Ch. 1: Hero of the 'Nightmare', red seal stone of the unknown and new discovery


Dengan berkenalannya Ieyasu dan Tsuruhime, grup yang awalnya empat serangkai kini menjadi lima serangkai, berkumpul setiap jam istirahat di atap akademi untuk menyantap makan siang, sekaligus melepaskan penat dari beban pelajaran. Nampaknya, ini bukanlah awal yang cukup baik bagi sang Divina, Tsuruhime.

"Lemas sekali kalian, Dokuganryuu, Motochika," ucap Ieyasu pada kedua kakak kelasnya sebelum menyantap roti melon di tangannya. Dilihatnya kedua kawannya yang sama-sama bermata satu itu memasang wajah 'Aku benci hari ini' sembari menyantap makan siang masing-masing.

"Pelajaran pertama hari ini tuh si mahluk tidak jelas itu," Motochika mengurut dahinya, merasa kepalanya masih pening. "Bagaimana kita tidak lemas?" balasnya, kemudian memasukkan tempura ke dalam mulut.

"We should have ditched the class, Chousokabe," Masamune memutar enam sumpit di antara jemarinya, entah dari mana ia dapatkan empat bilah lainnya. "Kita 'ga butuh pelajaran shit dari dia."

"AnoDokuganryuu," Keiji menunjuk sumpit-sumpit di sela jemari Masamune. "Sumpitku…"

"Maamaa… Dokuganryuu, Motochika, kalian tidak boleh seperti itu," nasihat Ieyasu. Masamune tidak mengindahkannya. Ieyasu sudah biasa diperlakukan demikian ketika mood sang Dokuganryuu sedang dalam keadaan kritis.

"Say, Chousokabe," panggil Masamune seraya bangkit dari duduk, mendapatkan atensi dari si marga Chousokabe. "Wanna spar?"

Sebuah seringai muncul di wajah Motochika. "Kenapa tidak?" ia berdiri, menyusul Masamune ke tengah atap. Tidak ada seorangpun selain kelima orang ini, jadi Masamune sama sekali tidak mempermasalahkannya.

"Tetapi kalian bisa merusak atap sekolah!" Tsuruhime memperingatkan, mengerti apa yang hendak dilakukan oleh kedua remaja ini.

Masamune menoleh ke arahnya, berkata, "Not to worry," lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya, "ini akan membuat tempat yang dipakai untuk bertarung menjadi sparing field. Tidak akan ada damage."

"Biar aku yang jadi wasitnya!" Keiji segera berdiri dan berjalan ke arah para petarung.

"Hmph," dengus Masamune. "Selama kau tidak menghancurkannya seperti waktu itu, Maeda."

Keiji membeku melihat tajamnya tatapan Masamune yang mengisyaratkan 'Ulangi kejadian itu dan kupastikan Kokuryuu menebas lehermu'.

Ia melempar kotak kecil tersebut ke tengah atap, dan begitu menyentuh tanah kotak tersebut pecah, mengeluarkan aura berwarna biru muda. Kemudian Masamune mengeluarkan selembar kartu, mengangkatnya ke udara.

"Kojuurou," panggil Masamune dan seketika itu juga, kartu tersebut mengeluarkan cahaya lalu lenyap. Bersamaan dengan lenyapnya kartu di tangan Masamune, seorang pria berpakaian jas coklat panjang, celana putih dan montsuki yang ditutupi oleh baju zirah dada muncul. Pria tersebut berlutut di hadapan Masamune kemudian berdiri menghadap ke Motochika. Tangan kanan disandarkannya pada gagang katana Kokuryuu yang masih dalam sarungnya.

"Wuah, langsung dipanggilnya 'kepala pelayan-merangkap-petarung'!" humor Motochika, yang malah membuatnya dihadiahi tatapan tajam dari sepasang Naga tersebut. Bukannya diam, Motochika menambah tensi dengan melebarkan seringainya. Dia menarik keluar kartunya, melemparkannya ke udara.

"Chousou Yanagare!" seru Motochika dan kartu tersebut bertransformasi menjadi seorang lelaki muda berambut perak. Sebuah jangkar ditopangnya pada pundak kanan, dan sama seperti tuannya, ia juga memakai penutup mata di mata kiri dan menyeringai selebar tuannya.

