"Dia tidak mencintaiku." Kata-kata itu keluar dari laki-laki yang kini tengah melempar pandangannya keluar jendela. Mengamati gedung-gedung pencakar langit lainnya dari tempatnya di lantai 17 di sebuah gedung perkantoran. Sesekali matanya juga Menelusuri kepadatan jalanan kota Seoul di siang bolong yang tampak semerawut, namun tetap tertata dari atas.

"Semua yang kulakukan tak ada artinya. Cintaku ini tidak ada apa-apa baginya, dan kurasa aku sudah cukup bersabar selama ini, menantinya sedikit mencintaiku."

"Aah... aku rasa itu impian yang terlalu tinggi." Laki-laki bertubuh tinggi itu mengusap kasar wajahnya. Ia lelah lahir dan batin. Ia putus asa, baru kali ini ia dipermainkan begitu dalam oleh cinta. Kenyataan pahit yang harus ia terima semenjak satu setengah tahun yang lalu adalah, istrinya sama sekali tidak mencintainya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada hal ini. Padahal ia sanggup menukar tahta dan kejayaannya demi cinta istrinya. Jika pun kau bertanya apa impian terbesar laki-laki ini, maka ia pasti akan menjawab, 'Dicintai istrinya'-lah impian terbesarnya.

Wanita muda yang sedari tadi ia punggungi terus menatap miris ke arahnya. Menampakan raut wajah simpati walau belum tentu ia bisa membantu sahabatnya itu. Tapi wanita itu tetap harus mencoba, setidaknya memberi sedikit saran mungkin bisa membantu. Walau ia juga tidak yakin begitu. "Kau harus lebih bersabar lagi." Nah, betulkan? Ia tidak mungkin bisa membantu dengan komentarnya yang terkadang malah membuat sahabatnya itu jengkel.

"Mulutmu gampang sekali berbicara." Changmin menatap sinis kearah sahabat wanitanya yang menurutnya menjengkelkan itu. Tidakkah sahabatnya itu berpikir ini bukan saatnya untuk mengajaknya bertengkar. Setidaknya Changmin juga ingin satu hari saja tidak berdebat dengan sahabat evilnya itu.

"Menurutku kau harus mengubah metode pendekatanmu." Kyuhyun bersandar di meja kerja Changmin. Mengetuk-ngetukan jemari indahnya yang berkuku panjang dan mengkilat di atas permukaan kaca meja. "Yang kulihat selama ini Jaejoong bukanlah tipe wanita yang menyukai lelaki kalem, datar dan membosankan. Seperti kau!" Kyuhyun langsung menuding Chagmin. Membuat lelaki jangkung itu berjengit tak terima. Hei, Changmin adalah pecinta yang ulung, Bahkan sebelum menikah, banyak wanita yang betah berada di pelukannya Ia pintar membuai wanita.

"Ia menyukai lelaki tipe pemberontak. Maksudku, liar misterius, dan. . . bajingan." Kyuhyun mengakhiri kalimatnya dengan seringaiannya. Ia yakin Changmin mengerti dengan maksud kata 'Bajingan'.

Changmin menjadi berpikir sejenak. Benarkah cara pendekatannya selama ini membosankan? apa karena itu Jaejoong merasa tak tertarik padanya?. Oh Jaejoong, asal kau tahu Chagmin hampir gila memikirkan cara untuk merebut hatimu. Ia tidak puas hanya dengan hidup bersama dan bercinta denganmu saja, yang akan membuatnya puas jikalau ia berhasil menguasai hatimu, Kim Jaejoong.

"Tidak sepertimu, lihatlah kau!" Kyuhyun memperhatikan Changmin dari ujung rambut klimisnya yang mengkilat hingga sepatu yang sama mengkilat dengan rambutnya. "Terlalu rapi. . . Terlalu mengkilat, terlihat culun dan— Urrggh pokoknya kau membosankan." Sepertinya Kyuhyun memang tidak berniat memberi saran pada sahabatnya, malah ia lebih berniat untuk mengejek Changmin hingga titik terbawah.

"Hei!" Raung Changmin tak terima. Kalau saja Kyuhyun bukan sahabatnya, mungkin sekarang ia sudah melempar surat pemecatan di wajah Kyuhyun atau setidaknya memindahkannya kejabatan yang paling rendah. OB, mungkin. -.-

"Sorry boss, tapi kau memang terlihat seperti itu." Kyuhyun menampakan senyum simpati yang menjengkelkan untuk Changmin.

