Disclamers: Masashi Kishimoto
Rate: M
Pairing: SasufemNaru
Genre: Romance, Fantasy, Mitologi
Here we go,,
Petualangan gila dan super nekat akan di lakukan oleh si bungsu Uchiha. Belayar demi membuktikan mitos adalah perbuatan paling kekanak kanakan menurut nya. Namun taruhan Negara yang di janjika Shikamaru sangat menggiurkan. Sasuke begitu optimis jika ia akan taruhan.
"Apa kau yakin akan melakukan perbuatan bodoh ini Sasuke?" Shikamaru menggaruk kepalanya malas.
"Apa kau mengaku kalah Shikamaru?" Sasuke mendelik.
"Jangan bodoh. Kau tahu jika aku itu bukan orang seperti itu. Dan lagi itu bukanlah mitos. Tapi benar adanya."
"Dan aku tidak percaya."
"Ah kau ini benar benar keras kepala Uchiha Sasuke." Shikamaru berjalan memasuki kabin kapal. Ia tahu jika perbuatan Sasuke kali ini benar benar tindakan bunuh diri. Tapi Shikamaru tidak akan menyetujui keputusan gila Sasuke seenaknya tanpa pertimbangan. Ia menerima keputusan itu karena ia tahu keturunan Sasuke memiliki kemampuan mata yang luar biasa membuatnya kebal terhadap sihir maupun delusi yang di ciptakan Siren kelak. Shikamaru menyakini itu karena wilayah kekuasaan Sasuke terbilang sangat dekat dengan pulau karang itu, bagaimana bisa leluhurnya bertahan?.
Lalu bagaimana nasib nya? Mudah saja. Ia memiliki jimat anti mantra pemberian ibunya. Keluarga Nara sudah lama menjadi sahabat keluarga Uchiha dan sudah sering pula pulang balik ke negara milik sang Uchiha. Jadi jangan heran.
Sekitar dua jam mereka berlayar. Ombak bergerak mulai tidak beraturan. Kapal besar yang mereka bawa bergerak secara tidak wajar seolah menarik ke suatu tempat. Shikamaru yang berada di dalam kabin langsung keluar memantau. Perasaan nya mendadak berubah menjadi tidak enak.
"Bagaimana kondisinya Sas." Tanya Shikamaru. Keringat meluncur dari pelipisnya nya karena cemas. Sasuke tak bergeming. Ia terus melihat ke arah lensa teropong kecil yang ia bawa. "Tidak kah kau merasa kapal obak ini mulai terasa aneh?" Timpal Shikamaru lagi. Sasuke masih tak bergeming. Langit yang cerah mendadak gelap.
"Sial." Umpat Sasuke. "Kenapa ada badai di saat seperti ini." Gerutunya. Tidak di pungkiri jika ini memang mulai terlihat aneh. Karena ramalan cuaca tidak menunjukan jika ada badai yang akan terjadi di lautan kelak. Makanya ia berani memutuskan untuk berlayar.
"Sas. Belum terlambat untuk memutar haluan." Ujar Shikamaru yang berdiri di sampingnya.
"Omong kosong." Tukas Sasuke. "Tidak kau merasakan debaran ini?" Desis Sasuke terdengar aneh.
"Apa maksud mu? Apa jangan jangan kau ingin membawa ku mati bersama mu?" Shikamaru menatap aneh Sahabatnya itu. "Jangan gila. Tunangan ku menunggu untuk di nikahi."
"Geez dasar bodoh. Aku merasakan ada takdir yang menunggu kita di sana." Sasuke menunjuk sebuah karang yang mulai tidak jauh dari kapal mereka.
Mulut Shikamaru menganga lebar. Teman nya ini mulai gila karena taruhan. "Kau sudah gila?"
"Yang mulia kapal tidak bisa di kendalikan." Teriak pengemudi kapal yang mulai panik. "Kapal terus mengarah ke karang itu." Tambahnya.
Hujan mulai turun. Perasaan Shikamaru semakin tidak nyaman. Ia mengeluarkan kalung warisan ayah nya itu kemudian mengenakannya. "Ini akan merepotkan." Ujarnya. "Kau sudah siap dengan apa yang akan kau lihat?" Tanya Shikamaru terdengar serius. "Kau mungkin akan terus menganggap ini dongeng jika kau belum melihatnya langsung. Tapi aku ingin memberitahukan sesuatu yang nyata di sini. Kaum Siren itu ada dan ibuku adalah kaum Siren." Terang Shikamaru.
