Summery : mereka berdua, dijuluki Tangan Tuhan. Pengorbanan yang mereka lakukan tak mengenal waktu. Bahkan hingga kebahagiaan mereka ikut dikorbankan untuk orang lain./ "Terimakasih dok, Akhirnya anak saya sembuh.." Hanya kedua batu nisan itu yang ditatap oleh manik hitam Sasuke.

Pairing : [ NaruSaku ]

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Catatan manja dari Author : fanfic Cuma buat senang-senang aja, dan bila ada typo tolong dikoreksi ya wkwk..

Hands from Heaven

Wush..

Dokter Naruto, terus tersenyum sepanjang jalan tol menuju pantai perbatasan. Ditemani alunan musik kenangan masa-masa kuliah membuat dirinya dan sang istri sesekali cekikikan serta saling berbagi kisah nyata yang mereka alami saat kuliah dulu.

Setelah sama-sama mengingkari janji. Akhirnya pasangan suami istri ini memilih untuk menghabiskan waktu hanya berdua di pantai indah dekat konoha.

Sesampainya disana, sunset menyambut dengan suka cita. Bayangan siluet orange menerangi seluruh penjuru pantai. Angin yang berhembus sama-sama menerbangkan halus helaian pirang dan merah muda pasangan dokter itu.

"Huh.. kita harus lebih sering mendapat cuci mata pemandangan alam seperti ini.." Sakura begitu senang, tak jarang ia menghirup rakus udara pantai yang sedikit berbau amis namun segar di saat yang bersamaan.

"Oh ya? tapi kita jarang sekali mendapat waktu libur hanya berdua begini.." Suara berat lelaki berkulit Tan itu. Seketika membuat Sakura terkikik pelan.

Memang itu adanya, terkadang sebagai suami Naruto tak bisa menuntut banyak dari Sakura. Karena biasanya mereka berdua hanya akan bertegur sapa saat bulan telah menerangi bumi.

Karena pada saat pagi hari pasti salah satu diantara mereka telah pergi dari rumah untuk panggilan kemanusiaan.

Dan waktu-waktu lainnya sebagian besar dihabiskan untuk berinteraksi dengan pasien dirumah sakit.

Mengenaskan memang, tapi mau bagaimana lagi. Inilah kehidupan mereka dimana setiap nafas keduanya didedikasikan untuk orang banyak tanapa pamrih.

"Tidak apa-apa, ngomong-ngomong.. aku mulai haus ayo kita beli minum dan duduk disebelah sana.." Tarikan halus tangan Sakura, menuntun kaki Naruto untuk melangkah mengikutinya.

Senyum Naruto mengembang, kala melihat keaktifan belahan jiwanya yang beda dari biasanya.

Puk.. Puk..

Naruto menepuk pahanya, ia tak akan membiarkan Sakura duduk di diatas pasir pantai yang sedikit kotor karena beberapa pecahan ganggang laut dan karang-karang kecil.

"Ayo duduk disini.."

"Tidak usah, Aku duduk disampingmu saja.." Tolakan Sakura, tak membuat Naruto menyerah. Dipaksanya dengan sekali tarikan, wanita pinkis itu kini telah jatuh ke pangkuannya.

"Kyaa.."

Grep..

"Aku tak akan membiarkanmu jauh-jauh dariku.. Sekalian saja kita habiskan dan nikmati waktu ini dengan kemesraan yang tertunda.." Bisiknya erotis.

Sakura merona, kini ia merasa malu dan tak pantas. Pasalnya mereka berdua dalam posisi terlalu intim dan hampir sebagian penikmat pantai mengedarkan pandangan mereka saat Sakura berteriak.

Tak peduli kalangan orang tua, remaja dan anak-anak, mereka semua menoleh dengan serempak.

"Naruto ini terlalu dekat, apa kau tidak malu? kita sudah berumur dan sepantasnya sudah menjadi teladan bagi masyarakat.."

"Aku tidak peduli, selagi kita tidak dilingkungan rumah sakit hal ini sah-sah saja untuku.."

Sakura bisa apa saat Naruto sudah bebal begini. Intinya pasrah dan nikmati yang sudah terjadi, niscaya semua akan indah pada akhirnya.

