Eclipse
-02-
.
.
.
.
MENGHINDAR
.
.
.
.
Aku merasa sangat ringan saat berjalan dari kelas Bahasa Spanyol menuju kafetaria, dan itu bukan hanya karena aku menggandeng tangan orang paling sempurna di seantero planet ini, meskipun jelas itu sebagian penyebabnya. Mungkin karena tahu aku sudah selesai menjalani hukuman dan sekarang aku kembali bebas. Atau mungkin sama sekali tak ada hubungannya denganku. Mungkin karena atmosfer kebebasan terasa begitu kuat di seantero sekolah.
Tahun ajaran sebentar lagi berakhir dan terutama bagi murid-murid kelas tiga, kegairahan sangat kuat terasa. Kebebasan sudah begitu dekat hingga rasanya bias disentuh, bisa dirasakan. Tanda-tandanya bertebaran di mana-mana, ada begitu banyak poster dan tempelan brosur yang bersangkutan dengan tahun ajaran akhir, seperti tanggal terakhir pemesanan toga dan lain-lain.
Pesta dansa tahunan akan diselenggarakan akhir pekan mendatang, tapi aku sudah membuat Jungkook berjanji untuk tidak mengharapkanku menghadirinya. Toh aku sudah pernah merasakan pengalaman manusia yang satu itu. Tidak, pasti bukan kebebasan pribadi yang membuatku merasa ringan hari ini. Akhir tahun ajaran tidak memberiku kegembiraan seperti yang tampaknya dirasakan murid-murid lain. Sebenarnya, aku justru gugup hingga nyaris mual setiap kali memikirkannya. Aku berusaha tidak memikirkannya. Tapi memang sulit menghindari topik yang hadir dimana-mana seperti kelulusan.
"Sudah mengirim pemberitahuan, belum?" tanya Angela begitu Jungkook dan aku duduk di meja kami.
Jin dan Ben juga sudah duduk di sana, mengapit Angela. Ben asyik membaca komik, kacamatanya melorot di hidungnya yang tirus. Jin mengamati dengan saksama busanaku yang terdiri atas paduan membosankan jins dan T-shirt, caranya memandang membuatku jengah. Mungkin dia berniat memermak penampilanku lagi. Aku mendesah. Sikap cuekku terhadap penampilan bagaikan duri dalam daging bagi Jin. Seandainya kuizinkan, ia pasti dengan senang hati akan mendandaniku setiap hari seakan-akan aku boneka kertas tiga dimensi yang ukurannya sebesar manusia.
"Belum," kataku, menjawab pertanyaan Angela. "Tak ada gunanya juga. Ibu sudah tahu kapan aku lulus. Siapa lagi yang perlu kuberitahu?"
"Kau sendiri bagaimana, Jin?"
Jin tersenyum. "Sudah beres semuanya."
"Beruntung benar kau," Angela mendesah. "Ibuku punya banyak sekali sepupu dan dia berharap aku mengirim pemberitahuan ke mereka semua, dengan tulisan tangan lagi. Bisa-bisa tanganku kapalan. Aku tak bisa menunda-nundanya lagi. Ngeri rasanya membayangkan diriku melakukannya."
"Aku bisa membantumu," aku menawarkan diri. "Kalau kau tidak keberatan dengan tulisan tanganku yang jelek."
Ayah pasti senang. Dari sudut mata kulihat Jungkook tersenyum. Ia pasti juga senang–aku memenuhi syarat yang diajukan ayah tanpa melibatkan werewolf. Angela terlihat lega.
"Baik sekali kau. Aku akan datang ke rumahmu kapan saja kau mau."
"Sebenarnya, aku lebih suka akulah yang pergi ke rumahmu, kalau kau tidak keberatan – aku sudah muak dengan rumahku. Ayah mencabut hukumanku semalam." Aku tersenyum lebar saat menyampaikan kabar baik itu.
"Benarkah?" tanya Angela, kilat kegembiraan terpancar dari mata cokelatnya yang selalu tenang. "Katamu waktu itu, kau bakal dihukum seumur hidup."
"Aku juga sama kagetnya denganmu. Tadinya aku yakin paling tidak aku harus selesai SMA dulu baru ayah membebaskanku."
"Well, baguslah kalau begitu, Taehyung! Kira harus pergi untuk merayakannya."
"Kau tidak tahu betapa indah kedengarannya usulanmu itu."
"Kita mau melakukan apa?" tanya Jin sambil merenung, wajahnya berseri-seri memikirkan berbagai kemungkinan.
Ide-ide Jin biasanya agak terlalu berlebihan bagiku dan aku bisa melihat hal itu di matanya sekarang – kecenderungan melakukan sesuatu secara berlebihan.
"Apa pun yang kau pikirkan Jin, rasa-rasanya aku tidak sebebas itu."
"Bebas ya bebas, kan?" desak Jin.
"Aku yakin masih ada batasan yang harus kutaati dalam batas-batas wilayah Amerika Serikat misalnya."
Angela dan Ben tertawa, tapi Jin meringis, tampaknya benar-benar kecewa.
"Jadi kita mau ke mana nanti malam?" tanyanya gigih.
"Tidak ke mana-mana. Begini, bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa hari, untuk memastikan ayahku tidak bercanda. lagi pula, ini kan malam sekolah."
"Kita rayakan akhir minggu ini kalau begitu." Mustahil bisa mengekang antusiasme Jin.
"Tentu," sahutku, berharap membuatnya puas.
Aku tahu aku takkan melakukan sesuatu yang terlalu berlebihan; lebih aman pelan-pelan saja menghadapi ayah. Memberinya kesempatan melihat bahwa aku bisa dipercaya dan matang dulu sebelum minta izin melakukan apa-apa. Angela dan Jin mulai asyik mengobrolkan berbagai pilihan, Ben ikut nimbrung, menyingkirkan komiknya.
Perhatianku teralih. Kaget juga aku menyadari topic mengenai kebebasanku mendadak tak terasa memuaskan lagi seperti beberapa saat yang lalu. Sementara mereka masih asyik membicarakan hal-hal yang bisa dilakukan di Port Angeles atau mungkin Hoquiam, aku mulai merasa tidak puas. Tidak butuh waktu lama untuk menentukan dari mana kegelisahanku ini berasal. Sejak mengucapkan selamat berpisah dengan J-Hope Black di hutan dekat rumahku, aku dihantui bayangan menyedihkan yang terus-menerus mengusik pikiranku.
