Here's the next chapter of This Time around, I hope you like it..
Disclaimer: HunterxHunter and its characters all belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Genre: Romance (mostly), Angst, Hurt/Comfort, a little bit of Family, and Drama, etc.
Warning: Kurapika is a girl here, OOC-ness and typos might been everywhere, but I told you I've trying so hard to fits their real characterization, so please, don't sent me a flame about this stuff cause I've already warn you.
Pairing(s): KuroNeon, hinted KuroPika, hehe Pearl-san, your request is granted
This Time Around
Part 2 of 3: Basketcase
"Kau serius akan balas dendam pada senior Lucilfer?", tanya Machi pada Kurapika, dengan suara sangat pelan, di koridor kampus pagi itu, Kurapika, seperti biasanya, tidak begitu menanggapi dan malah asyik dengan 'dunia'nya sendiri, yang tak lain adalah sebuah buku,
"Menurutmu?", jawab Kurapika singkat, sangat singkat, sampai-sampai Machi gerah juga mendengarnya, ia melengos kesal lalu menyambar buku yang tengah dibaca oleh gadis berambut pirang itu,
"HEI!", protes Kurapika saat Machi mengambil buku itu dari tangannya,
"Aku sedang bicara, dengarkan dong!", balas Machi sebal, ia menutup buku berjudul 'The Lost Secret' itu,
"Hu-uh, iya, iya", Kurapika menyahut dengan nada kesal, tapi Machi masih menyandera bukunya, sehingga gadis itu hanya bisa merenggut,
"Nah, begitu", kata gadis berambut biru tua itu lagi,
"Jadi bagaimana? Serius tidak?", Machi mengulang pertanyaannya tadi, Kurapika hanya bisa menghela nafas pendek, lalu berujar,
"Ya-jadilah!", katanya sambil mengambil buku itu dari tangan Machi dan berlari, merasa dikadali, gadis itu segera saja mengejar temannya itu,
"Hei, Kurapika!", teriaknya pada gadis berambut pirang itu, keduanya lalu berkejar-kejaran sampai mereka tiba di depan kelas,
"Akh, aku sudah harus masuk, sampai nanti Machi", kata Kurapika girang bercampur puas karena berhasil membuat Machi mengejarnya sampai depan kelas,
"Huh, sial, awas kau nanti", balas Machi sambil memegangi lututnya dan bernafas tersengal-sengal.
Kelas pengantar hukum adalah salah satu kelas yang cukup disenangi oleh gadis semacam Kurapika, alasannya, tentu karena pada mata kuliah ini kebanyakan pembahasannya merupakan teori dan belum masuk pada kasus, dan hal ini sangat menguntungkan bagi ensiklopedi berjalan seperti gadis pirang ini.
Kurapika membolak-balik halaman bukunya sambil mendengarkan penjelasan dari dosen bernama Satotsu itu, dan ia menangkapnya dengan sangat baik, ya Kurapika bisa berterima kasih pada ayah dan ibunya soal kecepatan belajarnya yang terbilang diatas standar, dan itu adalah alasan ia sedikit tersenyum pada dirinya sendiri.
Lalu pelajaran berakhir, semua mahasiswa berhambur keluar dengan wajah yang agak berseri-seri karena setelah ini, kelas mereka masih agak lama lagi, tak terkecuali Kurapika, ia pun agak senang karena istirahat kali ini ia sedang tidak bersama Machi, yang artinya, jika nanti ia bertemu Kuroro, ia akan bisa membalaskan dendamnya lagi, dan menciptakan kehebohan yang mungkin baru akan ditanyakan oleh Machi kalau ia mampir lagi nanti malam, tapi karena kemarin ia bilang besok banyak tugas, artinya Machi tidak akan mampir malam ini.
Kurapika pun segera menuju toilet untuk menjadi Maria, penyamarannya yang ia jadikan cover untuk setiap aksinya, dengan bekal wig rambut panjang berwarna coklat gelap dan lensa kontak hitamnya, serta pakaian ala anak jurusan seninya, ia segera menyusun rencana untuk membuat cerita berikutnya, di kantin.
Gadis itu terlihat di meja dekat tempat memesan makan, ia sedang menunggu kedatangan senior bernama Kuroro Lucilfer itu, dan gadisnya yang bernama Neon Nostrad, dengan segelas jus bit merah yang ia tahu sangat dibenci Kuroro waktu mereka masih kecil dulu, dan semangkuk ramen panas, dan mempersiapkan dua buah warmer portable yang ditaruhnya dibawah mangkuk dan gelas itu, menjaga agar kedua menu tersebut tetap hangat.
