Mark milik Jeno, Jeno milik Mark

Rating : T

Genre : Romance, sisanya tentukan sendiri

Pairing : MarkNo

Warning : OOC, typo, BL/boys love/shonen ai/slash, alur datar.

DLDR!

Drabble Collection : MarkNo

— A collection of drabbles about MarkNo. —

Makan Malam

"Hei." Mark mendudukkan diri di sebelah Jeno. "Maaf terlambat. Aku banyak pekerjaan."

"Hai, Hyung." Jeno tersenyum manis.

"Tidak apa-apa. Justru aku senang Hyung tidak membatalkan janji makan malam kita."

Mereka mulai makan sambil mengobrol. Sudah lama mereka tidak bertemu karena sibuk. Jeno dengan kuliahnya, dan Mark dengan pekerjaannya. Ada banyak sekali hal yang ingin Jeno ceritakan pada Mark, begitupun sebaliknya.

"Oh ya, Jeno. Apa kau masih aktif di klub teater?"

Jeno menggeleng. "Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menghadirinya. Aku sedang memfokuskan diri pada ujian akhir." balasnya. "Aku mengikuti banyak bimbingan belajar. Karena... yang menentukan lulus tidaknya aku bukanlah seberapa hebat aku berakting. Tapi seberapa pandai aku menguasai pelajaran."

Jeno tersenyum hambar.

"Benarkah? Kalau begitu, aku harap kau mendapatkan nilai yang memuaskan." Mark tersenyum lembut. "Kau pasti belajar dengan keras. Jangan sampai kelelahan dan sakit, ya." Sebelah tangannya digunakan untuk menepuk kepala Jeno. Yang ditepuk merona oleh perilaku dan kalimat manis yang diterimanya.

"Yah, aku menjaga kesehatanku dengan baik." Jeno menatap pemuda yang lebih tua lima tahun darinya itu lekat-lekat. Mark tidak banyak berubah, walau sudah kurang lebih tiga tahun mereka tidak bertemu. Mark masih sama seperti yang dikenalnya.

Tiba-tiba saja, sebuah ingatan memasuki kepala Jeno. Tentang mengapa ia meminta Mark bertemu dengannya malam ini.

"Hyung, aku minta maaf baru bisa menemuimu sekarang." tuturnya. "Aku sibuk belajar."

Mark menggeleng. "Tidak masalah Yang penting kita bertemu hari ini."

"Aku benar-benar minta maaf karena tidak hadir di pesta pertunanganmu." Jeno berusaha menatap mata pemuda di hadapannya. Menyunggingkan senyum tipis.

Jeno merasa beruntung, karena ia masih pandai bersandiwara.

ㅡㅡㅡ

Cinta dan Sayang

"Jeno-ah!" Mark berlar ke arah Jeno. "Aku... cinta padamu!"

Jeno tersenyum manis. "Aku juga... menyayangimu, Hyung. Mark Hyung adalah Hyung kesayanganganku!"

Mark tersenyum tipis. Bahunya terkulai. 'Sayang... ya?'

Hanya dianggap kakak oleh Jeno, Mark jadi patah hati.

ㅡㅡㅡ

Selingkuh (Fictogemino)

"Aku mencintaimu lebih dari apapun, Lee Jeno."

Mark tersenyum. Tidak bisa berkata-kata saat Jeno mengalungkan tangan di lehernya. Ia balas memeluk pemuda itu erat. Mengecup dahinya lembut.

"Aku masih mencintaimu." ujar Jeno.

"Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin hubungan kita berakhir." Jeno menarik nafas dalam-dalam. "Kau sangat berharga untukku. Setiap saat yang kulalui bersamamu adalah hal terindah di hidupku."

"Tapi..."

Jeno melepaskan tangan Mark darinya. Kemudian mundur beberapa langkah, memperlebar jarak di antara mereka. "Maaf, Mark. Tapi aku tidak bisa memercayaimu lagi. Kau sudah terlalu sering menyakitiku. Aku tidak bisa memberimu kesempatan... lagi."