"Sialan. Kau tidak membantu, lebih baik kau keluar!" Changmin mendelik. Sedangkan wanita itu tertawa cekikikan. Seharusnya Changmin ingin bersedih ria dan berbagi kegalauannya dengan sang sahabat. Tapi lihatlah wanita berkulit pucat nan menyebalkan itu. Bukannya berusaha membantu malah membuatnya semakin jengkel dan naik darah.

Kyu mencoba menghentikan tawanya yang memang menyebalkan. "Maaf, tapi itu memang benar. Bahkan jika aku jadi Jaejoong pun, mungkin aku akan melakukan hal yang sama." Ujar Kyuhyun sambil dengan cuek mendekati Changmin lalu mengalungkan tangannya keleher jenjang atasannya itu. mendekati bibirnya ke leher Changmin, menghembuskan nafas hangatnya disana, membuat Changmin merinding karenannya. "Tidak semua wanita menyukai lelaki 'Baik-baik', cobalah sesekali menjadi 'liar' dan buat dia senang dengan cara yang berbeda." Dan Kyuhyun menutup kata-katanya dengan kecupan di pipi namja jangkung di hadapannya. Hal itu biasa dia lakukan. Sahabat yang begitu intim atau memang salah satu dari mereka memiliki perasaan yang berbeda. Tapi yang pasti itu bukan Changmin.

"Good luck." Desisnya di depan bibir Cangmin, lalu melepaskan tangannya dari leher Changmin. Ia berjalan ke arah pintu.

"Boss!" Changmin menoleh.

"Aku izin keluar. Siwon sudah menungguku di bawah." Kyuhyun mengedipkan matanya genit, kemudian keluar tanpa mendengar respon dari Changmin. Changmin hanya menghela nafas berat. saat melihat pintu yang tertutup. Pegawainya yang satu itu memang terlalu semena-mena padanya. Dan sialnya Changmin tidak bisa memecatnya. Walaupun Kyuhyun seperti itu, ia sangat menyayangi sahabatnya itu semenjak SMP. Changmin ingat Kyuhyun dulu adalah seorang gadis culun dengan rambut kuncir dua dan kaca mata tebal berbingkai bundar, dan entah bagaimana awalnya hingga sekarang gadis itu menjelma menjadi angsa cantik nan seksi dan. . . benar-benar agresif.

0Killing Me Softly 0

.

"JAE!"

"Oo astaga!"

Jaejoong hampir terjengkang kebelakang akibat suara melengking yang masuk tanpa penyaringan kegendang telingannya. Astaga, telinganya berdengung dan ia pikir ia akan tuli mendadak.

"Oh Junsu, tidak bisakah kau tidak berteriak dengan suara lumba-lumba terjepitmu itu. Kau mau membuatku tuli?!" Sergah Jaejoong kesal.

"Aku sudah memanggilmu dengan suara mendesah hingga melengking dari tadi. Dan kau tetap tidak mendengarnya. Ini waktunya pulang, apa kau mau bermalam disini?"

Jaejoong mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan, dan benar saja, ternyata temannya yang lain sudah pulang semua. Tentu saja ia tidak mau bermalam disini. Suasana kantornya pada malam hari begitu horor. Jaejoong bergegas membereskan barang-barangnya.

"Sebenarnya ada apa denganmu Jae? seharian ini kau tampak melamun terus?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah saja." Elak Jaejoong.

"Apa ada masalah dengan suamimu lagi?"

"Tidak." Jaejoong menggeleng lagi.

Junsu tersenyum jahil. "Atau kau sedang berpikir untuk selingkuh?"

Jaejoong langsung memandang Junsu yang tengah tersenyum menyebalkan. Junsu benar-benar merusak moodnya. "Terserah apa katamu." Jaejoong memakai tasnya lalu bergegas meninggalkan Junsu.

"Hei, Tunggu aku! kita pulang bersama!" Teriak Junsu, cepat-cepat menyusul Jaejoong. Ia rasa Jaejoong terlalu sensitif hari ini. Padahal ia kan Cuma bercanda.

.

.