"Dasar, yasudah.. kau mau minum?"

Naruto menggeleng lemah, tangannya begitu erat melingkar di pinggang ramping Sakura dan ia membenamkan wajahnya di bahu kecil Sakura.

"Aku tidak mau minum, aku hanya mau kamu Tsuma.."

Blush..

Merah sudah wajah tirus Sakura, tak terbayangkan bagaimana bisa Naruto begitu err.. romantis ala-ala hajksh* # begini.

"Ustt! Naru, malu diliatin.." Nasihat Sakura.

"Bhaha.. iya-iya aku tau.. biarkan saja mereka melihat kita, yang penting kita kan sudah menikah.." Naruto meraup pipi tirus Sakura dari samping dan sekejap jatuhlah kecupan ringan dibibir Sakura.

Sakura tak berkutik, ia sedikit menegang. Wow serasa seperti first kiss kembali. Karena sangat pas dengan background berupa hembusan angin lembut yang menggelitik kulit.

"Cukup segitu saja, lanjutkan dirumah ya istriku sayang.." Bisik Naruto erotis. Sakura kehabisan kata-kata hanya senyumnya terpancar bagi sang suami.

Kini berat badan yang tak seberapa itu ditumpukan pada dada bidang Naruto. Dan dengan senang hati si-pirang menyambut Sakura yang larut dalam dekapan hangatnya.

Mereka sama-sama terkunci pada deburan ombak, dan mentari yang mulai habis terbenam, menyisakan hanya sedikit lagi sudut dari lingkaran sempurnanya.

"Kau tau Sakura, hari ini aku membersihkan halaman sendiri.. sepertinya akan lebih baik jika kita menyewa seorang pembantu untuk rumah itu.." Naruto memecah keheningan. Jarinya senantiasa bermain dengan rambut panjang istrinya.

"Oh iya? benarkah? kalau tidak salah terakhir kali aku ke halaman dan menyiram tanaman disana itu kira-kira sebulan yang lalu deh atau lebih?.."

Keriput-keriput bermunculan didahi mulus Sakura. Harus diakui juga, Sakura dan Naruto cukup keteteran untuk mengurus rumah mereka.

Jadi jika mereka menyewa pembantu mungkin akan meringankan sedikit beban pikiran Sakura tentang mengurus rumah.

"Kau setuju tidak?" Yakin Naruto, ia baru bisa bergerak mencari pembantu jika diskusi ini di sepakati oleh Sakura.

"Hm.. aku setuju saja, tapi cari pembantu yang sudah berpengalaman. Dan yang penting tidak perlu terlalu cantik!"

"Loh memangnya kenapa jika pembantu kita cantik?" Naruto mulai usil, pertanyaan menggoda ia lontarkan.

"Dasar tidak peka, iya jelaslah agar kau tidak tergoda dengan pembantu itu nanti!"

"Jadi kau cemburu? baiklah aku akan cari pembantu yang cantik.." Tambah Naruto, tanpa memperdulikan Sakura yang mulai memanas.

"Tidak boleh!" Bentak Sakura.

"Ba- baiklah, baiklah aku hanya bercanda Tsuma.."

Karena hari sudah gelap dan udara bertambah dingin. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Sesampainya dirumah, hanya sepi yang menyambut mereka. Tanpa basa-basi lagi Sakura langsung menyiapkan makan malam dan Naruto yang membersihkan diri dikamar.


Memasak sambil melamun sudah menjadi kebiasaan Sakura. Bukan apa-apa sih hanya saja kesepian rumah ini selalu menggangunya.

Bandingkan dengan rumah-rumah tetangga lainnya yang ramai dengan suara-suara ribut anak kecil. Sakura jadi iri karenanya.

"Jika kau terus memasak dengan tatapan kosong, kau bisa melukai tanganmu nanti Tsuma!" Suara berat dari suaminya membawa jiwa Sakura kembali ke badan.

Emeraldnya kini menoleh pada lelaki jangkung yang telah berdiri tepat disampingnya, dengan tatapan marah.

"..." Sakura diam ia memilih untuk fokus memotong kecil-kecil kentang diatas talenan berbentuk kotak itu.