Gadis itu menunggu sambil memakan ramen satu lagi yang dipesannya untuk dirinya sendiri, senyuman manis nan licik terukir diwajahnya saat melihat orang yang ditujunya berjalan di kantin dengan Neon disampingnya, ia segera menyelesaikan makannya dan berjalan terburu-buru dengan nampan berisi kedua menu tersebut, dan tentunya ia sangat lihai memperkirakan hal-hal seperti ini sehingga iapun dengan sangat suksesnya menabrak Kuroro dan Neon, tentu dengan jus bit tumpah dibaju Kuroro dan ramen itu tumpah dibaju Neon,
"Aaakh..maaf", katanya terbata-bata dengan gugup karena takut,
"Hei, kau sudah merusak pakaianku bodoh!", bentak Neon yang sukses membuat Kurapika menunduk diam, meski dalam hati ia tersenyum puas, namun kenyataannya ia hanya menunduk takut,
"A-aku ti-tidak sengaja, maafkan aku", katanya belagak tulus, sambil senyum-senyum dalam hati karena usahanya berhasil,
"Kuro-kun, kenapa diam saja?", kata Neon pada pria berambut hitam disampingnya, yang sebenarnya berhasil membuat telinga Kurapika panas mendengar sekarang Neon memanggil Kuroro dengan sebutan 'Kuro-kun' sebuah nama yang dahulu sempat dilontarkan olehnya, dan dulu Kuroro mengatakan padanya,
"Aku tidak suka nama itu Kura-chan, tidak suka sekali", kenangnya pada waktu itu,
dasar pemuja Neon, gerutunya dalam hati,
"Siapa namamu?", tanya Kuroro yang sukses menyadarkan Kurapika dari diamnya,
"Mmm…aku..namaku Maria, senpai", katanya malu-malu, iapun dengan gerakan gugup perlahan mengangkat wajahnya hingga ia berhadapan dengan Kuroro dan Neon,
"Dengar Maria, kurasa kau melakukannya tanpa sengaja, jadi kali ini, kau dimaafkan", katanya tegas, yang tentu menuai keluhan dari Neon,
"Kuro-kun, kau terlalu, baik, anak ini harus-", Neon memulai protesnya, tapi Kuroro dengan cepat menarik tangannya dan membawanya,
"Sudahlah, kita ini kan bukan anak sma lagi", katanya pada Neon yang hanya memandangnya dengan tatapan tak percaya dan kesal namun memutuskan untuk diam karena tak akan gunanya membantah Kuroro, dan ia memutuskan untuk mengikuti saja kekasihnya itu,
tunggu saja nanti, Maria, katanya dalam hati, tanpa tahu kalau Maria sudah langsung menghilang dari belakang sana, dan memasuki toilet, ya walaupun semua mata menatapnya sinis karena dia telah menumpahkan jus ke baju Kuroro, ia segera menyelinap ke bilik toilet yang berada disampingnya lalu berdiri dan melepaskan segala atribut 'Maria' nya dan kembali menjadi Kurapika,
hm, kurasa aku harus mengganti penyamaran, rasanya Maria sudah dibenci orang, batinnya sambil memasukkan kostum Maria ke dalam tas sampingannya dan keluar dari bilik tersebut dengan wajah datar ala Kurapika,
ternyata dia masih berlagak macam pangeran baik hati, wajar saja populer, imbuhnya sambil cuci tangan.
Kurapika memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, radio mobil memutarkan lagu-lagu agak mellow yang membuatnya tak nyaman,
"Ukh berisik", katanya sambil mematikan radio tersebut, ia lalu memasangkan ipodnya ke radio mobil dan memilih playlistnya sementara menunggu antrian keluar kampus.
Gadis itu menghabiskan perjalanan menuju rumah kost-nya dengan beberapa lagu yang mengingatkannya akan kebenciannya pada seorang Kuroro Lucilfer, dan ia sudah siap dengan rencana hari berikutnya untuk membalaskan dendamnya pada mantan teman baiknya itu,
hn, lihat saja nanti, katanya dalam hati.
There's no time for tears,
I'm just sitting here planning my revenge
There's nothing stopping me
And if you come around and saying sorry to me
My daddy's gonna show you how sorry you'll be
Gadis pirang itu tersenyum, lagu terakhir yang ia dengar sebelum turun dari mobil itu sangat mendukung apa yang terjadi saat ini.
Iapun turun dari mobil berwarna biru langit itu, dan meraih tas kuliahnya, lalu berjalan dengan santai sambil mendengar musik ditelinganya, sampai 'sesuatu' menghalangi jalannya.
Kerasnya suara ipod ditelinganya menghalangi sebuah suara untuk sampai kesana,
"Huweeeeee", tiba-tiba suara itu sampai ketelinga Kurapika saat gadis itu melepaskan earphone-nya, suara nyaring dan keras yang dikeluarkan oleh pemiliknya dengan sangat kuat, Kurapika pun memendarkan matanya kearah asal suara tersebut dan sesuatu yang tergeletak di beranda rumahnya, tepatnya didepan kakinya itu membuat matanya membelalak kaget, tapi gadis itu tidak ingin menuai protes dari para tetangganya sehingga ia pun mengambil 'benda' itu dan membawanya masuk, ya, benda itu adalah seorang bayi dalam keranjangnya.
"Huweeeeee", jerit si bayi keras, Kurapika agak panik mengingat ia tidak pernah berurusan dengan bayi manapun sebelumnya, dengan hati-hati iapun mengangkat bayi mungil itu dan mendekapnya, mata aquamarine gadis itupun tak melewatkan selembar kertas yang berada di bawah si bayi tersebut,
"Ssshhh.. jangan nangis ya, nanti kakak akan mencarikan mamamu", katanya pada bayi itu, iapun menurunkan tubuhnya perlahan-lahan untuk meraih secarik kertas itu, kemudian ditaruhnya lagi bayi mungil yang masih menangis itu di keranjangnya, dan ia menduduki dirinya diatas sofanya, sambil membaca sepucuk surat itu.
Kami adalah orangtua dari bayi yang sekarang berada bersama anda, tolong jaga ia baik-baik, karena kami mungkin tak akan pernah bisa kembali untuknya, mohon maaf sebelumnya kalau permintaan kami ini sangat mendadak.
Kurapika menaikkan alisnya sebelah, wajahnya terlihat bingung,
"Duh, dari semua orang yang tinggal di dunia ini kenapa harus aku yang mendapatkan kejutan berupa seorang bayi?", ia bertanya pada udara yang dihirupnya, tapi seperti yang bisa diduga, tak akan ada jawaban dari sana.
Kurapika melirik kearah bayi berambut hitam yang masih menangis didekatnya, iapun kembali mengangkat bayi kecil itu dan menggendongnya,
"Cup cup, aduuuh, jangan nangis dong", katanya bingung, masih dengan bayi kecil itu didekapannya, Kurapika berjalan kearah komputer miliknya, ia mencari-cari tips untuk menenangkan bayi, yang tentu tidak pernah menjadi pengalamannya selama ini, sebagai gadis muda yang terlalu ambisius untuk mengejar kuliahnya tentu.
