Donghae merasa kalau dia berada di titik terbawah kewarasannya, dia terombang-ambing diantara kegilaan yang Hyuk Jae tawarkan dan secara menakjubkan dia merasakan ketagihan yang mematikan. Tangan Hyuk Jae yang melingkar di pinggangnya terasa seperti sentuhan lembut yang menenggelamkannya ke dalam jurang kenikmatan, sentuhan-sentuhan kecil Hyuk Jae yang seperti itu membawa kenikmatan kekal ke tubuhnya. Dan dia sudah terkontrol oleh kesenangan duniawi yang serupa ujian seks yang dipantangkan. Bagian dari pertarungan lidah mereka tidak bisa dihentikan sama sekali, walau Donghae bisa saja melakukan itu. Dia sudah lupa sampai batas mana dia boleh menyentuh Hyuk Jae, tidak boleh menyentuhnya—atau sampai mana Hyuk Jae setuju akan itu. Donghae sekarang sudah tidak peduli lagi mengenai rasa sakit hati Hyuk Jae, mengenai Dan juga kepahitan Las Vegas. Hyuk Jae juga kelihatannya lupa, amukan yang menggambarkan sakit hatinya pun sudah jarang muncul kepermukan.
Sekarang Hyuk Jae lebih fokus kepada kejantanan Donghae yang tertanam di tubuhnya, dimana kejantanan itu terasa seperti bor yang mengoyak, dan Hyuk Jae tidak lebih dari korban yang memohon. Bagiamana semua lelucon itu bisa berakhir seindah ini? Wanita menangis dan mendandan sepatu, lajang lapuk yang kesepian dan Las Vegas. Tidak ada lagi kata-kata sopan yang pernah diutarakan, mereka berlagak seperti sepasang kekasih. Kekasih, bukan cuma teman seranjang yang keesokan harinya pergi dan tak akan pernah terlihat lagi.
Kalau Donghae boleh jujur, Hyuk Jae perhatian padanya dan konteks itu lenyap dari seks semata. Hyuk Jae menghargainya, menawarinya air dari botol yang sama, dan oh, membangunkannya di pagi hari bersama ciuman manis lembut yang serupa donat dan krim. Dan Donghae, dia tidak berdaya. Dia lelaki yang normal, sudah lama tidak punya hubungan yang seperti itu. Dia merindukan yang semacam itu, seorang kekasih. Dan sekarang dia punya yang mirip dengan itu, meski mereka berdua tidak benar-benar mengakui kebenarannya, tidak sepenuhnya yakin kalau yang semacam itu hadir diantara mereka. Donghae takut jika dia suatu saat nanti akan jatuh cinta, dia punya perhatian yang lebih besar kepada Hyuk Jae dibanding Hyuk Jae kepadanya. Dan itu membuat Donghae paranoid, Donghae takut kalau Hyuk Jae bilang ini selesai maka mereka akan benar-benar selesai. Tanpa ucapan perpisahan yang tergesa-gesa.
Donghae sadar bila Hyuk Jae menyukainya juga, suka, kata-kata itu menghantuinya sepanjang malam. Baiklah, Hyuk Jae suka kepadanya. Tapi bagaimana dengan dia sendiri? Dia mencintai Hyuk Jae. Sekonyol apapun itu kedengarannya, mereka jelas punya arti yang berbeda. Yang bisa digambarkan luas tetapi tetap berujung kepada kesimpulan yang sama, dan itu tidak membuat Donghae kehilangan kewarasannya. Hyuk Jae mengaku selama dia bersama Donghae, bayang-bayang Dan tidak pernah lagi menghampiri mimpinya, kebenciannya pula sudah sirna. Dia akan memutuskan Dan segera setelah dia tiba di Utara Las Vegas dan liburan musim panas berakhir, dan tendangan di tumit atau selangkangan tidak boleh terlupakan, oleh karena itu Hyuk Jae akan lajang kembali. Dia akan fokus pada relasi-relasi sosialnya, tidak hanya melulu tentang seorang pacar.
Dan tidak ada pilihan lain lagi bagi Donghae selain bersikap suportif, karena apa lagi yang bisa dilakukannya? Dia tidak akan mungkin merengek, menyatakan cinta kepada Hyuk Jae, terang-terangan mengakui semua yang dirasakannya—sebenarnya dia bisa saja, tapi dia seorang pengecut. Yang tak berdaya karena penolakan cinta, kata-kata kasar, sehingga dia berupaya untuk menaikkan satu alisnya, bersikap cuek. Tetapi ya Tuhan, kenapa dia begitu setuju mengenai gagasan kalau Hyuk Jae tidak memendam perasaan mendalam apapun mengenainya selain gaya seks mereka? Dia sudah bersikap seolah pangeran berkuda putih, menghapus sakit hati seorang gundik cantik dan membuat wanita itu mengenakan pakaian yang anggun. Mereka seharusnya berakhir bahagia.
Donghae kembali lagi ke raganya ketika tubuh Hyuk Jae yang kurus bangun dari dadanya, mengecup bibirnya seperti ciuman selamat pagi dan mengikat rambut. Hyuk Jae hanya mengenakan dalamannya, nafas Donghae tersengal sebab itu.
Hyuk Jae membantu Donghae bangun, menyandarkan punggung pria itu ke punggung kursi dengan paksa, menyibak poni kecokelatan Donghae yang menutupi matanya. Tanpa make up, dan Hyuk Jae cantik sekali.
Tanpa ragu Donghae menarik dagu Hyuk Jae sehingga bibir mereka terikat seperti sedia kala. Donghae melepaskan ciuman mereka selama beberapa saat, membuka kaca mobil dan merasa lebih baik. Dia mengutak-atik tatapannya sebelum kembali melandaskan mereka ke arah celana dalam Hyuk Jae, sesuatu yang berada di dalam sana seperti memanggil-manggil namanya supaya mendekat.
"Aku bersyukur karena pria yang menemukanku diantara tingginya semak belukar dan gilanya padang rumput Las Vegas adalah kau," Hyuk Jae mengapit pahanya, dia melesatkan tangannya ke sela-sela paha Donghae yang terbuka.
"Sejujurnya, aku tidak pernah punya maksud buat bersikap tidak senonoh padamu." Donghae bersuara kecil, dan ucapannya dibalas tawa yang dibuat-buat dari Hyuk Jae.
Tangan Hyuk Jae melingkar ke tengkuk Donghae, mendorong leher Donghae menggunakan kesepeluh jarinya agar bibir pria itu lebih mendekat. Mata Hyuk Jae mencerminkan gairah yang membuatnya ketergantungan, Donghae menelan ludahnya, ludah itu akan menyerap semua pikiran sesat yang tumbuh di kepalanya.
"Aku tidak ingin bersikap sesukaku."
"Kau gila Donghae," bisik Hyuk Jae.
