepat maju. Musuh bertambah kuat dan banyak." Sasuke tidak memperdulikan panggilan dari gadis dari klan Hyuga itu. Pandangan sigap menelusuri setiap sudut yang penuh dengan musuh atau pun para prajurit biasa yang sepertinya kewalahan karena jumlah musuh terus bertambah.
"Ya aku ta..."
"DUAR."
Ledakan terjadi tidak jauh dari tempat mereka. Ledakan itu mengenai lokasi Sai.
"Sai-kun!" Ino berteriak saat melihat tempat di mana Sai berada meledak.
"Sial!"
Belum sempat Sasuke maju, seseorang dengan kecepatan kilat melintasinya. Pria aneh dengan wajah sedikit membiru seperti ikan maju menyerang musuh dan prajurit dengan membabi buta. Kini ia menyerang Kiba dengan pedang seperti sisik ikan besar itu. Gerakannya sangat cepat.
"Kiba."
Naruto maju dan membantu Kiba menyerang musuh aneh itu.
"Ya ya... Semua sudah habis."
Pria berambut pirang panjang dengan sebagian rambut menutupi sebelah matanya duduk di atas papan reklame.
Sasuke mengarahkan pistolnya ke arah orang aneh dengan pakaian jubah hitam dan corak awan merah.
"Huh... Seharusnya kau berterima kasih bocah." pria menunjuk para musuh yang sudah tergeletak. "Kisame sudah lepaskan mereka. Mereka bukan tandingan kita."
Pria berwajah aneh itu menghentikan pertarungannya dan melompat kearah rekan pirangnya. Ia mendongak saat sebuah peluru meluncur melintasi mereka dan...
"DUAR!"
Lagi. Ledakan terjadi di area pusat.
"DUAR!"
Naruto dan Kiba menghampiri Sai dan membantunya berdiri.
"Untuk apa kalian melindungi manusia laknat itu." ejek Pria pirang itu kemudian mendongakan wajahnya ke langit. Yang kini terlihat beberapa peluru penghancur melintas lagi.
"DUAR!"
"Hinata di mana arah tembakan itu?" Ino menanyai kepada Hinata di mana posisi sesorang yang melakukan penembakan itu.
Hinata memfokuskan matanya dan mulai mencari dan...
... dapat!
"Dia berada di menara pengintai."
Semua pasukan elite Anbu terbelalak tidak percaya. Ini tidak mungkin. Dengan jarak sejauh itu tidak mungkin bisa sampai ke gedung pusat apalagi senjata yang di gunakan itu tidak mungkin kan?
Pria pirang itu tertawa kencang melihat reaksi para anggota khusus itu. "Kami mempunyai senjata yang canggih karena ada pemuda jenius yang menciptakannya dan penembak cerdas yang kami miliki. Ya.. Walaupun sebenarnya ia tidak usah turun tangan pun akan ada bawahannya yang mampu mewakili."
Gila ini gila.
"Kalian siapa?" Ino bertanya apa dan siapa sebenarnya mereka. Mungkin kah mereka adalah orang-orang yang membuat kerusuhan dua minggu terakhir ini?
"Ayo pergi!" temannya yang bernama Kisame berbalik dan siap untuk pergi.
Pria pirang itu berdiri dan berbalik hingga jubah yang di kenakannya berkibar. Menolehkan wajahnya kesamping ia berkata dengan seringai tercetak di wajahnya. "Akatsuki." detik itu juga mereka menghilang dengan sekejap.
Naruto berlari ke salah satu prajurit yang tewas. Ia mengambil teropong milik prajurit itu dan menggunakannya untuk memastikan sesuatu.
"Apa kau melihat pelakunya Naruto?" Sasuke bertanya dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"Sugoii." Naruto berdecak kagum melihat apa yang di lihatnya. Kemudian ia melanjutkan perkataannya. "Pelakunya sangat cantik, teme." Naruto menatap takjub sosok perempuan cantik dengan menggunakan pakaian yang sama denga dua pria tadi. Ia menggunakan tudung untuk menutupi kepalanya dan seakan lupa jika perempuan iti adalah musuh yang berbahaya. Namun, saat perempuan itu menurunkan senjatanya, tubuh Naruto membeku.
Tidak!
Tidak mungkin.
Sasuke mengeryitkan alisnya heran melihat gelagat Naruto. Dengan secepat kilat ia menunju Naruto.
"Ada apa, dobe?"
"T-teme d-dia..." tubuh Naruto bergetar dan tidak sanggup berkata apapun membuat Sasuke semakin penasaran. Merebut teropong dari tangan Naruto, ia menggunakannya untuk melihat apa yang membuat seorang Uzumaki Naruto seperti melihat hantu. Cih! Jangan membuatku tertawa. Ejeknya.
Sasuke mengarahkan teropong ke menara yang di maksud tadi. Seketika hal serupa terjadi kepada dirinya kala netra kelamnya melihat orang itu.
Apa itu dia?
Perempuan yang kini berambut panjang dan mempunya mata dan rambut yang sama?
"S-sakura..."
Melempar teropong dari tangannya, Sasuke langsung berlari dengan kecepatan menggila. Meninggalkan rekannya yang menatapnya bingung.
.
Sasuke berlari melintasi tangga yang menghubungkan ke puncak menara. Hatinya seperti ingin meledak. Rasa membuncah dan senang terasa sangat kentara di dadanya.
"Sakura."
Menyebut namanya kembali seakan membawa harapan yang sudah ia kubur dalam.
"Jangan pergi!"
Kami-sama, tetapkan dia agar tidak pergi lagi.
"Sakura."
Langkah Sasuke terhenti saat langkahnya sampai di puncak menara.
Kosong.
Tidak ada siapa pun di sini.
Apa tadi halusinasi?
Tapi...
"SAKURA!"
Untuk pertama kalinya sejak lima tahun itu ia berteriak memanggil namanya. Nama orang yang sangat berarti di kehidupannya.
Bersama langit senja, Sasuke memandang matahari yang akan tenggelam di ufuknya. Jika benar itu Sakura, ia akan benar-benar membawanya kembali. Di mana tempat yang sejak dulu berada yaitu... di sisinya.
"Kemablilah... Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
Lagi demen beginian ceritanya hehe...
Sakura mati?
Bisa di tebak sendiri deh ya *_*
Mind to RnR?
=WRKT=