Setelah menolak ajakan tumpangan Junsu tadi, Jaejoong berakhir menaiki taksi untuk pulang kerumahnya. Ia malas membawa mobil hari ini seperti sebelumnya, juga naik kereta. Naik taksi adalah pilihan yang paling tepat untuk suasana hatinya yang sekarang. Didalam taksi pun Jaejoong masih terlihat melamun. Ia terus membuang pandangannya keluar jendela memandang keadaan kota Seoul di malam hari yang penuh dengan gemerlap LED warna –warni.

Tapi apa kalian tahu? sebenarnya pikirannya tengah menerawang jauh. Sesuatu berkecamuk di dalam otaknya . Perasaan gundah, bersalah dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia angkat tangannya perlahan bersamaan dengan matanya yang terpejam. Jari-jari lentiknya menyusuri daerah rahangnya perlahan, hingga turun ke bagian di atas dadanya. Tempat dimana laki-laki misterius itu menciumnya. Jaejoong masih bisa merasakan bibir lembut dan bulu-bulu halus di wajah pria itu menggelitik kulitnya.

"Nona."

Ia masih bisa merasakan tangan besar dan kasar dari pria itu yang meremas kuat kedua payudaranya. Bahkan ia masih bisa merasakan ketika benda basah tak bertulang itu menghisap kuat klitorisnya.

"Nona!"

Dan Jaejoong masih bisa merasakan ketika pinggangnya menyatu dengan pinggang pria yang mengajaknya bergerak sesuai alunan birahi di kepala mereka. Sebuah sensasi familiar, tapi belum di rasakannya sebelumnya. Sensasi yang membawanya terbang tinggi dengan kecepatan cahaya lalu menjatuhkannya kembali dengan perlahan seperti bulu angsa yang ringan.

"NONA!"

panggilan yang cukup kuat itu membuat Jaejoong terkesiap. "Kita sudah sampai, nona." kata sang supir taksi sembari melirik Jaejoong dari back mirror dengan raut wajah aneh. Jaejoong malu, apakah si sopir menangkap gelagat anehnya yang sedang menghayal jorok?

"I-iya..." Jaejoong baru sadar bahwa ia sudah tiba didepan rumahnya. Ia mengambil beberapa lembar won dari dompetmnya lalui menyerahkan pada sopir dan segera keluar dari taksi.

"Shit!" Umpatnya pelan saat merasa celana dalamnya basah. Hanya membayangkannya saja membuatnya horny. Tapi ia membantah.

.

.

Jaejoong pikir suaminya lembur saat tak menemukannya di rumah. Tapi saat ia melempar tasnnya di atas ranjang mereka, ia menemukan sebuah surat di sana.

Bukan aku tidak mau menunggumu

Tapi aku sudah menghubungimu berkali-kali dan tak mendapat jawaban.

Aku pergi ke Meksiko mungkin selama 1 bulan.

jaga dirimu

Love : u beloved husband

.

Dua minggu kemudian

"Oh, malam ini dingin sekali." Eluh Jaejoong, memeluk dirinya sendiri. Memasuki winter cuaca semakin dingin. Apa lagi malam-malam begini, dinginnya semakin menusuk tulang. Seharusnya ia berada dalam selimutnya yang hangat, tapi perutnya yang keroncongan memaksanya harus menempuh dinginnya malam demi mendapat sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Hari ini akhir pekan, dan waktunya ia habiskan dengan menonton beberapa DVD yang ia belum sempat tonton semenjak membelinya. Semenjak Changmin pergi, ia tidak pernah memasak untuk dirinya sendiri. Ia sering memakan makanan instan atau memesan makanan. Memasak dan memakannya untuk diri sendiri rasanya tidak menyenangkan baginya. Biasanya ada Changmin yang membuatnya semangat memasak. Saat melihat suaminya bersemangat makan masakannya adalah hal yang paling membahagiakan. Setidaknya ia tahu suaminya begitu menghargainya.

Toserba yang ia tuju tidak seberapa jauh dari rumahnya. Sesampainya disana, Jaejoong segera mencari bahan makanan yang ia butuhkan. Untuk malam ini sepertinya ia ingin makan takoyaki buatannya sendiri. Aah, ia ingat, suaminya juga sangat menyukai takoyaki buatannya. Sayang, Changmin sedang tidak disini.

