Haikyu © Furudate Haruichi
Warning ikut chapter sebelumnya (kalau ada).
No-beta, monitor bermasalah.
.
.
.
"Suga-san."
"Ya Kim? Ada yang bisa kubantu?"
Dari balik meja kasir Kim bertopang dagu memandangi Koushi dengan seksama sambil tersenyum.
"Ada apa denganmu?" Tanya Koushi risih dengan tatapan Kim padanya.
Kim menggeleng,"sepertinya Suga-san sedang bahagia."
"Benarkah?" koushi tertawa,"aku selalu seperti ini."
Kim mengerucutkan bibirnya, mengejek pernyataan Koushi yang tidak selaras dengan wajah berseri-serinya.
"Bohong, terlihat kalau Suga-san sedang senang. Oh jangan-jangan pria-pria tampan itu….ouch." belum habis Kim berkata, Koushi memukulnya menggunakan buku menu.
"Heh, pergi bekerja dan jangan pikir macam-macam."
Kim menurut, masih dengan raut wajah tidak puas ia melenggang ke arah pelanggan yang baru masuk.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau beberapa waktu terakhir Koushi tampak sangat menikmati hidupnya. Sejak ia membuatkan bekal lalu mengajak Tooru dan Tetsurou makan malam, mereka akhirnya sarapan dan makan malam di rumah. Koushi pun tetap membuatkan bekal untuk mereka berdua. Jika keduanya atau salah satu dari mereka tidak sibuk sampai sore akan pulang untuk makan siang bersama Koushi.
.
Usai makan malam Tooru mendudukkan dirinya di sofa lalu mengurut perlahan dari pergelengan kaki sampai tungkai.
"Oikawa, kakimu baik-baik saja?" Koushi yang sedari tadi memperhatikan tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Kakinya terkilir saat pemanasan." Tetsuro menjawab untuk Tooru, membuatnya mendapat tatapan tajam.
Mendadak Koushi jadi heboh, ia sibuk mencari minyak urut di kotak kesehatan. Dengan air hangat Koushi mengompres pergelangan Tooru kemudian mengolesinya dengan minyak urut sambil diurut perlahan.
"Aku tidak begitu paham tentang ini, tapi mintalah untuk istirahat. Lebih baik tidak latihan untuk beberapa saat dari pada menjadi semakin parah."
"Suga-chan."
Koushi mendongak."Ada apa?"
"Aku tidak apa-apa, ini hanya kecelakaan kecil. Bisaa terjadi saat olah raga."
"Tapi aku hanya mengkhawatirkanmu. Maksudku kita jauh dari orang tua, jika terjadi apa-apa denganmu, mereka yang di rumah pasti akan cemas. Jadi-"
Tetsurou harus membekap Koushi dari belakang agar ia berhenti mengoceh yang tidak-tidak tentang kekhawatirannya. Telapak tangannya beralih menyusuri seluruh lekuk wajah Koushi hingga ke lekukan leher dan bahu.
"Kuroo, apa yang kau lakukan?" Koushi memperotes sambil menyingkirkan tangan Tetsurou yang masih menggerayang.
"Yang harusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri Suga. Lihat, betapa kurusnya dirimu."
"Benar kata Kuroo. Kita ini seumuran, tapi hanya dirimu yang paling kecil di sini."
"I-itu karena kalian atlit kan? Aku tidak kecil kok."
"Sudah larut Suga, kau harus segera tidur."
Tetsurou menarik Koushi agar berdiri dari sofa kemudian mendorongnya menuju kamar.
"Tapi kaki Oikawa…"
"Tidak apa-apa. Aku yang akan mengurusnya." Tetsurou memaksa Koushi agar pergi ke kamar.
"Aku masih ingin merasakan sarapanmu hlo Suga-chan. Tidurlah."
Tooru mendukung Tetsurou hingga Koushi mengalah untuk pergi tidur lebih dulu.
.
Seminggu kemudian, Koushi sangat panik saat Tooru pulang diantar menggunakan mobil sementara kakinya di gips.
"Oikawa, apa yang terjadi?" kenapa tidak menghubungiku? Bagaimana kondisi kakimu, tidak patah kan? Jangan katakan hal yang buruk…"
Koushi masih saja terus mengomel, persisi seperti seorang ibu yang tahu anaknya mendapat kecelakaan. Tooru tidak ingin menyela atau membantah, ia justru hanya tersenyum.
"Ada apa?" kenapa malah tersenyum seperti itu?" ketus Koushi.
"Suga-chan, aku lapar."