Gila karenamu, sahut Donghae dalam hatinya. Donghae menutup matanya, membiarkan aroma Hyuk Jae menguasai separuh hatinya. Idiot, pengecut, sebagian dari umpatan itu tidak mampu menggambarkan Donghae secara profesional. Karena walaupun dia idiot, dia mencitai Hyuk Jae. Dan bagaimanapun pengecutnya dia, dia menyayangi Hyuk Jae setulus hatinya yang terombang-ambing. Jadi, dia hanyalah malaikat cinta yang tidak bermakna? Dan apakah sentuhan lembut Hyuk Jae membantunya lari dari masalah? Masalah yang sejujurnya hanya berpusat kepada Hyuk Jae.
Donghae berlanjut meraba-raba paha mulus Hyuk Jae, biarlah dia idiot, atau pengecut, atau tidak punya otak sama sekali, sekarang yang ada dipikirannya hanyalah dia terlalu sempurna buat ditolak mentah-mentah.
Mereka kembali berciuman, lidah Donghae masuk tanpa izin ke rongga-rongga mulut Hyuk Jae, menggelitik gusi wanita itu. Hyuk Jae melenguh, lenguhan yang menjadi dasar dari hasrat cabulnya, lalu mereka saling bertatap pandang, pupil mata Hyuk Jae bergerak menggila, lalu dia tersenyum dan melepaskan branya. Cara bermain Hyuk Jae adil, dia tidak terlalu banyak menggoda dan merengek, dia sering mengambil inisiatif sendiri pada saat dia tahu Donghae menginginkannya. Dia menurunkan reslesting Donghae, dibarengi turunnya celana dalamnya ke tumitnya, sekarang dia telanjang bulat dan tersenyum.
Donghae suka menatap bagian-bagian indah tubuh Hyuk Jae yang tertupi, bagaimana dua payudaranya kelihatan pas kalau dimainkan bersama-sama, Donghae akan menjilat mereka sampai Hyuk Jae berteriak kesetanan. Bagian vital Hyuk Jae, yang aromanya menakjubkan sekali. Semuanya sudah pernah dia lihat, dia sangat ingin merekam mereka ketika tubuh Hyuk Jae sibuk naik turun di atasnya, hal-hal seperti itu akan menjadi pengalamaan paling liar di dalam hidupnya. Dia ingin sekali mengklaim Hyuk Jae menjadi miliknya.
Tangan Donghae bergetar hebat, matanya berapi-api siap melahap Hyuk Jae. Rambut Hyuk Jae yang putih kekuningan seperti menyerap energi dari matahari, bibir tebal yang merah itu menyanjung kejantanan Donghae. Donghae selalu kehilangan semenit kesadaran dirinya setiap Hyuk Jae meliukkan tubuhnya, dan ciuman yang bergerak secara bersamaan, dan sentuhan-sentuhan nakal, dan sedikit kata-kata kotor. Hatinya bersiteru, matanya menjadi saksi bisu bagaimana Hyuk Jae kenikmatan, menyentuh selangkangannya. Sesungguhnya, yang ingin Donghae bahas sekarang adalah, penampilan yang alami dan urakan itu, mampu menyentuh hatinya.
Donghae tidak tahu kapan persisnya dia menyukai pola pikir dari hubungan seperti ini. Dia hanya yakin apabila seluruh otaknya sekarang sudah berkedut-kedut karena ulah Hyuk Jae, dan sejauh ini dia belum berniat buat menghentikannya.
Donghae memberi signyal untuk memulai lagi, yang langsung ditanggapinya dengan lincah, seperti seorang penurut yang nakal, yang suka menggoda. Ketika Hyuk Jae menumbuh keingintahuan yang lebih besar lagi ke kejantanannya, dia ingat untuk segera mengirimkan nafasnya keluar sebelum dia terisak karena rasa senang. Dan, saat Hyuk Jae meniti bagian mana dari penis Donghae yang disukainya, kriteria mana yang paling disenanginya, atau bagaimana Donghae akan membuatnya tergila-gila. Secara otomatis menambahkan rasa merinding ke kulitnya.
Rasa kagum Hyuk Jae terhadap kulitnya yang seperti tembaga tidak sekalipun dibuat-buat, wanita ini pernah bilang Donghae punya kulit yang lebih bagus daripada Dan, punya kaki yang lebih tajam. Pujian itu ada gunanya juga, menurut Donghae. Kalau wanita ini tidak memujinya dia akan kehilangan setengah rasa percaya dirinya akan wanita yang hobi mengencani pria kulit putih. Dan sesuai dengan kesepakatan yang ada, kesepakatan yang baru-baru ini mereka buat lewat mata, Hyuk Jae akan belajar mengenai blowjob profesional dari seorang guru yang profesional juga, menghentikan sesi otodidaknya, wanita ini sesegera mungkin mengerlingkan mata, menambah kesan sensual yang nakal.
Yang paling penting adalah hisap testis Donghae, ketika lima menit terakhir dan segala sesuatu yang diingin-inginkan Hyuk Jae akan menyembur lebih kuat ke wajahnya. Yang agaknya membuat Donghae sedikit khawatir kalau wanita ini sebenarnya terpaksa menghisap kejantanannya, karena setengah wanita yang dia tahu—yang pernah mengeluh oleh rasa egois lelaki—alergi terhadap blowjob sebesar Donghae menyukai itu. Hyuk Jae mendesak tubuhnya berjongkok diantara kursi penumpang dan selangkangannya, tidak lupa Donghae mematikan musik mobil supaya dia bisa mendengar suara hisapan yang indah itu. Seiring dengan suara putus-putus yang membanjiri keinginan Donghae buat mendesak tubuhnya. Oh yah, mendesak tubuh Hyuk Jae.
Hyuk Jae mengulum batangya terlebih dahulu sebelum menjilati kepala kejantanan Donghae, aksi hisapan tanpa peraturan yang lebih seksi lagi apabila Hyuk Jae juga menggigitnya sedikit—yang agak membuat Donghae ngeri karena kuku Hyuk Jae sepanjang alat pembuka botol kemasan.
Wanita ini berusaha matia-matian menelan seluruh tubuhnya, masuk ke tenggorokannya, menabrak disana seperti kuda jantan dari si dekil Dan. Selain menghisap dan memutarkannya di mulutnya, dia juga melepaskannya sesekali supaya menampar mulutnya sehingga Donghae dibuat memekik sengatan listrik yang secara harfiah dilakukan oleh Hyuk Jae mengena dengan tepat pada Donghae. Hyuk Jae bergerak bak seorang Dokter ilmiah yang tahu dimana letak paling sensitif diantara kulit-kulit Donghae yang menegang, getaran dimulutnya dan kuluman yang tampak profesional itu menenggelamkan Donghae jauh ke dari alam sadarnya.