"Hmm.. jadi kalau bayi menangis itu, antara dia lapar atau popoknya sudah tidak nyaman ya", ujarnya yang lebih seperti pernyataan ketimbang pertanyaan, ia melihat bayi kecil itu dengan tatapan iba, seketika nuraninya tergerak untuk setidaknya menjaga bayi itu sampai besok pagi, dan kemudian mencari orangtua tak bertanggung jawab yang telah tega meninggalkan bayi mungil itu di depan rumahnya.
Dan Kurapika kemudian kembali ke mobilnya, tentu dengan bayi kecil itu disampingnya, ia berniat pergi berbelanja kebutuhan anak itu untuk beberapa hari, karena ia ragu kalau dirinya bisa mencari orangtua si bayi dalam waktu singkat.
Ia dan bayi mungil tanpa nama itu sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan dan sedang terjebak lampu merah ketika tanpa sengaja Kurapika melihat seseorang, ya, seseorang yang sangat dikenalnya, sedang mengemudi seorang diri—yang menurutnya mungkin sedang dalam perjalanan pulang sehabis mengantar kekasih tercintanya—dan sama-sama terjebak di lampu merah ini, dialah Kuroro, target balas dendam Kurapika yang sama sekali tidak menyadari kalau dirinya sedang diincar oleh gadis pirang itu, sebuah skenario tiba-tiba terbayang dikepala Kurapika yang tersenyum penuh kepuasan.
Iapun memutar haluannya dan mengikuti arah mobil milik Kuroro Lucilfer tersebut, sambil sebentar-sebentar ia menepuk-nepuk pelan bayi kecil disampingnya,
"Hihi, kita akan ketempat ayahmu nak", kata Kurapika pelan.
Akhirnya merekapun sampai dikediaman Kuroro, dan dari tempatnya, Kurapika bisa menyimpulkan kalau ia masih tinggal bersama kedua orangtuanya,
rasakan pembalasanku Lucilfer, katanya dalam hati sambil membawa keranjang bayi itu dan mengenakan kacamata hitam, serta sebuah jaket ber-parka untuk menutupi identitasnya agar tak dikenali oleh tetangga-tetangga pria itu.
Kurapika pun menyelinap masuk ke dalam rumah tersebut, setelah melewati pagarnya, ia mengendap-endap di dekat pintu masuk,
"Nak, ini rumah ayahmu, Kuroro, kamu baik-baik ya", katanya dengan nada pura-pura sedih, lalu gadis itu menaruh keranjang bayi tersebut tepat didepan pintu masuk, dan bermaksud segera pergi dari situ ketika ia menyadari ada sepasang sepatu pantofel berdiri dibelakangnya, Kurapika pun berdiri perlahan-lahan,
"Benar bayi itu anaknya Kuroro dan kau—siapa namamu?", tanya pria yang tak lain adalah ayah dari Kuroro itu, Kurapika tersentak,
aku akan mati disini, pikirnya sambil memutar otak mencari nama, sempat terpikir untuk menyatakan bahwa ia adalah Kura-chan yang dulu pernah dititipkan pada keluarga Lucilfer, dirumah mereka yang dulu, tapi ia tahu itu bukan pilihan sama sekali, kemudian ia masih tertunduk dalam diam sambil memikirkan penyamaran yang cocok untuknya,
"Ehmm..itu..saya..", katanya bingung, pria itu hanya menghela nafas dan berujar,
"Masuklah dulu, aku harus bicara pada kalian berdua", katanya tegas,
waduh, gawat, batinnya meski ia hanya menurut dan membawa keranjang itu masuk, mengikuti paman yang tak lain adalah ayah dari Kuroro itu,
"Kuroro!", panggilnya pada pemuda tersebut, Kurapika hanya mengelus dadanya sambil bernafas layaknya orang yang berniat menenangkan diri dari syok-nya,
"Iya ayah, ada apa?", terdengar suara Kuroro yang sepertinya baru saja turun dari kamarnya,
"Sini kamu!", seru sang ayah yang membuat Kuroro mengerutkan alisnya, iapun mempercepat langkahnya dan terkejut saat melihat ayahnya diruang tamu bersama seorang gadis muda yang membawa keranjang bayi ditangannya,
"Siapa dia ayah?", tanya Kuroro dingin, seakan-akan ia baru saja melihat sang ayah pulang bersama selingkuhannya, tapi sang ayah malah menatapnya geram,
"Siapa dia lagi? Memangnya kau tidak ingat pada gadis yang kau hamili? Keterlaluan!", sang ayah berujar geram, Kurapika hanya (berpura-pura)menunduk malu, dan Kuroro menampakkan wajah bingungnya,
"Maksud ayah?", katanya tak mengerti, ingin sekali rasanya Kurapika memotret wajah Kuroro saat ini, tapi mengingat perannya hal itu terpaksa ia urungkan,
"Kauuu!", sang ayah lagi-lagi berujar geram pada putra semata wayangnya itu,
"Ummm..boleh saya bicara?", kata Kurapika pelan, yang dengan suksesnya menghentikan pertarungan yang nyaris terjadi diantara kedua ayah-anak itu,
"Silahkan", kata ayah Kuroro yang terdengar melunak, iapun melepaskan Kuroro dari cengkramannya dan menyuruh pemuda itu duduk, Kurapika sedikit merasa bersalah, bukan ini yang ia harapkan, tapi, kalau sudah begini tak ada jalan lain kecuali mengakhiri semuanya, dan sekali lagi menelan rasa sakit hati itu dalam-dalam, karena setelah ini pasti tak ada lagi waktu untuk membalaskan dendamnya,
"Begini, sebenarnya…", kata gadis itu sambil melepaskan kacamata hitam yang dikenakannya, dan memperlihatkan mata aquamarinenya yang sangat dikenal oleh kedua pria dihadapannya, terlebih Kuroro.