Setelah semua bahan untuk membuat takoyaki lengkap, Jaejoong mendorong trolinya ke rak minuman dingin, kemudian mengambil beberapa kaleng bir dan segera menuju ke kasir.

"Aah, great!" Jaejoong membuang nafas panjang. Sesaat ia keluar dari Toserba, butiran-butiran air dari langit mulai berjatuhan. Ia tidak membawa payung, dan ia malas kembali kedalam toko untuk membeli payung. Ia rasa tidak buruk jika menerobos hujan yang masih rintik-rintik, sekarang. Lebih baik begitu Dari pada menunggu disini dan hujan semakin deras.

"Kim Jaejoong!"

Merasa namanya disebut, Jaejoong menoleh ke asal suara dan menemukan laki-laki yang belakangan ini selalu mengganggunya. Laki-laki bernama Jung Yunho itu berjalan mendekat dengan mata yang intens menatapnya.

"Kau?!"

Jaejoong kaget saat melihat pria misterius yang baru ia temui beberapa minggu lalu ada di sana. pria yang menidurinya di awal pertemuan mereka. pria yang sudah menghantui mimpinya beberapa minggu ini.

Pria itu berjalan mendekati Jaejoong dengan mata yang lekat-lekat menatap wanita itu. Mata tajam yang mempesona seolah bisa membius siapa saja yang menatapnya. Mata yang bahkan mampu membuat Jaejoong tak berdaya jika bertatap langsung.

"Apa yang kau mau? tinggalkan aku sendiri." Jaejoong berujar tegas. Ia memalingkan muka untuk menghindar dari kontak mata dengan Yunho. Jaejoong mulai merasa gugup tanpa alasan. Pria yang berkeliaran di fantasi dan mimpinya kini ada didepannya. Ia bingung harus bersikap bagaimana, tapi ia yakin satu hal yang tepat ia lakukan. Ia harus menghindar.

"Aku menunggumu waktu itu." Jaejoong ingat waktu itu Yunho memintanya untuk datang lagi. Apa dirinya sudah gila? Ia sudah bersuami. Tidak mungkin ia sengaja kembali ketempat laki-laki itu dan meminta untuk di tiduri kembali?

"Sudah aku bilang aku tidak bisa. Maaf." Jaejoong cepat-cepat pergi dari tempat itu."

"Tunggu."

"Tinggalkan aku sendiri!" Jaejoong berusaha mempercepat langkahnya ia tidak mau terlibat pembicaraan dengan pria itu. Jaejoong selalu tak berdaya jika berhadapan dengan pria itu.

"Kubilang tunggu!" Yunho menarik tangan Jaejoong untuk menghentikan langkah wanita itu. Lalu menghempaskannya ke Box telpon umum yang ada di pinggir jalan hingga dua kantong belanjaan Jaejoong terlepas dari tangannya.

"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" Jaejoong panik, ketika pria itu masih terus menatapnya. Cengkraman Yunho begitu kuat ditangannya hingga ia bisa merasakan perih.

"Kumohon lepaskan aku... please." Suara Jaejoong bergetar. Ia begitu takut hingga ingin menangis. Yunho yang melihat ketidak berdayaan Jaejoong mulai mengendurkan cengkramannya.

"Maaf... aku hanya merindukanmu." Ujar Yunho pelan. Entah ia tak tega melihat Jaejoong menangis atau apa, hingga Yunho benar-benar membebaskan cengkramannya di tangan Jaejoong. "Dan aku tahu kau juga merindukanku."

Jaejoong menghapus air matanya. "Maaf mengecewakanmu, tapi aku sudah bersuami. Aku harap kau melupakan kejadian waktu itu. Entah apa yang ada dipikiranku hingga terbawa suasana dan melakukannya denganmu."

Jaejoong menjauhkan diri dari Yunho, mengambil belanjaannya yang sempat terjatuh dan ingin segera pulang karena hujan mulai menderas.

"Aku tidak peduli dengan suamimu. Karena aku tahu kau tidak mencintainya. tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi kau juga menyakiti suamimu. Kau selalu berharap bisa mencintai suamimu, tapi bahkan kau tak mampu untuk mencoba."

Yunho meraih pinggang Jaejoong dengan tangannya dan menghempaskannya pelan ketubuhnya sendiri. Jaejoong memandang pria tampan didepannya tak percaya, sambil menerka-nerka apakah laki-laki ini penguntit atau semacamnya. Bahkan ia tahu perasaan terdalam Jaejoong.

