Chapter 2

Introducing: Ughuar Mayskur - Mongolia

.

.

.

"Saat mereka sudah bergerak untuk menyerang kota Raindrop." kata Jono. Semua teperangah. Lalu..

BRAK! Letkol Mitchel menggebrak meja. "APA KATAMU?! BERGERAK SAAT MEREKA MENYERANG RAINDROP? ITU SAMA SAJA MENYERAHKAN RAINDROP PADA MEREKA!" katanya. Walaupun mendapat kecaman keras, Letkol Jono tetap tenang, dan menjawab, "Letkol Rekrovan, apakah anda lupa satu hal? Raindrop bukanlah kota sembarangan yang dengan mudah bisa ditaklukan. Kota Raindrop, dikelilingi oleh 5 distrik militer intelejen. Camp militer kotanya pun tak bisa diremehkan, jadi-"

"Maksudmu kita harus percaya pada kemiliteran Raindrop dan membiarkan mereka berjuang sendirian? Misi kita adalah membantu mereka. Bukan membuat mereka diserang!" kata Toris menyela. "Maafkan saya, Letkol Laurianitis..., bukan itu maksud saya." Jelas Letkol Jono. "Harus diingat, Light tidak akan menyerang Raindrop dengan setengah kekuatan. Mereka pasti mengerahkan semua pasukan yang mereka bawa untuk menyerang Raindrop."

"Kenapa kau begitu yakin, da~" tanya Ivan. Dengan tenang lagi Letkol Jono menjawab, "Apakah anda tahu julukan bagi kota Raindrop, Brigadir Jenderal Braginski?"

"Pusaran air...," jawab Kiku. "Pusaran air raksasa."

"Kenapa?" tanya Jono lagi dengan nada tenang.

"Penyergapan. Spy Elite Military Corps kota Raindrop benar-benar mempunyai kemampuan yang tinggi dan tidak boleh diremehkan sama sekali. Karena tugas mreka adalah 'membersihkan' dan 'mensterilkan' kota dari mata-mata negara lain. Selain itu, teknik penyergapan mereka yang unik dan tak terlacak membuat Raindrop semakin kuat. Dan yang terpenting, teknik isi ulang itu berbahaya. Sangat berbahaya..."

"Maka dari itu, jika mereka nekat mengerahkan hanya setengah dari pasukan mereka, tak ada jaminan mereka akan pulang dengan membawa kemenangan. Jangankan kemenangan, membawa nyawa saja mungkin tak bisa."

"Jadi maksudmu, kita akan bergerak bersamaan dengan Light? Jujur saja Letkol Firmansyah, aku masih tidak mengerti maksudmu..." kata Mitchel dengan nada merendahkan. Tapi benar, yang lain juga kebingungan. Semua berpikir keras. Jono pun terdiam, memberikan waktu untuk semua orang mencerna strateginya. Akhirnya, "Ahh..., aku mengerti. Jika mereka meninggalkan markas perkemahan mereka, perkemahan mereka akan kosong. Dan saat itulah kita menyusup dan menghancurkan semua perbekalan dan gudang senjata Light, dan mundur ke arah Raindrop untuk membantu mereka. Begitu kan maksudmu, Letkol Firmansyah?" jelas Toris panjang lebar. Semua menoleh ke arah Toris lalu menoleh ke arah Jono. Bahkan Samuel, atasan Jono pun ikut heran. Bagaimana seorang Letnan Kolonel bisa merencanakan sebuah perencanaan yang luar biasa.

"Hmm..., itu bagus, da~. Aku setuju dengan usulan Letkol Firmansyah." kata Ivan memberi keputusan. "Bubar."

Mereka keluar dari ruang rapat. "Firmansyah!" suara Samuel memanggilnya. "Ya, Jenderal?" jawab Jono sambil memberi hormat singkat pada atasannya itu. "Pangkatmu Kolonel sampai aku memberikan pangkat baru untukmu." Kata Samuel singkat lalu berjalan melewatinya dengan wajah bangga. Ivan, Toris, Kiku, dan Mitchel yang melihat hal itu tersenyum. Mereka memang tak bisa meremehkan letnan kolonel, tepatnya mantan letnan kolonel yang satu ini.

.