Pria itu agak terkejut ketika bertemu lagi dengan pemilik mata biru tersebut, apalagi saat gadis itu menurunkan parkanya dan memperlihatkan rambut pirangnya yang sudah dipotong pendek, dan lengkaplah sudah identitas gadis itu.
Sejenak terbersit dibenaknya sosok Kura-chan yang dahulu selalu dekat dengannya, dengan rambut pirang panjangnya yang lurus sampai ke pinggang dan diikat dua, dengan pita berwarna biru langit menghiasi pangkal ikatannya, ia mengenakan gaun mainnya yang juga berwarna biru berpadu putih, dengan model yang terbilang manis dan renda-renda disekitarnya, sepatunya pun masih sepasang sepatu model mary jane, lengkap dengan kaus kakinya yang putih dan berenda-renda, sangat jauh dengan penampilannya saat ini, hoodie tebal yang di resleting sampai atas, celana berpotongan lurus, dan sepatu kets, benar-benar tidak mirip, tapi mata biru itu, rambut pirang itu, dan wajah itu, semuanya masih Kurapika yang sama dengan yang dahulu dikenalnya, dan itu sedikit membuat Kuroro terdiam,
"Maaf, Ojisan, sebenarnya ini bukan bayiku, bukan juga bayinya Kuroro, tapi.. dia adalah bayi yang ditinggalkan seseorang didepan pintu rumahku dan.. Ojisan tahu, aku masih sebal pada Kuroro sejak lima tahun yang lalu ia menyudahi pertemanan kami, demi bersama Neon", curhat gadis itu pelan, nyaris parau, ia juga merasakan kalau matanya agak berkabut karena airmata yang sedang berusaha keras ditahannya,
"Jadi aku berpikir untuk membuat Kuroro merawat bayi mungil yang ditinggalkan oleh orangtuanya ini, tapi… kurasa aku sebaiknya memang merawatnya sendiri", katanya dengan nada seakan ia bersungguh-sungguh, ayah Kuroro agaknya terenyuh dengan cerita gadis itu, dan ia menahan tangannya saat gadis itu hendak berdiri,
"Tidak, Kuroro akan membantumu, Kura-chan", katanya tegas tanpa meminta persetujuan dari Kuroro dulu, ditatapnya putra semata wayangnya itu dengan tatapan yang seakan-akan berkata,
'bantu dia atau ayah tak mengizinkanmu bertemu dengan Neon lagi' , merasa terancam, Kuroro pun dengan enggan berjalan kearah Kurapika dan bayi dalam keranjang yang dibawanya itu.
"Sini, kuantar kau kerumahmu", kata Kuroro datar dengan nada yang seolah menunjukkan kesungguhannya, namun setelah mengenal Kuroro cukup lama sejak ia masih berusia 5 tahun hingga usianya menginjak 13 tahun, Kurapika tahu benar kalau sekarang ini Kuroro membantunya dengan sangat terpaksa,
"Tidak perlu, urus saja Neon-mu", jawabnya ketus, ia masih menyimpan kekesalan yang amat sangat pada pria yang sudah seenaknya meninggalkan dirinya setelah mereka berteman selama 8 tahun, hanya karena akan meminta Neon jadi pacarnya, padahal, semua juga masih baik-baik saja, ia toh tidak pernah mengganggu mereka, dahulu,
"Lagipula aku kesini juga bawa mobil kok", kata Kurapika lagi, ia sangat tidak ingin menerima apapun dari Kuroro, tidak setelah perpisahan mereka 5 tahun yang lalu, tentu dengan Kuroro yang tak pernah meminta maaf, itu membuatnya makin sesak jika harus bersama dengan pria itu,
"Baiklah-", kata Kuroro hendak menutup pintu mobilnya, tapi kemudian ia menoleh pada ayahnya yang menatapnya dengan sangat gusar,
"Aku akan mengantar mobilmu besok pagi", lanjutnya sambil mendorong Kurapika masuk mobil dan tentu menutup pintunya, lalu cepat-cepat ia masuk ke mobil juga dan memacunya.
Sekitar 15 menit telah berlalu sejak mereka berjalan dari rumah Kuroro, Kurapika masih menutup mulutnya rapat-rapat dan mengeluarkan ekspresi datarnya, ya meski sesekali ia melihat kearah bayi kecil itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Hei, kau mau membawaku kemana?", protes gadis itu saat menyadari mereka sudah berjalan cukup jauh dan Kuroro tak sekalipun menanyai dirinya soal kemana ia harus mengantar gadis itu,
"Memangnya kau mau dibawa kemana?", katanya datar, Kurapika memutar bola matanya kesal, iapun segera mengarahkan tangannya kepintu mobil,
"Turunkan aku!", serunya keras, ia memegangi pintu tersebut seakan mau membukanya,
"Hei! Tunggu dulu!", sahut Kuroro setengah panik lantaran sekarang ini mereka berada dijalan raya,
"Cepat! Atau aku akan membuka pintu ini dengan paksa!", Kurapika berseru lagi, kali ini ia sudah siap untuk membuka pintu mobil itu,
"Kubilang tunggu dulu! Kau mau meninggalkan bayi itu?", jawab Kuroro lantang, hei, bukannya ini terkesan bagaikan sepasang suami-istri baru menikah yang sedang bertengkar?