Koushi mendengus,"tunggu di sini."
Masih siang dan Koushi memilih untuk segera menghampiri Tooru, mengabaikan banyak pelanggan yang datang. Dia bahkan bilang pada Kim untuk menutup kafe jika ia tidak sanggup melayani. Kim hanya tersenyum janggal kemudian membalas dengan berkata tidak apa-apa dan hanya akan menagih cerita nantinya.
Koushi memaksa untuk memberi perhatian lebih dengan menyuapi Tooru yang sejak datang masih berada di ruang tamu. Bahkan Koushi tidak kembali ke kafe sekedar untuk memenuhi kebutuhan Tooru, menemani dan merawatnya secara penuh.
"Aku pulang." Tetsurou pulang saat Koushi sedang memasak untuk makan malam."bagaimana kakimu?" tanya Tetsurou, ia duduk di sofa seberang Tooru.
"Aku tidak apa-apa, kecelakaan dalam olah raga itu bisaa. Tapi ekspresi Suga-chan luar bisaa."
Tetsuro sedikit tertawa,menertawakan cara Tooru menyinggung Koushi.
"Ya, aku bisa membayangkannya."
"Jadi, bagaimana pertandingannya? Sial, kupikir aku bisa bertahan sedikit lagi dan memenangkan pertandingan."
"Tidak usah dipikirkan, kita masih tahun pertama. Ada banyak kesempatan untuk pertandingan lainnya."
"Tetap saja, aku merasa gagal. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan kemampuanku."
Tetsurou bangkit lalu menepuk bahu Tooru,"iya,iya. Kau sebaiknya berhenti mengeluh atau telingamu akan mendengar lebih banyak keluhan."
"Apa maksudmu?" Tooru mengikuti arah perginya Tetsurou dan bertemu pandang dengan Koushi.
" Kuroo, makan malam siap."
"Baiklah, aku akan mandi dulu."
Tetsurou berlalu melewati Koushi dan tersenyum penuh arti pada Tooru dari balik punggung Koushi.
Koushi sudah selesai dengan menyiapkan makan malam, ia beranjak menghampiri Tooru. Bukannya Tooru tidak suka dengan perhatian Koushi, hanya saja dalam keadaan sakit seperti itu ia tidak mau mendapat banyak ocehan. Tooru bersiap menahan telinganya agar tidak pecah, tapi yang ia dapat justru tubuh hangat Koushi. Tooru bisa merasakan detak jantung jantung Koushi yang mendekap kepalanya.
"Suga-chan?"
"Aku mengerti rasanya ingin menjadi lebih baik saat kesempatan masih ada. Sebelum seseorang dengan kemampuan luar biasa muncul dan membuat semua usaha sia-sia. Tapi kita harusnya sudah mampu bersikap dewasa, melakukan yang terbaik demi meraih suatu kebahagiaan adalah lebih baik dari pada terus memaksakan diri."
Koushi melepaskan pelukannya, ia menunduk mengusap lembut wajah Tooru.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu Suga-chan?"
Koushi tersenyum,"kau lupa? Aku mantan seorang setter." Koushi mengerling,"sekarang, ayo kita makan malam kemudian aku akan membantu membasuh tubuhmu."
Tooru menurut ketika Koushi membantunya berjalan ke meja makan. Ia merasakan, Koushi bukan hanya sekedar manis, tapi sangat baik dan penuh perhatian. Tidak lama Tetsurou menyusul untuk makan malam usai mandi.
.
"Oikawa, aku akan mengantarmu ke kamar setelah ini. Kau harus istirahat." Dari tempat cuci piring Koushi berkata, yang dijawab iya oleh Tooru. Setelah beres dengan cuci piringnya Tetsurou dan Koushi bersamaan membantu Tooru ke kamar.
"Di kamarku saja." Kata Koushi sebelum membawa Tooru ke kamarnya.
"Kenapa?" Tetsurou dan Tooru memandang dengan cara yang sama.
"Aku akan merawatnya, orang sakit bisaanya mimpi buruk."
Tooru memandang tidak mengerti,"aku ha—"
"Ide bagus. Oikawa juga pasti kesepian tidur sendiri."Tetsurou ditatap tajam oleh Tooru karena merusak mood. Tapi tatapan lega Koushi yang mendapat dukungan Tetsurou membuat Tooru pasrah di baringkan ke kasur Koushi dengan cukuran besar. Sangat besar jika hanya Koushi sendiri yang menempati.
Setelahnya Tetsurou keluar diikuti Koushi.
"Selamat malam Kuroo."