"Kau ingin bercanda pada ku?" Sasuke menatap datar temannya itu. Seketika Sasuke terkesiap saat suara nyanyain tiba tiba muncul.
"Ah sudah di mulai. Mungkin sampai di sini kita tidak akan selamat." Shikamaru mengusap lehernya.
Sasuke mulai sedikit panik. Ia menangkap para awaknya nya yang mulai bertingkah aneh. Mereka seolah tersihir dan berjalan melompati kapal. Semakin mendekati karang suaranyanyian semakin keras membuat bulu Sasuke dan Shikamaru meremang.
"Kenapa para awak bersikap aneh?" Sasuke menoleh ke arah Shikamaru dengan rasa khawatir dan was was.
"Mereka tersihir. Nyanyian itu membuat siapa saja yang mendengarnya terhipnotis." Terang Shikamaru.
"Kenapa tidak bereaksi pada kita?"
"Itu adalah kemampuan alami keturunan Uchiha. Dan aku punya ini" Shikamaru menunjukan sebuah kalung yang buah kalungnya adalah botol kecil. "Ini adalah rambut ibuku." Brughh. Kapal terhenti secara ajaib di karang tersebut. "Melabuh yang sama sekali tidak halus." Komplain Shikamaru.
Sasuke dan Shikamaru saling berpandangan. Seolah mereka saling bertanya. "Tunggu apa lagi?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Taruhan kita di mulai." Lanjutnya sembari melompat turun dari kapal.
"Agghh memiliki teman seperti itu sungguh merepotkan." Gerutunya sembari melompat turun menyusul Sasuke.
Mereka mulai berjalan menulusuri karang yang luas itu melingkari air di antara cincinan karang. Hingga tiba di sebuah gua besar. Suara nyanyian semakin nyaring dari sini.
"Kau yakin ingin memastikannya langsung?" Tanya Shikamaru tidak yakin. Ia tidak yakin jika Sasuke dan dirinya bisa pulang dengan kondisi masih bernyawa. Bahkan jasad pun tidak mungkin kembali.
"Kita sudah sanpai di sini. Fakta sudah di depan mata." Saut Sasuke enteng. Persetan dengan taruhan ia semakin penasaran dengan sang pemilik suara.
Sasuke dan Shikamaru mulai melangkahkan kaki memasuki gua. Suara nyanyian yang indah itu semakin terdengar jelas. Monster apa kah yang akan muncul, fikir Sasuke.
Mereka tiba di ujung gua. Terdapat danau yang cukup luas di sana. Di tengahnya terdapat onggokan batukarang yang di duduki sosok mahluk. Mata Sasuke membulat sempurna. Ia tidak menyangka atas keindahan yang kini ia lihat. Sosok separuh ikan dengan surai pirang yang duduk bersipuh sembari bernyanyi. Tak hanya Sasuke. Shikamaru pun terperangah dengan Pemandangan di depan mereka.
Suaranyanyian terhenti. Sosok itu membalas tatapan takjub mereka padanya. "Oya oya.. lihat siapa mahluk asing ini." Ucap mahluk itu. Bahkan saat berbicara pun suaranya terdengar sangat merdu.
"M-maaf kami mengganggu anda." Shikamaru membungkuk dan memohon maaf pada sang Siren.
Siren itu melompat terjun ke air dan berenang menuju mereka. "Mendekatlah." Titah sang Siren pada kedua pria itu.
Shikamaru dan Sasuke pun membungkuk. Kemudian tubuh Shikamaru di rangkul oleh sang duyung. "Aura mu sama seperti Yoshino. Apa kau putranya?" Pandangan mereka begitu dekat mungkin hanya tersisa 5 cm.
"Benar." Jawab Shikamaru membenarkan.
"Waa sudah ku duga. Aku merasakan kedatangan mu." Duyung itu terkikik senang sembari memeluk erat tubuh Shikamaru. "Bibi merindukan mu." Timpal mahluk itu.
Sasuke hanya bisa terdiam. Ia sudah 100 % percaya pada hal yang di anggapnya mitos itu. Tapi ...
"Aku berharap Yoshino akan datang sendiri membawa mu kemari. Tapi ternyata kau membawa pria asing ini." Naruto melepas pelukannya dan melirik Sasuke dengan ekormatanya.