Hell no! ini jelas-jelas sudah mengundang persepsi yang salah dari orang-orang yang melihat pertengkaran mereka berdua,
"Biar saja! Kau dan Neon bisa mengurusnya berdua kan?", kata Kurapika lagi, Kuroro pun menghentikan mobilnya untuk bicara pada gadis pirang ini,
"Aku dan Neon? Lalu kau?", katanya pada gadis itu, Kurapika hanya menatap sebal sambil menghela nafas,
"Mati", desisnya tajam, karena baginya saat ini, tidak ada yang lebih menyebalkan daripada harus menuruti kata-kata seniornya ini,
"Heh, mati, jangan bersikap bodoh, kau sudah dewasa kan?", katanya dengan nada agak mengejek, Kurapika mendengus kesal,
"Memangnya….apa pedulimu?", ia berujar lirih pada akhirnya, dirinya sama sekali tidak bisa memungkiri bahwa pria yang sekarang berada disampingnya ini masih memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hatinya, dan itu yang menjadi alasan kenapa ia tidak pernah bisa menerima siapapun, tak seorangpun, begitu pula dengan semua rencana pembalasan dendamnya ini, semuanya murni karena gadis ini begitu inginnya dimengerti oleh pemuda berambut hitam yang berada disisinya saat ini.
Ia terlihat diam dan menunduk, sementara Kuroro masih berusaha mengatur emosinya dan mencari jawaban atas pertanyaan gadis ini, yang entah kenapa malah menjadi sesuatu yang sulit dijawabnya,
"Tidak bisa kan? Kau tidak bisa menjawabnya kan?", gadis itu berujar lirih, ia sudah bisa menebak kalau pria itu pasti kesulitan menjawab pertanyaannya soal kepedulian, terutama terhadap dirinya,
"Karena itu..antarkan aku ke pusat perbelanjaan, lalu.. pergilah", Kurapika berujar pedih, lidahnya kelu, ia tak pernah terpikir akan mengatakan hal semacam itu, tidak pada seseorang yang pernah menjadi kakak terbaiknya, orang yang sangat disayanginya, cinta pertamanya.
"Baiklah", sahut Kuroro akhirnya, nada suaranya terdengar sesak, entah karena baru sekarang ia merasa bersalah, entahlah, Kurapika sendiri tidak ingin mencari jawabannya.
Mobil sport berwarna biru milik Kuroro itupun akhirnya berhenti disebuah tempat parkir dept store, keduanya turun dengan Kurapika membawa keranjang bayi kecil itu,
"Sudah, sampai disini ya, Kuroro", kata Kurapika dingin, gadis itu lalu membalikkan badannya dan berjalan masuk kedalam toko dengan keranjang bayi ditangannya,
"Kura-ch-pika", panggil pria itu, hampir saja ia memanggilnya dengan sebutan Kura-chan, tapi ia tahu, gadis itu pasti tidak akan menoleh jika mendengar nama itu lagi, Kurapika pun memutar tumitnya, tapi dia tidak berjalan mendekat, tetap di tempatnya,
"Akan kau beri nama apa bayi itu?", tanya pemuda bermata onyx tersebut, ia sendiri agak heran kenapa dirinya tiba-tiba menanyakan hal semacam itu,
"Aku..aku akan memanggilnya Mocha", kata Kurapika tiba-tiba, memecah kesunyian diantara mereka,
"Oh, begitu", sahut Kuroro dingin,
"Kenapa? Kau punya nama lain untuknya?", ujar gadis itu sinis,
"Tidak", jawab Kuroro buntu,
"Kalau begitu tidak usah bertanya", Kurapika berujar keras, lalu kembali menghadap Mocha dan mendorong troli dimana ia menaruh Mocha dan keranjangnya, bayi itu terlihat tenang saat ini, dan Kurapika pun menghilang dibalik pintu dept store tersebut.
Kuroro masih terdiam ditempatnya, tidak juga ia beranjak dari sana, hei, ada apa dengan tokoh utama pria kita ini?
Ia tampak sangat bingung dan tidak mengerti akan dirinya sendiri,
kemanakah sosok Kuroro Lucilfer yang selalu tahu apa yang harus ia lakukan?
Entahlah, karena Kuroro sendiri tidak bisa menjawabnya.
"Akh, baiklah!", ia berujar kesal sambil menutup pintu mobilnya cukup keras, lalu berjalan agak cepat memasuki toko tersebut, kemudian matanya sibuk mencari-cari Kurapika dan Mocha, ya, bayi kecil yang baru saja diberi nama oleh gadis itu.
Setelah cukup lama iapun akhirnya menemukan keduanya—jelas mereka pasti bersama—disebuah lorong yang menjual perlengkapan bayi, dan, nampaknya Kurapika sangat bingung dalam menentukan pilihannya,
"Ukh.. yang mana yaaa?", ia bertanya-tanya, lantaran ia tak punya pengalaman mengurus bayi sebelumnya,
"Kura-pika", terdengar suara familiar pria itu, Kurapika pun menoleh dengan penuh kewaspadaan,
"Aku akan membantumu", katanya, Kurapika hanya menatapnya heran,
"Baiklah-", katanya tenang, "Kalau begitu, menurutmu lebih baik yang mana?", kata Kurapika lagi, dengan dua produk popok ditangannya,
"Yang mana? Kau bertanya padaku? Yang benar saja", sahut Kuroro menahan gengsi, mana mungkin seorang pria semacam ia memilih popok bayi,
"Ayo cepat! Katanya kau mau membantu?", seru gadis itu setengah membentak, tentu mengundang tatapan beberapa orang yang sedang berlalu-lalang didekat mereka,
"Permisi, boleh saya bantu?", tanya seorang karyawan toko, tampaknya wanita itu memperhatikan keduanya sejak tadi, Kurapika dan Kuroro saling berpandangan dengan tatapan tak menentu,
"Eh..itu..kami sedang mencari perlengkapan bayi yang pas, untuk bayi ini", Kurapika berujar sambil menahan malu, jika dugaannya tepat, wanita ini pasti akan mengira kalau bayi ini adalah anaknya dan Kuroro, mengingat ia memliki rambut hitam Kuroro dan sialnya mata biru sepertinya, yang terbuka saat ini,
"Oh, begitu, baiklah, saya akan membantu kalian", ujar wanita itu, iapun membantu keduanya memilih perlengkapan bayi untuk Mocha,
"Siapa nama anak kalian?", pertanyaan itu terlontar dari mulut sales wanita tadi dan tentu menyentak keduanya, Kurapika lalu menatap sinis pada Kuroro, seakan menyuruhnya untuk gantian menjawab pertanyaan,
"Namanya Mocha", kata Kuroro tenang, lalu ia tersenyum pada Kurapika, yang menanggapinya dengan memutar bola matanya dengan malas. Kuroro akhirnya memutuskan untuk mengantar Kurapika sampai kerumahnya, meskipun gadis itu menolaknya setengah mati, tapi ia akhirnya menyerah, demi Mocha.
