Yo! Masih dengan Yuki di fandom Kuroshitsuji! Rin sedang sibuk dengan fanficnya sendiri—di fandom Hentailia, ah maksud Yuki, Hetalia—, jadi dia tidak ada seluk-beluknya dengan fanfic ini.

Di chapter ini, kalian—para pembaca—diajak untuk mengenang kembali pertandingan Amerika Serikat melawan Inggris di FIFA World Cup 2010 kemarin. Maaf banget kalo chapter ini garing banget! m(_ _)m *sujud*

Oya, kalau ada usulan plesetan nama pemain bola yang bisa membuat saya ngakak guing-bantal, nanti bakalan saya masukin ke chapter berikutnya! (Contoh author krisis plesetan nama orang dan humor)

Yaah akhir kata, selamat membaca dan semoga ngakak!

Title: PIPAH Jagad Raya Cup 2010

Disclaimer:

PIPAH Jagad Raya Cup 2010 punya sayah eh, Schneeglocke.

Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei. (Kalau Kuroshitsuji punya saya, Ciel pasti bakal senista yang ada di fanfic ini)

Warning:

Ekstra crac, AU, OOC akut, garing, gaje, nista, banyak plesetan nama atlet, tidak dianjurkan untuk seorang ibu yang sedang mengandung atau siswa/i yang mau ujian.


PIPAH Jagad Raya Cup 2010

Chapter 2: Amerika Serikat vs Inggris


"Hoahm~" Ciel menguap saat sahur.

"Hoahm~" Ciel menguap lagi saat membaca koran.

"Hoahm~" lagi-lagi Ciel menguap. Kali ini saat ia sedang berpakaian.

"Hoahm~" Ciel menguap untuk ketiga kalinya ketika ia menuruni tangga.

Dan...

"~!"

"AH! TIDAK! TUAN MUDA, KEPALA SAYA!" ternyata sang butler dan barang-barang lainnya ikut tersedot masuk ke dalam mulut sang Earl yang menganga lebar saat ia menguap.

"Ha?" mulut Ciel masih terbuka. "Ups, sori!" ia cengengesan.

"Sora, sori, sora, sori! Dasar Sakirah kedua! Semena-mena ee' sakpenake dhewe! (1)" Sebastian berkata dalam hati.

Ia kesal, tentu saja.

Ciel berjalan ke kebun untuk menghirup udara segar, dan tiba-tiba... JENG JENG! Finny menemukannya!

"Tuan Muda! Tuan Muda! Tuan Muda!"

"Apa? Apa? APA?" Ciel sewot.

BLETAK! Jitakan tampan dari tangan Ciel melayang mengenai kepala Finny.

"TUAN MUDA, cukup SATU kali!" bentak Ciel.

"... Tuan Mudaaaaaaaaaaaa!"

"APAAAAAA!"

"Nanti nobar yuk?" Lizzy, Soma, Agni, Bard, dan Maylene tiba-tiba muncul dari balik tubuh Finny.

"Nobar?"

"Iya, nonton bareng!" jawab Lizzy.

"Kapan? Di mana? Jam berapa? Dengan siapa? Nonton apa? Kenapa? Bagaimana?" Ciel melontarkan berbagai pertanyaan dengan konteks 5W 1H plus-plus.

BGM: Kangen Band – Yolanda (BGM-nya nggak banget)

"Nanti malam," jawab Lizzy.

"Di sini," jawab Soma.

"Pukul 18.30 GMT," jawab Agni.

"Dengan kami semua," jawab Bard.

"Menonton pertandingan Amerika Serikat melawan Inggris," jawab Maylene.

"Karena nonton bareng-bareng lebih seru, Tuan Muda!" jawab Finny semangat.

"Ya nggak gimana-gimana!" Sebastian menjawab pertanyaan terakhir.

"Ho ho ho~" Pak Tanaka sukses menutup sesi tanya-jawab 5W 1H plus-plus tersebut.

"Setuju nggak?" tanya Lizzy.

"... Boleh deh," kata Ciel.

"ASIIK!" Lizzy, Soma, Agni, Finny, Brdroy, dan Maylene bersorak-sorak bergembira.

"Seb, jangan lupa makanannya ya!" kata Ciel.

"Kupat tahu dan perkedel kukus 'kan?" Sebastian memastikan.

"Tambah roti keong, ya!" kata Ciel. "Biar gregetnya kerasa."

Greget apaan! Sebastian cengo.

"Yes, my lord."

"Oya, nanti jam dua siang ada pertandingan Jerman lawan Australia lho, Tuan Muda!" Finny memberi tahu.