"Ah, sudah berapa lama tidak bertarung, eh, Katakura?" Chousou Yanagare melemaskan otot pundak dan leher yang terasa kaku setelah lama tidak bergerak.

Kojuurou tidak membalas. Tangan kanan dialihkan menggenggam sarung katana sementara tangan kiri bersiaga di dekat gagang. Begitupula dengan Yanagare; segera ia siagakan jangkarnya dan menyiapkan kuda-kudanya.

Tensi terasa semakin pekat seiring dengan lewatnya tiga detik. Keiji mengangkat tangan kanan ke udara lalu membantingnya seiring berteriak, "Mulai!"

Chousou Yanagare bergerak terlebih dahulu, ia melesat ke arah Kojuurou dan mengayunkan jangkarnya. Kojuurou mencabut Kokuryuu, menangkis serangan Yanagare sebelum bilah besi jangkar sampai menggores pinggangnya.

"Heh, tidak buruk," sarkatis Yanagare. Ia melompat, dan dengan jangkar sebagai tumpu, ia melayangkan roundhouse kick pada Kojuurou. Dengan cepat dicengkramnya kaki Yanagare, mengunci si penyerang. Kojuurou melepaskan genggaman dari Kokuryuu, langsung berputar membanting Yanagare ke lantai atap.

"BRAK!"

"Khhh!"

Kojuurou kemudian menyambar pedangnya, lalu diayunkannya pada Yanagare yang masih terbaring di atas lantai. Yanagare berguling menjauh, menyebabkan tebasan tersebut meleset. Kemudian segera bangkit ke posisi bertarung, menarik jangkarnya kembali pada tuannya.

"Heh, bahkan setelah turnamen tiga bulan yang lalu, Migime tidak kehilangan sedikitpun kehebatannya," puji Motochika. Masamune hanya tersenyum bangga. Adu jurus kembali dilakukan oleh kedua daemon. Bilah besi Kokuryuu beradu dengan setiap ayunan jangkar Yanagare, menimbulkan bunyi denting kencang nan nyaring antar besi.

"TANG! TANG! TRANG!"

Pertandingan semakin instensif, terlebih lagi setelah Yanagare mulai mengeksekusi jurus-jurus api miliknya. Kojuurou berhasil mematahkan seluruh serangan Yanagare, membuatnya menyeringai puas. Yanagare melompat tinggi ke udara, berpijak di atas jangkarnya saat masih di tengah udara. Api menyembur keluar dari ujung tajam jangkar, mendorongnya melesat ke bawah. Ia menikung saat berada di dekat Kojuurou, menyebabkan api menyambar mangsanya. Sebelum api berhasil mencapainya, Kojuurou mengangkat tinggi kaki kanannya lalu membanting ke bawah, mengeluarkan gelombang listrik yang hancur bersama dengan semburan api. Efek ledakan sama sekali tidak menyebabkan kerusakan apapun karena aura biru yang sudah dipasang tadi menetralkan semua aftermath jurus.

"Wuah…! Katakura-san dan Yanagare-san hebat!" Tsuruhime terkagum-kagum.

"Itulah daemon milik Onigashima no Oni dan Dokuganryuu," Ieyasu membernarkan.

Sesi latihan berakhir seimbang antara kedua pihak. Kedua Onmyouji menarik kartu mereka, menandakan selesainya sesi latihan bertepatan dengan berderingnya bel masuk. Kelima murid segera turun dari atap sekolah menuju kelas masing-masing.

"Oi, Ieyasu," panggil Masamune ketika Ieyasu dan Tsuruhime hendak turun ke kelas mereka. "Baru sekali kita bertarung. Bagaimana kalau kita sparring sepulang sekolah nanti?"

Ieyasu mengurut dagu, berpikir sejenak. "Baiklah, Dokuganryuu! Aku tidak akan segan-segan!"

Masamune menyeringai kecil, lalu bertolak menuju kelasnya bersama Motochika dan Keiji. Ieyasu dan Tsuruhime meneruskan perjalanan mereka ke kelas sembari bercakap-cakap.

Jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Bel pulang berbunyi, menandakan berakhirnya pelajaran yang tengah berlangsung. Ieyasu bersama murid-murid yang lain merapihkan peralatan, bersiap untuk pulang. Saat guru melangkah keluar dari kelas, murid-murid menyusul keluar. Ieyasu dan Tsuruhime berjalan menuju tangga dimana tiga teman lainnya menunggu.