"Terima kasih", Kurapika berujar datar, ia tidak ingin memperlihatkan sedikit rasa senang yang didapatnya selama mereka berbelanja untuk Mocha tadi, dan memutuskan untuk tetap menjaga jarak dengan Kuroro,
"Ya, selamat malam", sahut pemuda bermata onyx itu, dengan agak ramah,
"Oh Mocha, kuharap aku bisa bersikap lebih apa adanya", kata Kurapika pada bayi kecil itu beberapa saat setelah Kuroro meninggalkan rumah itu.
Jam dinding dikamar Kurapika saat ini menunjukkan pukul 2 dini hari, gadis berambut pirang itu tampaknya masih terlelap diatas ranjangnya, dan disampingnya terlihat seorang bayi mungil berambut hitam yang juga terlelap dalam damai,
"Hu-hu-huweeeee", Mocha tiba-tiba menjerit, tepat disamping Kurapika yang baru tidur jam 12 tadi karena Mocha yang tidak tidur-tidur, gadis itu melenguh karena masih mengantuk, sekali, tapi ia tetap melawan rasa kantuk yang teramat sangat itu demi bayi mungil ini,
"Nggghhh..Mocha, ada apa?", tanya Kurapika yang masih sangat mengantuk, jelas saja Mocha kecil tidak merespon pertanyaannya, dan terus saja menangis,
"Iya, iya, sini ka-", Kurapika berpikir keras, agak kurang familiar jika harus menyebut dirinya seorang 'Mama' apalagi pada bayi mungil yang ditinggalkan begitu saja didepan rumahnya, tapi, begitu mengingat tatapan polos sang bayi padanya, ia hanya menghela nafas berat,
"Mocha, jangan menangis, mama disini sayang", katanya setelah perdebatan yang cukup lama dengan kepalanya sendiri, iapun dengan gerakan perlahan—maklum masih pemula—memeriksa popok yang dipakai bayi itu,
"Ukh..sayang, popoknya bersih kok, kamu lapar ya?", ia bertanya sambil memainkan tangan kecil Mocha, tapi bayi itu masih saja menangis,
"Sebentar ya, mama buatkan makanan dulu, Mocha tunggu ya", rajuknya pada bayi kecil itu, meskipun pada kenyataannya Kurapika memindahkan Mocha ke kereta bayi dan membawanya, karena ia—dan Kuroro—tidak yakin soal usia bayi itu, maka keduanya pun sepakat untuk membeli susu saja buat Mocha, bukan makanan lain.
Gadis pirang itu mengikat rambutnya dan berjalan menuju dapur dengan mendorong kereta Mocha, lalu ia membuatkan susu hangat untuk bayi kecil itu,
"Mocha, ini susunya", katanya pada bayi kecil yang mulai diam saat ia mendorong pelan keretanya, Kurapikapun meminumkan botol berisi susu tersebut pada Mocha, yang langsung disedot oleh sang bayi,
"Uukh, kamu lapar ya?", katanya dengan nada bercanda, sejenak ia tersenyum pada dirinya sendiri, sorot matanya lembut menatap bayi mungil itu. Tak lama berselang botol susu itu telah kosong, Kurapika pun membuatkan susu lagi untuk Mocha, lalu membawa bayi yang sudah tidur itu kembali ke kamarnya.
Sudah tiga bulan berlalu sejak Mocha ditemukan didepan rumah Kurapika, dan hari-hari itu berlalu bukan tanpa masalah, sebab, adakalanya Kurapika jadi harus meninggalkan Mocha dirumah Kuroro secara tiba-tiba, lantaran ia ada urusan mendadak dengan senior-seniornya dikampus, dan hal ini tentu menuai protes dari yang bersangkutan karena iapun, harus secara mendadak membatalkan rencananya, untuk menjaga Mocha.
"Yang benar saja, masa kau selalu menitipkannya secara mendadak?", kata Kuroro suatu hari, saat ia dan Kurapika sedang sama-sama berada dikampus, dan akhirnya mereka terpaksa makan siang direstoran luar karena keduanya harus membicarakan masalah ini,
"Habis, aku tidak punya nomormu", jawab Kurapika singkat, sambil memakan santap siangnya,
"Baiklah, mana ponselmu?", Kuroro memutar bola matanya sambil mengulurkan tangannya,
"Ini, mana punyamu?", balas Kurapika, pemuda bermata onyx itu pun mengeluarkan ponselnya, dan mereka bertukaran nomor, "Kalau kau mau menitipkannya, telepon dulu", kata Kuroro dingin,
"Iya, tapi jangan lupa balas pesannya", sahut Kurapika datar, Mocha kecil yang sejak tadi memperhatikan mereka, hanya tertawa kecil sambil memainkan mainannya sendiri.