"Ah, ngapain nonton Jerman! Itu kan tim kesayangannya Sebastian!" Ciel ngeremehin banget tuh!

Author pun ingin mencekik dan memutilasi Ciel, sayangnya tidak bisa.

"Lihat saja nanti, Jerman pasti menang!" kata Sebastian dalam hati.

Setuju, Sebas!


Pukul 18.05 GMT, setelah buka bersama, Ciel, Sebastian, Soma, Agni, Lizzy, Finny, Bard, dan Maylene sudah berkumpul di ruang tengah, menantikan dimulainya pertandingan antara Amerika Serikat melawan Inggris. 8 makhluk gaje itu duduk di depan TV flat 120 inci, gede banget ya?

"Eh, tadi siang pada nonton Jerman lawan Australia nggak?" tanya Soma.

"Nggak! Ngapain nonton? Gue nggak dukung dua-duanya! Lagian gue ketiduran," kata Ciel.

"Weee... tadi keren banget lho!"

"Emang skornya berapa?"

"4:0 coba! Australia digunduli! Ya nggak, Seb?"

Sebastian mengangguk.

"Ha? Masa?"

"Sumvah, ane zuzur."

Tuh kan, Ciel? Makanya, jangan ngeremehin dong!

"Siapa yang ngegol?"

"Dodolski di menit ke-8, Kloset di menit ke-26, Muelles waktu menit ke-68, sama Kacau pas menit ke-70."

Ciel hanya bisa ber-OH-ria sambil bengong.

Di depan mereka sudah ada menu hari ini, kupat tahu, perkedel kukus, roti keong, plus es teh setengah dingin untuk 8 orang. Akhirnya, jam dinding menunjukkan pukul 18.30 GMT.

"HEYAAA!" seketika itu juga, Soma, Agni dan Lizzy merobek baju mereka.

Ingat kalimat ini 'kan? "Di atas langit, masih ada langit." Nah, bertarti di dalam baju amsih ada baju, 'kan ya?

"Astojim..." Ciel membatin.

Soma, Agni, dan Lizzy dari tampak depan terlihat seperti pendukung Inggris, tapi... Tampak belakang mereka! Amerika sekali...

"Oy oy! Sebenarnya kalian dukung Inggris atau Amerika!" tanya Ciel

"DUKUNG YANG MENANG!"

GUBRAK!

Yah seketika itu juga muncullah triple baka yang baru.

Pertandingan pun dimulai, saat lagu "God Save The Queen" dikumandangkan, Lizzy dan Ciel ikut bernyanyi dengan semangat. Sedangkan Bard hanya menyanyikan lagu kebangsaannya, "The Star-Spangled Banner" di dalam hati.

Sudah sekitar 3 menit mereka hening, tiba-tiba keheningan mereka buyar karena teriakan Soma.

"Bah! Operan bagus, Heskey!" teriak Soma bersemangat.

"Ayo Jerat! Bikin gol!" Ciel ikutan teriak.

Dan pada menit ke empat…

"GOL!" para suporter pun berteriak.

Lizzy, Soma, dan Agni meniup vuvuzela, entah mereka dapat dari mana…

"Woooy! Jangan tiup vuvuzela di sini!" bentak Ciel.

"Lho? Di sini kan nggak ada plang yang tulisannya 'dilarang niup vuvuzela di sini', Ciel..." Lizzy ngeles.

"Sori dori mori deh, El," kata Soma sambil cengengesan.

Ciel sewot.

Selama pertandingan, yang paling banyak bacot adalah Ciel dan Soma, yang lain mah cuma teriak-teriak nggak jelas kaya "ah!" "sial!" "nhh!" "huu!" dan lain sebagainya.

Menjelang menit ke empat puluh…

"UWOH DIPSY!" teriak Bard.

"Jangan masuk plis, jangan masuk plis, jangan masuk plis…" Ciel berdoa.

"Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk, nggak.." Soma malah melakukan ramalan bunga dengan menggunakan bunga matahari.

Dan akhirnya…

"GREEN! TANGKAP!"

"JABULAYNI! BERHENTI! SETOP! JANGAN NGGELINDING LAGI, PLIS!"

"MASUK MASUK MASUK MASUK!"

"JANGAN JANGAN JANGAN JANGAN!"

"Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk…"

"GOOOOOOOOOOOOOL!" Bard histeris, Sebastian menghela napas lega, Ciel cengo.