Water, tahun 45, bulan 29, hari 14, Distrik 7

Bulan berganti. Semua pasukan khusus dari senior tingkat 1 dan 2 sudah bersiap di barisan mereka. Senjata dipanggul di punggung mereka. Amunisi terikat kuat disabuk mereka. Masing-masing pinggang mereka tersarung pistol dengan peluru penuh. Hari ini adalah hari dimana Light menyerang, dan dimulainya pergerakan mereka. Bendera Water sudah terikat di lengan kanan dan kiri mereka.

"Siapkan mental kalian! Penyusupan ini akan jadi bagian penting bagi misi penyelamatan Raindrop!" Suara Mitchel, Jono, dan Toris terdengar lantang menyemangati tentara mereka. Kiku yang masih berstatus senior tingkat 3 langsung naik pangkat menjadi senior tingkat 2 dengan pangkat letnan 1. "Tolong angkat Yao-san... Tolong angkat..." kata Kiku. Ternyata ia sedang menelepon rekan kerjanya itu. Namun, selain rekan kerja, perasaannya pada Yao melebihi seorang rekan. Perasaan yang ingin memiliki.

"Ini Wang Yao sedang berbicara, aru. Ada apa ya?" jawab seorang di ujung sana. 'Kau masih sehat-sehat saja, Yao san...' batin Kiku. "Halo?" kata Yao lagi. Namun Kiku tak berbicara. Ia hanya ingin menikmati suara indah Yao meskipun itu untuk terakhir kalinya..., 'Meskipun untuk terakhir kalinya...' kata Kiku dalam hati. Tak lama, sambungan telepon pun ditutup secara sepihak oleh Yao.

.

Misi Penyusupan, jam 14.00 dini hari

-Kiku's POV-

Kami berhasil. Taktik yang kami gunakan benar-benar sempurna. Gudang makanan dan persenjataan mereka berhasil kami ledakkan dan semua berkas perang mereka berhasil kita ambil. Tapi, kami melupakan satu hal.

Camp Militer Light distrik 8.

Begitu kami meledakan gudang persenjataan terakhir, tentara bantuan untuk Light datang dari distrik 8 dan markas pertahanan mereka. Kami pun harus bertarung. Amunisiku hampir habis, dan aku tidak sempat mengisi ulang peluruku. Hanya katana ditanganku inilah, satu-satunya cara untuk menjatuhkan musuh-musuh.

Aku melihat ke sekeliling medan perang. Kolonel Firmansyah dan 2 Kaptennya, Kapten Zwingli dan Kapten Edelstein bertarung habis-habisan di sayap kiri. Brigjend Andrewson dan Letkol Rekrovan bertarung mati-matian di sayap kanan. Sedangkan aku, Brigjend Braginski, dan Letkol Laurianitis berjuang di lini tengah pertempuran.

BUAKH! Pipa Brigjend Braginski menjatuhkan 5 orang sekaligus dalam sekali pukulan. DOR! DOR! DOR! Letkol Laurianitis menjatuhkan 3 orang. Jras! Srat! Jleb! Aku juga menumbangkan 3 orang. "Honda! Cepat pergi ke perkemahan kita dan hubungi distrik 6!" Letkol Laurianitis menyuruhku. Aku mengangguk, lalu berlari secepat mungkin ke perkemahan sambil menebas semua musuh dihadapanku.

.

Sesampainya di perkemahan, aku segera masuk ke tenda utama dan mencari ear-cellphone, namun tak menyadari, seorang tentara Light mengikutiku sedari tadi. "Letnan satu Kiku Honda kepada distrik 6, ganti." Tak ada jawaban. "Disini Letnan satu Kiku Honda kepada pusat komando dan telekomunikasi distrik 6, ganti!" masih tak ada jawaban. "Halo?! Jika ada yang mendengarku tolong jawab!" klik, ada suara.

"Disini distrik 6, diterima." Yak, ada yang mendengarku. "Kami membutuhkan tambahan pasukan di desa Bulb, Light atas perintah Brigadir Jenderal Ivan Braginski." Terangku cepat. "Diterima, kami akan segera mengirimkan 40 pasukan tambahan dalam waktu 5 menit."

"Ariga-"

DOR!

-End of Kiku's POV-

.

Markas Utama Kemiliteran Water.

