Hi, everyone!
Bagaimana hari kalian? Anne agak capek dan sedikit nggak enak badan, nih. Maaf, ya, sebenarnya kemarin harus update, tapi Anne lemes banget. Jadi nggak bisa ngetik banyak. Hari ini, Anne juga agak sibuk, soalnya Anne lagi main ke sekolah SMA Anne. Dan itu sangat melelahkan. Baiklah, tapi untuk kali ini, Anne bisa juga untuk update chapter ke 2. Ada yang nunggu?
Yeaahhh.. sebelumnya Anne ucapkan terima kasih untuk kalian semua yang review. Terima kasih responnya, Anne jadi makin semngat buat lanjut fic ini samai selesai. Maaf nggak bisa balas satu-satu, badan Anne masih capek. Tapi tenang saja, Anne sudah baca semua. Cuma Anne akan konfirmasi dulu untuk pertanyaan yang katanya gagal paham, ya, maaf, ya.. Anne baru ngeh kalau ada perpindahan setting waktu yang belum Anne perjelas. Pada bagian dialog Ron soal berita di Daily Propeth sebenarnya masuk set waktu baru. Harusnya ada garis pembatas. Dan Anne lupa kasih. So, sekarang sudah Anne perbaiki, ya. Thanks sudah dikoreksi. Baiklah.. langsung saja, ya.
Happy reading!
"Ginny harus pulang ke rumahnya, dia punya keluarga, anak-anaknya butuh dia!"
"Tapi Ginny lupa semuanya. Dia tidak ingat dirinya saat ini, Arthur. Itu akan membuatnya semakin tertekan!"
Ginny meringkuk sendirian di salah satu sofa The Burrow. Ia sudah diperbolehkan pulang sore ini. Namun karena banyaknya wartawan yang berkumpul untuk mendapatkan informasi terbaru tentang Ginny, pihak St. Mungo membantu memberikan jalur perapian darurat agar para wartawan tidak mengetahui kepulangan mereka.
Hasil pemeriksaan kepala Ginny ternyata positif, sebagian memorinya hilang. Tidak begitu parah. Menurut healer Audy, ingatan Ginny tidak berfungsi hanya di kurun waktu lima tahun kebelakang. Semuanya hilang. Namun yang menjadi masalah saat ini, sepanjang waktu yang dilupakan Ginny adalah di mana masa-masa ia memulai kehidupan barunya bersama Harry. Sempurna, ia tak mengingat Harry adalah suaminya, apalagi ketiga bocah yang sampai Ginny dipulangkan dari St. Mungo, belum dipertemukan lagi dengannya.
"James, Al, bahkan Lily masih sangat membutuhkan ibunya, Molly." Arthur beradu argumen dengan sang istri ketika Ginny tidak banyak berbicara sejak ia datang di The Burrow.
Molly kembali menenggak air di gelas ketiganya. Stress selalu membuatnya kehausan. "Tapi—"
"Molly, kau juga seorang ibu, kan? Punya naluri seorang ibu. Siapa tahu, ketika Ginny melihat anak-anaknya, ingatannya—"
Harry datang membuyarkan segala konsentrasi Ginny pada pembicaraan orang tuanya. Pria berkacamata itu membawakan sebuah gelas yang mengeluarkan asap hangat. "Coklat panas, pelan-pelan minumnya," katanya.
Dengan tangan bergetar, Ginny menerima cangkir berwarna merah itu dari tangan Harry lantas meminum isinya perlahan. "Kalau kau belum nyaman, tak apa. Kau bisa tinggal di sini—"
"No, aku ikut denganmu, Harry. Mungkin aku bisa mencoba mengingat kembali. Semuanya." Potong Ginny. Ia tersenyum dipaksa.
"Tapi—kau yakin?"
Ginny mengangguk pelan, "bantu aku mengingat semuanya."
Perapian rumah keluarga Potter mengeluarkan suara meletup. Kedua balita laki-laki yang duduk nyaman di depan televisi terkejut hingga saling pandang. Suara dua orang dewasa selanjutnya terdengar. Merasa yakin, salah satu dari mereka langsung berteriak.