Bayangan itu muncul, memenuhi kepalaku dengan bayangan wajah J-Hope yang mengernyit pedih. Itu kenangan terakhirku tentang dia. Saat bayangan yang mengganggu itu muncul lagi, aku tahu benar kenapa aku merasa tidak puas dengan kebebasanku. Karena kebebasan itu belum sempurna. Tentu, aku bebas pergi kemana pun aku mau –kecuali ke La Push-, aku juga bebas melakukan apa pun yang kuinginkan –kecuali bertemu J-Hope. Aku cemberut memandangi meja. Seharusnya ada jalan tengah yang memuaskan semua pihak.
"Jin? Jin!"
Suara Angela menyentakkanku dari lamunan. Ia melambai-lambaikan tangan di depan wajah Jin yang menerawang kosong. Aku mengenali ekspresi Jin itu, ekspresi yang otomatis mengirimkan sengatan panik ke sekujur tubuhku. Tatapannya yang kosong menandakan dia melihat sesuatu. Akan ada sesuatu, sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Kurasakan darah menyusut dari wajahku.
Lalu Jungkook tertawa, nadanya sangat natural dan rileks. Angela dan Ben berpaling padanya, tapi mataku tetap tertuju kepada Jin. Tiba-tiba Jin terlonjak, seperti ada yang menendang kakinya di bawah meja.
"Memangnya sekarang sudah waktunya tidur siang, Jin?" goda Jungkook.
Jin kembali menjadi dirinya. "Maaf kurasa aku melamun tadi."
"Lebih enak melamun daripada menghadapi dua jam pelajaran lagi," sergah Ben.
Jin kembali mengobrol dengan semangat lebih berapi-api dibandingkan sebelumnya – agak terlalu berlebihan. Sekali aku sempat melihatnya bersitatap dengan Jungkook, hanya sedetik, kemudian ia berpaling lagi kepada Angela sebelum ada yang sempat memerhatikan. Jungkook lebih banyak diam, tangannya memainkan seberkas rambutku. Dengan gelisah aku menunggu kesempatan untuk bisa bertanya kepada Jungkook tentang penglihatan yang didapat Jin tadi, tapi siang berlalu dengan cepat tanpa satu menit pun kesempatan untuk berduaan.
.
.
.
.
.
.
.
Bagiku itu aneh, hampir seperti disengaja. Sehabis makan siang Jungkook sengaja berjalan lambat-lambat mengiringi langkah Ben, mengobrol tentang tugas yang aku tahu sudah selesai ia kerjakan. Selalu ada orang lain di antara pergantian kelas, padahal biasanya kami punya waktu berduaan selama beberapa menit. Ketika bel terakhir berbunyi, Jungkook tahu-tahu mengajak Mike Newton mengobrol, berjalan bersamanya menuju lapangan parkir.
Aku membuntuti di belakang, membiarkan Jungkook menarikku. Aku mendengarkan, bingung, sementara Mike menjawab pertanyaan-pertanyaan Jungkook yang diajukan dengan nada bersahabat. Rupanya mobil Mike sedang bermasalah. Aku dibuat melongo, bukan hanya aku, tapi Mike juga. Karena dengan tiba-tiba, Jungkook menawarkan diri untuk membantu memperbaiki mobil Mike. Aku sedikit kesal, apa sebegitunya Jungkook berusaha menghindar dariku? Untungnya Mike menolak usulan Jungkook dan pergi dengan segera.
Kami berdua akhirnya menuju mobil volvo keluarga Choi, didalam sudah ada Jin yang mengoceh dengan kecepatan tinggi, seperti seorang yang sedang melakukan rap.
"Kau kan tidak terlalu paham soal mesin mobil, Jungkook. Mungkin sebaiknya kau suruh saja Suga memeriksanya malam ini, supaya kau tidak kehilangan muka kalau nanti Mike memutuskan membiarkanmu membantunya. Pasti menyenangkan melihat wajah Mike kalau Suga muncul untuk membantunya. Tapi karena Suga saat ini seharusnya berada di luar kota untuk kuliah, kurasa itu bukan ide bagus. Sayang sekali. Tapi menurutku, untuk menangani mobil Mike, kau pasti bisa. Kau hanya tidak mampu menangani mesin mobil sport Italia yang canggih-canggih itu. Omong-omong soal Italia dan mobil sport yang kucuri di sana, kau masih berutang satu Porsche kuning padaku. Aku tak yakin, apa aku sanggup menunggu sampai Natal."
Sebentar saja aku sudah berhenti mendengarkan, membiarkan suara Jin yang mencerocos jadi seperti gumaman di latar belakang sementara aku mencoba bersabar. Tampaknya Jungkook berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaanku. Baiklah. Toh sebentar lagi ia harus berduaan denganku. Tinggal tunggu waktu.
Sepertinya Jungkook juga menyadarinya. Ia menurunkan Jin di ujung jalan masuk rumah keluarga Choi, seperti biasa, walaupun kalau melihat sikapnya sejak tadi aku separuh berharap ia akan mengemudikan mobilnya sampai ke depan pintu dan mengantar Jin masuk sekalian. Begitu turun, Jin langsung melayangkan pandangan tajam padanya. Jungkook tampak tenang-tenang saja.
"Sampai nanti," katanya.
Kemudian, nyaris tak kentara, ia mengangguk. Jin berbalik dan lenyap di balik pepohonan. Jungkook diam saja saat memutar mobil dan kembali ke Forks. Aku menunggu, dalam hati penasaran apakah ia akan mengungkitnya sendiri. Ternyata tidak, dan itu membuatku tegang. Apa yang sebenarnya dilihat Jin saat makan siang tadi? Sesuatu yang Jungkook tak ingin kuketahui, dan aku berusaha keras memikirkan alasan kenapa ia merahasiakan sesuatu dariku. Mungkin lebih baik aku menyiapkan diri sebelum bertanya. Aku tak ingin nanti ketakutan setengah mati dan membuat Jungkook mengira aku tak mampu mengatasinya, apa pun itu. Jadilah kami sama-sama berdiam diri hingga sampai dirumah.
"Malam ini tidak banyak PR," komentar Jungkook.
"Mmmm," aku mengiyakan.
"Menurutmu, aku sudah diizinkan masuk lagi?"
"Ayah tidak mengamuk waktu kau menjemputku tadi pagi."
Tapi aku yakin ayah pasti bakal langsung cemberut kalau sesampainya di rumah nanti ia mendapati Jungkook disini. Mungkin sebaiknya aku membuatkan hidangan makan malam yang ekstra istimewa. Di dalam aku langsung naik ke lantai atas, dan Jungkook mengikuti. Ia duduk-duduk ditempat tidurku dan memandang keluar jendela, sepertinya tidak menyadari kegelisahanku.
Aku menyimpan tas dan menyalakan komputer. Ada email dari ibuku yang harus kubalas, dia akan panik kalau aku terlalu lama tidak membalas. Aku mengetuk-ngetukkan jemariku ke meja sambil menunggu komputer tuaku mendengung bangun; jemariku berlari lincah di meja, cepat dan gelisah. Kemudian jari-jari Jungkook merengkuh jari-jariku, mendiamkannya.