Oke, Donghae tidak bisa menahan lima menit lebih lama. Atau dua menit sekalipun. Khususnya dengan tarikan di kulit-kulitnya melalui lidah indah itu, bibir yang lihai dan kecerdasannya, oh Tuhan. Donghae kehilangan nafasnya. Sehingga ketika Donghae sampai, dengan kewalahannya sebab kenakalan wanita ini, yang terciprat ke pipi Hyuk Jae dekat bibirnya, dia tertawa. Mengelap bibirnya yang diserang kelengketan Donghae. Tak lupa mengerling penuh damba ke penis Donghae yang menurutnya ideal. Berukuran normal, tidak menakutinya dan tidak pula mengecewakannya.
Syukurlah, dengan perjalanan tetek bengek menuju ke mandirian hidup dan jati diri orisinil, dia bisa hook up dengan gadis kota seperti Hyuk Jae, yang sifatnya agak cerewet, jahil meski suka memaksa dia masihlah gadis yang bisa dihadapi. Tidak hanya hook up sih, Donghae mau yang lebih serius. Seserius pacaran dan jadi langgeng. Bertemu Dan secara kebetulan dan membogem hidungnya. Meludahinya kemudian Hyuk Jae akan menggandeng tangannya dengan bangga. Dan melanjutkan perjalanan mereka lagi ke Selatan Amerika yang tanpa harapan. Nonton konser band favoritnya, menggandeng tangan Hyuk Jae menuju gilanya sinar langit. Indah sekali.
Hyuk Jae menyadarkan Donghae dengan suara melengking ketika dia menurunkan resleting celananya. Hyuk Jae memasangkan kondom yang manis itu, beraroma buah-buahan ke penisnya yang basah oleh kecerdikan Hyuk Jae. Dan sensasi lateks menyentuh kulit yang menegang ini setara dengan gigitan kecil semut api. Tetapi gigitan ini berefek candu terhadap telapak tangannya yang berkeringat. Lalu Hyuk Jae secara perlahan menghusap wajah Donghae dengan bibirnya, menyedot keringat dinginnya dengan sejumlah sensualitas yang menggila. Hyuk Jae menaiki Donghae, menduduki pahanya yang kencang, yang lebih kencang dari milik Dan. Lebih kuat dan lebih disukainya. Sehingga ketika penis Donghae menyapa paha dalam dan bokongnya, Hyuk Jae terkikik sekaligus mendesis keheranan. Apakah Donghae memang sehebat ini dalam bercinta? Kalau memang benar, dimanakah dia mengasah bakat yang langka ini?
"Donghae, lihatlah, kau itu tampan, selain tampan kau juga seksi sekali," kata Hyuk Jae, mengirimkan segenggam gelombang angin ke telinga Donghae yang memerah. Suara itu membutakan seluruh pancaindera Donghae yang membuatnya tidak menjawab seperti pria tuna rungu, bibirnya pun terbuka seiring dengan ciuman yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
Hyuk Jae kemudian, secara terburu-buru dan tanpa pengampunan, menyelipkan kejantanan Donghae ke tubuhnya, dan refleks keketatan yang tiada tara nikmatnya itu menyerang seluruh tubuh Donghae bersama dengan dorongan sekali hantam yang mematikan. Hyuk Jae naik turun di tubuhnya, menggenjotnya, menggoyangkan pinggangnya, bergerak memompa, dengan gerakan vertikal yang variatif itu, dia merangsang Donghae buat meneriaki namanya lebih kencang. Hentikan embel-embel untuk kelihatan gagah, Hyuk Jae suka sekali mendengar pria mendesahkan namanya dengan leluasa. Itu berarti Hyuk Jae sudah bekerja dengan sempurna. Bersama dengan teknik seks keluarga Lee yang diturunkan turun-temurun dengan sakral.
Hyuk Jae mencakar kulit Donghae sehingga Donghae mendesis dibuatnya. Wanita ini tidak lupa sesekali meremas testis Donghae yang berukuran imut itu melalui ketegangan diantara gairah yang kehilangan kendali ini. Hyuk Jae pun meremas rambut Donghae dengan kencang saat Donghae menambah kecepatannya yang liar, menyerang Hyuk Jae dengan kekuatan jitunya. Ya ampun, tidakkah Donghae tahu bahwa hanya penis Donghae yang mampu membuat Hyuk Jae, wanita yang susah puas ini mengerang tanpa ampun, mencakar seluruh permukan kulitnya sampai kulit jok mobil. Tergila-gila olehnya.
"Donghae, kau gila sekali," Hyuk Jae bersuara seiring dengan gerakan mereka yang makin kesetanan, suara paha Hyuk Jae dan paha Donghae yang bertabrakan satu sama lainnya merupakan yang terburuk. Satu kali bercinta bersama Donghae tidak bisa dibandingkan dengan seribu kali orgasme dengan Dan. Pria ini sangatlah fantastis. Maksud Hyuk Jae, seluruh tubuh Donghae, caranya menyerang dan mencumbu Hyuk Jae, wajahnya yang tampan, sikapnya yang gentle, tidak bisa ditemukan dimanapun sekalipun Hyuk Jae menjelajahi daratan Alaska yang tiada taranya luas itu.
Hyuk Jae menekan punggung Donghae ke bawah, kepalanya terkantuk atap mobil yang pendek. Sensasi tujuh keliling sampai di klitoris Hyuk Jae saat Donghae dengan nakalnya menyentuhkan ujung penisnya ke sana, menjempit kulitnya ke ruang yang lebih hangat, dan gagasan untuk orgasme sekarang juga tidak bisa dihentikan Hyuk Jae.
Jadi Hyuk Jae melakukannya, tepat setelah Donghae mendorong sekali lagi.
.
.
.
Sekarang Donghae mau main jujur-jujuran, kalaupun ada lebih banyak sifat Hyuk Jae yang disukainya ketimbang yang dibencinya, Donghae harus katakan ada beberapa hal yang mengganggunya kalau itu berhubungan dengan Hyuk Jae. Donghae kesal ketika Hyuk Jae menggoda aksennya, tersinggung saat Hyuk Jae keceplosan bilang warna matahari terbenam mirip dengan warna rambut Dan, satu lagi, Donghae benci ketika Hyuk Jae, secara lancang dan nakal membalas senyuman pria lain sewaktu mereka memuji rambut Hyuk Jae yang panjang itu. Hyuk Jae berharap Donghae tidak menyadari aksi kejam itu, tapi ya Tuhan, siapa yang Hyuk Jae ajak main-main sekarang?
Oke, Donghae memang tipe pencemburu, yang cemburunya normal dan tidak sadistik. Tetapi apakah dia punya hak buat cemburu dan kesal kalau yang dipuji Hyuk Jae mengenai dirinya hanyalah cara seksnya saja? Donghae mungkin saja tidak memiliki ruang lebih di hati Hyuk Jae, peran yang lebih spesial ketimbang pemuda Korea yang kau temui di sepanjang jalan Las Vegas yang pada akhirnya tidur denganmu dan malu-malu bilang kalau kau adalah wanita tercantik yang pernah dia temui. Dengan semua rayuan dan pujian yang Hyuk Jae ingin sirnakan karena rasanya itu tidak nyata sekali. Baiklah, Donghae sekarang terlalu pesimistik, pesimis mengenai Hyuk Jae dan godaannya kepada pria lain. Duh, Hyuk Jae sekarang sifatnya serupa tiruan wanita kulit putih yang rambut aslinya pirang dan berada dalam titik teratas rantai makanan di Kampusnya.