"Daddy! Mummy!"
Berlarilah dua anak itu ke arah ruang tengah saling bersalipan. Anak yang paling tinggi lebih dahulu melesat cepat dan meninggalkan dia yang lebih kecil di belakangnya. "Itu benar Daddy dan Mummy!" kata si tinggi.
"Hey, boys!" Harry menangkap James, yang lebih dulu sampai padanya, disusul oleh Al di belakangnya. Mereka saling berpelukan.
"Daddy, kok, lama sekali? Aku dan Al sampai mengantuk menunggu Daddy—ah Mummy!"
Leher Ginny tercekat. Ia menatap takut pada dua anak yang tiba-tiba berteriak bahagia di depannya. "Mummy?" kata Ginny.
"Mummy! Kau kenapa? Kata Uncle George kau sakit, ya? Mana yang sakit?" James meminta dilepaskan dari pelukan sang ayah, ia langsung menuju pada sang ibu. James memeluk pinggul Ginny dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.
"Aa—ahh," Ginny tergagap. Ia tak mengenal James. "Kau—"
"Ah, James." Harry memotong cepat. "Ini sudah malam, nak. Ayo, tidur. Katanya tadi kau ngantuk?" tanyanya dengan jiwa seorang ayah yang tulus.
Harry menarik tangan kiri James kembali menghadap ke dirinya. Ia tahu, Ginny tidak merasa nyaman dengan penyambutan ini. Semua itu terlalu cepat. "Mummy butuh istirahat, sayang. Daddy temani tidur, ya! Kalian pilih sendiri buku cerita dan di kamar siapa. Boleh?" bujuk Harry mengalihkan perhatian keduanya.
"Kamarku.. kamarku!" teriak Al dengan bahasa yang susah.
James mengangguk setuju. "Ceritanya tentang Pinokio, ya, Daddy!" usulnya. Tangannya memainkan hidung mancungnya ke depan.
"Boleh, tapi kalian sikat gigi dulu, ya, sama Uncle George, Daddy mau siapkan piama kalian dulu." Pesan Harry.
Sejenak kemudian, seorang pria jangkung datang dari arah tangga menyapa ramah Harry dan kedua putranya. Rambut merahnya begitu kentara bagi Harry, apalagi Ginny. "George?" panggil Ginny pelan. Ia tahu itu kakaknya.
"Hay, Gin. Selamat datang kembali. Kau istirahatlah, biar dua anak ini aku bantu urus. Ayo, boys. Kita buang semua kotoran di gigi kalian. Mau? Uncle punya sikat gigi pembersih berkepala beruang yang lucu untuk kalian!" George mengeluarkan dua buah sikat gigi anak lucu dengan ujung pegangan sikatnya berbentuk kepala beruang. Warnanya coklat dengan pita melingkar di bagian kepalanya.
Harry mendelik cepat ketika Al lebih dulu meraih satu sikat dari tangan George. "Aman?" tanya Harry khawatir. Ia takut jika sikat itu berbahaya untuk kedua putranya.
"Tenang, Daddy Harry. Ini aku beli di toko Muggle, kok. Aku juga beli dua lagi, untuk Fred dan aku." kata George girang, ia mengendong Al dan James sekaligus di kanan dan kiri tangannya. Membuat kedua Potter kecil itu terkikik senang.
George sudah bergegas jauh ke kamar mandi. Harry tertawa pelan di sisi Ginny. Matanya sempat mengekor ke arah sang istri. "Istirahat di kamar, yuk!" ajak Harry. Ginny dituntun perlahan ke kamar mereka. "Itu kamarnya, ke sanalah. Aku mau ke kamar anak-anak dulu mengambil piama mereka." kata Harry. Ginny hanya mengangguk di ujung tangga.
Punggung tegas Harry begitu menarik perhatian Ginny. Pria yang memang ia cintai sejak kanak-kanan, menjadi kekasihnya, dengan tanpa ia sadari kini pria itu telah menjadi suaminya. Suami. Bukan kekasih. "Kenapa aku bisa melupakannya? Oh, God!" pekik Ginny kesal.