Tangan besar Naruto terulur untuk mengelus surai merah muda milik Sakura "Bagus begitu lebih baik.." Lanjutnya, kemudian ia mematikan kompor yang mendidihkan air di teko kecil.

"Kau mau aku buatkan teh hijau?" Pelan Sakura.

"Iya, tapi akan aku buat sendiri saja.. lanjutlah memasak aku sudah lapar.." Tuntut Naruto, jelas saja perutnya lapar karena saat ini adalah jatah makan malamnya.

Sreng...

Asap mengepul dari wajan yang dipakai menumis oleh Sakura, Naruto berdecak kagum dengan demo masak yang ditontonnya.

Istrinya bahkan bisa mengendalikan api yang masuk ke wajan saat ia menumis dengan lihai.

Bau harum masakannya membuat perut Naruto semakin menggila, sungguh ia benar-benar sangat lapar.

Tak butuh waktu lama lagi, kini semua makanan telah tersaji diatas meja.

Mata Naruto berbinar-binar dan air liurnya semakin banyak memenuhi rongga mulut, pertanda ia sudah sangat tak sabar ingin mengunyah sayuran hijau itu.

"Selamat makan.." Ucap keduanya bersamaan.


Beberapa menit kemudian..

"Naruto berhenti minum Sake!" Sakura tak kuasa menahan tangan besar Naruto saat menuang minuman beralkohol khas daerah Konoha itu.

"Sedikit lagi Sakura, Udara hari ini dingin.. aku tidak kuat" Terus saja itu yang dikatakan oleh Naruto. Bahkan tangan kirinya sekarang terulur untuk menuang Sake ke sloki kecil ditangan kananya.

"Anata berhenti! besok kita ada piket.."

"Tapi aku piket siang Tsuma.."

Jika sudah begini Sakura bungkam. Memang sih dokter anak memiliki jadwal praktek siang di hari senin dan pada hari-hari berikutnya jadwal mereka beralih pada pagi hari hingga sore.

Lain dengan Sakura, jam terbang dokter bedah lebih padat. Karena tak terhitung operasi dadakan yang akan mereka lalukan bila ada pasien yang terluka parah atau pasien korban kecelakaan yang harus ditangani segera.

Sakura memijit pangkal hidungnya, sudahlah biarkan saja suaminya tepar sesaat. Toh yang penting besok Naruto harus bisa profesional menghadapi pasien di rumah sakit.

"Baiklah, lanjutkan saja.. aku mau tidur dulu.." Sakura beranjak dari ruang tamu, ia membiarkan Naruto sebuk dengan sake-nya dan tontonan liga football kesukaannya.

"Sstt..ahhhk" Guman Naruto parau, sesaat ia menengguk minumannya.

"Ohh, tidur saja duluan.. persiapkan dirimu untuk serangan dariku Sakura" Bisik Naruto disela-sela hembusan nafasnya.

Balik kiri, balik kanan, tengkurap dan yang terakhir menutupi seluruh kepalanya dengan selimut, barulah Uzumaki Sakura dapat tidur dengan nyenyak.

Jam telah menunjukan pukul 10 malam, Naruto sedikit sempoyongan dan dengan sigap ia memegangi kepalanya. Berjalan dengan gontai menuju kamar, Naruto berusaha agar tak terjatuh.

Kini suhu badannya telah menghangat, semburat sedikit merah menghiasi pipi Naruto. Efek dari Sake yang diminumnya tadi telah bekerja.

"Ahh.. istt.. pusing.." Rancunya dalam, pintu coklat itu dibukanya. Hanya gelap yang ditangkap shappire itu. Naruto melangkah semakin dekat dengan ranjang.

Bibirnya mengerucut tak kala melihat gumpalan, tak berwujud diatas ranjangnya. "Sakurah~.."

Dengan melepas sendal rumahannya. Naruto merangkak naik ke ranjang. Dengan pelan selimut pembungkus itu ia tanggalkan, serempak saja dipeluk sesuatu yang bersembunyi di baliknya.

Sekejap mata yang terpejam itu dibuka lebar, karena sensasi empuk dan tiba-tiba kempes bersamaan yang ia rasakan.