Yao sedang sibuk membersihkan wajan besarnya saat seorang senior tingkat 3 lainnya, yang dia tahu bernama Ughuar dari distrik 3 datang dengan keringat bercucuran. "GAWAT! GAWAT!" Katanya panik. Semua langsung memperhatikannya. "Ada apa, aru?" tanyaku. Ughuar menelan ludah, "Pasukan bantuan dari distrik 4 yang dipimpin oleh Brigjend Braginski terdesak!" kata Ughuar. Semua langsung berbisik-bisik. "Brigjend Braginski? Maksudmu Ivan Braginski? Ketua SEMC sekaligus pasukan khusus itu? Yakin kamu?" tanya seorang tentara. "Kalau nggak percaya ini ada rekaman percakapan antara Lettu Kiku Honda dan seorang tentara bagian komando dan telekomunikasi." kata Ughuar sambil menyerahkan sebuah tape recorder pada Yao yang duduk paling dekat dengannya.

.

Pertama kali Yao menekan tombol play dan memutar pengeras suara, yang terdengar hanya suara grasak-grusuk saja. Tapi lama kelamaan terdengar suara. "...Kiku Honda kepada distrik 6, ganti." Lalu hening sebentar. "Disini Letnan satu Kiku Honda kepada pusat komando dan telekomunikasi distrik 6, ganti!" Hening kembali. Namun nada suara Kiku menyiratkan rasa khawatir dan panik. "Halo?! Jika ada yang mendengarku tolong jawab!" Kembali suara Kiku terdengar. Kali ini nada suaranya semakin panik dan khawatir.

"Disini distrik 6, diterima." Terdengar suara lain. Pasti dari tentara bagian komando dan telekomunikasi. "Kami membutuhkan tambahan pasukan di desa Bulb, Light atas perintah Brigadir Jenderal Ivan Braginski." Jawab Kiku ringkas, padat, cepat, dan jelas. "Diterima, kami akan segera mengirimkan 40 pasukan tambahan dalam waktu 5 menit."

"Ariga-" kata-kata Kiku selanjutnya terpotong oleh suara tembakan dan suara orang terjatuh. Disusul oleh suara kokangan senjata. DOR! Kembali terdengar suara letusan senjata. Lalu suara langkah kaki. Selanjutnya kembali grasak-grusuk yang terdengar.

.

"YONG-SOO! CEPAT MINTA IZIN PADA ATASAN UNTUK MEMPERBOLEHKAN KITA MEMBANTU PASUKAN JENDERAL BRAGINSKI! UGHUAR! SIAPKAN TEMAN-TEMAN YANG LAIN, ARU! SISANYA HARAP BERSIAP UNTUK BERPERANG, ARU!" kata Yao dengan spontan setelah mendengar rekaman itu. Teman-temannya yang lain hanya mengangguk saja. Mereka tahu bahwa Yao punya sisi yandere yang bisa membuat mereka berciuman dengan penggorengan.

Tak lama, izin dikeluarkan bersamaan dengan surat pernyataan kenaikan pangkat. Setelah itu, semua orang langsung masuk dalam 5 truk militer yang siap membawa mereka ke distrik 9. Tak sampai 10 menit, mereka sudah sampai di distrik 9. Yao segera melapor pada seorang kolonel yang bertugas disitu dan meninggalkan seperempat dari pasukannya atau sekitar 100orang untuk membantu sang kolonel.

Yao segera masuk hutan dan bergerilya. Mulai dari menghadang semua pasukan Light yang pergi untuk menyerang Raindrop, sampai bertarung dan melawan mereka. Tak lupa senjata mereka juga dirampas oleh pasukan Yao. Sekitar 7 menit kemudian, mereka sudah sampai di perkemahan. Perkemahan kosong. Tidak ada tanda-tanda pasukan. "Mereka pasti masih di medan perang. Yao, bagaimana ini? Kau kan yang ditunjuk untuk memimpin kami. Cepat putuskan sesuatu." Kata seorang Ughuar. "Kita langsung ke medan perang saja, aru. Sepertinya disini tidak ada siapa-siapa." Jawab Yao.

"Yao-san..."

"!"