"Dokuganryuu! Motochika! Keiji!" Ieyasu melambaikan tangan pada ketiga temannya tersebut. Mereka membalas dengan mengangkat tangan kanannya. Kemudian kelimanya berjalan menuju lapangan sekolah.

Lapangan sekolah memanglah sangat ideal untuk berlatih, terutama karena lahannya yang luas. Masamune mengeluarkan kotak biru itu, melemparkannya ke atas tanah. Ieyasu berjalan ke sisi lain, berhadapan dengan Masamune yang menjadi teman latihannya. Dipanggilnya Kojuurou keluar.

Ieyasu menarik kartunya, "Tadakatsu!"

Kartu tersebut bercahaya, dan sang daemon yang mendiami kartu tersebut keluar. Daemon dalam baju zirah baja, bersenjatakan tombak bor dan adalah seorang robot. Yang terkuat dari semua daemon yang ada, Honda Tadakatsu –Sengoku Saikyou. Oh, melawan daemon terkuat selalu menjadi tantangan. Ini membuat Masamune bersemangat kembali setelah jenuh oleh pelajaran.

Kojuurou perlahan menarik keluar Kokuryuu, menyiapkan posisi bertarungnya. Begitupula dengan Tadakatsu yang bersiaga dengan gerak-gerik dari lawannya.

"Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang seru," Keiji tersenyum lebar. "Kalian berdua! Berjuanglah!"

Keheningan menyelimuti suasana pertarungan, dipecahkan oleh komando dari Ieyasu.

"Tadakatsu, mode artileri!"

Tadakatsu berlutut, mengeluarkan sepasang meriam laras panjang dari punggungnya, membidikkannya pada Kojuurou. Kojuurou melesat, melancarkan serangan sebelum Tadakatsu bisa menembakkan satu bola meriam. Meskipun yang terkuat, tetap gerakan Tadakatsu terhitung lambat untuk kecepatan seorang Katakura Kojuurou.

"Mode support!"

Dua pasang robot yang seperti cakar keluar dari punggung Tadakatsu, mendeteksi Kojuurou sebagai bahaya dan menyerangnya. Kojuurou menghindari serangan dari robot-robot itu. Berguling, melompat dan menangkis tembakan. Setelah berada di jarak aman robot-robot itu kembali pada tuannya, namun tetap siaga di sekitarnya.

"Hebat juga kau, Ieyasu," Masamune menganalisis pertarungan yang sedang berlangsung. "Kojuurou."

"Mengerti, Masamune-sama," Kojuurou mengangkat katana se-level kepalanya, membidik ujung Kokuryuu ke arah robot-robot pendukung. Ia memfokuskan elemen petirnya pada ujung lancip Kokuryuu dan menembakkannya pada salah satu robot pendukung.

"CRASH!"

Robot pendukung tersambar oleh petir dan jatuh ke tanah, hangus. Ia kembali mengulang hal yang sama sampai tiga lainnya tumbang, membuat Tadakatsu tidak lagi dilindungi selain oleh zirah baja dan sepasang meriamnya.

Kojuurou menancapkan pedangnya ke tanah dengan keras, energi listrik keluar dari tubuhnya. Kemudian diraihnya gagang Kokuryuu, dan ia berlari, menyeret Kokuryuu dengan kasar hingga menyebabkan percikan. Sekali lagi Ieyasu mengkomandokan mode support namun, gerakan Kojuurou lebih cepat dari semula. Ia lempar Kokuryuu pada salah satu cakar robot, menyebabkan yang lainnya mendeteksi bahaya dari Kokuryuu sehingga melepaskan tembakan. Bukannya mengenai Kokuryuu, malah mengenai satu sama lain, menghancurkan diri mereka sendiri.

Kojuurou mengerem langkahnya tepat di hadapan Tadakatsu, melayangkan bogem berselimut petir padanya.

"BAANG!"

Tadakatsu terdorong mundur beberapa meter oleh daya momentum tinju.

Kokuryuu yang tergeletak di tanah dipanggil kembali oleh Kojuurou sembari ia berjalan mendekati Tadakatsu.

"Tadakatsu!"