"Maafkan aku, Harry. Aku akan berusaha mengingatmu lagi."
Di sepanjang jalan menuju kamar yang ditunjukkan Harry, Ginny memilih menunduk sambil memikirkan apa jadinya jika ia tetap tidak mengingat semuanya. Walaupun ia mencintai Harry, saat ini kondisinya berbeda. Harry bukan kekasihnya, Harry suaminya. "Ini berbeda, aku harus bagaimana sekarang?" batin Ginny ketakutan.
"Ginny?"
Seorang wanita berkulit gelap keluar dari salah satu kamar di sisi kamarnya. Angelina, ia tahu dia adalah kakak iparnya. "Hai," sapanya pelan. Pandangannya tertuju pada makhluk kecil di pelukan Angelina.
Ginny menunjuk ketakutan, "siapa?"
Angelina tersenyum sembari mendekati Ginny. Pelan-pelan, ia mendekatkan gadis kecil berambut merah yang tengah tertidur di pelukannya. "Bayimu?" ulang Ginny karena tak mendapatkan jawaban dari Angelina.
"Gendonglah, Gin!"
Perlahan, Ginny mengambil alih anak yang sedari tadi digendong oleh Angelina. Matanya terpejam rapat. Dada Ginny bergetar ketika kepala anak itu bersandar lemas di pundaknya. Ia kecil di pelukan Ginny. Angelina tampak lega ketika ia berhasil mendekatkan Lily pada sang ibu. Ya, Lily, putri bungsu Ginny dan Harry.
"Kau sudah bersama Mummy, sayang." Bisik Angelina pada Lily.
"Mummy?" Ginny melihat wajah Lily sekali lagi. Ia baru tersadar, Lily sangat mirip dengannya. Kecil, berambut merah dengan bibir mungil berwarna merah ceri. Namun hidunya sangat Ginny kenal. Mirip dengan hidung Harry.
Angelina membenarkan posisi tangan Lily yang terkulai di lengan Ginny. Ia memandang Ginny kasihan, "dia putrimu, Ginny. Usianya baru empat bulan, jadi hati-hati menggendongnya." Ujar Angelina.
"Lily?" tanya Ginny.
"Benar, kau ingat?"
"Aku mendengar dari Mum dan Dad di The Burrow. Mereka menyebut nama-nama seperti James, Al, Lily. Mereka—"
"Anak-anakmu, ya.. Anak-anakmu dan Harry. Kau pasti sudah bertemu mereka, kan?"
Lily terusik dalam tidurnya. Cepat-cepat Angelina mengusap pelan punggung kecil Lily sambil bergumam pelan mencoba menenangkan. "Iya," jawab Ginny seperti berbisik. Takut Lily kembali terbangun.
Melihat perubahan ekspresi Ginny, Angelina berbisik, "kau akan baik-baik saja, Ginny. Percayalah. Kau pasti bisa melalui cobaanmu ini. Harry akan selalu bersamamu. Dia pria yang baik." Katanya.
Angelina meninggalkan Ginny sendirian setelah mengatakan itu. Ginny terus mencoba menggali ingatannya dengan Lily. Nyaman, rasa yang tiba-tiba datang ketika tubuhnya memeluk tubuh kecil Lily. Tapi hatinya, ia masih takut. Rasa nyaman itu tak sejalan dengan keinginannya sadar bahwa gadis kecil itu adalah putrinya sendiri. Ginny tak menemukan ingatannya.
"Hey, kau masih di sini? Oh—"
Harry memanggilnya dari belakang. "Angelina dan George sudah pulang. Al dan James juga sudah tertidur. Dan.. Lily?"
"Sudah tidur, em.. aku bingung, di mana kamar Li—"
"Di sana, di samping kamar kita. Tapi, sudahlah," Harry mengambil alih Lily dari gendongan Ginny dan membawanya masuk ke kamar. "Biar aku yang mengantar ke kamarnya. Kau masuk saja, ganti bajumu dan tidur. Piamamu ada di dalam lemari sisi meja rias."