Samar Yao mendengar suara Kiku. Ia baru ingat tentang kejadian di rekaman di tape recorder tadi. "Yong-soo, serahkan pasukanmu pada Ughuar dan ikuti aku, aru. Ughuar, pimpinlah pasukan ke medan perang. Tunjuklah seorang untuk menjadi asistenmu. Ini perintah, bukan permintaan." kata Yao. Dengan keputusan atasannnya yang menyatakan bahwa Yao sudah berpangkat kapten, Ughuar tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah memerintahkan Ughuar, Yao dan Yong-soo menghilang di balik sebuah tenda. "Kalian dengar kata kapten? Ayo kita ke medan perang!" kata Ughuar.

.

"Yao, kau yakin ada orang disini, da-ze?" tanya Yong-soo. Yao mengangguk. Mereka membelok ke arah tenda utama setelah tenda perbekalan, dan, "Yong-soo, ada penyusup Light, aru." Kata Yao berbisik. Mereka melihat seorang tentara Light berjalan keluar dengan seragam penuh darah dan sebuah SS1-V2. Selain itu, sebuah map coklat yang Yao tahu berisi laporan militer juga berada ditangan penyusup Light itu. Apa mungkin?

DOR!

Bruk.

"Apa yang kau lakukan Yong-soo?" tanya Yao. "Aku membunuhnya da-ze. Dia kan musuh da-ze!" jawabnya tanpa rasa bersalah."Jangan lakukan itu lagi, aru. Ayo kita periksa." Kata Yao lagi. Mereka segera berjalan ke arah tenda utama melewati mayat penyusup Light yang tergeletak di depan tenda. Dan yang mereka temukan di dalam tenda adalah..

"KIKU!" tubuh Kiku, yang sudah tak bernyawa. "KIKU! BANGUN KIKU!" Aku mengguncang-mengguncangkan tubuhnya. "Yao..." panggilan Yong-soo tak dihiraukan. "Kiku..., bangunlah, aru. Ini tidak lucu Kiku.." kata Yao berusaha membangunkan Kiku meskipun tahu sia-sia. 'Aku masih belum mau kehilangan sahabatku, aru...' batin Yao. Air mata mulai mengalir di pipinya

"YAO!" teriak Yong-soo. "Lettu Honda sudah tewas, da-ze! Kau harus menerimanya, da-ze! Aku tahu kau temannya sejak masuk ke militer, da-ze. Dia juga temanku. Kita semua temannya! Juga Chao dan Mei meskipun mereka berdua tidak tinggal di Water. Tapi ini perang, pengorbanan nyawa pasti terjadi, da-ze! Dan Lttu Honda salah satunya..., kau harus merelakannya, da-ze... Ayo kita ke medan perang." Kata Yong-soo mengajakku. Aku meletakan tubuh Kiku, lalu menutupinya dengan mantel biru yang dikenakannya.

"Istirahatlah yang tenang, Kiku.."

.

.

Medan Perang

Ivan kembali tersenyum puas saat bantuan kembali datang. Ia mencoba mencari seorang. Seorang itu, yang dia lantik di hari yang sangat dingin itu. 'Kemana dia, da? Kemana dia?' pikir Ivan. Kalau sampai dia tidak datang lagi... "Kolkolkolkolkolkolkolkol..." katanya dengan aura hitam gelap menguar dan membuat beberapa orang tentara Light disekitarnya mati ditempat.

DANG! Terdengar suara besi membentur sesuatu. Dengan cepat, Ivan mencari asal suara itu. DANG! DOR! Kembali terdengar. Ia berputar dan mendapati orang itu disana. "WANG YAO!" Panggil Ivan. Yao yang sedang bertarung dengan penggorengannya, menoleh ke sumber suara dan mempertemukan 2 mata coklatnya dengan mata ungu Ivan. Yao berlari mendekat. Dan..,

DANG! Ia memukul seorang tentara dibelakang Ivan. "Anda harus berhati-hati, aru.." katanya. Ivan memegang lengan Yao. "Kenapa kau ada disini, da? Kau mau cari mati ya, da?!" tanya Ivan bertubi-tubi. Yao hanya terperangah. 'Katanya tentaranya terdesak. Tapi dikasih bantuan kok malah nolak. Orang aneh, aru...' pikirnya. "Kenapa, da?" tanya Ivan lagi. Saat Yao akan buka mulut, terlihat Ivan meneteskan air mata. "Kenapa kau tidak datang, da?! Padahal aku berharap kau akan datang, da! Kenapa?" Ivan mencoba untuk mengusap air matanya yang mengalir.