Cahaya merah bersinar dari mata robotnya, menandakan ia sudah berfungsi kembali. Sepasang jet pendorong keluar dari punggungnya dan Tadakatsu terbang ke udara, lolos dari serangan Gekkou milik Kojuurou. Tadakatsu kembali mengeluarkan meriamnya dan menembaki Kojuurou dari atas. Serangan itu terlalu cepat sehingga Kojuurou tidak bisa menghindarinya. Ia mengayunkan katana ke atas, mengeluarkan gelombang sabit petir.

"DUAAAARRR!"

Angin momentum ledakan bertiup kencang bagai topan. Kelima Onmyouji melindungi wajah dengan lengan mereka, menutup mata untuk menghindari masuknya debu atau apapun ke dalam mata.

"KOJUUROU!" teriak Masamune, khawatir dengan kondisi daemon-nya.

Kepulan debu mulai menipis, memperlihatkan Kojuurou yang sudah setengah berlutut dan terluka. Nafasnya memburu, darah mengalir turun dari ujung bibirnya. Masamune dan yang lainnya bergegas menghampirinya.

"Kojuurou!" Masamune berlutut di sebelahnya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya, serius panik dan khawatir.

Kojuurou mengangguk. "Ini bukan apa-apa, Masamune-sama… khh…," ia memaksakan dirinya berdiri tegak dalam keadaan terluka.

"Maaf, aku terlalu memaksamu," tampak jelas penyesalan di wajah Masamune.

"Keadaan Katakura-san sudah seperti ini. Lebih baik latihan ini tidak dilanjutkan," kata Tsuruhime. Ia mendekatkan telapak kedua tangan pada Kojuurou, aura hijau keluar dan menyentuh luka pada lengan kiri Kojuurou. Perlahan, kuak luka mulai tertutup.

"Wuah… Tsuruhime-chan ternyata bisa teknik penyembuhan!" Keiji takjub menyaksikan luka-luka yang sudah tertutup.

"Tentu saja! Aku adalah daemon yang lahir dari harapan dalam seribu bangau kertas!"

Mendengarnya, Keiji semakin takjub terhadap teman barunya ini. "Nee, nee, Tsuru-chan! Nanti kalau aku patah hati, kau sembuhkan dengan teknik ini!" lawak Keiji. Motochika tertawa mendengarnya.

"Terima kasih," Kojuurou berkata, melihat luka lainnya yang mulai menutup.

Tsuruhime menangguk, memberikan senyum ramah pada Kojuurou.

"Maafkan Tadakatsu, Ryuu no Migime!" Ieyasu membungkuk dalam pada Kojuurou. "Kami berdua terlalu bersemangat dan telah melampaui batas!"

Kojuurou tersenyum ramah. "Toushou, luka ini bukanlah masalah besar," katanya sembari berdiri. Ia mengulurkan tangan kanan pada Ieyasu, "Kemampuanmu semakin hebat. Asah terus, Tokugawa."

Sekali lagi Ieyasu meminta maaf pada Kojuurou. Ia memanggil kembali Tadakatsu, sekejap daemon tersebut lenyap dan berubah menjadi selembar kartu, terbang ke tangan Ieyasu. Setelah memastikan semua luka sudah tertutup, Masamune menarik kembali daemon-nya. Mata kirinya menatap satu-satunya kartu daemon miliknya tersebut.

"Honda Tadakatsu… Memanglah tidak salah dijuluki sebagai Sengoku Saikyou," puji Masamune.

"Ryuu no Migime juga tidak kalah," Ieyasu membalas, diacungkannya jempol kanan pada Masamune. Masamune tersenyum bangga.

"Baiklah… sekarang sudah jam dua," kata Keiji, menunjukkan jam digital di telpon genggamnya. "Bagaimana kalau kita pergi ke-"

"Prok! Prok! Prok!"

Kalimat Keiji dipotong oleh tepukan tangan, membuat kelima Onmyouji menoleh ke sumber suara. Seorang pria mendekat, masih menepuk tangannya.

"Pertarungan yang fantastis, temanku –Ieyasu," pujinya saat menghentikan langkah beberapa meter dari mereka.

"…Kau kenal dia, Ieyasu?" tanya Masamune, mengalihkan pandangan ke Ieyasu. Ieyasu menggeleng sebagai jawaban.

"Siapa kau?" tanya Motochika pada orang asing tersebut.