"Kita agak tidak sabaran ya, hari ini?" gumamnya.
Aku mendongak, berniat melontarkan komentar sarkastis, tapi wajah Jungkook ternyata lebih dekat daripada yang kuharapkan. Mata emasnya membara, hanya beberapa sentimeter jauhnya, dan hembusan napasnya sejuk menerpa bibirku yang terbuka. Aku bisa merasakan aromanya di lidahku. Aku langsung lupa komentar pedas yang akan kulontarkan tadi. Aku bahkan lupa namaku sendiri. Jungkook tidak memberiku kesempatan untuk pulih dari kaget.
Kalau kemauanku dituruti, aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku berciuman dengan Jungkook. Tak ada pengalaman lain dalam hidupku yang setara dengan indahnya merasakan bibir Jungkook yang dingin, sekeras marmer, tapi selalu sangat lembut, bergerak bersamaku. Kemauanku jarang dituruti. Maka aku agak terkejut saat jari-jarinya menyusup kerambutku, merengkuh wajahku kuat-kuat, Kedua lenganku mengunci di belakang lehernya, dan aku berharap kalau saja aku lebih kuat – lebih kuat untuk memenjarakannya di sini.
Satu tangan meluncur menuruni punggungku, mendekapku lebih erat lagi ke dadanya yang sekeras batu. Meski terhalang sweater, kulit Jungkook masih cukup dingin untuk membuat tubuhku gemetar merasakan getaran kegembiraan, kebahagiaan, tapi akibatnya pelukan Jungkook mulai mengendur. Aku tahu aku hanya punya waktu kira-kira tiga detik sebelum Jungkook mendesah dan dengan cekatan menjauhkan tubuhku dari tubuhnya, mengatakan kami sudah cukup mempertaruhkan nyawaku sore ini. Sebisa mungkin memanfaatkan detik-detik terakhirku berciuman dengannya, aku menempel semakin erat dengannya, menyatukan lekuk tubuhku ke tubuhnya. Ujung lidahku menyusuri lekuk bibir bawahnya; bibirnya sangat halus, seperti habis digosok.
Jungkook menjauhkan wajahku dari wajahnya, dengan mudah melepaskan cengkeramanku – mungkin dia bahkan tak sadar aku sudah mengerahkan segenap kekuatanku. Jungkook terkekeh sekali, suara tawanya rendah dan parau. Matanya berkilat-kilat senang karena kedispilinan yang diterapkannya dengan begitu kaku.
"Ah, Taehyung," ia mendesah, "Aku bisa saja meminta maaf tapi aku tidak menyesal."
"Dan aku seharusnya kecewa karena kau tidak menyesal, tapi aku tidak merasa begitu. Mungkin sebaiknya aku duduk saja di tempat tidur." Aku mengembuskan napas, kepalaku sedikit pening.
"Kalau menurutmu itu perlu..."
Aku menggeleng beberapa kali, berusaha menjernihkan pikiran, dan mengalihkan perhatian kembali ke komputer. Komputerku sudah panas dan mendengung sekarang. Well, mungkin lebih tepat disebut mengerang, bukan mendengung.
"Sampaikan salamku kepada ibumu."
"Tentu."
Mataku membaca cepat tulisan pada e-mail ibu, sesekali menggeleng saat membaca hal-hal konyol yang ia lakukan. Aku merasa terhibur sekaligus ngeri saat pertama kali membacanya. Sungguh khas ibuku, lupa bahwa ia mengidap fobia ketinggian dan baru ingat setelah tubuhnya dipasangi parasut serta terikat pada instruktur terjun payung. Aku merasa agak frustrasi dengan Phil, suami ibuku selama hampir dua tahun ini, karena mengizinkannya melakukan hal itu. Aku lebih bisa menjaga ibuku ketimbang dia. Aku mengenal ibuku luar dalam. Kau toh harus melepaskan mereka pada akhirnya, aku mengingatkan diri sendiri. Kau harus membiarkan mereka menjalani kehidupan sendiri...
Dengan darah masih berdesir keras di kepalaku setelah berciuman dengan Jungkook, terlintas dalam benakku kesalahan ibuku yang paling mengubah jalan hidupnya. Tolol dan romantis, ia langsung menikah begitu lulus SMA dengan laki-laki yang tidak begitu dikenalnya, lalu melahirkan aku setahun kemudian. Ia selalu berusaha meyakinkanku bahwa ia tak pernah menyesali keputusannya, bahwa aku anugerah terindah dalam hidupnya. Meski begitu ia tak henti-hentinya mencekokiku dengan nasihat bahwa orang pintar tidak menganggap pernikahan sebagai hal yang sepele. Orang-orang yang matang akan kuliah dan meniti karier dulu sebelum terlibat terlalu jauh dalam sebuah hubungan. Ibuku tahu aku takkan pernah sesembrono, seceroboh, dan sekonyol dia dulu.
Kugertakkan gigiku dan berusaha berkonsentrasi saat membalas e-mail-nya. Lalu aku sampai pada kalimat penghabisan di e-mail ibu dan teringat lagi kenapa aku menunda-nunda membalas email-nya.
Sudah lama kau tidak pernah cerita tentang J-Hope, tulisnya.
Apa saja kegiatannya belakangan ini?
Pasti disuruh ayah, aku mendesah dan mengetik dengan cepat, menyisipkanjawaban di antara dua paragraf yang tidak begitu sensitif.
[J-Hope baik-baik saja. Sepertinya. Aku jarang bertemudengannya: belakangan dia lebih sering main denganteman-temannyasendiri di La Push.]
Tersenyum-senyum kecut sendiri, aku menambahkan salam dari Jungkook, lalu mengklik tombol send. Aku tidak menyadari kehadiran Jungkook yang berdiri diam di belakangku sampai aku mematikan komputer dan mendorong kursiku menjauhi meja. Aku baru mau menegurnya karena diam-diam membaca suratku waktu aku menyadari ternyata ia tidak sedang memerhatikanku. Ia sedang mengamati kotak hitam dengan kabel melingkar-lingkar mencuat dari kotak utama yang kentara sekali tampak rusak. Sedetik kemudian baru aku mengenali benda itu sebagai stereo mobil yang dihadiahkan Jimin, Suga, dan Namjoon pada ulang tahun terakhirku dulu.
Aku sudah lupa sama sekali hadiah ulang tahun yang tersembunyi dibalik tumpukan debu yang semakin menggunung di dasar lemari itu.
"Kau apakan benda ini?" tanya Jungkook ngeri.
"Habis tidak mau dilepas dari dasbor."