Jadi, karena Donghae terlalu muak, dia meraih leher Hyuk Jae, menarik tengkuknya paksa dan menciumnya diantara kerumunan nenek-nenek tua yang menunggu di Binatu dan seorang pria berkulit kecekolatan, mengiriminya tatapan ingin membunuh, well, karena dia kira Hyuk Jae sudah dimiliki jadi tidak ada kesempatan buat saling menukar nomor telepon atau apalah itu. Donghae pastikan, selama Hyuk Jae masih berada di mobilnya, masih menyanyikan lagu-lagu yang diputarkan disana, Hyuk Jae cumalah miliknya seorang.
Mulut Hyuk Jae terbuka seperti lingkaran kolam, setelahnya dia tersenyum dan menarik pinggang Donghae mendekat, membisikkan kata-kata manis ke telinganya seakan mereka pacaran. Di depan segerombolan nenek-nenek yang ramah itu, Hyuk Jae kembali mencuri ciuman kecil di bibirnya, saliva Hyuk Jae melekat di permukaan bibir bawah Donghae sehingga Donghae perlu menjilatnya, mengerling kesal kepada Hyuk Jae seolah sindiran halus apabila dia melihat aksi sembunyi-sembunyi yang dilakukan Hyuk Jae tadi.
"Aku suka pria yang pencemburu, Donghae." Hyuk Jae menarik resleting jaketnya lebih ke atas, menutupi belahan payudara yang terlihat. Dia menarik lengan Donghae yang kokoh, membawanya lebih dalam ke trotoar dan tersenyum kepada seorang Paman yang menyapa mereka.
"Percayalah Hyuk Jae, aku lebih dari yang kau bayangkan."
"Tidak ada seorang pun mantan pacar yang pernah cemburu mengenai aku, malah aku yang pecemburu," Hyuk Jae tersenyum, senyumnya khas sekali, ketika dia tersenyum dengan tulus gusi-gusinya kelihatan, gigi-gigi putihnya yang berderet rapi serasi dengan bibir penuh yang Donghae sukai. Dia mengibaskan rambut pirangnya yang lurus, yang panjangnya sampai ke pinggul Hyuk Jae.
"Tapi aku bukan mantan pacarmu." Meski Donghae bicara dengan nada yang dibuat getir, kepiluan yang menyesaki dada Donghae tidak mampu menyentuh hati Hyuk Jae. Wanita ini tidak sensitif, hatinya sekeras batu yang dipagari kayu-kayu mahoni, jahat sekali. Hyuk Jae tertawa makin keras, menepuk punggungnya dan mencium Donghae, ciuman yang berlalu seperti angin dan sedingin hujan es.
"Benar, mantan pacar itu kata-kata yang terlalu brengsek buatmu. Kau sangat pengertian Donghae, aku menyukaimu."
Donghae menghela nafasnya.
.
.
.
Hyuk Jae itu wanita yang bandel, percayalah, dia kasar. Dia suka melanggar aturan, dia gemar mencari masalah dan bersikap tidak wajar. Hyuk Jae adalah sekumpulan wanita yang jarang kau pilih sebagai pendamping setia seumur hidup, tetapi dia wanita yang tepat buat diajak bergumul di tepi ranjang setiap hari sabtu. Dan sebagaimanapun jeleknya kedengaran Hyuk Jae, dia cantik sekali. Dia memang kekurangan sikap-sikap rendah hati yang sering Donghae rindukan, tetapi penampilan luar Hyuk Jae memilaukan setengah dari kesadaran Donghae. Karena dia cantik, dia pikir dia bisa bersikap seenaknya, Donghae benci konsep seperti itu. Hyuk Jae juga susah sekali diberi tahu, dia sering melalui sesuatu dengan caranya sendiri. Berpakaian, menyalakan lagu, tidak peduli dia ada dimana, yang terpenting dia harus menyelesaikan segala sesuatunya.
Hyuk Jae suka cara yang praktis (sebagian besar orang suka yang begitu) tetapi bukan berarti dia bukan pekerja keras. Hyuk Jae orangnya gigih, gigih menggoda Donghae bahkan hanya dengan caranya mengunyah permen karet. Berbau seperti cokelat dan tersenyum semanis gula, dia adalah anugerah yang turun dari langit. Untung atau tidaknya Donghae urusan belakangan, sekarang prioritasnya hanya menyusul Hyuk Jae, membuka baju, bertelanjang bulat dan berenang di pantai yang sepi pengunjung ini.
Ada palang dilarang berenang disana, ombaknya terlalu besar, selalu seperti itu, sebagian orang yang berkunjung kesini adalah pasangan manula yang hobi melihat burung pelikan lokal, dan terlalu beresiko untuk mandi. Tetapi Hyuk Jae adalah orang yang bengal, benar kan dia susah diberitahu? Sekarang dia melepaskan celana pendeknya, menyisakan dalamannya yang warnanya serupa cokelatnya pasir pantai, meneriaki nama Donghae sekeras yang dia bisa. Hyuk Jae tertawa sumeringah dan tarikan di bibirnya lebar sekali, memanggil-manggil nama Donghae supaya ikut dengannya. Merasakan hangatnya air pantai, melihat bintang laut dan ditarik ombak yang besar.
Kesan bar-bar diterima Donghae, dia tidak pernah seliar ini. Donghae adalah cerminan dari pria berkharisma, lembut dan suka menolong yang dihindari wanita semacam Hyuk Jae—yang lebih memilih pria bertato (tato yang melingkar dari bawah pinggang yang rendah menuju paha dalam) dan peselingkuh. Donghae selalu berhasil mengendalikan dirinya, kecuali sekarang, ketika Hyuk Jae dari jari kaki sampai kepala kelihatan sangat bersinar, aromanya yang feminim menguar sampai ke selangkangan Donghae, membangkitkan libido. Saat Donghae mengikutinya menuju ombak yang menerjang mereka gila-gilaan, sewaktu Hyuk Jae menciumnya di dalam air, Donghae sadar dia kalah telak.
.
.
.
Dua setengah minggu setelah keputusan gilanya, Hyuk Jae barulah merasa terombang-ambing. Dia mulai tidak menyukai rasa roti lapis yang itu-itu saja, matahari terbenam yang membosankan dan lagu keras yang mengingatkannya kepada Dan. Dia tidak lagi mengingankan kebahagian yang semacam teriakan sumringah gadis perawan berusia empat belas tahun. Kini semuanya kedengaran kelewat batas, kelihatan gegabah dan sembrono. Dua minggu tanpa rutinitasnya, tanpa teman-teman di Kampusnya dan dengan Donghae. Dia enggan mengatakan kalimat-kalimat yang kesannya membuat Donghae terpukul, Donghae yang senyumnya setara malaikat bersama jubah putihnya. Tidak, dia tidak bosan kepada Donghae, dia hanya lelah akan atmosfer yang itu-itu saja.