Belum sempat Ginny mengucapkan terima kasih, Harry sudah berlalu masuk ke kamar Lily.
Ginny terbangun dengan napas terengah-engah. Ia mimpi buruk. Dalam mimpinya, Ginny melihat ada empat orang yang meninggalkannya sendirian di dalam sebuah ruangan gelap. Ia tidak tahu siapa, hanya saja, ia melihat seorang pria yang mengandeng tiga orang anak kecil. Itu Harry.
"Harry?" Ginny memeluk selimutnya erat ketika menyadari Harry tertidur pulas di sisinya. Mereka berbaring bersama dalam satu ranjang yang sama. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya menelisik lengkap ke seluruh bagian tubuh. Piama berwarna putihnya masih lengkap. Terpasang rapi di tubuhnya.
Ginny perlahan duduk di sisi ranjang, meratapi ketakutannya tentang kondisi dirinya kini. "Untuk apa aku takut? Harry suamiku, bukan?" batinnya.
"Tapi.. kenapa aku masih belum menerima jika Harry lebih dari sekedar kekasih—"
Tanpa pikir panjang, Ginny bangkit dari ranjangnya. Memilih keluar untuk mencari udara segar dan meninggalkan Harry sendiri tertidur di kamar. Sampai pada akhirnya, Ginny mendengar sesuatu ketika tanpa sadar ia telah berdiri di depan kamar Lily. Ia mendengar suara tangisan.
"Lily?"
Lily menangis di dalam ranjang bayinya. Tubuhnya bergerak-gerak kalut sambil berusaha meraih-raih sesuatu. Kepalanya tampak berat ketika ia bergerak. "Huss, kenapa, Lily?" tanya Ginny bingung. Tangannya bergerak menyentuh kepala Lily. Mengusap air mata yang keluar dari matanya. Bentuk mata yang sangat mirip dengan Harry meski warna iris yang dimiliki Lily adalah coklat, seperti dirinya.
Ada gerakan menyesap ketika mulut bayi itu menyentuh jemari Ginny. "Kau haus?" tanya Ginny. Lily masih menangis kencang.
Cepat-cepat Ginny mencari sesuatu dari kamar itu. Isi lemari ia keluarkan saking paniknya. Tujuan Ginny hanya satu, menemukan susu yang biasa diminum oleh Lily. "Di mana, ya?" batinnya.
Sejenak ia berhentu dan berpikir. Ia mengingat bagaimana tadi ia di the Burrow. Ketika ia diminta untuk mandi. Ginny melihat sendiri perubahan tubuhnya. Ia mengaku jika terasa berbeda pada beberapa bagian di tubuh kecilnya itu. Seperti di bagian intim dan buah dada. "Mungkinkah?" tanyanya dalam hati.
Ginny mengambil perlahan tubuh Lily dari ranjang bayinya. Menggendongnya dan memposisikan tubuh bayi itu di pangkuannya. Ragu, Ginny membuka kancing atas piamanya dan mengeluarkan salah satu bagian anggota tubuh sensitifnya. Berusaha alami, Ginny menyusui Lily. Merespon cepat, Lily tampak tenang ketika mulutnya menemukan sesuatu yang sangat ia inginkan sejak beberapa jam lalu itu.
"Ow—" Ginny merasa risih dan geli ketika lidah Lily bermain pada putingnya.
Ketika ia mandi, Ginny mendapati tubuhnya dapat memproduksi ASI. Cairan putih itu keluar secara alami ketika tangannya menekan di sebagian sisi. Bahkan, ia pun melihat betapa banyaknya perubahan di tubuhnya kini. Lebih gemuk dan berisi.
"Lily-Luna-Potter," Ginny membaca satu papan bermotif bunga putih pada latar papan merah muda bertuliskan Lily Luna Potter. Sudut tembok itu terpasang beberapa hiasan dinding lain ala anak-anak yang tertata rapi. Beberapa boneka berjajar pada rak-rak kecil. Lucu.