"Gol kan?" tanya Soma memastikan. Ia nggak terlalu fokus sama yang tadi karena semua perhatiannya ia curahkan pada bunga matahari.

Bard mengangguk mantap.

"Gol!" teriak para suporter labil. Melihat mereka, Ciel langsung facepalm.

"Kiper bodoh!" umpat Ciel.

"Sabar, Tuan Muda," Sebastian yang dari tadi diam—entah karena dia mainan kucing atau ngapain—mencoba menenangkan. Padahal Sebastian senang sekali!

"…" Ciel mencomot roti keongnya.

"Gerakan"GOL GREEN" yang fantastis ya?" tanya Agni.

"Yap, mengalahkan gerakan "GO GREEN" yang sedang dilakukan banyak orang," Soma menimpali.

"Memangnya si Jabulayni benar-benar susah ditangkap ya?" Lizzy penasaran.

"Aku tidak tahu," jawab Soma.

"Ah coba saja kita punya," Finny mengandai-andai.

"El, kamu kan kaya, coba deh beli si Jabulayni!" Soma dengan seenaknya menyuruh Ciel membeli bola legendaries yang sering disalahkan para pemain bola itu.

"MUATA ANDA!" bentak Ciel. "BELI AJA SENDIRI! NTAR GUE BOKEK! MAHAL TAU NGGAK!"

"Tahu… makanya aku suruh kamu yang beli, kamu kan kaya!" Soma menebar senyum tanpa merasa bersalah.

Ciel langsung masang tampang WTF dengan sukses.

"Yah… istirahat pergantian babak…" kata Lizzy kecewa. Ia meminum es tehnya yang sekarang sudah bukan "es teh" lagi.

"Kalo lagi gini enaknya ngapain ya?" Ciel bingung.

"Ngupil!" Soma ngaco.

PLAK!

"Aduuuuh… El! Sakit tahu!"

"Tahu! Makanya jangan banyak cing cong!"

Sepertinya Ciel sudah setres gara-gara obrolan gaje mereka.

"Ah semuanya! Sebentar lagi mulai lho!" Finny member tahu.

"Bagus!" kata Bard.

"Semoga Jerat dan Reuni menambah skor," Ciel berdoa.

"Amin!" kata Agni, salah seorang dari 4 suporter labil.

Yang bukan suporter labil adalah Finny dan Ciel yang mendukung Inggris dan Sebastian dan Bard yang mendukung Amerika Serikat.

Di awal babak kedua, Ciel sudah dibuat sewot.

"Reuni sial! Peluang bagus disia-siakan!"

"Setuju, Tuan Muda!"

"Babak kedua kurang seru ah! Ah bete ah!" Ciel ngambek.

Semuanya cengo melihat sang Earl berlagak seperti seorang bapak-bapak gaje di sebuah sitkom yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta.

"Apa?"

"Ng… nggak, nggak ada apa-apa,"

"Jaaah apaan tuh! Duet Lemper-Jerat! Hahaha! Kalah loe!" Bard ngakak nista.

"Iya ya, duet Lemper-Jerat nggak meyakinkan! Berkali-kali salah pengertian! Bukan pasangan yang cocok," Lizzy mengiyakan.

"Fabio Ape Lo itu songong-songong bego ya?" Bard mencari pendukung.

"Setuju, bang!" kata Maylene.

Ciel cuma bisa tutup kuping sambil berkata "Insap bang! Insap! Bulan puasa, bang!" di dalam hati.

"Iya lho, Lemper-Jerat tuh kan udah dikunci sama 4 gelandang(an) AS!" Soma ikutan nimbrung.

"Yo'i! Rikardus Klakson, Michael Beratlho, Clint Dipsy, sama London Donovan," Bard mengumbar informasi nggak penting.

"London!" Ciel histeris.

"Iya, namanya memang London. Aneh banget ya, padahal dia orang Amerika!"

"Pengkhianat bangsanya nambah ya Allah…" kata Ciel.

"Ya Allah… ampuni mereka, ya Allah, mereka udah nggak tahan, ya Allah," Soma ngaco.

Obrolan ngaco mereka berhenti sampai di situ karena orang yang mereka obrolin bermain bagus hari itu. Bahkan para suporter labil pun mengakui!

"Wush! Donovan!"

"Peluang tuh! Lumayan kalo masuk, bisa nambah skor."

"Tembak!"

"Yah… nggak ada "GOL GREEN" lagi!"

Bisa-bisa para suporter labil itu nggak labil lagi nih!

Akhirnya pertandingan hari itu berakhir, Lizzy, Soma, dan Agni meniup vuvuzela mereka.