"Siapa kau sebenarnya?" Jaejoong memandang lekat kedalam mata mempesona Yunho, mata yang bisa membuat syaraf ditubuhnya mengkaku setiap memandangnya. Mata tajam yang menusuk tepat ketitik hasratnya.

"Aku orang yang mencintaimu dan—" Perlahan Yunho mendekatkan jarak mereka. Hingga Jaejoong bisa merasakan nafas hangat Yunho membelai wajahnya. "Orang yang akan kau cintai." Bisik Yunho hingga sedetik kemudian Ia meraup bibir cherry Jaejoong. melumat bibir bawah Jaejoong dengan gerakan sensual. Tak diperdulikannya mata wanita itu masih terbuka, dan bibirnya terkatup rapat. Yunho terus Menggoda bibir wanita itu dengan lidahnya. Ia tahu Jaejoong tidak akan membuatnya menunggu lama, hingga apa yang terjadi berikutnya membuatnya tersenyum menang. Jaejoong membalas ciumannya.

.

.

Tepat sesuai perkiraan Jaejoong. Hujan turun semakin lebat. dan jalanan disekitar rumahnya begitu sepi. Hingga mereka tak perlu malu harus di lihat orang apa yang mereka lakukan saat ini.

Jaejoong merasa punggungnya menyentuh dinding boks telpon umum, saat Yunho menggiringnya masuk kedalam untuk menghindari hujan. Jaejoong terus mengejar bibir Yunho, dan ia mulai tampak agresif disini. Suhu tubuh Jaejoong berbanding terbalik dengan cuaca saat ini. Tubuhnya memanas dan nafasnya tersengal-sengal seiring dengan hasratnya yang mulai meninggi. Jaejoong semakin kelu saat merasakan bibir Yunho menghisap telingannya dan meremas payudara Jaejoong di balik blousenya.

Jaejoong tahu apa yang ia buat adalah kesalahan besar, Dia memang penghianat, bahkan ia merasa dirinya lebih jalang dari itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Apa yang tidak dirasakannya saat bersama Changmin ia merasakannya pada Yunho. Ia tidak peduli jika harus dihukum nantinya, ia tidak peduli dengan balasan atas perbuatannya ini. Ia akan menanggung apapun akibatnya dikemudian hari, tapi untuk sekarang, ia ingin mengikuti kata hatinya. Ia hanya ingin bahagia walau dalam hubungan terlarang.

.

.

Harusnya hubungan kita diakhiri.

Harusnya aku melupakanmu.

Tapi, begitu melihatmu,

begitu kutatap matamu, aku lupa semua itu.

aku lupa siapa aku dan siapa kamu.

dan aku terjatuh lagi pada kesalalahan yang sama.

Wanita itu terbagun dari tidurnya, saat sinar matahari dari sela curtain membelai wajahnya. Ia meregangkan ototnya yang terasa begitu kaku, kemudian sejenak duduk di ranjang. Ia tersenyum melihat seseorang masih pulas terbaring disisinya. Ia bergerak perlahan untuk menatap lebih dekat wajah orang itu.

"Kau benar, aku mencintaimu." Katanya, lalu mendarat satu kecupan di pipi pria itu.

ia segera bangkit dan menggelung rambut ikalnya. Berencana membersihkan diri terlebih dahulu, kemudian menyiapkan sarapan. Ia kelaparan.

Karena kau berbeda

karena aku suka caramu memperlakukanku.

aku suka semua tentangmu.

kau membuatku merasa begitu berarti, menjadi wanita yang sesungguhnya

.

Satu keping CD ia masukan di DVD player. Kemudian mengatur volume suaranya agar tidak terlalu besar. Ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan. Dia tidak ingin tetangganya atau seseorang yang ada di kamarnya terbagun.

alunan musik Reggae rock terdengar dari speaker. Can't remember to forget you yang di bawa oleh duo penyanyi seksi, Shakira dan Rihana membuat Jaejoong mulai menggoyangkan pinggulnya. Sepertinya ia sedang senang hari ini.

Sambil bersenandung mengikuti lagu, Jaejoong mulai menyiapkan sarapan. Hanya dua cangkir kopi susu dan beberapa peanut butter and jelly sandwich. Simple memang, tapi ia rasa orang itu akan menyukainya. orang itu selalu menyukai apapun yang dibuatnya.