"Jadi kau merasa perlu menyiksanya?"
"Aku kan tidak pandai menggunakan peralatan. Aku tidak sengaja melukainya."
Jungkook menggeleng, berlagak sedih seolah-olah menyaksikan tragedi. "Kau membunuhnya."
Aku mengangkat bahu. "Oh, well."
"Mereka pasti sakit hati kalau melihat ini," kata Jungkook. "Kurasa ada baiknya selama ini kau dihukum tidak boleh keluar rumah. Aku harus memasang stereo lain sebelum mereka menyadarinya."
"Gomawo, tapi aku tidak butuh stereo canggih."
"Aku menggantinya bukan demi kau." Aku mendesah.
"Ternyata kau tidak banyak memanfaatkan hadiah-hadiah ulang tahunmu tahun lalu," kata Jungkook kesal.
Tiba-tiba ia mengipasi dirinya dengan kertas persegi kaku. Aku tidak menyahut, takut suaraku bakal gemetar. Ulang tahun kedelapan belas yang menimbulkan malapetaka –dengan segala konsekuensinya– bukanlah peristiwa yang ingin kuingat-ingat, dan aku kaget Jungkook menyinggungnya. Padahal ia bahkan lebih sensitif mengenainya dibanding aku.
"Sadarkah kau, sebentar lagi masa berlakunya akan habis?" tanyanya, menyodorkan kertas itu kepadaku.
Ternyata itu hadiah lain –voucher tiket pesawat yang dihadiahkan Kyuhyun dan dokter Choi untukku agar aku bisa mengunjungi ibu di Florida. Aku menghela napas dalam-dalam dan menjawab datar,
"Tidak. Sebenarnya aku malah lupa sama sekali."
Ekspresi Jungkook tampak ceria dan positif tak ada secercah pun jejak emosi dalam suaranya saat ia melanjutkan kata-katanya.
"Well, kita masih punya sedikit waktu. Hukumanmu sudah dicabut... dan kita tidak punya rencana apa-apa akhir minggu ini, karena kau menolak pergi ke prom bersamaku." Jungkook tersenyum. "Kenapa tidak kira rayakan saja kebebasanmu dengan cara ini?"
Aku terkesiap. "Dengan pergi ke Florida?"
"Katamu tadi, asal masih dalam batas-batas Negara Amerika Serikat, kau dibolehkan."
Kupelototi dia, curiga, berusaha memahami dari mana ide ini berasal.
"Well?" desak Jungkook. "Kita akan pergi menemui ibumu atau tidak?"
"Ayah pasti tidak akan mengizinkan."
"Ayahmu tidak bisa melarangmu mengunjungi ibumu. Ibumu kan masih memiliki hak asuh utama."
"Tidak ada yang memiliki hak asuh atasku. Aku sudah dewasa."
Jungkook menyunggingkan senyum ceria. "Tepat sekali."
Aku memikirkannya sesaat sebelum memutuskan perjalanan itu tidak sebanding dengan keributan yang akan ditimbulkan. Ayah pasti bakal sangat marah –bukan karena aku akan mengunjungi ibu, tapi karena aku pergi bersama Jungkook. Bisa-bisa ayah akan mendiamkan aku berbulan-bulan, dan mungkin aku bakal dihukum lagi. Jauh lebih bijaksana untuk tidak mengungkitnya sama sekali. Mungkin beberapa minggu lagi, sebagai hadiah kelulusan atau semacamnya.
Tapi bayangan bertemu ibuku sekarang, bukan beberapa minggu dari sekarang, sungguh menggiurkan. Sudah lama sekali aku tidak bertemu ibu. Dan lebih lama lagi aku tidak bertemu dengannya dalam suasana menyenangkan. Terakhir kali aku bertemu dia di Phoenix, aku terkapar diranjang rumah sakit. Terakhir kali dia datang ke sini, bisa dibilang aku seperti mayat hidup. Benar-benar bukan kenangan menyenangkan.
Dan mungkin, kalau ibu melihat betapa bahagianya aku bersama Jungkook, dia akan menyuruh ayah rileks sedikit. Jungkook mengamati wajahku sementara aku menimbang-nimbang. Aku mendesah.
"Jangan akhir minggu ini."
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak mau bertengkar dengan ayah. Padahal dia baru saja memaafkan aku."
Alis Jungkook bertaut, "Menurutku akhir minggu ini justru pas sekali."
Aku menggeleng. "Lain kali saja."
"Bukan kau satu-satunya yang terperangkap di rumah ini, tahu."
Jungkook mengerutkan keningnya padaku. Kecurigaanku kembali muncul. Tidak biasanya Jungkook bersikap seperti ini. Selama ini ia sangat tidak egois.
"Kau bisa pergi ke mana pun kau mau." Tandasku.
"Dunia luar tidak menarik bagiku kalau tanpa kau."
Aku memutar bola mata mendengar pernyataannya yang hiperbolis.
"Aku serius," sergah Jungkook.
"Pelan-pelan saja dulu, oke? Misalnya, kita mulai dengan nonton film dulu di Port Angeles..."
Jungkook mengerang. "Sudahlah. Nanti saja kita bicarakan lagi."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
Jungkook mengangkat bahu.
"Oke, kalau begitu, topik baru," tukasku.
Aku sudah hampir melupakan kekhawatiranku siang tadi – itukah sebabnya Jungkook ngotot ingin kami pergi?
"Apa yang dilihat Jin saat makan siang tadi?"
Ekspresi Jungkook tetap tenang, matanya hanya sedikit mengeras.
"Beberapa kali dia melihat Namjoon ditempat aneh, di daerah barat daya sana, kalau tidak salah menurut Jin, dekat tempat mantan... keluarganya. Tapi Namjoon sendiri tidak berniat kembali ke sana." Jungkook mendesah. "Itu membuat Jin khawatir."
"Oh." Ternyata sama sekali tidak seperti dugaanku. Tapi tentu saja masuk akal bila Jin mengawasi masa depan Namjoon. Namjoon belahan jiwanya, pasangan sejatinya, walaupun mereka tidak se-flamboyan Suga dan Jimin dalam berhubungan.
"Kenapa kau tak menceritakannya padaku sebelumnya?"
"Aku tidak sadar kau ternyata memerhatikan," dalih Jungkook. "Bagaimanapun, mungkin itu tidak penting."
Menyedihkan, bagaimana imajinasiku begitu tak terkendali. Siang yang normal-normal saja kubuat sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah Jungkook mencoba menyembunyikan sesuatu dariku. Aku butuh terapi.