Begini, mobil, mengelilingi Las Vegas dan musik yang keren sekilas kedengaran menakjubkan, orang-orang yang mementingkan penampilan luar seperti Hyuk Jae pasti akan mendamba itu. Melalui Reno, ke Utara Las Vegas yang jaraknya delapan jam kedengaran asyik, kedengaran tidak biasa. Tapi bagaimana Hyuk Jae bisa menjelaskan kepada Donghae bila dia mulai muak? Muak karena dia merindukan hidupnya yang dulu, yang terasa jauh selama dia masih bersama Donghae di jalan-jalan bersih yang tiada habisnya ini. Kemuakan ini jelas tidak ada hubungannya dengan Dan, Hyuk Jae bersumpah, Donghae bisa membuatnya melupakan pria itu. Seratus persen. Apa yang kurang? Donghae lebih baik, lebih pengertian, dia tahu di tempat-tempat mana saja Hyuk Jae bisa bergidik karena sebuah setuhan, dia memperlakukan Hyuk Jae setara Puteri Salju dengan sepatu kaca, dia tampan dan menolak gagasan mengenai perselingkuhan. Apapun alasannya selingkuh itu keji, disengaja atau sebaliknya, itu kata Donghae.
Dan Hyuk Jae merasa hina sekali karena dia mulai jenuh, Donghae tidak kekurangan apapun, dia seharusnya lebih memilih wanita berambut cokelat yang hobi menabung, dan bukan Hyuk Jae yang serakah. Anehnya, Hyuk Jae pula sadar ada gerak-gerak aneh di jantungnya pada saat Donghae melantunkan pujian-pujian indah ke telinganya, menyanyikan lagu-lagu lama seolah Hyuk Jae adalah peran utama dari lagu-lagu itu. Dia merasa bersalah sekali, dia merasa bersalah sebab dia merasa jenuh akan keberadaan Donghae.
Bagaimana dia bisa menjelaskan kepada Donghae bahwa mereka harus cepat-cepat sampai di Utara Las Vegas tanpa membuat Donghae tersinggung? Sebetapa brengseknya pun kedengaran Hyuk Jae, dia tidak mau menyakiti hati pria yang kelihatannya akan tersanjung mengenai hal-hal kecil. Walau Hyuk Jae sekarang sering kesal dengan lagu-lagu Donghae, dengan burger Wendy yang kelihatan tidak enak disantap, dia menghargai segala usaha Donghae demi dirinya. Kenapa dia bersikap serendah ini? Darimana datangnya sikap seperti ini, Hyuk Jae? Sungguh dia ingin sekali menghancurkan setiap detik perasaan jengkelnya tentang segala sesuatu mengenai Donghae.
Apakah dia berpikir Donghae mengurungnya disini? Di mobil yang lusuh dan mencerminkan kerja keras dan jati diri yang usang. Apakah dia berpikir apabila keputusan bersama Donghae sampai ujung Nevada bukan pilihan yang tepat? Donghae adalah pria cabul yang memanfaatkannya selama yang dia bisa, jadi Donghae akan menahannya dan mengulur-ulur waktu sehingga Utara Las Vegas hanya terasa seperti mimpi-mimpi dan angan-angan belaka. Tidak, pemikiran macam apa itu? Itu jelas dramatis sekali. Kenapa dia jadi menyalahkan Donghae? Yang ingin dia tendang selangkangannya kan Dan, bukan pria yang lagaknya mirip Pangeran berkuda putih ini.
Hyuk Jae menghela nafasnya, mengutak-atik ponsel Donghae yang baterainya tinggal setengahnya saja, menunggu Donghae datang membawa dada ayam dan salad kale yang dia pesankan secara sukarela. Donghae bilang dia khawatir, Hyuk Jae menolak makan kentang goreng yang jumlah minyaknya menggila. Tidak ada pilihan lain selain mengorbankan dirinya kan? Hyuk Jae rindu makanan rumah yang berbau sehat.
Donghae tiba di depan kaca Hyuk Jae setengah menit kemudian, dia menenteng sekotak makanan yang Hyuk Jae pesan, satunya lagi mungkin milik Donghae. Hyuk Jae menghela nafasnya kembali, membuka kaca dan menerima dua kotak makanan yang diserahkan Donghae kepadanya. Tersenyum sekilas dan cemberut lagi.
"Makanlah sayang," Donghae berdengung lembut, dia menyugar rambut Hyuk Jae lewat kaca yang terbuka lalu berjalan dan membuka pintu mobil, ikut masuk kemudian mengecupi pipi Hyuk Jae. Untunglah dia tidak melihat alis Hyuk Jae yang mengerenyit, garis alis yang semacam tantangan buat duel, kebingungan dan perasaan bersalah.
"Aku tidak tahu Donghae, aku tidak ingin makan, akhir-akhir ini aku kesal sekali."
Donghae menyalakan mesin mobil, tetapi telinganya aktif mendengarkan ucapan Hyuk Jae. "Apa yang mengganggumu?"
"Kapan kita sampai?"
Sialan, sekarang Hyuk Jae menyesal. Raut muka Donghae tidak biasa, tidak ada pancaran ketulusan dari sana. Mata Donghae yang besar dan bulat kecokelatan berair, dia tidak mengerti, dia tidak melihat Donghae yang dulu disana.
"Kau ingin kita segera sampai?" gurau Donghae, sungguh Hyuk Jae tidak bodoh, dia tahu Donghae sedang tersinggung.
"Ya, aku ingin seperti dulu lagi, aku rindu Sora, Tifanny, siapapun itu." Hyuk Jae menyugar rambutnya, dia bicara dengan nada yang tegar, matanya lurus ke depan, Hyuk Jae mengeratkan pegangannya pada kotak makanan yang dipangkunya.
"Aku pikir ini adalah cara yang trendi buat melupakan Dan, tidak, ini tidak ada kaitannya dengan dia lagi. Aku menyukaimu Donghae." Hati kecil Hyuk Jae tergerak sebab mata Donghae yang bersinar itu menimpalinya dengan kesakitan-kesakitan tiada tara, Hyuk Jae jadi ingin menangis, dia tidak tegaan sekali kalau Donghae yang dia sukai patah semangat atas semua kekurang ajarannya.
"Hyuk Jae, katakan saja….," laju mobil Donghae bergerak lebih cepat, dia semacam kehilangan kendali tetapi tetap terkontrol. Donghae tidak menatap Hyuk Jae sama sekali, dia seperti enggan dan itu membuat Hyuk Jae kesal, bersalah, semua campuran perasaan tidak enak hati yang mungkin membunuhnya. Karena kesedihan Donghae membuatnya gila, karena dia tahu Donghae memendam sesuatu yang lebih kepadanya, karena Hyuk Jae tidak bodoh dan karena Hyuk Jae adalah orang yang kejam.