"Yaaay 1:1! Itu artinya kita nggak salah kostum hari ini!" kata Soma.

"Iya juga!" Lizzy terlihat bahagia.

"Sialan seri!"

Sebastian menghela napas lega. "Itu artinya gue nggak usah masak!" batinnya.

"Alamat besok gue sahur nggak kenyang dah!" Ciel kecewa berat.

"Mau saya masakkan, Tuan Ciel?" tanya Agni. Ah… Agni memang baik hati dan tidak sombong ya…

"Ah… beneran?"

"Iya, sekalian sahur bareng aku!"

Ciel cengo.

"Ayo bilang "terima kasih" buat Agni!" kata Lizzy sambil tersenyum.

"Er.. Terima kasih," kata Ciel.

Setelah mengucapkan 2 kata itu, dia langsung lari dengan kecepatan cahaya menuju kamar mandi untuk mencuci lidahnya sambil ngempit termometer di keteknya untuk tahu berapa suhu badannya sampai-sampai ia bilang "terima kasih" (plis deh ah Ciel, elo lebay banget!).

"Oya, pertandingan berikutnya mana lawan mana?" rupanya Lizzy sudah tidak sabar menantikan pertandingan berikutnya.

"Besok ada pertandingan Belanda melawan Denmark ini, jam 11.30 GMT, live dari Soccer City, Johannesburg," jawab Soma yang rupanya membawa contekan jadwal pertandingan.

"Oh… Oke! Besok pada mau nonton nggak?"

"Tergantung sih,"

"Tergantung! Mati dong!"

"Bukan tergantung yang itu…"

"Oh... terus? Nonton nggak?"

"Kayaknya sih nonton, tapi tunggu si Ciel balik dulu deh,"

"Kenapa nunggu dia?"

"Karena dia tokoh utamanya, kan ya?"

"Benar juga,"

"Apa kok nama gue disebut-sebut!" Ciel muncul tiba-tiba.

"Besok mau nonton bola nggak?"

"Mana lawan mana?"

"Belanda lawan Denmark."

"Bah! Apaan tuh! Belanda lawan Denmark! Ogah ah gua nontonnya! Jelek semua!"

Author ingin menginjak-injak tubuh Ciel tetapi tidak bisa.

"Kalo Jepang lawan Kamerun? Jam dua siang."

"Kagak. Jam dua tuh jam tidur siang gue, kalo mau nonton ya silakan nonton sendiri,"

"Oke deeh!"

"Kapan Inggris main lagi?"

"Tanggal 18, jam dua siang, nonton nggak?"

"Nonton deh..." kata Ciel yang sedikit kecewa. "Padahal maunya tidur..." begitu batinnya.

"Sebelum itu ada pertandingan Jerman lawan Serbia jam 11.30! Nonton deh!"

"Oke!"

"Jagoin mana lu, El?"

"Gue jagoin Serbia,"

Soma ngakak, Sebastian menahan tawanya.

"Emang kenapa?"

"Nggak! Nggak apa-apa!" Soma masih ngakak.

"Lihat aja besok! Serbia menang!"

"Taruhan yo!"

"Ayo!"

~TO BE CONTINUED TO THE NEXT CHAPTER ~


(1) Untuk yang tidak mengerti bahasa Jawa, "sakpenake dhewe" itu sama artinya dengan seenaknya sendiri.


Author's Theme: K'Naan – Wavin' Flag, Shakira – Waka Waka.

2 lagu yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan indah saat World Cup ;A;

Author's Note: Hiyaaa! Gaje ya? Garing ya? Humornya kurang ya? Nggak sesuai harapan kalian ya? Maafkan saya! Saya memang makhluk yang tidak bertanggung jawab! *sujud*

1000 kali maaf, soalnya saya ketiduran dan nggak nonton pertandingan Jerman lawan Australia dan Amerika Serikat lawan Inggris, jadi media yang saya gunakan untuk referensi hanya ingatan teman-teman dan koran! Kalau pakai pengalaman pribadi pasti lebih berasa nyata kan ya? Oya kalau ada yang nggak akurat (terutama untuk pertandingan Jerman lawan Australia), mohon dimaafkan ya, koran saya hilang! Jadi sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya! *lebay*

Saya minta maaf karena kata-kata para review-er yang baik selalu membekas di hati saya, jadi tolong maafkan saya ya, mbak-mbak review-er yang cantik atau mas-mas review-er yang ganteng!

Review? Jangan lupa! Fave? Dinanti! Flame? Demi apa, jangan sampai!