"Dia bukan pria asing. Dia adalah Sahabat." Terang Shikamaru. Firasat Shikamaru tidak nyaman. Berfikir untuk selamat dari sini hanya 50 %. Mungkin dirinya bisa kembali dengan untuh. Tapi Sasuke? Dia bersumpah akan membawa Sasuke selamat bersamanya.
Mahluk itu menyeringai sekilas. "Watakushi wa Uzumaki Naruto desu. Kochirakoso yoroshiku." Ucapnya memperkenalkan diri. "Aku adalah adik dari Yoshino bibi mu. Dan juga Siren terakhir di muka bumi." Naruto tersenyum.
Shikamaru terkesiap. Mendengar kata 'Siren terakhir di muka bumi' membuatnya tidak terima. "Bagaimana bisa. Aku pikir populasi Siren masih banyak di belahan setiap dunia."
"Kisah yang panjang untuk di ceritakan." Mata safir Naruto berubah mendung. "Kalian tidak ingin melihat lihat rumah ku?" Sekejab senyum itu terukir kembali di bibir pink Naruto. Sasuke melihat lihat sekitar. Ini tidak pantas di sebut rumah. Pikirnya.
"Oh ayolah. Rumah ku bukan di sini tapi di..." Naruto menyelam kemudian timbul kembali. "Di dalam danau ini." Lanjutnya.
"B-bagaimana kami bisa ke sana?" Shikamaru menggaruk garuk pipinya yang tak gatal. Pertanyaan Shikamaru membuat Naruto mengerucutkan bibirnya.
"Baka." Gerutu Naruto kemudian menarik Shikamaru kedalam air.
"Waaaagh." pekiknya terkejut. Dan membuat Sasuke terkejut setengah mati.
"Hoi Shikamaru." Teriaknya ketika ia tidak sanggup menahan perbuatan Naruto. Sekitar 5 menit Shikamaru tidak tibul membuat Sasuke kian panik. "Shikamaru Shikamaru." Panggilnya sembari menepuk air namun Shikamaru tak kunjung timbul.
Byurr. Sosok Naruto timbul ke permukaan. Membuat Sasuke terkejut dan terduduk. "Giliran mu." Ujar Naruto sembari menyeringai. Keringat meluncur di pelipis Sasuke. Apakah Shikamaru sudah mahluk itu makan? "Etto. Shikamaru sudah menunggu mu di bawah" sambung Naruto.
"Eh?"
Hening...
"Aku tidak bisa bernafas dalam air." Sasuke mengusap lehernya canggung.
"Aku tahu dan aku memiliki solusi." Naruto menarik dasi Sasuke kemudian mengecup ringan bibir Sasuke. Mata Sasuke membulat sempurna. Ia terkejut bukan main jantungnya nyaris turun ke perut akibat debaran. Bibir Naruto terasa begitu lembut di bibirnya. "Kau sudah siap?" Naruto melepas ciumannya.
"Eh?" Sasuke menatap Naruto tidak mengerti. malas untuk menjelaskan Naruto langsung menarik Sasuke masuk kedalam air.
Blub
"Bernafaslah." Bisik Naruto di telinganya. Sasuke membuka matanya dan mulai melakukan apa yang Naruto perintahkan. Ajaib... ia bisa bernafas di dalam air. "Bagaiman?" Naruto tersenyum
"Hn." Sautnya datar.
"Shikamaru ada di sana." Naruto menunjuk ke dasar danau yang tampak tak berujung dan gelap. "Tekanan air nya cukup tinggi dan kau akan memerlukan bantuan ku untuk ke sana." Tukas Naruto sembari menarik tangan Sasuke dan mulai berenang ke dasar. Benar yang di katakan Naruto. Tekanan air yang berlawanan arah akan membuat dirinya kesulitan berenang ke dasar jika tanpa bantuan Naruto. Di ujung danau tampak setitik cahaya. Semakin jauh mereka berenang cahaya itu semakin dekat dan mereka tiba di tempat bercahaya itu. "Selamat datang di kediaman ku." Pekik Naruto girang.
Sasuke melihat sekeliling. Di dasar danau yang begitu terang akibat cahaya kristal mineral di diding.
"Yo Sas." Sapa Shikamaru di sudut lain ruangan sambil menikmati secangkir teh dan sepiring kue di atas batu. "Ne~ bibi kue buatan mu enak sekali." Pujinya membuat Naruto tersenyum senang.