"Tidak, kau yang katakan saja, kalau kau mengatakannya kita pasti akan punya jalan cerita yang berbeda, kita bisa mengubah segala sesuatunya meski aku merengek minta dijemput Sora di pemberhentian nanti. Kita bisa bersama-sama kalau kau berani." Itu terkesan memaksa, terkesan terburu-buru, terkesan bukan Hyuk Jae sekali. Ini pertama kalinya dia memaksa seorang pria buat menyatakan cinta padanya, ini pertama kalinya dia berubah menjadi seorang Hyuk Jae yang tidak dikenalnya. Hyuk Jae yang dulu tidak pernah merengek cinta, dia datang ketika pria-pria berhidung belang bilang bila mereka sudah tobat dan Hyuk Jae adalah satu-satunya. Oleh karena itu Hyuk Jae selalu terulang jatuh mengalami kesakitan yang sama. Dan atau siapapun itu, mantan pacarnya yang lain, yang semuanya rambutnya berwarna pirang kecuali Donghae. Donghae bukan seorang brengsek yang memaksanya melakukan blowjob, sebaliknya Donghae dipaksa untuk merasakan blowjob dari Hyuk Jae.
Dia sudah menduga, sekecil apapun kemungkinan yang ada, tatapan Donghae ketika mereka bercinta jelas berbeda. Ekslusif, seolah tidak ada seorangpun yang boleh tahu keberadaan Hyuk Jae dan mereka berada dalam misi rahasia, mengenai pengejaran klimaks dan Donghae hanya membayangkan Hyuk Jae seorang. Payudara Hyuk Jae yang montok dan bokongnya yang sintal. Ya, Donghae hanya memikirkannya seorang bukan? Tidak ada lagi orang yang dipikirkannya selain Hyuk Jae kan? Karena Donghae tersipu malu saat Hyuk Jae memuji betapa tampannya dia, sebab Donghae bilang ciumannya beraroma cokelat.
Begini, boleh saja Hyuk Jae merasa bosan. Bosan, itu kata yang kejam. Tapi anggap saja dia memang bosan, tetapi kejenuhan itu menyangkut pautkan atmosfer yang terasa keruh dan monoton. Sementara sentuhan Donghae selalu menimbulkan efek baru ke tubuhnya, bercinta atau tidak, entah sentuhan Donghae dimaksudkan buat menggodanya ataukah sebaliknya, mereka menimbulkan gempuran baru di hati Hyuk Jae, jelasnya itu bukan melulu mengenai reaksi di klitoris Hyuk Jae tetapi juga efek samping dari pancaran kasih sayang yang terpendam jauh di lubuk hati Donghae.
Sialan, jaraknya dengan Donghae ratusan kilometer jauhnya. Hyuk Jae gila kalau dia bilang dia sanggup setia sementara para pemain rugby di Kampusnya berbadan jangkung dan kekar, dan dia tidak mempertimbangkan segalanya. Bagaimana kalau sebenarnya yang jatuh lebih dalam bukanlah Donghae tapi dia sendiri? Bagaimana jika Hyuk Jae jatuh cinta padanya? Itu konyolkan? Maksud Hyuk Jae, jatuh cinta? Itu kata yang sakral, sarat akan makna, tidak pantas terlintas di otaknya. Namun bagaimana kalau dia merasakan itu?
"Donghae kau suka aku kan?" Hyuk Jae menggelengkan kepalanya, menghela nafasnya kesekian kali sembari meletakkan tangan di dada kirinya. Dia menghembuskan nafas yang masuk, menariknya lagi. Debaran di jantungnya setara pacuan kuda, dia berdoa supaya Donghae tidak mendengar sedikitpun kegilaan itu, sementara dia menata hatinya Donghae kelihatan tidak berdaya, Donghae pasrah.
"Tidak, maksudku ya, tapi ya Tuhan, itu bukan kata yang tepat. Kau harus mulai belajar banyak kata Hyuk Jae, mereka tidak punya arti yang sama." Donghae mendadak menginjak rem, detak jantung yang setara pacuan kini telah meledak. Donghae menarik Hyuk Jae naik ke pahanya, meremas pinggulnya, wajah Donghae terbenam diantara dua payudara Hyuk Jae. Nafas Donghae yang hangat menghasilkan embun disana, sampai Hyuk Jae kegilaan lalu meremas rambut Donghae yang halus. Hyuk Jae dengar Donghae bergumam tidak jelas, sebagian dari itu berarti asing tetapi dia menangkap sesuatu seperti,
"Aku mencintaimu Hyuk Jae, aku sangat menyukaimu. Kita pacaran ya?"
Ya Tuhan, tentu saja Hyuk Jae mengangguk, menarik leher Donghae dan melahap bibirnya.
"Ya Donghae, kita pacaran. Aku sangat menyukaimu juga. Kita akan jadi pasangan yang gila."
.
.
.
Donghae terasa seperti kehilangan nyawa sewaktu Sora datang dan berteriak kepada Hyuk Jae, memeluk adiknya seerat Donghae memakai ikat pinggangnya, mereka tertawa-tawa sambil melompat-lompat dan Donghae jadi sebal karena Hyuk Jae seharusnya sedih, mereka akan berpisah setidaknya untuk seminggu lamanya atau lebih lama, yang tidak akan dia lihat adalah Donghae dan yang sekarang dipeluknya adalah Sora. Itu tentu saja penghinaan, mereka berpisah sehari setelah mereka pacaran. Dan Hyuk Jaelah yang mengusulkan itu, dia bilang Donghae harus sampai di tujuannya sebelum dia berani datang ke rumah Hyuk Jae, semacam syarat lamaran buat pacaran yang unik, itu sebutan Hyuk Jae. Bagaimanapun, walau dia enggan, meski dia sempat menolak, dia pada akhirnya menyetujinya.
Brengsek, bagaimana Donghae bisa melepaskan bayang-bayang Hyuk Jae dari mobilnya, aroma cokelat Hyuk Jae dari kursi mobil, sentuhan dan suara Hyuk Jae yang jelek. Tetapi tabahlah Donghae, Hyuk Jae akan berada di bawah kakimu segera setelah kau sampai, embel-embel bunga ada di tangan dan serangkaian kata-kata merayu yang unik. Setelah itu Hyuk Jae akan jadi miliknya dalam beberapa waktu yang lama, tendangan di selakangan Dan tampaknya akan jadi kenyataan.