Kami turun ke bawah untuk mengerjakan PR, berjaga-jaga siapa tahu ayah pulang lebih cepat. Dalam beberapa menit Jungkook berhasil menyelesaikan PR-nya, sedangkan aku susah payah berkutat dengan kalkulus-ku sampai tiba waktunya memasak makan malam untuk ayah. Jungkook membantu, sesekali mengernyit melihat bahan-bahan mentah – makanan manusia sedikit menjijikkan baginya.
Aku membuat stroganoff dengan resep nenekku, karena aku ingin cari muka. Meski bukan termasuk makanan kesukaanku, tapi itu akan membuat ayah senang. Suasana hati ayah kelihatannya sedang bagus ketika dia sampai di rumah. Sikapnya bahkan tidak kasar kepada Jungkook. Seperti biasa, Jungkook tidak ikut makan dengan kami. Suara siaran berita malam terdengar dari ruang depan, tapi aku ragu Jungkook benar-benar menonton.
Setelah makan sampai tambah tiga kali, ayah mengangkat kedua kaki dan menumpangkannya ke kursi kosong, lalu melipat tangan dengan sikap puas di perutnya yang sedikit membuncit.
"Enak sekali, Taehyung."
"Aku senang ayah menyukainya. Bagaimana pekerjaan ayah?" Tadi ia begitu asyik makan sehingga tidak sempat ngobrol denganku.
"Agak sepi. Well, sepi sekali, malah. Aku lebih sering menghabiskan waktu bermain kartu bersama Mark," ayah mengaku sambil nyengir. "Aku menang, Sembilan belas lawan tujuh. Kemudian aku mengobrol di telepon sebentar dengan Billy."
Aku berusaha menunjukkan ekspresi yang sama. "Bagaimana keadaannya?"
"Baik, baik. Persendiannya agak kaku."
"Oh. Sayang sekali."
"Yeah. Dia mengundang kita ke rumahnya akhir pekan nanti. Katanya dia juga ingin mengundang keluarga Clearwater dan Dennis Oh. Yah, kumpul-kumpul sambil nonton pertandingan babak playoff."
"Hah," adalah respons geniusku. Habis, mau bilang apa lagi? Aku tahu aku tidak bakal diizinkan menghadiri pesta yang juga dihadiri werewolf, walaupun ada orangtua yang mengawasi. Aku jadi penasaran apakah Jungkook keberatan ayah pergi ke La Push. Atau apakah dia akan merasa bahwa, berhubung ayah lebih banyak nongkrong dengan Billy, yang manusia biasa, maka ayahku tidak bakal terancam bahaya?
Aku bangkit dan menumpuk piring-piring kotor tanpa memandang ayah. Kuletakkan semua piring itu ke bak cuci, lalu mulai menyalakan air. Jungkook muncul tanpa suara dan menyambar lap piring. Ayah mendesah dan menyerah untuk sementara ini, walaupun aku yakin ia akan mengungkit lagi topik itu saat kami hanya berdua. Ia bangkit dengan susah payah lalu beranjak menuju televisi, seperti kebiasaannya setiap malam.
"Sir," panggil Jungkook dengan nada mengajak mengobrol.
Ayah berhenti di tengah-tengah dapurnya yang kecil. "Yeah?"
"Apakah Taehyung pernah bercerita orangtuaku memberinya tiket pesawat pada hari ulang tahunnya yang terakhir, agar dia bisa mengunjungi ibunya?"
Piring yang sedang kugosok langsung lepas dari pegangan. Benda itu mental ke konter dan jatuh ke lantai dengan suara berdentang. Piring itu tidak pecah, tapi air bersabun memercik ke seluruh ruangan, menciprati kami bertiga. Ayah bahkan seolah-olah tidak menyadarinya.
"Taehyung?" tanyanya tercengang.
Mataku tetap tertuju ke piring saat aku memungutnya. "Yeah, benar."
Ayah meneguk ludah dengan suara nyaring, kemudian matanya menyipit saat memandang Jungkook kembali.
"Tidak, dia belum pernah cerita."
"Hmm," gumam Jungkook.
"Ada alasan kenapa kau mengungkitnya?" tanya ayah, suaranya lantang.
Jungkook mengangkat bahu. "Tiket-tiket itu sudah hamper kedaluwarsa. Kurasa eomma akan sakit hati kalau Taehyung tidak memanfaatkan hadiahnya. Walaupun dia tidak akan mengatakan apa-apa." Kutatap Jungkook dengan raut tak percaya.
Ayah berpikir sebentar, "Mungkin ada bagusnya juga kau mengunjungi ibumu, Tae. Ibumu pasti senang sekali. Tapi heran juga kau tidak pernah menceritakannya padaku."
"Aku lupa," aku mengakui.
Kening ayah berkerut. "Kau lupa ada orang memberimu tiket pesawat?"
"Mmm," gumamku samar-samar, lalu berbalik menghadapi bak cuci lagi.
"Tadi kau bilang tiket-tiket itu hampir kedaluarsa, Jungkook," sambung ayah. "Memangnya orangtuamu memberi Taehyung berapa tiket?"
"Hanya satu untuknya... dan satu untukku."
Sekali ini piring yang kupegang terlepas dan mendarat di bak cuci, jadi tidak terlalu berisik. Dengan mudah aku bias mendengar dengus tajam keluar dari mulut ayahku. Darah menyembur deras ke wajahku, dipicu perasaan kesal dan kecewa. Kenapa Jungkook nekat melakukannya? Dengan garang kupandangi busa sabun dalam bak cuci, panik.
"Tidak boleh!" raung ayah marah, meneriakkan kata-kata itu.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Jungkook, suaranya sarat keterkejutan yang lugu. "Kata Anda tadi, ada baiknya Taehyung mengunjungi ibunya."
Ayah tak menggubris kata-kata Jungkook. "Kau tidak boleh pergi ke mana pun dengan dia!" pekiknya.
Aku berbalik secepat kilat dan ayah menuding-nuding wajahku dengan jarinya. Otomatis amarahku langsung naik ke ubun-ubun, itu reaksi naluriah mendengar nada suara ayah.
"Aku bukan anak kecil, Dad. Dan aku sudah tidak dihukum lagi, ingat?"
"Oh ya, kau masih dihukum. Mulai sekarang."
"Karena apa?!"
"Karena kubilang begitu."
"Apa perlu kuingatkan bahwa secara hukum aku sudah dewasa?" .
"Ini rumahku – kau harus ikut peraturanku!"
Tatapan garangku berubah dingin. "Kalau memang itu yang Dad mau. Dad ingin aku angkat kaki malam ini juga? Atau aku mendapat kesempatan beberapa hari untuk berkemas-kemas?"
Wajah ayah merah padam. Aku langsung merasa tidak enak karena memainkan kartu as "pindah" itu. Aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha terdengar lebih lunak.