"Kuroro, akhir-akhir ini kau sepertinya sibuk sekali, ada masalah apa sih?", kata Neon sambil memeluk lengan Kuroro, dan, entah kenapa, Kuroro agak merasa risih dengan perlakuan Neon yang berkesan terlalu manja,
"Neon, aku banyak urusan, lagipula sekarang aku sudah di tingkat 3", Kuroro berujar datar, dan membuat Neon cemberut,
"Lalu, bagaimana dengan rumor bahwa kau akhir-akhir ini sering terlihat bersama seorang gadis?", kata Neon saat ia teringat akan perkataan temannya beberapa waktu yang lalu,
ya, aku melihat pacarmu, sedang bersama seorang wanita, di restoran luar, sepertinya dia menghindarimu, kata temannya seingat Neon, mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut pacarnya, Kuroro tentu berniat mengklarifikasinya,
"Sssshhh", katanya sambil meletakkan telunjuknya dibibir Neon,
"Ada yang harus kuceritakan padamu soal itu, tapi kuharap kau percaya padaku, Neon", katanya lagi, Neon agak tersenyum getir bercampur geli, ia tidak pernah melihat Kuroro bercerita dengan cara seperti ini sebelumnya dan, tentu saja gadis berambut pink itu setuju.
Sementara ditempat lain, Kurapika, dan Machi, tengah duduk berhadapan dengan Mocha yang sedang tertidur pulas dikeretanya, diantara mereka berdua,
"Jadi, kau berniat balas dendam pada Kuroro, tapi malah tersangkut dengan pria itu karena bayi ini?", kata Machi usai mendengar penjelasan dari Kurapika mengenai dirinya yang menjadi sangat sibuk—sampai kurang tidur—beberapa minggu terakhir ini,
"Ya, begitulah, mau bagaimana lagi?", Kurapika berujar pasrah menerima kata-kata apapun yang akan ditujukan Machi padanya,
"Kurapika, kau harus menghentikannya, sebelum kau sakit hati lagi karena pria itu", ujar Machi lagi, kali ini ia tampak khawatir pada sahabatnya itu, Kurapika memang terlihat kuat dan dingin, tapi Machi tahu betul kalau ia sebenarnya sangat rapuh dan lemah, serta terlalu naïf, kadang-kadang, apalagi jika itu menyangkut soal Kuroro Lucilfer,
"Aku tahu itu, hanya saja…", Kurapika tak mampu melanjutkan kata-katanya, meski dalam hati ia tahu benar lanjutan dari kata-kata itu,
hanya saja, aku masih begini sukanya pada Kuroro, batinnya pedih, karena ia tahu betapapun ia menyukai pemuda itu, semua akan sia-sia, pria itu pasti lebih menyukai Neon ketimbang dirinya, dan hal itu sudah sangat jelas, begitu jelasnya sampai-sampai tidak mungkin ia pertanyakan lagi,
"Kurapika, lihat dirimu, kau sudah terlalu banyak terluka, kenapa kau masih bertahan?", Machi menatap mata biru Kurapika sendu, kekhawatiran tampak jelas dimatanya,
"Karena…aku masih sangat mencintainya", Kurapika berujar pelan, meski terasa sesak didadanya, namun itulah kenyataanya.
Kau sudah terlalu banyak terluka, kenapa kau masih bertahan, kata-kata Machi barusan nampak memenuhi kepala gadis itu, ia terlihat sedih, murung, dan gelisah, tapi tidak begitu yang tergambar diwajahnya yang datar, disana hanya terlihat bahwa ia adalah gadis ambisius yang berjuang mati-matian untuk kuliahnya, sehingga ia terlihat lesu dan kurang tidur, pun hal ini malah membuat banyak mahasiswa melihatnya dengan tatapan kagum, dan tak jarang mengutarakannya, tapi, bagi Kurapika, hatinya tak akan sanggup menerima pria lain, dengan alasan apapun, sebaik apapun mereka padanya, karena pria itu masih ada disana, seakan bayangannyalah yang telah menutup pintu hati Kurapika dari orang lain, dan tentu hal ini sangat menyakitkan.
Hari ini giliran Kuroro yang menjaga Mocha, karena jadwalnya sedang tidak padat, dan Kurapika memutuskan untuk berkunjung sore ini.
Maka setelah jam kuliah terakhirnya selesai, iapun segera melesat dari kampus dan menuju parkiran, serta memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah Kuroro.
Sementara dirumah Kuroro saat ini, tampak Kuroro sedang mengajak Neon dan berkencan dirumahnya setelah Neon membujuknya untuk kencan tadi siang, hal ini jelas-jelas dikarenakan giliran Kuroro untuk menjaga Mocha jatuh pada hari ini,
"Neon, ini Mocha", kata Kuroro memperkenalkan Mocha pada pacarnya itu, Neon menatap bayi itu dengan pandangan tidak enak,
Hu-uh, aku kan benci anak kecil, dulu Kura-chan, sekarang Mocha, habis ini siapa lagi?, pikirnya sebal, ia ikut saja memperhatikan Kuroro yang sedang asyik bermain-main dengan Mocha, dengan jurus senyum palsunya tentu, meski tak jarang ia menatap bayi itu dengan pandangan kesal bukan main.