Yao tertegun. Ia baru pertama kali ini melihat jenderal yang pernah menawarinya untuk bergabung dalam pasukan khusus dan disaat yang bersamaan adalah jenderal paling menakutkan di seluruh kemiliteran Water itu menangis. "Maafkan saya.. Tapi saya memang tidak ingin, aru... Saya..." Jawab Yao. GRAB! Dua tangan Ivan segera merengkuhnya dalam satu pelukan. "Aku mengerti, da. Tapi, maukah kau menerima cintaku?" kata Ivan. Dan pertanyaan itu sukses membuat pipi Yao merona.

"Saya... Saya tidak tahu, aru! Kenapa jenderal bertanya seperti itu, aru?!" tanya Yao gelagapan. "Aku memang..., mencintaimu sejak pertama kali bertemu. Bahkan sebelum bertemu. Aku sudah jatuh cinta padamu, da." jawab Ivan masih belum melepaskan pelukannya. "Karena itu..., maukah kau..." tanya Ivan kemudian. Kedua pipi Yao sukses merona.

"Saya..., saya tidak tahu, aru... Tapi jika jenderal memberi kesempatan pada saya untuk memikirkannya..., mungkin saya bisa menerima anda, aru..." jawab Yao dengan dua pipi merah padam. Bagaikan tomat terbaik Light yang selalu diimpor oleh Water. Ivan langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat tangan Yao yang masih memegang penggorengan dan melingkarkan syalnya ke wajah Yao dan dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari beberapa lirikan mata yang mungkin bermakna seperti ini, 'Niat perang nggak sih?'

Dan tawa membahana milik Yong-soo lah yang membuat mereka menghentikan kegiatan mereka. "Kokolkolkolkolkolkolkolkolko lkolkolkol..." kata Ivan dengan aura gelap jadi semakin gelap dan menguar dengan cepat. Beberapa tentara Light kembali mati ditempat merasakan aura Ivan. Sedangkan Yao masih syok akan kelakuan atasannya itu. 'KENAPA JADI SEPERTI INI, ARUUU?!' teriak Yao dalam hati.

BLAM! DUAR! Rentetan ledakan terdengar. "Jenderal! Kolonel Firmansyah berhasil mengebom distrik 6 Light! Kita menang!" ujar Toris. Setelah Toris mengabarkan hal itu, teriakan kemenangan membahana di semua sisi medan perang. "Braginski! Pasukan Light yang menyerang kota Raindrop berhasil dilumpuhkan." Kata Samuel. Ivan tersenyum puas. "Kita menang, da."

.

.

.

Oceaena, Water, tahun 45, bulan 29, hari 20. Upacara Penghargaan dan Pemakaman anggota pasukan khusus yang tewas.

"Saat ini, kita berdiri disini untuk memberikan penghargaan kepada rekan-rekan kita, yang telah berjasa dalam misinya menghentikan penyerangan Light di Kota Raindrop. Yang pertama, Brigadir Jenderal Ivan Braginski, sebagai pimpinan dari pasukan khusus Water, akan mendapat kenaikan pangkat dari Brigadir Jenderal, menjadi Jenderal Water." Kata sang menteri pertahanan. Ivan langsung maju ke podium. "Lalu, Brigadir Jenderal Samuel Ashzreit Andrewson, akan diangkat menjadi Jenderal Water.

Kolonel Jono Firmansyah, diangkat menjadi Mayor Jenderal Water." Lanjut sang menteri. "Selanjutnya, Letnan Kolonel Mitchel Rekrovan dan Letnan Kolonel Toris Laurianitis, diangkat menjadi Letnan Jenderal Water. Kapten Vash Zwingli dan Roderich Edelstein, menjadi Kolonel Water." Semua orang yang disebutkan segera naik ke podium untuk menerima emblem kepangkatan yang baru.