"Aku menjalankan hukumanku tanpa mengeluh kalau aku memang melakukan kesalahan, tapi aku tidak mau menolerir prasangka-prasangka ayah." ayah menggerutu tidak jelas.
"Nah, ayah tahu aku berhak mengunjungi eomma pada akhir pekan. Ayah pasti tidak keberatan dengan rencana itu kalau aku pergi bersama Jin atau Jessica. Apakah ayah keberatan kalau aku mengajak J-Hope?"
Aku sengaja menyebut nama itu karena tahu ayahku menyukai J-Hope, tapi dengan segera aku menyesalinya; rahang Jungkook terkatup rapat dengan suara nyaring. Ayahku berusaha keras mengendalikan emosinya sebelum menjawab. "Ya" sahutnya, nadanya tidak meyakinkan. "Aku pasti keberatan."
"Kau tidak pintar berbohong, Dad."
"Taehyung..."
"Aku bukan mau ke Vegas untuk menjadi artis panggung atau semacamnya. Aku mau mengunjungi eomma," aku mengingatkannya. "Ibu juga punya otoritas sebagai orangtua, sama seperti ayah."
Ayah melayangkan pandangan merendahkan.
"Jadi maksud ayah, eomma tidak mampu menjagaku, begitu?"
Ayah tersentak mendengar ancaman implisit dalam pertanyaanku.
"Dad berdoa saja aku tidak mengadukannya padanya," sergahku.
"Awas kalau kau mengadu padanya," ayah memperingatkan, "Aku tidak menyukai rencana ini, Taehyung."
"Tak ada alasan bagi ayah untuk marah."
Ayah memutar bola matanya, tapi kentara sekali badai sudah berlalu. Aku berbalik untuk mencabut sumbat bak cuci piring.
"Jadi, PR-ku sudah selesai, makan malam ayah sudah selesai, piring-piring juga sudah selesai dicuci, dan aku sudah tidak dihukum lagi. Aku mau keluar. Aku akan pulang sebelum setengah sebelas."
"Mau ke mana kau?" Wajah ayah, yang hamper kembali normal, berubah merah lagi.
"Tidak tahu," aku mengakui. "Tapi tidak jauh-jauh dari sekitar sini. Oke?"
Ayah menggerutu, kedengarannya tidak setuju, lalu menghambur keluar ruangan. Seperti biasa, begitu memenangkan perdebatan, aku langsung merasa bersalah.
"Kita mau pergi?" tanya Jungkook, suaranya pelan tapi antusias.
Aku berpaling dan memelototinya. "Ya. Rasanya aku ingin bicara denganmu sendirian."
Jungkook tidak terlihat khawatir seperti yang kukira akan ia rasakan. Kutunggu sampai kami aman berada dalam mobilnya.
"Apa-apaan itu tadi?" tunturku,
"Aku tahu kau ingin bertemu ibumu, Taehyung – selama ini kau mengigau terus menyebut-nyebut namanya. Mengkhawatirkannya, sebenarnya."
"Ah, masa?"
Jungkook mengangguk. "Tapi jelas kau terlalu pengecut untuk menghadapi ayahmu, jadi aku terpaksa menengahi demi kau."
"Menengahi? Kau mengumpankan aku ke hiu!"
Jungkook memutar bola matanya. "Menurutku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Aku kan sudah bilang tidak mau bertengkar dengan ayah."
"Tidak ada yang bilang kau harus."
Aku melotot memandanginya. "Aku tak bisa mengendalikan emosi kalau ayah mulai mengatur-atur seperti itu – naluri remajaku secara alami langsung menguasaiku."
Jungkook terkekeh. "Well, itu bukan salahku."
Aku menatapnya, berspekulasi. Jungkook kelihatannya tidak menyadarinya. Wajahnya tampak tenang saat memandang ke luar jendela. Ada yang aneh, tapi aku tak bisa menerka apa gerangan. Atau mungkin itu hanya khayalanku yang kelewat liar seperti sore tadi.
"Apakah keinginan pergi ke Florida yang mendadak ini ada hubungannya dengan pesta yang akan diselenggarakan di rumah Billy?"
Dagu Jungkook mengeras. "Sama sekali tidak. Tidak masalah apakah kau ada di sini atau di bagian dunia lain, kau tetap tidak akan pergi."
Sama seperti ayah memperlakukanku tadi –diperlakukan seperti anak nakal-. Kugertakkan rahangku kuat-kuat supaya tidak berteriak. Aku tak mau bertengkar dengan Jungkook juga. Jungkook mendesah, dan ketika berbicara, suaranya kembali hangat dan sehalus beledu.
"Jadi apa yang ingin kau lakukan malam ini?" tanyanya.
"Bisakah kita ke rumahmu? Aku sudah lama sekali tidak bertemu Kyuhyun."
Jungkook tersenyum. "Dia pasti senang. Apalagi kalau mendengar apa yang akan kita lakukan akhir minggu ini."
Aku mengerang kalah.
.
.
.
.
.
.
.
Kami tidak pulang terlalu malam, seperti kataku tadi. Aku tak heran melihat lampu-lampu masih menyala waktu kami berhenti didepan rumah –aku sudah mengira ayah bakal menungguku pulang untuk memarahiku lagi.
"Sebaiknya kau tidak usah masuk." karaku. "Itu hanya akan membuat keadaan bertambah parah."
"Pikirannya relatif tenang," goda Jungkook. Ekspresinya membuatku bertanya-tanya apakah ada lelucon di baliknya yang terlewat olehku. Sudut-sudut mulutnya bergetar, menahan senyum.
"Sampai ketemu nanti," gumamku muram.
Jungkook tertawa dan mengecup ubun-ubunku. "Aku kembali lagi nanti setelah Charlie mendengkur."
Televisi dinyalakan dengan suara keras waktu aku masuk ke rumah. Aku sempat menimbang-nimbang untuk menyelinap melewati ayah.
"Bisa ke sini sebentar, Tae" panggil ayah, membuyarkan rencanaku.
Aku menyeret kakiku saat berjalan lima langkah menuju ke sana.
"Ada apa, Dad?"
"Malammu menyenangkan?" tanyanya.
Kelihatannya suasana hati ayah sedang bagus. Aku mencari makna di balik kata-katanya sebelum menjawab.
"Ya," jawabku ragu-ragu.
"Apa yang kau lakukan tadi?"
Aku mengangkat bahu. "Nongkrong dengan Jin dan Namjoon. Jungkook mengalahkan Jin main catur, kemudian aku main dengan Namjoon. Dia membantaiku habis-habisan."