Tiba-tiba Jaejoong menyinggungkan senyum. Can't Remember to forget you sepertinya cocok dengan keadaannya saat ini. Ia memang wanita yang berkali-kali jatuh pada kesalahan yang sama. Ia sadar tak seharusnya ia mencintai laki-laki itu. Ia jatuh cinta pada orang yang salah. Seharusnya ia hentikan semua ini dari awal bukan malah melihatnya berkembang hingga sedalam ini. Tapi ia selalu lupa. Ia lupa jika harus melupakan lelaki itu.

Ia tidak bisa melupakanya. Ia selalu tergoda. Hanya menatap lelaki itu saja ia tergoda untuk mengulangi kesalahannya kembali. Dan beginilah mereka sekarang, lelaki itu menjadi bagian dirinya. Dan dia menjadi bagian hidup lelaki itu. lelaki itu sudah membuatnya lupa segalanya, termasuk setatusnya sebagai wanita yang telah bersuami. hingga membuatnya 1 bulan ini tinggal bersama kekasih gelapnya.

.

Jaejoong terpekik kaget saat sebuah tangan besar tiba-tiba meremas payudaranya dari belakang.

"Yunho!" Kesalnya.

"Kau sedang menggodaku ya?" Yunho berujar tepat didepan telinga Jaejoong.

"Tidak."

"Apa maksudmu menggoyangkan pinggulmu saat kau hanya memakai celana dalam?" Yunho mengatakan itu sambil menampar pantat kenyal Jaejoong. Jaejoong memang hanya memakai kaos kebesaran dan celana dalamnya saja untuk menutupi daerah pribadinya. Ia lupa jika ia mengurung seekor beruang mesum disini.

"Aku sedang menari, bukan menggodamu, Bodoh!" Jaejoong memukul tangan Jahil Yunho yang tengah meremas bokongnya.

"Aku ingin sarapanku."

"Aku sudah menyiapkannya di meja— YA! YA! Turunkan aku, pabbo!" Pekik Jaejoong saat tiba-tiba Yunho memanggulnya dan membawanya keruang tengah, lalu menghempaskan tubuh mungilnya di sofa.

"Aku ingin sarapanku yang ini." Yunho menarik keatas kaus Jaejoong lalu segera menyambar dua benda kenyal yang tak terlindungi oleh bra.

"Nngh.. ahh Yunho~" Desah Jaejoong, saat Yunho menghisap nipplenya dengan semangat. satu tangan Yunho menyusup ke balik celana Jaejoong dan membelai barang kesukaannya disana yang kini mulai basah. Jaejoong terangsang begitu cepat, ia terlalu sensitif terhadap sentuhan Yunho.

Jaejoong mulai frustasi ketika Yunho menggodanya dengan hanya membelainya. Ia ingin merasakan sesuatu yang lebih dari itu.

"Stop, teasing me!" Erang Jaejoong.

Yunho menyeringai. Ia mendudukan Jaejoong lalu melepaskan celana Jaejoong sepenuhnya. Dengan posisi Jaejoong setengah terduduk di sofa dan Yunho berlutut di lantai, Yunho mulai membuka paha Jaejoong. Yunho tidak ingin terburu-buru menyantap hidangan utama, ia masih ingin menikmati hidangan pembuka terlebih dahulu.

Yunho mulai dari menghisap kedua ujung kaki Jaejoong, menciuminya hingga wanita itu tergelak geli. hingga semakin yunho menaikan ciumannya ke paha, tawa Jaejoong berubah menjadi desahan secara perlahan. Sesampainya Yunho di paha dalam Jaejoong, Yunho mulai menggunakan lidah dan giginya. Membuat Jaejoong semakin membuka kakinya lebar.

Jaejoong mengerang dengan mata terpejam saat benda lembut dan basah itu menyentuh ujung klitorisnya dengan perlahan. Yunho memutar-mutar lidahnya di bagian klitoris hingga Jaejoong mendesah kuat melenguhkan namanya.