Pelantikan pangkat yang baru berlangsung khidmat. "Dan penghargaan khusus untuk seorang senior tingkat 3 yang telah berani memimpin rekan-rekannya untuk membantu pasukan khusus, Wang Yao, diangkat menjadi Brigadir Jenderal Water." Yao bangkit dari kursinya. Lalu berjalan maju ke podium. Tak pernah terbersit dalam pikirannya, bahwa ia akan menjadi seorang Brigadir Jenderal dalam kurun waktu 3 bulan sejak ia dilantik menjadi senior tingkat 3 dan beberapa hari sejak ia berpangkat kapten. "Selamat ya, Wang Yao." Kata Menteri Pertahanan dan Kemiliteran Water. "Sama-sama." Ia pun bergabung dengan rekan-rekannya.

"Yang terakhir, kenaikan pangkat untuk Letnan satu Kiku Honda, yang tewas dalam penyusupan ini, saat akan meminta bantuan pada distrik 6 Water akan diangkat menjadi Brigadir Jenderal. Upacara pemakaman akan dilakukan bersamaan dengan rekan-rekan militer yang tewas lainnya." Beliau menutup pidatonya. Tepuk tangan keras membahana saat sang menteri menyalami semua orang yang dilantik hari ini.

.

,

Sesaat setelah upacara

"Wah.., pasangan baru romantis sekali." Suara Samuel membuat Ivan dan Yao menoleh padanya. "Kau bilang apa tadi? Kolkolkolkolkolkol..." jawab Ivan. Pipi Yao langsung merona. Samuel tertawa kecil "Tenang Braginski..., semua orang sudah tahu kok..."

"Yao.., selamat! Da-ze!" kata Yong-soo. Yao tersenyum lalu memeluknya. "Ya.., terima kasih juga..." jawabnya. Ughuar menyalami Yao lalu memberi hormat padanya. "Mei pasti bangga padamu, da-ze!" kata Yong-soo lagi. "Hmm..., bagaimana jika kita merayakannya di bar dekat camp militer utama nanti malam? Jarang-jarang kan ada kesempatan seperti ini? Bagaimana menurutmu Firmansyah?" kata Samuel pada Jono yang baru datang ke kerumunan itu. "Ya, saya setuju..." jawabnya. "Mitchel, kau diam saja dari tadi." pertanyaan berganti kepada Mitchel yang sedari tadi diam.

"Ah.., saya hanya merenung. Err.., maafkan saya waktu itu. Harusnya saya tidak meremehkan-." Kata Mitchel. Firmansyah tertawa kecil, "Aku sudah melupakannya, Rekrovan... Tapi kau datang kan nanti malam?" tanya Jono. Mitchel mengangguk. "Semua setuju, ayo kita makan siang!" ajak Samuel.

.

Dan dibawah bunga bermekaran yang menggantikan salju keperakan...

Aku menemukanmu, di masa yang sulit.., dan penuh dengan pengorbanan...

.

.

.

.

Tbc to Next Chapter

.

.

.

A/N: Wahh..., akhirnya selesai juga bagian Republic of Water. Maaf ceritanya akan berbelit-belit karena saya susah menceritakan adegan perangnya.. Dan maaf bagi penggemar Korea, saya membuatnya menjadi OOC, dan membunuh Kiku tanpa sepengetahuannya...

Kiku: Akhirnya saya tewas... Author-san, kenapa author-san membuat saya menderita di sini?

Author: Ini demi kelancaran cerita juga, Kiku... Author melakukannya karena terpaksa... *buagh!ditimpukintanksamasemuapengg emarnyaJapan.

Kiku: Ya sudah deh... *sweatdrop+facepalm

Akhirnya saya mengedit cerita ini... Hahahaha... *ketawagaring Mudah-mudahan readers nggak bingung lagi... Yah, ehm, gimana ya... Ivan kan belum speenuhnya ditolak, jadi masih ada kemungkinan untuk diterima. Dan emang diterima akhirnya! Yah, saya nggak bakat bikin romance!

Next Chap:

Wind Republic Federation

Main Pairing: USA X UK – Alfred F. J. X Arthur K. Slight Americest – Alfred F.J. X Matthew W.

Terima kasih sudah mau baca dan untuk moccamocci, terima kasih udah mau review fic saya yang abal ini... Ini saya udah update kilat habis mudik. Dan untuk penutup,

Selamat Tahun Baru Hijriah 1433, Mohon maaf lahir dan batin

RNR PLEASE~! ^^