Aku tersenyum. Jungkook dan Jin main catur adalah salah satu hal terlucu yang pernah kulihat. Mereka duduk diam, nyaris tak bergerak, menekuni papan catur, sementara Jin melihat langkah-langkah yang akan diambil Jungkook, lalu Jungkook membalas dengan memilih langkah-langkah yang akan dimainkan Jin langsung dari pikirannya. Mereka memainkan permainan itu lebih banyak dengan pikiran. Ayah menekan tombol mute – itu bukan hal yang lazim ia lakukan.
"Begini, ada yang perlu kusampaikan." ayah mengerutkan kening, tampak sangat jengah. Aku duduk diam, menunggu. Ayah menatap mataku sejenak sebelum mengalihkan matanya ke lantai. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Apa itu, Dad?"
Ayah mendesah. "Aku kurang pandai dalam urusan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana memulainya..."
Aku menunggu lagi.
"Oke, Taehyung. Masalahnya begini," ayah bangkit dari sofa dan mulai mondar-mandir sepanjang ruangan, kepalanya terus tertunduk.
"Kau dan Jungkook sepertinya sangat serius, dan ada beberapa hal yang perlu kau waspadai. Aku tahu kau sudah dewasa sekarang, tapi kau masih muda, Taehyung, dan ada banyak hal penting yang harus kauketahui bila kau... well, bila kau terlibat secara fisik dengan..."
"Oh, please, please jangan!" pintaku, melompat berdiri.
"Please, jangan bilang ayah mau mengajakku bicara tentang seks."
Ayah memelototi lantai. "Aku ayahmu. Aku punya tanggung jawab. Ingat, aku sama malunya denganmu."
"Kurasa secara manusia itu tidak mungkin. lagi pula, eomma sudah mendahului ayah bicara soal ini sepuluh tahun lalu. jadi ayah sudah tidak punya kewajiban lagi."
"Sepuluh tahun lalu kau tidak punya pacar," gerutu ayah.
Kentara sekali ia berjuang melawan keinginannya untuk menyudahi topik ini. Kami sama-sama berdiri, menunduk memandangi lantai, dan saling memunggungi.
"Kurasa esensinya belum banyak berubah," gumamku, wajahku pasti semerah wajahnya.
Benar-benar di luar perkiraan; bahkan lebih parahnya lagi, Jungkook tahu ini bakal terjadi. Pantas ia terlihat begitu geli di mobil tadi.
"Katakan saja padaku kalian akan bersikap penuh tanggung jawab," pinta ayah, jelas-jelas berharap sebuah lubang bakal menganga di lantai supaya ia bisa melompat ke dalamnya.
"Jangan khawatir soal itu, hubungan kami tidak seperti itu."
"Bukan berarti aku tidak memercayaimu, Tae. Aku tahu kau tidak ingin bercerita apa-apa padaku soal ini, dan kau tahu aku tidak benar-benar ingin mendengarnya. Tapi akan kucoba untuk berpikiran terbuka. Aku tahu zaman telah berubah."
Aku tertawa canggung. "Mungkin zaman memang sudah berubah, tapi Jungkook orangnya sangat kuno. Jadi Dad tidak perlu khawatir."
Ayah mendesah. "Hah, yang benar saja." gerutunya.
"Ugh!" erangku. "Kalau saja ayah tidak memaksaku mengakuinya terang-terangan. Sungguh. Tapi... aku belum pernah melakukan hal yang ayah pikirkan dengan Jungkook. Jungkook menjagaku dengan baik."
Wajah ayah kembali tenang. Kelihatannya ia percaya padaku.
"Boleh aku tidur sekarang. Please."
"Sebentar lagi," kata ayah.
"Aduh, please, Dad? Kumohon."
"Bagian yang memalukan sudah lewat, aku janji," Ayah meyakinkanku.
Aku menatap ayah, dan bersyukur melihatnya tampak lebih rileks, wajahnya sudah kembali ke warna aslinya. Ayahku menghenyakkan tubuh ke sofa, mengembuskan napas lega karena tak perlu lagi membicarakan soal seks.
"Apa lagi sekarang?"
"Aku hanya ingin tahu perkembangan soal keseimbangan itu."
"Oh. Bagus, kurasa. Tadi aku janjian dengan Angela. Aku akan membantunya menulis surat pemberitahuan kelulusan."
"Bagus sekali. Iantas bagaimana dengan J-Hope?"
Aku mendesah. "Soal yang satu itu, aku belum menemukan pemecahannya, Dad."
"Teruslah berusaha, Taehyung. Aku tahu kau akan melakukan hal yang benar. Kau anak baik."
Baik. Jadi kalau aku tidak menemukan solusi untuk membereskan masalahku dengan J-Hope, berarti aku bukan anak yang baik? Sungguh tidak bisa diterima.
"Tentu, tentu." aku menyetujui. Respons otomatis itu nyaris membuatku tersenyum – itu kebiasaan yang ditularkan J-Hope padaku. Aku bahkan mengucapkannya dengan nada meremehkan seperti yang digunakan J-Hope pada ayahnya sendiri.
Ayah nyengir dan menghidupkan lagi suara TV. Ia duduk merosot di bantal-bantal kursi, puas dengan hasil kerjanya malam ini. Kentara sekali ia akan asyik menonton pertandingan selama beberapa waktu.
"'Malam, Taehyung."
"Sampai besok pagi!" Aku cepat-cepat kabur menaiki tangga.
Jungkook sudah lama pergi dan tidak akan kembali sebelum ayah tertidur – mungkin sekarang ini ia sedang berburu atau semacamnya untuk menghabiskan waktu – jadi aku tidak tergesa-gesa berganti baju untuk tidur. Aku sedang tidak ingin sendirian, tapi aku juga malas turun untuk mengobrol dengan ayahku, karena jangan-jangan ada topik tentang pendidikan seks yang belum sempat diungkitnya tadi; aku bergidik.
Jadi, gara-gara ayah, aku gelisah seperti cacing kepanasan. PR-ku sudah selesai dan aku sedang tidak ingin membaca atau sekadar mendengarkan musik. Aku menimbang-nimbang untuk menelepon eomma untuk mengabarkan kedatanganku, tapi kemudian aku sadar di Florida tiga jam lebih cepat daripada di sini, jadi ia pasti sudah tidur.
Mungkin aku bisa menelepon Angela. Tapi tiba-tiba aku tahu, sebenarnya bukan Angela yang ingin kuajak ngobrol. Bukan dia yang perlu kuajak ngobrol. Aku memandangi jendela kamar yang hitam kosong sambil menggigit bibir. Entah berapa lama aku berdiri disana, menimbang-nimbang pro dan kontra pergi ke sana –melakukan hal yang benar menurut J-Hope, bertemu teman terdekatku lagi, menjadi orang baik, versus membuat Jungkook marah padaku.