"Emmh... ahh ahhh Yunho." Jaejoong hanya bisa mendesah dan menikmati perlakuan Yunho di pusat gairahnya. Yunho menjulurkan lidahnya menekan-nekan bagian dalam miss v Jaejoong hingga membuat wanita itu semakin menggelinjang nikmat. Jaejoong bisa merasakan sesuatu menggelitik perutnya setiap Yunho mengeluar masukan lidahnya disana. Kepalanya terasa semakin berat dan pandangannya mengabur saat ia semakin dekat di titik tertingginya. dari bawah sini melihat Jaejoong yang begitu menikmati terlihat sangat indah. Ia selalu suka cara Jaejoong mendesah, ia terlihat semakin cantik, Apalagi saat perempuan itu mendesahkan namanya, terlihat begitu luar biasa di matanya.

"Enghh... Yunho... ahhh~"

Jaejoong mengerang kuat, ia meremas rambut Yunho gemas saat ia mencapai puncak. Yunho menjadi kewalahan karena Jaejoong malah semakin menekan dan menjepit kepala Yunho dengan kedua pahanya. Wanita itu bergerak tak karuan saat rasa nikmat luar biasa itu menderanya, hingga akhirnya ia jatuh lemas sendiri.

Yunho menyeringai saat melihat kekasih seksinya terengah-engah dengan mulut terbuka dan mata terpejam. Tadinya ia hanya ingin memuaskan Jaejoong, tapi saat ia melihat pose Jaejoong saat ini yang terlihat tak berdaya dengan paha terbuka, membuatnya tak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.

"Apa kau sudah selasai dengan sarapanmu?" Jaejoong bertanya lemah.

"Apa kau bercanda? tentu saja belum." Dan Jaejoong hanya bisa mendesah pasrah ketika tiba-tiba Yunho menurunkan celananya dan langsung membenamkan kejantanannya ke dalam hole Jaejoong begitu saja.

"Fuck honey, bisakah kau perlahan?" Yunho hanya tersenyum, dan Jaejoong tahu itu berarti Yunho sama sekali tidak berniat lembut kali ini.

.

.

Nafas mereka saling memburu, peluh membasahi tubuh keduanya akibat kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Jaejoong masih berada di atas tubuh Yunho dengan posisi terlentang, bagian bawah tubuh mereka masih bersatu, dan mereka berdua masih sama-sama menikmati orgasme yang baru saja mereka raih bersama. Rasa yang membuat mereka serasa terbang setinggi-tingginya dan membuat tubuh mereka seringan kapas. Jaejoong akui Yunho selalu tahu bagaimana caranya membuatnya mencapai kenikmatan yang lebih. Dan Yunho akui Jaejoong Hebat, hanya melihat wajah Jaejoong saja ia bisa ereksi, apa lagi jika melihat Jaejoong mendesah keenakan saat ia kerjai, benar-benar membuatnya geregetan.

"Aku akan pulang hari ini." Kata Jaejoong memecah hening. Yunho mengerutkan keningnya tapi tak memberi respon sama sekali.

"Sudah satu bulan aku hidup bersamamu disini. Aku harus pulang, Yunho."

Memang benar sejak mereka memutuskan untuk berkencan, Jaejoong telah tinggal bersama Yunho. Hampir satu bulan Jaejoong tidak lagi pulang kerumahnya. Yunho sama sekali tidak mengizinkan Jaejoong pulang, bahkan hanya untuk mengambil baju-bajunya. Yunho menyediakan semuanya untuk Jaejoong. Ia membelikan Jaejoong baju, tas dan sepatu baru untuknya kerja. Yunho tak mau sedetik pun berpisah dari Jaejoong. Setiap hari ia akan mengantar jaejoong ke kantor dan menjemputnya lalu mengajaknya makan malam hingga berakhir di ranjang. Begitu seterusnya yang mereka lakukan setiap harinya.

"Kau tidak boleh meninggalkanku." Desis Yunho.

Jaejoong merubah posisinya jadi duduk di atas perut Yunho."Aku hanya pulang, bukan meninggalkanmu, Yun."

"Changmin akan pulang dalam waktu 3 hari ini, aku tidak mau ia curiga dan menimbulkan masalah buat kita nantinya." Jaejoong mencoba menjelaskan, berharap Yunho bisa mengerti.

Lama Yunho terlihat terdiam sebelum akhirnya ia mengangguk menyerah dengan keinginan Jaejoong.

"Katakan dulu kau mencintaiku." Tuntut Yunho.

Jaejoong tersenyum simpul, ia mencium sekilas bibir Yunho. "Aku... mencintaimu."