"Jeno, percayalah padaku! Aku tidak mengkhianatimu!"

"Tidak usah berbohong lagi, Mark!" teriak Jeno. "Faktanya, kau berselingkuh! Aku melihatnya sendiri!" Jeno menggigit bibirnya. Ia menatap tangan Mark yang menggenggamnya. Menahannya untuk tetap bersama pemuda itu. Seandainya Mark tahu, bahwa walaupun Jeno meninggalkannya, hatinya masih tertinggal padanya.

"Jeno, gadis itu... dia hanya temanku! Bukan pacarku! Aku tidak mungkin berselingkuh!" bantah Mark. Ia harap kekasihnya akan memercayainya. Eh? Kekasih? Bukan, bukan. Karena Jeno akan mengganti status itu menjadi 'mantan kekasih'.

Jeno diam. Tidak ada sedikitpun ekspresi di wajahnya. Bibirnya kelu. Lidahnya seakan bertulang. Tenggorokannya ngilu dan tercekat.

"Kau benar-benar tidak bisa memaafkanku?" Mark menggenggam erat tangan Jeno.

"Kau sendiri yang merusak hubungan ini, Mark! Aku hanya... tidak sanggup lagi. Semoga hubunganmu dan kekasih barumu bahagia." Jeno memaksakan senyuman.

"Jeno..." Mark memandangnya putus asa. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tak ingin hubungan kita berakhir."

"Aku membencimu, Mark." nada suara Jeno terdengar dingin.

Tapi air matanya mengalir. Hatinya tidak bisa berbohong. Perih sekali, ketika mengetahui bahwa Mark mengkhianatinya. Sakit, ketika menyadari bahwa Mark memang tidak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Pedih, ketika ia harus memutuskan hubungan ini. Kenapa setelah semua luka yang diberikan Mark, ia masih tetap meninggalkan hatinya pada pemuda itu?

"Mungkin, aku memang tidak ditakdirkan untuk bersamamu. Selamat tinggal." Kalimat itu diucapkan oleh Jeno dengan begitu tenang, disertai senyum manis. Seperti tidak ada penyesalan di hatinya atas hubungan mereka yang harus berakhir.

Mark menunduk putus asa. Hatinya dipenuhi rasa sesal.

Seandainya ia tidak mengkhianati Jeno hanya demi gadis itu. Seandainya ia selalu menjaga kebahagiaan hubungan mereka. Seandainya waktu dapat diputar kembali. Maka, Mark tidak akan merasakan penyesalan ini. Seandainya waktu dapat diputar kembali, maka Mark akan memperlakukan Jeno dengan baik, hingga pemuda itu merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.

Seandainya.

ㅡㅡㅡ

Perih

Jeno mendribble bola. Ia berlari menuju ring, tapi jalannya dihadang Renjun. Jeno melihat ke sekeliling.

"Jeno!" Mark melambaikan tangan. Jeno segera mengoper bola. Sayangnya, karena ia melempar terlalu kuat, bola itu mendarat di kepala Mark.

"Astaga! Mark Hyung, maafkan aku!" Jeno mendekati Mark yang sedang mengusap dahinya. Dahi pemuda itu memerah dan sedikit benjol. Melihat ekspresi kesakitan Mark, Jeno jadi merasa bersalah.

Permainan dihentikan. Semuanya mendekati Mark. "Kau tidak apa-apa?" kebanyakan bertanya begitu.

Mark mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa, hanya perih sedikit."

Bel berbunyi, tanda jam istirahat telah usai. Salah satu teman Mark mengatakan kalau Mark sebaiknya ke UKS, dan ia akan menyampaikan izin kepada guru. Jeno yang merasa bersalah meminta Renjun untuk menyampaikan izin.

Mark menuju UKS bersama Jeno. Di sana, Mark segera berbaring. Kepalanya sangat pusing.