Pahit sih, Donghae tidak familiar dengan gaya pacaran jarak jauh yang memusingkan, Hyuk Jae pun setuju akan itu. Meski Hyuk Jae bilang dia sering kali bergandengan tangan dengan beragam laki-laki yang disukainya, tidak ada seorang pun yang berjarak ratusan kilometer seperti Donghae. Itu saja, selebihnya tidak ada yang berarti. Semuanya Donghae bisa atasi secara sempurna, kesabaran itu toh akan membawanya kepada Hyuk Jae. Kepada seksnya yang menganggumkan dan wajahnya yang cantik. Ketika sampai, Donghae bisa pamer sedikit. Pacar Mike cantik, tetapi dia tidak semempesona Hyuk Jae, dia pula bisa bilang jikalau Hyuk Jae adalah simpanan mafia yang dia selamatkan nyawanya sampai Hyuk Jae jatuh cinta dan mereka hidup bahagia bersama selamanya. Mengesankan bukan? Di luar dari payudara Hyuk Jae yang kencang, Hyuk Jae masih memiliki beribu kharisma yang membuat Donghae kecanduan.
Sora mengusap-usap tangannya seolah hatinya dingin sebab tatapan sendu dari wajah Donghae, dia berdeham lalu tersenyum, dia punya senyuman yang mirip sekali dengan Hyuk Jae, senyuman amat langka. "Begini," dia berdeham, dia terbatuk-batuk juga, suara yang keluar dari mulutnya dibuat-buat, "aku bahagia sekali karena yang ditemuinya bukan pemuda jalang, Donghae kan? Ya Tuhan, kau tampan sekali."
Hyuk Jae tersenyum, jaraknya semeter jauhnya dari Sora. "Dia tidak berotak dongkol seperti Dan," sahut Hyuk Jae.
Donghae mabuk kepayang, tetapi dia menahan detakan jantungnya sembari menggaruk kulit kepalanya. Dia mengangguk yang mana dijawab oleh Hyuk Jae dengan kerlingan nakal. "Hyuk Jae tidak seliar yang kau katakan, dia masih bisa dijinakkan."
Sora tertawa, menarik pinggang Hyuk Jae sehingga mereka selama beberapa saat berpelukan lagi. "Aku tahu, aku sangat menyayanginya." Mereka kelihatan mirip, perbedaannya cuma tinggi badan dan warna rambut. Sora tidak seksi, tetapi dia kelihatan anggun dan pemalu. Dia mencerminkan jiwa muda yang retro, Hyuk Jae sebaliknya, dia lebih tinggi dan punya lekuk tubuh yang bagus. Tetapi mereka seimbang. Maksud Donghae tidak ada yang bisa dilebih atau dikurang-kurangi dari kedua kakak beradik ini.
Donghae tidak mendengar terlalu jelas apa yang dikatakan Sora kepadanya selanjutnya, dia terlalu sibuk memandangi wajah Hyuk Jae yang bersinar karena bias matahari. Hyuk Jae mengenakan kaos Donghae yang berpotongan pendek di tubuhnya, yang anehnya bisa cocok di tubuhnya yang kurus. Setelah itu Sora permisi pamit, dia menunggu di Bus, memberikan waktu berdua yang selayaknya untuk Donghae dan Hyuk Jae.
Hyuk Jae menciumnya, ciuman yang sama laknatnya seperti dulu tetapi bermakna berbeda. Dia mencium Donghae terus, mengecup bibir Donghae berulang kali dan dibalas dengan kuantitas yang sama, tangan Hyuk Jae melingkar di leher Donghae, sisa lipstiknya tertinggal di bibir Donghae. Rasa manis yang menggairahkan, penuh akan kepahitan yang berujung panas, seks yang tergesa-gesa, semua aspek itu seakan terhubung langsung ke diri Donghae dan Hyuk Jae. Hyuk Jae menyelipkan kertas ke kantong celana Donghae, membisikkan kalimat yang serupa lagu surga bagi Donghae.
"Aku mencintaimu," desahnya, Hyuk Jae menggigit sebagian kecil dari bibir bawah Donghae. Mata yang dikuasai lonjakan gairah saling bertemu, nafas mereka tertaut, "disana ada alamat rumah, Universitasku dan nomor telepon. Temui aku segera setelah kau sampai, ya sayang?"
Donghae mengangguk, dia tersenyum dan memeluk Hyuk Jae lebih erat.
.
.
.
"Duh, Tifanny," Hyuk Jae mendesah lagi, dia tertekan dan kehilangan kata-katanya. Dia memijat tulang hidungnya dengan kedua jari, kerutan di dahinya tampil seperti ornamen kayu, dia mondar-mandir dari ruang tamu sampai ke konter dapur. "tidak, kami sudah putus," katanya lebih tegas.
Dan pria berhidung belang itu tidak bisa ditemukan sejak Hyuk Jae balik ke asrama empat hari yang lalu, dia memutuskan balik ke rumah orangtuanya setelah tidak ada seorangpun yang tahu dimana keberadaan Dan. Dia beberapa kali memancing teman-teman Dan yang rupanya sama busuknya dengan pria itu, sayangnya tidak ada hasil sampai sekarang. Omong-omong, dia bergairah sekali untuk menedang testis pria itu sampai pecah. Dia sempat jadi teman terbaik Hyuk Jae, sekarang dia seperti musuh bebuyutan. Lagian, buat apa dia menyembunyikan wanita yang dikencaninya diam-diam dari Hyuk Jae? Kesalahan ini murni ditanggung Dan seorang, Hyuk Jae bersumpah dia tidak berniat menyakiti wanita itu sekalipun. Tapi Dan, Dan urusan lain.
"Dengar, aku sudah cari dia ke Kampus, tidak ada seorang pun di kamarnya. Asrama sepi, kebanyakan dari mereka masih pulang kampung dan menikmati libur musim panas. Aku tidak bisa ke rumahnya, orangtuanya tidak tahu kami pacaran," Hyuk Jae berkacak pinggang, matanya berputar-putar. Tifanny belum juga jengah, maksud Hyuk Jae, apakah temannya yang suportif ini berpikir kalau dia masih mengharapkan pria itu? Ya ampun, pikiran sinis macam apa itu? Lagipula kan dia sudah punya Donghae. Donghae yang tampan, Donghae yang seperti pangeran berkuda putih. Bodohnya Hyuk Jae, bagaimana kabar Donghae sekarang? Tadi malam Donghae menghubunginya, dua hari lagi terasa terlalu panjang, Donghae dan dia sama-sama tidak sabaran.
"Sialan kau Tiff, kau pikir aku mengharapkannya?" jengah Hyuk Jae, "Aku sudah punya pacar."
"Ya yang itu, Donghae yang kuceritakan waktu ini. Kau tahu, dia menatapku seolah aku satu-satunya wanita yang pernah dia temui," Hyuk Jae tertawa, menutup mulutnya dan berjalan lagi, "tidak, sungguh, walau dia merayu, rayuannya tidak seperti pria-pria brengsek itu. Dia sepertinya seorang perjaka sebelum dia bercinta denganku." Hyuk Jae memutuskan buat duduk di sofa, sebelum itu dia membenahi roknya yang pendek.