Karena kesal langsung saja dihidupkan lampu tidur di dekat nakas. "Shit! Bantal!" Murka Naruto.

Semua benda yang ada diatas ranjang dilempar brutal oleh Naruto. Tak peduli apakah itu bantal dan selimut, pokoknya kini ranjangnya hanya terlapisi sprai putih tipis.

Ceklek...

Sakura terbelalak saat kaki jenjangnya menyentuh keramik kamarnya. Tak terpikirkan hanya dalam hitungan menit saja kini penampakan kamarnya begitu berantakan.

Ia hanya tertuju pada satu mahluk pirang yang berdiri didekat ranjang.

"Anata! apa yang kau lakukan?" Sakura mendekat, wanita itu memunguti benda yang dilempar oleh Naruto tadi.

"Hiks.. Hiks.." Naruto mulai cegukan, entah kenapa melihat Sakura keluar dari kamar mandi membuatnya marah.

"Mau kemana kau!" Pergelangan tangan Sakura tercekal kuat, kontan saja emereldnya memicing tajam pada shappire itu.

"Kau ini kenapa? lepaskan Naru, sakit!" Perjuangan Sakura untuk meloloskan diri dari cekalan suaminya sia-sia saja. Bahkan justru sekarang kedua tangannya dikunci kuat hanya dengan satu tangan Naruto.

"Hiks.. ti - hiks - dak.. Hiks.."

"Nghpmm~…" Naruto mencium Sakura dengan brutal dan Sakurapun makin terdorong ke belakang, kekuatan Naruto bila mabuk mencapai 2 kali lipat dari biasanya.

Bruk..

Keduanya jatuh diatas ranjang yang empuk. Sayang sekali tidak bagi Sakura, karena berat badan Naruto bertumpu sepenuhnya diatasnya jadi Sakura benar-benar merasa terhimpit dan sesak dibawah.

"Nahmmm.." Sakura bergeliat tak nyaman, cumbuan Naruto makin dalam.

"Sakura Hiks.. diam! jangan banyak melawan Tsuma!" Saat bersuara dengan nada serak. Nafas Naruto memburu.

Sakura membisu, Tapi tak apa Sakura maklumi suaminya juga manusia biasa, dan sudah selayaknya ia sebagai seorang istri untuk melayani suaminya secara lahiriah.

"Baiklah kemarilah Anata.." Sekarang Sakura tak menolak.

Selanjutnya haya Tuhan yang tau apa yang mereka lakukan. Dan rembulan malam yang menjadi saksi penyatuan cinta mereka.


Sinar Mentari menusuk kejam, shappire yang masih terpejam itu. Kemudian karena merasa terganggu akhirnya ia membuka paksa kelopak matanya. Naruto mengerang dan menggeliat.

"Duh pusing!"

Lelaki pirang itu terduduk di ranjang, diedarkan kepalanya ke seluruh penjuru kamar. Penampakan ruangan yang lumayan luas itu kini sudah rapi. Bahkan gorden jendelanya saja sudah terbuka lebar. Itu pasti ulah istrinya.

Benar saja, bahkan Naruto sudah disiapkan baju kemeja kerja oleh Sakura. "Jam berapa dia bangun?" Diacak-acaknya surai pirang miliknya, Naruto lantas bergegas mandi karena waktu telah menunjukan pukul 9 pagi.

Sarapan sudah siap, saat Naruto mendudukan bokongnya di meja makan. Sarapan sendiri, Naruto merasa seperti seorang bujangan tua yang sengsara.

"Huh.." Selesai dari makan, ia lantas bersiap-siap karena jam kerjanya dirumah sakit hampir dimulai.

darp.. darp.. darp..

Seorang suster datang membawa sebuah kantung infus ditangannya. Naruto tersenyum padanya, kini lelaki berbadan tegap itu telah bekerja dirumah sakit. Hari ini sebenarnya ia hanya menpadat tugas untuk mengecek kondisi anak-anak yang menderita kanker darah atau leokimia.