T-tunggu? Di dalam air? Bagaimana bisa meminum teh di dalam air? Sasuke terus bertanya tanya. Sudah banyak hal mustahil yang ia alami hari ini. Bertemu Siren sungguhan, bernafas di dalam air. Lalu? Minum teh di dalam air? Sasuke bersweatdrop ria.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini." Tukas Naruto sembari menyeret Sasuke ke dekat Shikamaru dan meberikan secangkir teh padanya. "Nah mari bercerita. Apa yang membuat kalian berlayar di area terlarang ini? Bukankah kaum kalian telah menjadikan tempat ini area terlarang?" Naruto menyandarkan tangannya di atas batu dan memandangi tamu dan keponakannya itu.
"Teman ku ingin menantang maut." Terang Shikamaru yang berhasil membuat Sasuke melemparkan deatglare dan membuat Naruto tertawa keras.
"Ara.. kau memiliki teman yang lucu." ucap Naruto di tengah tawanya.
"Dia ingin membuktikan keberadaan mu." Lanjut Shikamaru.
"Wajar bukan jika banyak manusia yang tidak percaya keberadaan ku?" Naruto tersenyum menatap kedua pria itu. "Kaum ku yang hampir punah." Mata safir itu berubah mendung lagi.
"Kenapa kau menculik para perlaut dan nelayan yang melintas?" Pertanyaan Sasuke membuat Shikamaru menyemburkan tehnya dan membuat Naruto tercekat.
"Apa yang kau lakukan bodoh." Shikamaru menyikut nyikut Sasuke.
"Hee~ pertanyaan yang berani." Naruto terkekeh. "Itu semua karena dendam." Naruto Memainkan ujung rambut pirangnya. "Dendam kepada bangsa yang sudah membuat kaum Siren punah." Naruto menyeringai. "Aku menculik para mahluk kotor itu kemari dan memakannya. Jadilah aku yang sekarang. Siren abadi yang penuh kekuatan." Naruto memejamkan matanya. Seolah sedikit pun ia tidak merasa senang.
"Bibi. Bagaimana Siren bisa punah. Bukan kah kalian memiliki sihir?" Shikamaru mulai penasaran.
"Itu terjadi sudah sejak lama." Naruto menggerak gerakan jari telunjuknya di atas batu seperti orang menulis. "Waktu itu Yoshino masih bersama ku. Dan waktu itu kami masih menjadi mahluk yang terbuka. Aku dan keluarga ku selalu membantu setiap kapal yang lewat. Tapi semua berubah saat manusia mulai tamak. Perang mulai teruadi sana sini. Dan para tentara mulai mengambil satu persatu kaum kami dan membawanya entah kemana. Ada yang di siksa, di bukuh, dan hal keji lainnya." Mata Naruto memutih saat menceritakannya emosinya meluap luap tak terbendung. "Hanya tersisa aku dan Yoshino saja yang bertahan hidup dan berhasil bersembunyi. Suatu hari aku dan Yoshino tertangkap. Mereka memukuli kami dan menyayat tubuh kami dengan pisau untuk di ambil darah kami tapi pria itu datang." Naruto tersenyum lembut seketika. "Dia membebaskan menolong kami kemudian membebaskan kami. Berkat dia aku dan Yoshino tidak mati mengenaskan. Aku bersumpah aku akan melindungi keturunannya sampai aku mati." Naruto menghirup nafas menenangkan diri.
"Pria itu?"
"Ya. Dia pria yang baik. Aku sempat jatuh cinta padanya namun dia sudah menikah."
"Psst. Apa jangan jangan yang dia maksud itu kakek buyut mu?" Bisik Shikamaru.
"Maksud mu?"
"Aku pernah mendengar cerita ini dari ibu ku. Madara lah yang telah menyalamatkan Naruto dan ibuku." Bisiknya lagi.
"Hn."
"Ah boleh aku bertanya pada mu pria berambut aneh." Naruto menunjuk hidung Sasuke.
"Hn."
"Kenapa kau bisa tiba di sini dengan utuh bahkan tanpa termantrai?" Naruto mengelilingi Sasuke. Sasuke benar benar tanpa luka. "Oh masaka." Naruto membekap mulutnya sendiri tidak percaya. "Apa kau ini penyihir?" Tebak Naruto.
"Hah?" Sasuke dan Shikamaru hanya menganga lebar. Tidak adakah tebakan lain?
"Dobe."
"Huh? Apa? Beraninya." Simpang empat muncul di dahi mulus Naruto. Naruto hendak menyekik leher Sasuke karena kesal namun di halangi oleh Shikamaru.