"Oh-ya, selamat malam." Bukannya masuk ke kamar Tetsurou melangkah ke depan. Tanpa sadar Koushi mengekor.
"Perlu bantuan?" tanyanya melihat Tetsurou tampak kebingungan di dapur.
"Sepertinya begitu. Bisa bantu membuat kopi?"
Koushi mendekat,"kopi setelah makan malam? Kau ingin begadang?"
"Ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan."
"Oh, kalau begitu…"
Koushi memberi instruksi sambil mempraktekkan cara menggunakan mesin kopi pada Tetsurou, berikut letak bahan-bahannya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Selamat malam Kuroo."
Kemudian Koushi melangkah ke kamar mandi mengambil air hangat dalam bak kecil lalu membawanya ke kamar. Di sama Tooru sudah terlelap, meski begitu Koushi tidak urung untuk sekedar mengelap beberapa bagian yang terbuka agar Tooru dapat tidur dengan lebih nyaman.
Sampai semuanya beres, barulah Koushi pergi berendam sejenak untuk menghilangkan penat lalu pergi tidur. Rasanya aneh saat ada seseorang yang membersamainya di ranjang, Koushi tidak bisa memungkiri kalau ia senang. Mengurus dan merawat Tooru dan Tetsurou membuat Koushi bersemangat setiap harinya.
.
Tiga hari berlalu, Tooru belum pulih sepenuhnya dan Koushi kembali jadi panik melebihi saat menemukan Tooru yang cidera di kaku. Karena setelah makan malam Tetsurou hamper saja pingsan saat akan kembali ke kamar. Dia terkena demam tinggi akibat begadang selam tiga hari penuh. Kini dua orang penghuni rumah selain Koushi terbaring di atas ranjangnya rak berdaya.
Keesokan paginya lagi-lagi Koushi terlambat ke kafe demi merawat Tooru dan Tetsurou lebih dulu. Ia membantu mengganti pakaian, menyiapkan sarapan dan memastikan Tetsurou meminum obat.
"Suga-chan, tidak terlambat ke kafe?"
Koushi tersenyum,"tenang saja, Kim sudah lebih dulu di sana."
"Maaf." Dengan berat Tetsurou mencoba untuk duduk bersandar dinding,"kami jadi harus merepotkanmu."
Koushi merengut, melihat itu Tooru mendadak keringat dingin. Entah sejak kapan raut wajah sebal Koushi tampak menyeramkan. Tapi Koushi hanya menghembuskan nafasnya."Ya ampun, kalian benar-benar merepotkan." Koushi membereskan sisa sarapan,"tapi…" ia memandang satu persatu antara Tooru dan Tetsurou."Aku ingin kalian benar-benar istirahat. Mintalah sesuatu padaku dan jangan memaksakan diri. Mengerti?!"
Seketika tawa Tooru meledak dan Tetsurou pun tidak bisa menahan meski kepalanya sedikit sakit.
"Kalian, kenapa tertawa?"
"Kemarilah." Koushi ditarik ke ranjang, berada di antara Tooru dan Tetsurou yang memeluknya.
"Kau ini, perseis seperti ibuku." Kata Tetsurou.
"Memperlakukan kami seperti anak kecil." Kata Tooru.
"A-aku hanya khawatir." Wajah Koushi memanas, tersipu malu.
"Kou-chan, boleh?"
"Koushi?"
Koushi mengangguk.
"Terima kasih Kou-chan."
"Terima kasih Koushi."
Koushi melepas pelukannya, ia memandang satu persatu. Satu kecupan di dahi untuk Toorum kemudian satu kecupan di dahi untuk Tetsurou. "Cepat sembuh Tooru, Tetsurou."
Hening melanda, wajah Tooru ikut memerah pun dengan Tetsurou. Koushi mendadak panik dengan alasan lain. Ia bergegas turun dari ranjang.
"A-aku harus ke kafe." Ia mengambil serampangan nampan berisi bekas makan,"kalian istirahatlah." Koushi menghilang di balik pintu.
Tooru dan Tetsurou saling pandang.
"Apa kau berfikir seperti apa yang kupikirkan?"
"Kurasa apa yang kupikirkan adalah hal yang sama denganmu."
Mungkin saja mereka jatuh hati pada orang yang sama. Sugawara Koushi.
END
A/N : End aja, biar gak harus ngutang. Apapun bisa terjadi dengan fic ini, dilanjut, di hapus, bahkan naik rating. Terima kasih sudah membaca, juga yang sudah meninggalkan jejak review, follow dan favorite.