"Mana tangannya, kita ganti infus dulu ya.." Naruto begitu lembut memberikan instruksi pada bocah berambut coklat yang tidur tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Si anak yang ditemani oleh kedua orangtuanya hanya menggangguk lemah. "Dokter, pelan-pelan ya.." Cicit sibocah kemudian. Dari penampakannya anak itu wajahnya pucat pasi, bibir putih pecah-pecah dan sangat kurus.

Naruto jadi kasihan, ia mulai menghibur anak yang murung itu. "Nee.. kenapa kau kelihatan khawatir.. coba lihat kemari, doraemon ingin bicara padamu"

Netra sianak langsung menatap bingung, sedetik kemudian sebuah boneka tangan berbentuk doraemon menyembul dari balik pembatas ranjang rumah sakit.

"Huaa.." Semangat si-anak, sambil bertepuk tangan.

Naruto memberi kode pada Coas bimbingannya untuk mengambil alih tugas mengganti infus pada pasien.

"Hai.. kamu si-tampan aku doraemon, jika kamu sudah sembuh aku akan memberikan sebuah hadiah dari kantung ajaibku.."

Dipaksanya suara cempreng Naruto keluar demi mendubling suara agar mirip tokoh Doraemon. "Sugoii~.. benarkah itu?"

"Kau masih tidak percaya, sekarang tutup matamu.."

Setelah matanya ditutup, infuspun telah selesai diganti. Dan Naruto segera merogoh kantung saku jaket dokternya. Sebuah main baru diserahkan pada bocah lugu itu.

"Nee, nee.. buka matamu sekarang.."

"Yeii.. makasi dokter.." Senyumnya mengembang, Naruto berhasil menjaga apa yang menjadi kewajibannya. Dibalasnya dengan cengiran cerah khasnya. "Sama-sama.."

Setelah selesai menulis reka medis terbaru untuk pasiennya, Naruto pamit undur diri. Namun sebelum itu kedua orang tua yang memperhatikan Naruto mengurus pasien anak-anak berucap terimakasi karena telah menghibur dan memberikan sebuah suntikan semangat bagi Putra mereka.

Beberapa Coas mengangguk paham dengan cara Naruto memperlakukan semua pasiennya dengan sangat ramah.

"Jadi, jika kalian menghadapi anak-anak usahakan agar selalu tersenyum pada mereka.. paham?"

"Paham Dok.." Ucap mereka serempak.

"Bagus-bagus... yap waktu istirahat singkat, sebaiknya kalian isi perut dulu.." Perintah Naruto. Kebetulan ia juga merasa lumayan lelah.

"Baik, Dok.. tapi apa anda tidak ikut dengan kami ke kantin?" Tawar salah satu diantara mereka.

"Tidak aku akan duduk diruanganku saja, jika kalian sudah selesai aku ingin kalian menyetorkan laporan apa-apa saja yang sudah kalian pelajari hari ini.."

Tiga orang dokter muda itu menatap nalar Naruto. Percuma saja mereka istirahat jika harus menulis laporan untuk segera disetorkan pada dokter pirang itu.

"Kenapa kalian diam? waktu kalian akan cepat habis jika hanya berdiam diri disini.."

"Oh iya-iya Dok, kalau begitu kami permisi.."

Sakura merentangkan tangannya yang pegal, emeraldnya terfokus pada ponsel yang masih menyala. Diambilnya benda kotak canggih itu, dan mengetikkan beberapa kode untuk membuka kunci layar.

"Cepat sekali, sekarang tiba-tiba sudah sore.." Gumam Sakura.

Ponselnya bergetar, tertera disana nama sang suami yang menelponnya. sekali sentuh panggilan itu telah tersambungkan.

"Tsuma kau sudah pulang?"

"Belum, masih ada satu pasien yang ingin kontrol satu jam lagi.."

"Baiklah-baiklah, ingat makan ok!.."

"Tunggu! apa kau masih dipoli anak?"

"Hm masih.. mau ke sini?"

"iya, aku bosan sendiri.."

"Ok, akan aku tunggu dipoli anak.."

Tut

Sakura tersenyum sumringah, hari ini lumayan tidak terlalu padat, Sakura hanya perlu mengecek ulang berkas reka medis dan menerima beberapa pasien yang ingin kontrol kesehatan pasca oprasi.