Pria tersebut memasang senyun ramah yang sebenarnya mengandung arti lain. "Perkenalkan. Aku adalah Ashikaga Yoshiteru."

Sontak, nama tersebut membuat Keiji terkejut.

"Ashikaga Yoshiteru?!" seru Keiji.

Ieyasu menoleh ke arah Keiji yang masih memasang wajah terkejut. "Kau tahu dia, Keiji?"

"Kalian sama sekali tidak tahu soal pria ini?" keempat temannya menggeleng. "Dia-lah Onmyouji Nobleman yang telah mengalahkan Phantom Oda Nobunaga sepuluh tahun yang lalu!"

Informasi baru ini tentu saja membuat yang lainnya terkejut. Orang yang di hadapan mereka ini adalah seorang pria yang telah mengalahkan Phantom terkuat –Oda Nobunaga, sang Raja Iblis dari Langit ke-6.

"Kalian setidaknya tahu tentang insiden 'Nightmare' di kuil Honnouji sepuluh tahun yang lalu, bukan? Oda Nobunaga adalah otak di balik semua kekacauan yang hampir menghancurkan separuh Jepang dan pria bernama Ashikaga Yoshiteru ini adalah satu-satunya yang berhasil mengalahkan dia dari sekian banyak Expert dan Nobleman yang dikerahkan! Bahkan Ashikaga-san sendiri yang menyegelnya di pusat bumi tepat di bawah Honnouji!" jelas Keiji.

Masamune semakin terkejut. Bukan karena kehebatan dari Ashikaga Yoshiteru ini tetapi… "Kau dapat informasi ini dari mana?"

"Buku record dari perpustakaan."

"Tak kusangka orang macam Maeda Keiji ternyata bisa pergi ke perpustakaan!" Motochika memasang muka syok yang dibuat-buat. Keiji nampak tersinggung.

"Apa yang membuat Anda kemari, Ashikaga-san?" tanya Tsuruhime.

"Hanya untuk mengunjungi tempat kenangan dahulu," ia memasukkan tangan kanan ke dalam saku jas-nya, "dan menguji seseorang," ia menatap Ieyasu.

Ashikaga berjalan mendekat. "Bagaimana kalau kita adakan sebuah pertarungan; satu lawan satu? Jika kau menang, akan kuberikan ini padamu," ia menarik keluar tangannya, bersamaan dengan sebuah batu segi enam serupa rubi dalam genggamannya.

"Itu…," Masamune menatap lurus ke benda yang berada dalam genggaman pria tersebut.

"Batu segel, benar," Yoshiteru menangguk sekali. "Aku hanya punya satu di sini tetapi kau bisa mencari sisanya, bukan? Seperti yang dimiliki oleh Dokuganryuu."

Empat kawan dari yang gelarnya baru saja disebut langsung menoleh. "Kau punya batu segel?!" tanya Motochika. Masamune menangguk, "Satu. Reward dari turnamen tiga bulan yang lalu."

"Kau tidak pernah bilang!"

"Untuk apa kuberitahu padamu?"

"Hei, hei," Motochika menatap tajam Masamune, "kita ini 'kan kawan jadi, kenapa harus menyembunyikan hal ini dari kami?"

"That's right. Kita memang pals tetapi bukan berarti sesuatu se-tidak penting itu harus di-share denganmu."

Motochika menghela nafas atas pernyataan yang terdengar dingin tersebut. "Dingin sekali, Dokuganryuu onii-san."

Sekelompok murid akademi melihat tontonan yang kelihatannya akan menjadi sangat menarik; mereka memanggil murid-murid yang lain, sebentar saja sekeliling lapangan berjejer ratusan murid.

"Wuah…! Ada apa ini?" tanya salah seorang dari mereka.

"Kelihatannya pria itu hendak menantang mereka!" balas yang lain, menunjuk Yoshiteru.

Suara sorak-sorai menggema di udara, memenuhi suasana yang awalnya sunyi.

Masamune memilih untuk menganggapnya sebagai angin berlalu. "Jadi, ossan," Masamune menyilangkan tangannya di depan dada, berdiri tegak bermakna menantang balik. "Siapa diantara kami yang akan kau tantang?"