Mocha, mama dat—ang, batin Kurapika saat ia melihat Neon, duduk disamping Kuroro yang sedang bermain-main dengan Mocha, tersenyum, dan ikut bertepuk-tepuk tangan, ia tiba-tiba teringat saat dulu Neon pertama kali mengusik hidupnya,
Dulu Kuroro, sekarang..Mocha juga, pikir Kurapika sedih, ia berbalik dan menempelkan tubuhnya kedinding dan menangis pelan, lalu ia menghapus airmata diwajahnya, dengan punggung tangannya dan berlari menjauh, seakan ia sedang kembali ke dirinya 5 tahun yang lalu, yang berlari dari rumah Kuroro setelah pria itu memutuskan persahabatan mereka,
Machi benar, ya, besok aku akan mengambil Mocha, sudah cukup Neon memiliki Kuroro, tapi aku tidak akan menyerahkan Mocha padanya, tidak akan, ia membatin sambil menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
"Hu-huweeee", jerit Mocha kencang, entah karena merasa mamanya pergi, atau karena ia sangat lapar, tapi berhubung situasinya sedang begini, Kuroro menganggap Mocha sedang lapar,
"Neon, aku akan membuatkan susu untuk Mocha, tolong jaga dia sebentar ya?", kata Kuroro sambil beranjak dari sofa,
"Oh, iya", sahut Neon singkat, iapun mencoba bermain dengan Mocha, kalau saja bayi itu tidak menepuk-nepuk bedak didekatnya sampai mengenai wajah Neon,
"Iikh, dasar bayi sial! Memangnya kau tahu berapa biaya ke salon untuk berdandan?", maki Neon pada bayi mungil itu, Mocha malah tertawa kecil melihatnya seakan puas melihat wajah Neon yang seperti ketumpahan kapur,
"Heh, bayi kecil, jangan tertawa begitu, kau mau kulempar?", katanya cetus, gadis ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, dan, untuk menambahkan klimaks, Kuroro melihatnya, bagaimana Neon memperlakukan Mocha dengan sinisnya, dan tentu hal ini membuatnya kesal,
"Neon! Kau tidak boleh sekasar itu pada bayi, dia kan tidak tahu apa-apa!", seru Kuroro setengah emosi, wajahnya terlihat geram,
"Ya, tapi..Kuroro dia…lihat wajahku!", balas Neon sambil memperlihatkan wajahnya yang terkena bedak putih,
"Sudah, kau pulang saja sana!", bentak Kuroro kesal, menurutnya Neon sudah bertindak keterlaluan jika menghadapi bayi dengan cara seperti itu,
"Ta..tapi..kenapa kau tidak kembalikan saja bayi itu pada Kurapika, diakan yang membawanya?", kata Neon bermaksud membela diri, tapi Kuroro tidak menyahut, hanya menatap tajam dengan aura yang tidak enak,
"Kuroro, satu pertanyaan", kata Neon sambil beranjak menuju pintu,
"Apa?", jawab Kuroro dingin, sambil menenangkan Mocha dalam gendongannya,
"Aku, atau dia?", tanya Neon, dimana kata 'dia' terdengar sangat ambigu, antara Mocha atau Kurapika, tapi mengingat Kurapika sedang tidak ada disini, jadi Kuroro berasumsi kalau 'dia' yang dimaksud Neon adalah Mocha,
"Dia, sekarang pergi sebelum aku mengusirmu", kata Kuroro tegas,
"Oh ya Neon", imbuhnya, Neon pun menghentikan langkahnya dan berbalik,
"Apa?", ia bertanya penasaran,
"Kita putus", kata Kuroro lagi, sebuah keyakinan terdengar dari nada suaranya, Neon hanya menggerutu sambil meninggalkan rumah itu.
Malam itu Kurapika mendatangi rumah Kuroro, ia memarkir mobil biru mudanya disamping mobil biru tua milik Kuroro, lalu berjalan menuju depan pintu dan menekan bel-nya, tak lama berselang pemuda itu membukakan pintu dan kaget melihat Kurapika berdiri disana,
"Hei, bukannya giliranmu besok?", tanya Kuroro setengah mengantuk,
"Tidak ada giliran-giliran lagi Lucilfer, aku akan membawa Mocha pulang bersamaku", kata Kurapika dengan nada datar, Kuroro menatapnya heran meski ia tetap mempersilahkan Kurapika untuk masuk,
"Ada apa ini sebenarnya?", kata Kuroro lagi, ia terlihat bertanya-tanya,
"Aku sudah menemukan orangtua kandung Mocha", ujar Kurapika meski itu sepenuhnya bohong,
"Sudah? Siapa mereka?", tanya Kuroro lagi, kali ini Kurapika tak mau menatapnya, dalam benaknya ia sudah merencanakan ini semua,
"Mereka adalah sepupu jauhku, dan mereka berniat membawa Mocha pulang", katanya lagi, ia terdengar serius atas ucapannya,
"Oh, begitu", sahut Kuroro singkat, ia tidak mengerti mengapa dirinya tidak ingin mendengar Kurapika berkata demikian,
"Ya, begitu", kata Kurapika, ia menghela nafas,
"Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini, aku sudah menyampaikannya pada mereka", ujarnya miris, ia sebenarnya merasa sangat egois saat ini, tapi semenjak kejadian tadi sore, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi membiarkan Kuroro mengambil Mocha dari hidupnya, tak boleh ada lagi yang terambil dari hidupnya,
"Baiklah, sampaikan salamku pada sepupu jauhmu", kata Kuroro akhirnya, sebenarnya ia tidak yakin ingin berakhir seperti ini, tapi apa boleh buat kan? Kurapika pun mengambil Mocha dan segala perlengkapannya, lalu beranjak keluar dari pintu,
"Terima kasih untuk semuanya, Lucilfer, selamat malam", kata gadis itu sambil menutup pintu, iapun berjalan menuju mobilnya dan memasukkan semua itu pelan-pelan, Kuroro menghela nafas berat, dari pintu rumahnya ia menyaksikan gadis itu membawa Mocha dan pergi dengan menggunakan mobil,
sampai jumpa, Mocha, lirihnya dalam hati.
End words, Review please!
Love,
Kaoru