.

.

.

Hal yang dilakukan Jaejoong setelah tiba dikediamannya adalah berbenah. Maklum saja sudah hampir sebulan Jaejoong tidak lagi kembali kerumah ini, melainkan pulang kerumah milik Yunho. Ia mengganti semua tirai jendela dan mengganti seprei tempat tidurnya, juga mulai mengisi kembali kulkasnya yang sudah kosong berminggu-minggu. Meski ia tahu ia memang telah jahat dan berbuat curang kepada suaminya, tetap saja ia ingin menjalani kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Bagi Jaejoong hal ini sudah cukup untuk sedikit mengurangi rasa bersalahnya yang terlalu besar.

setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Jaejoong mengamil waktu bersantainya dengan berbaring di sofa sambil menikmati acara tv kesukaanya. Tiba- tiba bell rumah berbunyi menandakan ada seseorang didepan pintu rumahnya membuat Jaejoong bangkit dan segera membukakan pintu untuk seorang laki-laki dengan sebuah kotak di tangannya. Laki-laki itu berkata seseorang menyuruhnya memberikan paket itu kepada Jaejoong. Tapi saat Jaejoong bertanya padanya siapa orang itu, laki-laki itu hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu. Setelah lelaki itu pergi,Jaejoong segera membawa paketnya masuk dan segera melihat isinya. Bibirnya menyinggungkan senyum saat melihat gaun berwarna hitam yang tampak mewah ada didalamnya beserta selembar kertas diatasnya.

"Aku merindukanmu. pakai ini dan datanglah, aku sangat merindukanmu." Kemudian Jaejoong melihat alamat sebuah restaurant dibawahnya. Ia menyinggungkan senyum, Yunho memang tak bisa jauh darinya, belum ada sehari dan ia sudah meminta bertemu. Jaejoong menggelengkan kepalanya. tampaknya ia harus dandan secantik mungkin malam ini.

.

Yunho benar-benar pintar memilih tempat. Restaurant tempat mereka akan makan malam terlihat sangat romantis. Di pinggir pantai dengan suasana remang-remang. Entah kemana semua orang di restaurant itu karena tampak sepi saat Jaejoong memasukinya. Jaejoong menduga Yunho sudah menyewa restaurant hanya untuk mereka berdua.

Dan benar saja, tempat dimana ada meja-meja untuk pengunjung kali ini hanya ada satu meja ditengah ruangan dengan hiasan lilin dan taburan bunga mawar di mejanya. Mata Jaejoong menyapu segala penjuru ruangan mencari keberadaan restaurant dan menemukan siluet seseorang yang sedang berdiri di balkon yang menghadap ke pantai.

"Sepertinya kau memang sangat merindukanku." Ujar Jaejoong sambil berjalan mendekati lelaki yang sedang berdiri membelakanginya. Hanya memandangi punggung Yunho yang tampak lebih tinggi dan gagah membangunkan hasrat Jaejoong. Sepertinya Yunho memang memiliki mantra yang bisa mempermainkan Jaejoong hanya dengan melihat tubuhnya yang gagah.

"Hingga kau tidak bisa sehari saja hidup tanpaku, hmm?" Jaejoong menyelipkan tangannya diantara tangan Yunho kemudian memeluk pria itu dari belakang. Ia memejamkan matanya menghirup aroma Yunho dalam-dalam namun seketika Jaejoong membuka matanya terkejut ada aroma lain disana. Aroma lama yang ia kenal. itu aroma parfum—

"Aku memang sangat merindukanmu sayang. Dan tidak bisa hidup tanpamu walau sekejap saja." Suara berat itu terdengar berdengung ditelinga Jaejoong.

Jaejoong tersentak kebelakang melepas pelukannya tiba-tiba

-"Changmin?!"

To be Continue

huaa hiatus saya kelamaan kah? maaf. entah kenapa wb itu menyerang terlalu lama hingga ikut menghilangkan kemampuan menulis saya. Jadi kalo agak kaku bacanya maafkanlah. ini seri kelanjutan KMS. Untuk Sleepless namja emm... segera ya. gitu juga dengan pregnant. Doain saya supaya ide ga surut2 dan mood tetap bagus supaya ga tenggelam lagi. Oke bagaimana pendapat kalian dengan chap ini~?

salam hangat

Kim Selena

Review Please