"Aku gila ya? Baru saja putus cinta sudah jatuh cinta lagi," kali ini ditawa Hyuk Jae ada kesan geli yang membingungkan. "Sejujurnya, aku dan Dan sama-sama selingkuh sih, tapi dengar ya, aku masih mau balas dendam, kau harus bantu aku. Bilang saja kalau Hyuk Jae mencampakkan pria itu karena gaya bercintanya jelek dan sekarang Hyuk Jae sudah menemukan malaikat cintanya yang serupa aktor Swedia, yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya." Dia menempelkan ponselnya lebih erat lagi ke leher, Hyuk Jae terus tertawa. "Ya begitu, bantu aku ya?"
Hyuk Jae sekarang mabuk kepayang dengan ide kretaif Tiffany menjahili Dan, yang lagaknya diusulkan juga oleh teman-temannya yang lain. Hyuk Jae dengan segenap rasa dendam dan getir di hatinya ingin membuat pria tidak berpendidikan yang tukang selingkuh itu kapok. Supaya tidak akan ada Hyuk Jae yang kedua dan ketiga, atau malah yang lebih buruk dari Hyuk Jae. Dan juga merupakan pria yang keji, dia secara diam-diam, pernah main mata dengan Tiffany. Di belakangnya! Sadis sekalikan? Tiffany baru mau mengakuinya (menjelaskan apa saja yang yang dilakukan Dan terhadapnya) secara detail. Tiffany dengan segala ketakutannya merahasiakan kecabulan Dan yang tiada habisnya itu karena takut dianggap pengkhianat oleh Hyuk Jae. Duh, pria itu sungguh mendidikan amarah Hyuk Jae yang telah dipadamkan Donghae.
Kalau dipikir-pikir sih, Dan tidak benar-benar harus dikerjai matian-matian hingga seluruh wanita lokal di Kampus yang disukai Dan (Dan mengklasifikasikan gadis berambut merah dan pirang sebagai gadis yang cantik) supaya menolak ajakan tidur barengnya. Hyuk Jae hanya ingin membuat pria itu kapok akan sejumlah gelagatnya yang kurang bermoral.
Hyuk Jae mendidih lagi, kini Tiffany menceritakan sebagaimana Dan pernah mencoba untuk menagih nomor telepon Britney bersama kekasarannya yang tiada habisnya itu, Britney sendiri adalah teman baik dari teman kesayangan Hyuk Jae—yang dikenalkan Hyuk Jae sewaktu mereka singgah di Taco Bell dua bulan belakangan. Pria hidung belang itu sungguh-sungguh membuat pusing kepala. Hyuk Jae menendang bak sampah mini di sudut kamarnya yang bermotifkan ikan badut, yang secara tidak sengaja mengingatkannya kepada Donghae sebelum suara bel yang nyaring dari pintu utama menghancurkan keseruan gosipnya dengan Tiffany.
Hyuk Jae memutar matanya, pamit pada Tiffanya "Oke, sampai jumpa dua minggu lagi. Aku menyangimu, bye."
Kemudian dia membuka pintu kamarnya yang terhubung dengan tangga dan pintu utama. Bel rumahnya ditekan sedemikian sadisnya sehingga membuat Hyuk Jae mendesah berang, "Tunggu sebentar!" teriaknya dan berlari sebelum melempar ponselnya ke sofa.
Hyuk Jae dengan penampilannya yang kurang kompeten, berlapiskan kaos putih dan rok pendek ketat, terpogoh-pogoh membuka pintu. Dia masih asyik ngobrol tentang Dan, kebrengsekannya, serta cara jitu apa yang bisa membuatnya jengah. Andai Sora tidak sedang kencan (bersama mantan suaminya) dan Ibunya yang cerewet itu tidak menitipkan tanggung jawab rumah ini selama enam jam penuh kepadanya, Hyuk Jae dengan segenap kebandelannya tidak akan pernah keluar sejengkalpun dari tempat tidurnya.
Jadi, wanita ini membuka pintunya, bersama raut wajahnya yang kucel dan rambutnya yang diikat berantakan menyamping serta riuhnya noda cokelat rendah gula di bajunya.
Oke, kenapa trik magis seperti ini, yang kuno dan tidak praktis mendadak mendatangkan Donghae di depan rumahnya dengan segenggam bunga mawar berwarna pelangi tersenyum kearahnya, berteriak, "Akhirnya kesempatan ini datang lagi, aku merindukanmu Hyuk Jae!" dimana dia sama sekali tidak berdandan, lusuh, tidak cantik dan kurang keren. Tidak sekeren ketika dia menangis beberapa minggu silam di hari pertama mereka bertemu.
"Ya ampun, Donghae!" Hyuk Jae langsung berhambur kepelukan Donghae, menghiraukan tatapan berang dari seorang bibi tua fans Julia Robert yang mengintipi mereka dari pekaraman rumahnya. Bibi itu berambut kribo, bibirnya merah merekah seperti kulit apel, kalau tidak salah namanya Martha dan dia sering bersitegang dengan Ibu Hyuk Jae. Ini dia, bau maskulin yang seperti ini yang dia rindukan, bau Donghae.
Donghae mendekap Hyuk Jae di dadanya, dengan senyumannya yang indah itu dia mengecup pusara rambut Hyuk Jae. "Aku rindu sekali Hyuk Jae, aku stres tanpamu," akunya. Donghae cemberut, lucu sekali, itu merangsang Hyuk Jae buat mencubiti pipinya yang gembul.
Hyuk Jae mendongak, dengan mata bulatnya dia nyaris saja menangis, demi Tuhan, demi semua keanehan yang terjadi, rasa sesak karena merindukan orang tidak pernah datang sehebat ini. Tidak bahkan ketika Ibunya dipindahkan kerja ke Polandia selama nyaris dua tahun, Hyuk Jae tidak pernah menangis. Apa dari diri Donghae yang bisa menggerakkan Hyuk Jae?
Jarak mereka sekarang dekat sekali, nafas hangat Hyuk Jae yang menderu menerpa pipi Donghae, Donghae mencium mereka secara gila-gilaan, mencium Hyuk Jae dengan maksud menggodanya. Lidah Donghae jugalah yang dia impikan-impikan selama dia tertidur.
"Hyuk Jae," sergah Donghae sesaat setelah mereka berhenti ciuman, lengan besarnya memeluk Hyuk Jae lebih erat, "aku mau kau ganti warna rambutmu, apa saja asalkan jangan pirang. Aku berencana menghabiskan seluruh libur musim panasku disini saja, ya? Kita tendang selangkangan Dan sama-sama."
Ide Donghae tidak jelek, usulan itu tidak merugikan Hyuk Jae pula. Oke, warna apa yang Donghae sukai selain biru dan hijau? Pokoknya yang tidak nyentrik.
Hyuk Jae mengangguk, mengangangkat kepalanya lalu berciuman lagi.
"Kita saling mencintaikan?"
Hyuk Jae mengangguk.
.
.
.
END
.
.
.
Thank you for stopping by! ;D
Any feedback?