Sepuluh menit mungkin. Pokoknya cukup lama untuk memutuskan bahwa hal-hal yang pro memiliki dasar yang kuat, sementara hal yang kontra tidak. Jungkook hanya memikirkan keselamatanku, dan aku tahu sebenarnya tak ada masalah dalam hal itu. Telepon sama sekali tidak membantu; J-Hope menolak menerima telepon dariku sejak Jungkook kembali. lagi pula, aku perlu bertemu dengannya – melihatnya tersenyum lagi seperti dulu. Aku perlu menggantikan kenangan buruk terakhir berupa wajahnya yang berkerut sedih, kalau aku ingin pikiranku tenang kembali.
Mungkin aku punya waktu satu jam. Aku bisa bergegas pergi ke La Push dan kembali sebelum Jungkook menyadari aku pergi ke sana. Sebenarnya sekarang sudah lewat jam malamku, tapi mungkin ayah tidak keberatan, karena toh ini tidak melibatkan Jungkook? Hanya ada saru cara untuk mengetahuinya.
Kusambar jaket ku dan kujejalkan kedua tanganku ke lengannya sambil berlari menuruni tangga. Ayah mendongak dari keasyikannya nonton pertandingan, serta-merta langsung curiga.
"Dad tidak keberatan kan, kalau aku pergi menemui J-Hope malam ini?" tanyaku, napasku terengah-engah. "Tidak lama kok."
Begitu aku menyebut nama J-Hope, ekspresi ayah langsung berubah rileks, senyum kemenangan tersungging di wajahnya. Kelihatannya ia sama sekali tidak terkejut khotbahnya memberi hasil begitu cepat.
"Tentu boleh, Nak. Bukan masalah. Pulanglah jam berapa pun kau suka."
"Terima kasih, Dad," seruku sambil menghambur keluar pintu. Seperti buronan, aku bolak-balik menoleh ke belakang saat berlari-lari kecil menuju truk, tapi malam sangat gelap, jadi percuma saja berbuat begitu. Aku bahkan harus meraba-raba di sepanjang sisi truk untuk menemukan handel pintu. Mataku baru mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan saat aku menjejalkan kunciku ke lubang kunci.
Kuputar keras-keras ke kiri, tapi bukannya mendengar bunyi mesin meraung memekakkan telinga, mesin mobil hanya berbunyi klik. Kucoba sekali lagi, hasilnya sama saja. Kemudian, gerakan kecil di sudut mata membuatku melompat kaget.
"Astaga!" aku terkesiap sewaktu menyadari ternyata aku tidak sendirian di dalam truk.
Jungkook duduk diam tak bergerak, sosoknya berupa titik terang samar di tengah kegelapan. Hanya tangannya yang bergerak saat ia memutar-mutar sebuah benda hitam misterius. Dipandanginya benda itu sambil bicara.
"Jin menelepon," gumamnya.
Jin! Sial. Aku lupa memperhitungkannya dalam rencanaku. Jungkook pasti menyuruhnya mengawasiku.
"Dia cemas saat masa depanmu tiba-tiba lenyap lima menit yang lalu."
Mataku, yang sudah membeliak lebar karena kaget, membelalak semakin lebar.
"Karena dia tidak bisa melihat serigala-serigala itu, kau tahu," Jungkook menjelaskan dengan gumaman pelan yang sama.
"Apa kau sudah lupa itu? Saat kau memutuskan meleburkan takdirmu dengan mereka, kau juga lenyap. Kau tidak mungkin tahu itu aku tersadar. Tapi bisakah kau memahami, mengapa itu membuatku agak... cemas? Jin melihatmu menghilang, dan dia bahkan tidak bisa melihat apakah kau sudah pulang atau belum. Masa depanmu lenyap, sama seperti mereka."
"Kami tidak tahu persis kenapa seperti itu keadaannya. Apakah itu sistem pertahanan diri alamiah yang mereka bawa sejak lahir?"
Jungkook seolah bicara kepada dirinya sendiri sekarang, sambil terus memandangi bagian mesin mobilku yang diputar-putarnya di tangan.
"Sepertinya tak sepenuhnya begitu, karena aku tetap bisa membaca pikiran mereka. Setidaknya pikiran keluarga Black. Appa berteori itu karena kehidupan mereka sangat diatur transformasi mereka. Lebih merupakan reaksi tidak sengaja daripada sebuah keputusan. Sangat tidak bisa ditebak, dan itu mengubah segalanya mengenai mereka. Detik itu juga, saat mereka berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, mereka bahkan tidak benar-benar ada. Masa depan tidak bias memegang mereka..."
Aku mendengarkan pemikiran Jungkook itu sambil diam membisu.
"Aku akan membetulkan lagi mobilmu sebelum berangkat sekolah, untuk berjaga-jaga siapa tahu kau mau menyetir sendiri." Jungkook meyakinkanku sejurus kemudian.
Dengan bibir terkatup rapat kucabut kembali kunciku dan dengan kaku turun dari mobil.
"Tutup jendelamu kalau kau tidak ingin aku datang malam ini. Aku bisa mengerti," bisik Jungkook, tepat sebelum aku membanting pintu.
Aku menghambur masuk sambil mengentak-entakkan kaki, lalu membanting pintu rumah sekalian.
"Ada apa?" tanya ayah dari sofa.
"Truk ku ngadat," geramku.
"Mau kucek?"
"Tidak. Akan kucoba lagi besok pagi."
"Mau pakai mobilku?"
Padahal aku tidak boleh menyetir mobil polisi. ayah pastilah sangat bernafsu ingin agar aku ke La Push. Hampir sama bernafsunya seperti aku.
"Tidak, aku capek,"gerutuku. "malam"
Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah kesal, langsung menghampiri jendela kamarku. Kudorong daun jendela yang bingkainya dari logam – jendela itu menutup dengan suara keras hingga kaca-kacanya bergetar. Lama sekali aku hanya diam memandangi kaca hitam yang bergetar itu, hingga hatiku tenang lagi. Ialu aku mendesah, dan membuka kembali jendela itu selebar-lebarnya.
Pada kenyataannya, sekesal apapun, semarah apapun aku pada Jungkook.
Aku tidak bisa berjauhan dengannya. Karena aku membutuhkannya lebih dari apa yang kupikirkan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Akhirnya update juga chapter duaaa... semoga tidak ada yg lupa sama jalan ceritanya..
Greget pengen cepet2 selesain series ini, Cuma apalah daya kalo real life serang menyita waktuku.. T.T
Oh yaa, terima kasih kemarin ada yg menjelaskan soal sinuitis (?) sekarang sudah sembuh pileknya jadi gak sakit lagiiii...
Terima kasih juga sama yg udah beri doa ...
Semoga chapter ini tidak mengecewakan...
Sampai jumpa di chapter berikutnyaaa...
Maaf kalau ada typo yaaa...