"Hyung, aku minta maaf." ujar Jeno. Mark tersenyum. "Tidak apa-apa. Kau kan tidak sengaja." katanya.

"Tidak sengaja bukan berarti aku tidak bersalah."

Mark tidak menjawab.

"Hyung, sakit sekali?" Jeno menyentuh dahi Mark. Kakak kelasnya itu meringis.

"Perih sedikit."

Dahi Jeno mengerut, merasa bersalah. "Apa yang bisa kulakukan untukmu? Aku merasa sangat bersalah."

Mark mengusap pelipisnya, mencoba menghilangkan pusing. Ia sedikit sulit mencerna ucapan Jeno.

"Mungkin, perihnya akan hilang jika kau menciumnya."

Setelah kalimat itu terucap, Mark tidak bisa menariknya lagi. Ia menatap Jeno yang tampak terkejut.

"Ah, Jeno, aku hanyaㅡ"

"Benarkah?"

"Huh?"

"Apa benar, jika aku menciumnya, perihnya akan hilang?" Jeno menunduk, malu. "Kalau iya, aku tidak keberatan untuk melakukannya."

Sekarang Mark bingung harus menjawab apa.

ㅡㅡㅡ

Menyanyi

Hari ini, Mark melihat Jeno tampak murung. Ia jadi khawatir. Apa yang terjadi?

"Jeno, kau kelihatan sedih. Ada apa?" tanya Mark sambil duduk di kursi di depan Jeno. Pemuda yang diajak bicara melirik sekilas, kemudian menghembuskan nafas panjang.

"Kemarin ada pengambilan nilai di klub menyanyi. Aku mendapat nilai jelek. Bahkan Jaehyun Hyung memarahiku. Katanya, aku tidak berbakat sama sekali dalam menyanyi. Aku jadi sedih."

Jeno menghela nafas, entah untuk yang keberapa kali di hari ini.

"Aku jadi berpikir, apa sebaiknya aku keluar saja?"

"Jangan! Sayang sekali jika kau keluar. Jika kau dimarahi, seharusnya itu membuatmu termotivasi untuk menjadi lebih baik. Kau harus menunjukkan pada Jaehyun Hyung kalau kau itu berbakat menyanyi!" kata Mark.

Sepulang sekolah, Mark segera ke ruangan klub menyanyi. Ia mencari sang pelatih, Jaehyun. Ketika menemukannya, ia segera menarik pria itu dan menatapnya tajam.

"Hei, Jung Jaehyun brengsek!" bentaknya, tidak peduli jika pria itu lebih tua darinya. Mengabaikan tata krama yang seharusnya ia terapkan.

"Apa maksudmu memarahi Jeno dan mengatainya tidak bisa menyanyi?! Kenapa kau memberikannya nilai jelek?! Dia jadi kecewa dan murung! Apa aku harus mematahkan tulang hidungmu agar kau bersikap baik padanya?!"

Keesokan harinya, Jeno mendatangi Mark dengan senyum manis di wajahnya.

"Jaehyun Hyung tiba-tiba menambahkan nilaiku! Dia juga meminta maaf atas sikapnya kemarin. Rasanya aku benar-benar lega saat ia mengatakan kalau ia berbohong soal aku tidak bisa menyanyi."

Mark tersenyum. "Aku senang melihatmu ceria lagi."

Karena selama Mark masih hidup, ia tidak akan pernah membiarkan seorang pun menghapus senyum manis Lee Jeno.

ㅡㅡㅡ

(Bukan) Salah Paham

Jisung berjalan berisisian dengan Chenle sambil bercanda. Saat mereka sudah sampai di kamar, Chenle meminta Jisung untuk mengambil makanan di dapur. Jisung menyanggupi.

Jisung sudah beberapa langkah dari dapur ketika ia mendengar seseorang menjerit.

"Akh!"