Yoshiteru tertawa, mengherankan kelima murid tersebut. "Siapapun dari kalian yang berhasil mengalahkanku, kuberikan batu segel ini," ia melemparkan batu segel ke udara, menangkapnya dan melemparnya lagi lalu ditangkap; seakan itu adalah mainan.

"Three-on-one, eh?"

"Jika itu yang kau mau, silahkan," Yoshiteru membungkuk dengan sikap mock.

"Hmph," Masamune mendengus, "Sayangnya aku lebih memilih solo."

Ieyasu segera menepuk bahu Masamune, mengingatkan soal Kojuurou dan kekuatannya yang sudah terkuras pakai karena dua latihan tarung hari ini. Masamune menjauhkan tangannya dari kartu daemon di dalam sakunya. Ia menundukkan kepalanya, diam.

"Keputusan yang bijak, temanku –Dokuganryuu," pahlawan insiden 'Nightmare' tersebut bertepuk tangan, sekali lagi mengandung makna mengejek. Masamune bisa merasakan tensinya semakin terbakar dan secara literal, bisa merasakan urat di kepalanya telah pecah oleh tekanan.

"Itu berarti hanya tersisa kita berdua saja," Motochika memanggil Yanagare keluar. Daemon tersebut segera menyiapkan kuda-kuda dan bertampang serius, tidak seperti saat melawan Kojuurou sebelumnya.

"Hoo… Jadi inilah pria yang berhasil mengalahkan Oda Nobunaga, si Raja Iblis dari Surga ke-6, eh?" Yanagare menyeringai. "Tampangnya memang menjanjikan."

"Tetaplah bersiaga, Yanagare. Kita tidak tahu daemon macam apa yang ia punya," Motochika memperingatkan.

"Apapun daemon-nya, tentunya adalah tipe yang kuat," Yanagare melirik tuannya dari sudut mata. Motochika menangguk setuju.

Ieyasu memanggil daemon-nya keluar, dan Tadakatsu segera mengaktifkan mode support dan mode flight begitu terpanggil.

"Hoo… tidak buruk juga. Bekerjasama dengan Sengoku Saikyou!" seringai Yanagare dikemudian.

Ashikaga Yoshiteru sekali lagi bertepuk tangan, mendapatkan atensi dari kedua daemon tersebut dan juga tuannya. "Hebat, hebat! Chousou Yanagare dan Honda Tadakatsu… kalian memiliki daemon yang bagus sekali, teman-temanku!"

"Teman?" batin Motochika, sedikit kesal. Bagaimana tidak? Pria ini belum mengenal mereka, tetapi sudah memanggil 'teman'! "Baiklah, bukan saatnya mempermasalahkan itu," Motochika melihat gerak-gerik tangan Yoshiteru yang menarik keluar dua kartu. "Itulah yang terpenting," batinnya.

Aura cahaya menyelimuti sang Pahlawan, bersamaan dengan langit yang tiba-tiba memendung di luar kehendak alam dan angin kencang mulai mengamuk. Yoshiteru memejamkan mata, berkonsentrasi.

"Apa-apaan orang ini?!" batin Masamune.

"Sesuai reputasinya… Pahlawan 'Nightmare'…," Keiji bisa merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Keluarlah…," kedua kartunya mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata, "Kyougoku Maria! Sengami Ishu!"

Sinar yang menyilaukan itu semakin menjadi, sebelum redup total dan menghilang. Dua lingkaran segel muncul di permukaan tanah depan Ashikaga Yoshiteru, dari dalam secara perlahan keluarlah dua sosok daemon wanita. Yang satunya berambut pirang, yang satunya berambut cream.

Daemon yang berambut pirang memiliki sepasang mata biru muda, kulit kuning langsat, tingginya sekitar 167 cm, mengenakan jas putih dan juga celana panjang putih berbahan wol. Tiga pasang pedang tersimpan dalam sarung bermodel tabung yang ia gendong di punggungnya.

"Sengami Ishu, siap bertarung demi Ashikaga-sama!" serunya lantang, seraya menarik dua dari tiga pasang pedangnya dari dalam sarung, bersiap dalam kuda-kudanya.

Sengami Ishu adalah daemon kelas Divina. Ia adalah Dewi ruang dan waktu.