Ginny tiba-tiba tersenyum. "Aku punya seorang putri yang cantik, iya? Hai, Lily! Ini Mummy," katanya pelan. Sangat pelan. Ginny menangis.
"Maafkan Mummy, sayang. Mummy akan berusaha mengingat kamu lagi. Bantu Mummy, ya, nak." Bisiknya.
Kriyett! Derit kamar Lily membuat Ginny tersadar. Harry masuk dengan wajah ketakutan. "Kau di sini?" panggil Lily.
Ginny bergegas membenarkan bagian dadanya yang terbuka, malu ketika Harry mendapatinya berada di kamar Lily dengan kedaan setengah telanjang. "Sorry, aku mendengar Lily menangis. Dan—" Ginny terdiam ketika Harry melihat keheranan banyak barang-barang Lily porak-poranda di sekitar lantai.
"Aku.. aku mencari susu untuk Lily. Tapi—" ia melihat Lily kembali yang masih menyusu padanya.
Harry mendekat, Ginny kembali menutupi bagian dadanya dengan kain kecil yang mampu ia ambil. "It's OK! Tak apa, aku sudah biasa melihatmu menyusui Lily. Memang, sampai kapanpun kau mencari susu formula bayi di rumah ini, tak ada selain susu untuk James dan Al. Karena Lily memang minum ASI. Karena kau sudah sepakat kalau semua anak-anak kita mendapatkan ASI eksklusif darimu sampai dua tahun. Kau yang mengusulkan ini, Ginny."
Harry bercerita sembari ia membersihkan satu persatu barang-barang Lily yang berserakan di lantai. Harry melakukannya dengan tangan tanpa sihir. Ia lupa membawa tongkat.
"Eh, kau sudah mensendawakannya?" Harry terkejut ketika Ginny tiba-tiba menidurkan Lily setelah selesai menyusui.
"A-apa?" tanya Ginny bingung.
Harry bergegas mengambil Lily kembali dari dalam rajangnya. Menelungkupkan di dadanya lantas menimang pelan. Tangannya menepuk-nepuk bagian punggung Lily dan sesekali Harry mendesis membuat Lily nyaman. Ginny terpaku. Harry begitu cekatan.
"Kembalilah tidur, kau butuh istirahat, Ginny. Tak apa, aku bisa, kok."
Dengan sabar Harry melanjutkan kegiatannya menepuk pelan punggung putrinya. Tapi Ginny belum kunjung bergerak dari posisinya berdiri. "Tak apa, istirahatlah." Pinta Harry sekali lagi.
Ginny menangguk, ia perlahan keluar dari dalam kamar.
Tidak sampai lima belas menit, Harry sudah kembali ke kamarnya. Tapi apa yang kini ia lihat sungguh mengejutkan. Ginny, tertidur lelap di atas sofa kamar. Tidak di atas ranjang. "Oh, Merlin." Harry mendekati Ginny yang masih tertidur di sofa. Rambutnya lepek karena keringat. "Ginny pasti tidak nyaman dengan keadaan ini."
Ginny memilih tidur sendiri di atas sofa daripada tidur di atas ranjang bersama Harry. Benar, Harry tahu jika Ginny pasti tidak nyaman tidur bersama pria yang ia tahu hanya sebatas kekasih di atas ranjang yang sama.
Pelan-pelan, Harry mengatur posisi tangannya di sekitar tubuh Ginny. Ia mengangkatnya naik. Harry memindahkan tubuh Ginny kembali ke atas ranjang. Sementara Ginny lebih nyaman di sana, Harry memilih mengambil bantalnya lantas memposisikan tubuhnya berbaring di sofa tempat Ginny sebelumnya tidur. Ia terlelap dengan tangan terlipat di dada menahan hawa dingin malam.
Untuk saat ini, lebih baik Harry mengalah.
- TBC -
#
Bagaimana? Jangan lupa review, ya! Anne tunggu! Mungkin bisa Anne balas di chapter selanjutnya. Sekali lagi maaf, ya. Mohon doanya biar Anne sehat. Thanks, semuanya. Maaf kalau masih ada typo! Semoga terhibur!
Thanks,
Anne xoxo