Jisung menempelkan tubuhnya ke dinding. Suara siapa itu? Anggota NCT Dream? Kedengaran seperti erangan karena sesuatu semacam... rasa sakit?

"H–hentikan... "

Kali ini, Jisung bisa mengenali dengan jelas rintihan itu. Benarkah itu suara Jeno?

"Ayolah. Jangan ditunda-tunda terus. Aku tidak sabar."

Suara bernada tenang ini pasti milik Mark. Tapi apa yang Jeno dan Mark lakukan di dapur, berdua? Yang pasti bukan memasak.

"Tapi... " Suara Jeno terdengar ragu dan takut. Jisung mengernyit. Setahunya, Jeno itu hampir tidak mengenal rasa takut. Apa yang sedang mereka lakukan, sampai Jeno seperti itu?

"Dinikmati saja. Aku mulai, ya."

'Mulai? Apanya yang mau dimulai?' Jisung merasakan dahinya berkeringat. Alisnya mengerut, mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

"Ugh, rasanya aku tidak sanggup berdiri." Ini suara Jeno. Pemuda itu tampaknya sedang... lelah? Astaga, Jisung jadi semakin penasaran! Ada apa sebenarnya? Apa yang dilakukan Mark dan Jeno, sampai Jeno kelelahan dan tak sanggup berdiri?

"Pegangan pada meja erat-erat." ujar Mark.

"Hnggg..."

Jisung tidak bisa menahan rasa penasarannya. Apa yang sebenarnya dilakukan kedua hyungnya itu? Maka, Jisung berjalan sambil menyapa mereka berdua.

"Hei!"

Walaupun Mark langaung menjauh dari Jeno beberapa langkah, Jisung masih bisa melihat apa yang dilakukan keduanya tadi. Jeno memegang sisi meja erat, berhadapan dengan Mark.

"Hyung sedang apa?" tanya Jisung. Mark tertawa gugup. "Sebenarnya, kami sedang bermain. Jeno kalah, jadi aku akan mengelitikinya sebagai hukuman."

Jisung mengangguk. "Ooohh." Ia kira apa. Ternyata hanya permainan.

Jisung pun melanjutkan niatnya tadi, mengambil makanan dari kulkas. Tapi sebelum meninggalkan dapur, ia bisa mendengar percakapan Jeno dan Mark.

"Ini semua gara-gara Hyung! Hampir saja kau mengotori Jisung! Dia masih polos! Untungnya, ia masih bisa dibohongi."

"Aku juga kan tidak menyangka kalau Jisung akan datang tiba-tiba!"

"Makanya, jangan melakukan ini di tempat terbuka! Bagaimana jika yang memergoki kita itu Haechan?!"

Jisung menghentikan langkah. Rasa penasarannya kembali.

'Apa maksudnya mengotoriku? Kenapa mereka merahasiakan kegiatan mereka? Apa yang dilakukan mereka, sampai tidak boleh ada yang tahu sama sekali?'

"Aku tidak mau melakukan ini lagi!" Jeno sepertinya merajuk.

"Maafkan aku. Ayolah, kita lakukan."

"Tidak!"

"Jeno, kumohon."

"Baiklah, baiklah!" Jeno menyerah. Ia melanjutkan dengan suara kecil yang hampir tidak bisa didengar Jisung.

"Tapi, aku ingin kita melakukannya di tempat yang lebih rahasia. Kamar Mark Hyung, contohnya."

"Bagaimana dengan hotel?"

Jisung berjalan menjauh. Oh, seharusnya ia tidak pernah mengintip atau pun menguping kegiatan Mark dan Jeno!

ㅡㅡㅡ

Note :

Lagi UKK malah ngetik beginian :)

Oh, (lagi-lagi) nggak ada keterangan TBC atau end. Aku bakal lanjutin ini kalau pengen aja.

Ada yang berkenan baca Selingkuh dari bawah ke atas? Maaf ya kalau nggak nyambung ㅠ_ㅠ

Mind to review?

ㅡ220517