"Bibi bibi tenang lah. Mahluk itu hanya bercanda." Lerainya.
"Pfft m
ahluk ini yang di takuti rakyat ku." Sasuke terkikik geli. Kesan awal mungkin Naruto menyeramkan. Namun samakin di kenali Naruto ternyata hanya gadis err..
"U-urusai Teme." Naruto memukul mukul tubuh Sasuke layaknya wanita yang sedang sebal.
"Aa~ ku rasa bagian ini tidak perlu ku lerai." Shikamaru menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sepertinya Sasuke menikmatinya.
"Kau ini lucu sekali." Sasuke mencubit gemas hidung Naruto.
"I-itte te te." Ringisnya sembari menjujut jujut tangan Sasuke agar menjauh dari hidungnya.
"Apa kami bisa kembali?" Shikamaru membuka pertanyaan dan membuat Naruto terdiam serta menatap ke arah Shikamaru tidak senang.
'Gawat.' Ringis Shikamaru dalam hati.
"Kalian ingin pulang ka? Tidak ingin lebih lama?" Wajah Naruto berubah sedih.
"Ibu ku akan sangat khawatir jika aku belum pulang."
"Yoshino ka? Hmmm aku ingin melihatnya." Naruto mengembungkan pipinya dan menatap majah Shikamaru. "Aku akan mengantar kalian tapi bawa aku pada Yoshino." Tawarnya.
"Baiklah. Kaa san akan senang melihat mu bibi." Shikamaru tersenyum.
"Yatta yatta.. aku merindukannya." Naruto berputar putar ke girangan. "Apa dia merindukan ku juga?" Naruto kembali menatap sedih Shikamaru.
"Sangat." Jawabnya.
"Ah baiklah. Mari kembali ke permukaan."
Naruto menarik Sasuke dan Shikamaru agar mengikutinya kembali ke permukaan. Kemudian mereka menuju ke kapal Sasuke yang karam di sekitar karang.
"Lumayan parah." Ujar Naruto saat melihat kapal yang rusak berat di bagian kabinnya. "Bisa ku perbaiki." Ucapnya sembari tersenyum.
"Boleh aku tau kau kemanakan awak ku." Tanya Sasuke.
"Penjara."
"Ha?"
"Apa kau ingin mereka kembali?"
"Kau mau?"
"Tentu karena aku menyukai mu." Naruto tersenyum manis pada Sasuke dan berhasil membuat semburat merah muncuk di pipi porselin pria itu.
Naruto menarik nafasnya. Ia mulai mengelurkan suaranya dan membentuk sebuah melody. Kapal yang ringsek perlahan berubah. Nyanyian masih berlanjut. Naruto meletakan kapal yang sudah di perbaiki itu menjauh dari karang.
"Sudah selesai." Ujarnya. "Awak kalian sudah aku kembalikan. Mereka sedang tertidur di dalam kapal. Ayo." Naruto menarik Shikamaru dan Sasuke menjauhi karang dan menyuruh mereka agar menaiki kapal.
"Kau tidak naik?" Sasuke menatap Naruto yang berada di dalam air dari atas kapal.
"Tidak." Naruto menggelengkan kepala. "Aku akan berenang mengikuti kalian."
"Hn baiklah." Sasuke berbalik. Pandangannya tertuju pada sosok manusia yang tergeletak di lantai. "Sampai kapan kalian akan tidur." Teriak Sasuke dan membuat para awaknya terbangun.
"Ughh apa yang terjadi."
"Kepala ku pusing."
"N-nyanyian."
Para awaknya panik seketika. Wajah mereka memucat dan menggigil.
"Tenanglah." Ujar Shikamaru. "Kita akan pulang sekarang."
"Hee? Pulang? Jadi kita selamat?"
"Memangnya apa yang terjadi?" Sasuke menaikan sebelah alisnya.
"Aa~" para awak tidak bisa berkata kata.
"Yang mulia ada sosok aneh di tepi kapal." Pekik salah satu awak sembari mengarahkan senapan paus ke srahnya. "S-s-siren" lanjutnya membuat para awak kembali panik.
"Jangan menembaknya." Raung Sasuke.
"T-tapi yang mulia."
"Dia adalah kenalan ku." Jawab Sasuke datar. Dan Naruto hanya melambai sambil tersenyum di bawah sana.
Bersambung...
jangan lupa revew nya Reader
follow juga wattpad nya yu - YuCiel