Sementara daemon yang berambut cream adalah seorang wanita yang elok rupanya, berasal dari kelas yang sama dengan Ishu. Ia memiliki sepasang mata yang berwarna sama dengan Ishu, memakai gaun hijau muda berbahan sutra yang menampilkan sebagian porsi perutnya. Lengan dari gaun yang ia gunakan begitu panjang, entah karena ini seleranya atau apa. Tampang wajahnya menunjukkan bahwa ia adalah daemon kelas tinggi, dan karena itulah ia memasang ekspresi yang sombong di wajahnya; tidak seperti Ishu yang memasang wajah serius.

"WUAAAAHHHH!" yang jelas, kedua daemon ini berhasil memikat hati Keiji untuk sesaat sebelum ia menyadarkan dirinya dengan menampar kedua pipinya sekali, berteguh dalam hati, "Tidak! Kau tidak boleh menghianati Saica-sensei, Maeda Keiji!"

Tidak hanya Keiji, banyak murid Onmyouroku pun terpikat oleh kecantikan dua daemon tersebut.

"Ossan…," Masamune memanggil. "Ternyata, kau itu womanizer."

Ieyasu dan Motochika hanya diam mendengar tanggapan temannya ini. Apa bahasa zaman sekarang? Sweatdrop.

"But damn, mereka cantik," lanjutnya.

"Masamune, itu artinya kau sama saja dengannya," Motochika sampai geleng-geleng.

"Jadi, inikah lawan pertama kita setelah tertidur selama sepuluh tahun, Ashikaga?" tanya daemon berparas elok bernama Kyougoku Maria tersebut.

"Apalagi menurutmu, Kyougoku?" Yoshiteru tanya balik, memasang senyum di wajahnya.

Empat daemon kontestan semakin memantapkan posisi tarung masing-masing. Motochika menyeringai kecil, berkata pada Yoshiteru dengan nada mock, "Pahlawan duluan."

Tanpa peringatan, Kyougoku dengan cepat menembakkan dua helai kain sutra panjang pada Chousou Yanagare dan Tadakatsu. Tidak sempat menghindar, kain tersebut berhasil melilit mereka dengan kuat.

"Yanagare!" "Tadakatsu!" serempak kedua Onmyouji.

"Apa-apaan ini?!" Yanagare memberontak, berusaha untuk melepas diri dari lilitan kain.

"A-a~ Jika kau memberontak, lilitannya semakin erat," Maria mengetuk jari telunjuknya ke depan.

"Sial!" Yanagare tidak memiliki pilihan lain selain diam sebentar. Sorak-sorai semakin kencang karena first blood yang dilakukan oleh Maria.

"Nah, Ishu~" panggil Maria. "Aku ingin bersenang-senang dengan pria tampan itu," ia menunjuk Yanagare. "Kau urus yang robot. Aku tidak berminat padanya."

Ishu tidak menanggapi, dan langsung melesat menuju Tadakatsu. Tadakatsu yang masih dalam keadaan terlilit tidak bisa bergerak, bahkan lilitan kain tersebut berhasil menyegel pintu yang mengeluarkan cakar robot dan meriam di punggungnya. Ishu menebaskan kedua pedangnya pada Tadakatsu, namun tidak melukainya. Justru malah memutuskan sutra yang melilit Tadakatsu, membuat heran kedua lawannya.

Ia melompat mundur, mengacungkan salah satu pedangnya pada Tadakatsu, mendeklarasikan keras, "Sengoku Saikyou! Aku menantangmu dalam pertarungan satu lawan satu!"

"Seperti biasa, bocah ini…," Maria tertawa kecil.

Tadakatsu menoleh pada tuannya yang membalas dengan satu anggukan. Ia menghadap balik ke lawannya, dan mata kanannya mengeluarkan cahaya merah. Tanpa banyak bicara, sang Dewi Ruang dan Waktu terbang ke langit, Tadakatsu mengaktifkan jet pendorong, terbang ke langit untuk melawannya di udara.

"Mereka terbang!" seru para penonton tanpa tiket dan undangan di sekeliling lapangan, menengadah mengamati dua sosok yang terbang tinggi ke langit.

"Oi, Ieyasu," panggil Masamune. "Good luck."

Ieyasu mengangguk, lalu ia melesat ke langit, mendampingi daemon-nya yang bertarung melawan Ishu. Pertarungan sengit pun tidak dapat dihindarkan… di bumi, maupun di langit…

TBC...