Poli anak ada dilantai dua gedung barat, Sakura hanya perlu menyebrang sedikit melalui loby dan naik dengan menggunakan lift untuk sampai disana.

Beberapa suster yang berlalu lalang bertegur sapa dengan Sakura. Sangat ringan kaki yang berbalut sendal selop khusus dokter itu, membawa tubuh ramping Sakura semakin dekat dengan ruang kerja poli anak tempat kubikel suaminya berada.

Tok.. Tok..

Ceklek ..

Pintu putih itu terbuka, nampak sudah saat kepala pinkis itu menyembul sedikit dari pintu. Naruto terlihat memijit pelan pangkal hidungnya. Tiga anak-anak muda berpakaian putih-putih berbaris sejajar sembari menunduk didepan meja suaminya.

"Maaf, apa aku menggangu?" Suaranya pelan, serentak tiga Coas muda memberi permakluman dan sapaan ringan.

"Selamat sore Dokter Sakura.."

"Tidak Sakura, duduklah disana!.." Printah Naruto dengan suara beratnya. Tangan kanannya menggebrak meja untuk meminta atensi pada anak didiknya.

Sakura ikut kaget, saat suara keras menyapa telinganya.

"Laporan ini membuat aku kecewa, kalian sudah hampir empat bulan berada dibawah pengawasanku.. tapi tak satupun diantara kalian yang paham tentang jenis dan raksi obat bagi tubuh anak.. padahal baru tadi siang aku menjelaskannya, kalian sudah lupa!?" Gertaknya

Ruangan ber AC itu mulai panas. Sakura jadi ikut merasa takut dengan wajah sangar suaminya. Ini kali pertama Sakura melihat Naruto membentak Coas yang ia bimbing.

"Jika terus begini kalian tidak bisa aku luluskan, sebagai bahan pertimbangan aku beri waktu sampai jam 10 malam. Untuk membuat ulang laporan ini, dan jika kalian kehabisan kertas ambil saja diruang administrasi poli anak.." Lanjutnya.

Keringat sebesar biji jagung menetes deras dari pelipis tiga dokter muda itu. Tak banyak bertanya mereka langsung undur diri dari ruangan pembimbingnya.

Ceklek.. pintu tertutup.

"Anata, kau kejam sekali.. lihat mereka sampai ketakutan.."

Sakura geleng-geleng kepala dengan sikap tegas Naruto. Sedangkan si pelaku malah menyeringai miring.

"Kau tau kan aku masih berduka dengan kejadian kemarin, maka dari itu aku ingin mereka bertiga belajar dengan sungguh-sungguh.."

Sakura menggeser kursinya agar lebih mendekat pada meja kaca tempat Naruto menopang dagunya.

"Iya kau benar, sekarang lulusan Dokter dari universitas Konoha tidak terlalu memiliki skil bagus saat dilapangan.."

"Dunia medis tak hanya memerlukan dokter yang pintar dalam menguasai materi tapi juga harus sigap dalam menangani pasien secara langsung.." Lanjut Naruto.

"Ahah~.. dengan begitu beban kita akan berkurang.." Canda Sakura, Naruto terkikik kecil. Untunglah hari ini mereka bisa bertemu, walaupun hanya mengobrol ringan. Naruto mengerti, begini saja sudah cukup.

Braakk..

Sakura dan Naruto terkaget saat seorang suster jaga UGD menggebrak paksa pintu ruangannya. Dengan nafas ngos-ngosan ia menatap dua pasangan dokter itu.

"Sebelumnya maaf Dokter Naruto! Tapi seorang ayah mengamuk di UGD karena anaknya muntah hebat saat diberi obat anti mual oleh salah-satu Coas bimbingan anda.." Laporan itu sontak membuat wajah tampan Naruto mengeras. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan berhamburan keluar ruangan disusul oleh Sakura.

"lagi-lagi, terulang.." Batin Naruto kesal.

Bersambung..

yup senang rasanya up lagi, makasi ya buat temen-temen yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir distory HFH ini wkwkwk.. sampai ketemu lagi dichap berikutnya :3